Contact Us
MERDEKA
DIRGAHAYU Republik INDONESIA - Ayo Kita Tingkatkan Persatuan & Kesatuan Bangsa. Erat Dalam Keragaman Bhinneka Tunggal Ika. Maju Bersama & Tingkatkan Etos Kerja Yang Baik Untuk Indonesia Modern Yang Tetap Berbudaya. MERDEKA!!!

Forum Bebas Indonesia

Puja Tri Sandhya

Tri Sandhya, tepatnya bukan “dikarang” tetapi “disusun”. Menurut Svami Sathya Narayana, guru kerohanian Weda di India, Trisandhya adalah persembahyangan tiga kali sehari yaitu pagi hari disaat matahari terbit disebut “Brahma Muhurta” bertujuan menguatkan “guna Sattvam” menempuh kehidupan dari pagi hingga siang hari. Siang hari sebelum jam 12 sembahyang bertujuan untuk mengendalikan “guna Rajas” agar tidak menjurus ke hal-hal negatif. Sore hari sebelum matahari tenggelam sembahyang bertujuan untuk mengendalikan “guna Tamas” yaitu sifat-sifat bodoh dan malas. Jadi Puja Trisandhya adalah persembahyangan pada saat pergantian waktu (pagi-siang-malam) yang bertujuan untuk menghilangkan aspek-aspek negatif yang ada pada manusia.

Puja Trisandhya terdiri dari enam bait. Bait pertama atau sebagai Sandya Vandanam (awal) diambil dari Gayatri atau Savitri Mantram (Rg Veda, Sama Veda dan Yayur Veda).

Gayatri Mantram terdiri dari tiga unsur mantram yaitu :

Pranawa (OM), Vyahrti (BHUR BHUVAH SVAH), dan Tripada (TAT SAVITUR VARENYAM, BHARGO DEVASYA DIMAHI, DHYO YONAH PRACODAYAT).

Pranama mantra adalah lambang kesucian dan kemahakuasaan Hyang Widhi. Vyahrti mantra untuk pencerahan lahir-bathin, dimana pengucapan “Bhur” bermakna sebagai Anna Sakti memproses sari-sari makanan bagi kekuatan tubuh. Pengucapan “Bhuvah” bermakna sebagai Prana Sakti yaitu menggunakan kekuatan tubuh bagi kesehatan jasmani dan rohani. Pengucapan “Svah” atau “Svaha” bermakna sebagai Jnana Sakti yaitu memberikan kecerahan pada pikiran dan pengetahuan menjadi cemerlang. Berjapa dengan mengucapkan “Svaha” akan bermanfaat menghilangkan “avidya” (kegelapan) menuju kepada “vidya” yaitu kesadaran pada hakekat kesucian dan kemahakuasaan Hyang Widhi.

Bait kedua diambil dari Narayana Upanisad (Sruti) bertujuan untuk memuja Narayana, manifestasi Hyang Widhi, agar manusia senantiasa dibimbing menuju pada Dharma.

Bait ketiga diambil dari Siva Stava (Smrti) yang melukiskan Tuhan dengan berbagai sebutan : Siva, Mahadeva, Isvara, Paramesvara, Brahma, Wisnu, Rudra, Purusa.

Bait keempat, kelima dan keenam diambil dari Veda Parikrama berisi pernyataan bahwa keadaan manusia di bumi disebabkan oleh kepapaan, dan kehinaan dari sudut pandang spiritual. Oleh karena itu maka manusia wajib mohon maaf dan mohon agar terhindar dari perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan trikaya parisudha.

