Contact Us
News
Follow TELEGRAM Channel ForumBebas.com di alamat T.ME/FORUMBEBAS atau Facebook Fan Page dan Twitter Forumbebas .

Forum Bebas Indonesia

Biografi Susno Duadji - Harusnya Beliau Jadi Kapolri?

Mari kita biasakan di FBI mempunyai informasi berimbang.
Kalau banyak yg menghina "dina" Susno Duadji sampai dia harus nangis segala disini. Orang yg begitu perkasa dan "arogan" menurut beberapa pengacara, polisi dan lainnya adalah benar-benar buaya :D

Lets read it..

* Pikiran Rakyat, Edisi 10 Februari 2008 *

RABU (30/1) lalu, Kapolda Jabar Irjen Pol. Drs. Susno Duadji, S.H., M.Sc.,
mengumpulkan seluruh perwira di Satuan Lalu Lintas mulai tingkat polres
hingga polda. Para perwira Satlantas itu datang ke Mapolda Jabar sejak pagi
karena diperintahkan demikian. Pertemuan itu baru dimulai pukul 16.00 WIB.

Dalam rapat itu, kapolda hanya berbicara tidak lebih dari 10 menit. Meski
dilontarkan dengan santai, tetapi isi perintahnya "galak" dan "menyentak".
Saking "galaknya", anggota Satlantas harus ditanya dua kali tentang kesiapan
mereka menjalani perintah tersebut.

Isi perintah itu ialah tidak ada lagi pungli di Satlantas, baik di lapangan
(tilang) maupun di kantor (pelayanan SIM, STNK, BPKB, dan lainnya). "Tidak
perlu ada lagi setoran-setoran. Tidak perlu ingin kaya. Dari gaji sudah
cukup. Kalau ingin kaya jangan jadi polisi, tetapi pengusaha. Ingat, kita
ini pelayan masyarakat. Bukan sebaliknya, malah ingin dilayani," tutur pria
kelahiran Pagaralam, Sumatera Selatan itu.

kapolda.jpg

Pada akhir acara, seluruh perwira Satlantas yang hadir, mulai dari pangkat
AKP hingga Kombespol, diminta menandatangani pakta kesepakatan bersama. Isi
kesepakatan itu pada intinya ialah meningkatkan pelayanan kepada masyarakat
yang tepat waktu, tepat mutu, dan tepat biaya.

Susno memberi waktu tujuh hari bagi anggotanya untuk berbenah, menyiapkan,
dan membersihkan diri dari pungli. "Kalau minggu depan masih ada yang nakal,
saatnya main copot-copotan jabatan," kata suami dari Ny. Herawati itu.

Pernyataan Susno itu menyiratkan, selama ini ada praktik pungli di
lingkungan kepolisian. Hasil pungli, secara terorganisasi, mengalir ke
pimpinan teratas. Genderang perang melawan pungli yang ditabuh Susno tidak
lepas dari perjalanan hidupnya sejak lahir hingga menjabat Wakil Kepala
PPATK (Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan). PPATK adalah sebuah
lembaga yang bekerja sama dengan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi)
menggiring para koruptor ke jeruji besi.
Susno Duadji lahir di Pagar Alam, Sumatra Selatan 1 Juli 1954. Anak ke-2 dari depalan bersaudara ini lulus akpol tahun 1977. Ketika menjabat sebagai Kapolda Jabar suami dari Ny. Herawati ini, dikenal berdedikasi tinggi dalam memberantas pungli dan koprupsi.

Berikut riwayat karir Susno Duadji sebelum menjabat sebagai Kabareskrim Polri.

PAMA POLRES WONOGIRI (1978)PAMA POLRES WONOGIRI (1978)
KABAG SERSE POLWIL BANYUMAS (1988)
WAKA POLRES PEMALANG (1989)
WAKA POLRESTA YOGYAKARTA (1990)
KAPOLRES MALUKU UTARA (1995)
KAPOLRES MADIUN (1997)
KAPOLRESTA MALANG (1998)
WAKAPOLWILTABES SURABAYA (1999)
WAKASUBDIT GAKTIP DIT SABHARA POLRI(2001)
KABID KORDILUM BABINKUM (2001)
KABID BID RAPKUM DIV BINKUM POLRI (2002)
PATI (DALAM RANGKA TUGAS LUAR) FORMASI MABES POLRI WAKIL KEPALA PPATK) (2004)
KAPOLDA JABAR (2008)

Berikut petikan wawancara wartawan "PR" Satrya Graha dan Dedy Suhaeri dengan Susno Duadji,
pria yang telah berkeliling ke-90 negara lebih untuk belajar menguak
korupsi.


