free hit counter PSSI yang Zalim — FBI

PSSI yang Zalim

[size=xx-large]500 Juta dan PSSI yang Zalim[/size]


Berikut salinan artikel mengenai sepakbola dalam negri yang di tulis oleh Zen Rachmat Sugito editor di IndonesiaBoekoe, sengaja saya share di sini agar bisa menjadikan koreksi akan hingar bingar upaya PSSI mencari muka di hadapan pemerintah dan rakyat Indonesia.

*
Kemarin, saat kedatangan tim nasional Uruguay jadi pemberitaan di mana-mana, saya membaca pernyataan manajer Persibo Bojonegoro, Taufiq Risnendar. Dari sebuah situs sepakbola, saya membaca pernyataan Risnendar: "Hadiah yang menjadi hak kami belum diterima."

Persibo, kita tahu, berhasil menjadi juara Divisi Utama musim kompetisi 2009/2010. Di partai final, Persibo mengalahkan Deltras Sidoarjo dalam laga yang digelar di Stadion Manahan Solo. Partai itu berlangsung pada 29 Mei 2010 silam. Ini sudah Oktober dan Persibo sudah tampil dua kali dalam kompetisi Super League 2010/2011.

Kemarin, saat saya membaca pernyataan Taufikq Risnendar tentang PSSI yang ingkar, media massa sedang asyik-asyiknya memberitakan batalnya kedatangan Diego Forlan ke Jakarta. Tim nasional Uruguay memang punya prestasi hebat, tapi Forlan punya nilai khusus sehingga kedatangan Forlan ke Jakarta kabarnya masuk hitung-hitungan tersendiri. Ada match-fee khusus yang harus dibayarkan PSSI jika Forlan ingin hadir di Jakarta.

Anda tahu berapa hadiah juara yang menjadi hak Persibo? "Hanya" 500 juta.

Saya terpaksa menggunakan kata "hanya" karena saya memang hendak membandingkan dengan match-fee yang harus dikeluarkan PSSI untuk bisa mendatangkan tim nasional Uruguay. 500 juta memang "hanya", karena --seturut pernyataan Imam Arif selaku Ketua Badan Tim Nasional (BTN)-- angka yang harus dikeluarkan PSSI untuk mendatangkan tim nasional Uruguay mencapai 4 miliar.

Kemarin, masih di hari yang sama saat saya membaca pernyataan Taufiq Risnendar tentang PSSI yang ingkar, PSSI dan BTN diberitakan akan meninjau ulang match-fee yang akan dibayarkan kepada tim nasional Uruguay gara-gara Diego Forlan urung datang ke Jakarta. Perlu diketahui, dari 4 miliar match-fee itu, 20 ribu US dolar di antaranya sebagai match-fee untuk Diego Forlan.

Saya belum membaca berita terbaru apakah sudah dilakukan re-negosiasi mengenai match-fee yang harus dibayar PSSI dan BTN gara-gara batalnya Diego Forlan datang ke Jakarta. Saya tidak tahu harus berapa kali PSSI dan BTN bernegosiasi lagi mengenai match-fee. Yang saya tahu, Persibo tak pernah bernegosiasi mengenai jadwal turunnya hadiah juara yang menjadi hak mereka. Yang saya tahu, lagi-lagi dari pernyataan Taufiq Risnendar, Persibo sudah mengirim surat sampai lima kali ke PSSI untuk menanyakan soal uang hadiah juara Divisi Utama 2009/2010.

Kemarin, saat saya membaca pernyataan Taufikq Risnendar tentang PSSI yang ingkar, saya juga membaca berita tentang gagal tampilnya tiga pemain keturunan yang sedianya akan diturunkan dalam laga melawan tim nasional Uruguay. Tobias Waisapy, Johnny van Beukering dan Raphael Guillermo Eduardo Maitimo adalah beberapa calon pemain yang hendak dinaturalisasi oleh PSSI.

FIFA memperingatkan PSSI bahwa jika tiga pemain yang belum menjadi WNI itu diturunkan, maka pertandingan dengan Uruguay tidak akan mendapatkan poin. Apa pun hasil pertandingan itu, tidak akan menambah poin tim nasional Indonesia dalam ranking FIFA. PSSI ternyata memilih tidak memakai tenaga tiga pemain keturunan itu.

