Contact Us

FIRQAH-FIRQAH DALAM ISLAM

[size=medium]SEJARAH PERPECAHAN UMAT ISLAM

Saat Rasulullah wafat, umat Islam hidup dalam ikatan persaudaraan dan persatuan yang kuat, penuh kesucian dan kemulian.

Namun sumber fitnah pertama setelah wafatnya Rasulullah adalah penentuan pemimpin sebagai penerus kepemimpinan Rasulullah. Perselisihan pertama yang terjadi antara kaum Muhajirin dengan Anshar, tapi karena mantafnya pemahaman Islam yang telah melekat dalam hati muslim pada saat itu, serta jauh dari ambisi pribadi para sahabat, maka mereka dapat menghilangkan perselisihan tersebut.

Disamping itu antara Muhajirin dan Anshar saling memuliakan dan menghargai satu dengan yang lainnya. Saad bin Ubadah pemimpin kaum Anshar mengatakan “Kamilah (anshar) sebagai menteri, dan kalian (Muhajirin) sebagai pemimpin”.

Dengan perkataan Saad, padamlah api perselisihan yang nyaris menyala. Perselisihan tentang masalah besar itu dapat dengan mudahnya diatasi dengan adanya kerelaan kaum Anshar untuk mengakui kepemimpinan Muhajirin.

Di dalam Muhajirin sendiri sebenarnya terdapat perbedaan dalam penentuan bai’at kepemimpinan tersebut. Umar bin Khaththab segera menuju Abu Ubaidah sambil mengatakan “Bukalah tanganmu, aku akan membai’atmu, Engakaulah orang yang paling dipercaya diantara umat Muhammad, seperti ucapan Rasulullah di hadapan orang banyak”.

Namun Abu Ubaidah menolak dengan tegas dan mengatakan dengan penuh kesungguhan, keimanan dan ketulusan , “Engkau akan membai’at aku, sedang di antara kita ada seorang Ash Shiddiq (Abu Bakar), orang yang berdua bersama Rasul di dalam gua ?”.

Lalu Umar merasakan kebenaran dari ucapan Abu Ubaidah, maka segera ia menghampiri Abu Bakar dan berkata, “BUkalah tanganmu, aku akan membai’atmu, engakau jauh lebih utama dari diriku”.

Abu Bakar pun tidak segera memenuhi permintaan Umar dan menjawab berulang-ulang,”Engakau lebih kuat dari aku”.

Umar pun menukas, “Seluruh kekuatan yang ada padaku adalah bagi keutamaan yang ada pada dirimu”. Akhirnya terjadilah bai’at Umar kepada Abu Bakar Ash Shiddiq sebagai Khalifah pertama kemudian diikuti oleh Muhajirin dan Anshar.

Diantara para sahabat hanya Ali yang terlambat membai’at karena pada waktu itu masih sibuk mengurus Fatimah, Istrinya yang dirundung kesedihan karena ditinggal ayahnya. Ali membai’at Abu Bakar dengan keikhlasan dan kepercayaan.

Sebelum Abu Bakar wafat, kaum muslimin telah mengambil kata sepakat untuk memilih Umar bin Khaththab sebagai pengganti Abu Bakar. Pada saat bai’at Umar sebagai khalifah kedua tidak ada seorang pun sahabat yang datang terlambat, bahkan Ali termasuk orang pertama yang membai’at Umar.

Begitulah awal-awal kepergian Rasulullah berbagai masalah yang timbul dapat diselesaikan dengan baik dan kehidupan umat Islam berjalan dengan penuh ketenangan dan ketentraman.

Pada masa kepemimpinan Utsman ibnu Affan, barulah fitnah dan perpecahan mulai merebak, bahkan mengakibatkan terbunuhnya khalifah ketiga itu.

Sepeninggalnya Utsman ibnu Affan, sebagian kaum muslimin membai’at Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah keempat. Tewasnya Utsman dan dipilihnya khalifah baru bukan akhir dari masalah. Sisa-sisa kefanatikan terhadap kabilah, serta ambisi untuk menduduki kepemimpinan mulai naik ke permukaan.

Sejumlah golongan atau kelompok lahir, masing-masing kelompok menunjuk pemimpinnya. Salah satu kelompok itu adalah kelompok yang dipimpin oleh Muawiyah bin Abu Sufyan yang menempatkan diri sebagai oposan Ali.

Pendukung utama Khalifah Ali pun menggalang diri, dari sinilah berawal kelahiran dua Syi’ah (pengikut) dalam tubuh umat Islam, pengikut Muawiyah dan pengikut atau pendukung Ali dan anak cucunya, yang kemudian lebih dikenal dengan kelompok Syi’ah.

Syi’ah pada awalnya adalah satu aliran politik, demikian juga hal dengan Bani Umayyah yang dipimpin oleh Muawiyah. Perbedaan politik antara Ali dengan Muawiyah berlangsung terus dan diperuncing oleh pengikut masing-masing, hingga suatu ketika diadakan tahkim (perundingan).

Umat Islam yang sudah terpecah menjadi dua itu harus terpecah lagi menjadi tiga dikarenakan ketidak setujuan diadakan perundingan tersebut. Kelompok ketiga ini dikenal dengan sebutan kelompok Khawarij.

Berdasarkan sejarah di atas, latar belakang lahirnya firqah-firqah dalam tubuh Islam, pada awalnya adalah perbedaan kepentingan dan paham politik bukan perbedaan paham dalam masalah diniyah, dengan kata lain, perbedaan itu bukan berpangkal dari perbedaan masalah aqidah, tetapi perbedaan pandangan dalam menentukan kepemimpinan atau dalam proses pemilihan khalifah.

Selanjutnya setiap firqah terpecah menjadi beberapa firqah baru. Seperti firqah Syi’ah terpecah menjadi beberapa firqah, ada Zaidiyyah, Ismailiyyah, Itsna Asyariyyah, Al Kisaniyyah, Al Mukhtariyah, Karbiyyah, Hasyimiyyah, Al Mashuriyyah, Al Khitabiyyah dan banyak lagi.

Sebagian dari firqah itu bersikap berlebih-lebihan dan telah menyimpang jauh dari ajaran tauhid yang murni, mereka menuhankan Ali bin Abi Thalib, disamping masih ada pula perpecahan yang tetap memegang teguh keyakinan atau aqidah yang lurus dan pemikiran yang jernih.

Begitu juga Syi’ah Khawarij terpecah menjadi beberapa firqah, diantaranya, Az Zariqah, Ash Shafriyyah, Al Ibadhiyyah, Al Ajaridah dan Ast Tsa’aliban. Firqah–friqah itu masih terbagi lagi dalam beberapa firqah.

Firqah-firqah tersebut masih diwarnai perbedaan pandangan politik yang bertittik tolak pada perbedaan pendapat tentang masalah hukum.

Seiring dengan berjalannya waktu bertambah pula firqah-firqah baru dalam Islam seperti Mutazillah, Asy’ariyyah dan sebagainya, yang satu dengan yang lainnya saling bermusuhan dan saling membenci.

Di antara kelompok-kelompok itu agaknya Ahlus Sunnah adalah yang paling mendekati pemahaman aqidah Islam yang benar, tidak dilandasi sikap fanatik ataupun taqlid buta.

next.. insya Allah Bagaimana pemahaman aqidahnya
[/size]

:)
«13

Komentar

  • Suip....

    Bagus nih...
    Lanjooot dong ceritanya...
  • mastermime menulis:
    permisi....

    Nice ..Artikel..lanjutken..Standby monitor
    atas permisi ....kulo....

    Monnggooo...:top::top:
  • kata kuncinya: jangan suka berantem dan saling tuduh biar gak kena WARNING!!! :)
  • yg satu taklid buta... yg lain diam saja ketika pemimpinnya korup...

    lebih baik bikin aliran sendiri aja :D
  • sembunyi di tempat yang terang, dan menyepi di keramaian.
    meneladani sifat berdiri sendiri...

    sendiri namun tetap berjamaah..:D

    hidup mbah arlnov....:blah:
  • hmm.. cikal bakal dari 72 golongan neh :)
  • :thanks:
    [size=small]hmmm ... hidangan yang lezat [/size]:)
  • big2besar menulis:


    next.. insya Allah Bagaimana pemahaman aqidahnya

    :)

    di tunggu
  • Kojek menulis:
    Suip....

    Bagus nih...
    Lanjooot dong ceritanya...

    Bentar bos....lagi nyusun data-datanya dulu.......:)
  • memang benar......

    negara-negara yang mayoritas Islam juga sekarang terpecah belah dan terpisah karena urusan politik ... bukan din/aqidah....

    begitupula kekhalifahan terakhir jatuh karena urusan politik dan kepemimpinan yang tidak benar...
  • [size=medium]KHAWARIJ

    Pasca pembunuhan Utsman, suasana memang begitu kacau umat Islam terpecah menjadi beberapa kelompok. Tidak semua umat Islam membai’at Ali. Di Syam, Mu’awiyah yang masih kerabat Utsman menuntut balas kepada Ali atas kematian Utsman, Ia menuduh Ali dibelakang kaum pemberontak.

