MERDEKA
DIRGAHAYU Republik INDONESIA - Ayo Kita Tingkatkan Persatuan & Kesatuan Bangsa. Erat Dalam Keragaman Bhinneka Tunggal Ika. Maju Bersama & Tingkatkan Etos Kerja Yang Baik Untuk Indonesia Modern Yang Tetap Berbudaya. MERDEKA!!!

Forum Bebas Indonesia
Contact Us

KISAH PETUALANGAN (Share Kisah Petualangan & Travelingmu Disini)

Empat Bulan Terjebak Neraka Es

Sargon adalah sepotong drama petualangan paling mendebarkan dalam dunia pelayaran. Selama empat bulan terjebak bongkahan es di perairan Arktik, Kutub Utara, mereka bertahan hidup di palka kapal, tanpa bahan bakar dan bekal, hanya tekad dan semangat hidup yang tiap hari semakin melemah.

Awal tahun 1923 adalah lembaran hitam bagi 12 awak kapal penangkap ikan bernama Sargon. Kapal berbahan bakar batu bara yang dilengkapi jala tarik (semacam pukat) itu berlayar dengan tenang dari Pelabuhan Grimsby, teritori Inggris.

Walau Januari adalah musim dingin, ini adalah kesempatan untuk menangkap ikan-ikan yang muncul ke permukaan laut.

Seperti kebanyakan nelayan pada masa itu, Sargon pun berlayar untuk mencoba peruntungan melaut di musim dingin. Tujuan mereka adalah perairan lepas pantai North Cape (Norwegia) sampai ke Perairan White Sea (wilayah Rusia).

Minggu-minggu awal pelayaran mereka, laut sudah tampak tak bersahabat. Ikan-ikan yang diharapkan pun tak jua terjaring. Tangkapan mereka sangat minim dan mengecewakan. Namun kapten kapal Sargon, John Patton, menyemangati seluruh kru kapalnya agar jangan cepat menyerah.

Walau angin dingin berhembus lambat, jala tetap dilempar. Sargon membentuk pola penangkapan dengan jaring yang sudah biasa mereka lakukan. Namun memang nasib belum berpihak. Sampai akhirnya pada minggu terakhir pelayaran, John Patton memutuskan untuk kembali ke pelabuhan, karena bahan bakar yang semakin menipis dan perbekalan yang hampir habis.

Panen Terbesar

Tepat 28 Januari 1923, saat Sargon putar haluan dari Perairan White Sea, seluruh awak kapal dikagetkan penampakan bias- keperakan di kejauhan. Setelah melakukan pengamatan teliti, mereka bersorak girang, bias keperakan itu adalah segerombolan ikan yang bersiap melakukan migrasi besar-besaran.

Masih diliputi kegembiraan, John Patton segera melakukan perhitungan. Ia mempertimbangkan persediaan bahan bakar dan kemungkinan "perburuan" ikan. Setelah yakin bahwa bahan bakar kapal masih cukup hingga ke Pelabuhan Tromso di Norwegia, Kapten John Patton menyetujui permintaan semua kru untuk mengejar gerombolan ikan-ikan gemuk itu.

Perburuan gerombolan itu berlangsung mudah. Mereka sendiri kaget dengan hasil tangkapannya, hingga palka kapal terisi penuh ikan. Ini adalah tangkapan terbanyak yang melimpah ruah seumur hidup mereka sebagai nelayan.

Hari berikutnya, kemudi kapal diarahkan ke Tromso. Kapal bergerak sangat lambat karena sarat beban. Sesuatu yang luput dari perhitungan sang kapten bahwa beban muatan yang bertambah sampai ambang kapasitas maksimal, ternyata memboroskan bahan bakar.

Terjebak Es

Dengan terseok-seok, Sargon terus dihela. Namun laut memang sulit diramalkan. Mendadak angin dingin berhembus kencang, badai salju menghalangi pandangan. Selama berjam-jam, kapal dengan susah payah menembus tirai hujan dan salju. Sampai akhirnya terhalang oleh bongkahan
es terapung.

Kewaspadaan ditingkatkan, karena dalam pelayaran di wilayah Arktik, es terapung ibarat karang menakutkan yang bisa bergeser sesuai tiupan angin. Dengan tenaga terakhir, Sargon melakukan pelayaran hati-hati, menghindari tabrakan dengan es dan harus pula menyiasati angin dan salju.

