free hit counter Beginilah antara sisi Psikologis dan Sosiologis Ayat-ayat Cinta 2 — FBI

Beginilah antara sisi Psikologis dan Sosiologis Ayat-ayat Cinta 2

SEMBILAN tahun berlalu sejak mulai Ayat-ayat Cinta muncul di monitor perak. Saat ini, sekuelnya, Ayat-ayat Cinta 2 atau AAC 2, datang dengan cerita besar yg membuat berubah menjadi satu diantaranya film yg sangatlah pantas ditonton di penghujung 2017. 
Simak juga : contoh teks eksposisi

Di bioskop, banyak dari mereka yg menyaksikan AAC 2 merupakan ibu-ibu muda. Gak dikit dari mereka mengikutsertakan suami serta buah hatinya yg tetap kecil. Bisa jadi, mereka merupakan pirsawan yg sembilan tahun lalu terbenam dalam narasi Ayat-ayat Cinta serta saat ini mencari pereda rindu. 
Artikel Terkait : teks eksposisi

Untuk Anda yg udah menyaksikan AAC 2 atau belum juga, dibawah ini review dari Mochamad Irfan Hidayatullah, Dosen Fakultas Pengetahuan Budaya Unpad serta pelaku literasi di populasi Komunitas Lingkar Pena. Selamat membaca. 

Dua titik genting 
Tiap-tiap film punyai titik genting dalam keterhubungannya dengan pirsawan. Titik genting ini pun yg lantas dapat membuat film khusus dimasukkan pada typical khusus. 

Tentunya titik genting itu juga yg di kerjakan penulis skenario serta sutradara film buat membuat ciri-ciri film yg tengah digarapnya. Tetapi, seringkali film yg tak maksimum dalam menyelesaikan titik genting ini hingga dia tidak sukses diposisikan oleh penontonnya. 

Demikian sebaliknya, banyak yg sukses menyelesaikan bukan hanya satu titik genting hingga dia dapat di nikmati oleh beragam model pirsawan. 

Dengan cara sosiologis ini mungkin saja satu diantaranya argumen box office-nya suatu film. Dalam masalah ini, AAC 2, dalam pandangan saya, punyai dua titik genting juga sekaligus, ialah yg psikologis serta yg sosiologis. 

Yg psikologis, seperti gak semenonjol yg sosiologis dalam film ini, namun apabila dilihat lebih dalam, film ini menyimpan sekam genting disana. 

Pada narasi (story, dalam terminologi Chatman yg dipertemukan dengan discourse) di ceritakan seseorang Fahri (Fedi Nuril) yg tengah dalam puncak karir akademisnya di Kampus Edinburgh. 

Dia berubah menjadi profesor sektor filologi di kampus itu. Ketika berbarengan, Dia lantas punyai kehidupan sosial, spiritual, serta ekonomi yg mapan. Dengan cara sosial dia seseorang tetangga yg baik serta sangatlah toleransi pada beragam ketaksamaan ideologis disekitarnya. 

Dengan cara spiritual dia merupakan seseorang muslim patuh yg bisa menunaikan kewajibannya jadi muslim dalam situasi apa-pun (film ini di mulai oleh adegan Fahri yg salat di kelas) . Gak ketinggal, dengan cara ekonomi Fahri di ceritakan jadi seseorang pebisnis yg punyai sejumlah swalayan tidak cuman pastinya jadi seseorang dosen. 

Kelengkapan kapital (meminjam makna Bourdieu) itu dalam film ini depergunakan buat menundukkan yg sosiologis atau ranah yg punya sifat sosial. Permasalahan multikulturalisme jadi titik genting khusus dalam masalah ini. Sebab itu, perseteruan yg dibikin merupakan pertentangan pada Fahri dengan sejumlah tetangganya yg tidak sama ciri-ciri ideologis serta kultural. 

Resolusi yg digapai diakhir narasi lantas tersedianya rekonsiliasi pada “ideologi” Fahri dengan “ideologi yg lain”. Simpul khusus keterleraiannya merupakan berbaliknya nenek Katerina (Dewi Irawan) serta Keira (Chelsea Islan) diakibatkan oleh kebaikan sosial Fahri. 

