Current time: 19 Apr 2014, 19:16 Hello There, Guest! LoginRegister
ForumBebas.com / Forbidden / Global Faith and Tolerance / Hindu Budha Konghucu / Hindu / Sejarah Agama Hindu



REPLY 
 
Thread Rating:
  • 153 Votes - 2.84 Average


  
harakiri
13 Aug 2009 10:21    #1

Mayjen

Sejarah Agama Hindu

Agama Hindu adalah agama yang mempunyai usia terpanjang merupakan agama yang pertama dikenal oleh manusia. Dalam uraian ini akan dijelaskan kapan dan dimana agama itu diwahyukan dan uraian singkat tentang proses perkembangannya. Agama Hindu adalah agama yang telah melahirkan kebudayaan yang sangat kompleks dibidang astronomi, ilmu pertanian, filsafat dan ilmu-ilmu lainnya. Karena luas dan terlalu mendetailnya jangkauan pemaparan dari agama Hindu, kadang-kadang terasa sulit untuk dipahami.

Banyak para ahli dibidang agama dan ilmu lainnya yang telah mendalami tentang agama Hindu sehingga muncul bermacam- macam penafsiran dan analisa terhadap agama Hindu. Sampai sekarang belum ada kesepakatan diantara para ahli untuk menetapkan kapan agama Hindu itu diwahyukan, demikian juga mengenai metode dan misi penyebarannya belum banyak dimengerti.

Penampilan agama Hindu yang memberikan kebebasan cukup tinggi dalam melaksanakan upacaranya mengakibatkan banyak para ahli yang menuliskan tentang agama ini tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya ada dalam agama Hindu.
Sebagai Contoh: "Masih banyak para ahli menuliskan Agama Hindu adalah agama yang polytheistis dan segala macam lagi penilaian yang sangat tidak mengenakkan, serta merugikan agama Hindu".
Disamping itu di kalangan umat Hindu sendiripun masih banyak pemahaman-pemahaman yang kurang tepat atas ajaran agama yang dipahami dan diamalkan. Demikianlah tujuan penulisan ini adalah untuk membantu meluruskan pendapat-pendapat yang menyimpang serta pengertian yang belum jelas dari hal yang sebenarnya terhadap agama Hindu.

AGAMA HINDU DI INDIA

Perkembangan agama Hindu di India, pada hakekatnya dapat dibagi menjadi 4 fase, yakni Jaman Weda, Jaman Brahmana, Jaman Upanisad dan Jaman Budha. Dari peninggalan benda-benda purbakala di Mohenjodaro dan Harappa, menunjukkan bahwa orang-orang yang tinggal di India pada jamam dahulu telah mempunyai peradaban yang tinggi. Salah satu peninggalan yang menarik, ialah sebuah patung yang menunjukkan perwujudan Siwa. Peninggalan tersebut erat hubungannya dengan ajaran Weda, karena pada jaman ini telah dikenal adanya penyembahan terhadap Dewa-dewa.
Jaman Weda dimulai pada waktu bangsa Arya berada di Punjab di Lembah Sungai Sindhu, sekitar 2500 s.d 1500 tahun sebelum Masehi, setelah mendesak bangsa Dravida kesebelah Selatan sampai ke dataran tinggi Dekkan. bangsa Arya telah memiliki peradaban tinggi, mereka menyembah Dewa-dewa seperti Agni, Varuna, Vayu, Indra, Siwa dan sebagainya. Walaupun Dewa-dewa itu banyak, namun semuanya adalah manifestasi dan perwujudan Tuhan Yang Maha Tunggal. Tuhan yang Tunggal dan Maha Kuasa dipandang sebagai pengatur tertib alam semesta, yang disebut "Rta". Pada jaman ini, masyarakat dibagi atas kaum Brahmana, Ksatriya, Vaisya dan Sudra.

Pada Jaman Brahmana, kekuasaan kaum Brahmana amat besar pada kehidupan keagamaan, kaum brahmanalah yang mengantarkan persembahan orang kepada para Dewa pada waktu itu. Jaman Brahmana ini ditandai pula mulai tersusunnya "Tata Cara Upacara" beragama yang teratur. Kitab Brahmana, adalah kitab yang menguraikan tentang saji dan upacaranya. Penyusunan tentang Tata Cara Upacara agama berdasarkan wahyu-wahyu Tuhan yang termuat di dalam ayat-ayat Kitab Suci Weda.

Sedangkan pada Jaman Upanisad, yang dipentingkan tidak hanya terbatas pada Upacara dan Saji saja, akan tetapi lebih meningkat pada pengetahuan bathin yang lebih tinggi, yang dapat membuka tabir rahasia alam gaib. Jaman Upanisad ini adalah jaman pengembangan dan penyusunan falsafah agama, yaitu jaman orang berfilsafat atas dasar Weda. Pada jaman ini muncullah ajaran filsafat yang tinggi-tinggi, yang kemudian dikembangkan pula pada ajaran Darsana, Itihasa dan Purana. Sejak jaman Purana, pemujaan Tuhan sebagai Tri Murti menjadi umum.

Selanjutnya, pada Jaman Budha ini, dimulai ketika putra Raja Sudhodana yang bernama "Sidharta", menafsirkan Weda dari sudut logika dan mengembangkan sistem yoga dan semadhi, sebagai jalan untuk menghubungkan diri dengan Tuhan.
Agama Hindu, dari India Selatan menyebar sampai keluar India melalui beberapa cara. Dari sekian arah penyebaran ajaran agama Hindu sampai juga di Nusantara.
banner
harakiri
13 Aug 2009 10:21    #2

Mayjen

MASUKNYA AGAMA HINDU DI INDONESIA

Berdasarkan beberapa pendapat, diperkirakan bahwa Agama Hindu pertamakalinya berkembang di Lembah Sungai Shindu di India. Dilembah sungai inilah para Rsi menerima wahyu dari Hyang Widhi dan diabadikan dalam bentuk Kitab Suci Weda. Dari lembah sungai sindhu, ajaran Agama Hindu menyebar ke seluruh pelosok dunia, yaitu ke India Belakang, Asia Tengah, Tiongkok, Jepang dan akhirnya sampai ke Indonesia. Ada beberapa teori dan pendapat tentang masuknya Agama Hindu ke Indonesia.

