Contact Us
News
Follow TELEGRAM Channel ForumBebas.com di alamat T.ME/FORUMBEBAS atau Facebook Fan Page dan Twitter Forumbebas .

Forum Bebas Indonesia

SUDAH MENGINDONESIA 100 % - KAH KITA?

[align=center][size=xx-large]SUDAH MENGINDONESIA 100 % - KAH KITA?[/size][/align]

[size=medium]Mengutip pendapat Anna R. Nawaning (Harian Kompas 16 Agustus 2007 hal. 49) “Bagiku nasionalisme ialah mencintai makanan khas Indonesia yang jumlahnya ribuan banyaknya. Bayangkan bangsa asing saja bela-belain ngejajah nusantara dikarenakan rempah-rempah, eh kenapa kita justru enggak suka makanan yang kaya dengan bumbu khas Indonesia?”

Sejujurnya saya sangat kagum dengan pendapat tersebut. Memang terdengar sederhana. Tapi secara tidak langsung telah membuat saya malu. Mengapa? Dunia kuliner selama ini berkiblat pada Perancis sejujurnya, dulu saya pernah merasa bangga kalu sudah makan makanan Perancis yang bagi saya namanya terdengar aneh, akan tetapi sekarang, saya malah tertawakan diri saya sendiri. Produk luar kog dibanggain, Indonesia donk! Dan yang menjadi pertanyaan saya adalah, mengapa harus Perancis? Mengapa tidak Indonesia saja? Itulah kehebatan mereka yang saya akui, saya memang tidak paham betul dengan hal ini, akan tetapi beberapa hal yang saya ketahui bahwa masakan Perancis itu sudah terklasifikasikan dengan baik, bagaimana dengan nasib masakan kita? Sudah adakah yang meneliti?

Dari ribuan jenis masakan di seluruh Indonesia dan berbagai macam rempah sebagai bahan dasarnya, bukankah itu berarti masakan Indonesia itu bercitarasa tinggi dan lebih kaya? Menurut saya di kampus ini seharusnya lebih mengembangkan masakan Indonesia, jangan hanya berkiblat pada dunia barat yang selama ini kita pelajari. Jadikan mahasiswa Trisakti menjadi mahasiswa yang ahli masakan Indonesia. Ahli masakan Padang, Jawa, Sunda, Sulawesi, Sumatra,dll. Dan kita bisa menjadi raja di rumah kita sendiri.

Sejujurnya selama ini cara berpikir kita di Institusi ini belum mengIndonesia, mengapa? Dari hal kecil seperti seragam, sebenarnya menggunakan seragam rapi, lengkap dengan jas dan dasinya yang terikat kencang bukanlah identitas asli bangsa kita. Mengapa kita tidak menggunakan seragam batik saja?(maaf, saya lebih mengenal batik dilatarbelakangi saya keturunan Jawa Tengah) dan mungkin ada pakaian – pakaian khas daerah lainya yang dapat dianggap pantas untk dijadikan seragam. Dasi, jas dan embel-embelnya itu disebut sebagai pakaian Internasional. Bagi saya itu adalah pakaian khas Bangsa Barat dan bukan berupa pakaian Internasional, mereka pantas menggunakan pakaian tesebut karena iklim disana yang bersuhu lebih rendah. Sedangkan kita tingal di Iklim Tropis yang sudah kita rasakan sendiri bagaimana panasnya menggunakan pakaian jenis tersebut disini. Jangan kita contoh para pejabat bangsa ini yang dengan bangganya menggunakan jas,dan dasi teruikat kencang sebagai pakaian kebesaran mereka, bagi saya hal itu konyol.