    Perlawanan Mu’awiyah bahkan dinyatakan secara terbuka dengan mengangkat dirinya sebagai khalifah tandingan di Syam, dan mengerahkan tentaranya untuk memerangi Ali. Sedangkan di Mekah, Aisyah menggalang kekuatannya bersama Thalhah dan Zubeir untuk melawan Ali, namun Ali tetap dianggap sah menduduki jabatan khalifah, karena di dukung sebagian besar rakyat.

    Kebijakan pertama Ali saat diangkat menjadi khalifah adalah memberhentikan gubernur-gubernur yang diangkat Utsman dan menarik kembali tanah negara yang telah dibagi-bagikan Ustman kepada kerabatnya. Ali mengangkat Usman ibn Junaif menjadi Gubernut Basrah menggantikan Abdullah ibn Amir, Umarah ibn Syihab gubernur Kufah menggantikan Sa’d ibn al Ash.

    Sedangkan kebijakan Ali mendapatkan tantangan keras dari mereka yang digeser kedudukan oleh Ali. Di sisi lain penduduk Madinah sendiri tidak bulat mendukung Ali. Posisi Ali benar-benar sulit, Ia terjepit antara keinginan untuk memperbaiki situasi Negara yang sudah chaos dengan ambisi lawan-lawan politiknya yang selalu menjegalnya.

    Kondisi Madinah yang tidak memungkinkan menjalankan pemerintahan, Ali memindahkan ibukota Negara di Kufah, disini Ali mendapat dukungan penuh dari rakyat.

    Di Syam Mu’awiyah mempersiapkan pasukannya untuk menghadapi Ali, mendengar khabar tersebut Ali segera memimpin pasukan memerangi Mu’awiyah, namun sebelum rencana itu terlaksana, ternyata trio Aisyah, Thalhah dan Zubeir telah bersiap memberontak kepadanya.

    Dari Mekah mereka menuju Basrah, Ali pun membelokan pasukannya ke Basrah untuk memadamkan pemberontakan, namun terlebih dahulu Ali menawarkan perdamaian dan mengajak mereka berunding tapi tawaran Ali ditampik, maka tak dapat dihindari terjadi perang yang dinamakan perang Barunta, pasukan Ali menang Thalhah dan Zubeir tewas, Aisyah dikembalikan ke Madinah.

    Setelah itu Ali mengalihkan perhatiannya ke Mu’awiyah, Ali mengirimkan surat ke Mu’awiyah dan menawarkan perundingan, akan tetapi Mu’awiyah tetap pada pendiriannya dan terkesan membuka perang saudara, maka terjadilah pertempuran di Shiffin pada bulan Safar tahun 37 H. Banyak tentara di kedua belah pihak yang gugur, ketika Ali hampir memperoleh kemenangan, Amr ibn al Ash yang berada di barisan Mu’awiyah mengangkat mushaf menandakan damai.

    Maka perangpun dihentikan dan diadakan tahkim (perundingan) antara kedua belah pihak. Dalam tahkim ini pihak Ali diwakilkan oleh Abu Musa al Asy’an dipecundangi oleh siasat Amr yang mewakili Mu’awiyah. Tahkim ini menghasilkan keputusan yang timpang Ali diturunkan dari jabatan dan Mu’awiyah naik memperkuat posisinya menjadi khalifah.

    Kejadian ini menimbulkan krisis baru dan pembangkangan yang dilakukan oleh sekelompok muslim yang kebanyakan dari Bani Tamim. Mereka menyatakan ketidakpuasan terhadap proses dan hasil perundingan tersebut dengan menyatakan “Laa hukma illallah”. Ali pun memberi komentar dengan ucapan yang mansyhur,”Kata-kata haq yang dimaksudkan bathil, sungguh mereka tidak ingin adanya pemimpin dan harus ada pemimpin yang baik ataupun jahat”.

    Sekelompok orang yang membangkang tadi lalu berkumpul menuju Haruraa, suatu tempat yang tidak jauh dari Kufah, sehingga Ali menyusul mereka bermaksud meluruskan dan kembali kepadanya dalam satu barisan.

    Di hadapan mereka, Ali menyatakan,”Demi Allah, tahukan kalian, adakah seorang yang lebih tidak menyukai kepemimpinan daripada aku?”.
    “sungguh tidak ada seorang pun” jawab mereka
    “Bukankah kalian telah mengerti” lanjut Ali kemudian,”kalian lah yang memaksaku menjadi khalifah, sehingga aku menerimanya ?”.
    “Ya benar”.
    “Jadi atas dasar apa kalian mengingkari dan mencampakan aku?”
    “sesungguhnya kami telah melakukan perbuatan dosa, maka kami pun kini bertaubat kepada Allah”. Jawab mereka setelah menyadari kesalahan mereka.

    Namun kesadaran itu tidak lama mengendap di hati mereka, sehingga mereka kembali kepemikiran semula, karena mengira bahwa Ali telah melepas tampuk pimpinan.

    Kemudian Ali mengutus Abdullah Ibnu Abbas untuk menyadarkan mereka kembali, agar tidak terjadi fitnah yang lebih besar dalam tubuh umat Islam. Namun mereka tetap pada pendiriannya dan keluar dari kelompok Ali. Akhirnya mereka sepakat membai’at Abdullah bin Wahb Ar Rasibi sebagai pemimpin mereka.

    Abdullah kemudian dikenal dengan Haruriyyah, yang berasal dari Harura, nama desa saat pertama mereka dalam pelarian. Mereka juga dikenal dengan istilah Muhakamah, karena mereka mengatakan “Laa hukma illallah”.

    Banyak orang dari kalangan Ali yang keluar dan bergabung dengan jamaah tadi, mereka menamakan dirinya Asysyuraat, artinya yang mempunyai sifat jelek dan bermakna menjelekan diri mereka sendiri dengan mengharapkan keridhaan Allah swt.

    Tidak begitu lama keluar dari kelompok Ali, mereka menunjukan cacat dalam ucapan maupun amaliyahnya. Pandangan dan pemikiran mereka mulai menyimpang dari kebenaran. Mereka mengecam Ali, menjelek-jelekannya serta mengajukan protes terhadap kepemimpinan Ali. Mereka juga mengecam khalifah terdahulu, Utsman bin Affan serta mencela setiap orang yang tidak mau memusuhi Ali.

    Dalam menghadapi mereka, Ali bersikap defensive tapi setelah mereka mulai menggunakan kekerasan dengan terbunuhnya Abdullah bin Khabab. Pertarungan antara pihak Ali dan kelompok khawarij membawa korban pada pihak khawarij termasuk pemimpin mereka Ibnu Wahb, peristiwa ini dikenal dengan peristiwa Nahrawan.

    Sebenarnya Ali memiliki kesempatan untuk menghabisi Khawarij dengan tuntas, namun Khawarij mengirimkan Abdurrahman bin Maljan Al Muradi untuk membunuh Ali, usaha ini berhasil, Ali terbunuh di Masjid.

    Setelah Ali wafat, kegiatan Khawarij mulai merajalela, mereka selalu melibatkan diri dalam berbagai fitnah, terutama pada masa Khalifah Mu’awiyah. Sepeninggal Mu’awiyah kegiatan mereka semakin menonjol pada akhir masa kekhalifahan Yazid bin Mu’awiyah.

    Kegiatan kaum Khawarij masih terbatas hanya di bagian timur wilayah Islam dalam kurun waktu yang cukup lama. Mungkin kelompok ini satu-satunya kekuatan yang dianggap berbahaya bagi wilayah sekitar Basrah. Kegiatan Khawarij baru keluar dari sarangnya hingga ke Afrika pada masa pemerintahan Abbasiyyah.

    Dalam mengajak umat mengikuti garis pemikiran mereka, kaum Khawarij sering menggunakan kekerasan dan pertumpahan darah.

    Khawarij terbagi menjadi delapan besar firqah, dan dari delapan firqah besar tersebut masih terbagi lagi dalam firqah-firqah kecil yang jumlahnya sangat banyak. Perpecahan inilah yang membuat Khawarij menjadi lemah dan mudah sekali dipatahkan dalam berbagai pertempuran menghadapi kekuatan militer Bani Umayyah.

    Khawarij menganggap perlu pembentukan republic demokrasi Arab, mereka menganggap pemerintahan Bani Umayyah sama seperti pemerintahan kaum aristocrat kafir.