Apa yang membuat Anda begitu antusias memberantas pungli atau korupsi?

Saya anak ke-2 dari 8 bersaudara. Ayah saya, Pak Duadji, bekerja sebagai
seorang supir. Ibu saya, Siti Amah pedagang kecil-kecilan. Terbayang ¢kan
betapa sulitnya membiayai 8 anak dengan penghasilan yang pas-pasan. Oleh
karena itu, saat lulus SMA saya memilih ke Akpol karena gratis.

Nah, waktu sekolah, kira-kira SMP, saya punya banyak teman. Beberapa di
antaranya dari kalangan orang kaya, seperti anak pejabat. Sepertinya, enak
sekali mereka ya, bisa beli ini-itu dari uang rakyat. Sejak itulah, terpatri
di benak saya, ada yang tidak benar di negara ini dengan kemakmuran yang
dimiliki oleh para pejabat. Maka, saya sangat bersyukur bisa berperan
memberantas korupsi saat mengabdi di PPATK. Itulah tugas saya yang paling
berkesan selama ini karena bisa menjebloskan menteri, mantan menteri, dan
direktur BUMN, yang memakan uang rakyat. Ada kepuasan batin.

Pengalaman di PPATK itukah yang membuat Anda menabuh genderang perang
melawan pungli saat masuk ke Polda Jabar?


Seperti itulah. Akan tetapi, harusnya diubah, bukan pungli. Kalau pungli,
terkesan perbuatan itu ketercelaannya kecil. Yang benar adalah korupsi.
Pungli adalah korupsi. Mengapa korupsi yang saya usung? Karena sejak zaman
Majapahit dulu, korupsi itu salah. Apalagi, jika aparat hukum yang korup.
Bagaimana kita, sebagai aparat hukum, bisa memberantas korupsi kalau kitanya
sendiri korupsi.

Oleh karena itu, sebagai tahap awal, saya "bersihkan" dulu di dalam, baru
membersihkan yang di luar. Bagaimana saya mau menangkap bupati, direktur,
dan lain-lain kalau di dalamnya belum bersih dari korupsi. Kalau aparatnya
korupsi, tamatlah republik ini.

Tahap awalnya biasa saja. Umumkan, lalu periksa ke atasan tertingginya,
yaitu saya, selanjutnya keluarga saya. Setelah itu pejabat-pejabat di Polda.
Baru kemudian ke kapolwil, kapolres, dan seterusnya.

Kenapa harus dimulai dari saya. Karena saya pimpinan tertinggi di Polda
Jabar ini. Ingat, memberantas korupsi bukan dimulai dari polisi yang
bertugas di jalan raya. Kalau di pemerintah, bukan dari tukang ketik, atau
petugas kecamatan yang melayani pembuatan akte kelahiran. Akan tetapi,
dimulai dari pimpinan tertinggi di kantor itu.

Artinya, saya sebagai pimpinan jangan korupsi. Bentuknya macam-macam,
seperti mendapat setoran dari bawahan, setoran dari pengusaha-pengusaha,
mengambil jatah bensin bawahan, atau mengambil anggaran anggota saya. Oleh
karena itu, saya tidak akan minta duit dari dirlantas, direskrim, atau
kapolwil. Tidak juga mengambil anggaran mereka, atau uang bensin mereka.

[php]Jadi, kalau di provinsi, misalnya, ada korupsi, yang salah bukan
karyawannya, tetapi gubernurnya. Memberantasnya bagaimana? Mudah saja.
Tinggal copot saja orang tertinggi di instansi itu.[/php]

Untuk program "bersih-bersih" itu, kira-kira Anda punya target sampai kapan?

Secepatnya. Ya, dua-tiga bulan. Kalau tidak segera, bagaimana kita
menunjukkan kinerja kepada rakyat. Kita tidak perlu malu dan takut nama kita
jatuh kalau bersih-bersih dari korupsi di dalam. Kita tidak akan jatuh merek
dengan menangkap seorang kolonel polisi atau polisi berbintang yang korupsi.
Kalau perlu, tulis gede-gede itu di koran.

