Hello There, Guest! - Silahkan Daftar atau Login Cepat via Facebook
Post Terbaru Sejak Login Terakhir   Post Terbaru 24 Jam Terakhir



 
  • 64 Vote(s) - 2.78 Average
Tools    New reply


11 Oct 2008 12:15
venstarvv
Kapten
Posts 1.086
Reputation: 27
Awards:

Teman temen FBIers mohon dijelaskan dong arti kata "JIHAD" itu
Apakah jihad itu dosa atau tidak..
Yang gwa ragukan.. begini.. kemarin gwa ada nonton di tivi .. wawancara terdakwa bom bali 1.. bahwa mereka jihad.. udah bener dijalan Allah. cuma gwa herannya.. kenapa mereka sampai ngebom org yg ngak berdosa..
Sementar amrozi dan kawan kawan tetap pada pendiriannya.. bahwa mereka jihad di jalan yg benar...
Apakah agama islam mengajarkan kita jihad.. dengan cara membunuh org yg tak berdosa..
Coba kita lihat Front Pembela Islam.. gwa ngak abis pikir kenapa mereka bisa bertindak anarkis.. seperti membakar warung orang ( pada bulan ramadhan )
kasihan juga tukang warung.. yang ngak gwa abis pikir juga ... mereka bertindak anarkhis sambil menyebut nama Allah....
Mohon penjelesan dari kaum muslim.. supaya kita dari agama lain tau dan ngerti soal kata arti JIHAD..
Sebelumnya saya mohon maaf , apabila ada kata kata yang menyakitkan.. terima kasih ..wassalam..

11 Oct 2008 12:27
mastermime
Jendral
Posts 10.838
Reputation: 643
Awards:
FBI FansFacebook NetworkPahlawan

Arti :
1. Dalam bahasa berarti "Berusaha keras" atau "Berjuang"
2. Dalam konteks Islam bermakna "Berjuang menegakkan syariat Islamiah"

Bentuk Jihad :
Ber-Jihad tidak selalu harus identik dengan ber-perang secara lahiryah / fisik , sebab Jihad , antara lain , dapat berbentuk :
1. Perjuangan dalam diri sendiri untuk menegakkan syariat Islamiah
2. Perjuangan terhadap orang lain , baik lisan , tulisan atau tindakan
3. Jihad dalam bentuk pertempuran : QITAL (Contoh: At-Taubah - Ayat 111 , disebut sebagai "qital" dengan arah : "fisabilillah" - Perang dijalan Allah , tidak disebut "jihad" dengan arah "fisabilillah")
Islam membenci peperangan , tetapi mewajibkan berperang , jika dan hanya jika , muslim diserang (karena agama) terlebih dahulu dan diusir dari negeri-nya ( sampai suatu batas mutlak yang ditentukan . Terlalu luas untuk dijabarkan disini ).






signature
[size=large][align=center]truth is the agreement of knowledge with its object
[color=#FFA500]If no one agreed with your theory, then it's not true
[/size][/color]

[/align]

11 Oct 2008 14:43
venstarvv
Kapten
Posts 1.086
Reputation: 27
Awards:

Jadi bos.. yg diatas gwa jelaskan tadi. apakah itu termasuk jihad ??
seperti Bom bali 1 yg memakan ratusan korban jiwa...
padahal mereka mereka tidak bersalah...
Tapi gwa herannya itu bos... amrozi dan kawan kawan.. mengatakan mereka telah berjihad dijalan yg benar...
Apakah dengan berjihad seenaknya membunuh org ??
Dan sebelumnya saya berterima kasih bila ada yang menjawabnya ...

11 Oct 2008 15:00
haniviva
Lettu
Posts 688
Reputation: 60
Awards:

Habis Ke toko buku jadi inget...buku ini
[Image: jkj5ue.jpg]
Nimbrung ya....(Hanya share....)

Judul buku AKU MELAWAN TERORIS (Imam Samudra)

Membedah Kepala Imam Samudera

Sebuah buku terbit tentang dan ditulis oleh Imam Samudra. Bagaimana ia menjadi seperti ini? Apakah ada generasi-generasi lain yang berperilaku lain? Apakah semua yang pernah bersentuhan dengan Perang Afghanistan punya prinsip yang sama dengan Imam Samudra?

