Contact Us

Bingkai Sejarah

Suatu kenyataan tak terbantah mengenai eksistensi manusia adalah bahwa keberadaannya dibatasi oleh sekat-sekat spasio-temporal. Manusia selalu berada dalam penentuan ruang dan waktu tertentu. Manusia terkondisikan dalam kategori ruang-waktu dan tidak terlepas dari penentuan ini. Di luar kategori ruang dan waktu, manusia lenyap. Manusia tidak mungkin ada di luar tapal batas ruang dan waktu.

Namun penentuan ini tidak secara pasif dialami oleh manusia. Manusia tidak saja terdeterminir oleh penentuan ruang dan waktu tetapi dapat pula menentukan ruang dan waktu tersebut. Manusia tidak hanya mengalami ruang dan waktu tetapi serentak dapat menciptakan “pengalaman lain” atas ruang dan waktu. Manusia dapat mengambil jarak tertentu terhadap ruang dan waktu sekalipun dalam proses tersebut ia tetap berada dalam kategorisasi ruang dan waktu tertentu. Dalam hal ini manusia dapat menghadirkan ruang dan waktu lain di luar pengalaman aktual ruang dan waktunya saat sekarang.

Menghadirkan ruang dan waktu lain di luar pengalaman aktual ruang dan waktu saat sekarang memungkinkan apa yang dinamakan sejarah. Sejarah adalah penghadiran ruang dan waktu masa lampau dalam tatanan kesadaran manusia. Sejarah adalah sebuah kesadaran akan pengalaman masa lampau. Pemahaman ini mesti jelas karena pengalaman masa kini dan masa depan bukanlah sebuah sejarah meskipun kedua pengalaman tersebut berpotensi menjadi sejarah di kemudian hari. Menyebut pengalaman masa sekarang dan masa depan sebagai sejarah adalah sebuah kekeliruan.

Karena itu, sebuah kesulitan yang dihadapi ketika mempelajari sejarah adalah soal pengabstraksian pengalaman aktual masa kini untuk dijadikan materi sejarah. Materi sejarah disusun pasca peristiwa (post factum) bukan pada saat peristiwa tersebut berlangsung (in actu) atau dalam tegangan peristiwa itu (in suspense within fact). Hal ini perlu diantisipasi sebab penyusunan materi sejarah tentang suatu masa aktual -misalnya penyusunan sejarah kontemporer di jaman kontemporer- rentan terhadap unsur manipulasi. Sejarah bisa dimanipulasi oleh kepentingan otoritas yang berkuasa di jaman itu. Contohnya; manipulasi sejarah peristiwa berdarah G-30S/PKI di jaman ORBA. Dalam contoh ini banyak pihak mensinyalir adanya rekaman lain di luar fakta masa lampau yang dianggap sebagai sejarah.

Percaya pada sejarah memungkinkan kita dapat mengambil sikap untuk berguru padanya. Dengan itu sejarah menjadi master of life. Soal adanya kesulitan pengabstaksian pengalaman aktual masa kini untuk dijadikan materi sejarah, sebenarnya merupakan konsekuensi dari adanya kisah simulatif sejarah itu sendiri. Artinya, kesulitan itu menjadi mungkin jika realitas, peristiwa dan pengalaman akan realitas disimulasi oleh karena kepentingan tertentu. Kita akan menghadapi kesulitan untuk mengetahui secara persis kisah sejarah dalam suatu dekade terakhir misalnya, ketika tegangan antara kisah tersebut dengan kepentingan masa kini segelintir kelompok masih ada.

Perang teluk itu bukannya tidak ada, tetapi bahwa perang teluk itu telah disimulasi sedemikian rupa oleh media massa sehingga menampilkan realitas yang lain dari realitas medan pertempuran. Alasan serupa dapat dipakai untuk mencermati narasi sejarah G-30 S/PKI versi Orde Baru. Kisah pembunuhan para pahlawan revolusi tahun 1965 itu bukannya tidak ada tetapi telah disimulasi sedemikian rupa oleh pemerintahan ORBA guna menstabilkan posisi politisnya. Walaupun ini hanya sekedar contoh kasuistik, tetapi contoh ini menjelaskan kesulitan pengabstraksian pengalaman masa kini untuk dijadikan materi sejarah. Alasannya adalah karena pengabstraksian tersebut bisa jadi tidak relevan dengan kenyataan oleh adanya simulasi realitas dari otoritas tertentu yang merasa kepentingannya terganggu jika realitas lapangan ditampilkan apa adanya secara jujur.