Ucapan OM - Santi - Santi - Santi - OM bermakna sebagai berikut :

Santi yang pertama, memohon agar manusia terhindar dari sifat/sikap tidak bijaksana (Avidya). Santi yang kedua memohon agar manusia terhindar dari bencana yang berasal dari mahluk ciptaan Hyang Widhi : manusia, binatang, tetumbuhan (Adi Bhautika). Santi yang ketiga memohon agar manusia terhindar dari bencana alam (Adi Dhaivika).

oleh : Bhagawan Dwija

Komentar

  • Bro mau tanya neh, dalam Puja Trisandya pada bait pertama disebutkan Om, Bhur, Bwah, Swah .... dst, sedangkan dalam Gayatri Mantram disebutkan Om, Bhur, Bwah, Swaha dst ... Yang saya ingin tekankan adalah pengucapan kata Swah dan Swaha, mengapa bisa berbeda ? Pernah saya dengar pengucapan mantram haruslah sempurna, jika tidak maka tujuannya tidak akan tercapai. Akankah tujuan membaca Puja Trisandya tidak tercapai karena pengucapan yang tidak sempurna ? Thanks...
  • kakul menulis:
    Bro mau tanya neh, dalam Puja Trisandya pada bait pertama disebutkan Om, Bhur, Bwah, Swah .... dst, sedangkan dalam Gayatri Mantram disebutkan Om, Bhur, Bwah, Swaha dst ... Yang saya ingin tekankan adalah pengucapan kata Swah dan Swaha, mengapa bisa berbeda ? Pernah saya dengar pengucapan mantram haruslah sempurna, jika tidak maka tujuannya tidak akan tercapai. Akankah tujuan membaca Puja Trisandya tidak tercapai karena pengucapan yang tidak sempurna ? Thanks...

    keduanya benar, sebenarnya bait pertama intinya memang diambil dari Rg Veda III.62:10

    TAT SAVITUR VARENYAM
    BHARGO DEVASYA DHIIMAHI
    DHIYO YO NAH PRACODAYAAT

    sedangkan pembuka diambil dari Sukla Yajur Veda 36. 3

    Bhur Bhuvah Svah

    pengucapan Svah dengan Svaha tidak merupa arti, dan dalam pengucapan mantra Veda dihitung berdasarkan jumlah suku kata dan lumrah ditemui metrum Mantra yang jumlah suku katanya lebih atau kurang 1

    seperti halnya mantra Gayatri ini punya 23 suku kata, sedangkan standarnya mempunyai 24 Kata
    TAT SAVITUR VARENYAM
    BHARGO DEVASYA DHIIMAHI
    DHIYO YO NAH PRACODAYAAT

    lagi pula kata sanskrit punya bentuk panjang dan pendek
    Bhur = Bhurhu
    Bvah = Bvaha
    Svah = Svaha

    jadi tidak ada ketidaksempurnaan bila kita mengucapkan Svah ataupun Svaha
  • Terimakasih bro atas pencerahannya.

    Kalau dibandingkan, mana yang lebih baik dengan mengucapkan Gayatri Mantram berkali-kali atau mebaca Puja Trisandya satu putaran ?

    Saya teringat ketika masih duduk di kelas 1 dan 2 SD, saya dan teman-teman hanya mengucapkan Gayatri Mantram sebanyak 3 kali, sedangkan untuk kelas yanglebih tinggi mengucapkan mantram Puja Trisandya seutuhnya.

    Mohon pencerahan bro ...
  • kedua2 nya baik, tergantung kondisi nya
    misalnya tuk anak2, karena kemampuan mereka tentu sulit tuk hapal puja Tri Sandhya secara kesuluruhan, maka mereka cukup mengulang Mantram Gayatri

    disatu sisi Mantram Gayatri berfungsi sebagai Japa ( diucapkan berulang2 ) dipercaya tuk mendapat manfaat tertentu, seperti pikiran yang tenang, dijauhkan dari halangan dll.......
  • oke tak lengkapi deh dengan Panca Sembah

    perlu diketahui Panca Sembah dipakai Acuan dalam melakukan persembahyangan, dan sebelum melakukan Persembahyangan biasanya dilakukan Puja Tri Sandhya.

    adapun langkah2 persiapannya adalah :

    Duduk dengan tenang. Lakukan Pranayama dan setelah suasananya tenang ucapkan mantram ini:
    Om prasada sthiti sarira siwa suci

    nirmalàya namah swàha

    Artinya: Ya Tuhan, dalam wujud Hyang Siwa hambaMu telah duduk tenang, suci dan tiada noda.


