free hit counter Teror Bom Tak Bisa Pecah Belah NKRI — FBI

Teror Bom Tak Bisa Pecah Belah NKRI

Serangkaian aksi teror dari pelaku tindak pidana terorisme terjadi kembali selama 2 pekan ini. Dimulai dari aksi pemberontakan narapidana tindak pidana terorisme (napiter) di Mako Brimob Kelapa Dua yang terjadi Selasa, 8 Mei 2018 pekan lalu dan mengakibatkan 5 orang anggota Polisi harus gugur meregang nyawa dan 1 orang napiter tewas. Hanya berselang beberapa hari, aksi teror kembali terjadi dengan meladaknya bom bunuh diri yang terjadi pada Minggu, 13 Mei 2018 pagi di 3 Gereja di kota Surabaya yaitu Gereja Pantekosta Arjuno, Santa Maria dan GKI Diponegoro yang mengakibatkan 11 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya menderita luka-luka. Tidak berhenti sampai disitu saja, aksi teror berlanjut dengan meledaknya bom di Rusunawa Wonocolo, Sidarjo yang mengakibatkan 5 terduga teroris tewas. Hanya selang beberapa jam saja di hari Senin, 14 Mei 2018 tepat pada pukul 08.50 WIB terjadi kembali peledakan bom dengan menggunakan sepeda motor di Mapolrestabes Surabaya, 4 terduga pelaku tewas di tempat kejadia dan melukai 4 anggota Polisi serta 6 warga sipil. Tidak hanya melakukan aksi teror dengan bom bunuh diri, semua terduga pelaku teror disinyalir merupakan keluarga.
Apakah kegiatan para terduga pelaku teror tersebut tidak bisa diantisipasi sejak awal? Seharusnya bisa, tapi apa yang sebenarnya menjadi kendala? Jawabannya terletak pada Undang-undang yang mengatur tentang radikalisme dan tindak pidana terorisme saat ini baru mengatur tentang penindakan, hal ini berarti pihak aparat keamanan dalam hal ini Polri hanya dapat menangkap para terduga pelaku teroris hanya jika mereka telah melakukan aksi sehingga konsep Penanggulangan yang seharusnya dilakukan oleh pihak Kepolisian dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) belum dapat dilaksanakan secara komprehensif dikarenakan aturan yang berlaku saat ini belum mengatur tentang kegiatan-kegiatan dalam rangka pencegahan, mitigasi maupun deradikalisasi untuk mencegah terjadinya aksi teror yang meresahkan masyarakat.
Sementara itu tindakan dan langkah-langkah kontra radikalisasi pun sangat diperlukan untuk dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) agar narapidana lain yang belum terpapar ideologi atau ajaran-ajaran radikal yang bermuara pada aksi terorisme dapat dicegah dan mengantisipasi munculnya bibit-bibit baru pelaku terorisme di masa yang akan datang. Ideologi radikal ini layaknya penyakit menular yang dapat menjangkiti siapa saja yang melakukan kontak dengan individu-individu yang sudah lebih dahulu menganut paham tersebut. Tengok saja para terduga pelaku aksi teror bom bunuh diri di 3 Gereja di Surabaya, Rusunawa Wonocolo di Sidoarjo dan Mapolrestabes Surabaya disinyalir mereka merupakan satu keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan anak-anaknya. Lain lagi jika kita memperhatikan para napiter maupun terduga teroris di daerah lain mereka “terjangkit/tertular” paham radikal melalui media sosial dan media daring lainnya. Maka dari itu, revisi Undang-undang penanggulangan terorisme yang akan disahkan harus pula mengatur mengenai pemantauan aktivitas di media daring sebagai upaya pencegahan, salah satunya ujaran kebencian (hate speech) dan disertai ajakan-ajakan untuk melakukan aksi-aksi radikal dan teror atau telah memenuhi beberapa unsur yang mengindikasikan akan muncul atau dilakukannya sebuah aksi radikal maupun teror.
Di sisi lain, momentum ini perlu kita manfaatkan untuk meningkatkan semangat persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara seraya meningkatkan toleransi dan kerukunan antar umat beragama di negara yang kita cintai ini. Para pelaku teror dengan kedok Agama bertujuan untuk menciptakan keresahan di masyarakat dan mengadu domba para penganut Agama dan kepercayaan padahal sesungguhnya para pelaku teror tersebut tidak beragama karena tidak ada satupun Agama yang mengajarkan kekerasan dan menganjurkan untuk membunuh sesama manusia. Justru sebaliknya, semua Agama lebih banyak mengajarkan mengenai cinta dan kasih sayang dan menganjurkan untuk saling membantu dan saling mengasihi.Dengan adanya kejadian ini, jangan beri ruang untuk mereka dengan memberikan respon-respon yang mereka harapkan muncul dari aksi yang telah dilakukan. Mereka ingin kita merasa takut dan mereka ingin kita terpecah belah, STOP penyebaran foto dan video aksi teror yang terjadi maupun para korban dan terduga pelaku teror, karena hal tersebut hanya akan menambah kepanikan dan kecemasan di tengah-tengah masyarakat.
Pada akhirnya, kita sebagai masyarakat seyogyanya tetaplah bersikap tenang, ciptakan suasana yang harmonis dan saling memperkuat satu sama lain, mari kita ciptakan kedamaian dengan menyampaikan pesan-pesan yang mendamaikan, dan tidak memperkeruh suasana dengan ikut serta dalam menyebarkan isu-isu yang belum dapat diakui kebenarannya. Janganlah mudah terhasut dengan berbagai informasi yang beredar saat ini dan tetap junjung erat persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia yang cinta damai.


