free hit counter Confucius & Yan Hui Murid kesayangannya — FBI

Confucius & Yan Hui Murid kesayangannya

Yan Hui adalah murid kesayangan Confucius yang suka belajar, sifatnya baik. Pada suatu hari ketika Yan Hui sedang bertugas, dia melihat satu toko kain sedang dikerumuni banyak orang. Dia mendekat dan mendapati pembeli dan penjual kain sedang berdebat.

Pembeli berteriak: kenapa kamu bilang ?
Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata: tidak usah diperdebatkan lagi.
Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui dan berkata: Siapa minta pendapatmu? Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Confusus. Benar atau salah Confusius yang berhak mengatakan.
Yan Hui: Baik, jika Confucius bilang kamu salah, bagaimana?
Pembeli kain: Kalau Confucius bilang saya salah, kepalaku aku potong untukmu.Kalau kamu yang salah, bagaimana?
Yan Hui: Kalau saya yang salah, jabatanku untukmu.

Keduanya sepakat untuk bertaruh, lalu pergi mencari Confucius. Setelah Confucius tahu duduk persoalannya, Confucius berkata kepada Yan Hui sambil tertawa: Yan Hui, kamu kalah.Berikan jabatanmu kepada dia.
Selamanya Yan Hui tidak akan berdebat dengan gurunya. Ketika mendengar Confucius berkata dia salah, diturunkannya topinya lalu dia berikan kepada pembeli kain.Orang itu mengambil topi Yan Hui dan berlalu dengan puas.

Walaupun Yan Hui menerima penilaian Confucius tapi hatinya tidak sependapat. Dia merasa Confucius sudah tua dan pikun sehingga dia tidak mau lagi belajardarinya. Yan Hui minta cuti dengan alasan urusan keluarga. Confusius tahu isi hati Yan Hui dan memberi cuti padanya.

Sebelum berangkat, Yan Hui pamitan dan Confucius memintanya cepat kembali setelah urusannya selesai, dan memberi Yan Hui dua nasihat :
- Bila hujan lebat, janganlah berteduh di bawah pohon.
- Dan jangan membunuh.

Yan Hui menjawab, Baiklah, lalu berangkat pulang.
Di dalam perjalanan tiba-tiba angin kencang disertai petir, kelihatannya sudah mau turun hujan lebat. Yan Hui ingin berlindung di bawah pohon tapi tiba-tiba ingat nasihat Confucius dan dalam hati berpikir untuk menuruti kata gurunya sekali lagi. Dia meninggalkan pohon itu.
Belum lama dia pergi, petir menyambar dan pohon itu hancur. Yan Hui terkejut, nasihat gurunya yang pertama sudah terbukti.

Apakah saya akan membunuh orang?
Yan Hui tiba di rumahnya saat malam sudah larut dan tidak ingin mengganggu tidur istrinya. Dia menggunakan pedangnya untuk membuka kamarnya. Sesampai di depan ranjang, dia meraba dan mendapati ada seorang di sisi kiri ranjang dan seorang lagi di sisi kanan. Dia sangat marah, dan mau menghunus pedangnya. Pada saat mau menghujamkan pedangnya, dia ingat lagi nasihat Confucius, jangan membunuh.
Dia lalu menyalakan lilin dan ternyata yang tidur disamping istrinya adalah adik istrinya.

Pada keesokan harinya, Yan Hui kembali ke Confucius, berlutut dan berkata: Guru, bagaimana guru tahu apa yang akan terjadi?
Confucius berkata: Kemarin hari sangatlah panas, diperkirakan akan turun hujan petir, makanya guru mengingatkanmu untuk tidak berlindung dibawah pohon. Kamu kemarin pergi dengan amarah dan membawa pedang, maka guru mengingatkanmu agar jangan membunuh

Yan Hui berkata: Guru, perkiraanmu hebat sekali, murid sangatlah kagum.
Jawab Confucius : “Aku tahu kamu minta cuti bukanlah karena urusan keluarga. Kamu tidak ingin belajar lagi dariku. Cobalah kamu pikir. Kemarin guru bilang adalah benar, kamu kalah dan kehilangan jabatanmu. Tapi jikalau guru bilang adalah benar, si pembeli kainlah yang kalah dan itu berarti akan hilang 1 nyawa. Menurutmu, jabatanmu lebih penting atau kehilangan 1 nyawa yang lebih penting?
Yan Hui sadar akan kesalahannya dan berkata : Guru mementingkan yang lebih utama, murid malah berpikir guru sudah tua dan pikun. Murid benar2 malu.
Sejak itu, kemanapun Confucius pergi Yan Hui selalu mengikutinya.