Krom (ahli - Belanda), dengan teori Waisya.
Dalam bukunya yang berjudul "Hindu Javanesche Geschiedenis", menyebutkan bahwa masuknya pengaruh Hindu ke Indonesia adalah melalui penyusupan dengan jalan damai yang dilakukan oleh golongan pedagang (Waisya) India.

Mookerjee (ahli - India tahun 1912).
Menyatakan bahwa masuknya pengaruh Hindu dari India ke Indonesia dibawa oleh para pedagang India dengan armada yang besar. Setelah sampai di Pulau Jawa (Indonesia) mereka mendirikan koloni dan membangun kota-kota sebagai tempat untuk memajukan usahanya. Dari tempat inilah mereka sering mengadakan hubungan dengan India. Kontak yang berlangsung sangat lama ini, maka terjadi penyebaran agama Hindu di Indonesia.

Moens dan Bosch (ahli - Belanda)
Menyatakan bahwa peranan kaum Ksatrya sangat besar pengaruhnya terhadap penyebaran agama Hindu dari India ke Indonesia. Demikian pula pengaruh kebudayaan Hindu yang dibawa oleh para para rohaniwan Hindu India ke Indonesia.

Data Peninggalan Sejarah di Indonesia.

Data peninggalan sejarah disebutkan Rsi Agastya menyebarkan agama Hindu dari India ke Indonesia. Data ini ditemukan pada beberapa prasasti di Jawa dan lontar-lontar di Bali, yang menyatakan bahwa Sri Agastya menyebarkan agama Hindu dari India ke Indonesia, melalui sungai Gangga, Yamuna, India Selatan dan India Belakang. Oleh karena begitu besar jasa Rsi Agastya dalam penyebaran agama Hindu, maka namanya disucikan dalam prasasti-prasasti seperti:

Prasasti Dinoyo (Jawa Timur):
Prasasti ini bertahun Caka 628, dimana seorang raja yang bernama Gajahmada membuat pura suci untuk Rsi Agastya, dengan maksud memohon kekuatan suci dari Beliau.

Prasasti Porong (Jawa Tengah)
Prasasti yang bertahun Caka 785, juga menyebutkan keagungan dan kemuliaan Rsi Agastya. Mengingat kemuliaan Rsi Agastya, maka banyak istilah yang diberikan kepada beliau, diantaranya adalah: Agastya Yatra, artinya perjalanan suci Rsi Agastya yang tidak mengenal kembali dalam pengabdiannya untuk Dharma. Pita Segara, artinya bapak dari lautan, karena mengarungi lautan-lautan luas demi untuk Dharma.

AGAMA HINDU DI INDONESIA

Masuknya agama Hindu ke Indonesia terjadi pada awal tahun Masehi, ini dapat diketahui dengan adanya bukti tertulis atau benda-benda purbakala pada abad ke 4 Masehi denngan diketemukannya tujuh buah Yupa peningalan kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Dari tujuh buah Yupa itu didapatkan keterangan mengenai kehidupan keagamaan pada waktu itu yang menyatakan bahwa: "Yupa itu didirikan untuk memperingati dan melaksanakan yadnya oleh Mulawarman". Keterangan yang lain menyebutkan bahwa raja Mulawarman melakukan yadnya pada suatu tempat suci untuk memuja dewa Siwa. Tempat itu disebut dengan "Vaprakeswara".

Masuknya agama Hindu ke Indonesia, menimbulkan pembaharuan yang besar, misalnya berakhirnya jaman prasejarah Indonesia, perubahan dari religi kuno ke dalam kehidupan beragama yang memuja Tuhan Yang Maha Esa dengan kitab Suci Veda dan juga munculnya kerajaan yang mengatur kehidupan suatu wilayah. Disamping di Kutai (Kalimantan Timur), agama Hindu juga berkembang di Jawa Barat mulai abad ke-5 dengan diketemukannya tujuh buah prasasti, yakni prasasti Ciaruteun, Kebonkopi, Jambu, Pasir Awi, Muara Cianten, Tugu dan Lebak. Semua prasasti tersebut berbahasa Sansekerta dan memakai huruf Pallawa.

Dari prassti-prassti itu didapatkan keterangan yang menyebutkan bahwa "Raja Purnawarman adalah Raja Tarumanegara beragama Hindu, Beliau adalah raja yang gagah berani dan lukisan tapak kakinya disamakan dengan tapak kaki Dewa Wisnu"

Bukti lain yang ditemukan di Jawa Barat adalah adanya perunggu di Cebuya yang menggunakan atribut Dewa Siwa dan diperkirakan dibuat pada masa Raja Tarumanegara. Berdasarkan data tersebut, maka jelas bahwa Raja Purnawarman adalah penganut agama Hindu dengan memuja Tri Murti sebagai manifestasi dari Tuhan Yang Maha Esa. Selanjutnya, agama Hindu berkembang pula di Jawa Tengah, yang dibuktikan adanya prasasti Tukmas di lereng gunung Merbabu. Prasasti ini berbahasa sansekerta memakai huruf Pallawa dan bertipe lebih muda dari prasasti Purnawarman. Prasasti ini yang menggunakan atribut Dewa Tri Murti, yaitu Trisula, Kendi, Cakra, Kapak dan Bunga Teratai Mekar, diperkirakan berasal dari tahun 650 Masehi.

