Contact Us

Ir. H. Djuanda

juandazw8.jpg

Mungkin anda sekalian kurang mengenal siapa itu Ir. H. Juanda, apalagi anda mungkin lahir di tahun 1970, dan anda mengenal nama beliau mungkin dengan mengingat sebuah nama jalan-jalan, waduk dan bandara yang berada di Surabaya. dikarenakan kurang informasi tentang beliau yang belum banyak diceritakan dalam sejarah kemerdekaan Indonesia sewaktu kita sekolah dulu, dibandingkan pahlawan-pahlawan kemerdekaan yang lainnya yang mungkin lebih banyak dipelajari dalam sejarah kemerdekaan Republik Indonesia ini seperti hal Presiden pertama RI ( Ir. Soekarno ) dan wakilnya ( Moh. Hatta ) atau nama yang lainya.

Maka disinilah saya akan memberitahu atau sekedar menginformasikan yang apa yang saya baca tentang beliau. Apa dan siapa beliau, apa yang telah banyak dibuat dan dilakukan oleh beliau semasa hidupnya, yang mengabdikan dirinya untuk negara ini. Sehingga kita dapat mengenalnya beliau lebih jauh dan intinya mengambil pelajaran apa yang beliau lakukan sewaktu dulu dalam memperjuangkan dan mempertahankan kedaulatan negeri tercinta ini dengan mengeluarkan pemikiran-pemikirannya yang cemerlang, tepat dan cepat, dan dalam menghadapi suasana apapun beliau selalu tenang. Guna menanamkan rasa nasionalis kita ke generasi mendatang dalam membentuk watak generasi muda agar dapat melanjutkan perjuang yang pernah dilakukan oleh para pejuang nasional dahulu, supaya kita bisa mempertahankan kemerdekaan ini dengan mengambil apa yang terbaik yang telah dilakukan terdahulu.



Riwayat Ir. H. Djuanda dan Masa Pendidikannya

Ir. H. Juanda adalah sosok seorang anak bangsa yang hidup dari keluarga pasangan suami istri yang berasal dari Jawa Barat di ufuk timur yang terletak didaerah kota Tasikmalaya. Adalah sebuah kota yang sejuk dan segar udaranya dimana pepohon tumbuh dengan indahnya yang berhias embun pagi yang menyirami serta suasana yang tenang, rindang dan tak berdebu seperti Jakarta sekarang ini.

Penduduk kota yang berjumlah hanya beberapa ribu yang bergerak santai menyelusuri irama kota kecil melalui jalan-jalan yang dihiasi dan diapit oleh pepohonan yang rindang dan rimbun dimana menjadi pelindung manusia dari teriknya matahari. Segala aktivitas yang dilakukan masyarakat berjalan dengan tenang dan santai. Maklumlah ini adalah kehidupan dan suasana alam pada tahun 1911. Disebuah rumah seorang bapak yang masih muda belia dengan rasa haru, bangga dan puji syukur kepada Tuhan yang Esa menata istrinya yang sedang menyusui anak mereka yang pertama. Seorang putra kecil mungil yang baru lahir, pada tanggal 14 januari 1911. Raden Kartawidjaja ,seorang guru muda berasal dari leles ,mempersunting gadis remaja Nyi Momot berasal dari Tasikmalaya kira-kira setahun yang lalu .pada tanggal 14 januari 1911 meraka dikaruniai seorang putera yang mereka berikan nama Djuanda. Bayi yang baru lahir itu adalah seorang bayi biasa ,seperti bayi-bayi yang lain. Bayi itu lahir dan dibesarkan dalam satu keluarga guru yang biasa dan sederhana. Dalam asuhan dan kasih sayang ayah bunda, bayi itu semakin lama semakin besar, ia timbuh menjadi anak yang biasa saja.

Tahun berganti tahun Djuanda tumbuh semakin besar dan Djuanda mendapatkan kawan bermain serumah karena satu persatu adiknya lahir kemuka bumi ini yakni, Koswara dan Djuandi menyusul kemudian dua puteri dan laiki-laki. Atas pengabdian dan ketekunan Pak Kartawidjaja mendidik anak didiknya sehingga beliau diangkat menjadi mantri guru di Hollands Inlands Scholl (HIS) yaitu sekolah dasar berbahasa Belanda bagi anak-anak bumiputra. Dan karena tugas itu keluarga pak Katawidjaja harus berpidah-pindah tempat tinggal bersama keluarganya dari kuningan hingga ke Cicalengka. Sejak dahulu pekerjaan seorang guru adalah pekerjaan yang sangat mulia, karna dimana ia berada selalu mencoba mengajarkan anak didiknya menjadi pintar, juga pak Kartawidjaja menjadi petuah dimana beliau menjadi tempat bertanya dan meminta nasehat dikampungnya, hingga setiap tingkah laku dalam kehidupan pribadi dan dalam mendidik anak-anaknya menjadi teladan bagi masyarakat disekitarnya. Dalam dunia pendidikan pak Kartawidjaja tidak mau keluarga atau teman-temannya tidak mau ketinggalan dan akan berusaha untuk terus maju mengajak untuk menuntut ilmu setinggi mungkin. Walaupun pada waktu itu pendidikan ditentukan oleh penguasaan bahasa Belanda bukan oleh kedudukan jabatan orang tua, oleh karena itu bagi anak desa dan orang kebanyakan, terbatas atau bahkan tertutup kemungkinan untuk melajutkan pelajaran.