[php]Dan, anggota saya yang ketahuan korupsi, akan saya pecat. Jika memang saya
harus kehabisan anggota saya di Polda Jabar karena semuanya saya pecat
gara-gara korupsi, kenapa tidak. Apa yang harus ditakutkan.[/php]

Saya yakin, rakyat pasti senang kalau polisi bebas dari korupsi. Polisi itu
bukan milik saya, tetapi milik rakyat. Saya justru merasa lebih tidak
terhormat kalau memimpin kesatuan yang anggotanya banyak korupsi.

Berbicara soal penanganan kasus korupsi. Betulkah mengusut kasus korupsi
bagaikan mengurai benang kusut. Pasalnya, para penyidik tipikor Polda Jabar
mengaku kesulitan mengungkap kasus korupsi dengan alasan perlu kajian yang
mendalam atas bukti-bukti sehingga memakan waktu lama?


[php]Hahaha.... (Susno tertawa lepas). Mengusut kasus korupsi itu jauh lebih
mudah ketimbang mengusut kasus pencurian jemuran. Mengungkap kasus pencurian
jemuran perlu polisi yang pintar karena banyak kemungkinan pelakunya,
seperti orang yang iseng, orang yang lewat, dan beberapa kemungkinan
lainnya.
[/php]
Kalau kasus korupsi, tidak perlu polisi yang pintar-pintar amat. Misal, uang
anggaran sebuah dinas ada yang tidak sesuai. Tinggal dicari ke mana uangnya
lari. Orang-orang yang terlibat juga mudah ditebak. Korupsi itu paling
melibatkan bosnya, bagian keuangan, kepala projek, dan rekanan. Itu saja.
Jadi, kata siapa sulit? Sulit dari mananya. Tidak ada yang sulit dalam
memberantas korupsi. Kuncinya hanya satu, kemauan yang kuat. Harus diakui,
itu (memberantas korupsi) memang susah karena korupsi itu nikmat. Apalagi,
saat memegang sebuah jabatan.

Contohnya saja posisi kapolda. Siapa sih yang tidak mau jadi kapolda.
Ibaratnya, tinggal batuk, apa yang kita inginkan langsung datang.
Pertanyaannya, mau atau tidak terjerumus di dalamnya (korupsi). Kalau saya,
jelas tidak. Itu hanya kenikmatan duniawi sesaat saja. Untuk apa sih duit
banyak-banyak hingga tidak habis tujuh turunan. Gaji saya saja sekarang
sudah besar. Mobil dikasih. Bensin gratis. Ada uang tunjangan ini-itu. Sudah
lebih dari cukup. Anak-anak saya juga sudah kerja semua. Bahkan, gajinya
lebih besar dari saya.

Lalu, langkah apa yang akan Anda buat agar Polda Jabar giat mengungkap kasus
korupsi?


Seperti saya katakan tadi, bersih-bersih dulu di dalam. Jika sudah bersih di
dalam, baru membersihkan di luar. Dan kasus korupsi akan menjadi salah satu
target kami. Kami akan genjot pengungkapan kasus korupsi biar Jabar
bergetar.

Untuk itu, kami akan berkoordinasi dengan PPATK untuk mengusut kasus-kasus
korupsi di Jabar yang melibatkan pejabat publik. PPATK pasti mau membantu
asalkan anggota saya bersih dan bisa dipercaya. Kita juga bisa diberi
kasus-kasus. Kalau tidak bersih dan tetap "bermain" bagaimana bisa
dipercaya. Kalau orang sudah percaya sama kita, maka banyak kasus yang
masuk.

Akan tetapi, bukan karena basic saya di korupsi sehingga korupsi digenjot.
Kasus lainnya juga dikerjakan. Dan, untuk itu harus tertib administrasi,
salah satunya dengan membuat sistem pelaporan perkara berbasis IT yang
terintegrasi dari polsek hingga ke polda. Untuk apa? Agar kita tahu setiap
ada perkara yang masuk.

Jadi, alangkah bodohnya seorang kapolda jika tidak mengetahui jumlah perkara
di jajarannya. Kalau jumlahnya saja tidak tahu, bagaimana tahu isi
perkaranya. Dalam sistem pelaporan perkara tersebut, nantinya ada
klasifikasi perkara. Perkara mana yang porsinya polda, polwil, polres, dan
polsek. Untuk polda, misalnya kasus teror dan korupsi. Soal lapor boleh di
mana saja.

