free hit counter Mindfullness, Recollection & Concentration — FBI

Mindfullness, Recollection & Concentration

[size=small][align=CENTER]PERHATIAN, PERENUNGAN & KONSENTRASI

Bhikkhu Dhammavuddho Maha Thera

Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa

Pendahuluan
[/align]

Pada masa sekarang ini terdapat peningkatan dan perluasan ketertarikan pada meditasi. Bahkan orang Barat yang bukan Buddhis dan penganut paham bebas ikut bermeditasi dengan berbagai alasan: untuk pisikoterapi; untuk menghilangkan stress, ketenangan pikiran yang dianggap obat anti stress yang terbaik; atau untuk kesehatan, yang disetujui oleh banyak dokter bahwa berbagai jenis penyakit dipengaruhi oleh atau bahkan bermula dari pikiran.

Tujuan meditasi. Tidak diragukan bahwa meditasi bisa membantu untuk meningkatkan kualitas hidup kita dan kesehatan dengan berbagai cara, tetapi tujuan dari ajaran Sang Buddha dan meditasi adalah jauh melebihi hal tersebut. Meditasi Buddhis sebenarnya bertujuan untuk mencapai tingkat spiritual tertinggi, bebas dari ketidakpuasan (dukkha). Penderitaan atau ketidakpuasan (dukkha) meliputi setiap aspek dari hidup kita, termasuk kegirangan dan kebahagiaan, karena sifat ketidak-kekalan dari keberadaan segala sesuatu. Sang Buddha menyebutkan Jalan Ariya Berunsur Delapan sebagai obat yang jika dilaksanakan dengan sempurna akan membawa pada akhir dari ketidakpuasan.

Jalan Ariya Berunsur Delapan. Bagaimanapun, kita harus memahami makna yang tepat dari faktor-faktor Jalan Ariya Berunsur Delapan supaya latihan kita dapat menuntun kita langsung pada tujuan ini. Delapan faktor dari Jalan Ariya adalah pandangan benar, pikiran benar, perkataan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, usaha benar, perenungan benar dan konsentrasi benar. Mereka dimasukkan dalam tiga kelompok: moralitas (perkataan benar, perbuatan benar, penghidupan benar), konsentrasi atau pikiran yang lebih tinggi (usaha benar, perenungan benar, konsentrasi benar) dan kebijaksanaan (pandangan benar, pikiran benar).

Sutta-Sutta kumpulan tertua. Terdapat cukup banyak kebingungan yang berhubungan dengan aspek meditatif dari Jalan Ariya Berunsur Delapan. Cara terbaik untuk melenyapkan keragu-raguan kita adalah mengikuti petunjuk dari guru agung kita yang terutama, Sang Buddha sendiri. Terdapat berbagai perbedaan opini di antara umat Buddhis tentang apa yang sebenarnya merupakan ajaran-ajaran Sang Buddha, tetapi pada umumnya semua sepakat dengan kebenaran/keaslian dari sekitar 5000 sutta yang terdapat dalam empat kumpulan tertua (nikaya)(1) dari ajaran-ajaran Sang Buddha.

Lebih jauh lagi, keempat nikaya ini adalah konsisten, tidak terdapat kontradiksi-kontradiksi, dan mengandung rasa kebebasan, yang merupakan intisari dari ajaran-ajaran Sang Buddha. Ajaran-Nya terdapat dalam khotbah-khotbah (sutta), dan bersamaan dengan peraturan kebhikkhuan (vinaya). Sutta dan Vinaya ini dinyatakan oleh Sang Buddha sendiri sebagai satu-satunya yang mempunyai wewenang dalam menentukan apa yang sesungguhnya merupakan ajaran-ajaran Beliau.(2)

Berdasarkan pada hal ini, saya akan menjelaskan beberapa aspek meditatif dari Jalan Ariya Berunsur Delapan supaya makna dan latihan yang sebenarnya, yang ditetapkan oleh Sang Buddha dapat dipahami dengan lebih baik. Tiga faktor dari Jalan Ariya Berunsur Delapan yang berkaitan dengan meditasi adalah usaha benar (samma vayama), perenungan benar(samma sati), dan konsentrasi benar (samma samadhi). Saya akan menjelaskan perenungan benar dan konsentrasi benar secara lebih mendetail. Kemudian, saya akan menyentuh pada samatha (ketenangan) dan vipassana (perenungan), disertai dengan pentingnya pemahaman sutta-sutta.