Dalam sebuah pertemuan silaturahim antara Habib Rizieq Syihab, ketua Front Pembela Islam (FPI) dan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir di Penjara Cipinang, ada pembicaraan yang menarik antara keduanya. Dalam obrolannya, kedua tokoh yang pernah menghuni Rumah Tahanan Salemba itu membahas buku yang ditulis oleh Imam Samudra dari bilik penjara di Gerobokan, Pulau Bali.

Abu Bakar Ba’asyir meminta kepada Habib Rizieq untuk segera mendapatkan buku tersebut dan melakukan kajian atas buku yang diberi judul: Imam Samudra. Aku Melawan Teroris. Dengan serius, ABB, begitu nama ustadz pimpinan Pesantren Al Mukmin Ngruki ini sering disingkat, meminta agar Habib Rizieq sesegera mungkin membaca dan mengkaji isi buku yang ditulis oleh Abdul Azis alias Qudamah alias Imam Samudra tersebut.

Tapi sayangnya, sejak usai pertemuan dengan Abu Bakar Ba’asyir tersebut, Habib Rizieq yang sehari-hari tinggal di daerah Petamburan, Jakarta Pusat, dalam kondisi tak sehat. Bahkan saat ditemui SABILI, pria yang senantiasa berjubah ini masih terlihat sakit. “Ane belum baca buku itu. Tapi ane udah denger isinye. Sayang ane belum dapet, seminggu ini ane sakit, tidak enak badan,” ujarnya dalam dialek Betawi yang kental, khas Habib Rizieq.

Meski dengan suara lemah, Habib Rizieq dengan nada tegas menandaskan sikapnya, khususnya tentang buku yang membuat kisah perjalanan Imam Samudra tersebut. “Apapun yang dilakukan oleh Imam Samudra di Bali, itu masalah pribadi dia. Orang-orang tak bisa mengaitkan hal tersebut dengan majelis, pengajian, taklim atau ustadz yang pernah diikuti oleh Imam Samudra,” sergah Habib Rizieq.

Menurut Habib Rizieq, sudah sewajarnya seorang Muslim mengikuti pengajian dan khutbah-khutbab para ulama di masjid-masjid. “Siapa sih yang nggak pernah ikut khutbah Jum’at di masjid? Jadi kalau tiba-tiba salah seorang jamaah melakukan sesuatu yang terkait dengan bom, kekerasan atau yang lainnya dan dikaitkan dengan khutbah, ya, repot. Berapa juta penjahat di dunia ini yang pernah ikut shalat Jum’at dan pengajian juga?” ujarnya memberikan pembatas dan panduan.

Benarkah pengajian dan taklim-taklim yang diikuti oleh Imam Samudra yang telah membentuk dirinya seperti saat ini? Ataukah ladang jihad, negeri Afghanistan yang mengubahnya?

Imam Samudra mengawali penuturan dalam buku yang ia tulis dengan kisah-kisah masa kecilnya. Ada kisah yang lucu, haru, romantis, kecerdasan dan nyaris tak ada cerita tentang kenakalan. Lucu, saat ia menuturkan kisahnya sebagai seorang siswa SMP yang “ultranasionalis” karena ikut dan menang lomba penataran P-4. Cerdas, karena ia berkali-kali menjadi juara umum dan memenangkan lomba. Sampai ia akhirnya bosan menerima penghargaan atas prestasinya. Juga romantis, karena di usia ini pula ia mengenal seorang gadis yang merebut hatinya dan akhirnya sang gadis kini menjadi ibu dari anak-anaknya. Dalam buku yang ia sebut sebagai biografi setengah hati ini pula Imam Samudra menceritakan perjalanan spiritualnya. Sebuah perjalanan panjang, berliku dan sarat misteri. Sebuah perjalanan yang mengantar Imam Samudra menuju dan meniti jalan pedang.

