Contact Us
News
Follow TELEGRAM Channel ForumBebas.com di alamat T.ME/FORUMBEBAS atau Facebook Fan Page dan Twitter Forumbebas .

Forum Bebas Indonesia

Warung remang remang Pantura

Bukan hal asing berita warung remang-remang di Pantura. Selain dikenal padat oleh kendaraan besar, khususnya truk pengangkut barang, jalur itu juga dikenal dengan adanya warung remang-remang yang jumlahnya terus bertambah. Selepas tol Cikampek hingga kawasan Subang- Jawa Barat saja, saat ini ada sekitar 30 titik kawasan warung remang-remang yang jumlahnya mencapai ratusan warung.

Dinamakan warung remang-remang, tak lain karena banyak yang fungsinya lebih dari sekedar warung makan biasa.
Dibalik bilik sederhana atau rumah makan seadanya, di tempat-tempat ini hadir pula sejumlah wanita muda yang siap melayani para lelaki yang tengah mampir.
Kebanyakan, mereka adalah kalangan supir truk. Mereka sering beranggapan tempat ini seolah sebagai rumah kedua.Para perempuan yang ikut menjajakan diri di sekitar warung-warung ini banyak pula yang sangat agresif.

Mereka menawarkan diri tanpa ada rasa sungkan atau malu.Di siang hari, deretan warung remang-remang yang sesungguhnya berdiri tanpa izin resmi ini seolah bak bangunan mati.
Terkesan tak berpenghuni. Tapi, ketika didekati, satu per satu perempuan keluar dari dalam. Memang, kita tak bisa menyamaratakan semua warung pinggir jalan sebagai arena prostitusi terselubung.
Namun, pada gilirannya kesan seperti itu menjadi tak terhindarkan seiring maraknya warung pinggir jalan yang berubah fungsi sebagai tempat mesum.

Jika diamati, tak ada yang aneh dengan warung sederhana yang berderet di sepanjang jalan, seperti di Pantura atau di Parung-Bogor. Justru terkesan sangat sederhana, sehingga jarang ada mobil mewah yang mampir. Kebanyakan, yang tampak hanya deretan truk terparkir. Hm.. mengapa para supir truk memilih warung lokasi beristirahat ??

Ada banyak alasan yang dikemukakan kalangan supir truk ketika memilih warung pinggir jalan sebagai tempat beristirahat. Alasan klasik yang mengemuka adalah faktor ekonomis. Ya.. warung-warung ini menjajakan nasi dan lauk dengan harga relatif murah.
Dengan uang 10 ribu rupiah, sang supir sudah mendapat segelas kopi plus nasi dan lauknya. Namun, ada alasan lain. Ternyata, tempat-tempat seperti ini juga menyediakan perempuan penghibur.
Tak jarang pula, wanita-wanita itu diajak ikut untuk menemani sang supir sepanjang perjalanan.

Dengan dana yang terbatas, truk juga kerap menjadi tempat pemuasan hawa nafsu para supir, meskipun bagi sebagian supir truk lain, tindakan itu dianggap akan mendatangkan kesialan.
Meskipun para supir truk kerap dicap memiliki perilaku menyimpang, namun, masih banyak pula yang bekerja sungguh-sungguh untuk menafkahi anak istri. Kelompok yang satu ini justru sangat menyayangkan tingkah sebagian supir truk yang telah mencoreng profesi mereka sendiri.
http://www.indosiar.com/hitamputih/forum_komentar.htm?id=28
lebih enak remang-remang di FBI ah....

Komentar

Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Halo, Komandan!

Sepertinya anda baru di sini. Ingin ber-interaksi? Klik satu tombol ini!

Kategori