    Sekalipun Khawarij telah beberapa kali memerangi Ali dan melepaskan diri dari kelompok Ali, dari mulut mereka masih terdengar kata-kata haq. Iman Al Mushannif misalnya, pada akhir hayatnya mengatakan,”Janganlah kalian memerangi Khawarij sesudah aku mati. Tidaklah sama orang yang mencari kebenaran kemudian dia salah, dengan mencari kebathilan lalu ia dapatkan. Amirul mukminin mengatakan, bahwa Khawarij lebih mulia daripada Bani Umayyah dalam tujuannya, karena Bani Umayyah telah merampas khalifah tanpa hak, kemudian mereka menjadikannya hak warisan. Hal ini merupakan prinsip yang bertentang dengan Islam secara nash dan jiwanya. Adapun Khawarij adalah sekelompok manusia yang membela kebenaran aqidah agama, mengimaninya dengan sungguh-sungguh, sekalipun salah dalam menempuh jalan yang dirintisnya”.

    Khalifah yang adil Umar bin Abdul Azis, menguatkan pendapat khalifah keempat yakni Ali, dalam menilai Khawarij dan berbaik sangka kepada mereka, “Aku telah memahami bahwa kalian tidak menyimpang dari jalan hanya untuk kedunian, namun yang kalian cari adalah kebahagian di akhirat, hanya saja kalian menempuh jalan yang salah”.

    Sebetulnya, yang merusak citra Khawarij adalah sikap mereka yang begitu mudah menumpahkan darah, terlebih lagi darah umat Islam yang menentang atau berbeda dengan pemikiran mereka. Dalam pandangan mereka darah orang Islam yang menyalahi pemikiran mereka lebih murah dibanding darah non muslim.

    Walaupun Khawarij berkelompok-kelompok dan bercabang-cabang, mereka tetap berpandangan sama dalam dua prinsip :

    Pertama :
    Persamaan pandangan mengenai kepemimpinan. Mereka sepakat bahwa khalifah hendaknya diserahkan mutlak kepada rakyat untuk memilihnya, dan tidak ada keharusan dari kabilah atau keturunan tertentu, seperti Quraisy atau keturunan nabi.

    Kedua :
    Persamaan pandangan yang berkenaan dengan aqidah. Mereka berpendapat bahwa mengamalkan perintah-perintah agama adalah sebagian dari iman, bukan iman secara keseluruhan.

    Siapa saja yang beriman kepada Allah, kepada rasul-Nya, medirikan sholat, berpuasa dan mengamalkan segala rukun Islam dengan sempurna lalu ia melakukan dosa besar, maka orang tersebut menurut anggapan Khawarij telah kafir.

    Next....insya Allah kelompok-kelompk dalam firqah Khawarij[/size]

    :)
  • arlnov menulis:
    yg satu taklid buta... yg lain diam saja ketika pemimpinnya korup...

    lebih baik bikin aliran sendiri aja :D

    aliran arlnovisme
  • Lanjooottt...

    very nice article...
    :top:
  • [size=medium]KELOMPOK-KELOMPOK DALAM TUBUH KHAWARIJ DAN AQIDAHNYA.

    Pada awalnya pimpinan Khawarij adalah Abdullah bin Wahb Ar Rasibi yang berasal dari kalangan awam dan terkenal dengan keberaniannya dan keteguhan hatinya. Sedangkan orang yang paling teguh pendiriannya dan aqidahnya adalah Urwah bin Udzainah, seorang yang paling sering memimpin peperangan.

    Ziyadh bin Abih pernah mendatangi dan menginterogasi Urwah bin Udzainah untuk diketahui pandangan dan keyakinannya. Ketika ditanya pendapatnya tentang Abu Bakar dan Umar, Urwah menjawab,"keduanya adalah orang yang baik sekali".

    Ketika ditanya pendapatnya tentang Utsman, ia menjawab, "Pada mulanya aku menyetujui kepemimpinannya sampai kurang lebih selama enam tahun, kemudian aku mengingkarinya setelah itu karena permasalahan yang ia mengada-adakan, dan aku menyatakan bahwa ia telah kafir".

    Ketika ditanya tentang Khalifah Ali bin Abi Thalib, ia mengatakan,"Aku mengakui kepemimpinannya hingga terjadi peristiwa dua orang penengah. Setelah itu aku mengingkarinya dan menyatakan bahwa ia adalah orang kafir".

    Setelah itu Ziyad menanyakan pandangannya tentang dirinya Urwah menjawab, "Pada mulanya engkau adalah peragu dan pada akhirnya engkau menjadi angkuh dan diantara keduanya adalah seorang yang bermaksiat kepada Rabbmu".

    Mendengar jawaban Urwah bin Udzainah yang begitu tegas dan menyaksikan pendiriannya yang begitu teguh, Ziyad lalu memerintahkan pengikut untuk membunuh Urwah. Cara ini ditempuh karena dianggap berbahaya bagi kemampanan kepemimpinan Ziyad, hal ini dibuktikan dengan keberanian Urwah dalam memberikan penilaian negatif di hadapan pemimpinnya.

    Setelah kejadian itu, Khawarij terpecah-pecah menjadi kelompok-kelompok yang banyak sekali jumlahnya. Kelompok-kelompok serta cabang-cabang yang ada dalam tubuh Khawarij sebagian telah sirna diterpa masa dan hilang dengan banyaknya peristiwa yang menimpa silih berganti, kecuali kelompok Ibadhiyah.

    Walau begitu, saya akan tetap membahas agar kita dapat mengenal lebih baik kelompok Khawarij seperti, Azariqah dan Shufriyah.

    AL AZARIQAH

    Kelompok ini dipimpin oleh Abu Rasyid Nafi bin Azraq. Ia bersama tiga puluh ribu pasukan mampu menaklukan Ahwaz, Persia dan Karman. Ketiga kota ini dikuasai selama lebih dari sembilan belas tahun dan dijadikan sebagai pusat pemerintahan, hingga dikalahkan oleh Muhallab bin Abi Shufrah. Panglima perang Khawarij yang paling mahir dan hebat adalah Qathari bin Fuja'ah Al Manzini.

    Azariqah adalah salah satu kelompok Khawarij yang paling banyak menyimpang, baik garis pemikiran politiknya maupun pemahaman mengenai ajaran dinul Islam.

    Salah satu keyakinannya, mereka menganggap bahwa setiap muslim yang memiliki pemahaman berbeda dengan keyakinan Azariqah dianggap musyrik.

    Setiap orang yang tidak mau menerima seruannya atau tidak bersedia bergabung dalam barisan Azariqah darahnya halal ditumpahkan, mereka juga menganggap Ali bin Abi Thalib kafir, sedangkan pembunuhnya, Abdurrahman bin Maljam adalah pahlawan yang mati syahid.

    Mereka mengharamkan sholat berjamaah bersama umat Islam lainnya, mengharamkan mengadakan ikatan perkawinan dengan selain anggota kelompok mereka, mengharamkan memakan hewan sembilan umat Islam lainnya, serta menghalalkan wilayah Islam untuk diperangi (daarul harb)

    Mereka menganggap bahwa anak orang kafir akan kekal di dalam neraka dan mereka menganggap pelaku dosa besar adalah kafir dan kekal di dalam neraka, namun mereka meniadakan hukum rajam bagi pelaku perzinahan dan meniadakan hukuman bagi penuduhan zina. Peniadaan hukuman itu hanya dikhususkan bagi laki-laki, adapun bagi pelaku zina dari kalangan wanita muhshanat.

    Azariqah jelas merupakan salah satu kelompok sempalan yang berdampak negatif terhadap perkembangan Islam.

    SHUFRIYYAH


    Pemimpin kelompok ini adalah Ziyad bin Ashfar. Kelompok ini dinamakan Shufriyyah karena pengikutnya menisbatkan diri kepada Ziyad bin Ashfar.

    Kelompok ini bertolak belakang dengan Azariqah, pandangan mereka tentang hukum lebih mendekati kewajaran dan jalan lurus serta tidak mengkafir orang-orang yang tidak ikut berperang, hanya berpandangan bahwa pelaku dosa besar telah berbuat maksiat kepada Allah, tetapi tidak kafir.

    IBADHIYYAH


    Kelompok ini salah satu kelompok dari Kelompok Khawarij yang terkenal. Kelompok Ibadhiyyah hingga sekarang masih terdapat di wilayah Oman, Zanzibar dan Afrika sebelah Utara.

    Ibadhiyyah adalah pengikut Abdullah bin Ibadh. Mereka mempunyai asal usul dan kaitan erat dengan Jazirah Arabia, terutama Hadrammaut, Shan'a, Makkah dan Madinah Al Munawarah.

    Walaupun mereka merupakan sempalan dari Khawarij, mereka menolak dikaitkan dengan khawarij. Mereka mengatakan,"Kami adalah Ibadhiyyah, sama seperti Syafi'iyyah, Malikiyyah dan Hanafiyyah. Kami menamakan diri demikian karena kami menolak faham Quraisyiyyah, yaitu paham yang mengharuskan kepemimpinan berasal dari keturunan suku Quraisy".

    Paham Ibadhiyyah masuk ke benua Afrika pada pertengahan pertama abad kedua Hijriah dan menguasai benua Afrika sebelah Utara serta mempunyai wilayah otonomi selama 130 tahun lamanya sebelum dihancurkan oleh Daulah Fathimiyyah.