Sebagai seorang guru, Pak Kartaawidjaja sangatlah memperhatikan dunia pendidikan anak-anaknya. Dan kemajuan anak sulungnya di HIS menyakinkan beliau untuk membuka jalan untuk melanjutkan kesekolah anak-anaknya kejenjang yang lebih tinggi, karena beliau melihat ada kemampuan dan kecerdasan dan ketekunan belajar dalam diri Djuanda yang diperlihatkan, dalam pemikiran ayahnya bahwa Djuanda dapat mencapai dunia pendidikan yang lebih tinggi. Sekalipun pak Kartawidjaja seorang mentri guru yang tetap saja biaya pendidikan itu tinggi. Pada waktu itu Pak Kartawidjaja melihat saluran terbaik anak dalam dunia pendidikan adalah Europese Lagere Scholl (ELS), tetapi sekolah ini disediakan hanya untuk anak-anak orang Belanda atau sering disebut Indo, tetapi ada pengecualian untuk anak-anak bumiputera seperti halnya harus pandai berbahasa Belanda, ayahnya seorang pejabat pemerintahan yang cukup tinggi kedudukannya serta gajinya cukup tinggi atau rekomundasi dari seorang Belanda yang terkenal dalam pemerintahannya.

Meloncat dari HIS ke ELS tidaklah mudah. Tetapi Djuanda adalah seorang murid yang cerdas dan ayahnya seorang mantri guru membuka jalan bagi Djuanda untuk dapat pindah ke ELS. Pada tahun 1923 Pak Kartawidjajaj, dari Mantri guru HIS Kuningan dipindahkan ke HIS Cicalengka ini membuat Djuanda bisa pindah ke ELS. Setelah berhasil memasuki ELS dikota itu, Djuanda duduk di kelas V. disini Djuanda membuktikan bahwa anak bumiputera tidak kalah dengan anak Belanda. Malah Djuanda melebihi kawan-kawannya karna dari kelas V ia dapat langsung melonjat ke kelas VII atau kelas terakhir. Prestasi ini jarang terjadi, apalagi ia anak bumiputera yang bersaing ditengah-tengah anak-anak orang Belanda. Kecerdasan dan kepintaran saja yang ia miliki tetapi juga ketekunan, ketelitian dan kecermatan juga dimilikinya. Kegemarannya dalam membaca buku-buku Belanda memperkaya pembendaharaan bahasanya.

Pada tahun 1942 Djuanda menamatkan ELS dan menempuh ujian masuk ke HBS. Ia lulus dan diterima masuk di HBS Bandung dan jenjang pendidikan lima tahun yang berada dijalan Biliton, dan filialnya dijalan Pasirkaliki. Sekolah ini mempelajari ilmu nilai-nilai susila, akal budi dan jasmani para pelajar yang memerlukan perkembangan sesudah sekolah rendah dan untuk di pendidikan tinggi. Disamping itu juga bertujuan untuk memenuhi kebutuhan yang hendak melanjutkan studi lembaga lain. Sekolah ini dipimpin oleh Direktur Dr. J. W. Bart. Sebuah Dewan Pengawas yang terdiri atas 4 orang terkemuka masyarakat Belanda, yaitu Residen purnawirawan, dokter/ direktur rumah sakit, pendeta dan asisten-residen/ sekretaris purnawirawan yang mengawasi jalanya sekolah. Dan peraturan kedisplian disekolah yang sangat ketat terhadap pelajar HBS.

Djuanda termasuk salah seorang murid yang terpandai. Sesudah lima tahun mengikuti pelajaran disekolah Belanda itu, ia menempuh ujian akhir. Dengan predikat schitterend geslaagd (lulus dengan baik sekali) ia mengakhiri masa sekolah lanjutannya dengan menggondol diploma HBS pada tanggal 1 Mei 1929.Melihat bakatnya yang demikian baik dalam bidang eksakta dan cita-citanya yang demikian tinggi. Pada waktu ada seorang direktur dari HBS Dr.Ir.F Gisolf, berupaya agar ia dapat melanjutkan studi ke Technische Hoge School Bandung (Sekolah Teknik Tinggi sekarang ITB). Atas upaya direktur itu dan Dewan Pengawas HBS, Djuanda berhasil memperoleh beasiswa dari Pemerintah. Pendidikan di HBS dan kehidupan di asrama telah mengembleng Djuanda untuk melangkah memasuki perguruan tinggi (THS) di Bandung Utara. Djuanda makin dewasa, yakin dan percaya diri. Dan pada bulan juli 1929 Djuanda masuk THS. THS mempunyai kedudukan akademis yang tinggi dimata kaum intelektual.