Sialnya, selama hampir dua minggu, salju dan angin terus bertiup. Menghalangi upaya terakhir Sargon kembali ke pelabuhan. Stok batu bara yang semakin menipis akhirnya habis, sementara kapten tak bisa memastikan arah pelayaran, karena cuaca yang sangat buruk.

Sargon pun terombang-ambing dipermainkan angin, salju dan gelombang laut yang mengganas. Arus air mendorong kapal yang kehabisan tenaga itu menuju arah baratlaut, keluar semakin jauh dari rute pelayaran yang semestinya. Kapal terus terseret ke perairan terdingin mendekati kutub utara yang membeku.

Dingin yang tak tertahankan membuat seluruh awak kapal memutuskan untuk menunggu hingga musim dingin berlalu, sebelum melakukan upaya penyelamatan. Keduabelas awak termasuk kapten kapal, berkumpul di palka kapal yang terlindungi.

Duduk merapat menghangatkan diri, tak ada yang bisa mereka lakukan selain menjaga agar api tetap menyala ketika dingin menyengat.

Untuk itu, mereka membakar apa saja yang bisa dibakar, termasuk jala, furnitur kapal, bahkan bagian dek kapal. Selama empat bulan mereka mengurung diri dari cengkeraman dingin yang mematikan di ruang palka kapal. Tanpa bekal kecuali tumpukan ikan hasil tangkapan yang juga sudah membeku.

Selama empat bulan, Sargon terjebak dalam laut es yang membeku, mengubur kapal mereka dalam tutupan salju.

Epik Kepahlawanan Sargon

Beberapa minggu sebelum dinyatakan hilang, Sargon dielu-elukan sebagai pahlawan. Kapal nelayan itu punya cerita lain tentang upayanya menyelamatkan kapal Ethel Nutton dari amukan badai.

Awal Januari 1923, cuaca di laut lepas Norwegia sedang mengamuk. Beberapa nyala terang suar terlihat jauh dari Pelabuhan Grimsby di Inggris, tanda sebuah permintaan tolong. Tetapi karena cuaca buruk, tak satu pun kapal yang sandar memberi reaksi. Namun Kapten John Patton dan seluruh awak Sargon mengambil satu keputusan kontroversial.

Demi kemanusiaan, Sargon menjawab panggilan itu dengan melaju dengan kekuatan penuh menuju asal suar. Ombak besar dan angin tak menghalangi mereka untuk mendekati kapal Ethel Nutton yang berguncang hebat lepas kendali di pusaran air.

Setelah melakukan perhitungan, Sargon mendekat. Melemparkan pelampung untuk menolong delapan awak kapal itu. Namun arus menelan semua pelampung tanpa sisa. Kapten John Patton menilai tak lebih dari setengah jam, Ethel Nutton pasti hancur dan tenggelam. Satu keputusan berbahaya pun diambil.

Ia mendekat dengan perhitungan matang. Menyuruh seluruh awak Ethel Nutton untuk mengikat diri dengan tali dan melemparkan ujung tali yang bebas ke dek Sargon, agar awaknya bisa menarik mereka ke Sargon. Dibutuhkan kelihaian dan keahlian yang luar biasa untuk pekerjaan penyelamatan seperti ini. Salah-salah, kedua kapal akan bertabrakan dan tenggelam.

Dalam upaya pertama, tiga awak Ethel Nutton berhasil diselamatkan. Lima kali percobaan yang sama dilakukan, sampai akhirnya seluruh awak kapal terselamatkan, hanya sekian menit sebelum Ethel Nutton hancur dan tenggelam. Dengan sisa-sisa tenaga, Sargon melepaskan diri dari arus liar. Mereka berlayar kembali menuju Pelabuhan Granton di Norwegia.

Upaya penyelamatan yang berani oleh Sargon dan awaknya mendapat pujian dan sambutan luar biasa. Namun Kapten John Patton dan seluruh awak menolak semua hadiah yang ditawarkan. Menurut mereka, penyelamatan sesama kapal adalah wajib hukumnya.

