Kuliner : Eitt... Ca Bulus Bikin Mulus

140414pbr1.jpg

BAU sedap itu menyeruak ke sebuah ruangan sempit berukuran dua kali empat meter. Sejumlah pria yang tengah menunggu sajian menu istimewa pun mengaku makin merasa lapar.

"Tunggu beberapa menit lagi, biar lebih matang," ucap sang koki, Gumarwan (70) kepada para pengunjung di warungnya.

Warung makan ca bulus miliknya, Depot Nikmat di Jalan Veteran Banjarmasin memang tak pernah sepi dari pengunjung. Meski tempatnya sempit, namun masih mampu menampung para pelanggan setianya.

Bulus, memang bukan menjadi satu-satunya menu yang ditawarkan, karena masih ada sate buaya dan sate bulus. Tapi ca bulus, dianggap cukup istimewa bagi pelanggannya.

Bulus, adalah nama familiar dari kura-kura yang hidup di perairan air tawar atau sungai. Bulus biasa diburu dengan senar pancing dua mata dengan umpan precil atau anak kodok.

Di Banjarmasin, warga memburu bulus di Sungai Martapura. Warna bulus tergantung dari kondisi air tempat ia hidup. Misalnya di Sungai Martapura, bulus berwarna coklat karena air di sungai kebanggaan warga Banjarmasin itu berwarna kecoklatan.

"Nah, sekarang sudah matang," kata Gumarwan yang menyajikan ca bulus di dalam sebuah piring warna putih. Selain berbau sedap, warna daging menggoda, kepulan asapnya menambah selera.

Wuih..., rasanya enak sekali. Apalagi disantap panas-panas, terasa gurih. Dagingnya begitu empuk. Tak perlu lama mengunyah. Dipadu dengan nasi, membuat lebih terasa lho.

"Warung ini memang kecil, tapi pelanggannya datang dari Jakarta dan Surabaya lho. Terutama relasi dari para pebisnis di Banjarmasin," kata Gumarwan berpromosi.

Untuk membuat ca bulus menurut Gumarwan cukup sederhana. Setelah daging dicuci bersih, barulah menyiapkan bumbu-bumbunya. Cukup sederhana karena hanya memerlukan bawang putih, bawang merah, kencur dan jahe putih. Kalau mau membuat variasi rasa, bisa ditambah penyedap.

Untuk membuat asin dan manis sesuai selera, tambahkan garam, gula. Bisa juga pakai kecap. Pokoknya, bisa disesuaikan dengan selera lidah kita.

Harganya memang cukup mahal. Sepiring ca bulus bersama nasi dan minuman hangat, harus ditebus Rp 35.000. Tapi bagi mereka yang hobi menikmati hidangan lezat, uang bukanlah kendala.

Menurut Gumarwan, bahan baku berupa bulus dia dapatkan dari warga yang biasa mancing di Sungai Martapura dan sekitarnya. Namun jika sedang sepi bulus, dia mendatangkan dari Balikpapan, Kalimantan Timur.

"Kami biasa beli dari pemancing lokal. Untuk satu kilogram bulus, harganya ya Rp 20.000 - Rp 30.000. Tergantung kondisi bulusnya juga," ujarnya.

Bulus-bulus yang diterimanya masih dalam keadaan hidup. Untuk menyembelihnya, perlu keahlian khusus. Sebab, jika sampai si penyembelih digigit bulus, maka bisa bahaya.

"Bulus itu kalau sudah menggigit, sulit dilepas. Jadi ya ada tekniknya tersendiri," kata suami Nyosri ini.

Setelah disembelih, barulah 'dioperasi' perut dan kakinya. Daging di bawah tempurung diambil sebersih mungkin. Kemudian daging-daging itu dicuci dan disimpan di lemari pendingin.

"Tulang-tulangnya bisa dijemur agar keluar minyak bulusnya. Tempurungnya juga bisa dijual, juga tulang kakinya. Jadi banyaklah yang bisa dijual," jelasnya.

Menurut ayah dua anak yang telah menggeluti bisnis warung makan bulus sejak 1972 ini, ca bulus bisa bermanfaat untuk kesehatan dan kecantikan.

"Makanya banyak orang Surabaya dan Jakarta datang khusus ke sini untuk makan dan membawa pulang bungkusan ca bulus sebagai oleh-oleh keluarga," katanya.
Sign In or Register to comment.

Welcome to FORUM!

If you want to take part in the discussions, sign in or apply for membership below!