Di Belanda maupun Indonesia pada waktu itu. Gelar insinyur dimata masyarakat sangat tinggi dan orang tua akan bangga bila anak bisa menjadi seorang insinyur karena akan menjamin kehidupan yang layak bagi keluarganya. Sesudah perang Dunia I, Pemerintah Hindia Belanda dan para pengusaha Belanda banyaka membutuhkan pegawai-pegawai yang berpendidikan teknik menengah dan tinggi. Ini dikarena impor tenaga kerja dari negeri Belanda mengalami hambatan maka dari itu pihak Belanda membuka sekolah tehnik dan untuk lulusa sekolah tinggi teknik kelulusan sama saja dengan lulusan sekolah tehnik tinggi di Delf. Dimana pada tahun 1929 diterima 39 orang mahasiswa, diantaranya 18 mahasiswa Indonesia yang salah satu adalah Djuanda, 2 orang Cina dan 19 orang Belanda/ Eroupa.

Masa Djuanda menjadi mahasiswa adalah masa pergerakan nasional dimana para pemuda bersatu mencetuskan kongres Pemuda Indonesia yang mengumandangkan Ikrar bersama/ sumpah pemuda yang berbunyi satu tanah air-Indonesia, satu bangsa-bangsa Indonesia dan satu bahasa-bahasa Indonesia. Walaupun Djuanda aktif mengikuti pergerakan nasional , tetapi perhatiannya yang besar adalah soal-soal kemasyarakatan, khususnya Sunda. Konsentrasi terhadap pendidikan begitu tinggi dan disiplin, orang yang tenang dan pendiam hingga membuat ia tidak suka berpolitik karena menurutnya politik yang biasa menimbulkan pertentangan. Tetapi setelah sekali-sekali mengikuti ceramah-ceranah Ir Soekarno, dan pada akhir ia ikut aktif juga. Pada tahun 1930-1931 diangkat menjadi ketua ISV.



Pembentukan Karier Ir. H. Djuanda

Pada tahun 6 Mei 1933, sebagai hasil dari jerih payah, ketekunan dan kerajinan, Djuanda dan kawan-kawannya memasuki Ruang Senat. Dihadapa para guru besar, pimpinan THS menyatakan mereka Lulus dan mereka berhak menyandang gelar Civiel Ingenieur. Empat orang Indonesia yaitu Djuanda, Endoen, Abdoel karim, Soenardi, dan Soepardi yang meneriam gelar Ir. Semua nya merupakan angaktan 1929-33 dan ini membahagiakan Bapak dan Ibu Kartawidjaja karena anak sulung mereka telah berhasil mendaparkan gelar tersebut yang telah lama mereka idam-idamkan.

Setelah mendapatkan gelar insinyur yang waktu Ir Djuanda masih berumur muda 22 tahun dan siap untuk terjun kemasyarakat. Tetapi sebelum memasuki dunia yang baru, Ir Djuanda menikahi seorang gadis Bandung yang bernama Juliana adalah puteri dari pasangan Raden Wargadibrata dan Istrinya Setti Kajenah. Julia adalah seorang guru yang masih muda jelita yang mengajar di taman kanak-kanak diBandung dan merupaka lulusan dari Kweekschool. Pada saat mereka hendak terjun kedalam masyarakat dalam keadaan yang kurang baik ini. Dikarenakan pada waktu itu terjadi krisi ekonomi yang disebut juga dengan sebutan Malaise melanda dunia. Ini terjadi pada tahun 1930 yang melanda juga negeri Belanda dan tanah jajahanya Hindia-Belanda. Banyak perusahaan yang tidak menerima pegawai baru. Krisis ekonomi ini banyak berdampak pada insinyur muda, yang menyebabkan pemerintah mendahulukan orang-orang Belanda untuk memasuki dinas pemerintahan dan membuat Ir Djuanda dan kawan-kawanya terpaksa melakukan pekerjaan non teknik

Karena sulitnya mencari pekerjaan ditempatnya, akhirnya Ir. Djuanda hijrah ke Jakarta untuk mencari pekerjaan apa saja, karena ia harus menghidupi keluarganya. Didaerah Kramat ada satu komplek sekolah. Disitu terdapat sebuah Meer Uitgebried Lager Onderwij (Mulo, Sekolah yang setingkat SMP). Sekolah-sekolah ini diasuh oleh organisasi Muhamadiyah yang didirikan pada tanggal 18 November 1912 di Yogyakarta oleh Kh. Achmad Dahlan. Dahulu organisasi Muhamadiyah hanya boleh ada di Yogyakarta saja, pada jaman pemeritahan Belanda tetapi lambat laut Muhammadiyah melebarkan sayabnya keseluruh Indonesia yang misinya adalah melepaskan kebiasan adat yang buruk dan supaya agama Islam dapat selaras dengan perubahan zaman.