Dilepas dengan elu-elu dan pujian, Sargon berlayar kembali dari Granton ke Grimsby. Setelah mengisi ulang bahan bakar dan memuat logistik, keesokan harinya mereka berlayar. Sebulan kemudian Sargon dinyatakan hilang.

Bertahan Hidup di Lautan Es

Kapal Sargon tetap dikenang sebagai legenda oleh kaum nelayan di Eropa Utara. Kisah tentang Sargon adalah satu dari fenomena perjuangan manusia untuk bertahan hidup di lautan es. Sargon akhirnya berlabuh kembali di Grimsby (Inggris) setelah dinyatakan hilang selama empat bulan.

Di suatu pagi yang mendung pada Februari 1923, sejumlah koran lokal di Eropa Utara menulis berita tentang hilangnya sebuah kapal bernama Sargon. Diperkirakan kapal nelayan dengan 12 awak itu hilang di sekitar Perairan North Cape dan Laut Arktik, Kutub Utara.

Berita itu muncul setelah sebuah kapal nelayan dari perusahaan perikanan Standart Fishing Company pada 2 Februari 1923 melaporkan melihat Sargon berlayar pelan di Perairan North Cape, Norwegia, menuju Grimsby. Namun kapal itu tak pernah sampai di Grimsby. Itu adalah laporan terakhir Sargon terlihat di perairan, setelah satu bulan berlayar. Untuk kapal sekelas Sargon, bekal yang dibawa hanya cukup untuk bertahan selama satu bulan pelayaran.

Setelah ditunggu-tunggu dan dilakukan pencarian, Sargon tak pernah ditemukan lagi. Akhirnya pada awal April, secara resmi otoritas kelautan Inggris menyatakan kapal Sargon berikut 12 awaknya, hilang. Keluarga korban yang empat bulan lebih menanti tanpa kepastian, akhirnya pasrah. Mereka pun mengklaim asuransi dan ganti rugi.

Duka pun menyelimuti keluarga ke-12 awak kapal Sargon. Mereka melakukan seremoni dan doa perpisahan terakhir dengan orang yang mereka cintai. Semua sudah merelakan kematian awak Sargon. Padahal jauh di wilayah Laut Arktik, 12 awak Sargon sedang berjuang bertahan hidup dari neraka es yang "mengubur" mereka.Bertahan Hidup

Apa yang terjadi di kapal Sargon ?
Akhir Februari, badai salju dan cuaca buruk sudah berlalu. Setelah sepuluh hari kehabisan bahan bakar dan dipermainkan "amukan" alam, Sargon terseret ke Lautan Arktik (Kutub Utara) yang tertutup es. Kapal tak bisa bergerak, karena laut sekitar sudah membeku. Ini adalah puncak musim dingin di wilayah bumi bagian utara.

Seluruh awak Sargon yang bertahan di palka tak bisa melakukan apa-apa. Mereka hanya bisa berharap agar musim dingin segera berlalu. Dengan pakaian yang tak memadai, keluar dari kapal sama saja dengan bunuh diri. Suhu di luar sana sangat dingin, sekian derajat di bawah titik beku (minus nol derajat Celsius).

Sejak kapal terombang-ambing dipermainkan ombak dan cuaca, Kapten John Patton tak lepas dari alat navigasi dan peta. Ia berusaha memastikan koordinat posisi mereka, namun usaha itu sia-sia. Sama sia-sianya dengan kerja keras mereka untuk tetap mengendalikan kapal yang sudah kehabisan bahan bakar. Setelah berhari-hari mencoba melakukan orientasi peta dan selalu gagal, sang kapten pun dengan kesal membakar semua alat navigasi dan peta.

Selama terjebak di es, mereka memang membakar semua barang yang bisa dibakar. Ini perlu untuk mempertahankan suhu kapal agar tetap hangat. Sehari saja tanpa api, mereka bisa mati beku kedinginan. Bekal pun sudah habis, dan ikanlah satu-satunya makanan mereka dari hari ke hari di dalam palka. Untuk minum, mereka mencairkan salju dan bongkahan es.

Selama berbulan-bulan mereka hanya berdiam diri di ruang palka, hampir terbunuh oleh sepi. Namun semangat hidup mereka yang tinggi tetap menyala. Vitalitas inilah yang membuat mereka tetap berjuang melawan dingin yang mematikan.