Saya tidak tahu berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk mendatangkan tiga pemain keturunan itu. Anda yang paham sila menghitung kalkukasinya, dari mulai tiket sampai akomodasi. Jika dikalkulasi dengan 20 ribu US dolar Amerika yang sedianya digelontorkan PSSI untuk mendatangkan Diego Forlan seorang, mungkin angkanya bisa mencapai setengah dari hadiah yang menjadi hak Persibo Bojonegoro.

Menyedihkan sekali, bukan? Tidak, kali ini bukan soal uang yang saya persoalkan, tapi kegagapan PSSI dan BTN dalam memahami peraturan FIFA mengenai laga internasional. Dengan biaya besar yang dikeluarkan untuk mendatangkan tim nasional Uruguay, kok ya masih muncul berita-berita tak enak hanya karena kegagapan PSSI dan BTN dalam memahami peraturan FIFA.

Ruwet, karut marut, tak pernah belajar, mungkin memang tak mau belajar.

Butuh kolom tersendiri untuk menelaah seberapa efektif ujicoba berharga 4 miliar ini bagi persiapan tim nasional Indonesia menghadapi Piala AFF Desember mendatang. Saya tak hendak membicarakan mengenai pokok persoalan satu itu. Saya hanya ingin menyoroti betapa laga berharga milyaran itu digelar di atas hutang 500 juta. Tidak perlu membawa kasus yang jauh jauh (hadiah juara bagi Arema yang sempat ditunggak berbulan-bulan juga, atau kasus ngemplangnya PSSI dari kewajiban membayar biaya akomodasi dan hotel beberapa tahun lalu), cukup dengan hutang 500 juta kepada Persibo kita bisa melihat ironi dari laga ujicoba miliaran rupiah ini.

Apes betul nasib Persibo. Sudahlah menggunakan miliaran dana APBD untuk mengarungi kompetisi Divisi Utama 2009/2010, hadiahnya "hanya" 500 juta, ealah... hadiah yang "cuma" segitu pun masih juga dikemplang. Saya harus mengatakan bahwa PSSI benar-benar zalim dalam kasus ini. Ya, zalim.

Anda masih percaya bahwa sebuah rezim penuh kezaliman akan menghasilkan manfaat dan prestasi? Saya sih tidak.

Oya, di artikel ini saya berkali-kali mengaku "tidak tahu". Ya, saya memang tidak tahu, apalagi dalam urusan duit dan perputarannya di kantung PSSI. Seperti yang dikatakan Dedi Miing saat PSSI minta duit 1,5 triliun kepada DPR pada 4 Oktober lalu, "PSSI tidak pernah transparan soal keuangaan, dan laporan keuangannya pun tidak boleh diketahui oleh publik. Jika mereka punya masalah, selalu berlindung di balik statuta."

Nah, kali ini kata zalim tidak tepat dikatakan pada PSSI. Itu bukan tanda-tanda rezim yang zalim, tapi itu ciri-ciri rezim yang korup.

sumber

Komentar

  • Itulah pengurus PSSI. :mad:
    Seharusnya pengurus PSSI memberikan hadiah yang memang sudah menjadi haknya PERSIBO

    Prihatin buat Persibo. :(
  • waduh.. lebih mementingkan isi perut nih PSSI.. :mad:

    bukannya memberikan kewajiban yg baik malah membuang uang.. :mad:

    padahal bisa mendatangkan tim Asia yg murah namun kualitasnya tdk kalah jauh..
  • Udah gitu Timnas nya melempem :bad:
    manajemen nya juga gak karuan :mad:

    Tagih tuh si mantan napi Nurdin Halid, orang ini yg bikin PSSI gak karuan.
    Prihatin sekali, penjahat mimpin tampuk sepakbola nasional
  • Seharusnya lain kali dipikirkan lagi untuk mendatangkan klub asing.:wait:

    Lawan Timor Leste aja kalah, apalagi lawan Uruguay !