Pernyataan lain juga disebutkan dalam prasasti Canggal, yang berbahasa sansekerta dan memakai huduf Pallawa. Prasasti Canggal dikeluarkan oleh Raja Sanjaya pada tahun 654 Caka (576 Masehi), dengan Candra Sengkala berbunyi: "Sruti indriya rasa", Isinya memuat tentang pemujaan terhadap Dewa Siwa, Dewa Wisnu dan Dewa Brahma sebagai Tri Murti.

Adanya kelompok Candi Arjuna dan Candi Srikandi di dataran tinggi Dieng dekat Wonosobo dari abad ke-8 Masehi dan Candi Prambanan yang dihiasi dengan Arca Tri Murti yang didirikan pada tahun 856 Masehi, merupakan bukti pula adanya perkembangan Agama Hindu di Jawa Tengah. Disamping itu, agama Hindu berkembang juga di Jawa Timur, yang dibuktikan dengan ditemukannya prasasti Dinaya (Dinoyo) dekat Kota Malang berbahasa sansekerta dan memakai huruf Jawa Kuno. Isinya memuat tentang pelaksanaan upacara besar yang diadakan oleh Raja Dea Simha pada tahun 760 Masehi dan dilaksanakan oleh para ahli Veda, para Brahmana besar, para pendeta dan penduduk negeri. Dea Simha adalah salah satu raja dari kerajaan Kanjuruan. Candi Budut adalah bangunan suci yang terdapat di daerah Malang sebagai peninggalan tertua kerajaan Hindu di Jawa Timur.

Kemudian pada tahun 929-947 munculah Mpu Sendok dari dinasti Isana Wamsa dan bergelar Sri Isanottunggadewa, yang artinya raja yang sangat dimuliakan dan sebagai pemuja Dewa Siwa. Kemudian sebagai pengganti Mpu Sindok adalah Dharma Wangsa. Selanjutnya munculah Airlangga (yang memerintah kerajaan Sumedang tahun 1019-1042) yang juga adalah penganut Hindu yang setia.

Setelah dinasti Isana Wamsa, di Jawa Timur munculah kerajaan Kediri (tahun 1042-1222), sebagai pengemban agama Hindu. Pada masa kerajaan ini banyak muncul karya sastra Hindu, misalnya Kitab Smaradahana, Kitab Bharatayudha, Kitab Lubdhaka, Wrtasancaya dan kitab Kresnayana. Kemudian muncul kerajaan Singosari (tahun 1222-1292). Pada jaman kerajaan Singosari ini didirikanlah Candi Kidal, candi Jago dan candi Singosari sebagai sebagai peninggalan kehinduan pada jaman kerajaan Singosari.

Pada akhir abad ke-13 berakhirlah masa Singosari dan muncul kerajaan Majapahit, sebagai kerajaan besar meliputi seluruh Nusantara. Keemasan masa Majapahit merupakan masa gemilang kehidupan dan perkembangan Agama Hindu. Hal ini dapat dibuktikan dengan berdirinya candi Penataran, yaitu bangunan Suci Hindu terbesar di Jawa Timur disamping juga munculnya buku Negarakertagama.

Selanjutnya agama Hindu berkembang pula di Bali. Kedatangan agama Hindu di Bali diperkirakan pada abad ke-8. Hal ini disamping dapat dibuktikan dengan adanya prasasti-prasasti, juga adanya Arca Siwa dan Pura Putra Bhatara Desa Bedahulu, Gianyar. Arca ini bertipe sama dengan Arca Siwa di Dieng Jawa Timur, yang berasal dari abad ke-8.

Menurut uraian lontar-lontar di Bali, bahwa Mpu Kuturan sebagai pembaharu agama Hindu di Bali. Mpu Kuturan datang ke Bali pada abad ke-2, yakni pada masa pemerintahan Udayana. Pengaruh Mpu Kuturan di Bali cukup besar. Adanya sekte-sekte yang hidup pada jaman sebelumnya dapat disatukan dengan pemujaan melalui Khayangan Tiga. Khayangan Jagad, sad Khayangan dan Sanggah Kemulan sebagaimana termuat dalam Usama Dewa. Mulai abad inilah dimasyarakatkan adanya pemujaan Tri Murti di Pura Khayangan Tiga. Dan sebagai penghormatan atas jasa beliau dibuatlah pelinggih Menjangan Salwang. Beliau Moksa di Pura Silayukti.

Perkembangan agama Hindu selanjutnya, sejak ekspedisi Gajahmada ke Bali (tahun 1343) sampai akhir abad ke-19 masih terjadi pembaharuan dalam teknis pengamalan ajaran agama. Dan pada masa Dalem Waturenggong, kehidupan agama Hindu mencapai jaman keemasan dengan datangnya Danghyang Nirartha (Dwijendra) ke Bali pada abad ke-16. Jasa beliau sangat besar dibidang sastra, agama, arsitektur. Demikian pula dibidang bangunan tempat suci, seperti Pura Rambut Siwi, Peti Tenget dan Dalem Gandamayu (Klungkung).

