free hit counter pemahaman dari kasta yang benar — FBI

pemahaman dari kasta yang benar

Hindu dianggap sebagai agama yang membuat perbedaaan tingkat keberadaan manusia sebenarnya pemahaman yang salah ini yang menjadikan orang merasa terendahkan padahal sebenarnya salah. kita selalu diajarkan bahwa manusia itu terbagi 4 golongan :

Brāhmana – golongan para pendeta, orang suci, pemuka agama dan rohaniawan
Kshatriya – golongan para raja, adipati, patih, menteri, dan pejabat negara
Waisya – golongan para pekerja material (petani, pedagang, nelayan, dsb.)
Sudra – golongan para budak dan pembantu keempat golongan di atas

sebenarnya yang menjadi masalah yaitu golongan sudra inilah yang dipake agama lain sebagai jalan untuk melepaskan hidup mereka dari hindu untuk beralih agar masuk agama lain dan lebih dihargai, pemahaman sudra itu bukan pembantu atau budak ini adalah pemahaman manusia yang salah sebenarnya sudra ini adalah golongan yang bersifat pelayanan dan lebih pastinya adalah yang memberi pelayanan seperti bekerja dalam jasa bukan budak dll misalnya dokter, lawyer ini masuk golongan sudra bukan berarti anak yang dilahirkan dari orang tua kasta waisya misalnya pedagang kalau anak ini nanti bekerjanya sebagai wakil bupati berarti ini golongan kshatriya atau bila jadi dokter ya dia sebagai sudra. jadi sebenarnya dari 4 golongan kasta tidak ada yang lebih tinggi /rendah. semua golongan punya hak dan kewajiban yang sama tidak ada atas atau bawah semua berjalan sesuai kewajiban masing-masing semoga pemahaman ini harus dimengerti sejelas-jelasnya agar ada kebenaran yang baru .

Komentar

  • sebenernya si ada lagi bro tapi lupa
    yaitu golongan yang pertamanya diatas tapi nikah ma kasta sudra
    kalo nga salah
  • kasta merupakan sebuah rantai yang terikat satu dengan yang lainnya, sehingga menjadi kuat.

    bagus sekali ya mungkin dari situ lambang pancasila sila ketiga
  • Sebenarnya tidak ada kasta yang rendah maupun tinggi. Maka tidak tepat kalau dibilang kasta/caste. Lebih tepatnya dibilang warna. Warna itu lebih kepada apa yang harus dilakukan dikerjakan oleh warna tertentu. Misalnya Brahmana lebih kepada pelaksanaan upacara, demikian juga Ksatria yang lebih banyak kepada pekerjaan pemerintahan dan keamanan (bela negara), waisya adalah kalangan ekonom dan wiraswasta dan sudra adalah kalangan petani dan sumber penyedia kebutuhan pokok masyarakat.

    Dalam tatanan warna ini tidak ada yang dirugikan. Apalagi banyak yang menganggap kaum sudra adalah kaum terendah dan tertindas. Ini sangat tidak benar, sebab kaum sudra sangat dihargai mengingat sumber penyedia kebutuhan pokok terutama pangan, tergantung pada kaum ini. Masyarakat (Hindu) tidak akan bisa bertahan tanpa adanya kaum sudra dalam arti sebenarnya.

    Lantas apa bisa seorang sudra menjadi Brahmana atau Ksatria? Jawabannya bisa dan sudah banyak terjadi di Bali. Banyak pemimpin yang datangnya dari kaum sudra. Banyak sulinggih (Pemimpin upacara) juga dari kaum sudra. Atau sebaliknya kaum brahmana yang keturunannya menjadi petani, pedagang atau kerja di kantor pemeintah. Tentu mereka sudah berbeda warna dengan orang tuanya atau orang-orang terdahulu dari keluarga itu.