    Pemahanamn aqidah kelompok Ibadhiyyah tidak jauh berbeda dengan Ahlul Sunnah. Mereka mengakui bahwa Al Quran dan Sunnah Nabiwiyyah merupakan sumber utama ilmu dan ajaran Islam.

    Namun mereka lebih mengutamakan ijtihad (ra'yu) daripada ijma dan qiyas. Jadi ijma dan qiyas diganti dengan ra'yu. Dari kelompok mereklah muncul orang yang pertama kali membukukan hadits, ia adalah Jabir bin Zaid (93 H), dalam kitabnya Diwan Jabir. Sayangnya kitab ini telah hilang/lenyap.

    Perbedaan yang cukup besar antara paham Ahlus Sunnah dan Ibadhiyyah adalah masalah tanzih muthlaq. Istilah itu untuk mengganti istilah tasybih (penyamaan) dalam pandangan Ahlul Sunnah. Mereka berpendapat melihat Allah adalah suatu kemustahilan, baik di dunia atau di akherat.

    Mereka berpendapat janji dan ancaman (wa'dun wa'iid) Allah pasti terwujud, dalam hal ini siapa saja yang masuk neraka berarti orang tersebut kekal di dalamnya, dan orang yang melakukan dosa dapat tersucikan jika bertaubat serta orang yang bahagia adalah orang yang tidak masuk neraka.

    Menurut keyakinan mereka, amar ma'ruf nahi munkar adalah wajib.

    Pada perkembangan selanjutnya Ibadhiyyah terpecah menjadi beberapa kelompok, seperti Hafshiyyah, Haritsiyyah dan Yazidiyyah.

    Mereka juga mempunyai pendirian tersendiri dalam menilai sahabat. Mereka mengatakan bahwa contoh yang baik setelah Nabi, hanya ada pada diri Abu Bakar dan Umar saja. Mereka tidak mengutuk Ali, namun mengingkari penerimaan Ali untuk melaksanakan tahkim (perundingan damai dengan Bani Umayyah) dan menganggap bai'at kepada Ali batal, karena Ali mau menerima tahkim dengan Bani Umayyah.

    Ibadhiyyah tidak menganggap umat Islam yang lain sebagai musuh yang harus diperangi. Sedang orang yang melakukan dosa besar namun masih mentauhidkan Allah, menurut mereka masih tergolong muslim namun bukan mukmin. Ia dianggap telah kafir ni'mat Allah (kufur ni'mah), bukan kufur millah (ajaran).

    Melihat pandangan-pandangan mereka, saya melihat peluang untuk menyatukan atau berjalan beriringan dalam peribadatan dan pemahaman aqidah dalam naungan panji Islam yang dikibarkan Nabi Muhammad saw, sehingga Khawarij hanya peninggalan sejarah, yang hanya dapat didengar kisahnya.

    Next......insya Allah SYI'AH
    [/size]

    :)
  • [align=center][size=medium]SYI'AH
    [/size]
    [/align]
    [size=medium]INTRO[/size]
    [size=medium]Kata Syi'ah bermakna pengikut atau penolong dan kata musyaaya'ah sepadan dengan kata munaasharah. Istilah ini diambil dari peristiwa sejarah masa lalu, yaitu saat Khalifah ketiga, Utsman bin Affan terbunuh yang mengakibatkan umat Islam terbagi menjadi dua golongan. Sebagian besar menjadi Syi'ah (pengikut) Ali, dan sebagian kecil menjadi Syi'ah Muawiyah.

    Selanjutnya, seiring dengan perkembangan zaman, istilah Syi'ah lebih ditujukan kepada kelompok pengikut Ali, dan pemihakan kepada Ali berubah menjadi pengutamaan Ali dan anak cucunya.

    Dilihat dari sejarah, Syi'ah pada awalnya bukan merupakan mazhab atau paham dalam agama, namun salah satu pandangan politik, yang beranggapan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah seorang yang lebih berhak untuk memegang kendali kepemimpinan dibanding Muawiyah bin Abu Sufyan.

    Setiap muslim yang terpaut hatinya kepada Rasulullah, tentu saja merasa iba memperhatikan berbagai tragedi yang telah menimpa keluarga keturunan Rasulullah. Mereka didera berbagai penyiksaan dan penderitaan, padahal mereka keturunan Nabi, bahkan termasuk yang paling dicintai yaitu Hasan dan Husain.

    Betapa hati kita tak tersentuh dan rasa simpati kita tak tumbuh menyaksikan darah mereka tertumpah di tangan Dinasti Umayyah. Setiap hati umat ISlam merasakan kepedihan yang sama melihat keluarga Nabi diporakporandakan, anak keturunannya dibantai, istri-istrinya mereka pun tak luput dari siksa, tidak hanya pada Dinasti Umayyah, bahkan pada masa DInasti Abbasiyah, cobaan berat tak juga berhenti.

    Musibah itu, masih harus diperpanjang oleh pembela-pembela Ali sendiri, dengan menjadikan penderitaan yang menimpa keluarga Nabi itu sebagai pemicu tumbuhnya Yatasyayya dan fanatisme. Yatasyayya karena merasa iba dan fanatik karena kecintaan, bukan tasyayyu aqidah dalam agama yang dikategorikan termasuk pembinaan aqidah.

    Dalam Syi'ah terdapat beraneka ragam kelompok, yang tentunya dengan berbagai macam pula tujuan, cara, dan aqidahnya. DIantara kelompok-kelompok itu ada yang berlebihan dan ada yang wajar, ada pula yang jelas-jelas menyimpang keluar dari rel kebenaran.

    Firqah Syi'ah telah terpecah dan terbagi-bagi menjadi sekian banyak kelompok. Sebagian dari mereka ada yang lurus dan benar dalam menjalankan perintah agama dan dalam berkeyakinan, sebagian yang lain ada yang jelas-jelas menyimpang dan berlebih-lebihan, bahkan ada juga yang memasukan unsur-unsur kemusyrikan ke dalam ajaran dan aqidah Islam yang murni., seperti menuhankan ALi bin Abi Thalib ra.
    [/size]
    Next.......inysa Allah kita akan menyelusuri dan mebahas cabang-cabang/ranting kelompok Syiah..

    (istirahat dulu ah......:D )


    :)
  • [size=small]hmmm ... hidangan malam yang lezat [/size] :)
  • [size=medium][align=center]1. KELOMPOK SYI"AH SABAIYYAH[/align][/size]
    [align=justify][size=medium]Inilah Kelompok yang pertama kali menuhankan Ali bin Abi Thalib. Kelompok ini dipimpin oleh Abdullah bin Saba', seorang Yahudi yang menyebarkan ajaran sesat di kalangan umat dengan tujuan mengotori kemurnian ajaran Islam.

    Salah satu ajarannya yang paling menonjol adalah keyakinan adanya wasiat dan reinkarnasi.

    Wasiat yang dimaksud disini adalah wasiat kepemimpinan, bahwa Ali bin Abi Thalib adalah wasiat Rasulullah saw, Hasan wasiat Ali, Husain wasiat Hasan dan seterusnya.

    Reinkarnasi yang dimaksud adalah bahwa Muhammad akan bangkit kembali, demikian juga dengan Ali. Bahkan ketika Ali terbunuh Abdullah bin Saba mengatakan, "Sekalipun engkau datangkan kepadaku otak kepalanya dan berlipat seribu, aku tidak mempercayai kematiannya. Ali tidak akan mati hingga keadilan merata di bumi ini, karena di bumi dewasa ini penuh dengan dzaliman dan kesesatan".

    Ajaran itu digunakan untuk mendapat dukungan kaum muslimin, kemudian menghasut mereka untuk mengorek kembali kelemahan Utsman bin Affan ra. Ia juga menghasut bahwa sesungguhnya Ustman merebut hak khalifah dari Ali bin Abi Thalib.

    Hasutan Abdullah bin Saba' tidak hanya berhenti sampai disitu, ia melakukan dengan segala daya dan upaya untuk mengotori ajaran dan aqidah Islam, seperti menuhankan Ali bahkan menuhankan anak keturunannya, seperti Hasan, Husain, Muhammad bin Hanafiyyah dan anak cucunya.

    Ia juga banyak memasukan ajaran majusi, Budha dan paganisme ke dalam ajaran dan aqidah Islam, termasuk ajaran reinkarnasi.

    Secara garis besar ajaran yang disebarkan oleh Abdullah bin Saba' atau kelompk Sabaiyyah adalah ajaran bid'ah dan khuforat yang menjurus kepada musyrikan. [/size][/align]

    [align=center][size=medium]2. KELOMPOK SYI'AH TAWABUN[/size][/align]
    [align=justify]
    [size=medium]Ketika Hasan meninggal dunia, maka wasiat kepemimpinan berpindah ke Husain. Banyak penduduk Irak yang bergabung dan mendukungnya.