Imam Samudra menggambarkan dirinya semasa kecil adalah anak yang cerdas, berkali-kali juara umum di kelas, juga sekolah. Menang pula lomba baca puisi, pidato, P-4, shalih, rajin belajar, tak pernah meninggalkan shalat, tapi juga sekaligus seorang bocah yang rendah hati.

Salah satu momen yang menggambarkan kerendahan hatinya adalah saat ia menjadi murid sebuah SMP Negeri 4, Serang. Ia duduk di sebuah kelas, tempat semua anak berprestasi disatukan dan berkumpul. Dan masing-masing memperkenalkan diri dan prestasinya. Sampai giliran Abdul Azis kecil, ia hanya menyebut nama dan asal sekolahnya dan kembali duduk di bangku. Teman-temannya yang lain menganggapnya curang karena tidak membebarkan identitasnya sebagai murid teladan. Sang guru pun menahannya untuk duduk dan memintanya melengkapi perkenalan.

“Yah..., terpaksa dengan nyengir kuda kuceritakan juga sedikit pengalaman eS-De,” demikian tulisnya. Salah satu alasannya tak membeberkan jati diri adalah, ia bosan jadi ketua kelas dan ketua regu Rajawali dalam kegiatan Pramuka.

11 Oct 2008 15:02
haff
Praka
Posts 36
Reputation: 1
Awards:

(11 Oct 2008 14:43)venstarvv Wrote:
 
Jadi bos.. yg diatas gwa jelaskan tadi. apakah itu termasuk jihad ??
seperti Bom bali 1 yg memakan ratusan korban jiwa...
padahal mereka mereka tidak bersalah...
Tapi gwa herannya itu bos... amrozi dan kawan kawan.. mengatakan mereka telah berjihad dijalan yg benar...
Apakah dengan berjihad seenaknya membunuh org ??
Dan sebelumnya saya berterima kasih bila ada yang menjawabnya ...

Amrozi blh aja bilang dia jihad "dijalan" yg benar.. Tapi jalan yg mana dulu..? n benar menurut sapa dulu..Smile

Penjelasan Mastermine cukup lengkap jelas n padat.. saya cuma coba kasi penebalan aja..

Jihad dalam bentuk pertempuran : QITAL (Contoh: At-Taubah - Ayat 111 , disebut sebagai "qital" dengan arah : "fisabilillah" - Perang dijalan Allah , tidak disebut "jihad" dengan arah "fisabilillah")
Islam membenci peperangan , tetapi mewajibkan berperang , jika dan hanya jika , muslim diserang (karena agama) terlebih dahulu dan diusir dari negeri-nya ( sampai suatu batas mutlak yang ditentukan . Terlalu luas untuk dijabarkan disini ).

PeacePeace

11 Oct 2008 15:03
haniviva
Lettu
Posts 688
Reputation: 60
Awards:

(This post was last modified: 11 Oct 2008 15:06 by haniviva.)
Ramadhan yang Mengubah

Perkenalan Abdul Azis dengan sesuatu yang ia anggap lebih besar dari sebelumnya bermula pada semua acara Pesantren Ramadhan seusai Evaluasi Belajar Akhir Semester (EBAS). Saat pesantren tersebut, seorang ustadzah memancing para santri untuk menjawab pertanyaan bagaimanakah seharusnya laki-laki dan perempuan berjalan di jalan raya. Abdul Azis yang telah diberi pelajaran tentang hal ini oleh guru di sekolahnya langsung menjawab lantang. Bahwa laki-laki harus berjalan di sebelah kanan dan perempuan di sebelah kiri.

Tapi sang ustadzah memberikan jawaban lain. Laki-laki dan perempuan yang berjalan beriringan, baik di sebelah kiri atau sebelah kanan, dua-duanya hukumnya haram dan dilarang dalam Islam. Sang ustadzah pun memberikan keterangan lengkap dengan hadits dan ayat-ayat al Qur’an.

“Uraian beliau membuatku benar-benar kaget, sedih dan sejuta perasaan lain. Kurasa, itulah konflik batin pertama yang kualami,” anggap Abdul Azis.