Perkembangan selanjutnya, setelah runtuhnya kerajaan-kerajaan di Bali pembinaan kehidupan keagamaan sempat mengalami kemunduran. Namun mulai tahun 1921 usaha pembinaan muncul dengan adanya Suita Gama Tirtha di Singaraja. Sara Poestaka tahun 1923 di Ubud Gianyar, Surya kanta tahun1925 di SIngaraja, Perhimpunan Tjatur Wangsa Durga Gama Hindu Bali tahun 1926 di Klungkung, Paruman Para Penandita tahun 1949 di Singaraja, Majelis Hinduisme tahun 1950 di Klungkung, Wiwadha Sastra Sabha tahun 1950 di Denpasar dan pada tanggal 23 Pebruari 1959 terbentuklah Majelis Agama Hindu. Kemudian pada tanggal 17-23 Nopember tahun 1961 umat Hindu berhasil menyelenggarakan Dharma Asrama para Sulinggih di Campuan Ubud yang menghasilkan piagam Campuan yang merupakan titik awal dan landasan pembinaan umat Hindu. Dan pada tahun 1964 (7 s.d 10 Oktober 1964), diadakan Mahasabha Hindu Bali dengan menetapkan Majelis keagamaan bernama Parisada Hindu Bali dengan menetapkan Majelis keagamaan bernama Parisada Hindu Bali, yang selanjutnya menjadi Parisada Hindu Dharma Indonesia.
banner
harakiri
13 Aug 2009 10:25    #3

Mayjen

nih juga ada artikel pelengkap yg diatas

Seorang Hindu (Dewanagari: हिन्दू) adalah penganut filsafat dan sastra-sastra agama Hindu, sebuah sistem keagamaan, filsafat dan budaya yang berasal dari anakbenua India.

Kurang lebih ada 920 juta pengikut agama Hindu di dunia, atau 13,5% penduduk dunia menganut agama Hindu sehingga agama Hindu menjadi agama terbesar ketiga di dunia, setelah agama Kristen dan Islam.
Sekitar 890 juta orang Hindu tinggal di India, sedangkan sisanya menyebar ke negara-negara lain.
Negara-negara dengan penduduk Hindu yang cukup banyak antara lain Afrika Selatan, Bangladesh, Belanda, Fiji, Guyana, Inggris, Indonesia, Kanada, Malaysia, Mauritius, Myanmar (Burma), Nepal, Singapura, Sri Lanka, Suriname, Trinidad dan Tobago.

Kata “Hindu” berasal dari kata Sanskerta Sindhu (Dewanagari: सिन्धु). Dalam bahasa Persia abad pertengahan, “Hindo” merujuk kepada kata Avestan kuno Hendava (Sanskerta: Saindhava), yang berarti penghuni sungai Sindhu. Penggunaan kata “Hindu” untuk “Sindhu”, merujuk kepada orang-orang yang tinggal dekat dengan sungai Sindhu atau di sepanjang sungai tersebut. Daratan di aliran sungai tersebut kemudian dikenal sebagai “Hindostan” (Persia modern: Hindustan).


Agama bangsa India (disalah ucapkan sebagai Hindu) kemudian dikenal sebagai “agama Hindu” oleh bangsa lain, karena bangsa India tidak memiliki sebuah istilah untuk praktek keagamaan mereka yang berbeda-beda. Mungkin juga kata “Hindu” berasal dari istilah yang biasa digunakan di antara umat Hindu sendiri, dan diserap oleh bahasa Yunani sebagai Indos dan Indikos (”bangsa India”), ke dalam bahasa Latin sebagai Indianus.

Oleh karena luasnya perbedaan pemahaman, praktek dan tradisi yang meliputi agama Hindu, tidak ada definisi universal yang tampak jelas mengenai orang Hindu, atau bahkan kesimpulan apakah Hindu menggambarkan suatu kesatuan kepercayaan, budaya atau sosio-politik. Tahun 1995, hakim P. B. Gajendragadkar di Pengadilan Tinggi India mengatakan:

Ketika kita berpikir tentang agama Hindu, kita menemukan hal yang sulit, bila mungkin, untuk mendefinisikannya atau bahkan menggambarkannya. Tidak seperti agama lain di dunia, agama Hindu tidak mengklaim seorang pendiri agama saja, tidak menyembah satu dewa saja, tidak menganut satu dogma saja, tidak meyakini satu filsafat saja, tidak mengikuti satu macam ritual keagamaan saja. Memang, ia tidak muncul untuk menampilkan satu macam ciri tradisional yang sempit. Agama Hindu mungkin dapat digambarkan sebagai sebuah jalan kehidupan, tak ada pengertian lain lagi.

Dalam agama Hindu, terdapat berbagai perbedaan dan sekte-sekte namun mereka tetap satu karena memiliki dasar-dasar yang sama.
Dalam agama Hindu, terdapat hal-hal utama yang dapat menyatukan perbedaan tersebut, dan bersumber dari sastra-sastra suci agama Hindu, yaitu Weda, Upanisad, Purana, dan wiracarita Hindu.
Maka dari itu, seseorang dapat dikatakan seorang Hindu jika:
mengikuti salah satu cabang filsafat Hindu, seperti misalnya Adwaita, Wisistadwaita, Dwaita, Dwaitadwaita, dan lain-lain.
mengikuti tradisi yang terpusat pada salah satu perwujudan Tuhan, misalnya Saiwisme, Waisnawa, Saktisme, dan lain-lain.
melakukan suatu macam yoga; termasuk bhakti (pemujaan) supaya mencapai moksa.

Pada tahun 1995, saat memikirkan pertanyaan mengenai siapa orang Hindu dan apa ciri yang umum dari agama Hindu, Bal Gangadhar Tilak mengemukakan ciri umum agama Hindu sebagai berikut:
menerima ajaran Weda-Weda dengan takzim;
mengakui kenyataan bahwa kebebasan dicapai dengan jalan yang berbeda-beda;
menyadari bahwa jumlah dewa untuk dipuja amat banyak, sehingga agama Hindu tampak berbeda-beda.