Komentar

  • Lagi, terjadi serangkaian aksi terorisme yang dilakukan suatu golongan dengan mengatasnamakan Agama tertentu. Aksi kali ini terjadi di wilayah Jawa Timur yang dalam kurun waktu 2 hari telah terjadi 3 aksi bom bunuh diri, yaitu: pada hari Minggu, 13 Mei 2018 yang terjadi di tigagereja di Surabaya dalam kurun waktu yang hampir bersamaandi Gereja Kristen Indonesia jalan Diponegoro, Gereja Santa Maria di Ngagel, dan Gereja Pantekosta di Jalan Arjuno.Kemudian, pada malam hari nya di Sidoarjo, satu keluarga terduga teroris meledakkan bom di kamar rumahnya blok B lantai 5 Rusunawa Wonocolo. Dan pada pagihari ini, Senin 15 Mei 2018aksi bom bunuh diri terjadi lagi di Markas Kepolisian Resor Kota Besar (Mapolrestabes) Surabaya.
    Jika itu yang menjadi harapan mereka, apakah kita dapat menyebut mereka beragama? Mengatasnamakan Agama untuk melakukan hal-hal yang sama sekali tidak diajarkan oleh Agama manapun. Ya! Mereka memang tidak beragama, karena setiap Agama selalu mengajarkan untuk saling berkasih sayang dan saling menjaga satu sama lain, saling menghormati dan menghargai sesama umat beragama. Apa yang dilakukan oleh para pelaku sangat bertolak belakang dengan apa yang agama kita selalu ajarkan. Maka jangan kita memberi ruang untuk mereka yang tidak beragama untuk merasa bangga dengan apa yang mereka lakukan! Janganlah kita memberikan respon-respon yang mereka harapkan muncul dari aksi yang telah dilakukan. Mereka ingin kita merasa takut dan mereka ingin kita terpecah belah.Untuk itu, kita sebagai masyarakat tetaplah bersikap tenang, ciptakan suasana yang harmonis dan saling memperkuat, mari kita ciptakan kedamaian dengan menyampaikan pesan-pesan yang mendamaikan, dan tidak memperkeruh suasana dengan ikut serta dalam menyebarkan isu-isu yang belum dapat diakui kebenarannya. Kita jangan mudah terhasut dengan apa yang telah terjadi saat ini dan tetap mempererat persatuan kita sebagai masyarakat Indonesia yang cinta damai. Mari jadikan aksi yang telah dilakukan oleh para pelaku ini sebagai momentum untuk bersatu dan melawan dengan menunjukkan sikap dan kecaman atas apa yang telah mereka perbuat.
    Saat ini, kita cukup menantikan pengungkapan kebenaran informasi dari pihak kepolisian dengan tetap waspada dan menjaga keamanan diri kita serta menjadi lebih peka dengan apa yang terjadi di sekitar kita. Selain itu, kita dapat memberikan informasi kepada pihak berwenang apabila dirasakan ada kondisi maupun tingkah laku yang janggal terjadi di lingkungan kita. Kepolisian beserta pihak berwenang saat ini sedang melakukan penyelidikan dan akan mengupas tuntas kasus terorisme ini hingga ke akarnya. Kita harus optimis dan memberikan kepercayaan penuh kepada pihak kepolisian dan pemerintah untuk mengungkap jaringan teroris yang ada dibalik semua rangkaian aksi teror yang terjadi pekan ini. Kita dapat mengawal dan memberikan dukungan kepada pihak kepolisian dan pemerintah dengan tetap menjaga kestabilan dan kondusifitas lingkungan di masyarakat. Dengan terungkapnya dalang dibalik kejadian aksi bom bunuh diri ini, besar harapan kita bahwa kejadian ini menjadi aksi terakhir yang dilakukan oleh para pelaku teror.
    Jika kita mencermati, dengan ditangkapnya sejumlah terduga teroris beberapa waktu ini mengindikasikan adanya kebangkitan sel terorisme yang selama ini terkesan 'tidur'. Pihak aparat keamana saat ini merasa kesulitan melakukan tindakan pencegahan karena terbentur Undang-Undang Terorisme yang berlaku saat ini. UU Terorisme yang saat ini dipakai bersifat responsif. Artinya, pihak aparat keamanan baru bisa menangkap terduga teroris saat dia sudah mulai melancarkan aksinya. Apakah memang harus menunggu para pelaku tindak pidana terorisme tersebut melakukan aksinya baru ditangkap? Bila kita mengacu pada definisi penanggulangan sesungguhnya harus dimulai dari pencegahan dimana saat belum melaksanakan aksinya mereka dapat segera ditangkap dan diberikan perlakuan khusus untuk deradikalisasi.Dari penjelasan tersebut di atas, maka harus segera dilakukan revisi dari UU yang telah ada dan harapannya RUU untuk Terorisme nomor 15 tahun 2003 diharapkan dapat pula mengatur bila seseorang kedapatan memiliki bukti kuat berafiliasi dengan jaringan teroris tertentu, pihak aparat keamanan bisa langsung melakukan penangkapan, bukan saat pelaku sudah melakukan aksinya.Selain itu, dengan adanya revisi maka dapat memperkuat pihak-pihak yang berwenang (Kepolisian, Densus 88, TNI, dan lain sebagainya) untuk dapat melakukan pemberantasan terhadap aksi-aksi teror yang meresahkan masyarakat.