    Namun tidak begitu lama kemudian terjadilah krisis yang mengakibatkan terbunuhnya Husain di Karbala dalam keadaan yang menyedihkan.

    Peristiwa tragis itu membangkitkan kebencian dalam hati kaum muslimin terhadap siapa saja yang menganiaya dan merendahkan keluarga keturunana Rasulullah saw.

    Pada masa itu tasyayyu' kepada keluarga keturunan Rasulullah saw meluas dan mengakar dalam hati umat Islam. Muncullah di Basrah, kelompok jama'ah dengan menamakan diri "TAWABUN" yang dipimpin oleh Sulaiman bin Shurd Al Khuza'i, salah seorang sahabat Nabi yang mulia.

    Kelompok ini beranggapan telah membuat kesalahan sehingga mengakibatkan terbunuh Husain.

    Pada mulanya kelompok ini merupakan gerakan bawah tanah, dimulai dengan berkumpulnya 100 orang, mereka sepakat dan bertekad menuntut balas atas kematian Husain.

    (Dari sini kita bisa melihat, bahwa kelompok TAWABUN terbentuk bukanlah karena pemahaman syariat dan aqidah yang tersendiri. Kelompok ini hanya bermotif rasa simpati dan ungkapan penyesalan karena mereka merasa bersalah dan bertanggung jawab atas kematian Husain).

    Penyeru yang paling giat dalam kelompok ini adalah Ubaidillah bin Abdullah Al Marasi. Ia menyebarkan luaskan kebobrokan akhlak pembunuh Husain dan menggambarkan pembunuhan itu sebagai tindak kejahatan yang peling keji.

    Banyak diantara pengikut kelompok TAWABUN ini yang kemudian pergi ke Karbala, ziarah ke makam Husain sambil menangis di atas kuburannya, mengungkapkan penyesalannya, sambil mengutarakan niatnya untuk menuntut balas atas kematiannya.

    Kemudian setelah itu mereka menuju ke sebelah selatan Karbala, melakukan penyerangan ke kubu tentara Daulah Umawiyyah.

    Terjadilah peperang sengit antara kelompok tadi dengan tentara Umawiyyah di kota Ainul Wardah, tak jauh dari Riqoh. Dalam pertempuran itu TAWABUN mengalami kekalahan telak, banyak pengikutnya terbunuh, meskipun korban di pihak tentara Umawiyah jauh lebih banyak.

    Karena kekalahan itu kelompok TAWABUN kocar kacir dan nyaris tidak tersisa.

    (Membaca kisah ini, saya hampir-hampir tidak menemukan perbedaan dalam pemahaman aqidah, hanya perbedaannya adalah tekad kuat mereka untuk membalas kematian Husain).

    Kelompok TAWABUN, dibentuk sebagai ungkapan penyesalan mereka terhadap keterlambatan menolong Husain, dan menyesal telah membiarkan Husain pada saat terjadi malapetaka yang menyebab Husain wafat.

    Dalam kata lain kelompok ini dibentuk atas dasar pemikiran politik fanatisme, yang diwujudkan dalam tekad balas dendam.[/align][/size]


    Sorry masih bersambung...........:cool:

    :)
  • Mantab....
    Boleh nggak judulnya di sesuaikan???

    Kalo boleh... maka thread ini mau saya usulkan ke mods ybs untuk di sticky.

    Salam
  • @big2besar

    Mbak, kalau link syiah yg aku dapet dari internet waktu itu, termasuk kategori syiah yang mana?
  • Kojek menulis:
    Mantab....
    Boleh nggak judulnya di sesuaikan???

    Kalo boleh... maka thread ini mau saya usulkan ke mods ybs untuk di sticky.

    Salam

    Oke...tapi judulnya yang bagus yah ....:D
    soalnya tujuan saya untuk pemahaman agar tercipta persatuan dan kesatuan umat, tidak tercipta golongan-golongan atau apapun itu.

    Rencana saya dalam trit ini, insya Allah membahas golongan/mazhab/aliran/kelompok dalam Islam.


    :).
    5551272 menulis:
    @big2besar

    Mbak, kalau link syiah yg aku dapet dari internet waktu itu, termasuk kategori syiah yang mana?

    link yang mana yah..? Syi'ah ada banyak firqah, dalam firqah terbagi lagi dalam kelompok-kelompok terus terbagi lagi......

    ada yang sudah hilang dan ada yang masih eksis, di belahan bumi Iran, Irak, Lebanon, India, dan di Asia Tengah lainnya.

    tapi pembahasan belum sampe situ........:D
  • big2besar menulis:
    link yang mana yah..? Syi'ah ada banyak firqah, dalam firqah terbagi lagi dalam kelompok-kelompok terus terbagi lagi......

    ada yang sudah hilang dan ada yang masih eksis, di belahan bumi Iran, Irak, Lebanon, India, dan di Asia Tengah lainnya.

    tapi pembahasan belum sampe situ........:D

    [size=small]klik yang ini mbak..[/size]
  • 5551272 menulis:

    :thanks:

    Syi'ah Kelompok Imamiyyah kayaknya, soalnya baru sekilas saja bacanya, tapi sepertinya yang dibahas yang ekstremnya saja.

    Imamiyyah bukanlah firqah yang satu, seperti kelompok syi'ah yang lain, mempunyai banyak sempalan seperti Baqiriyyah, Ja'fariyyah, Al Waqifah, An Nawusiyyah, Al Afthathiyyah, Ismailiyyah Al Waqifah, Musawiyyah, Al Mufadhaliyyah dan lain sebagainya.

    Hmm...sementara segitu dulu bentar lagi saya bahas, lagi cek n ricek dulu.....

    :)
  • wah... isi kopernya penuh sekali
  • .[size=medium][align=center]3. KELOMPOK SYI'AH KISANIYYAH[/align][/size]
    [size=medium][align=justify]Kelompok ini berpendapat bahwa kepemimpinan merupakan hak Muhammad bin Ali bin Abi Thalib, yang lebih dikenal dengan nama Muhammad bin Hanafiyyah- dinisbatkan kepada Ibunya, Khaulah dari Bani Hanifah.

    Mereka berpendapat seperti itu karena dialah yang membawa bendera dalam pertempuran Jamal.

    Kisaniyyah diambil dari nama Kisan, bekas budak yang dimerdekan Ali bin Abi Thalib. Kisan inilah yang menunjukan pembunuh Husain kepada Mukthar bin Abi Ubaid Ats Tsaqafi yang segera melakukan balas dendam dengan melakukan pembunuhan masal.

    Menurut kelompok lain, nama Kisaniyyah sebenarrnya dinisbatkan kepada Mukhtar bin Abi Ubaid, yang sebelumnya bernama Kisan. Mukhtar inilah tonggak penyangga kelompok yang menyeru kepada Imamah Muhammad bin Hanafiyyah.

    Tapi berdasarkan catatan sejarah, Mukhtar bin Abi Ubaid adalah seorang yang pendirian yang aneh. Sebelum menjadi tokoh penting Syiah Kisaniyyah, ia pernah menjadi anggota kelompok Khawarij dan juga pernah menjadi anggota kelompok Zubairiyyah.[/align][/size]

    [align=justify][size=medium]Mukhtar dikenal sebagai pahlawan yang terkenal dengan keberaniannya, terkenal dengan keteguhannya menghadapi musuh dalam pertempuran dan selalu optimis terhadap kemenangan.

    Muktar hampir menjalani hampir seluruh hidupnya di medan pertempuran, perjalanan perjuangan berhenti pada Tahun 67 H, saat pertempuran ia bersama 19 pengikutnya terkepung rapat oleh tentara Bani Umayyah, walau ia berhasil lolos dari kepungan, namun ayunan pedang tentara Bani Umayyah menghentikan langkahnya. Mukhtar terbunuh pada usia 67 tahun.

    Pada prinsipnya, kemenangan Mukhtar dimotivasi oleh semangat menjadikan Muhammad bin Hanifiyyah sebagai pemimpin disamping kobaran api balas dendam atas kematian Husain.

    Kemenangan-kemenangan Mukhtar ternyata membekas di hati para pengikutnya, hingga muncullah kelompok baru yang bernama kelompok Mukhtariyyah sebagai cabang dari Kisaniyyah.
    [/size][/align]

    [align=justify][size=medium]Dalam perkembangan selanjutnya kelompok Mukhtariyyah mengarah pada pemahaman yang menyesatkan, mengada-ada dalam ajaran agama ISlam, berkeyakinan bahwa sang Imam (Muhammad bin Hanafiyyah) mendapat wahyu dan masih banyak lagi pemikiran yang jelas-jelas keluar dari rel kebenaran.

    Penyelewengan yang dilakukan oleh kelompok Mukhtariyyah ini menyebabkan Imam Muhammad bin Hanafiyyah mengingkari semua perjuangan Mukhtar, karena dianggap keluar dari rel dan menjurus kepada kemusyrikan.