Oleh karena agama Hindu memberikan kebebasan bagi umatnya untuk menuju Tuhan dengan cara yang berbeda, maka pelaksanaan ritual Hindu di dunia berbeda-beda. Misalnya perbedaan antara upacara pernikahan umat Hindu di India dengan upacara pernikahan umat Hindu di Indonesia. Meskipun berbeda-beda, umat Hindu di seluruh dunia memuja Tuhan yang sama dan menjungjung kitab suci yang sama. Yang berbeda di antara umat Hindu di seluruh dunia adalah tradisi dan praktek keagamaan.
source: wikipedia Indonesia

Latar Belakang Sejarah




Waktu yang tepat tidak dapat dipastikan. Ada banyak teori mengenai kelahiran agama Hindu, bila dikaji dari kisah-kisah mitologi Hindu, maka agama Hindu adalah agama yang sudah berumur triliunan tahun.
Beberapa mengatakan agama Hindu mulai segera setelah berakhirnya zaman es.
Beberapa mengatakan awal agama Hindu adalah 6000-7000 tahun sebelum masehi. menurut teolog Max Muller dari Jerman: awal agama Hindu pada milenium ketiga sebelum masehi. Menurut teori ini, suku-suku nomad dari Eropa turun ke India dan menetap di tepi-tepi sungai Indus, Gangga, dan Brahmaputra.
Suku-suku bangsa ini disebut Arya (Orang Mulia, Noble One). Setelah mereka menetap, mereka memulai suatu “proses berpikir”, yang belakangan dikenal sebagai agama Hindu.

Menurut banyak teolog Hindu, pengetahuan telah senantiasa ada di India sejak zaman dahulu kala. Menurut mereka, pemukim awal di India Utara mencampur pengetahuan mereka dengan peradaban dari orang-orang kulit-gelap di India Selatan, orang-orang Dravidia, dan dengan itu memulai agama Hindu.

Dengan ditemukannya penemuan-penemuan yang amat mengagumkan mengenai peradaban lembah Indus di Mohenjodaro dan Harappa bertanggal 6000-7000 tahun sebelum masehi, menyatakan peradaban lembah Indus bukan saja non-Aryan tapi juga mendahului peradaban Arya (pre-Aryan) berdasarkan pada : (a) keberadaan kota-kota yang indah, (b) ketiadaan dari baja dalam kota-kota ini, dan © ketiadaan kuda.

Dari artifak yang diangkat di Harappa, dapat ditarik kesimpulan bahwa orang-orang lembah Indus memuja Tuhan Siwa atau Tuhan Rudra, memuja dewi pertiwi, membanguan tempat-tempat permandian ritual, mempraktekan Yoga, dan mempunyai lubang api (tungku perapian).
banner
Kareem
13 Aug 2009 11:04    #4

Kapten

Thanks

kalau tradisi 'berbuat baik' yang jadi budaya orang-orang yang berada di sekitar sungai sindhu itu diklaim sebagai agama hindu, berarti benar saya beragama hindu.

sayang saya tidak punya referensi, arsip, link, rujukan, atau bukti-bukti dan dalil-dalil Sad dalam setiap diskusi dalam forum ini
banner
harakiri
13 Aug 2009 11:16    #5

Mayjen

Agama

Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebhaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut.

Kata "agama" berasal dari bahasa Sansekerta āgama yang berarti "tradisi". Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti "mengikat kembali". Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan.

Beberapa pendapat

Dalam bahasa Sansekerta
Kata "agama" berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti "tradisi".
Dalam bahasa Sansekerta artinya tidak bergerak (Arthut Mac Donnell).
Agama itu kata bahasa Sansekerta (yaitu bahasa agama Brahma pertama yang berkitab Veda) ialah peraturan menurut konsep Veda (Dr. Muhammad Ghalib).

Dalam bahasa Latin
Agama itu hubungan antara manusia dengan manusia super (Servius)
Agama itu pengakuan dan pemuliaan kepada Tuhan (J. Kramers Jz)

Dalam bahasa Eropa
Agama itu sesuatu yang tidak dapat dicapai hanya dengan tenaga akal dan pendidikan saja (Mc. Muller dan Herbert Spencer).
Agama itu kepercayaan kepada adanya kekuasan mengatur yang bersifat luar biasa, yang pencipta dan pengendali dunia, serta yang telah memberikan kodrat ruhani kepada manusia yang berkelanjutan sampai sesudah manusia mati (A.S. Hornby, E.V Gatenby dan Wakefield)

Dalam bahasa Indonesia
Agama itu hubungan manusia dengan Yang Maha Suci yang dinyatakan dalam bentuk suci pula dan sikap hidup berdasarkan doktrin tertentu (Drs. Sidi Gazalba).
Agama adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebhaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1997)

Dalam bahasa Arab
Agama dalam bahasa arab ialah din, yang artinya :
taat
takut dan setia
paksaan
tekanan
penghambaan
perendahan diri
pemerintahan
kekuasaan
siasat
balasan
adat
pengalaman hidup
perhitungan amal
hujan yang tidak tetap turunnya
dll
Sinonim kata din dalam bahasa arab ialah milah. Bedanya, milah lebih memberikan titik berat pada ketetapan, aturan, hukum, tata tertib, atau doktrin dari din itu.

Definisi


Definisi tentang agama dipilih yang sederhana dan meliputi. Artinya definisi ini diharapkan tidak terlalu sempit atau terlalu longgar tetapi dapat dikenakan kepada agama-agama yang selama ini dikenal melalui penyebutan nama-nama agama itu. Untuk itu terhadap apa yang dikenal sebagai agama-agama itu perlu dicari titik persamaannya dan titik perbedaannya.