Gunung Es


Pada 1 April 1923, John Patton yang pertama kali keluar dari palka kapal Sargon. Ia naik ke dek mengamati lingkungan es sekitarnya. Musim dingin baru saja berlalu. Saat berada di dek, John menatap garis horison di barat. Matanya terpaku pada sebuah gunung es di kejauhan yang terlihat bergerak. Suara gemuruh dan gemeretak es yang pecah semakin terdengar jelas.

Beberapa saat kemudian wajahnya memancarkan ketakutan luar biasa. Gunung es itu bergerak cepat langsung ke arah kapal mereka. Lapisan es yang menutup laut mulai terbelah. Tabrakan antara sesama bongkahan es menghamburkan potongan-potongan es ke udara. Menimbulkan semacam gelombang serpihan es. Kapten John Patton sadar, bahaya maut sedang datang ke arah mereka!

Seluruh awak kapal kembali merapat di dalam palka, bersiap menyongsong maut dan pasrah pada nasib. Gemuruh pecahan es terdengar semakin nyaring. Mendekat… mendekat… dan semakin dekat. Lalu gelombang besar susul-menyusul mengguncang kapal. Seluruh awak terlempar ke luar dari palka, terhempas ke dek.

Seluruh awak berpegangan erat. Kapal bergeser kencang dan terhempas menuju laut es yang sudah mencair. Meluncur cepat di antara dua celah gunung es. Diseret gelombang kembali ke laut lepas.

Lolos dari Maut

Sadar mereka telah lolos dari maut, seluruh awak berdiri bersorak girang. Mereka saling berpelukan. Sargon lolos dari cengkraman es. Sebuah mukjizat!

Setelah empat hari terapung-apung dan terseret arus, Sargon ditemukan oleh sebuah kapal Jerman "Schlewig Holstein". Awak kapal Jerman menolong mereka dan menarik Sargon ke Pelabuhan Reykjavic di Iceland.

Beberapa saat di Reykjavic, Sargon diperbaiki. Batu bara dan perbekalan diisi ulang. Setelah mengucapkan salam perpisahan dengan rasa terima kasih yang besar, Sargon kembali berlayar ke Grimsby. Minggu kedua April 1923, setelah empat bulan di neraka es, kedatangan mereka di Inggris disambut haru ! (g)
«1

Komentar

  • :top: :top: :top:
    IJO.......IJO.......IJO..........
  • [size=small]
    silahkan share kisah2 petualangan mu lainnya disini..
    sbg pengalaman dan pelajaran bagi kita semua..
    dan pemacu semangat utk lebih mencintai alam.
    thread zeemers ini akan saya sticky..
    :top:
    [/size]
  • [align=center]jadi teringat...petualangan gw waktu mendaki ke puncak mahameru...bersama sahabat-sahabat gw di Surabaya..dihari kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 2006...kita berhasil mencapai puncak Mahameru dan mengibarkan bendera sang saka merah putih..duuuhh perasaan bangga,haru,senang,lelah..campur aduk jadi satu.....dan kebersamaan-lah yang membuat kita berhasil mencapai puncak [size=large]Mahameru[/size]:top:[/align]

    [align=center]dan ini video gw dan temen2 gw...waktu perjalanan pendakian ke puncak Mahameru
    [/align]
    [align=center]
    • Camera : Sony DX1600
    • Editing : all my friend
    • 17 agustus 2006
    • Music Background : Dewa19 (Mahameru)
    [/align]



    [align=center] gw nggak akan melupakan moment ini seumur hidup..
    arek-arek suroboyo/para sahabat gw....:top: I MISS YOU GUEST:top:
    [/align]
  • elang biru menulis:
    [size=small]
    silahkan share kisah2 petualangan mu lainnya disini..
    sbg pengalaman dan pelajaran bagi kita semua..
    dan pemacu semangat utk lebih mencintai alam.
    thread zeemers ini akan saya sticky..
    :top:
    [/size]

    njeh pak:D
  • HAMPIR BLACK OUT DI PAPA THEO SHIP WRACK

    GW HAMPIR MATI DI Papa Theo Ship Wrack..