[align=center]Terjemahan-Terjemahan Pali[/align]

Pemahaman yang benar terhadap kunci berbagai istilah meditasi yang digunakan oleh Sang Buddha adalah penting walau kita hanya berharap untuk dapat meraih sebagian kecil pencapaian saja pun dari tujuan (bebas dari penderitaan).

Sebelum menjelaskan istilah-istilah Pali ini, saya hendak menyampaikan bahwa adanya bahaya besar dalam menggunakan terjemahan dari kata Pali secara harafiah. Biasanya sulit untuk menemukan padanan kata yang tepat dalam Bahasa Inggris yang mempunyai arti yang sama dengan kata Pali, dan disamping itu, kata-kata biasanya memiliki beberapa corak makna. Sebagai contohnya, kata sanna telah diterjemahkan sebagai penamaan, berpikir, persepsi; dan masing-masing benar sampai pada batas tertentu. Tetapi seorang pemula akan menemui kesulitan dalam memahami arti sanna dari terjemahan yang berbeda-beda ini.

Untuk mengetahui apa yang dimaksud Sang Buddha terhadap istilah-istilah Pali, kita harus meneliti empat kumpulan nikaya tertua dan melihat bagaimana Sang Buddha mendefinisikan istilah tersebut, bagaimana penggunaannya dan karakteristik dari istilah tersebut.

[align=center]Samma Sati[/align]

Perenungan benar (Samma sati) adalah faktor ketujuh dari Jalan Ariya Berunsur Delapan , dan yang ini mungkin yang paling disalah-pahami. Saya akan menjelaskan beberapa masalah pokok untuk menyoroti makna dan latihannya dengan referensi dari sutta.

SAMPAJANNA
Pertama, saya akan menjelaskan perhatian/kesadaran penuh (sampajanna), yang merupakan alat bantuan terhadap latihan perenungan benar. Sampajanna berasal dari kata janati (mengetahui). Definisi dari istilah ini tidak diberikan dalam sutta. Tetapi, maknanya dapat diperoleh dari dua sutta:

Sampajanna berarti perhatian/kesadaran penuh. ‘Sekali lagi, para bhikkhu, seorang bhikkhu adalah orang yang bertindak dengan sampajanna ketika dia pergi dan kembali; yang bertindak dengan sampajanna ketika dia memandang ke depan dan menoleh; yang bertindak dengan sampajanna ketika dia menekuk dan meregangkan kaki tangannya; yang bertindak dengan sampajanna ketika dia memakai jubahnya dan membawa jubah luar serta mangkuknya; yang bertindak dengan sampajanna ketika dia makan, minum, menelan makanan, dan mencicipi; yang bertindak dengan sampajanna ketika dia buang air besar dan buang air kecil; yang bertindak dengan sampajanna ketika dia berjalan, berdiri, duduk, jatuh tertidur, bangun, berbicara, dan tetap diam…..’(3)

‘Dan bagaimana, para bhikkhu, seorang bhikkhu sampajano? Di sini, para bhikkhu, untuk seorang bhikkhu, perasaan diketahui ketika muncul… bertahan… lenyap…. pikiran diketahui ketika muncul… bertahan… lenyap… Persepsi diketahui ketika muncul… bertahan…lenyap…’(4)

Dari sutta-sutta ini kita menemukan bahwa sampajanna berarti perhatian atau kesadaran penuh. Sutta pertama merujuk kepada perhatian pada tindakan-tindakan jasmani, sementara yang kedua merujuk pada perhatian pada pergerakan-pergerakan mental. Dan di Pacittiya, peraturan pertama, dari vinaya kebhikkhuan, istilah sampajanna musavade berarti ‘berbohong dengan kesadaran penuh’, yang menegaskan bahwa sampajanna berarti perhatian atau kesadaran penuh.

Mencoba untuk mencapai perhatian tersebut adalah salah satu dari langkah awal dalam meditasi. Hal itu mencegah terpencarnya perhatian kita supaya kita bisa memiliki kontrol terhadap pikiran kita dan kemudian mencegah munculnya keadaan-keadaan yang tak bajik. Di dalam meditasi Buddhis, perhatian berhubungan dengan tubuh jasmani dan batin, seperti yang ditunjukkan diatas.