    Kalau tersedia air bersihkan tangan pakai air. Kalau tidak ada ambil bunga dan gosokkan pada kedua tangan. Lalu telapak tangan kanan ditengadahkan di atas tangan kiri dan ucapkan mantram:
    Om suddha màm swàha

    Artinya: Ya Tuhan, bersihkanlah tangan hamba (bisa juga pengertiannya untuk membersihkan tangan kanan).

    Lalu, posisi tangan di balik. Kini tangan kiri ditengadahkan di atas tangan kanan dan ucapkan mantram:

    Om ati suddha màm swàha

    Artinya: Ya Tuhan, lebih dibersihkan lagi tangan hamba (bisa juga pengertiannya untuk membersihkan tangan kiri).


    Kalau tersedia air (maksudnya air dari rumah, bukan tirtha), lebih baik berkumur sambil mengucapkan mantram di dalam hati:
    Om Ang waktra parisuddmàm swàha

    atau lebih pendek:

    Om waktra suddhaya namah

    Artinya: Ya, Tuhan sucikanlah mulut hamba.


    Jika tersedia dupa, peganglah dupa yang sudah dinyalakan itu dengan sikap amusti, yakni tangan dicakupkan, kedua ibu jari menjepit pangkal dupa yang ditekan oleh telunjuk tangan kanan, dan ucapkan mantra:
    Om Am dupa dipàstraya nama swàha

    Artinya: Ya, Tuhan/Brahma tajamkanlah nyala dupa hamba sehingga sucilah sudah hamba seperti sinarMu.

    PANCA SEMBAH

    Setelah selesai memuja Trisandya dilanjutkan Panca Sembah. Kalau tidak melakukan persembahyangan Trisandya (mungkin tadi sudah di rumah) dan langsung memuja dengan Panca Sembah, maka setelah membaca mantram untuk dupa langsung saja menyucikan bunga atau kawangen yang akan dipakai muspa. Ambil bunga atau kawangen itu diangkat di hadapan dada dan ucapkan mantram ini:

    Om puspa dantà ya namah swàha

    Artinya: Ya Tuhan, semoga bunga ini cemerlang dan suci.

    Kramaning Sembah (Panca Sembah)

    Urutan sembahyang ini sama saja, baik dipimpin oleh pinandita atau pemangku, maupun bersembahyang sendirian. Cuma, jika dipimpin pinandita yang sudah melakukan dwijati, ada kemungkinan mantramnya lebih panjang. Kalau hafal bisa diikuti, tetapi kalau tidak hafal sebaiknya lakukan mantram-mantram pendek sebagai berikut:


    Dengan tangan kosong (sembah puyung). Cakupkan tangan kosong dan pusatkan pikiran dan ucapkan mantram ini:
    Om àtmà tattwàtmà sùddha màm swàha

    Artinya: Ya Tuhan, atma atau jiwa dan kebenaran, bersihkanlah hamba.


    Sembahyang dengan bunga, ditujukan kepada Hyang Widhi dalam wujudNya sebagai Hyang Surya atau Siwa Aditya. Ucapkan mantram:
    Om Adityasyà param jyoti
    rakta tejo namo’stute
    sweta pankaja madhyastha
    bhàskaràya namo’stute

    Artinya: Ya Tuhan, Sinar Hyang Surya Yang Maha Hebat. Engkau bersinar merah, hamba memuja Engkau. Hyang Surya yang berstana di tengah-tengah teratai putih. Hamba memuja Engkau yang menciptakan sinar matahari berkilauan.