    Pulau Genteng Kecil - Kep. Seribu

    Sabtu, 9 Desember 2006 pk. 01.00 WIB

    Pada saat itu cuaca cerah..ga ada ombak sama sekali...laut amat tenang gw ma temen2 berangkat rame2 ke ship wrack point PAPA THEO...saat itu hati gw kalut, karena ga yakin bahwa gw bisa turun ke sana tapi akhirnya gw putusin tuk tetep turun...

    disebelah Pulau Bira, kapal pak Mail ngeluarin jangkarnya, dan ga lama kemudian gw mulai turun. hati gw masih deg2an, mungkin saat itu gw lagi pilek..bego juga seh, dah tau pilek tapi tetep nekat..saat itu dive buddy gw sari dan gw mulai turun rame2 ma yang lain ( 01.30 WIB)

    Ternyata bener equalisasi di bagian telinga kanan gw mulai gak beres , dan mau gak mau gw harus ngurangin kedalaman, saat itu gw udah di 20 ft...dan gw liat juga sari makin turun ke bawah dan temen2 gw yang lain pun akhirnya turun semua, gw sendirian megang tali jangkar sambil terus mencoba equalisasi.ternyata usaha gw ga berhasil dan gw langsung naik ke permukaan.

    DISINILAH KESALAHAN GW..gw terkesima dengan pemandangan kapal yang bagus banget dari atas, dan gw masih penasaran tuk tetep turun ke bawah..akhirnya dengan pedenya gw turun lagi..dan ternyata kedua telinga gw dah bisa diajak kompromi...ketika gw dah sampe di kedalaman 55 ft, gw ngerasa parno ngeliat kebawah, tapi ada rasa kagum plus bangga..gw dah bisa ngeliat ship wrack.

    gw makin penasaran, dan gw coba tuk turun lagi sampe di 70 feet gw ngeliat temen gw Ari ma Rama, dan gw langsung aja nyamperin mereka sampe gw liat depth meter gw,dan gw dah di 85 ft..gw seneng banget dadah dapet buddy lg artinya gw dah ga sendirian lagi..gw ngeliat suasana kapal yang keren banget..sampe akhirnya gw mulai ngerasa ada yang ga beres di kepala ma paru2 gw..saat itu gw terus turun sampe 95 ft..dan disitu kepala gw makin kacau.otak kepala gw makin sakit.pikiran gw makin ga jelas, nafas gw berat dan gw hirup oksigen dalam2....dalam hati gw bertekad ga mau mati sekarang..gw kasih tau ari kalo gw pusing berat, dan ari nyuruh gw terus kedepan cari buddy lain karena ari lagi ngurus temen gw tika yang ga bisa ngatur boyancy.gw terus kedepan..sampe akhirnya gw ketemu bapak2 yang ga mau peduliin gw..emang brengsek tuk orang..gw dah kasih kode tapi ga nolongin...gw terus kedepan dan sekaligus kurangin kedalaman, akhirnya gw nemu indra dan dia nuruh gw tuk ke riki.. dalam hati gila BENTAR LAGI GW MO MATI..TAPI MASIH DIOPER2 JUGA...sampe akhirnya gw berhenti di kabin kemudi kapal..disitu gw ketemu riki dan dia minta gw tuk naik brg dia..saat itu kepala gw dah ga beres gw dah mo merem tapi gw paksain tuk tetep melek...sebenernya gw mesti stop deco di 15 ft tapi gw ga bisa atur bouyancy dan riki akhirnya ikut gw.. gw terus naik sampe permukaan..saat di permukaan gw hirup udara dalam2..gw bersyukur banget bhw gw ga perlu mati sekarang..

    akhirnya gw naik ke kapal dan gw ditepar disana...tapi lacur waktu gw nyariin dokter, si dokter malah turun...gw muntah2 terus disana..dan ketika dokter dah naik gw dirawat ma dia sambil diksih oksigen murni...

    ...TERIMA KASIH TUHAN ATAS KESEMPATAN HIDUP YANG MASIH KAU BERI...