Kita juga harus mempertanggungjawabkan hal itu ke pelapor dengan mengirim
surat kepada pelapor bahwa kasusnya ditangani oleh penyidik ini, ini, dan
ini. Kemajuannya dilaporkan secara berkala. Ini akan menjadi standar
penilaian untuk penyidik. Dan kapolda mengetahui semua ini karena sistemnya
ada sehingga tidak pabaliut. Saya paling tidak suka yang pabaliut-pabaliut.
Mungkin, bagi sebagian orang, pabaliut itu enak karena sesuatu yang tidak
tertib administrasi itu paling enak untuk diselewengkan. Benar tidak?

Langkah Anda memberantas pungli dan korupsi di tubuh Polda Jabar kemungkinan
akan memberi efek pada pengungkapan kasus dengan alasan anggaran yang minim.
Menurut Anda?


Kalau kita pandang minim, pasti minim terus. Kapan cukupnya. Kalau anggaran
sudah habis, jangan dipaksakan memeras orang untuk menyidik. Mencari klien
yang kehilangan barang di sini, memeras di tempat lain. Siapa yang suruh?
Bilang saja sama rakyat, anggaran kita sudah habis untuk menyidik. Kita
tidak perlu sok pahlawan.

Perilaku memeras atau menerima setoran itu zaman jahiliah. Tidak perlu ada
lagi anggota setor ke kasat lantas atau kasat serse, lalu kasat serse setor
ke kapolres, dan kapolres setor ke kapolwil untuk melayani kapolda. Jangan
pernah setori saya. Lingkaran setan itu saya putus agar tidak ada lagi
sistem setoran.

[php]Bukan zamannya lagi seorang kapolsek, kapolres atau kapolwil bangga karena
mampu membangun kantornya dengan megah. Dari mana duitnya kalau bukan dari
setoran orang-orang yang takut ditangkap, seperti pengusaha judi, dan
penyelundupan. Tidak mungkin dari gaji, wong gajinya hanya Rp 5-6 juta.[/php]

Menurut saya, anggota yang melakukan itu hanya satu alasannya, ingin kaya.
Kalau ingin kaya, jangan jadi polisi, tetapi jadilah pengusaha.

Sikap Anda tersebut kemungkinan memunculkan pro dan kontra di lingkungan
kepolisian?


Lho, kenapa harus jadi pro dan kontra. Peraturannya sudah jelas mana yang
boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh. Korupsi jelas-jelas dilarang dan
ancamannya bisa dipecat. Jadi, tidak perlu diperdebatkan. Titik.

Bagi saya, siapa yang menjadi pemimpin harus mau mengorbankan kenikmatan dan
kepuasan semu. Nikmat dengan pelayanan, dengan sanjungan, serta nikmat
dengan pujian palsu. Malu dong bintang dua jalan petantang-petenteng, tetapi
anak buah yang dipimpinnya korupsi dan memberikan pelayanan tidak sesuai
dengan standar. Malu juga dong kita lewat seenaknya pakai nguing-nguing
(pengawalan), sementara rakyat macet. Itu juga korupsi.

[php]Polisi yang korup sama saja dengan melacurkan diri. Jadi, kalau saya korup
dengan menerima setoran-setoran tidak jelas, apa bedanya saya dengan
pelacur.[/php] ***
«1

Komentar

  • Info ini benar nggak ya ..??? kalo benar wah gua jadi ragu2 niiih
  • betul om DoD , menilai sesuatu hendaknya tidak berdasarkan dari satu sudut pandang ato sisi aja tapi lebih dari itu, sehingga penilaian kita pun tidak cuma mengikuti opini yg berkembang tapi merupakan suatu analisa yg mapan
    dan perlu kita perhatikan adalah kadang media/pers ikut andil dalam penggiringan opini massa
    (maaf.. bukan maksud menuduh)
    oknum insan pers kadang turut memanas-manasi dan memperbesar dan memperuncing suatu masalah untuk kepentingan omzet penjualan
    tapi kita harus tetap menghargai dan berterimakasih pada pers atas peranan mereka sebagai
    "kontrol" penyelenggaraan negara serta informasi yg mereka sajikan untuk kita
  • [align=justify] [size=medium]