Sampajanna membantu latihan terhadap sati, dan mereka sejalan. Inilah sebabnya mengapa gabungan kata sati-sampajanna sering muncul bersamaan dalam sutta-sutta.(5)

SATI
Sati berarti perenungan. Ini adalah istilah yang sangat penting dalam meditasi. Untunglah definisi yang konsisten dan tepat dari kata ini diberikan di dalam sembilan sutta.(6) Definisi dari sati adalah “dia memiliki perenungan, memiliki perenungan yang mendalam dan kebijaksanaan, orang yang mengingat dan merenungi apa yang telah dilakukan dan dikatakan dalam jangka waktu yang telah lama berlalu’. Dengan kata lain, sati berarti kualitas dari mengingat, dan terjemahan yang sesuai bisa menjadi ’perenungan’. Kiranya perlu disebutkan bahwa sati berasal dari smrti, yang berarti ‘mengingat’. Perenungan atau mengingat tidak hanya merujuk hanya pada masa yang telah lewat. Bisa juga digunakan untuk sekarang ini atau bahkan masa depan, misalnya ‘ingat untuk mengunci pintu kalau keluar.’ Terjemahan sati dalam kamus Pali termasuk ingatan, perhatian dll. Di sini, perenungan (sati) berarti mengingat kembali, memberikan perhatian kepada (kewaspadaan diri yang mendalam), merenungi.

Empat perenungan. Apa yang harus kita renungi di dalam latihan meditasi? Dari Satipatthana Sutta, kita menemukan bahwa kita harus, pertama merenungi 4 hal: tubuh jasmani, perasaan, pikiran dan kategori Dhamma (dari ajaran Sang Buddha). Secara mendasar, mereka adalah tubuh jasmani, batin dan Dhamma. Perenungan terhadap tubuh jasmani dan batin adalah penting karena mereka adalah 5 kelompok kehidupan yang kita lekati sehubungan dengan diri. Dan perenungan terhadap Dhamma adalah salah satu dari cara yang paling akurat untuk mencapai pandangan terang yang menembus ke dalam Empat Kebenaran Mulia. Merenungi hal-hal tersebut akan menuntun pada pencapaian pengetahuan sejati (insight) bila disertai dengan perkembangan sempurna dari keseluruh faktor Jalan Ariya Berunsur Delapan.

Tubuh jasmani dan batin. Sang Buddha mengajarkan bahwa ketidakpuasan muncul karena kita melekat pada 5 kelompok kehidupan (khandha), dimana kita menerimanya sebagai pribadi atau merupakan milik pribadi atau bersemayam/ berada di dalam pribadi atau pribadi tersebut bersemayam/berada di dalam lima kelompok kehidupan. Lima kelompok kehidupan itu adalah tubuh jasmani, perasaan, persepsi, kemauan/kehendak dan kesadaran; yang secara mendasar adalah tubuh jasmani dan batin dalam pengertian yang lebih luas.(7)

Diri yang kita lekati ini adalah persepsi yang salah dari sesuatu (jiwa atau ego) yang kita anggap kekal, abadi. Tetapi, keberadaan segala sesuatu adalah senantiasa bergerak atau berubah, tidak mengandung inti atau keberadaan yang mutlak (keberadaan yang tak berketergantungan).

Kita bergembira didalam, melekati, dan ingin memperpanjang apapun yang ada didunia yang memberikan kita kebahagiaan. Tetapi segala sesuatu berubah! Sebagai contoh, usia muda berubah menjadi usia tua, kesehatan menjadi kesakitan, yang dicintai akan meninggalkan kita dan kecintaan berubah dan sering menjadi dingin. Semuanya ini memberikan kita penderitaan. Dan jika kita tidak memahami ketidak-kekalan adalah sifat alami dari hidup dan menerimanya, kita akan senantiasa menderita terus.

Oleh karena itu, kita harus mengamati dan memahami sifat alami dari tubuh jasmani dan batin, yang kita hubungkan dengan diri, yang muncul, bertahan dan lenyap dan yang bergantungan kepada kondisi-kondisi; tidak mengandung inti atau keberadaan yang mutlak dan yang tidak patut untuk dilekati.