Komentar

  • Gak ada yang tau yach umpan balik dari kata kata diatas... :pusing:
  • Demi menyelamatkan satu keluarga, satu anggota keluarga boleh dikorbankan
    demi menyelamatkan satu desa satu keluarga bisa dikorbankan
    demi keselamatan satu wilayah satu desa bisa dikorbankan
    demi keselamatan sebuag negara satu wilayah bisa dikorbankan
    demi menyelamatkan satu jiwa , segalanya boleh dikorbankan

    :think:
  • mungkin lebih tepatnya bagaimana belajar bijaksana.
    ceritanya kurang lengkap makanya ga saya tanggapin....

    "Kemarin guru bilang adalah benar, kamu kalah dan kehilangan jabatanmu. Tapi jikalau guru bilang adalah benar, si pembeli kainlah yang"

    semuanya benar kan bingung yang baca?......:D

    memang esensinya bisa saya tangkap,tapi kelengkapan cerita itu diperlukan.
    agar yang membaca dapat memahami sepenuhnya apa yg ingin disampaikan.

    kalau saya tidak salah yang diperdebatkan adalah 'hukum yang berlaku',
    misal 1+1 = 2 ...ini hukum yang berlaku secara umum.
    confucius menjawab/membenarkan berlawanan dengan hukum yang berlaku,

    dalam pengertian yang ingin disampaikan tidak ada kebenaran mutlak(tergantung situasi dan kondisi).mana yang lebih diutamakan / kebijaksanaan.
  • harakiri menulis:
    Demi menyelamatkan satu keluarga, satu anggota keluarga boleh dikorbankan
    demi menyelamatkan satu desa satu keluarga bisa dikorbankan
    demi keselamatan satu wilayah satu desa bisa dikorbankan
    demi keselamatan sebuag negara satu wilayah bisa dikorbankan
    demi menyelamatkan satu jiwa , segalanya boleh dikorbankan

    :think:
    brainwashed menulis:
    mungkin lebih tepatnya bagaimana belajar bijaksana.
    ceritanya kurang lengkap makanya ga saya tanggapin....

    "Kemarin guru bilang adalah benar, kamu kalah dan kehilangan jabatanmu. Tapi jikalau guru bilang adalah benar, si pembeli kainlah yang"

    semuanya benar kan bingung yang baca?......:D

    memang esensinya bisa saya tangkap,tapi kelengkapan cerita itu diperlukan.
    agar yang membaca dapat memahami sepenuhnya apa yg ingin disampaikan.

    kalau saya tidak salah yang diperdebatkan adalah 'hukum yang berlaku',
    misal 1+1 = 2 ...ini hukum yang berlaku secara umum.
    confucius menjawab/membenarkan berlawanan dengan hukum yang berlaku,

    dalam pengertian yang ingin disampaikan tidak ada kebenaran mutlak(tergantung situasi dan kondisi).mana yang lebih diutamakan / kebijaksanaan.



    Itu dia... Akal yang terkadang diabaikan oleh para manusia... :cool:
  • @ we, justru karena sang murid hanya menggunakan akalnya maka dia tidak dapat menangkap maksud dari keputusan sang guru.

    Otak manusia terdiri dari alam sadar/akal pikiran dan alam bawah sadar/hati. Pikiran sadar mencakup 12% kapasitas berfikir manusia sedangkan pikiran bawah sadar mencakup 88 % kemampuan berfikir manusia. Dan dipikiran bawah sadar (hati) inilah sebenarnya letak kekuatan besar dan sumber segala pengetahuan.
    "search your heart and see --the way to do is to be" ~lao tzu~

    Jadi, alangkah bijaksana jika dalam setiap tindakan kita tidak hanya mengandalkan akal, tapi juga menyertakan hati didalamnya
    :grin:
  • nob2 menulis:
    @ we, justru karena sang murid hanya menggunakan akalnya maka dia tidak dapat menangkap maksud dari keputusan sang guru.

    Otak manusia terdiri dari alam sadar/akal pikiran dan alam bawah sadar/hati. Pikiran sadar mencakup 12% kapasitas berfikir manusia sedangkan pikiran bawah sadar mencakup 88 % kemampuan berfikir manusia. Dan dipikiran bawah sadar (hati) inilah sebenarnya letak kekuatan besar dan sumber segala pengetahuan.
    "search your heart and see --the way to do is to be" ~lao tzu~

    Jadi, alangkah bijaksana jika dalam setiap tindakan kita tidak hanya mengandalkan akal, tapi juga menyertakan hati didalamnya
    :grin:

    secara teori ini mudah di bicarakan.....tapi kalau terjun ke prakteknya sulit di lakukan....