  • Setelah aksi penyanderaan di Markas Komando Brigade Mobil (MAKO) Brimob di Depok, Jawa Barat, Selasa (8/5) lalu, teror kembali terjadi dua hari berturut-turut. Kali ini teror dilakukan di Kota Surabaya, serangan bom bunuh diri di tiga gereja pada Minggu (13/5) pagi. Para teroris juga melancarkan aksinya di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo dan Polrestabes Surabaya pada, Senin (14/5) pagi.Bom pertama meledak di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel pada pukul 06.30 WIB. Lantas bom kedua meletup di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jalan Diponegoro pukul 07.15 WIB, disusul serangan bom ketiga di Gereja Pantekosta di Jalan Arjuno, Surabaya pada pukul 07.53 WIB.Serangan ini dilakukan ketika jemaat sedang melakukan misa Minggu pagi. Menurut keterangan polisi sampai saat ini jumlah korban meninggal dunia sudah 13 orang enam di antara pelaku teror. Sementara ada 41 orang luka-luka dalam tragedi yang memilukan ini. Teror ini terkesan brutal dan sporadis tapi dapat diketahui bahwa targetnya satu tempat. Surabaya dan daerah sekitarnya menjadi sasaran para teroris kali ini. Belum diketahui alasan pastinya. Yang baru dipastikan Surabaya tidak akan tumbang dan takut dengan teror ini. Kota terbesar di Indonesia tersebut sudah hapal bagaimana rasanya diserang.
    Seperti yang telah diketahui Belanda pernah menyerang Surabaya pada agresi militer I. Pada Oktober dan November 1945 Belanda habis-habisan menyerang Surabaya. Ketika itu Inggris juga mengirimkan banyak pasukan untuk melucuti senjata Jepang yang sudah menyerah. Rakyat Surabaya melakukan perlawanan dan sejarah mencatat peristiwa 10 November tersebut menjadi hari Pahlawan Indonesia. Dari sejarah kita semua tahu Surabaya tidak akan pernah goyah dengan gertakkan teror seperti ini. Kepolisian Republik Indonesia pun sebenarnya sudah mengetahui jaringan dan sel-sel teroris.Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Tito Karnavian sudah mampu memberikan penjelasan motif pelaku teror kali ini. Menurut Tito pelaku pengeboman di tiga gereja di Surabaya merupakan kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharut Tauhid atau (JAT). Kelompok tersebut merupakan pendukung utama ISIS yang ada di Indonesia.
    Pemerintah bergerak cepat dengan melakukan berbagai langkah penangkap dan antisipasi. Karena itu yang diperlukan saat ini ketenangan masyarakat untuk mampu menjaga persatuan dan kerukunan antar umat beragama. Sebab tidak menutup kemungkinan aksi-aksi yang dilakukan para teroris dua hari terakhir ini untuk mengganggu dan meruskan harmonisasi kerukanan umat beragama di Indonesia. Kelompok teroris ini melakukan serangan ke rumah ibadah yang menjadi simbol agama. Jika harmonisasi kerukanan beragama memudar maka seluruh sektor dan lapisan Indonesia sebagai negara pun akan goyah. Oleh sebab itu serangan teror dua hari berturut-turut ini seharusnya menjadi momentum bagi bangsa Indonesia untuk bisa kembali bersatu. Karena saat ini seluruh elemen bangsa Indonesia baik rakyat maupun pemerintah memiliki satu musuh bersama, yakni teroris. Dengan adanya satu musuh bersama tersebut maka tujuan berbangsa menjadi jelas yaitu menjaga hormanisasi kehidupan berbangsa dan bertanah air.