    hm............hm..........hampir semua dari kita juga begitu dahulu
    ketika masih mahasiswa yang idealis, atau ketika belum menikmati
    Enaknya Uang Setan :cry:
    [/size]
    [/align]
  • Kita tidak bisa menilai hati orang karena hanya Tuhan dan yang bersangkutan yang tahu....karenanya kita salut pada apa yang beliau lakukan sebagai Kapolda Jabar....semoga ditiru dan menjadi komitmen semua Polisi di Indonesia..
    Dalam kasus yang sekarang berlangsung (cicak dan buaya - menurut Susno sendiri), kita juga tidak dapat melihat isi hati sebenarnya dari Susno ini, makanya kita hanya bisa menilai dari apa yang diperbuatnya saat ini.
    Apa yang diucapkannya dalam rekaman sadapan -sejauh ini- masih merupakan dasar penilaian kita terhadap seorang Susno, fakta tersebut mau tidak mau menjadi petunjuk sisi tak tampak dari seorang Truno 3, dan itu yang kita gunakan untuk menilai siapa dia saat ini.
    Kita juga harus berimbang menilai, dalam artian tidak dipengaruhi citra yang dibuatnya sebagai Kapolda Jabar.
    Kata-kata bijak mengatakan bahwa Hati dalam bahasa arab disebut "Qalbu" yang artinya mudah berbolak-balik...... Kita sepakat menilai Susno sebagai buaya HANYA ketika Dzahirnya fakta menunjukan beliau memang buaya. Lainnya? tidak!
  • harakiri menulis:
    betul om DoD , menilai sesuatu hendaknya tidak berdasarkan dari satu sudut pandang ato sisi aja tapi lebih dari itu, sehingga penilaian kita pun tidak cuma mengikuti opini yg berkembang tapi merupakan suatu analisa yg mapan
    dan perlu kita perhatikan adalah kadang media/pers ikut andil dalam penggiringan opini massa
    (maaf.. bukan maksud menuduh)
    oknum insan pers kadang turut memanas-manasi dan memperbesar dan memperuncing suatu masalah untuk kepentingan omzet penjualan
    tapi kita harus tetap menghargai dan berterimakasih pada pers atas peranan mereka sebagai
    "kontrol" penyelenggaraan negara serta informasi yg mereka sajikan untuk kita

    betul ndan :top:

    nah, khan ada FBI.
    disini bahkan Pers bisa dicek kebenarannya via forum diskusi.
    Lha wong wartawan salah satu Media saja paling cuman segelintir orang.
    Lha kalau kebetulan puluhan member FBI punya sumber berbeda gimana hayo? Hehehehe
  • kalo mau fair, belum ada setahun ni orang teriak-teriak soal bersih-bersih. Ngak tau bagaimana track record sebelumnya. Bisa jadi SD pengen terlihat beda di awal karier sebagai pejabat Kapolda, hal seperti itu sudah biasa terjadi. Apalagi beberapa tahun sebelumnya (2001-2008) SD ditempatkan dibagian Hukum dan terakhir di PPATK, dia sadar itu isu yg paling santer jadi wajar saja dia teriak bersih-bersih waktu jadi Kapolda.

    Makin ke atas anginnya makin kenceng, waktu dibawah boleh takut. Tapi begitu bisa terbang bisa aja takutnya ilang :D
  • yah semoga kasus ini bisa cepat terungkap kebenarannya :top:
  • Kalau masalah yang begini gw gak heran, bukan bermaksud mengindentikkan SD dgn apa yg gw lihat, banyak beberapa pejabat tinggi yang track rekornya gw kenal betul (-) dengan gagahnya di forum bicara sok bersih. Dan saat mendengar itu gw hanya bisa mengurut dada dan beristighfar.
  • Untung cuma "harusnya"...........
  • Setuju Bro Pukel..
    Kalau cuma Teori.. siapa pun bisa ngomong.. tukang becak lebih luas wawasannya..

    Masalahnya, apakah semua yg menjadi obsesinya bisa berjalan baik?
    Baru beberapa minggu yg lalu.. masih ada kasus salah tangkap !
    Sampai hari ini masih ada teman-teman kita yg berdamai dipinggir jalan..
    Masih tertulis dikoran, penjahat yg belum tentu bersalah.. di dor !

