free hit counter Untuk Apa Kekayaan Itu ? — FBI

Untuk Apa Kekayaan Itu ?

[size=small][align=CENTER]Untuk Apa Kekayaan Itu ?


SANTUTTHI PARAMAM DHANAM

Kepuasan adalah kekayaan yang paling berharga.

Dhammapada XV, 8

oleh: Bhikkhu Abhayanando
[/align]


Suatu hari di sebuah kampung ada rumah yang terbakar. Pemilik rumah tersebut adalah orang yang kaya raya. Walaupun orang tersebut kaya tetapi tidak memiliki kepedulian kepada orang yang membutuhkan bahkan untuk dirinya sendiri saja ia sangat kikir.

Pada saat terjadi kebakaran, ia sibuk mengumpulkan hartanya. Ia tidak peduli dengan dirinya sendiri padahal yang ia lakukan sangat membahayakan dirinya karena api semakin membesar. Ia tidak peduli teriakan orang banyak. Teriakan itu dianggapnya angin lalu. Ia tetap mengumpulkan barang-barang yang berharga yang menjadi miliknya. Ia berpikir, “kalau materinya terbakar maka ia tidak memiliki apa-apa lagi.

Karena kecerobohan orang tersebut akhirnya ia harus terbakar bersama kekayaannya. Orang tersebut mati sia-sia hanya karena mempertahankan kekayaan miliknya. Seharusnya itu tidak terjadi kalau orang tersebut mempunya pemahaman terhadap arti dari kekayaan itu sendiri.

Tindakan itu tentu bukanlah tindakan bijak. Namun terkadang banyak orang terjebak dengan tindakan seperti itu. Materi dianggap sesuatu yang nilainya paling tinggi. Materi dianggap sebagai satu-satunya kebahagiaan dalam dunia ini. Mereka tidak menyadari bahwa materi hanyalah sarana untuk penunjang kehidupan dan untuk memperbaiki kualitas hidup.

Kepuasan adalah kekayaan yang paling tinggi, “Kata Buddha.” Kebanyakan orang tidak memiliki rasa puas. Segala sesuatu yang sudah didapatkan tidak pernah disyukuri. Kepuasan sulit muncul, padahal ketidakpuasan akan membuat seseorang jauh dari kebahagiaan. Inilah yang dinamakan kebodohan. Kebodohan ketamakan membutakan mereka sehingga menganggap kekayaan sebagai sesuatu yang lebih dibandingkan dengan kekayaan mental.

Kenapa bisa terjadi seperti itu? Budaya materialistis melanda kehidupan ini. Materi menjadi ukuran kehidupan. Materi boleh dicari dan dimiliki, hanya saja harus diimbangi dengan pengertian yang benar. Jangan melekati materi karena akan menjerumuskan dirinya sendiri. Ingat! Kekayaan bukan satu-satunya kebahagiaan di kehidupan ini. Materi hanyalah salah satu dari berbagai kebahagiaan yang ada dalam kehidupan ini. Ia sifatnya semu dan bisa berubah setiap saat.

Kekayaan dapat membuat seseorang merasa bahagia. Pernyataan itu tidak bisa dipungkiri. Kekayaan akan membuat seseorang bahagia jika mereka menggunakannya dengan benar tetapi akan terjadi sebaliknya, jika kekayaan tersebut tidak dipergunakan sebagai mana mestinya. Jika digunakan secara tidak benar akan membuat orang tersebut merosot.

Sang Buddha memberikan cara untuk megumpulkan kekayaan. Di samping Beliau mengajarkan bagaimana mengumpulkan kekayaan, Sang Buddha juga mengajarkan bagaimana menjaga materi dan bagaimana supaya materi tersebut membawa kebahagiaan bagi pemiliknya. Dhamma tidak anti kekayaan, hanya saja Dhamma merupakan dasar bagaimana mengumpulkan kekayaan dan menggunakan kekayaan dengan benar.

Kekayaan yang kita miliki seharusnya dipergunakan dengan baik dan benar. Sang Buddha telah memberi cara mempergunakan kekayaan secara benar. Disamping uintuk kepentingan diri sendiri seharusnya kekayaan juga digunakan untuk kepentingan orang lain bahkan semua makhluk. Dengan demikian bukan kita saja yang menikmati materi tetapi orang lain pun juga merasakan kebahagiaan yang juga kita rasakan.

Sang Buddha telah memberikan cara mengatur kekayaan yang diperoleh. Cara mengatur kekayaan tersebut terdapat dalam Sigalovada Sutta yang isinya sebagai berikut:

“Ekena bhoge bhuñjeya

Dvihi kammam payojaye

Catutañca nidhapeyya

Apadasu bhavissanti”

“Satu bagian untuk dinikmati

Dua bagian untuk ditanamkan dalam modalnya

Bagian keempat disimpan untuk menghadapi masa depan yang sulit”

Kekayaan buka sesuatu yang kotor. Dhamma tidak anti kekayaan. Dhamma selalu mengingatkan kepada semua orang untuk memahami makna yang sebenarnya dari kekayaan yang dimiliki. Kekayaan seharusnya dipergunakan dengan benar dan bukan untuk kepentingan pribadi. Kekayaan seharusnya dapat membawa pemiliknya merasa bahagia, demikian pula orang lain dan bahkan semua makhluk juga bisa merasakan hal yang sama. Selamat bekerja dan berjuang! Semoga kebahagiaan menjadi milik kta semua untuk selama-lamanya.
[/size]

Komentar

  • seandainya para bikhu itu tajir semua seperti atau bahkan melebihi prabowo...wah biasa makmur negeri ini.
    gimana tidak?mereka tidak terpengaruh dengan kemelekatan lagi....mereka tahu hidup tidak kekal...jadi semua hidup just for humanity.
    tapi kalau masih didalam temple berarti masih mencari pencerahan....yah semoga dapat pencerahan sejati.


    namo buddhaya
  • Kekayaan untuk kebahagiaan manusia. Tetapi hanya sementara.. Tuhan yang lebih memberikan kebahagiaan bagi kita. Kekayaan hanya sarana saja untuk mencapai kebahagiaan sementara.
  • untuk apa............?
    [size=medium]
    1. menolong diri kita dikala sakit dan lapar
    2. menolong orang lain alias beramal
    3. menikah, melahirkan, dan membesarkan anak
    4. ...............masih banyak di butuhkan, asal tetap sadar pada tuhan

    [/size]
  • Setujuuu bro PUKEL.....
  • Uang yang di gunakan para Bikhu biasa di gunakan untuk keperluan membabarkan Dharma bukan di pakai untuk kepentingan duniawi seperti kita2 ini. Misalkan seorang Mahabikhu membeli HandPhone itu di gunakan supaya para umat atau orang2 yang pengen belajar Dharma bisa langsung telp atau sms tanpa harus bertatap muka secara langsung :D
Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Halo, Tuan!

Tampaknya anda baru di sini. Bila anda ingin ikut terlibat, klik salah satu tombol berikut!

Kategori