  • Setelah kasus serangan narapadina terorisme di Mako Brimob, berita tentang terorisme datang dari Surabaya. Publik digegerkan dengan aksi satu keluarga yang meledakkan bom bunuh diri di tiga gereja. Mirisnya aksi tersebut melibatkan anak-anak di bawah umur. Tak ada yang menduga jika keluarga itu menganut paham radikal dan terkait dengan jaringan ISIS.Keluarga Dita yang menjadi pelaku dari pemboman 3 gereja menurut para tetangganya dikenal tertutup. Tak ada yang tahu bahwa Dita sebenarnya merupakan ketua JAD atau Jaringan AnsarutDaulah di wilayah Surabaya.Setelah kejadian pemboman tersebut, pihak teroris masih melancarkan aksinya. Masih di sekitar Surabaya, mereka kemudian menyasar ke Rusun Wonocolo, Sidoarjo. Menurut keterangan dari Irjen Machfud Arifin selaku Kapolda Jatim tak semua keluarga teroris tewas dalam aksi bunuh diri tersebut. Ada yang saat ini masih dirawat di rumah sakit.
    Tak berhenti sampai disitu, pada senin pagi kelompok teroris kembali menyerang. Kali ini pada senin pukul 08.50, pihak teroris melakukan aksi bom di markas kepolisian Surabaya. Dari serangkaianteror tersebut, diperkirakan ada 41 korban luka yang telah mendapat perawatan di rumah sakit. Serta 11 orang meninggal atas kejadian tersebut. Saat ini polisi masih bekerja keras dalam penyidikan kasus ini. Tim gegana juga diterjunkan untuk menyisir tiap lokasi terjadinya peledakan bom karena ditakutkan masih ada bom yang masih aktif. Peristiwa ini memang cukup menjadi perhatian masyarakat karena belum juga tuntas. Jika melihat polanya, orang awam pun tahu bahwa aksi bom tersebut saling berkaitan satu sama lain. Menurut pengamatan dari mantan anggota jamaah islamiyah, Ali Fauzi mengatakan bahwa aksi bom di Surabaya merupakan serangkaian balas dendam terhadap peristiwa di Mako Brimob.Selain itu, video yang beredar luas yang merekam anggota polisi menyuapi makan para narapidana teroris dengan tangan diborgol menyulut emosi para anggota kelompok teroris tersebut. Sebenarnya peristiwa peledakan bom yang terjadi beruntun di beberapa kota bukan kali ini saja, hal serupa pernah terjadi di tahun 2000. Pemboman pernah terjadi di beberapa kota, seperti Bandung, Batam, Mojokerto, dan Jakarta. Yang membedakan adalah modelnya berbeda dengan dulu.Mungkin sebenarnya polisi juga sudah menduga akan ada aksi bom tersebut. Tapi, aksi pemboman tersebut tidak bisa diduga akan terjadi dimana dan kapan. Sebenarnya pemboman yang terjadi di Surabaya masih dalam kategori tidak besar. Efek dari bom tersebut hanya beberapa radius meter saja. Adanya kebakaran juga disebabkan oleh tangki bensin kendaraan bermotor, asap mengepulnya bukan dari efek residu.