    Lantas bagimana dengan nama seperti Ida Bagus, I Gusti Ngurah, Tjokorda, I Wayan dan sebagainya. Nama saat ini tidak lagi mencermnkan warna seseorang. Nama lebih banyak ke trah atau keturunan dalam kaitannya dengan penghormatan kepada leluhur dan kawitan. Bisa saja seorang yang dulunya bernama I Wayan Anu lantas berubah warna menjadi Mpu Anu lantaran dia sudah mematangkan diri untuk mengabdi dibidang kerohaniawanan.

    Gitu kira-kira bro .....
  • kakul menulis:
    Sebenarnya tidak ada kasta yang rendah maupun tinggi. Maka tidak tepat kalau dibilang kasta/caste. Lebih tepatnya dibilang warna. Warna itu lebih kepada apa yang harus dilakukan dikerjakan oleh warna tertentu. Misalnya Brahmana lebih kepada pelaksanaan upacara, demikian juga Ksatria yang lebih banyak kepada pekerjaan pemerintahan dan keamanan (bela negara), waisya adalah kalangan ekonom dan wiraswasta dan sudra adalah kalangan petani dan sumber penyedia kebutuhan pokok masyarakat.

    Dalam tatanan warna ini tidak ada yang dirugikan. Apalagi banyak yang menganggap kaum sudra adalah kaum terendah dan tertindas. Ini sangat tidak benar, sebab kaum sudra sangat dihargai mengingat sumber penyedia kebutuhan pokok terutama pangan, tergantung pada kaum ini. Masyarakat (Hindu) tidak akan bisa bertahan tanpa adanya kaum sudra dalam arti sebenarnya.

    Lantas apa bisa seorang sudra menjadi Brahmana atau Ksatria? Jawabannya bisa dan sudah banyak terjadi di Bali. Banyak pemimpin yang datangnya dari kaum sudra. Banyak sulinggih (Pemimpin upacara) juga dari kaum sudra. Atau sebaliknya kaum brahmana yang keturunannya menjadi petani, pedagang atau kerja di kantor pemeintah. Tentu mereka sudah berbeda warna dengan orang tuanya atau orang-orang terdahulu dari keluarga itu.

    Lantas bagimana dengan nama seperti Ida Bagus, I Gusti Ngurah, Tjokorda, I Wayan dan sebagainya. Nama saat ini tidak lagi mencermnkan warna seseorang. Nama lebih banyak ke trah atau keturunan dalam kaitannya dengan penghormatan kepada leluhur dan kawitan. Bisa saja seorang yang dulunya bernama I Wayan Anu lantas berubah warna menjadi Mpu Anu lantaran dia sudah mematangkan diri untuk mengabdi dibidang kerohaniawanan.

    Gitu kira-kira bro .....
    Tapi sepengetahuan saya
    Kasta ksatria menikah dengan kasta sudra itu terlarang
    Benarkah demikian?
  • @serraphim0n, thanks buat replaynya. Kalau dikatakan dilarang sih tidak benar. Sebab tidak ada satu lembaga pun di Bali yang diberi kewenangan untuk melarang perkawinan antar warna. Yang pasti, kalau hubungan dengan kawitan yang bersangkutan (dalam hal ini pihak wanita) akan dibatasi atau tidak diijinkan. Dia tidak lagi diperkenankan untuk keluar masuk pemerajan (Pura keluarga) seperti sedia kala. Dengan kata lain, si wanita mutlak menjadi milik si pria yang artinya dia menjadi anggota dari keluarga si pria termasuk menyungsung pura keluarga (Pura kawitan) si pria. Ini yang sering disalah tangkap oleh pihak non-hindu.

    Semoga mendapat pencerahan.
  • maaf kalo sayah ikutan nimbrung nih.....

    sayah sih sering nonton film-film.....
    salah satunya film mahabharata dan film-film tentang sejarah india jaman dulu........

    jelas-jelas sudra adalah kasta terendah sehingga tidak dibolehkan menikah dengan kasta ksatria dan brahmana....... terutama jika sang pria lah yang sudra...

    apakah memang di film aja atau memang terjadi dijaman dulu atau memang ada perbedaan.....????

    mohon keterangan, agar memahami dan bisa bertoleransi dengan lebih baik.....
  • sutisna menulis:
    maaf kalo sayah ikutan nimbrung nih.....

    sayah sih sering nonton film-film.....
    salah satunya film mahabharata dan film-film tentang sejarah india jaman dulu........

    jelas-jelas sudra adalah kasta terendah sehingga tidak dibolehkan menikah dengan kasta ksatria dan brahmana....... terutama jika sang pria lah yang sudra...

    apakah memang di film aja atau memang terjadi dijaman dulu atau memang ada perbedaan.....????

    mohon keterangan, agar memahami dan bisa bertoleransi dengan lebih baik.....