Manusia memiliki kemampuan terbatas, kesadaran dan pengakuan akan keterbatasannnya menjadikan keyakinan bahwa ada sesuatu yang luar biasa diluar dirinya. Sesuatu yang luar biasa itu tentu berasal dari sumber yang luar biasa juga. Dan sumber yang luar biasa itu ada bermacam-macam sesuai dengan bahasa manusianya sendiri. Misal Tuhan, Dewa, God, Syang-ti, Kami-Sama dan lain-lain atau hanya menyebut sifat-Nya saja seperti Yang Maha Kuasa, Ingkang Murbeng Dumadi, De Weldadige dll.

Keyakinan ini membawa manusia untuk mencari kedekatan diri kepada Tuhan dengan cara menghambakan diri , yaitu :
menerima segala kepastian yang menimpa diri dan sekitarnya dan yakin berasal dari Tuhan
menaati segenap ketetapan, aturan, hukum dll yang diyakini berasal dari Tuhan

Dengan demikian diperoleh keterangan yang jelas, bahwa agama itu penghambaan manusia kepada Tuhannya. Dalam pengertian agama terdapat 3 unsur, ialah manusia, penghambaan dan Tuhan. Maka suatu paham atau ajaran yang mengandung ketiga unsur pokok pengertian tersebut dapat disebut agama.

sumber : wiki
banner
brainwashed
13 Aug 2009 14:18    #6

Jendral

terima kasih artikelnya mas...
saya baca artikel anand krishna tentang Hindu,coba kita persamakan persepsi.....

Sindhu, Shintu, Hindu, Indies, Hindia & Yoga

“Ingatlah sejarah, atau kamu akan dilupakan oleh sejarah” — kita telah mendengar kalimat seperti ini beribu kali, tapi kita tetap saja melupakannya. Maka, kita dikutuk untuk mengulangi kesalahan yang sama terus-menerus.

Penduduk Malaysia - para politisi dan juga pemuka agamanya — telah melupakan sejarah mereka sendiri, dan akibatnya negara tersebut berada di tepi jurang disintegrasi. Kita harus belajar dari mereka sehingga tidak melakukan kesalahan yang sama.

Sepuluh tahun lalu, pemenang Nobel V.S Naipul memperingatkan kita tentang apa yang bisa terjadi di negara-negara seperti kita, di mana budaya asing masuk dan mendesak budaya lokal. Secara khusus, ia menyebutkan 5 negara: Indonesia, Iran, Afganistan, Bangladesh dan Pakistan. Uniknya, kelima negara tersebut merupakan bagian dari peradaban besar di Lembah Sindhu.

Al Beruni, Sejarawan kondang Arab dari abad ke-10 SM, yang keliru melafalkan Sindu menjadi Hindu. Kemudian secara kolektif para sejarawan menyebut seluruh daerah dan kepulauan di balik lembah Sindhu dengan nama “Hind”.

Ia bukan yang pertama keliru melafalkan kata tersebut. Jauh hari sebelumnya, orang China menyebutnya Shintu. Ada indikasi bahwa penduduk awal Arab mengetahui tentang peradaban ini dari para pedagang China dan beberapa dari suku-suku tersebut menyingkatnya menjadi Shin.

Seribu tahun kemudian, magnus opus Al Beruni di India masih dicetak dan tetap menjadi bacaan menarik. Sejarawan besar ini menulis tentang peradaban tersebut dengan semangat yang luar biasa, menterjemahkan beragam karya spiritual dan teks lainnya ke dalam bahasa Arab dan memuliakan masyarakat di sana sebagai penyembah dari “Satu” Tuhan.

Hal ini tentu tak diterima oleh Sultan Mahmud, penguasa Ghazna, yang menginginkan landasan agama untuk memporak-porandakan India. Sehingga buku itu dipublikasikan setelah kematian Mahmud.

Kemudian, saat dinasti Mogul datang ke India dan menetap di sana, mereka menyebut kerajaan mereka sebagai Hindustan. “Hindu” tak pernah dipakai untuk mengidentifikasikan sebuah agama tertentu, tapi sebagai sebuah peradaban sama seperti wilayah geografis. Orang Portugis melakukan hal serupa ketika mereka mendistosri kata ini lebih lanjut menjadi “Indies”. Lantas, orang Inggris melafalkannya menjadi India.
banner
brainwashed
13 Aug 2009 14:20    #7

Jendral

Kita — penduduk Nusantara lama dan Indonesia modern — berasal dari peradaban yang sama seperti masyarakat Iran, Afganistan dan Bharat (saat ini anak benua India). Seperti yang dikatakan Coedes, sejarawan Prancis, penguasa anak benua tersebut tak pernah menjajah kita. Mereka tidak memaksa kita untuk memeluk agama mereka ataupun kepercayaan lainnya. Kita berbagi dengan mereka kepercayaan-kpercayaan tersebut.

Orang barat menyebut kita lesser India — sebuah penamaan yang keliru karena faktanya kita berasal dari peradaban yang sama. Kita tidak lebih buruk dalam hal apapun. Bahkan, kepulauan kita dikenal sebagai SvarnaDvipa, pulau penghasil emas. Lautan hanya memisahkan kita. Pemisahan geografis semacam ini tidak memisahkan kita secara budaya. Kita tetap memiliki akar budaya yang sama.

Yoga sebagai sebuah ilmu pengetahuan berkembang dari akar budaya semacam itu. Maka, kita dapat menemukan Yoga dalam pelbagai variasinya di seluruh anak benua, dan bahkan di kepulauan kita sendiri. Yoga tak ada hubungannya dengan “Hinduisme” sebagai agama, melainkan dengan “Hindu” sebagai peradaban.