    Hey Din . . . ! Tahu nggak, masyarakat sekarang sudah pintar-pintar ? Anda jangan mikirkan perut anda sendiri yang semakin gendut donk !:mad:
  • hebat.. :) Nurdin lebih pantes jadi tukang pungut bola kyakna
  • memalukan, ko tega bgt PSSI :mad:
  • PSSI itu pengurusnya aja udah pada korup, mengharap sesuatu yang "baik" dari pengurus macam itu? wah!!!
    Pak Arifin Panigoro mau bikin liga primer Indonesia saja ditentang habis habisan tapi PSSI tidak becus menghadirkan kompetisi dan pembinaan yang baik
  • Ya beginilah klo para pengurus PSSI yang dah pada tua tua itu lebih memilih ngurusin sepak bola daripada ngurusin anak cucu
  • nurdin halid dah putus urat malunya kayanya.......... :mad::mad:
  • Turunkan paksa NURDIN HALIN.... :mad:
    :bad:
  • [size=xx-large]Liga Belum Bayar Hadiah Sriwijaya dan Persibo[/size]


    JAKARTA, KOMPAS.com — CEO PT Liga Indonesia Joko Driyono membenarkan, pihaknya belum mengucurkan hadiah kepada Sriwijaya FC sebagai jawara Piala Indonesia 2010 dan juara Divisi Utama, Persibo Brojonegoro.

    "Laskar Wong Kito" tampil sebagai juara Piala Indonesia setelah mengalahkan Arema FC, 2-1, pada 2 Agustus silam. Alhasil, klub kebanggaan Kota Palembang itu berhak menerima hadiah sebesar Rp 1,5 miliar. Sementara itu, Persibo dikukuhkan menjadi juara Divisi Utama sejak 30 Mei lalu. Mereka pun berhak menerima hadiah sebesar Rp 500 juta.

    Namun sayang, hingga saat ini, kedua klub tersebut belum menerima sepeser pun seperti yang dijanjikan Liga. Bahkan, tidak ada kepastian waktu kapan dana tersebut dibayarkan.

    "Memang benar kami belum membayarnya. Kami tidak menentukan tenggat waktunya," aku CEO PT Liga Indonesia Joko Driyono, Jumat (22/10/2010).

    Joko menjelaskan, dana tersebut seharusnya dikucurkan paling lambat sebulan setelah turnamen dan kompetisi itu berakhir. Sayangnya, Joko enggan mengungkapkan kendala terhambatnya pencairan dana.

    "Hanya proses administratif. Saya enggak mau menyalahkan sponsor dan promotor dalam hal ini," ungkap Joko.

    Hal senada disampaikan Sekjen PSSI Nugraha Besoes. Ia membenarkan ketidakpastian dana tersebut. "Saat ini dananya memang belum turun. Kami masih berusaha untuk mencairkannya," kata Besoes.

    Benar-benar gak punya kemaluan, ini juga para klub ISL pada diem aja :mad:
  • itulah kalo organisasi dipemimpin oleh orang-orang yang korup..dan srakah...diotak mereka bagaimana cara mendapatkan uang..uang dan uang... capek dech...
  • pemimpinnya mantan napi sih.... :bad: :bad: :bad:

    mungkin itulah sebabnya kaos timnas ga ada lambang PSSI nya..
  • bukan PSSI nya tapi pengurusnya yang gak bener...


    mutilasi aja tuh si nurdin
  • Udah tahu pemimpinnya koruptor, g usah ditanyain duitnya dipake apa
  • PSSI :mad: bikin bad mood :bad: :bad:
  • yah gitu lah PSSI gayanya..
    gimana bisa maju nih persepakbolaan kita ndan..
    hah..
  • PSSI bullshit!
    Menjijaykan.
  • Luar biasa dah Asosiasi Sepakbola kita..... makanya saya memang lebih suka pasang lambang garuda di baju timnas dari pada lambang PSSI...
  • bubarin aja PSSI dari pada kasus mulu
Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Halo, Tuan!

Tampaknya anda baru di sini. Bila anda ingin ikut terlibat, klik salah satu tombol berikut!

Kategori