    Bahkan ditahanan Polsek sampai Polda masih ada yg tuduhannya gak jelas..
  • wah, biasalah dimana-mana siapapun yang udah ketahuan belang boroknya oleh rakyat mereka bakal berusaha menutupi dan buru-buru berbenah diri . begitu jugalah dengan polisi. Kenapa baru sekarang keluar peraturan baru pada jajaran kepolisian disaat rakyat dan wakil rakyat sedang menyoroti persoalan yang sedang diangkat? Kita mungkin sudah sngt lama kenyang dengan segala sepak terjang polisi dalam menumpas yang namanya pungli atau korupsi. sudah berkarat tahunnya begitu saking lamanya janji polisi. yang anehnya belum begitu lama bertugas kok harta begitu cepatnya beranak pinak.Punya mobil yang keluaran baru sepuluh biji, rumah yang ukuran wah ada lima belas, uang disimpan dalam bentuk deposito berjumlah triliunan. Tentu jadi pertanyaan, Kalaulah itu merupakan pasilitas negara Waduuuh maaaaak berapa uang negara yang bakal habis untuk membiayai seluruh polisi yang ada diindonesia..Dan mungkin kita semua rakyat indonesia mendingan jadi polisi semualah.lah iyalah apa ga enak yang katanya pasilitas begitu mewah.. emangnya gaji polisi dan tunjangannya bisa beranak begitu cepat.. kayak buaya yang bertelor seribu. jika menetas anak buaya langsung bisa cari makan dan cepat besar lalu kawin, kemudian dari anak buaaya yang seribu tadi bertelor masing-masingnya seribu juga wah kalikan aja sendiri dah....Sekarang pertanyaan Apa kira-kira demikian jawabannya????
  • ah, jadi bingung....

    masalahnya kita ga tau isi hati dari manusia sih....
  • Maka dari itu paling enak jadi diri sendiri, kalau memang berbuat salah dan harus bertanggung jawab atas kesalahan laukakan saja.
    Kita misal punya anak 5 orang, belum tentu semuanya mau ikut apa yg kita inginkan, pasti ada yg baik & yg berontak.
    Mau di Kepolisian, mau di Kejacksaan ato KPK sekaligus, kalau orangnya tidak neko-neko kita pasti suport,
    Maka dari itu jaga yg 3 Ta, kalau tidak kuat dengan godaan 3 ta, kita bisa Buta.
    3 Ta = Harta, Tahta, Wanita.
  • tetap pantau aja kasusnya sampe dimana..kalau beliau memang punya niat baik memberantas korupsi, saya yakin beliau akan hadapi kasus ini sampe selesai..
  • buaya.....buaya.....buaya..............
  • Jadi bingung, mana ya yang bener...
  • biografinya sich bagus, tapi kok orangnya terlihat arogan dan sombong gtu
  • Pak Susno Duadji....?
    saya salah seorang penggemar beliau..
    ketika beliau menjabat KAPOLDA JABAR, beliau terkenal sangat dekat, ramah, & menjadi sahabat para insan PERS...
    bahkan dalam ketika menjalankan tugas-nya sebagai KAPOLDA JABAR, banyak kemajuan yang saya rasakan dari tingkat pelayanan Kepolisian...
    1. Diberlakukannya pengecekan STNK kendaraan melalui layanan SMS.
    2. Berkurangnya preman2 terminal
    3. intensifnya razia kelengkapan surat2 kendaraan bermotor
    4. dibangunnya SIM Outlet di Bandung Trade Center, sehingga mempermudah perpanjangan SIM
    5. Tidak ada polisi yang menerima Suap.
    6. gak ada lagi calo2 SIM/STNK
  • Berarti sekarang SD dah jadi pelacur ya...tapi apa laku kalo tampangnya kyk gitu...jelek, keriput manyun lagi....:ngakak::ngakak::ngakak:
  • Ah, ngga usah dihubung-hubungkan. Dulu sewaktu kapolda, mungkin ngga tertarik juga dengan 'uang receh' di sana, jadi habisi aja korupsi.
    Setelah di bareskrim, ngga tahan juga sama duit gede...

    sayang banget...
  • thanks infonya bang...........................sebaik2 manusia pasti ada sisi jahatnya,dan sejaat2 manusia pasti ada sisi baiknya...??/
  • subhanallah.....