Otto Iskandar Dinata adalah seorang nasionalis terkenal asal Sunda yang sempat bekerja di HIS Muhamadiyah Jakarta pada tahun 1928. kegiatan politiknya membawa ia masuk ke organisasi Pagoeyoeban Pasoedan yang kemudian menjadi ketua. Pada tahun 1993 Muhamadiyah sedang mencari guru dan direktur sekolah-sekolah di Kramat. Di karenakan Djuanda dan Otto Iskandar Dinata merupakan orang yang berasal dari Sunda dan atas rekomendasinya Otto Iskandar Dinata, Djuanda dapat diterima di Muhamadiyah Jakarta. Sekolah-sekolah Muhamadiyah banyak menampung murid-murid yang tidak diterima di sekolah negeri, ini dikarenakan banyak diantara mereka yang bahasa Belanda kurang lancer.

Paguyuban Pasundan (PP) adalah sebuah oragnisasi kedaerahan yang didirikan pada tahun 1914. Dalam perkembangan organisasi-organisasi menuju satu kesatuan, PP turut pula berupaya kearah itu hingga memasuki Pemufakatan Perhimpunan-perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia pada tanggal 14 september 1927 cakrawala perjuangan meluas sifat daerah mulai menuju ke nasional ini dipengaruhi oleh perjuanga Ir. Soekarno dan PNI nya yang menuju ke Indonesia Merdeka. Dan untuk melepaskan sifat kedaeraha Dalam diri PP maka diadakan kongres di Bogor pada tanggal 4 – 5 April 1931 memutuskan membuka keanggotaan bagi semua orang Indonesia. Dikala Ir. Djuanda memasuki organisasi ini tahun 1934, PP sudah mempunyai 20 cabang dan 3217 anggota sedangkan PI mempunyai 20 cabang dengan 1700 anggota.



Ir. Djuanda Dalam Revolusi Fisik

Bom atom yang meledak di Hiroshima dan Nagasakti mengakhiri kekejaman Jepang diseluruh Asia Pasifik pada tanggal 15 Agustus 1945. Dan pada tanggal 17 Agustus 1945, Ir. Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Disinilah karier Ir. Djuanda menjadi DPA dengan maklumat Kementerian Perhubungan no. 1/KA tanggal 23 Januari 1946, dan mengurusi dibidang perkereta apian yang waktu itu banyak mengalami masalah/ kekacauan karena pada waktu itu menaiki kereta api merupakan hukuman daripada kesenangan. Gerbong yang rusak kursi-kursi yang robek, para pencopet dan lain-lain kekacauan yang ada pada waktu itu. Titik berat perhubungan pada waktu itu adalah perhubungan darat. Dan perkereta apianlah yang terpenting pada waktu itu dikarenakan semua alat angkut bermotor dikuasai Jepang dan lautan juga dikuasai oleh sekutu. Jadi hanya kereta apilah yang hanya dimiliki Indonesia pada waktu itu. Guna menjalankan perkereta apian dan menjamin berfungsinya alat angkutan yang vital yang begitu pentingan Negara dan rakyat pada waktu itu maka pada pertengahan tahun 1964 diadakan konferensi yang dipimpin oleh Ir. Djuanda.

Pengakuan terhadap kepemimpinan Ir. Djuanda pada waktu itu mengandung arti besar, karena dalam revolusi Fisik tidak mudah orang diakui sebagai pemimpin( sekalipun diangkat oleh Presiden) tetapi Ir. Djuanda memiliki jiwa-jiwa seperti ketabahan, ketegasan sikap, dan keberanian tetapi berkepala dingin sehingga rasionya dapat menguasai emosinya. Ia termasuk yang paling muda diantara pemimpin kereta api lainnya yang berumur 35 tahun keatas. Sikapnya tenang, tidak kaku dalam pergaulan dan ia pun menjalanka putusan-putusan konferensi dengan tekun dan serius. Walaupun dalam waktu itu pemimpin gampang naik darah, tetapi sifatnya yang tenang itu berhasil mengatasi itu semua.

Pada waktu itu cabinet yang dipimpin oleh Bung Hatta berada dalam posisi sulit, didalam negeri banyak terjadi pergolakan-pergolakan politik yang melemahkan kedudukan RI, dan Ir. Djaunda seorang anggota cabinet juga merasakan masa-masa ini. Ia adalah seorang yang non partai dimana ia tidak mau ditarik kiri atau kekanan oleh partai-partai. Ia malah lebih senang berdiri diluar partai dan mengabdikan dirinya hanya untuk Negara. Karena sifatnya itu ia sering disebut seorang administrator yang baik, seorang yang tidak berpihak kepada partai-partai maka dari itu ia senang tiasa duduk dalam cabinet-kabinet.