Dan ia pun terkenang masa-masa yang lalu. Saat siswi-siswi berebut memasang dasi kupu-kupu di kerah leher dan topi ketika ia mendapat tugas membaca doa di depan peserta upacara. Lalu mereka tertawa riang menikmati masa-masa remaja. “Musibah!” begitu Imam Samudra mengenang masa kecilnya.

Pesantren Ramadhan itu mengubah dirinya. Ia menangis sepanjang malam setelah itu, menyesali waktu yang telah berlalu. Ia membenci teman-teman wanitanya yang kecil-kecil sudah menyanyikan lagu cinta, ia bahkan membenci dirinya sendiri karena masuk sekolah “Belanda”. Bahkan ketika ia dinyatakan sebagai juara dari kelasnya ia maju ke depan dengan tertunduk lesu dan tak bangga. “Aku juara sekuler!” Batinnya menjerit.

Singkat cerita, Abdul Azis bertambah besar dan dewasa dengan itu semua. Sampai ia kemudian berkenalan dengan sebuah buku, yang juga membawa perubahan penting dalam perjalanan hidup seorang Abdul Azis. Buku itu tak lain adalah Ayatur Rahman fii Jihadi’l Afghan, karya DR Abdullah Azzam. Buku ini menceritakan tanda-tanda kebesaran Allah dalam jihad di Afghanistan.

“Mereka yang sempat membaca buku ini, insya Allah akan tergerak hatinya untuk berjihad mengangkat senjata ke Afghanistan. Tapi waktu itu umurku masih 16 tahun, baru bisa membayangkan, menghayati dan kemudian melamunkan,” ujar Imam Samudra.

Buku itu berkali-kali ia baca dan selalu di akhir halaman yang melantunkan doa, agar Allah menyampaikan Abdul Azis yang masih berusia 16 tahun itu ke negeri para syuhada, negeri penghuni surga, Afghanistan. Bahkan ia menempelkan peta Afghanistan di pintu bagian dalam kamarnya. Sejak itu pula ia selalu berdoa dan berusaha meninggalkan semua kesenangan. Ia berhenti mendengar musik, berhenti menonton TV dan sebagai gantinya ia melahap buku-buku agama dan tangan tak pernah melepas al-Qur’an sebagai bahan bacaan.

Sampai kemudian ia bertemu dengan seorang yang ia kenal bernama Jabir di Masjid Al Furqan, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) di Jl. Kramat Raya 45, Jakarta. Ia pun akhirnya diminta untuk mengumpulkan uang sebesar Rp 300.000 saja sebagai persiapan berangkat ke medan jihad. Berbekal sisa tabungan dari honor menulis di Majalah Panji Masyarakat dan juga tambahan dana dari Ibunda, ia menyisir Sumatera, masuk Malaysia dan terbang bersama Malaysian Air System menuju India.

Singkat cakap, Abdul Azis masuk juga di Afghanistan. Sebuah fase kehidupan baru. Kehidupan di antara desing mortir dan peluru. Bau darah dari mesiu. Nasyid pembangkit semangat dan lantunan ayat-ayat al-Qur’an menjadi musik yang indah di bawah langit Afghanistan.

“Mereka yang datang ke tempat ‘aneh’ seperti ini adalah mereka yang siap membunuh atau dibunuh kafir, siap berjihad dan menegakkan kalimat Allah,” tulisnya di halaman 48.

Macam-macam perasaan yang dialami oleh Abdul Azis di negeri para mullah ini. Mulai dari perasaan rindu pada syahid, sampai rindu pada seorang gadis, mantan Ketua OSIS yang mengisi satu sudut hatinya.