    Dari beberapa permasalahan itu yang disebabkan karena permasalahan lokal hingga lingkup internasional, hal itulah yang diduga menjadi motif dasar atas kasus pemboman tersebut. Kemudian kenapa aksi tersebut dilakukan di Surabaya? Jawabanya karena mereka merupakan kelompok di wilayah Surabaya dan pemimpin mereka yag saat ini tengah ditahan juga berasal dari Jawa Timur.Yang perlu diketahui, polisi saat ini tengah berusaha mengusut tuntas kasus ini. Selain melakukan penyidikan mendalam terhadap motif pelaku dan juga menelusri rekam jejaknya, juga mengidentifikasi korban-korban yang berjatuhan. Beberapa korban telah selesai diidentifikasi dan diserahkan kepada pihak keluarga.Sebenarnya bukan hanya polisi yang harus bertugas menyelesaikan kasus ini. Namun masyarakat juga diharapkan dapat membantu polisi dengan cara tetap tenang atas keadaan ini. Jika kita panik, pihak teroris justru akan merasa senang karena berhasil menciptakan ketakutan. Kita sebagai masyarakat yang baik dan patuh terhadap hukum juga bisa membantu mengawasi sekitar ketika dirasa ada sesuatu yang mencurigakan bisa melaporkannya pada pihak berwajib.Sebenarnya aksi teroris ini musuh bagi setiap orang yang menginginkan perdamaian. Jangan sampai kita mudah diadu domba dan banyak berspekulasi yang tidak baik atas kejadian ini. Meskipun pihak teroris mengaku sebagai Islam, tapi Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan. Islam tidak membenarkan terjadinya kekerasan. Apa yang dilakukan oleh para teroris tidak mencerminkan Islam.Sebagai warga Indonesia yang telah sejak lama hidup saling berdampingan antar suku, agama, bahasa, dan perbedaan lainnya, kejadian ini tidak seharusnya membawa kebencian antar warganya. Justu kita harus saling bersatu padu melawan tindakan para teroris. Melawan terjadinya kekerasan dan menciptakan adanya perdamaian kembali di bumi pertiwi ini.
    Kita dukung saja upaya pemerintah yang berjanji akan mempercepat revisi undang-undang terorisme. Sesuai dengan instruksi dari presiden Joko Widodo yang menegaskan agar revisi UU antiterorisme yang telah 2 tahun dibahas DPR agar bisa secepatnya diselesaikan. Hal ini penting supaya dapat membuat leluasa polri dalam bergerak untuk memberantas teroris.Sebenarnya revisi undang-undang tersebut tak kunjung selesai karena ada perbedaan pendapat di beberapa pointnya. Yang pertama adalah tentang definisi teroris dan kedua tentang keterlibatan TNI. Tapi saat ini kedua poin tersebut telah selesai dibahas. Presiden meminta agar RUU jadi di bulan Juni 2018. Tapi DPR optimis Mei ini sudah akan selesai.Kita tunggu saja RUU itu bisa selesai secepatnya. Masalah teroris ini bukan hanya masalah yang hanya perlu ditangani oleh pemerintah, tapi masalah seluruh elemen masyarakat. Sudah saatnya, kita dukung revisi undang-undang antiterorisme segera disahkan agar bumi Indonesia ini bisa damai kembali tanpa teror lagi.


Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Halo, Tuan!

Tampaknya anda baru di sini. Bila anda ingin ikut terlibat, klik salah satu tombol berikut!

Kategori