    Sembahyang dengan kawangen. Bila tidak ada, yang dipakai adalah bunga. Sembahyang ini ditujukan kepada Istadewata pada hari dan tempat persembahyangan itu. Istadewata ini adalah Dewata yang diinginkan kehadiranNya pada waktu memuja. Istadewata adalah perwujudan Tuhan Yang Maha Esa dalam berbagai wujudNya. Jadi mantramnya bisa berbeda-beda tergantung di mana dan kapan bersembahyang. Mantram di bawah ini adalah mantram umum yang biasanya dipakai saat Purnama atau Tilem atau di Pura Kahyangan Jagat:
    Om nama dewa adhisthanàya
    sarwa wyapi wai siwàya
    padmàsana eka pratisthàya
    ardhanareswaryai namo namah

    Artinya: Ya Tuhan, kepada dewata yang bersemayam pada tempat yang luhur, kepada Hyang Siwa yang berada di mana-mana, kepada dewata yang bersemayam pada tempat duduk bunga teratai di suatu tempat, kepada Ardhanaresvari hamba memuja.


    Sembahyang dengan bunga atau kawangen untuk memohon waranugraha. Usai mengucapkan mantram, ada yang memper-lakukan bunga itu langsung sebagai wara-nugraha, jadi tidak "dilentikkan/dipersem-bahkan" tetapi dibungakan di kepala (wanita) atau di atas kuping kanan (laki-laki). Mantramnya adalah:
    Om anugraha manoharam
    dewa dattà nugrahaka
    arcanam sarwà pùjanam
    namah sarwà nugrahaka
    Dewa-dewi mahàsiddhi
    yajñanya nirmalàtmaka
    laksmi siddhisca dirghàyuh
    nirwighna sukha wrddisca

    Artinya: Ya Tuhan, Engkau yang menarik hati pemberi anugrah, anugrah pemberian Dewata, pujaan segala pujaan, hamba memujaMu sebagai pemberi segala anugrah. Kemahasiddhian pada Dewa dan Dewi berwujud jadnya suci. kebahagiaan, kesempurnaan, panjang umur, bebas dari rintangan, kegembiraan dan kemajuan rohani dan jasmani.


    Sembahyang dengan cakupan tangan kosong, persis seperti yang pertama. Cuma sekarang ini sebagai penutup. Usai mengucapkan mantram, tangan berangsur-angsur diturunkan sambil melemaskan badan dan pikiran. Mantramnya:
    Om Dewa suksma paramà cintyàya nama swàha. Om Sàntih, Sàntih, Sàntih, Om

    Artinya: Ya Tuhan, hamba memuja Engkau Dewata yang tidak terpikirkan, maha tinggi dan maha gaib. Ya Tuhan, anugerahkan kepada hamba kedamaian, damai, damai, Ya Tuhan.

    Untuk memuja di Pura atau tempat suci tertentu, kita bisa menggunakan mantram lain yang disesuaikan dengan tempat dan dalam keadaan bagaimana kita bersembahyang. Yang diganti adalah mantram sembahyang urutan ketiga dari Panca Sembah, yakni yang ditujukan kepada Istadewata. Berikut ini contohnya:

    Untuk memuja di Padmasana, Sanggar Tawang, dapat digunakan salah satu contoh dari dua mantram di bawah ini:

    Om, àkàsam nirmalam sunyam,
    Guru dewa bhyomàntaram,
    Ciwa nirwana wiryanam,
    rekhà Omkara wijayam,

    Artinya: Ya Tuhan, penguasa angkasa raya yang suci dan hening. Guru rohani yang suci berstana di angkasa raya. Siwa yang agung penguasa nirwana sebagai Omkara yang senantiasa jaya, hamba memujaMu.

    Om nama dewa adhisthanàya,
    sarva wyàpi vai siwàya,
    padmàsana ekapratisthàya,
    ardhanareswaryai namo’namah.

    Artinya: Ya Tuhan, kepada Dewa yang bersemayam pada tempat yang tinggi, kepada Siwa yang sesungguhnyalah berada di mana-mana, kepada Dewa yang bersemayam pada tempat duduk bunga teratai sebagai satu tempat, kepada Ardhanaresvarì, hamba memujaMu.