Hal yang semakin membuat tidak efisien adalah kita menggunakan Penyejuk ruangan (AC) untuk menyejukkan ruangan, tapi disisi lain leher kita tertutup oleh kencangnya ikatan dasi, bukannya malah membuat panas. Setidaknya dengan mengurangi penggunaan AC dengan cara meninggikan suhunya dan didukung dengan pakaian yang tepat kita bisa berhemat listrik? Dan Dengan pakaian tradisional sebagai seragam, hal itu sudah mencerminkan budaya Indonesia yang sesungguhnya, dan bukannya lagi Indonesia yang Kebarat-baratan. Bukankah hal ini menjadi suatu terobosan yang bagus kalau ternyata Kampus Pesona tercinta ini menjadi cermin Bangsa Indonesia yang sesungguhnya bukan dari hal yang muluk-muluk akan tetapi dimulai dari hal yang sederhana[/size]

Komentar

  • [size=medium]hal itu sudah mencerminkan budaya Indonesia yang sesungguhnya, dan bukannya lagi Indonesia yang Kebarat-baratan. Bukankah hal ini menjadi suatu terobosan yang bagus kalau ternyata Kampus Pesona tercinta ini menjadi cermin Bangsa Indonesia yang sesungguhnya bukan dari hal yang muluk-muluk akan tetapi dimulai dari hal yang sederhana.

    Banyak pergeseran nilai budaya yang secara kita tidak sadar kita sendiri yang melakukannya, karena hal itu didukung bebagai macam media yang secara tidak sadar kita untuk diarahkan kesana. Ada yang menyebut genersi sekarang adalah GENERASI MTV (MUSIC TELEVISION) Sebagai contoh kecil yang paling sering kita temui, yaitu DUGEM (Dunia Gemerlap) Produk mana neh? Produk mana lagi kalo bukan punya Bangsa Barat. Ikut dugem itu tidak salah dan secara jujur saya akui itu asyik, akan tetapi lebih asyik lagi kalo saya bisa merasakan kesejukan alam Indonesia sebenar-benarnya ketika saya berada di alam pedesaan dimana ketenangan, keramahtamahan penduduk sekitar, adanya suara suling bambu, suara indah dari sinden dan gamelannya, kicau burung yang bersahutan, pemandangan indah berupa pegunungan dan sawahnya, atau pantai dengan pasir yang putih, dan hal itu yang bagi saya adalah surga dunia sesungguhnya yang tidak bisa dikalahkan oleh suara dentuman bass, goyangan seksi penari-penari, decitan piringan hitam dengan Disc Jockeynya (DJ). Dan yang lebih hebatnya lagi, hal itu banyak terdapat di Indonesia. Dan mari kita tonjolakan hal tersebut, kita banggakan seksinya para penari jaipong, serimpi, dll. Kurang apalagi sih Indonesia itu?

    Tulisan ini dibuat bukan untuk menciptakan jiwa-jiwa yang anti dunia barat dan mendiskreditkan mereka. Akan tetapi saya ingin menumbuhkan rasa Nasionalisme yang sudah mulai pudar dikalangan generasi muda saat ini. Kita banggakan Produk-produk asli dalam negeri dalam hal ini termasuk budaya dan turunannya. Budaya barat kita jadikan sebagai referensi yang dapat mendukung pengetahuan kita, dan bukan sebagai tolak ukur kita dalam mencapai suatu kebanggan atau prestasi. HIDUP GENERASI MUDA INDONESIA. HIDUP INSAN PARIWISATA INDONESIA. Marilah kita bersama – sama membangun Bangsa ini menjadi lebih baik dengan hal-hal nyata yang kita perbuat. MERDEKA !

    Ditulis oleh :
    Gregorius Dimas H.P
    D4 Perhotelan kelas A
    NIM 053099
    20 AGUSTUS 2007
    [/size]


    [align=center][size=medium]tulisan ini dibuat pada saat ada pertandingan pembuatan artikel terbaik di Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti, akan tetapi sampai sekarang artikel ini belum pernah diajukan dan dipublikasikan, pada akhirnya tulisan ini saya persembahkan untuk anggota Forum Bebas Indonesia sekalian..

    -salam-
    :)
    [/size][/align]
Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Halo, Komandan!

Sepertinya anda baru di sini. Ingin ber-interaksi? Klik satu tombol ini!

Kategori