    PAPA THEO...I`LL BE BACK.....


    buat temen2 yg tertarik dg SCUBA DIVING, saya tegaskan utk tidak mengikuti cara menyelam seperti diatas.

    hal yg perlu diperhatikan :
    1. DIVE BUDDY ALWAYS
    setiap kali menyelam kita harus turun berdua, DILARANG KERAS UTK TURUN SENDIRI

    2. JANGAN TURUN DAN NAIK TERLALU CEPAT
    tubuh kita ini mempunyai kemampuan yg amat terbatas, apabila diberi tekanan yg mendadak dan berlebihan dapat berakibat fatal seperti yg pernah saya alami diatas atau, seperti video yg ada dibawah ini

    peraturan yg berlaku adalah utk naik keatas/ke permukaan adalah kita harus lebih lambat atau sama dengan gelembung udara terkecil... (jadi pas bernafas/ buang udara !!!! asal jgn cari gelembung kentut yah !!!, cari aja tuh gelembung yg paling kecil kalo udah dapet ikutin aja, dijamin selamat kog :grin:)

    da kalau turun kita ikuti aja tekanan yg kita rasakan di telinga kita...
    kalau masih sakit.. kurangi kedalaman, atau turun pelan2..kecuali kalo selaput telinganya dah dol atawa robek :blah:

    ditonton aja...
    saya dah nonton berkali2.. biar makin sayang ma nyawa sendiri... ;)
  • skaters menulis:

    njeh pak:D
    [size=small]
    OOT ajah lu nak..
    :blah:
    [/size]
  • maap pak.. saya salah tempat dunks... malah bikin thread sendiri... muup yah....
  • celinekuhan menulis:
    maap pak.. saya salah tempat dunks... malah bikin thread sendiri... muup yah....

    [size=small]
    gpp bro..
    tar gw gabungin ajah yah?
    tapi..



    belom tau caranya...
    :blah:
    maklum newbie..
    :grin:


    sip dah digabung...
    silahkan yang lainnya...
    :top:
    [/size]
  • permisi.....:blah:

    boycactus.gif
    adeewwww:pusing:

    OOT dikit:blah:
  • jungle_surf menulis:
    permisi.....:blah:

    boycactus.gif
    adeewwww:pusing:

    OOT dikit:blah:
    [size=small]
    sorry ya boss..
    threadnya gw gabung kesini biar rame...krn tema nya sama..
    share lagi dong boss..yg laen....
    :top:
    [/size]
  • elang biru menulis:
    [size=small]
    sorry ya boss..
    threadnya gw gabung kesini biar rame...krn tema nya sama..
    share lagi dong boss..yg laen....
    :top:
    [/size]

    no problemo....:peace:

    :top:
  • skaters menulis:
    repost...:ngakak:

    awas lu yah :mad: :mad: :mad:






















    :ngakak: biarin... gue kan disuruh weeeek :p
  • oy kok pada OOT nih:mad:



































    mayan +1 :ngakak:
  • di up ahhhh.... ayo pada share donk.. kumpul2 kita...
  • celinekuhan menulis:
    di up ahhhh.... ayo pada share donk.. kumpul2 kita...
    [size=small]
    :top: di up lagi...
    mana lagi nih para adventurer..
    [/size]
  • masih scan phutu ..ndan...
    abisnya pake kamera tustel.......:blah:
    maklum advent....jaman jadul gw dulu....:blah:

    sabar yah:top:
  • jungle_surf menulis:
    masih scan phutu ..ndan...
    abisnya pake kamera tustel.......:blah:
    maklum advent....jaman jadul gw dulu....:blah:

    sabar yah:top:

    :wait:
  • Aku kasih sinopsis buku aja deh...

    Category: Books
    Genre: Outdoors & Nature
    Author: Jon Krakauer

    Mencari Makna Kehidupan di Alam Liar


    Into the Wild: Kisah Tragis sang Petualang Muda. Buku ini direkomendasikan untuk kubaca oleh salah seorang kawan di kantor. Mula-mula, aku agak enggan dan hanya menjadi pendengar, saat kawanku itu cerita tentang buku sejenis, Into Thin Air. Buku yang ditulis oleh penulis yang sama.

    Namun, saat kerinduan pada alam dan pengembaraan secara fisik, aku mulai tertarik membaca buku tersebut.