Saat hujan salju mengguyur tanah penggunungan Khost, saat malam dengan langit yang cerah, berhias bintang Cassiopia, ingatan Abdul Azis melayang jauh dari tempat kakinya berpijak. “Tiba-tiba ingatakanku jauh terlempar ke alam sana. Di sebuah benua bernama Asia, terus terlempar ke Asia Tenggara dan terus ke sebuah negara dengan ibukota bernama Jakarta. Di sebelah baratnya ada kota bernama Kalideres, diteruskan lagi ke arah Barat. Satu jam kemudian tiba di terminal yang disebut Ciceri. Berjalan saja ke utara yang sekitar 1000 meter. Maka tibalah di sebuah tempat bernama Cinanggung. Ada sebuah rumah, Blok F 140, duh, ternyata disitulah rumah seorang wanita yang tempo hari kukirim post card,” kenangnya.
Sepuluh tahun yang lalu, Imam Samudra meninggalkan bumi Afghanistan yang belum lagi kering dari luka parah. Tangis-tangis di sudut desa belum lagi reda. Dengan selimut tipis, di antara gelegar petir yang sesekali terdengar, dan di antara buncahan baraan, hujan es, seorang pemuda dengan topi pakool, topi khas Afghanistan dan juga baju panjang khas Afghan-Paki bersiap-siap melakukan perjalanan yang lain lagi. Pemuda kurus berjenggot tipis itu menyalami para mujahidin Afghan dan Arab.

Tiada ucapan berpisahan atau peluk selamat tinggal. Sebab pemuda itu tak meninggalkan siapa-siapa, hatinya telah tertanam bersama kapas-kapas salju yang meresap dalam kerasnya batu-batuan pegunungan Khost, dan menyusup dalam tanah-tanah Jalalabad, mengalir dalam sungai-sungai kecil di Kunar. Pemuda kecil itu hanya berpindah ladang jihad. Dan Abdul Azis pun sudah hilang, berganti dan melebur dalam diri seorang pemuda yang kini bernama Qudama, the Pioneer.

Kelak, pemuda itu memang membuktikan dirinya tak meninggalkan perang yang ia jalani dulu. Bahkan, ia telah memindahkan perang itu. Memindahkannya dengan tangan sendiri ke sebuah pulau bernama Bali dengan sebuah bom yang meledak di hampir larut malam. Sebuah bom yang mengubah segalanya di Indonesia.

Sebuah bom yang ia anggap sebagai laku jihad. Sebuah pembalasan atas ribuan umat Islam tak bersalah di Afghanistan yang dibantai oleh Amerika di pertengahan Ramadhan, 2001. Tapi di lain pihak “jihad” yang ia lakukan itu menuai kutuk dari saudara yang lain, yang berbeda, yang tak setuju dengan cara dan pola pikir yang diambil oleh Abdul Azis alias Qudama alias Imam Samudra.

Cerita Lain Sebuah Perjalanan
Lanjuut

Mari beralih tokoh. Peran utama kali ini dimainkan oleh seorang, sebut saja namanya Abdurrahman. Ia nyaris punya perjalanan yang sama dengan apa yang dialami oleh Abdul Azis alias Imam Samudra.

Abdurrahman kecil adalah seorang anak yang cerdas. Di sebuah SMP Negeri di Jakarta Timur, ia selalu masuk dalam ranking tiga besar. Pandai mengaji, rajin shalat, juara cerdas cermat. Jika Imam Samudra sampai pada tingkat Kabupaten, Abdurrahman bahkan juara pada tingkat nasional.

Di sekolah tempatnya belajar, ia termasuk siswa yang selalu tepat untuk masuk mushalla sekolah menunaikan kewajiban. Sampai akhirnya seniornya merekrut ia untuk menjadi pengurus mushalla. Dan dari sana perubahan demi perubahan dimulai.

Bertambah umur, Abdurrahman memasuki fase yang lain. Kala itu perang Afghanistan pecah dan menjadi daya magnet yang menarik pemuda-pemuda dari berbagai penjuru dunia untuk berjihad, tak terkecuali Abdurrahman. Beberapa orang temannya telah berangkat. Dan kisah-kisah dari pengajian satu ke pengajian lainnya menceritakan ulang tanda-tanda kebesaran syuhada. Bahkan seorang temannya yang telah syahid di Afghan telah pula membangkitkan semangatnya untuk pergi ke negeri para lelaki itu. Padahal waktu itu, buku yang ditulis oleh DR Abdullah Azzam yang mempengaruhi banyak orang, termasuk Imam Samudra, belum lagi beredar di Indonesia.
Dalam hati ia selalu menanyakan ulang, apa betul niatnya tentang jihad? Apa benar ia telah cukup ilmu untuk sampai pada fase itu? Apa sudah cukup imannya? Bukankah dalam ilmu fiqih sebelum sampai pembahasan pada jihad, terlebih dulu kita semua harus mengenal masalah-masalah tentang thaharah, mensucikan diri, meningkatkan ibadah dan ilmu.