STUDI KASUS: PERHATIAN DAN PERENUNGAN
Agar kita dapat memahami perhatian dan perenungan dengan lebih baik, marilah kita mempertimbangkan beberapa studi kasus berikut:

(i) Orang biasa
Marilah kita mempertimbangkan orang biasa, bukanlah praktisi Dhamma, di dalam keadaan mental yang normal/sehat. Orang ini menjalani rutinitas kehidupan sehari-hari dengan kadar perhatian (kesadaran) dan perenungan yang secukupnya. Perhatiannya bergerak dari satu objek ke objek lainnya, tergantung dimana perhatiannya diarahkan. Jika perhatiannya tidak diarahkan dengan cukup baik terhadap apa yang sedang dia lakukan, dia bisa mengalami kecelakaan. Sebagai contohnya, dia akan melukai jarinya ketika memotong sayur-sayuran, atau bertabrakan dengan mobil lain ketika dia sedang mengemudi karena perhatiannya terganggu oleh penampilan seorang cewek cantik. Jadi dia belajar bahwa perhatian itu diperlukan dalam rutinitas kehidupan sehari-hari. Perenungannya adalah hanya sebatas seperti pada orang biasa. Dia harus mengingat janji yang dibuat dengan nasabah, mengingat untuk mengerjakan beberapa pekerjaan, mengingat untuk memperbaiki pagar dll…..

Perenungan duniawi. Jadi apa perbedaan antara orang ini dengan perhatian dan perenungan seorang praktisi Dhamma? Perhatian dan perenungan dari orang biasa ini terpencar-pencar dan bersifat duniawi, tidak terfokus pada tubuh jasmani, perasaan, pikiran dan Dhamma. Dengan kata lain, dia tidak sedang mempraktekkan Dhamma untuk mengakhiri penderitaan.

Perhatian benar dan perenungan. Samyutta Nikaya memberikan cerita perumpamaan yang menarik dari burung puyuh dan burung elang,(8) dimana cerita ini mengilustrasikan secara jelas bagaimana perhatian dan perenungan seharusnya diarahkan.

Di dalam perumpamaan ini, burung puyuh bergerak keluar dari lapangannya sendiri dan tertangkap oleh burung elang. Burung puyuh yang cerdas ini kemudian menantang burung elang untuk suatu pertarungan di lapangannya sendiri, yang diterima oleh burung elang. Sekembalinya ke sana dan berdiri pada gumpalan tanah yang besar, burung puyuh mengejek burung elang. Ketika burung elang menyambar turun menuju arahnya, burung puyuh kecil ini masuk ke dalam lubang di belakang gundukan tanah, sementara burung elang menabrak gundukan tersebut.

Menggunakan cerita perumpamaan ini, Sang Buddha berkata jika seorang bhikkhu tinggal di dalam lapangannya sendiri, Mara (penggoda) tidak punya jalan masuk, tidak punya kesempatan. Lapangan sendiri adalah merenungi tubuh jasmani, perasaan, pikiran dan Dhamma. Menyimpang keluar darinya adalah merenungi (menghayal mengenai) bentuk/rupa, suara, bau, cita-rasa dan sentuhan, yakni objek-objek duniawi. Meditasi berhubungan dengan perenungan ke dalam, bukan kepada bentuk/rupa, suara, bau, cita-rasa dan sentuhan.

(ii) Praktisi Dhamma
Mari kita mempertimbangkan kasus dimana orang yang telah mendengarkan Dhamma dan berharap untuk melatih perhatian dan perenungan dari ajaran Sang Buddha. Dia mencoba untuk penuh perhatian dan merenungi tubuh jasmani, perasaan, pikiran dan Dhamma. Ketika dia menjalani rutinitas kehidupan sehari-hari, dia menemukan bahwa sangat sulit untuk melakukan ini. Keharusan untuk melakukan dan mengingat banyak hal yang bersifat keduniawian, perhatian dia selalu lari kesana-sini daripada terhadap tubuh jasmani, perasaan, pikiran dan Dhamma. Apakah pikirannya memikirkan masa lalu, khawatir dengan masa depan atau merencanakan sesuatu dan berkhayal dll.. Dia tidak memperhatikan saat-saat sekarang. Jadi bagaimana dia bisa ingat untuk memperhatikan dan merenungi tubuh jasmani, perasaan,pikiran dan Dhamma?

Berada di sini dan pada saat ini. Untuk melatih perhatian dan perenungan benar,perhatiannya harus disini dan pada saat ini; dia harus berhenti berpikir, berhenti khawatir, berhenti merencanakan sesuatu atau berhenti menggunakan pikirannya.(9)[terhadap hal-hal yang sudah lewat dan hal-hal yang belum datang, tetapi perhatiannya cukup berada disini dan pada saat ini] Dan ini sudah pasti tidak gampang untuk dilakukan! Kelahiran demi kelahiran kita telah menganggap indera pikiran kita sebagai sahabat terbaik kita, pelindung terbesar kita. Ia telah membantu kita menghasilkan penghidupan dan sukses dalam hidup dan ia telah melindungi kita dalam masa-masa sulit dan bahaya. Karena kita telah menggunakan pikiran kita terlalu banyak, ia lebih berkembang daripada makhluk lainnya di bumi; itu sebabnya mengapa manusia adalah makhluk yang paling menonjol di bumi. Kata ‘manusia’ (manusya) mungkin berasal dari kata mano (indera berpikir).