    Saya juga baca di komik
    Seperti itu juga
    Maaf nih ya kalau kasar
    Tapi katanya kalau "bercinta dengan kasta sudra setara dengan bercinta dengan hewan"
    menurut kaum ksatria
    Maaf yah tapi itu saya baca di komik
    tapi komik yang saya baca tentang sejarah2 hindu dan india
  • Saya kurang tahu apa yang terjadi di India. Mungkin saja apa yang dikisahkan dalam Mahabharata itu berlaku pada jamannya atau bahkan sampai sekarang. Yang jelas di India katanya telah terjadi penghapusan sistem kasta saat ini. Kalau di Bali dimana mayoritas penduduknya adalah pemeluk agama Hindu, sistem kasta sudah tidak ada lagi. Konon pada ere kerajaan dulu memang ada, sepertinya ini sifatnya politis untuk mengajegkan kekuasaan sang dinasti. Tetapi kini semuanya sudah berbaur. Masyarakat Bali saat ini duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Kalau ada keluarga yang berupaya mempertahankan tradisi lama seperti itu, keluarga itu akan kurang diterima dalam pergaulan di masyarakat. Sejak tahun 1970 an wangsa sudra biasa dinikahi wangsa brahmana maupun sebaliknya, demikian juga wangsa-wangsa yang lain. Ini kenyataannya, makanya saya bilang kalau di Bali sudah tidak berlaku lagi sistem kasta dalam kehidupan bermasyarakat.
  • yang bikin group kasta, itu memang dari kitab suci umat Hindu atau dari pemerintah India atau yang lain?
  • shasha menulis:
    yang bikin group kasta, itu memang dari kitab suci umat Hindu atau dari pemerintah India atau yang lain?

    Dalam salah satu kitab suci hanya disebutkan mengenai penjabaran tugas (job description) tetapi sistem politik menterjemahkan menjadi sistem kasta. Mungkin saja cocok untuk masyarakat yang menganut sistem politik monarchi/kerajaan dimana raja merupakan pusat dari segala hukum yang berlaku. Kalau kembali kepada kitab suci akhirnya ketahuan kalau kasta itu dibuat penguasa untuk mempertahankan dinastinya. Sekarang dimana-mana rakyatlah yang menjadi pemerintah (democracy) tentu hukum juga dibuat sesuai dengan keinginan rakyat, bukan keinginan istana. Karena itu sistem kasta dengan sendirinya tidak dianggap lagi. Kini hanya menjadi sejarah. Maka jangan heran kalau sistem kasta dipakai untuk menyerang agama Hindu sekarang tidak mempan lagi, sebab masyarakat sendiri sudah tidak merasakan efek dari adanya sistem kasta. Begitu kira-kira bro.
  • Wah kalo gitu mah jelas bangat ya
    kasta bukan dari Hindu

    Thanks bung Kakul penjelasannya
  • shasha menulis:
    Wah kalo gitu mah jelas bangat ya
    kasta bukan dari Hindu

    Thanks bung Kakul penjelasannya

    sebenernya penjelasan untuk semua ini gampang kok....
    Hindhu adalah sebuah agama yang sangat universal.... Hindhu membebaskan umatnya untuk melakukan atau menganut kegiatan kerohaniannya dengan tatacara atau adat-istiadatnya masing-masing, disesuaikan dengan kemapuan si manusia itu sendiri. sama prinsipnya dengan sesajen. di India umat Hindhu nya tidak mengenal sesajen seperti yagn ada di bali... semua ajaran di kembangkan menurut peradabannya masing-masing.. sembahyang pun tidak di wajibkan harus menggunakan bunga atau sesajen janur... semua lebih disesuaikan dengan keadaan...
    tapi terkadang adat istiadat setempat dan zaman memaksa sebuah pemahaman sempit, bahwa semua harus sesuai ketentuan saat itu...