    Bukan hanya kelompok Mukhtariyyah bahwa hak kepemimpinan mutlak bagi Muhammad bin Hanafiyyah, kelompok lain ada juga seperti kelompok Karbiyyah, kelompok dinisbatkan kepada Abi Karb Adh Dharir.

    Kelompok Karbiyyah penyelewengannya melebihi kelompok Mukhtariyyah dan mentawilkan semua ayat yang mutlak dan ayat tentang kemukjizatan dengan menyandarkannya kepada Muhammad bin Hanafiyyah.

    Kelompok Karbiyyah mengatakan bahwa Muhammad bin Hanafiyyah belum meninggal dunia. Ia masih hidup dan tinggal di gunung Ridhwan yang mempunyai dua telaga, satu berisi madu dan yang lain berisi air. Ia dijaga dikiri kanannya oleh dua harimau. Suatu saat ia akan keluar di hadapan umat Islam dengan nama Mahdi Muntazhar.[/size][/align]


    [size=medium][align=center]4. KELOMPOK SYI'AH AL MUGHIRIYYAH[/align][/size]
    [size=medium][align=justify]
    Kelompok ini adalah kelompok yang paling terkenal peyimpangannya dari ajaran agama dan menisbatkan diri mereka dengan bertasyayyu kepada Hasan bin Ali.

    Kelompok ini merupakan cabang dari Kelompok Muhammadiyyah yang mempunyai ajaran menunggu kedatangan Muhammad bin Abdullah bin Hasan bin Ali yang lebih dikenal dengan nama Muhammad Annafsu Azzakiyyah (yang berjiwa suci).

    Tokoh utama kelompok ini adalah Mughirah bin Sa'id Al Bajali, ia bekas seorang budak yang dimerdekan oleh Khalid bin Abdullah Al Qasiri.

    Sepeninggal Muhammad Annafsu Azzakiyyah. Mughirah mengangkat dirinya sebagai Imam, bahkan ia menganggap dirinya sebagai nabi, dan juga ia menghalalkan yang haram dan menuhankan Ali bin Abi Thalib ra serta menambah ajaran baru yaitu tasybih (menyerupakan Khaliq dengan Mahluk).

    Ia mengatakan bahwa Allah mempunyai anggota badan sebagaimana huruf hijaiyyah, sosoknya persis seorang laki-laki berupa cahaya dan di atas kepalanya memakai mahkota.

    Saat Allah menciptakan alam semesta, Ia berfirman atas nama-Nya yang paling agung, kemudian terbang dan jatuhlah sebuah mahkota di atas kepala-Nya. Setelah itu memeriksa seluruh amalan mahluk seraya diletakan di tanggannya.

    Allah merasa berang dengan perbuatan maksiat, lalu keluarlah keringat, dari keringat-Nya tercipta dua lautan, yang satu asin dan tawar.

    Lautan asin berwarna gelap, sedangkan yang tawar berwarna bercahaya, darinya memantul cahaya bayangan-Nya. Kemudian Ia mengalihkan pandangan-Nya seraya menjadi matahari dan bulan serta menghilangkan bayangan yang lainnya kemudian Ia berfirman:"Tidak selayaknya ada tuhan selain dari Aku".

    Dari kedua lautan itu, diciptakan-Nya semua mahluk. Yang mukmin diciptakan dari laut yang bercahaya, sedangkan yang kafir dari lautan yang berwarna gelap.

    Kesesatan dan khufarat sebenarnya tidak hanya berkembang pada kalangan Mughiriyyah, firqah-firqah lain dalam tubuh SYi'ah pun mempunyai keyakinan yang tak kalah keji.

    Firqah-firqah tersebut selalu dalam siaga penuh, siap dengan segala tipu dayanya. Mereka pandai menentukan saat yang tepat untuk melancarkan kegiatan.

    Mereka mengetahui sejauh mana kecintaan dan kecenderungan umat Islam terhadap keturunan Rasulullah saw, serta menggunakan kebencian Bani Umayyah dan Abasiyyah terhadap keturunan nabi. Dengan begitu akan muncul rasa simpati dan iba dari sebagian kaum muslimin terhadap Ahlul Bait.

    Hal ini merupakan kesempatan emas untuk memulai operasi mereka untuk merusak citra dan ajaran Islam. Pada mulanya mereka menampakan kemurkaan, setelah itu melangkah ke pengkultusan Ahlul bait, kemudian sedikit demi sedikit naik ke derajat penuhanan.

    Untunglah firqah-firqah itu tersebut sekarang ini hampir tidak ada. Kalaupun ada jumlah pengikutnya sedikit untuk diperhitungkan, tidak akan meluas dan menimbulkan dampak negatif kecuali terhadap diri mereka sendiri.[/align][/size]

    Next....insya Allah SYIAH IMAMIYYAH

    :)
  • [align=center][size=medium]5. SYI'AH IMAMIYYAH.[/size][/align]

    [align=justify]Kelompok Syi'ah Imamiyyah merupakan kelompok yang paling banyak dianut oleh pengikut Syi'ah dan merupakan mazhab yang dianut sepertiga penduduk Iran, setengah penduduk Irak, ratusan penduduk Lebanon, berjuta-juta penduduk India dan ratusan ribu penduduk di negara-negara Islam di Asia Tengah.

    Imamiyyah mempunyai banyak sempalan seperti Baqiriyyah, Ja'fariyyah, Al Waqifah, An Nawusiyyah, Al Afthahiyyah, Ismailiyyah, Musawiyyah, Al Mufadhaliyyah dan beberapa sekte lagi.

    Sekte Nuwasiyyah meyakini bahwa Ja'far Ash Shadiq belum mati dan kelak akan dibangkitkan. Sekte Al Afthaniyyah juga memperjuangkan pengakuan atas hak Imamah Abdullah bin Ja'far Ash Shadiq. Sekte Ismail Al Waqifah memperjuangkan pengakuan hak Imamah atas Ismail.

    Dalam sekte Ismail Al Waqifah terdapat friksi dan mereka berselisih pendapat tentang kematian Ismail. Diantara mereka ada yang berpendapat bahwa ayahnya mengatakan ia telah mati karena khawatir terhadap Daulah Abbasiyyah.

    Sekte Musawiyyah Al Mufadhdhaliyyah memberikan pengakuan atas imamah Musa bin Ja'far Ash Shadiq. Mereka berkeyakinan bahwa Ja'far telah mewasiatkan imamah kepada penerusnya itu.

    Sekte Musawiyyah Al Mufadhdhaliyyah, sebagian orang berpendapat bahwa nama sekte ini dinisbatkan kepada Musa dan ada pula yang berpendapat bahwa nama sekte itu dinisbatkan kepada Al Mufadhdhaliyyah yang merupakan salah seorang Alim mereka.

    Pengikut-pengikut seringkali mengingkari kenyataan atas kematian pemimpinnya dan selalu mengatakan bahwa pemimpinnya tidak mati dan tinggal di suatu tempat dan akan kembali ke bumi kelak.

    Dalam hal ini sekte Syi'ah Itsna Asy'ariyyah meyakini bahwa Musa telah mati, namun mereka juga meyakini kepemimpinan keturunannya hingga Imam Muhammad Al Qaim Al Muntadhar, yang dalam silsilah merupakan keturunan ke dua belas.

    Itsna Asy'ariyyah adalah sekte yang paling terkenal dan hingga kini banyak diikuti oleh banyak penduduk di wilayah Islam, terutama Iran dan Irak. Kelompok ini dalam pengertian khusus juga disebut sekte Ja'fariyyah dan secara umum disebut Syi'ah Imamiyyah.

    Sekte ini menamakan diri Itsna Asy'ariyyah karena mempercayai ke dua belas imam secara berurutan, yaitu Ali bin Abi Thalib, Hasan, Husain, Ali Zainal Abidin, Muhammad Hasan bin Ali, Ja'far bin Muhammad, Musa, Ali, Muhammad, Ali, Hasan bin Ali dan Muhammad bin Hasan.

    Tiap-tiap imam itu mempunyai julukan (laqab) tersendiri, Laqab tersebut secara berurutan, Ali Al Murtadha, Hasan Al Mujtaba, Husain Asy Syahid, Ali Zainal Abidin As Sajjad, Muhammad Al Baqir, Ja'far Ash Shadiq, Musa Al Khadim, Ali Ridha, Muhammad Al Jawad At Taqiy, Ali Al Hadi An Naqiy, Hasan Al Askariy Az Zakiy dan Muhammad Al Mahdi Al Qaim bil Hujjah.

    Sekte Itsna Asy'ariyyah juga dikenal dengan sekte Ja'fariyyah karena Ja'far dianggap unsur yang paling penting dalam sekte ini, mengingat bahwa dalam perkara agama, mereka merujuk pada fiqh Ja'far Ash Shadiq.