    Aku mulai membaca sinopsis di cover belakang buku. Di sana dituliskan:
    “Into the Wild
    Aku ingin pergerakan dinamis, bukan kehidupan yang tenang. Aku mendambakan kegairahan, bahaya, dan kesempatan untuk mengorbankan diri bagi orang yang kucintai. Aku merasakan di dalam diriku, tumpukan energi sangat besar yang tidak menemukan penyaluran di dalam kehidupan kita yang tenang. – Leo Tolstoy (Family Happiness”)

    Apa yang ada dalam benak seorang pemuda cerdas, sarjana berpredikat cum laude, ketika dia meninggalkan kehidupannya, keluarga yang mencintainya, dan mengasingkan diri ke alam liar? Mengapa dia menanggalkan kenyamanan peradaban dan semua atribut duniawi, dengan menyumbangkan semua tabungannya, membakar sisa uang tunai yang dia miliki, serta meninggalkan mobil kesayangannya di tengah hutan begitu saja?

    Christopher McCandless menjelma menjadi Alexander si Petualang Super—menggantungkan hidup pada alam sepenuhnya, mengabaikan risiko apa pun, dan mencoba bertahan di tengah kebekuan dan kesunyian Alaska, The Last Frontier, dataran kejam yang tak kenal belas kasihan. Akankah petualangan ini membawa dia pada makna kehidupan? Ataukah ini hanya kegilaan kompleks seorang pemuda nyentrik yang haus sensasi?

    Di dalam Into the Wild: Kisah Tragis sang Petualang Muda, Jon Krakauer mengajak kita menguak misteri pengasingan diri Alexander si Petualang Super dan menyelami gairah manusia saat tersinggungan dengan bahaya dan maut.“

    Sebuah sinopsis yang sungguh memukau sehingga mendorongku untuk membuka halaman-halaman dalam --buku tersebut. Namun, di bab-bab awal, aku merasa kesulitan untuk menyatu dengan teks-teks yang dihadirkan. Bahasa dan cara penceritaan yang berlompatan, agak menyulitkan bagiku. Pada halaman 40 an, aku mulai mengeluhkan kepada kawanku tadi tentang cara penulisan ceritanya. Aku pun mulai menunda acara membaca buku itu.

    Pada suatu kesempatan, aku mempunyai banyak waktu luang. Kucoba lagi meneruskan membaca buku itu. Sebuah kejutan memesona! Pada pertengahan buku, aku baru menyadari cara penulis menyampaikan cerita dengan berlompatan ke sana ke mari menjadi daya tarik tersendiri bagiku. Aku pun terbawa ke dalam suasana yang sangat menakjubkan.

    Walaupun Penulis mencoba menjaga jarak dari tokoh utama, dengan menghindari penilaian-penilaian secara subjektif. Tapi, selipan-selipan cerita tentang para petualang serupa, secara tidak langsung, Jon Krakauer mencoba mengatakan kepada kita bahwa Alex, atau yang mempunyai nama sebenarnya Christopher McCandless, bukan seorang pemuda eksentrik yang konyol. Sehingga, dia merasa pantas mengabadikan kisah petualangan pemuda itu dalam tulisan-tulisannya.

    Cerita ini dimulai dengan judul bab, “Pedalaman Alaska”, yaitu tentang pertemuan antara Jim Gallien, pengemudi mobil, dan seorang pengembara muda bernama Alex yang menumpang mobilnya. Rupanya, Alex hendak memasuki alam liar Alaska dan hidup di sana dengan hanya mengandalkan alam selama beberapa bulan.

    Mendengar hal itu, Gallien cukup terkejut dan menyarankan agar Alex mengurungkan niatnya. Ah, tentu saja, bukan Alex namanya jika memenuhi permintaan Gallien untuk mengurungkan hasrat terbesarnya itu. Mengetahui hal itu, Gallien pun tidak dapat berbuat apa-apa atas keteguhan hatinya. Gallien yang baik pun hanya mampu melepas Alex dengan disertai pemberian sepasang sepatu bot kerja dan bekal makan siang miliknya kepada si Pemuda.

    Lalu, penulis menceritakan dengan gaya alur balik yang berlompatan, bagaimana di sepanjang perjalanan antara Washington DC menuju Alaska, selain Gallien banyak orang yang mencoba menawarkan kebaikan dan hubungan-hubungan erat. Namun, Alex tidak dapat menerima simpatik-simpatik yang datang kepadanya dalam waktu lama. Bahkan, dia cenderung selalu memilih untuk menyendiri.