Sejarah adalah rekaman tentang pengalaman masa lampau. Sejarah adalah sebuah kilas balik peristiwa lampau yang memungkinkan manusia mengambil sikap baru atasnya. Sejarah adalah catatan peristiwa dan buah kesadaran manusia akan masa lampaunya. Tetapi catatan ini dapat direkayasa. Kisah pengalaman ini bisa diceritakan secara lain. Hal ini terjadi karena sejarah rentan terhadap simulasi. Simulasi sejarah membuka peluang penipuan terhadap kisah sejarah. Tetapi dalam kenyataan, simulasi sejarah ini sering disebabkan oleh adanya permainan segelintir orang untuk membela kepentingan tertentu. Hal itu dapat saja terjadi jika materi yang hendak dijadikan bahan sejarah tersebut masih memiliki keterikatan dengan otoritas yang merasa diri terganggu kalau sejarah diceritakan secara jujur apa adanya. Karena itu kita tidak bisa memvonis sejarah sebagai biang penipuan dan menuduh sejarah sebagai hasil rekayasa, simulasi dan kamuflase peristiwa yang tidak boleh dipercayai. Sejarah memang berpeluang untuk direkayasa tetapi tidak semua kisah bersejarah adalah hasil rekayasa.

Jadi berpikirlah bijak

Komentar

  • Setuju Mas De
    Maka nya saya stinky asumsi sy bahwa sejarah harus sesuai fakta dgn postingan harus ada data penguat nya bukan sekedar asumsi atau opini pribadi.
    Kalau kita tdk pingin di cap sebagai pemelintir sejarah maka nya harus ada data pendukung
    Dengan kebenaran tsb supaya kita bisa mengambil hikmahnya agar kita harus berani dan bersih
  • Siapa yang bisa menentukan sejarah rekayasa atau sejarah riil ?
    mengingat yang bisa menentukan arah sejarah akan dapat yang memegang kendali
  • BUKTI, FAKTA, DAN SUMBER SEJARAH

    1.Sumber Sejarah
    Beberapa pendapat dari ahli

    a.R. Moh Ali
    Sumber sejarah adalah segala sesuatu yang berwujud dan tidak berwujud serta berguna bagi penelitian sejarah Indonesia sejak zaman Purba sampai sekarang.

    b.Zidi Gozalba
    Sumber sejarah adalah warisan yang berbentuk lisan, tertulis, dan visual.

    c.Muh yamin
    sumber sejarah adalah kumpulan benda kebudayaan untuk membuktikan sejarah.
    Dapat disimpulkan bahwa sumber sejarah adalah segala warisan kebudayaan yang berbentuk lisan, tertulis, visual serta daapat digunakan untuk mencari kebenaaran, baik yang terdapat di Indonesia maupun di luar wilayah Indonesia sejak zaman Prasejarah sampai sekarang.

    Sumber sejarah terbagi menjadi 3 yaitu:
    a.Sumber tertulis
    sumber tertulis adalah segala keterangan dalam bentuk laporan tertulis yang memuat fakta-fakta sejarah secara jelas. sumber uini dapat ditemukan pada batu, kayu, kertas, dinding gua.

    b.Sumber lisan
    sumber lisan adalah segala keterangan yang dituturkan oleh pelaku atau saksi peristiwa yangterjadi di masa lalu. sumber ini merupakan sumber pertama yang digunakan manusia dalam mewariskan suatu peristiwa sejarah namun kadar kebenaran nya sangat terbatas karena terntung pada kesan, ingatan, dan tafsiran si pencerita.

    c.Sumber benda
    Sumber benda adalah segala keterangan yang dapat diperoleh dari benda-benda peninggalan budaya atau lazim dinamakan benda-benda purbakala atau kuno. sumber ini dapat ditemukan pada benda-benda yang terbuat dari batu, logam, kayu, tanah.

    Sumber sejarah dapat juga dibedakan menjadi:
    a.Sumber Primer
    sumber primer adalah kesaksian dari seorang saksi yang melihat peristiwa bersejarah dengan mata kepala sendiri atau saksi denganmenggunakan panca indera lain atau dengan alat mekanis yang hadir pada peristiwa itu (saksi pandangan mata, misalnya kamera, mesin ketik, alat tulis, kertas. sumber primer haruslah sezaman dengan peristiwa yang dikisahkan.

    b.Sumber Sekunder
    sumber sekunder adalah kesaksian dari siapa pun yangbukan merupakan saksi pandangan mata, yaitu seseorang yang tidak hadir pada peristiwa yang dikisahkan . misalnya hasil liputan koran dapat menjadi sumber sekunder karena koran tidak hadir langsung pada suatu peristiwa. peliputnya (wartawan) yang hadir pada peristiwa itu terjadi.