Nenek Katerina berubah menjadi aktan (meminjam makna Greimas) penolong sebelumnya setelah jadi penentang. Sesaat Keira berganti dari aktan penentang berubah menjadi partisan Fahri dalam menggapai Objek, ialah cinta tunggalnya Hulya (Tatjana Saphira) . 

Cerita psikologis 

Interaksi perpindahan naratif itu yg bikin narasi ini seperti cuma bergelut dalam ranah sosiologis serta romansa. Tetapi, nyata-nyatanya ada cerita (discourse) beda dibalik itu semua, dialah yg psikologis. 

Cerita psikologis ini lengkapi cerita sosiologis. Cerita sosiologis bakal dengan jelas dapat dibaca apabila naratif interaksi antarideologi tak dianggap sekedar interaksi narasi. 

Pada cerita ini lakuan tokoh Fahri yg punya sifat sosiologis itu sesungguhnya sisi dari tegangan psikologis yg cukuplah dalam. 

Ada satu scene sebagai pemberi tanda faktor ini, ialah kala Fahri memohon saran dari Misbah dalam sesuatu masjid. Ketika itu Misbah memberi salam Fahri kalau jangan-jangan semua kebaikan yg di lakukannya merupakan pelarian dari kegelisahan gara-gara ditinggal Aisha. 

Kehadiran Aisha di area psikis Fahrilah yg mengambil alih keikhlasan yg selayaknya berubah menjadi landasan semua amal Fahri. 

Impian Fahri buat penuhi semua amanat Aisha serta impian kembalinya Aisha merupakan titik genting psikologis yg menggerakan narasi menuju pandangan. Kalau seseorang Fahri Abdullah yg punyai modal kehidupan komplet diam-diam nyata-nyatanya kehilangan pijakan paradigmatis. 

Menurut saya, yg psikologis sejenis berikut ini yg diam-diam merasuk pada jiwa pirsawan menjadi dasar beragam konstruksi cerita yang lain, termasuk juga kejadian cinta serta (peluang) poligami. 

Menariknya, yg psikologis ini tak didatangkan dengan polos dalam film. Keapikan akting Fedi Nuril jadi Fahri memberi dukungan itu semua. 

Kegugupan-kegugupan yg ditampakkan dalam hadapi banyak wanita serta kala hadapi aksi-aksi “ekstrem” sejumlah tetangganya berubah menjadi pemberi tanda ada cerita psikologis itu. Perihal ini pula yg lantas membuat narasi menarik buat disertai dari cuma gerakan plot satu tokohnya ; Fahri. Tetapi, bukan hanya Fahri yg menyimpan itu, Aisha juga. 

AAC 2 pun merupakan terkait perjalanan psikologis seseorang Aisha yg bersembunyi dibalik saat lalunya buat mengirimkan Fahri (suaminya) ke hari depan. 

Adegan-adegan Aisha di Palestina berubah menjadi titik genting untuk gerakan Aisha pada seluruh narasi. Cuma, bangunan karakterisasi Aisha diganggu oleh perihal lain sebagai twist besar AAC 2 (bakal saya kaji kedepannya biar tak spoiling) . 

Pada titik berikut ini kontestasi cerita psikologis pada Fahri serta Aisha menarik buat dibaca. Tetapi, meski bagaimanapun, tulang punggung narasi ini merupakan kejadian dua manusia ini ; kehadiran wanita-wanita beda merupakan sejenis eksposisi, dramatisasi, sambungan perseteruan khusus, serta bukti dari kepahlawanan Fahri. 

Masalah ini dapat dapat dibaca apabila seluruh perbuatan narasi dimasukkan dalam scene function models (meminjam makna Chatman) . 




Login or Register to comment.

Halo, Ndan!

Tampaknya anda baru di sini. Klik satu tombol berikut untuk mulai ber interaksi atau berkomentar!

Kategori