Pak Djuanda pun mempunyai sifat orang yang rapih, tertib dan ketelitian yang dibawa pak Djuanda sewaktu ia tinggal HBS Bandung, seperti contohnya Bapak itu orang rapi, sampai meneriam tamunya, bapak tidak pernah memakai baju piama walaupun tamunya itu seorang bawahannya.



Ir. Djuanda dalam Pembanguan Bangsa

Ir. Djuanda dan para staffnya banyak sekali mengalami bermacam-macam kesulitan dalam upaya mengembangkan perekonomian Negara dan bangsa, tetapi waktu itu Djuanda dan para staff mampu memberi sumbangan yang menguntungkan bagi perkembangan ekonomi dalam waktu delapan bulan, walaupun cabinet harus menyelesaiakan berjenis-jenis persoalan politik, militer, keamanan, kepegawaian dan perburuhan dapat diselesaikan. Dan pada akhirnya pemerintahan cabinet hal dapat dicatat dalam beberapa hal yang menguntungkan. Pendapatan Negara ini diuntungkan dikarena adanya perang Korea dan Vietnam yang banyak membutuhkan barang mentah seperti karet dan timah dan pinajaman Eximbank ini membuat cadang devisa keuangan Negara menjadi baik, harga-harga barang dipasaran dan kebutuhan hidup stabil. Penyeludupan barang blackmarket dapat ditekan. Angka-angka ekpor menunjukan hasil yang tinggi dibanding tahun 1949. tetapi anggaran belanja pada tahun 1950 negara devisit hingga 1.736 juta dan biaya ini banyak keluar disebabkan keperluan pemerintahan yang sangat tinggi dan belanja pegawai negeri yang besar jumlahnya yang belum dapat untuk dikurangi. Sedangkan untuk pembayaran atas pembelian barang-barang untuk sarana perhubungan dibayar oleh pemerintah berdasarkan pada syarat-syarat perdagangan yang biasa dengan bank ataupun Negara lain. Dan Ir. Djuanda mengakhiri tugasnya selaku Menteri perhubungan pada tanggal 3 Juni 1953 karena cabinet baru terbentuk pada 30 Juli 1953.



Ir. Djuanda sebagai Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan.

Pada tanggal 8 April 1957 Presiden Soekarno mengumumkan cabinet baru. Sebagai Perdana Menteri (PM) dipilihlah Ir. Djuanda. Menurut Soekarno bahwa Djuanda merupakan orang yang non partai yang berkali-kali duduk didalam cabinet, orang yang tidak terlibat pertikaian politik, seoarang administrator yang demokratis, pengabdi Negara yang setia dan jujur.

Tetapi dalam cabinetnya pada waktu itu situasi dalam keadaan tidak bagus dikarenakan situasi Negara yang terancam perpecahan. Pada tanggal 6 Mei 1957 dibentuk dewan nasional. Sesudah pembentukan DN yang sangat urgen bagi PM Djuanda adalah melaksanakan penyelesaian pertentangan yang terjadi dipusat dan daerah. Ini disebabkan oleh adanya pertentangan dibidang politik, pemerintahan, ekonomi, keuangan, dan retaknya dwitunggal mempunyai efek politis dalam masyarakat.

Dan langkah pertama yang dilakukan PM Djuanda adalah mengutus utusannya untuk mengadakan pendekatan kepada daerah yang berkonflik dan membawa bahan penyelesaian dan Djuanda dan para rombongan menghasilkan dibentuk otonom baru tingkat 1 dan yang langkah yang kedua yang diambil PM Djuanda adalah Musyawarah Nasional (Munas) yang bertujuan untuk menormalisasikan keadaan dan menegakan keutuhan RI. Yang diundang adalah Pemerintah Daerah (sipil dan militer) bersama penasehat-penashatnya serta tokoh-tokoh Indonesia yang akan diadakan di Gedung Proklamasi. Dan dua tokoh yang diundang hanya Soekarno dan Hatta. Dan hasilnya berdampak baik bagi pemerintahan bahwa ini merupakan kemenangan psikologis bagi pemerintahan karena dwitunggal dapat disatukan kembali dan meredamkan pergolakan-pergolakan yang ada didaerah-daerah. Tetapi perjuangan perdamaian yang telah diperjuangkan hancur hanya dalam beberapa bulan.