    sebenarnya ada satu kesimpulan yang saya ambil dalam posting bung DoD .

    yaitu, jangan pernah melihat seseorang dari apa yang dituduhkan kepadanya, tp cobalah merunut dari dulu, apakah seorang Susno Duaji yang terkenal saat menjadi kapolda, dimungkinkan menerima suap????

    cobalah kenal lebih dalam sosok seorang susno duaji, jangan mudah terpengaruh pemberitaan di media massa.
    bahkan, cobalah untuk mengenal beliau dari dalam keluarga. insyaALLAH keluarga adalah golongan yang akan menemani beliau dunia akhirat.

    n kalopun rejeki, kita bisa dapet putri beliau :blah:

    :peace:
  • [size=small]
    BAru tau saya Bang DOD Biografi beliau ini..

    THanks :top:

    [/size]
  • Gan semua...masih ingat ga sama mantan kapolri sebelumnya yang setelah pensiun trus jadi duta besar Indonesia untuk Malaysia....
    Dia tuh dulu kapolri pasti tau dong tentang hukum tapi kok yah ikutan korupsi juga...sekarang di penjara tuh
  • [align=justify][size=small]Saya sebenarnya agak ragu2 menilai benar atau tidaknya kesalahan yang ditimpakan kepada Pak Susno ini. Saya lihat penilaian masyarakat sangat luar biasa "jelek" terhadap beliau ini. Tetapi, masyarakat sendiri tidak melihat kebelakang, betapa beliau adalah seorang Polisi Pengabdi Masyarakat. Masyarakat sudah terlanjur terprovokasi oleh Opini yang sudah bergulir dan sudah menjadi bola es yang menggelinding, maka sangat sulit pecah. Kecuali bila sudah membentur dinding yang sangat kuat.

    Saya melihat, beliau (Pak Susno Duadji) sebagai Right Man in the Wrong Place and Wrong Time...

    Biarlah, Keadilan dan Kebenaran menunjukkan Jati Diri yang sebenarnya. Biarlah kedzoliman dan keangkaramurkaan, menemukan kehancuran. Hanya Allah SWT yang tau apa yang akan terjadi..Kita hanya bisa berdoa dan berharap semoga Badai yang mengancam kehancuran bangsa ini segera berlalu..
    [/size][/align]
  • MANA ADA MALING YANG NGAKU???...POLISI PASTI SADAR HAL ITU...NAH BIAR MENGAKU HAJAR AJ AMPE BABAK BELUR..KEH2..KEH
  • buktinya pungli tetap ada sampe sekarang...
  • maaf bukan bermaksud menjelekkan polisi atau SD saudara saya sendiri polisi dari awal masuknya saja harus nyogok..setiap mau naik jabatan mesti setoran .. bagaimana mau bisa bersih ada guru ngaji yang juga polisi dia jujur pangkat ngga naik naik bahkan ingin cepat cepat pensiun...nga punya apa apa karena gaji aja ngga mungkin jadi kaya..kalau mau jujur semua polisi dihitung dengan gajinya baik jendral bintang 4 sekalipun mungkin hidupnya ngga akan semewah sekarang.. Awal masuk saja nyogok mau bisa jujur gimana..yang perlu dirubah mulai proses perekrutan/penerimaan angota polisi sampai pengawasan bukan rahasia lagi kalo polisi sekarang bisa cepet kaya.. cuma tinggal mainnya mau bersih atau kotor kalo mau dibuktikan gampang koq kroscheck ahrtanya dengan gajinya pasti ketahuan
  • makin ruwet aja nih susno duadji!!!

Komentar anda

Lepas gambar/berkas
Komentar yg tidak sesuai judul atau numpang iklan (tersembunyi), akan dihapus atau banned permanen dan akan terhapus semua postingan anda yg ada di forum ini. Gunakan signature untuk menaruh link promosi anda.

Halo, Komandan!

Sepertinya anda baru di sini. Ingin ber-interaksi? Klik satu tombol ini!

Kategori

Penawaran Terbatas

Booking.com
Liburan di ratusan ribu destinasi & puluhan ribu akomodasi di 200+ lebih negara seluruh dunia. Tentu saja dengan harga promo khusus dan terjangkau kantong anda. Silahkan coba cari dan temukan impian liburan atau akomodasi untuk bisnis anda!