    2.Bukti Sejarah
    Bukti sejarah terbagi menjadi:

    a.Bukti tertulis
    Bukti tertulis miripp dengan sumber tertulis pada sumber sejarah yang memuat fakta-fakta sejarah secara jelas. bukti tidak tertulis dapat berupa cerita atau tradisi.

    b.Bukti tidak tertulis
    Bukti tidak tertulis sudah barang tentu tidak berwujud benda konkret, meskiopun demikian mengandung unsur-unsur sejarah. bukti tidak tertulis dapat berupa cerita atau tradisi.


    3.Fakta Sejarah
    Fakta Sejarah adalah data yang terseleksi yang berasal dari berbagai sumber sejarah. dalam fakta sejarah terdapat beberapa unsur, yaitu:

    a.Fakta Mental
    Fakta Mental adalahkondisi yang dapat menggambarkan kemungkinan suasaana alam, pikiran, pandangan hidup, pendidikan, status sosial, perasaan, dan sikap yang mendasari penciptaan suatu benda. misalnya pembuatan pembuatan nekara perunggu.

    b.Fakta Sosial
    Fakta Sosial adalah kondisi yang dapat menggambarkan tentang keadaan sosial di sekitar tokoh pencipta benda, seperti suasana zaman, keadaan lingkungan, dan sistem kemasyarakatannya. berdasarkan hasil penemuan benda-benda sejarah , seorang sejarawan dapat memperkirakan fakta sosialnya.

    Bukti dan fakta sejarah merupakan kumpulan peristiwa yang dipilih berdasarkan tingkat keeratan dan keterkaitannya dengan proses sejarah tertentu. berbagai macam fakta yang pada awalnya berdiri sendiri direkonstruksi kembali menjadi satukesatuan yang saling berhubungan dan bermakna. berbagai peristiwa masa lalu, bahkan ratusan tahun lalu yang dapat direkonstruksi kembali berdasarkan sumber-sumber sejarah.
  • REINTERPRETASI DAN REKONSTRUKSI SEJARAH

    Oleh Reiza D. Dienaputra

    Zeitgeist (jiwa zaman) reformasi yang semula hanya menyentuh para elit Orba pada akhirnya juga menyentuh produk-produk Orba yang sebelumnya sulit untuk dikoreksi. Ide-ide pembaharuan bagi produk-produk Orba tidak hanya tampak pada bidang-bidang yang berkaitan dengan politik dan hukum, tetapi juga meluas ke bidang-bidang lainnya. Satu di antaranya adalah sejarah. Dalam kaitan ini, seiring dengan runtuhnya kekuasaan Soeharto, muncul tuntutan-tuntutan untuk merevisi sejarah Indonesia. Berbagai produk sejarah yang dibuat Orba dinilai penuh kebohongan atau banyak dimanipulasi. Kisah-kisah sejarah seputar peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949, peristiwa G 30 S, dan peristiwa kelahiran Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar), merupakan contoh sebagian kisah sejarah yang melibatkan para tokoh Orba, yang kini banyak dipertanyakan kembali kebenarannya.

    Sayangnya, di tengah kuatnya keinginan untuk melakukan reinterpretasi atau penafsiran ulang atas berbagai peristiwa sejarah yang pernah tampil di pangggung sejarah Indonesia, orang seperti lupa tentang rule of game. Akibatnya, begitu mudah orang mengatakan suatu tulisan sejarah atau karya sejarah, khususnya yang diproduksi Orba, sebagai sebuah pemalsuan sejarah, manipulasi sejarah, atau kebohongan sejarah. Bahkan, yang lebih memprihatinkan lagi, di tengah kuatnya hembusan angin reformasi, sebagian orang seperti lupa dengan kenyataan bahwa esensi dari reformasi adalah sahnya perbedaan pendapat. Oleh karenanya, jelas tidak pada tempatnya, apabila setiap perbedaan pandangan menyangkut sebuah kisah sejarah, selama itu didukung oleh sumber dan data yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, selalu dihadapi secara emosional dan sikap curiga. Bila kondisi itu tetap dikembangkan, apa bedanya era Orba dengan era reformasi?


    Rekonstruksi Sejarah

    Di dalam ilmu sejarah, dikenal adanya dua buah konstruk sejarah. Pertama, sejarah dalam arti objektif, yakni peristiwa atau kejadian sejarah itu sendiri. Kedua, sejarah dalam arti subjektif, yakni sejarah sebagai hasil rekonstruksi masa lampau. Sejarah dalam konstruknya yang pertama sering disebut pula sebagai sejarah sebagai peristiwa, sementara sejarah dalam konstruknya yang kedua dikenal pula sebagai sejarah sebagai kisah. Semua historiografi atau karya sejarah, siapapun penulisnya, termasuk kategori sejarah dalam arti subjektif. Dikatakan demikian, karena konstruk sejarah yang merupakan hasil rekonstruksi atas peristiwa sejarah di dalamnya sudah pasti mengandung unsur-unsur subjektif dari penulisnya. Setidaknya ada tiga faktor yang akan menyebabkan terjadinya subjektivitas dalam penulisan sejarah. Pertama, sikap berat sebelah pribadi (personal bias). Kedua, prasangka kelompok (group prejudice). Ketiga, teori interpretasi yang berbeda.