    Menurut yang saya baca-baca, kasta lebih ditekankan kepada job description si manusia, tapi karna awal perkembangannya itu ada pada zaman kerajaan, mangkanya lebih terkesan disesuaikan dengan hukum kerajaan, dimana kaum bangsawan atau kasta tinggi, akan terasa malu dan gengsi apabila menikah atau bergaul dengan kaum rendahan apalagi SUDRA, dan itupun terbawa-bawa sampai zaman saat ini, dimana didaerah-daerah yang masih terasa adat kerajaannya seperti bali....

    tapi dizaman sekarang, yang udah gak sistem kerajaan lagi, udah GAK TABU kok apalagi mau malu, banyak kaum bangsawan brahmana yang menikah dengan kaum sudra,

    intinya sih itu cuman di gengsi pribadi aja, semua orang juga bakal rada malu2 dalem hatinya kalo dia itu pejabat tapi nikah sama pembokat, meskipun itu sah sah saja, tinggal gengsi aja kan...

    sebenernya tanpa disadari, semua orang didunia ini hidup dengan kasta, rata2 orang kaya gaulnya sama orang kaya, pejabat gaulnya sama golongan pejabat, anak pejabat juga lah gaulnya sama2 yang sekelasnya, preman nongkrongnya sama preman, tukang sayur juga gitu, ya gak bakal nyambung lah kalo presiden main caturnya sama tukang kebun dia....
    cuman beda istilah, beda zaman aja, tapi karna semua perbedaan job desctiption itulah hidup ini jadi lebih punya warna, lengkap...

    jujur ajalah pada diri sendiri, misalnya neh, ente udah kaya raya, makmur lah gitu, masa iya tiap hari nongkrongnya masih di prapatan bareng preman-preman, atau ente punya anak udah di sekolahin jadi dokter, masa iya mau dapet istri atau suami cuman tukang sayur kaki lima di pasar tradisional, sah sah aja sih, ente bisa terima mungkin, tapi saudara2 ente, tentanga2 ente, temen2 dan relasi2 ente, apa gak ada satu2 pun yang cuap2 kasih coment gak enak. "Masa Iya Orang Kaya Dapet Menantu Orang Kere, cuman tukan Sayur Lage...."

    kasar ngomong mending jadi orang sudra (cuman tukang sayur kaki 5 ) tapi sejahtera n gak pake korupsi, daripada jadi Brahmana atau bangsawan (Pejabatan Negara) tapi kaya hasil korupsi, menipu kaum sudra...
    awkakwkawkakwkakwakwkakwka........
  • eke menyimak aja dh..
    klu ngomongin ginian mah bakal kagag ada abisnya..
    hohoho..
  • wahh nimbrung bentar nieh seru juga topiknya, tapi kalu setahu ana ndan, kasta itu adalah warna sesuai pekerjaannya, kalo di bali lebih dibedakan penyebutannya dengan sebutan wangsa atau istilah yang lain jero atau jabe,untuk triwangsa di sebut jero karena lebih banyak aktifitasnya di dalam istana atau puri sedangkan jabe tidaklah sama denghan kasta sudra di india. jabe di sini untuk sebutan orang2 yang lebih banyak aktifitasnya diluar istana atau kata lainnya tidak memenga jabatan. dan juga untuk dapat menggunakan gelar wangsa inipun harus sesuai dengan aktifitasnya/prilakunya, dan dalam babadpun pernah saya baca ada raja yang berprilaku tidak selayaknya seorang raja maka di turunkan wangsanya menjadi jabe artinya tidak boleh lagi memegang kekuasaan.
Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Halo, Tuan!

Tampaknya anda baru di sini. Bila anda ingin ikut terlibat, klik salah satu tombol berikut!

Kategori