Akhirnya, Abdurrahman memang tak berangkat ke Afghanistan. Tapi bukan berarti ia kehilangan militansi untuk memperjuangkan Islam. Hingga kini ia masih menjadi aktivis dakwah yang selalu berjuang dan berbuat untuk umat, insya Allah. Ia juga berperang, tapi perang yang lain. Perang fikrah, perang budaya, perang intelektual yang juga tak ada habis dan tak kalah besarnya.

Abu Salim Nomor Satu

Salah seorang yang disedot oleh jihad Afghan adalah Abdul Wahid Kadungga. Tak perlu cerita detil hingga masa kecil. Yang jelas, sejak muda Abdul Wahid Kadungga adalah seorang yang cukup cerdas, organisator yang baik, dan tentu saja shalih, insya Allah.

Ia termasuk sedikit dari orang-orang Indonesia yang bergabung di Afghanistan. Jika Abdurrahman dan Imam Samudra bersentuhan dengan semangat Afghan pada usia yang masih belia, tapi tidak dengan Kadungga. Ustadz bertubuh mungil ini berusia 40 tahun ketika perang Afghanistan pecah. Meski tergolong sepuh dan bertubuh kecil tak berarti Kadungga tidak memiliki keberanian yang besar.

Tahun 1980 ia masuk ke Afghanistan. Satu tahun setelah perang pecah di tahun 1979. “Semua yang datang pada saat itu untuk berperang. Saya bertemu dengan anak-anak muda. Semuanya muda, berumur 20 tahunan. Sedangkan saya sudah 40 tahun,” kenang Kadungga.

Di pegunungan Khost, ia berlatih memegang senjata dan berlatih siasat perang gerilya. Berhari-hari jalan dari gunung ke gunung dengan senjata lengkap dan peluru yang melilit tubuh, Kadungga selalu berhasil mengalahkan anak-anak muda yang dua kali lebih muda usianya. Ia mendaki lebih cepat. Ia berlari lebih cepat.

Untuk kali kedua, Kadungga masuk kembali ke Afghanistan pada tahun 1985. Jihad ternyata membuatnya dirundung rindu. Pada perjalanannya yang kedua ini, ia telah banyak bertemu dengan anak-anak dari Indonesia. Sebagian besar mereka memang tergugah setelah membaca buku Ayatur Rahman fii Jihadi’l Afghan.

Beberapa waktu setelah peristiwa Bom Bali terjadi, Kadungga sempat menjadi salah seorang yang dicurigai. Polisi sempat menahannya pada Desember 2002, tapi kemudian ia dilepas kembali karena tak terbukti. Atas peristiwa Bom Bali sendiri, Kadungga yang kenyang makan pahit getirnya jalan dakwah, percaya betul bahwa Imam Samudra dan kawan-kawan adalah korban juga. “Bom yang anak-anak punya (Imam Samudra dkk, red) adalah yang di Paddie’s Club. Sedang bom yang di Sari Club adalah rancangan mereka,” tandas Kadungga.

Siapa mereka? Sebagai seorang yang pernah bersentuhan dengan amunisi dan bahan peledak saat berada di Afghanistan, Kadungga menyebut, ledakan yang menghasilkan asap cendawan hanya bisa dibuat oleh kekuatan milik empat negara besar. “Amerika, Rusia, Inggris dan Rusia. Bom itu sangat berbahaya dan selalu dikontrol. Imam Samudra beli? Omong kosong!”

Imam Samudra, Abdurrahman dan Abdul Wahid Kadungga, adalah tiga fenomena yang berbeda, meski masing-masing bersentuhan dengan dunia yang sama: Jihad Afghanistan.