Kita sangat terbiasa berpikiran bahwa sangat sulit untuk menghentikan pikiran. Kenyataannya, kita enggan melakukannya, karena sistem perlindungan diri/keakuan. Melepaskan pemikiran duniawi adalah hampir sama dengan penolakan terhadap diri/keakuan dan penolakan itu sangat menakutkan untuk sebagian besar orang. Tetapi, kita harus berhenti menggunakan pemikiran duniawi untuk perhatian pada saat sekarang dan melatih perhatian dan perenungan benar. Perhatian yang berada di sini dan pada saat ini adalah hal kedua yang harus kita ingat, disamping mengingat untuk merenungi tubuh jasmani, perasaan, pikiran dan Dhamma.

(iii) Keadaan tidur
Sekarang mari kita pertimbangkan keadaan pada saat tidur. Ilmuwan telah menemukan bahwa sebagian besar orang banyak bermimpi selama waktu tidur. Ketika orang terlelap dan bermimpi, apakah dia sadar sepenuhnya atau penuh perhatian? Secara searah, bisa dikatakan dia penuh perhatian karena tidak terdapat gangguan di sana. Dia memberi perhatian pada mimpinya dengan mengesampingkan hal lainnya.

Ternodai di sana-sini. Apakah si pemimpi memberikan perhatiannya disini dan pada saat ini? Kepada si pemimpi, dia berada di sini dan pada saat ini. Tetapi keadaan di sini dan pada saat ini tersebut ternodai. Itu adalah khayalan dan pemberdayaan pikiran karena dia menganggap orang yang ada dalam mimpi sebagai dirinya sendiri.

Perenungan terhadap tanpa diri. Dengan cara yang sama,kita ternodai dan menganggap tubuh jasmani dan batin sebagai diri. Sang Buddha berkata bahwa dunia bersifat semu dan tidak nyata, tetapi Nibbana tidak semu.(10) Kita telah ditipu oleh pikiran kita dari satu kelahiran ke kelahiran berikutnya.(11)

Sang Buddha adalah Yang Tercerahkan. Untuk membantu mencerahkan kita Sang Buddha mengajar dalam banyak sutta(12) bahwa bentuk apapun dari tubuh jasmani (atau bentuk-bentuk materi) atau batin, apakah itu yang telah lewat, masa depan atau sekarang, di dalam atau di luar, kasar atau halus, rendah atau tinggi, jauh atau dekat, harus dilihat sesuai kenyataannya disertai dengan kebijaksanaan yang tepat sedemikian: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’

Ketika kita berlatih dengan cara ini, keterikatan akan mulai longgar dari genggamannya dan ketidak-terikatan terhadap dunia akan muncul dalam hati. Tahap ini, yakni ketika pikiran cenderung menuju pelepasan dari keterikatan dan dunia, adalah salah satu prasyarat untuk pencapaian konsentrasi benar atau jhana.

Oleh sebab itu, perenungan terhadap tanpa diri ini sangat penting. Ini adalah hal ketiga yang harus kita ingat ketika melatih perhatian dan perenungan benar.

Sekarang kita lihat bahwa ada tiga hal yang harus kita ingat dalam latihan perhatian dan perenungan benar: merenungi tubuh, perasaan, pikiran dan Dhamma; memberikan perhatian di sini dan pada saat ini; dan melihat bentuk apapun dari tubuh jasmani dan batin sesuaikenyataannya disertai dengan kebijaksanaan yang tepat sedemikian: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’

(iv) Orang yang sakit mental
Mari kita mempertimbangkan kasus dari orang yang sakit mental. Orang yang sakit mental secara khas mempunyai pikiran yang sangat kacau dan tidak terkendali. Dia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Terkadang dia bahkan bisa terganggu ketika sedang makan karena pikirannya sedang memikirkan untuk melakukan sesuatu hal yang lain. Dan pikirannya terus melayang-layang dengan sesuatu pemikiran yang tidak terkendali. Orang ini, bahkan jika diberikan instruksi yang tepat untuk bermeditasi, tidak bisa melakukannya karena dia tidak bisa menguasai pikirannya, tidak juga bisa melihat segala sesuatu hal sebagaimana apa adanya.