Suasana menjadi kacau penuh kekalutan, terjadi pergerak-pergerakan yang bersifat anarkis ketidak keseimbangan antara pusat dan daerah makin memanas. Dan pada tanggal 16 Febuari 1958 Presiden Soekarno pulang dari luar negeri dan menerima laporan dan Djuanda, kemudian Presiden Soekarno mengadakan pertemuan dengan Hatta untuk mencari penyelesaian tersebut. Pada akhir pemeritah dapat menumpas segala kekacauan yang terjadi didaerah-daerah konflik. Dan pak Djuanda juga berhasil menyusun organisasi Departement Angkatan Darat, Laut dan Udara sehingga mempermudah koordinasi angkatan perang. Dalam siding-sidang pleno Wakil-wakil yang sedang bersidang sejak tanggal 10 November 1956 sampai Januari 1959 tidak dapat menghasilkan apa-apa. Sebagai imbangan, presiden Soekarno muncul dengan konsepsinya disusul dengan gagasan Demokrasi terpimpin. Tetapi apa yang harus di tempuh untuk melaksanakan demokrasi terpimpin itu? Dengan renungan yang mendalam disertai pemikiran yang matang PM Djaunda berpendapat bahwa yang diambil adalah kembali ke UUD 45. Dan idenya ini disetuju oleh presiden itu diajukan ke Dewan Menteri pada tanggal 1959. kerangka rumusan kembali ke UUD 45 diajukan kepada para anggota cabinet dengan suara bulat disetujui oleh semua dewan. Pada akhirnya tanggal 20 Febuary 1959 perumusan anjuran pemerintah itu disetujui oleh Presiden dan pada tanggal 6 juli 1959 Pagi PM. Djuanda dan Kabinet Karya mengembalikan mandatnya kepada Presiden dan menjelaskan tentang anjuran presiden untuk kembali ke UUD 1945 dalam sidang pleno DPR. Pemerintahan Djuanda pada waktu telah berhasil mempertahankan keutuhan bangsa dan Negara.



Hal-hal Yang Dilakukan Ir. H. Djuanda diberikan untuk negara

· Membantu Presiden Soekarnao dalam menyelesaikan pemberontakan-pemberontakan yang melanda RI sejak tahun 1950 dengan menyerahkan semua pimpinan pemberontakan sebelum tanggal 5 Oktober 1961

· Mengambil peran pentinga untuk mengatur pergerakan pembebasan Irian Barat sejak tahun 1957 hingga pada tahun 1962 Irian Barat kembali kepangkuan RI

· Mempersiapkan Rencana Pembangunan Nasional yang berlandasan partisipasi seluruh rakyat Indonesia dalam pembangunan ekonomi rakyat dengan tersedianya dana (bukan pinjaman) yang diperoleh dari dalam dan luar negeri. Rencananya bertujuan melaksanakan amanat Pembukaan UUD 45 yang akan diselenggarakan secara bertahap. Yaitu setiap tahun sekali terhitung pada tahun 1965.

Tetapi sayang sebelum menjalankan rencana pembangunan nasionl itu beliau telah dipanggil lebih dahulu oleh Yang Maha Kuasa, beliau meninggal pada usia 52 tahun dikarnakan serangan sakit jantung yang dideritanya, sewaktu ia menghadiri pembukan hotel Indonesia di Jakarta pada tanggal 1963 dan wafatnya beliau membuat rakyat Indonesia merasa kehilangan seorang putra bangsa yang selalu mengabdikan dirinya hanya untuk bangsa dan Negara tercinta ini. Dan telah banyak yang disumbankan oleh beliau dalam perbuatan atau pemikirannya guna menbangun negeri yang baru saja merdeka ini kedalam taraf kehidupan yang lebih baik dan semua ini dia lakukan hanya karna cinta pada negeri ini.



Hal yang harus kita ambil dari Ir, H Djuanda dan mengapa kita sangat membutuhkan orang seperti dia.

Yang patut generasi muda ambil dari sosok seorang Ir. H Djuanda untuk sekarang ini adalah pelajaran dan pandangan dari seorang yang nasionalis tulen yang moderat, yang jujur mempunyai visi kenegaraan yang luhur mampunyai loyalitas dan integritas yang tinggi terhadap Negara. Yang mempunyai janji yang selalu ditepati dan tidak pernah menginkari. Tidak pernah beliau bersikap emosional dalam menghadapi suatu permasalahan, tidak pernah ungkapan beliau yang mencela orang lain. Selalu tenang dan sabar walaupun pada waktu itu beliau menghadapi seorang menteri yang bersikap aneh-aneh dan yang paling saya kagumi dan paatut kita tanamkan dalam diri kita dari beliau adalah seorang pejuang bangsa yang mempunyai pandangan jauh kedepan. Dan banyak mengetahui dalam bidang riset, pendidikan dan latihan, terutama dalam bidang organisasi serta tentang filsafat dan pandangan analitis tentang struktur masyarakat, kebudayaan, hukum perekonomian dan pemerintahan. Selalu memperhatikan keadaan setiap para bawahannya dan yang paling utama adalah perhatian beliau terhadap keluarga yang sangat diperhatikannya walaupun dikehidupan pemerintahan banyak menyita waktu luang.