Sepulang dari Afghan, Imam Samudra membawa perangnya kemana pun ia pergi dan berada. Abdurrahman yang batal berangkat memilih langkah untuk bergiat dalam dakwah mendidik umat. Dan Abdul Wahid Kadungga, semangatnya tetap meletup-letup sepulang dari tanah jihad. Semangat itu pula yang ia kelola menjadi kekuatan dakwah dan selalu tetap siaga.

Menjelang tulisan ini selesai ditulis, lewat sebuah cara, sebuah pesan masuk ke redaksi dari Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Dalam pesannya, ABB mengatakan bahwa ia sudah mendapat dan membaca buku Imam Samudra. Dan menurutnya, buku itu mempunyai nilai positif, setidaknya mampu menjadi stimulan agar kaum Muslimin Indonesia tidak terjangkit penyakit wahn. Cinta dunia dan takut mati.

Ustadz Abu mengatakan, meski dirinya berpikiran positif tentang Imam Samudra, ia tidak sependapat dengan cara-cara perlawanan yang dilakukan oleh Imam Samudra dan kawan-kawan. Membawa cara bom dan senjata pada wilayah yang tidak semestinya, hanya akan menguntungkan musuh Islam untuk memerangi umat ini.

Tanpa bermaksud mengadili, kisah perjalanan Imam Samudra, Abdurrahman dan Kadungga, sungguh memberikan pelajaran bagi orang-orang yang berakal. Khususnya bagi darah-darah muda, yang selalu dipenuhi dengan gejolak tak terkendali dalam dadanya. Semoga kita menjadi seorang yang mampu mewujudkan Islam sebagai rahmat seluruh alam. (Sabili)

Makaceeh

11 Oct 2008 16:14
yujitea
Mayor
Posts 1.676
Reputation: 14
Awards:
FBI Fans

lha??
kok post saya di thread ini ilang ya???
Confused






signature
[b][color=#FF0000][size=medium][font=Times New Roman]| sometimes you just cant reach me | sometimes you just cant understand me | sometimes..[/font][/size][/color][/b]

13 Oct 2008 09:29
big2besar
Mr. President
Posts 7.053
Reputation: 373
Awards:
Anti Child Po rn

(11 Oct 2008 12:15)venstarvv Wrote:
 
Teman temen FBIers mohon dijelaskan dong arti kata "JIHAD" itu
Apakah jihad itu dosa atau tidak..
Yang gwa ragukan.. begini.. kemarin gwa ada nonton di tivi .. wawancara terdakwa bom bali 1.. bahwa mereka jihad.. udah bener dijalan Allah. cuma gwa herannya.. kenapa mereka sampai ngebom org yg ngak berdosa..
Sementar amrozi dan kawan kawan tetap pada pendiriannya.. bahwa mereka jihad di jalan yg benar...
Apakah agama islam mengajarkan kita jihad.. dengan cara membunuh org yg tak berdosa..
Coba kita lihat Front Pembela Islam.. gwa ngak abis pikir kenapa mereka bisa bertindak anarkis.. seperti membakar warung orang ( pada bulan ramadhan )
kasihan juga tukang warung.. yang ngak gwa abis pikir juga ... mereka bertindak anarkhis sambil menyebut nama Allah....
Mohon penjelesan dari kaum muslim.. supaya kita dari agama lain tau dan ngerti soal kata arti JIHAD..
Sebelumnya saya mohon maaf , apabila ada kata kata yang menyakitkan.. terima kasih ..wassalam..

Jihad itu mengandung dua muatan makna, bahasa dan syariat. Makna jihad secara bahasa adalah kesulitan (masyaqah) (Fathul Bari Syarh Shakhih Bukhari dan Naylul Awthar), atau juga mempunyai arti kesungguhan (juhd), kemampuan menanggung beban (thaqah) dan kesulitan (masyaqah) (Kamus al Muhath).

Jihad dalam aspek bahasa juga bermakna mencurahkan segala usaha atau tenaga untuk memperoleh tujuan tertentu (Al Jihad Walqital Fissiyasah Asy Syar’iyah).