Sang Buddha berkata bahwa sangat sulit untuk menemukan makhluk-makhluk yang bebas dari sakit mental bahkan untuk sebentar saja, kecuali para Arahat.(13) Dengan kata lain,kebanyakan makhluk berpikiran kacau pada batas tertentu, dengan pikiran yang tidak terfokus yang terus melayang dengan pemikiran yang tidak terkendali. Kata Pali asava secara harfiah berarti mengalir keluar. Terjemahan yang layak bisa berarti ‘Noda-noda mental yang tidak terkendali’. Seorang Arahat juga dipanggil khinasava, orang yang telah menghancurkan asava-asava. Makhluk-makhluk lainnya masih memiliki noda-noda mental yang tidak terkendali, yang juga berarti pikiran yang tidak terkendali, kecuali mereka berada dalam keadaan samadhi. Jadi kebanyakan makhluk mempunyai pikiran yang tidak terkendali, tidak terfokus, yang menghalangi mereka melihat segala sesuatu hal sebagai apa adanya, menyadari tanpa diri (anatta) dan mencapai pembebasan. Dijelaskan di dalam sutta-sutta bahwa kondisi yang penting dalam melihat segala sesuatu hal sebagaimana apa adanya adalah konsentrasi.(14)

Pelatihan yang tidak sempurna tanpa konsentrasi benar. Oleh sebab itu, dengan pikiran yang tidak terkendali dan tidak terfokus, melatih perhatian dan perenungan benar masih tidak cukup untuk mencapai pencerahan. Karenanya, diperlukan konsentrasi benar, faktor kedelapan dari Jalan Ariya Berunsur Delapan.

Latihan dari perenungan benar adalah untuk merenungi tubuh jasmani, perasaan, pikiran dan Dhamma; memberikan perhatian di sini dan pada saat ini; dan melihat segala tubuh jasmani dan batin sesuai kenyataannya yang disertai dengan kebijaksanaan yang tepat sedemikian: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’

Pada tahap ini, pelatihan kita masih tidak sempurna tanpa konsentrasi benar. Kuncinya di sini adalah menanam dan mengembangkan perenungan benar sampai pada tahap yang seksama dan mencapai satipatthana. Pencapaian satipatthana adalah penting karena ia adalah batu loncatan ke konsentrasi benar. Berikutnya, saya akan menjelaskan hal ini secara lebih terperinci.

[align=center]Satipatthana[/align]

Istilah Pali yang penting lainnya yang sering ditemui berkaitan dengan meditasi adalah satipatthana. Tidak terdapat definisi untuk Satipatthana tetapi latihannya serupa dengan latihan dari sati – pada dasarnya merenungi tubuh jasmani, perasaan, pikiran dan Dhamma. Satipatthana berasal dari kata sati dan patthana atau upatthana. Patthana atau upatthana telah banyak diterjemahkan sebagai fondasi, pengembangan, penerapan, pembangunan, dll.. bagaimanapun, terjemahan-terjemahan ini tidak menunjukkan secara jelas perbedaan antara sati dan satipatthana.

Keadaan perenungan yang mendalam. Ketika kita meneliti sutta-sutta kita menemukan adanya perbedaan antara sati dan satipatthana. Seperti yang dijelaskan pada awalnya, sati berarti perenungan. Sekarang patthana mungkin berasal dari dua kata, pa dan thana. Pa berarti membangun dasar yang kokoh juga berarti bergerak melampaui. Kemudian ia juga bisa berarti sangat, amat mendalam. Thana berarti berdiri diam, dan juga bisa berarti suatu keadaan atau kondisi. Jadi satipatthana mungkin berarti keadaan perenungan yang amat sangat mendalam. Terjemahan satipatthana ini kelihatannya sesuai dengan sutta-sutta, yang mana saya akan merujuk sekarang ini.

Latihan satipatthana. Satipatthana Samyutta 47.2.10 memberikan kiasan yang mengesankan dalam menunjukkan bagaimana satipatthana harus dilatih. Dalam kiasan ini, seorang pria dipaksa untuk membawa sebuah mangkuk yang diisi penuh dengan minyak, diantara kerumunan orang-orang yang menonton gadis tercantik setanah air yang sedang bernyanyi dan menari. Dia diikuti oleh seorang pria lainnya dengan pedang yang diangkat, siap untuk memotong kepalanya jika setetes saja dari minyak tersebut ditumpahkan. Oleh karenanya, dia harus memperhatikan dengan seksama mangkuk dari minyak tersebut tanpa mengizinkan dirinya untuk terganggu sedikitpun oleh hal-hal lain, yaitu perhatian yang berpusat kepada satu objek. Ini adalah penjelasan yang jelas dari makna satipatthana.