Dan mengapa Indonesia membutuhkan orang seperti dia?. Indonesia sekarang ini, telah banyak sekali terjadi persoalan-persoalan yang sangat berpengaruh pada roda perekonomian Indonesia sekarang ini. Mulai dari harga yang melonjak tinggi, nilai rupiah yang sangat rendah terhadap mata uang dollar, pemberontakan didaerah dikarnakan kurang puasnya daerah terhadap pemerintahan pusat, mengakibatkan takutnya investor untuk menanamkan modal, juga para koruptor yang masih meraja rela karna hukum kita yang masih dapat dipermainkan, sehingga semua ini memperpanjang krisis ekonomi dinegara ini. Dan dilain persoalan, tidak adanya perlingdungan hukum yang membuat para tenaga kerja kita diluar negeri yang berkerja Negara tetangga sering terjadi pelecehan dan kekerasan secara fisik yang terjadi terhadap tenaga kerja Indonesia (TKI) yang kadang kala hukum tidak pernah berpihak pada mereka (TKI) walaupun bangsa Indonesia sudah merdeka bertahun-tahun lamanya dan bukan lagi jamannya perbudakan. Pengakuan dari Negara sebelah ( Malaysia ), mengakui beberapa aneka ragam yang kita punya yang diakuinya secara terbuka seperti contoh lagu rasa sayange, batik, jamu dan kebudayaan daerah kita.

Semua ini terjadi karenakan perekonomian ekonomi kita yang kurang kuat diakibatkan krisis ekonomi yang berkepanajangan. Dan mengapa belum juga terselesaikan sampai sekarang ini. Mungkin ini disebabkan oleh jiwa nasionalis untuk membangun dan menyelesaikan perekonomian dinegeri tercinta kita ini, belum tumbuh secara mendalam dalam diri kita, masih ada perpecahan dari para elit politik kita sehingga saat ini beluma ada yang dapat menyatukan. Sering terlihat saling menghantam dan mencari kesalahan-kesalahan orang lain sehingga masalah sesungguhnya terabaikan. Kita tidak belajar dari sejarah masa yang lalu dan mencoba memahami dan bisa memaafkan apa yang pernah terjadi dan dengan mengambil hikmahnya, menjadi pelajaran yang berarti supaya tidak terjadi lagi diwaktu mendatang.

Sejarah dahulu pernah memberitahukan dan mengambarkan dengan jelas bagaimana ini semua pernah terjadi dinegara ini dan mungkin lebih parah. Kita pernah mengalami nama krisis ekonomi, dimana pemotongan mata uang dari (Rp.1000,- menjadi Rp 100,-) Kelaparan dimana-mana, harga pangan yang tinggi, pengganguran, pemberontak-pemberontakan terjadi sehingga stabilitas keamanan terganggu dan ini juga akan berdampak pada jalan perekonomian maupun pemerintahan. Disini kita akan menyadari bahwa kita mempunyai sosok seorang yang nasionalis yang dimana gambaran itu mungkin ada dalam diri seorang Djuanda. Dari sejarah kita bisa lihat bagaimana seorang Ir. H Djuanda yang selalu mengabdikan diri untuk bangsa ini, dengan pemikiran dari ilmu yang pernah didapatnya mengeluarkan ide-ide untuk membangun, dengan merangkul semua untuk bersama menuangkan pemikirannya mengambil suatu keputusan bersama. Mempunyai jiwa yang tegas, tepat dan cepat dalam suatu hal, dimana harus cepat dalam mengambil satu tindakan. Memcoba mempersatukan yang berkuasa untuk duduk bersama membangun negeri ini walaupun beliau bukan seoaran politis tapi beliau bisa mempersatukanya dan beliaupun sangat dihormati oleh karena sikapnya yang tenang dan sabar dalam menyikapi semua orang yang beraneka ragam wataknya. Meredam semua pemberontakan yang ada, dengan pendekatan yang dilakukan dengan bernegosiasi untuk bersama bergabung kembali dengan menghasilkan sesuatu yang diingginkan daerah. Dan untuk keluar beliau banyak sekali bernegosiasi dengan dengan Negara lain dengan perjanjian yang tidak memberatkan Negara Indonesian guna untuk pembanguan disegala bidang dengan menekan inflasi serendah mungkin dan menumpas para koruptor dan perdagangan illegal yang marak sewaktu itu.