“Hinduisme” sebagai agama ialah sebuah fakta yang kita kenali saat ini. Agama dari Hindus modern sebagian besar berasal dari peradaban Sindhu, Shintu atau Hindu, seperti halnya yoga. Tapi itu tak mengurangi yoga menjadi sekedar keyakinan agama atau sistem tertentu.

Memang, kata yoga telah dipakai beribu-ribu tahun sebelum kata “Hindu” dipakai secara umum. Jika kita mengacu pada istilah Al beruni, maka kita semua ialah Hindus. Peziarah India yang naik haji di Arabia pun disebut Hindi.

Leluhur kita pada umumnya, peradaban Hindu pada masa silam, mengembangkan yoga sebagai sebuah sistem untuk semua orang secara umum, tapi saya ingatkan, kata “Hindu” di sini tak sama dengan penganut Hinduisme sebagai sebuah agama. Kata Hindi di sini ialah Hindi-nya Al Beruni, seseorang yang menjadi bagian dari peradaban lembah Sindhu.

Uniknya, jejak yang paling kentara dari peradaban ini justru ditemukan di Republik Islam modern Pakistan.

Mengatakan yoga itu Hindu sama halnya mengatakan bahwa hukum gravitasi itu Kristen karena Newton yang menemukannya juga orang Kristen. Atau, teori relativitas itu Yahudi karena Albert Einstein memiliki darah Yahudi yang mengalir di pembuluh nadinya. Bagaimana dengan angka “0″? Orang Arab awalnya mempelajarinya dari masyarakat Sindhu dan kemudian membawanya ke Barat. Apakah aman untuk menggunakan hal serupa?

Saya yakin tanpa ragu sedikitpun bahwa perkembangan terkini di negara kita diatur secara sistematis oleh sekelompok orang yang ingin mencerabut kita dari budaya asal. Motif mereka begitu jelas. Mereka mencoba untuk menjajah kita tak hanya secara ekonomi, tapi juga secara budaya. Malaysia telah jatuh ke dalam perangkap mereka. Malaysia boleh membanggakan pembangunan fisik mereka, tapi tanpa jati diri sebagai orang Melayu, mereka sedang dalam perjalanan menuju disintegrasi yang tak terelakkan.

Kita hidup pada momentum yang begitu menentukan dalam rentang waktu dan sejarah. Pilihannya begitu jelas. Tulisan di dinding bicara sangat tegas. Pilihannya begitu terbatas, apakah kita menjadi lahan belakang dari beberapa negara di luar sana, atau berdiri tegak dan berkata “tidak” kepada setiap upaya untuk mem”biadab”kan kita, untuk mencerabut kita secara budaya.
Anand Krishna, Jakarta | Jumat, 12/12/2008
banner
harakiri
14 Aug 2009 06:53    #8

Mayjen

wow menarik banget ndan Brain... apakah anda sependapat dengan Anand Khrisna, bahwa yg dimaksud peradaban Sindhu tidak hanya ditujukan khusus pada wilayah India, tapi mulai dari India modern sekarang sampai wilayah Indonesia sekarang ??
bila benar demikian, berarti Hindu tidak pernah masuk ke Indonesia, karena sesuai Al Beruni .. Indonesia adalah sejak semula merupakan bagian dari Peradaban Hindu.
banner
harakiri
14 Aug 2009 08:46    #9

Mayjen

(13 Aug 2009 11:04)Kareem Wrote:
 
Thanks

kalau tradisi 'berbuat baik' yang jadi budaya orang-orang yang berada di sekitar sungai sindhu itu diklaim sebagai agama hindu, berarti benar saya beragama hindu.

sayang saya tidak punya referensi, arsip, link, rujukan, atau bukti-bukti dan dalil-dalil Sad dalam setiap diskusi dalam forum ini

Nama atau kata modern Hinduisme atau agama Hindu, merupakan istilah yang baru saja dikembangkan pemakaiannya kira-kira 700 tahun yang lalu oleh penjajah Muslim di India. Ada sebuah sungai yang disebut Shindu, yang salah disebut oleh para penjajah ini sebagai Hindu. Semua orang yang tinggal di seberang sungai itu, tak peduli apapun keyakinannya, disebut oleh mereka orang-orang Hindu. Ajaran-ajaran suci dan nilai-nilai yang dianut oleh orang-orang ‘Hindu’ ini secara mudah juga mereka sebut agama Hindu, untuk membedakannya dari keyakinan yang mereka anut. Sehingga tentu saja salah apabila kita menyimpulkan bahwa ada kemungkinan kita dapat melacak sejarah awal agama kuno India berdasarkan penggunaan kata ini dalam sejarah. Kita harus mengetahui bahwa dalam kitab-kitab suci ‘Hindu’ yang purba ini tak dapat ditemukan satu kata Hindu pun. Namun kita menemukan kata sanatana-dharma (dharma yang kekal), vaidika-dharma (dharma dari Veda), bhagavata-dharma (dharma yang berasal dari Tuhan), dan sebagainya.

selengkapnya baca artikel Sri Jahnava Nitai Das
dari Bhaktivedanta Ashram and Bhaktivedanta International Charities, Bhadrak, Orissa, India.
banner
Kareem
14 Aug 2009 09:52    #10

Kapten

jadi bos harakiri thread ini sejarah agama hindu atau sejarah peradaban orang-orang di lembah shindu atau sejarah budaya timur?,
karena menurut saya inilah sejarah timur itu.

dalam threadnya b4cot di GFT ka'bah dulu kuil hindu tersirat seolah-olah islam berasal dari hindu.
namun dalam menjadi hindu ada serangkaian proses untuk menjadi hindu/ beragama hindu

bagaimana tanggapan bos harakiri?
banner
harakiri
14 Aug 2009 10:09  (Edit: 14 Aug 2009 10:10 by harakiri.)    #11