Ciri khas Jhana. Dalam Majjhima Nikaya 44, disebutkan bahwa satipatthana adalah ciri khas (nimitta) dari samadhi. Ini berarti bahwa jika seseorang mencapai konsentrasi (samadhi, ditegaskan sebagai kemanunggalan pikiran, atau jhana), satipatthana (bukan hanya sati) harus secara otomatis hadir. Keadaan konsentrasi atau konsentrasi benar (jhana) adalah keadaan perhatian dan perenungan yang amat mendalam dimana pikiran menjadi terang – keadaan mental yang cemerlang karena pikiran terfokus, tidak terpencar. Karena itu, disebutkan bahwa satipatthana adalah ciri khas dari konsentrasi.

Di Samyutta Nikaya 52.2.2, Arahat Anuruddha ditanya apa yang telah dia latih untuk mencapai kekuatan batin (supranormal) – beliau sanggup melihat ribuan sistem dunia secara jelas. Beliau menjawab bahwa itu sehubungan dengan pelatihan dan pengembangan satipatthana. Di lain tempat, kekuatan batin (supranormal) selalu dikatakan karena pencapaian jhana.

Di Majjhima Nikaya 125, Sang Buddha menjelaskan berbagai langkah dalam pelatihan moralitas atau Dhamma (carana), yang memuncak pada empat jhana, serupa halnya dengan Jalan Ariya Berunsur Delapan. Pada Jhana pertama, terdapat penjelasan dari Satipatthana, diikuti oleh jhana kedua, ketiga dan keempat.

Satipatthana dan Jhana adalah sejalan. Di Majjhima Nikaya 118, disebutkan: ‘Ketika perenungan pada nafas dikembangkan dan dilatih, empat satipatthana dipenuhi. Ketika empat satipatthana dikembangkan dan dilatih, mereka memenuhi tujuh faktor pencerahan (bojjhanga). Ketika tujuh faktor pencerahan dikembangkan dan dilatih, hal tersebut akan membawa pada pengetahuan benar dan pembebasan.’

Perenungan pada nafas, ketika dikembangkan, dikatakan memenuhi empat satipatthana. Sebagai bandingnya, Samyutta Nikaya 54.1.8 menyebutkan bahwa konsentrasi yang mendalam pada perenungan akan nafas menuntun ke pencapaian keseluruhan jhana. Lebih jauh lagi, empat satipatthana, ketika dikembangkan, dikatakan memenuhi tujuh faktor pencerahan. Sekarang, empat dari tujuh faktor tsb adalah kegirangan, ketenangan, konsentrasi dan keseimbangan batin, kesemuanya tersebut juga merupakan ciri khas dari jhana. Lagi-lagi, pada pelaksanaannya, kita tidak dapat memisahkan pencapaian satipatthana dan jhana. Mereka sejalan.

Di Majjhima Nikaya 10 dinyatakan: ‘Para bhikkhu, inilah jalan yang menuju satu arah saja untuk pemurnian para makhluk, untuk mengatasi kesengsaraan dan ratap tangis, untuk lenyapnya kepedihan dan kesedihan, untuk tercapainya jalan sejati, untuk realisasi Nibbana – yaitu empat satipatthana.’ Ini tidak berlawanan dengan pernyataan di Anguttara Nikaya 9.36:‘Sesungguhnya, saya katakan, penghancuran asava (tingkat Arahat) tergantung pada jhana pertama… jhana kedua… jhana ketiga… jhana keempat, dan pernyataan di Majjhima Nikaya 52 oleh bhikkhu Ananda bahwa ‘satu hal yang diajarkan oleh Sang Buddha untuk mencapai pembebasan adalah jhana pertama… jhana kedua… jhana ketiga… jhana keempat….’

Sati versus Satipatthana. Pelatihan Satipatthana sama dengan sati dalam arti bahwa keduanya termasuk perenungan terhadap tubuh jasmani, perasaan, pikiran dan Dhamma. Apa yang membedakan mereka adalah intensitas dari sati. Ketika perenungan benar (samma sati) dilatih dan dikembangkan menuju keadaan yang mendalam, ia menjadi satipatthana.