Inilah mengapa kita harus membutuhkan orang seperti Ir H. Djuanda, seorang yang nasionalis yang dapat membangun negeri tercinta ini dengan baik. Walaupun pada waktu itu, kita baru saja merdeka dari penjajahan dan dengan bermacam-macam permasalahan yang ada. Tetapi dengan ketekunan dan kecerdasan dan ide-ide pemikirannya, cinta pada negeri ini yang mengabdi diri untuk Negara tercinta ini sampai akhir hayatnya yang inggin Negara ini maju dan berkembang. Yang sayangya, perjuangan beliau untuk negeri ini belum dapat terlaksana dengan baik karna beliau lebih dahulu dipanggil yang kuasa. Untuk inilah, marilah generasi muda yang dibanggakan rakyat Indonesia dengan semangat membangun negeri ini, yang belum dapat Ir. H Djuanda laksanakan dengan apa yang rakyat ingginkan. Marilah kita meneruskan pembangunan negeri ini, dengan mengikuti atau mencontoh beliau dan sebagai semboyang membangun bangsa ini dengan menuntut ilmu setinggi-tingginya dan menghasilkan atau menuangkan pemikiran–pemikiran dan kecerdasan yang kita punya, mengelola kekayaan alam yang tersedia di Negara ini dengan sebaik-baiknya sehingg kita dapat memenuhi kebutuhan bangsa kita sendiri. Menanamkan jiwa patriot dan nasionlis yang tinggi dan keiklasan membangun negeri ini dengan dapat memenuhi kebutuhan Negara kita sendiri, sehingga kita tidak lagi terlalu tergantung Negara lain dan menjujung tinggi martabat Negara kita hingga Negara kita tidak dipandang sebelah mata Negara lain dan menjadi bangsa ini, bangsa yang besar. Amin



Tanda Kehormatan yang Dimiliki Ir. H. Djuanda

Jenis Sk Presiden Tanggal

1. Bintang RI – II 1961

2. Bintang Dharma SK. Pers. 217 30-08-1959

3. Bintang Gerilya SK. Pers. 175 12-08-1959

4. Satya Lencana Pembangunan SK. Pers. 228 18-05-1961

5. Satya Lencana Kemerdekaan SK. Pers. 288 18-05-1961

6. Satya Lencana Karya Satya II SK. Pers. 228 18-05-1961

7. Bintang Bhayangkara I SK. Pers. 406 17-07-1961

8. Tokoh Nasional/ Pahlawan SK. Pers. 244 23-11-1963

9. Bintang Kehormatan Kelas I ( Jepang )

10. Bintang Kehormatan Kelas ( Yugoslavia )

11. Bintang Kehormatan Kelas ( Kerajaan Thailand )

12. Bintang Kehormatan Kelas ( Rusia )

13. Bintang Kehormatan Kelas ( Kamboja )

14. Bintang Kehormatan Kelas ( Rumania )



Maulana, SH
Penulis Adalah Staff IndoSolution

Komentar

  • hebat bener ir. h. djuanda
  • [font=Helvetica, Arial, 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif]Deklarasi Djuanda yang dicetuskan pada tanggal 13 Desember 1957 oleh Perdana Menteri Indonesia pada saat itu, Djuanda Kartawidjaja, adalah deklarasi yang menyatakan kepada dunia bahwa laut Indonesia adalah termasuk laut sekitar, di antara dan di dalam kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah NKRI.[/font]


    [font=Helvetica, Arial, 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif]Sebelum deklarasi Djuanda, wilayah negara Republik Indonesia mengacu pada Ordonansi Hindia Belanda 1939, yaitu Teritoriale Zeeën en Maritieme Kringen Ordonantie 1939 (TZMKO 1939). Dalam peraturan zaman Hindia Belanda ini, pulau-pulau di wilayah Nusantara dipisahkan oleh laut di sekelilingnya dan setiap pulau hanya mempunyai laut di sekeliling sejauh 3 mil dari garis pantai. Ini berarti kapal asing boleh dengan bebas melayari laut yang memisahkan pulau-pulau tersebut.[/font]


    [font=Helvetica, Arial, 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif]Deklarasi Djuanda menyatakan bahwa Indonesia menganut prinsip-prinsip negara kepulauan (Archipelagic State) yang pada saat itu mendapat pertentangan besar dari beberapa negara, sehingga laut-laut antarpulau pun merupakan wilayah Republik Indonesia dan bukan kawasan bebas. Deklarasi Djuanda selanjutnya diresmikan menjadi UU No.4/PRP/1960 tentang Perairan Indonesia. Akibatnya luas wilayah Republik Indonesia berganda 2,5 kali lipat dari 2.027.087 km² menjadi 5.193.250 km² dengan pengecualian Irian Jaya yang walaupun wilayah Indonesia tapi waktu itu belum diakui secara internasional.[/font]


    [font=Helvetica, Arial, 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif]Sumber: http://perpustakaandinaskelautandanperikanan.blogspot.com/2012/11/buku-9-perspektif-menuju-masa-depan.html[/font]
    [font=Helvetica, Arial, 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif]Referensi lain, sisi pandang lain: http://www.pkspiyungan.org/2014/11/china-as-rusia-bancakan-maritim-jokowi.html[/font]
    never feel bother....
Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Iklan & Promosi Anda


Order ads here. Click me to get price quotation! Monthly & Unlimited click!

Halo, Komandan!

Sepertinya anda baru di sini. Ingin ber-interaksi? Klik satu tombol ini!

Kategori