Mayjen

ndan Kareem... sebenarnya yg lebih penting kita satukan persepsi dulu adalah
Apakah Peradaban menghasilkan agama atau Agama lah yang menghasilkan Peradaban
apa antara Agama dan peradaban itu saling terkait dan melekat satu sama lain ?

mengenai thread Kabah dulu kuil Hindu, islam seolah2 berasal dari Hindu
ini kembali kepada pengertian anda, apakah Hindu itu Agama ato suatu peradaban ?
namun apapun kebenarannya, tidak berpengaruh bagi saya... dan saya yakin pun rekan2 muslim mempunyai keyakinan yg berbeda ttg isi thread tersebut sesuai dengan kepercayaan dan sumber pengetahuan yg mereka miliki dan yakini itu benar.

dalam thread menjadi Hindu itu adalah suatu cara formal yang ditetapkan oleh Lembaga Hindu di Indonesia ( Parisada ), hal ini tentulah tidak sama dengan dibelahan bumi lain. bukankah salah satu menjalankan Agama dilakukan dengan tradisi ?
dan juga tidak ada jaminan seseorang menjadi Hindu 100 % klo hanya lewat prosesi upacara tersebut. sama halnya dengan dengan upacara wisuda untuk pengukuhan sarjana
itu pendapat saya.
banner
brainwashed
14 Aug 2009 13:53  (Edit: 14 Aug 2009 14:01 by brainwashed.)    #12

Jendral

(14 Aug 2009 06:53)harakiri Wrote:
 
wow menarik banget ndan Brain... apakah anda sependapat dengan Anand Khrisna, bahwa yg dimaksud peradaban Sindhu tidak hanya ditujukan khusus pada wilayah India, tapi mulai dari India modern sekarang sampai wilayah Indonesia sekarang ??
bila benar demikian, berarti Hindu tidak pernah masuk ke Indonesia, karena sesuai Al Beruni .. Indonesia adalah sejak semula merupakan bagian dari Peradaban Hindu.

om Eduard Douwes Dekker, dalam bukunya Max Havelaar menyebut India-Belanda dengan nama Insulinde, variasi bahasa Belanda untuk Kepulauan India.
india belanda = kepulauan india punya belanda.
jadi india sebenarnya diamana sih?

jadi 'hindu' tidak pernah menyebarkan agama di kampung halamannya,tapi pulang kampung.

hikayat cerita columbus dulu nyasar ketika mencari benua baru(dunia baru) yang kabarnya banyak rempah2,maka berlayarlah laek Columbus dengan harapan bisa menemukan negara kaya rempah-rempah tetapi karena jalur yang biasa dilewati sudah padat oleh negara-negara yang terlebih dulu mengambil jalur dagang tersebut, oleh sebab itu mereka mengambil jalan yang agak memutar, ternyata mereka malah sampai di Amerika.

nah di amerika laek columbus melihat budaya mereka yang hampir sama dengan dongeng orang2 kepulauan india,menyembah roh roh(animisme),berburu,tani,mancing..lalu laek columbus berteriak kegirangan....AH INDIA.....Are u Indian?...Ngakak
yes mr columbus, we are from india....Ngakak

kenapa bisa sama?karena suku indian adalah pemukim pertama Amerika Utara datang dari Asia lebih dari 20.000 tahun, yah bisa di 'raba2',trus raba raba...nanti ketemu simpulnya dimana.....Grin
banner
brainwashed
14 Aug 2009 13:59    #13

Jendral

(14 Aug 2009 09:52)Kareem Wrote:
 
jadi bos harakiri thread ini sejarah agama hindu atau sejarah peradaban orang-orang di lembah shindu atau sejarah budaya timur?,
karena menurut saya inilah sejarah timur itu.

dalam threadnya b4cot di GFT ka'bah dulu kuil hindu tersirat seolah-olah islam berasal dari hindu.
namun dalam menjadi hindu ada serangkaian proses untuk menjadi hindu/ beragama hindu

bagaimana tanggapan bos harakiri?

biarkan dulu ...nanti sampe TS nya ganti judulnya...Sejarah Agama Nusantara...Ngakak
nanti berubah ....AGAMA HINDU DI INDIA jadi AGAMA HINDU DI KEPULAUAN INDIA / INDONESIA
banner
Kareem
14 Aug 2009 14:14    #14

Kapten

(14 Aug 2009 10:09)harakiri Wrote:
 
ndan Kareem... sebenarnya yg lebih penting kita satukan persepsi dulu adalah
Apakah Peradaban menghasilkan agama atau Agama lah yang menghasilkan Peradaban
apa antara Agama dan peradaban itu saling terkait dan melekat satu sama lain ?

.........................

menurut saya peradaban ya peradaban.
budaya manusia. bukan budaya agama.
ketika budaya( budi daya=kebiasaan-kebiasaan baik) dikisahkan dalam sebuah cerita timbullah agama, padahal itu budaya manusia

makanya saya bilang saya beragama hindu karena sejarah ini adalah sejarahku juga.
banner
harakiri
16 Aug 2009 19:22    #15

Mayjen

(14 Aug 2009 14:14)Kareem Wrote:
 
menurut saya peradaban ya peradaban.
budaya manusia. bukan budaya agama.
ketika budaya( budi daya=kebiasaan-kebiasaan baik) dikisahkan dalam sebuah cerita timbullah agama, padahal itu budaya manusia

makanya saya bilang saya beragama hindu karena sejarah ini adalah sejarahku juga.

oh gitu ya ndan kareem...
berarti ga dong peradaban islam, kristen hindu dsb....krena cukup kita bilang peradaban manusia
banner
REPLY 


Home | Go Top | Text Mode | RSS
Powered By MyBB, © 2002-2014