    Untuk di pura Kahyangan Tiga, ketika memuja di Pura Desa, digunakan mantram sebagai berikut:

    Om Isanah sarwa widyànàm
    Iswarah sarwa bhùtànàm,
    Brahmano' dhipatir brahmà
    Sivostu sadàsiwa

    Artinya: Ya Tuhan, Hyang Tunggal Yang Maha Sadar, selaku Yang Maha Kuasa menguasai semua makhluk hidup. Brahma Maha Tinggi, selaku Siwa dan Sadasiwa.

    Untuk di pura Kahyangan Tiga, ketika memuja di Pura Puseh, mantramnya begini:

    Om, Girimurti mahàwiryyam,
    Mahàdewa pratistha linggam,
    sarwadewa pranamyanam
    Sarwa jagat pratisthanam

    Artinya: Ya Tuhan, selaku Girimurti Yang Maha Agung, dengan lingga yang jadi stana Mahadewa, semua dewa-dewa tunduk padaMu.

    Untuk memuja di Pura Dalem, masih dalam Kahyangan Tiga:

    Om, catur durjà mahàsakti
    Catur asrame Bhatàri
    Siwa jagatpati dewi
    Durgà masarira dewi

    Artinya: Ya Tuhan, saktiMu berwujud Catur Dewi, yang dipuja oleh catur asrama, sakti dari Ciwa, Raja Semesta Alam, dalam wujud Dewi Durga. Ya, Catur Dewi, hamba menyembah ke bawah kakiMu, bebaskan hamba dari segala bencana.

    Untuk bersembahyang di Pura Prajapati, mantramnya:

    Om Brahmà Prajàpatih srestah
    swayambhur warado guruh
    padmayonis catur waktro
    Brahmà sakalam ucyate

    Artinya: Ya Tuhan, dalam wujudMu sebagai Brahma Prajapati, pencipta semua makhluk, maha mulia, yang menjadikan diriNya sendiri, pemberi anugerah mahaguru, lahir dari bunga teratai, memiliki empat wajah dalam satu badan, maha sempurna, penuh rahasia, Hyang Brahma Maha Agung.

    Untuk di Pura Pemerajan/Kamimitan (rong tiga), paibon, dadia atau padharman, mantramnya:

    Om Brahmà Wisnu Iswara dewam
    Tripurusa suddhàtmakam
    Tridewa trimurti lokam
    sarwa wighna winasanam

    Artinya: Ya Tuhan, dalam wujudMu sebagai Brahma, Wisnu, Iswara, Dewa Tripurusa Maha Suci, Tridewa adalah Trimurti, semogalah hamba terbebas dari segala bencana.

    Untuk di Pura Sagara atau di tepi pantai, mantramnya:

    Om Nagendra krùra mùrtinam
    Gajendra matsya waktranam
    Baruna dewa masariram
    sarwa jagat suddhàtmakam

    Artinya: Ya Tuhan, wujudMu menakutkan sebagai raja para naga, raja gagah yang ber-moncong ikan, Engkau adalah Dewa Baruna yang maha suci, meresapi dunia dengan kesucian jiwa, hamba memujaMu.

    Untuk di Pura Batur, Ulunsui, Ulundanu, mantramnya:

    Om Sridhana dewikà ramyà
    sarwa rupawati tathà
    sarwa jñàna maniscaiwa
    Sri Sridewi namo’stute

    Artinya: Ya Tuhan, Engkau hamba puja sebagai Dewi Sri yang maha cantik, dewi dari kekayaan yang memiliki segala keindahan. Ia adalah benih yang maha mengetahui. Ya Tuhan Maha Agung Dewi Sri, hamba memujaMu.

    Untuk bersembahyang pada hari Saraswati, atau tatkala memuja Hyang Saraswati. Mantramnya:

    Om Saraswati namas tubhyam
    warade kàma rùpini
    siddharàmbham karisyami
    siddhir bhawantu me sadà

    Artinya: Ya Tuhan dalam wujudMu sebagai Dewi Saraswati, pemberi berkah, terwujud dalam bentuk yang sangat didambakan. Semogalah segala kegiatan yang hamba lakukan selalu sukses atas waranugrahaMu.