    kalau 'sesama' (lingkup kecil warga AKAL).....itu semua hal bisa di musyawarahkan,ga ada HARUS....
    tapi kalau keluar.....ndak bisa....mana ada yang mau 'pendapatnya' itu dibilang hanya 12% atau berapa persen.....pendapatnya itu MUTLAK.

    ambil contoh ....tanah orang tua di jual......menurut anda jangan di jual,menurut orang tua jual saja....
    tentunya anda dan orang tua punya pertimbangan sendiri2.....trus mau gimana?mau dilawan.....?hahahha

    kalau orang tua dan anak sama2 warga AKAL,pasti lebih mudah musyawarahnya.....karena orang tua dan anak sama2 merenung....orang tua merenung(kok anak gue menolak yah?) anaknya juga merenung(kok orang tua gue mau jual yah?)......
    disini serunya kehidupan ber AKAL.
    seperti ada apa2nya padahal tidak ada apa2nya,seperti tidak apa2nya padahal mungkin ada apa2nya.....hehehe
  • brainwashed menulis:
    secara teori ini mudah di bicarakan.....tapi kalau terjun ke prakteknya sulit di lakukan....

    nah, kalau untuk prakteknya tentu perlu latihan dan pembelajaran, contoh Yun Hui yang belajar kepada Confusius (ini contoh extreme, coz ga semua orang mempelajari filsafat or sufi) tapi kl kt berhasil menerapkan itu dalam hidup sehari-hari wow.. hebat banget. (sayangnya saya juga lom bisa :(
    brainwashed menulis:
    kalau 'sesama' (lingkup kecil warga AKAL).....itu semua hal bisa di musyawarahkan,ga ada HARUS....
    tapi kalau keluar.....ndak bisa....mana ada yang mau 'pendapatnya' itu dibilang hanya 12% atau berapa persen.....pendapatnya itu MUTLAK.

    ambil contoh ....tanah orang tua di jual......menurut anda jangan di jual,menurut orang tua jual saja....
    tentunya anda dan orang tua punya pertimbangan sendiri2.....trus mau gimana?mau dilawan.....?hahahha

    kalau orang tua dan anak sama2 warga AKAL,pasti lebih mudah musyawarahnya.....karena orang tua dan anak sama2 merenung....orang tua merenung(kok anak gue menolak yah?) anaknya juga merenung(kok orang tua gue mau jual yah?)......
    disini serunya kehidupan ber AKAL.
    seperti ada apa2nya padahal tidak ada apa2nya,seperti tidak apa2nya padahal mungkin ada apa2nya.....hehehe

    itulah akal, akal lebih dekat kepada ego... dan seringkali mengklain bahwa pendapatnya lah yang paling benar atau dengan kata lain yang paling masuk akal.

    Jika orang tua dan anak sama-sama bertanya kenapa? kenapa anak menolak dan kenapa orang tua ingin menjual, saya rasa kedua belah pihak justru telah menggunakan kecerdasasan hati/pikiran bawah sadar mereka dalam menyelesaikan masalah atau konflik. Mereka telah menggunakan hati mereka.

    Pikiran bawah sadar merekam setiap kejadian yang dialami dalam kehidupan yang pernah kita alami. dari pikiran bawah sadar kita dapat menerima panduan dan tuntunan yang sangat berharga dalam menapaki kehidupan. Tuntutan itu bisa berupa intuisi, mimpi-mimpi, perasaan maupun dorongan hati. Bila kita peka terhadap tuntunan ini, kita dapat memperoleh, gagasan-gagasan, pemahaman dan pemecahan atau jawaban dalam setiap permasalahan kita.

    jadi, ketahuan nih, ndan brainwashed...juga biasa melibatkan hati dalam kehidupan sehari hari (diliat dari contoh jual tanah diatas)
    :top:
  • menarik masing2 penafsiran

    Bagus mana antara orang pinter yg dlm ilmiah harus sarjana baik S1 S2 sampe professor dengan orang yang tidak mempunyai gelar ato klo bahasa ilmiah org bodoh (gitu ya kira2?)
    namun ternyata org pinter dg gelar prof selalu menjadi anak buah orang bodoh

    Satu kesimpulan : ternyata hidup di kehidupan dunia mesti fleksibel dan harus bisa membedakan benar2 antara kebijaksaan dan ilmu pasti.

    Itu karena Pancasila kita sebagai azas utama sangatlah fleksibel karna Pancasila memang lebih mengutamakan kebijaksanaan daripada sesuatu yang bersifat saklak.
  • good posting and nice info
Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Halo, Tuan!

Tampaknya anda baru di sini. Bila anda ingin ikut terlibat, klik salah satu tombol berikut!

Kategori