    Dalam petualangannya, dalam kesendiriannya, apa sebenarnya yang dicari pemuda itu? Arti kehidupan yang bagaimana yang hendak dimaknai? Adakah rahasia tersembunyi yang membawa hasratnya untuk mengembara? Lalu, bagaimanakah pencarian tersebut berujung?
  • top bro... ditunggu pengalaman pribadinya...

    ayo yg lain... ditunggu ceritanya...
    @jungle surf... jgn ee mulu... fotonya dah gw tunggu nih :blah:
  • celinekuhan menulis:
    top bro... ditunggu pengalaman pribadinya...

    ayo yg lain... ditunggu ceritanya...
    @jungle surf... jgn ee mulu... fotonya dah gw tunggu nih :blah:
    [size=small]
    wah telat..
    ayo mana lagi..???
    :top:
    [/size]
  • kisah yang bagus bro.... baik into thin air or into the wild....
    sayang subjektifitas penulis (jhon Krakauer) cukup dominan juga karena
    mayoritas rekannya tewas dalam tragedi mei di everest.....

    bravo....
  • Ice_Man menulis:
    kisah yang bagus bro.... baik into thin air or into the wild....
    sayang subjektifitas penulis (jhon Krakauer) cukup dominan juga karena
    mayoritas rekannya tewas dalam tragedi mei di everest.....

    bravo....

    [size=small]
    :think:
    tar cari bukunya ah..
    makasih infonya ya oom...
    :top:
    [/size]
  • elang biru menulis:

    [size=small]
    :think:
    tar cari bukunya ah..
    makasih infonya ya oom...
    :top:
    [/size]

    nonton aja filmnya..
    dah ada kok :)
  • zee tanjung menulis:

    nonton aja filmnya..
    dah ada kok :)
    [size=small]
    :wow:
    jadul bgt gw...
    [/size]
  • tampilin donk resensinya...
    kalo bisa sama harga nya sekalian..

    tq yah

    salam boyancy..
  • Kebetulan akhir taon lalu gua jalan2 ke jawa tengah ngunjungin sodara2 yg berada di kaki gunung gajah terdapat satu obyek wisata yang masih asri...yaitu air terjun mancur atau pancur...yg adanya di kaki gunung telomoyo...
    nih gua tampilin gambar2nya yah...


    [align=center]ini gunung telomoyonyah

    HPIM3460copy.jpg

    air terjunnya

    HPIM3490copy.jpg
    HPIM3481.jpg

    ini gambar rawa pening terlihat di kejauhan dari jalan ke air terjunnya...keren banget....

    HPIM3478copy.jpg[/align]

    kelebihan dari obyek wisata ini :
    1. Masih asri udara enak buanget.....
    2. Murah cuman serebu masuknya.
    3. Bisa jadi tempat olahraga...soalnya dari tempat parkir turun ke air terjunnya bisa 20-30 menit jalan...

    Kekurangannya :
    1. Fasilias masih kurang
    2. Tidak direkomendasi untuk orang yang jantung ga kuat soalnya naeknya dari air terjun keatas bisa sejam...cape bener dah suerr...
    3. Suka ada preman walaupun sekarang dah mulai dihilangkan...
    4. Tempatnya rada susah nyampenya..kudu ada yg pernah kesana...
    jadi overall kalo mau liat2 tempat baru yg cuacanya enak trus suasananya enak buat ngadem bole coba sekalian jalan2 berpetualang. kalo berminat bisa tanya gua jalannya hehe..pokonya dari salatiga ambil jalan mau ke obyek wisata kopeng..ntar ngelewatin deh tempatnya ato tanya2 tukang ojek daerah deket kopengnya...
  • [size=small]
    buset..
    air terjunnya asli mantabb bgt..
    :wow:
    :top:
    [/size]
Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Halo, Komandan!

Sepertinya anda baru di sini. Ingin ber-interaksi? Klik satu tombol ini!

Kategori

Penawaran Terbatas

Booking.com
Liburan di ratusan ribu destinasi & puluhan ribu akomodasi di 200+ lebih negara seluruh dunia. Tentu saja dengan harga promo khusus dan terjangkau kantong anda. Silahkan coba cari dan temukan impian liburan atau akomodasi untuk bisnis anda!