Sementara pengertian jihad dalam konteks syar’i adalah mengerahkan segenap potensi untuk berperang di jalan Allah, baik secara langsung atau tidak langsung, misalnya melalui bantuan materi, sumbangsih pendapat, penyediaan logistik dan lain-lain (Raddul Mukhtar III).

Dalam pengertian syar’i, jihad juga bermakna mengerahkan segenap kesungguhan dalam memerangi orang kafir (Fathul Bari Syarh Shakhih Bukhari).

Walhasil, secara bahasa, jihad mencakup makna yang cukup luas, meliputi jihad melawan hawa nafsu, jihad ekonomi, jihad pendidikan, jihad politik, jihad pemikiran, jihad mencari ilmu dan lain-lain.

Sebaliknya, jihad menurut makna syariat, sebagaimana dibahas dalam literatur fiqh, selalu berkaitan dengan pembahasan tentang perang, penaklukan, ekspedisi militer di wilayah-wilayah Darul Harb (negara yang memusuhi Islam).

Lebih jelasnya klik >>>JIHAD

Smile






signature
"Jangan pernah mempercayai apa pun dalam politik sampai hal itu resmi diingkari". Otto von Bismarck (1819-1898)

Cool

13 Oct 2008 09:42
sutisna
Brigjen
Posts 5.871
Reputation: 30
Awards:

jadi inget amanatnya khalifah abu bakar......

ya-ayyuhan nas ! berdirilah. Aku akan memberikan sepuluh amanat dan terimalah dari daku:
1. jangan khianat
2. jangan berbuat keterlaluan
3. jangan menganiaya
4. menggantung musuh
5. jangan membunuh anak anak, orangtua dan wanita
6. jangan merusak pohon2 yang tengah berbuah
7. jangan menyembelih domba dan sapi kecuali untuk makan
8. Nanti kamu akan menjumpai kelompok2 masyarakat yang melakukan kebaktian dalam rumah2 ibadat, jangan ganggu mereka.
9. Nanti kamu akan menemui masyarakat yang meyumbangkan bejana berisi makanan maka cicipilah dan jangan lupa ucapkan nama tuhanmu.
10.Nanti kamu akan berhadapan dengan kaum yang melawanmu dengan sengitnya lawan dan hancurkanlah dengan kekuatan allah.
kini berangkatlah dengan nama allah

ini amanat dalam JIHAD PERANG .............






signature
[size=medium]I know that I am not the best man in the world, I don't care.
[b]I just do my best[/b][/size]

11 Nov 2008 12:58
awinpippo
Koptu
Posts 90
Reputation: 0
Awards:

kalo bom bali
aku ga bisa bilang ia dan bukan
mereka punya pemahaman sendiri
tntang jihad...!
yang pastinya jihad adalah wajib bagi setip ummat islam
dan artikanlah jihad itu pada makna nya yang sesungguhnya...!

11 Nov 2008 15:03
Ceplas_Ceplos
In Memoriam With Me
Posts 6.465
Reputation: 103
Awards:
CharityFBI Heroes

(11 Oct 2008 16:14)yujitea Wrote:
 
lha??
kok post saya di thread ini ilang ya???
Confused

sama :pusing::pusing: CryCryCry

11 Nov 2008 16:38
henndri
Kolonel
Posts 3.848
Reputation: 26
Awards:

(11 Nov 2008 12:58)awinpippo Wrote:
 
kalo bom bali
aku ga bisa bilang ia dan bukan
mereka punya pemahaman sendiri
tntang jihad...!
yang pastinya jihad adalah wajib bagi setip ummat islam
dan artikanlah jihad itu pada makna nya yang sesungguhnya...!

Aku setuju dengan pendapat ente ..........






signature
[color=#006400][size=medium][b]Kesehatan Bukanlah segalanya, Tapi tanpa kesehatan Segalanya menjadi Tak ada apa apanya.[/b][/size][/color]


   New reply




User(s) browsing this thread:
1 Guest(s)

Forum Bebas Indonesia
Demokrasi & Kebebasan temukan jalannya!
Respecting others will make you happy here
© 2004-2013 by Adimin | Fan Page | Group Discussion | Twitter | Google+ | Instagram