    Demikianlah beberapa mantram yang dipakai untuk bersembahyang pada tempat-tempat tertentu. Sekali lagi, mantram ini menggantikan "mantram umum" pada saat menyembah kepada Istadewata, yakni sembahyang urutan ketiga pada Panca Sembah.
  • nambah wawasan....thanks ndan...
  • OM NARAYANA EVEDAM SARVAM............. Narayanalah sumber dr segalanya
  • Saya tambahkan sedikit penjabarannya....:shy:

    Mantram Puja Tri Sandhya terdiri dari 6 bait,
    bait pertama diambil dari Rig Veda : 3 : 62 : 10:

    Om Bhur Bhuvah Svaha
    Tat Savitur Varenyam,
    Bhargo Devasyadhimahi,
    Dhiyoyonah Prachodayat.
    artinya;
    "Oh Keberadaan Sejati,
    Penguasa Ketiga Alam,
    'ITU'-lah Yang Maha Bersinar patut untuk disembah,
    Kepada Yang Maha Semarak Penuh Kejayaan dan Maha Bercahaya ini hamba bermeditasi,
    Bimbinglah KESADARAN hamba."

    bait kedua diambil dari Narayana Upanisad:

    Om Nàràyana evedam sarvam
    yad bhùtam yac ca bhavyam
    niskalanko nirañjano nirvikalpo
    niràkhyàtah suddo deva eko
    Nàràyano na dvitìyo’sti kascit
    artinya;
    Ya Tuhan, Nàràyana adalah semua ini apa yang telah ada dan apa yang akan
    ada, bebas dari noda, bebas dari kotoran, bebas dari perubahan tak dapat
    digambarkan, sucilah dewa Nàràyana, Ia hanya satu tidak ada yang kedua.

    Bait ketiga, diambil dari Siva Stava:

    Om tvam sivah tvam mahàdevah
    ìsvarah paramesvarah
    brahmà visnusca rudrasca
    purusah parikìrtitah
    artinya;
    Ya Tuhan, Engkau dipanggil Siwa, Mahàdewa, Iswara, Parameswara, Brahmà,
    Wisnu, Rudra, dan Purusa.

    Bait keempat, kelima dan terakhir , diambil dari Veda Parikrama:

    Om pàpo’ham pàpakarmàham
    pàpàtmà pàpasambhavah
    tràhi màm pundarìkàksa
    sabàhyàbhyàntarah sucih
    arti:
    Ya Tuhan, hamba ini papa, perbuatan hamba papa, diri hamba ini papa,
    kelahiran hamba papa, lindungilah hamba Hyang Widhi, sucikanlah jiwa dan
    raga hamba.

    Om ksama svamàm mahàdeva
    sarvapràni hitankara
    màm moca sarva pàpebyah
    pàlayasva sadà siva
    arti:
    Ya Tuhan, ampunilah hamba Hyang Widhi, yang memberikan keselamatan
    kepada semua makhluk, bebaskanlah hamba dari segala dosa, lindungilah
    hamba oh Hyang Widhi.

    Om ksàntavyah kàyiko dosah
    ksàntavyo vàciko mama
    ksàntavyo mànaso dosah
    tat pramàdàt ksamasva màm
    Om sàntih, sàntih, sàntih, Om
    arti:
    Ya Tuhan, ampunilah dosa anggota badan hamba, ampunilah dosa hamba,
    ampunilah dosa pikiran hamba, ampunilah hamba dari kelahiran hamba.
    Ya Tuhan, semoga damai, damai, damai selamanya.
    __________________________________________________

    Semoga mampu menjelaskan......:)
  • Ini mantra yang sangat dalam banget..
    mencakup semua aspek.. and I believe it
Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Iklan & Promosi Anda


Order ads here. Click me to get price quotation! Monthly & Unlimited click!

Halo, Komandan!

Sepertinya anda baru di sini. Ingin ber-interaksi? Klik satu tombol ini!

Kategori