    Imam Ja'far Ash Shadiq dapat disejajarkan dengan imam-imam fiqh yang lain seperti, Abu Hanifah, Malik, Syafi'i dan Ahmad. Terlepas bahwa dirinya dianggap salah satu Imam dalam Syi'ah. Ja'far Ash Shadiq yang dalam urutan nasabnya dari pihak ayah adalah keturunan Nabi dan dari ibunya merupakan keturunan Abu Bakr.

    Imam Ja'far Ash Shadiq merupakan seorang yang sangat luas ilmunya dalam masalah agama, bijaksana, bertakwa, ahli zuhud, dan jauh dari sifat berlebih-lebihan dan peyimpangan. Bahkan ia termasuk yang paling keras menolak keyakinan yang berkembang dalam pengikut Syi'ah, seperti gaibah (tersembunyi), raj'ah (bangkit kembali), ataupun tanasukh (inkarnasi) dan juga tidak memisahkan diri dari jama'ah kaum muslimin.

    Jika dibandingkan sekte-sekte lain dalam Syi'ah Itsna Asy'ariyyah jauh lebih lurus aqidahnya. Sayyid Kasyiful Ghatha, salah seorang pemimpin muktahir mereka, mengatakan hanya mentauhidkan Allah dengan sebenar-benarnya, menolak mempersekutukannya dengan segala mahluk, menjauhkan semua sifat yang mengotori kesucian-Nya, dan mengingkari dengan tegas tanasukh, persenyawaan, hulul dan tajsim (penggambaran atau visualisasi wujud Allah).

    Itsna Asy'ariyyah berpendepat bahwa ijtihad tetap terbuka, seorang mujtahid dapat saja mengajukan pendapatnya selama tidak bertentangan dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul serta seiring dengan pemahaman akal manusia.

    Syiah Imamiyyah yang merupakan induk dari Itsna Asy'ariyyah menambahkan rukun Islam yang lima menjadi enam, yaitu i'tiqad bil imamah (mempercayai imamah).

    Mereka berkeyakinan, bahwa imamah adalah martabat yang datang dari Allah, sejajar dengan kenabian, Sebagaimana Allah berkehendak memilih siapa saja dari hamba-Nya untuk mengemban kenabian dan membawa risalah, maka Ia berkehendak untuk memilih siapa saja untuk dijadikan imam bagi kaum muslimin, dan sebelumnya Ia memerintahkan nabi-Nya untuk mewasiatkan demikian.

    Menurut mereka perbedaan antara nabi dan imam, adalah bahwa nabi menerima wahyu, sedangkan imam tidak mendapat wahyu, hanya ia mempunyai tanggungjawab dan kewajiban meneruskan tugas yang dilakukan seorang nabi.

    Jadi, Nabi menyampaikan apa yang diamanatkan oleh Allah, sedang Imam menyampaikan apa yang diajarkan nabi. Kelompok Syi'ah Imamiyyah sangat meyakini hal ini dan menganggap bahwa masalah imamah ini adalah prinsip yang tak bisa dianggap sepele.

    Mereka berpendapat, bahwa setiap muslim baik yang sependapat ataupun menolak terhadap aqidah imamah, dianggap mukmim. Jadi ketidak percayaan seseorang terhadap rukun Islam ke enam, yakni I'tikad Imamah, tidak menyebabkan ia keluar dari Islam, tapi berbeda derajatnya kelak di akherat. Menurut Aqidah mereka, derajat tertinggi mereka tempati, kemudian barulah umat Islam pada umumnya.

    Dalam penetapan derajat hadis, Kelompok Syi'ah Itsna Asy'ariyyah tidak menerima hadis dari sembarang perawi atau muhaddits. Hadis harus bersumber dari Ahlul Bait dan berasal dari Ali bin Abi Thalib. Hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan semisalnya tidak mereka akui.

    Masalah inilah yang mempertajam pertentangan antara Syi'ah dan Ahlus Sunnah, karena penolakan terhadap perawi di luar Ahlul Bait itu mengandung akibat-akibat yang berantai.

    Penolakan itu jelas membawa konsekuensi pada penolakan terhadap kitab-kitab hadis seperti "Al Muwaththa" karya Imam Malik, "Musnad" Imam Ahmad, Shahih Bukhari, dan Muslim serta semua kitab sunnah lainnya.

    Karena hadis merupakan sumber kedua setelah Al Quran dalam syariat Islam dan terdapat perbedaan prinsip dalam menilai perawi hadis dan hilangnnya kepercayaan di antara kedua mazhab itu, maka jurang pemisah antara kaum Syi'ah dan Ahlus Sunnah semakin lebar.

    Sy'ah Imamiyyah hingga kini masih menggunakan ijtihad sebagai pikiran, dan menganggap pintu ijtihad masih terbuka, namun mereka tidak menggunakan qiyas, padahal qiyas oleh Ulama Ahlus Sunnah merupakan sumber hukum.

    Syi'ah Imamiyyah meniadakan qiyas sebagai sumber hukum karena mereka mengikuti pemimpin yangang menyatakan bahwa melakukan qiyas akan merusak agama.[/align]

    Next...Insya Allah Titik pisah antara Syi'ah Imamiyyah dan Ahlus Sunnah.

    :)
  • [align=center][size=medium]KONTROVERSIAL DAN TITIK PISAH SYI'AH IMAMIYYAH & AHLUS SUNNAH[/size][/align]
    A. PERKAWINAN MUT'AH
    Pengertian kawin Mut'ah adalah perkawinan sementara, dalam aqad pernikahan mut'ah ini disebutkan waktu atau batas perkawinan. Pernikahan macam ini, pada masa Rasulullah dilakukan oleh beberapa sahabat.

    Konon perkawinan mut'ah ini dihapuskan oleh Umar bin Khaththab ketika ia menjabat Khalifah, karena menurut Umar perkawinan model ini melahirkan dampak buruk. Namun pendapat yang lebih shahih mengatakan bahwa perkawinan ini telah diharamkan oleh Rasulullah sendiri, sehingga hukum dibolehkannya telah dimansukh oleh Rasulullah.

    Satu-satunya firqah yang sampai saat ini masih mempertahankan tradisi kawin mut'ah adalah firqah Syiah Imamiyyah, dengan dalih bahwa banyak sahabat dan tabi'in yang memberi fatwa membolehkan melangsungkan perkawinan mut'ah, misalnya Abdullah Ibnu Abbas, Jabbar bin Abdillah Al Anshari, Ibnu Mas'ud, Ubai bin Ka'ab dan Imran bin Hushain.

    Polemik masalah perkawinan mut'ah ini masih berlangsung hingga sekarang. Perselisihan tidak hanya antara Syi'ah dengan Ahlus Sunnah saja, namun juga dalam kalangan Ahlus Sunnah pun masih ada perbedaan pendapat.

    Perbedaan pendapat dalam Ahlus Sunnah karena sebagian berpendapat bahwa perkawinan Mut'ah yang disyari'atkan Rasulullah tidak dapat dibatalkan begitu saja oleh Umar, terlebih lagi, perkawinan ini telah dilakukan pada masa Rasulullah, masa kekhalifahan Abu Bakr serta pada masa awal kekhalifah Umar. sebagian ulama Sunnah mengatakan bahwa Umar tidaklah memberikan fatwa pelarangan perkawinan mut'ah dengan mengabaikan Rasulullah, tapi karena ia telah mengetahui Rasulullah sendiri melakukan pembatalan sebelumnya.

    Hingga kini, Syiah Imamiyah masih membolehkan dan mengamalkan perkawinan Mut'ah ini. Mereka beranggapan bahwa seseorang yang berpergian dalam waktu yang lama/panjang diperbolehkan melakukan perkawinan mut'ah, karena sifatnya darurat.

    Menurut mereka, kalau saja praktik kawin mut'ah ini diamalkan dengan cara yang benar dan sesuai dengan aturan-aturannya, maka segala jenis prostitusi atau perzinahan akan hilang.

    Dalam perkawinan mut'ah (wajib) tetap memperhatikan hak anak yang dihasilkan dari perkawinan mut'ah, antara lain dengan menasabkan sang anak kepada bapaknya, kemudian istri harus menjalankan iddahnya sesuai waktunya, hanya saja iddahnya hanya dua kali haid dan masih banyak lagi syarat-syaratnya.


    B. THALAQ
    Syi'ah Imamiyah menetapkan sejumlah syarat dalam pelaksanaan thalaq/perceraian. Proses perceraian harus dihadiri oleh dua orang saksi adil, tanpa ada dua orang tersebut, maka thalaq dianggap tidak sah.

    Keterlibatan dua orang saksi yang adil, dimaksudkan untuk menjaga keutuhan rumah tangga, dengan adanya dua orang saksi yang adil dapat memperbaiki keretakan hubungan suami istri.

    Mereka juga beranggapan bahwa thalaq tiga kali yang diucapkan sekaligus dianggap hanya jatuh thalaq satu. Dalam keadaan seperti itu, suami tidak diharamkan untuk menggaulinya dan merujukinya kembali.