Satipatthana menuntun pada jhana. Di Samyutta Nikaya 47.1.8, dinyatakan bahwa seorang bhikkhu yang bodoh, tidak jeli, mempraktekkan satipatthana tetapi pikirannya tidak terkonsentrasi dan halangan-halangan tidak ditinggalkan. Tetapi, ketika seorang bhikkhu yang bijaksana, terlatih mempraktekkan satipatthana, pikirannya menjadi terkonsentrasi dan halangan-halangan ditinggalkan. Oleh sebab itu, ketika seorang bhikkhu mempraktekkan satipatthana secara tidak jeli, ia tidak mencapai konsentrasi (jhana).

Seorang bhikkhu yang jeli mencapai konsentrasi ketika dia mencapai satipatthana.Hal ini sekali lagi menekankan pada orang yang mencapai konsentrasi pada dasarnya memiliki satipatthana. Inilah sebabnya mengapa tahap konsentrasi disebut juga pikiran yang lebih tinggi (adhicitta) di Anguttara Nikaya 3.85 dan pikiran yang telah dikembangkan (bhavitam cittam) di Anguttara Nikaya 2.3.10. Dan kita tahu jika pikiran yang lebih tinggi adalah prasyarat untuk kebijaksanaan yang lebih tinggi, yang merupakan dasar dari pembebasan. Maka jhana adalah faktor penting dari Jalan Arya Berunsur Delapan.

Seseorang harus melatih perenungan benar dan kemudian mengembangkannya ke keadaan yang mendalam untuk mencapai satipatthana. Ketika satipatthana tercapai, konsentrasi atau
jhana juga tercapai. Inilah sebabnya di Majjhima Nikaya 119, kita menemukan salah satu keuntungan dari melatih dan mengembangkan perenungan benar dari tubuh jasmani secara berulang-ulang adalah kemampuan untuk ‘memperoleh keinginan, tanpa gangguan dan kesulitan, keempat jhana yang merupakan pikiran yang lebih tinggi dan memiliki kediaman yang menyenangkan disini dan pada saat ini.’ Demikian dikatakan bahwa seorang bhikkhu yang jeli, mempraktekkan satipatthana dan mencapai konsentrasi.

Di Majjhima Nikaya 117, dinyatakan bahwa faktor-faktor dari Jalan Ariya Berunsur Delapan adalah untuk dilatih setahap demi setahap. Jadi, bahwasanya perenungan benar menuntun ke konsentrasi benar, maka satipatthana bisa dikatakan sebagai penghubung atau jembatan yangmenghubungkan faktor ketujuh (perenungan benar) dengan faktor kedelapan (konsentrasi benar) dari Jalan Ariya Berunsur Delapan.

bersambung...
NB:

1 Empat kumpulan (nikaya) dari sutta-sutta Sang Buddha adalah Digha Nikaya, Majjhima Nikaya, Samyutta Nikaya dan Anguttara Nikaya. Pentingnya sutta-sutta didiskusikan di dalam buku “Kebebasan Sempurna: Pentingnya Sutta-Vinaya” yang ditulis oleh pengarang.
2 Anguttara Nikaya 4.180.
3 Majjhima Nikaya 119.
4 Samyutta Nikaya 47.35.
5 Sebagai contoh, Majjhima Nikaya 39.
6 Sebagai contoh, Majjhima Nikaya 53, Anguttara Nikaya 5.14 dan Samyutta Nikaya 48.1.9.
7 Dalam pengertian yang lebih luas, batin termasuk perasaan, persepsi, kemauan/kehendak dan kesadaran.(Untuk pemahaman yang lebih mendalam tentang nama-rupa, silahkan merujuk pada buku lainnya “Dependent Origination” dan “Samatha and Vipassana” dari pengarang).
8 Samyutta Nikaya 47.1.6. Lihat juga Samyutta Nikaya 35.199 dan 47.1.7 untuk cerita perumpamaan yang sama.
9 Majjhima Nikaya 125
10 Majjhima Nikaya 140.
11 Majjhima Nikaya 75.
12 Sebagai contoh, Majjhima Nikaya 22, Anguttara Nikaya 3.131, dan Samyutta Nikaya 22.15
13 Anguttara Nikaya 4.157.
14 Samyutta Nikaya 12.23 dan Anguttara Nikaya 7.61.

[/size]
Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Halo, Tuan!

Tampaknya anda baru di sini. Bila anda ingin ikut terlibat, klik salah satu tombol berikut!

Kategori