    Sebagian dari mereka bahkan ada yang beranggapan thalaq tiga yang diucapkan dalam satu kalimat tidak jatuh thalaqnya karena yang demikian tidak disyariatkan.

    Ulama Ahlus Sunnah sepakat mengatakan bahwa menjatuhkan thalaq tiga dalam satu kalimat dianggap hanya jatuh satu thalaq.


    C. TAQIYYAH
    Taqiyyah bermakna menampakan kebalikan dari yang disembunyikan. Sebagian besar firqah Syi'ah mengakui dan membenarkannya untuk menjaga jiwa, harta, kehormatan, agama, dan aqidah, seperti berpura-pura menampakan aqidah yang sebenarnya ia sendiri tidak mengimaninya.

    Sikap taqiyyah ini oleh sebagian ulama Ahlus Sunnah diperbolehkan, jika dalam keadaan bahaya atau jiwanya terancam.

    Ternyata sikap taqiyyah ini menjadi sebab keluarnya banyak pengikut Syi'ah karena tidak jarang Imam mereka memberikan pendapat yang berbeda dengan sebelumnya.

    Dengan kata lain, pendapat Imam mereka hari ini seringkali bertentangan dengan pendapatnya yang tadi atau kemarin, apabila ditanya mengapa demikian, maka Imam mereka mejawab bahwa hal itu merupakan masalah taqiyyah. SIkap ini yang membuat pengikut Syi'ah lehilangan pegangan.

    Ayatullah Khomeini, Imam dan Ulama besar Syi'ah menguatkan bahwa taqiyyah merupakan bagian dari aqidah mereka. Ia mengatakan, "Siapa saja yang mempunyai akal barang sedikit sekalipun, pasti mengetahui bahwa hukum taqiyyah merupakan hukum pasti dari Allah, maka siapa saja yang yang tidak mempunyai sikap taqiyyah, maka ia tidak mempunyai agama".

    Masalah taqiyyah juga dipersoalkan oleh seorang Ulama Syi'ah yang lain, yaitu Dr. Musa Al Musawi, dalam bukunya "At Tashhih", ia mengatakan, "Sebenarnya taqiyyah tidak pantas dilakukan oleh mukmin kecuali dalam kedaan bahaya, seperti untuk menjaga tertumpahnya darah. Apabila terlindungi darahnya, maka ia tidak diperbolehkan melakukan taqiyyah".

    Dalam buku yang sama, Dr. Musa Al Musawi menyatakan ketidaksetujuannya terhadap amalan ibadah yang ditampakan di hadapan kaum muslimin dengan tata cara yang berbeda dengan yang diyakini, kemudian ia mengulang pelaksanaan ibadah itu di rumahnya dengan tata cara yang sebenarnya ia yakini.

    Menurut Dr. Musa Al Musawi, praktik taqiyyah bukanlah semacam itu, tidak ada satu imam pun, sejak Ali bin Abi Thalib hingga imam Hasan al Askari malakukan hal semacam itu.

    Lebih lanjut, Dr. Musa Al Musawi menolak pemikiran taqiyyah ini dinisbatkan kepada Imam Ja'far Ash Shadiq. Menurutnya tidak mungkin imam Ja'far Ash Shadiq memfatwakannya, bagaimana mungkin imam Ja'far Ash Shadiq yang mengajar ribuan murid di Masjid Nabawi dibangun atas dasar taqiyyah.

    Dalam pengamatan Dr. Musa Al Musawi, pada masyarakat dan ulama Syi'ah telah terbiasa dan terbelenggu rantai taqiyyah, tak akan ada seorang ulama Syi'ah yang berani melawan arus dengan menyatakan bahwa taqiyyah adalah bid'ah.

    Hal ini juga terjadi pada syahadat mereka, sebagian besar ulama Syi'ah sepakat bahwa syahadat ketiga dalam Syi'ah, yaitu "Wa asyhadu anna aliyyan waliyyullah" adalah bid'ah semata, namun tidak ada seorangpun dari sekian banyak pengikut Syi'ah yang berani mengatakan dan memutuskan bahwa hal ini adalah bid'ah.

    Dibagian akhir dari bukunya, Dr. Musa Al Musawi menghimbau kepada para ulama Syi'ah untuk meluruskan keyakinan para pengikutnya, mewajibkan pelaksanaan kaidah akhlaqiah sebagaimana yang digariskan dalam ajaran Islam.

    Dan hendaknya mengatakan dengan tegas kepada pengikutnya bahwa yang dinisbatkan kepada Imam Ja'far Ash Shadiq, terlebih kata-kata "taqiyyah adalah agamaku dan agama nenek moyang ku" adalah dusta, tuduhan tak beralasan serta kebohongan yang dibuat-buat.

    Lebih lanjut Dr. Musa Al Musawi menegaskan bahwa rukun Islam adalah lima seperti yang diajarkan Rasulullah dalam hadisnya dan sesuai dengan urutannya, (syahadat, Sholat, Zakat, Puasa di bulan Ramadhan, haji jika mampu).


    D. MASALAH IMAM DAN IMAMAH.
    Sebagian pemimpin Syi'ah, yang dipelopori oleh Imam Khomeini menegaskan bahwa masalah imamah tidak disebutkan dalam Al Quran barang seayat pun.

    Dalam bukunya (Imam Khomeini) Mengapa Al Quran tidak menyebutkan nama Imam secara tegas, Ayatullah Khomeini menyatakan,"Sungguh merupakan suatu kebaikan yang nyata seandainya Allah menurunkan barang satu ayat yang menjelaskan bahwa Ali dan keturunannya adalah imam (khalifah) sesudah Nabi, karena yang demikian adalah merupakan jaminan tidak akan terjadi perselisihan dalam masalah imamah".

    (Ucapan imam Khomeini ini sungguh berbahaya, karena mengandung makna imam Khomeini melakukan protes terhadap kebijaksanaan dan mengabaikan kehendak dan iradah Allah, jelas ini bertentang dengan ajaran tauhid).

    Dalam buku yang sama, Imam Khomeini telah menuduh sebagian Khulafur Rasyidin telah melakukan pemalsuan dan pengubahan ayat-ayat Al Quran yang berkenaan dengan masalah imamah.

    Bukunya yang lain, yang berjudul,"Al Hukumatul Islamiyyah", Imam Khomeini mengajarkan penghormatan kepada para imam, dengan menyatakan,"Seorang imam mempunyai kedudukan tinggi yang terhormat dan mulia serta martabat yang tinggi. Ia mempunyai kewenangan dan kekuasaan yang mengharuskan semua mahluk penghuni dunia tunduk dan patuh kepadanya".

    Di bagian akhir bukunya, ia menyatakan,"Karena itu merupakan keharusan bagi mazhab kita untuk mengakui bahwa para imam kita mempunyai kedudukan yang tidak dapat dicapai oleh para malaikat dan tidak juga oleh para nabi yang diutus".

    Dalam kitab "Al Kaafi", yang menurut kalangan Syi'ah kedudukannya setara dengan Shahih Bukhari dalam pandangan Ahlus Sunnah. Al Kulaini juga membuat pernyataan-pernyataan pengkultusan terhadap para imam.

    Judul Bab dalam Al Kaafi, Bab Para Imam Mengetahui Semua Ilmu Yang Diberikan Kepada Malaikat, Rasul, dan Nabi,;Bab Imam Mengetahui Dengan Pasti Kapan Akan Mati dan Mereka Mati Menurut Kemauannya,; Bab Para Imam Mengetahui Yang Telah Terjadi dan Akan Terjadi,; Bab Sebelum Al Quran Dihimpun Para Imam Telah Mengetahui Semua Ilmu Yang Ada Di Dalamnya,; Bab Apa Yang Dimiliki Para Imam Adalah Ayat-Ayat Anbiya,; Bab Jika Para Imam Kembali Berkuasa AKan Menghukumi Dengan Hukum Yang Dibawa Nabi Daud dan Keluarganya dan Tidak Akan DItanya Keterangannya.

    Kitab-kitab yang penuh dengan pengkultusan terhadap imam dan dijadikan sebagai kitab induk para ahli fiqh mereka yaitu Ushul Kaafi, Al Waafii, Al Istibshaar, Man Laa Yahdhuruhul Faqiih dan Wasaailuy Syii'ah.

    Penghormatan yang berlebihan terhadap para imam ini mengundang reaksi dari sejumlah ulama Syi'ah mutakhir, seperti Dr. Musa Al MUsawi mencela sebagian ulama Syi'ah yang dianggapnya telah mengajarkan penghormatan berlebih-lebihan kepada para imam mereka.

    Masih Bersambung...................

    :)
  • wah... :thanks: infonya.. :)
    sulit untuk tidak mengatakan banyak bid'ah atas aliran diatas.. karena sangat bertentangan dengan hakikat islam itu sendiri..
Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Halo, Komandan!

Sepertinya anda baru di sini. Ingin ber-interaksi? Klik satu tombol ini!

Kategori