    Meskipun subjektvitas sejarah sulit untuk dihindari tetapi dalam upaya melakukan rekonstruksi sejarah, tentu harus selalu diupayakan agar setiap karya sejarah dapat benar-benar terminimalkan dari unsur-unsur subjek. Dengan cara tersebut subjektivitas diharapkan dapat ditekan seminimal mungkin, sementara objektivitas dapat didekati semaksimal mungkin. Kenyataan bahwa obyektivitas dalam karya sejarah pada dasarnya tidak mungkin untuk dicapai mengakibatkan apa yang diharapkan tokoh sejarah kritis Leopold Von Ranke, wie es eigentlich gewesen ist, bahwa sejarawan pada dasarnya hanya bertugas mengungkap apa yang sesungguhnya terjadi, sulit untuk dilakukan karena pasti ada unsur-unsur subjek yang membuat tidak seluruh peristiwa dapat ditulis kembali secara utuh.

    Subjektivitas dalam rekonstruksi sejarah tidak hanya tampak saat interpretasi atau penafsiran terhadap fakta sejarah dilakukan tetapi juga telah tampak saat heuristik (tahapan pengumpulan sumber dan data) dilakukan. Subjektivitas saat heuristik misalnya dilakukan dengan hanya menggunakan sumber atau data yang benar-benar mampu mendukung rekonstruksi sejarah yang akan dilakukan sang penulis atau hanya mengumpulkan data atau sumber yang mudah dijangkau atau diperoleh. Bila hal itu terjadi meskipun kemudian terhadap data atau sumber tersebut dilakukan kritik, baik kritik ekstern maupun intern, bisa dipastikan bahwa fakta sejarah yang dihasilkan dari proses kritik tersebut akan sarat dengan muatan-muatan subjek. Dengan demikian pula, fakta sebagai sebuah konstruk merupakan karya sejarawan yang telah mengandung unsur-unsur subjektif sang penulis.

    Fakta yang objektif seratus persen tidak mudah ditemui atau kalaupun ada fakta jenis ini sering dikategorikan sebagai fakta keras (hard fact), yakni fakta yang kebenarannya diterima secara umum. Peristiwa Sumpah Pemuda yang terjadi pada tanggal 28 Oktober 1928, peristiwa proklamasi kemerdekaan yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945, dan peristiwa Gerakan 30 September yang terjadi pada tanggal 30 September 1945 merupakan contoh dari fakta keras. Di samping fakta keras ada pula jenis fakta lainnya, yakni fakta lunak (soft fact) atau fakta yang masih kontroversial dan masih terbuka untuk diperdebatkan. Fakta sejarah seputar keberadaan Budi Utomo sebagai organisasi pergerakan pertama di tanah air sehingga hari lahirnya ditetapkan sebagai hari kebangkitan nasional, fakta sejarah seputar keberadaan Soeharto sebagai aktor utama Serangan Umum 1 Maret 1949, fakta sejarah tentang keberadaan PKI sebagai dalang G 30 S, dan fakta sejarah seputar proses kelahiran Supersemar, merupakan sebagian contoh dari fakta lunak. Dalam menyikapi fakta yang kontroversial inilah, interpretasi sejarah, sering diwarnai pula oleh suatu penilaian (judgement). Artinya, menentukan fakta berdasarkan nilai tertentu, seperti nilai etis, nilai agama, kelas sosial, rasial, etnisitas, seksual, dan ideologis. Apabila nilai-nilai dibiarkan mempengaruhi interpretasi fakta sejarah maka subjektivisme akan merajalela dan objektivitas sejarah semakin sulit untuk sekedar didekati.


    Manipulasi atau Perbedaan Interpretasi

    Dari uraian singkat tersebut, jelaslah bahwa selama rekonstruksi sejarah didasarkan atas sumber atau data, tidak ada satu pun karya sejarah yang bisa dikatakan sebagai hasil manipulasi sejarah atau kebohongan sejarah. Kalaupun kemudian hasil rekonstruksi tersebut ternyata tidak atau kurang memuaskan bisa jadi karena subjektivitas muncul dalam proses interpretasi terhadap fakta sejarah. Sebaliknya, apabila rekonstruksi sejarah tidak didasarkan atas sumber atau data maka sebenarnya hasil rekonstruksi tersebut tidak dapat dikatakan sebagai karya sejarah tetapi lebih merupakan dongeng sejarah atau sejajar dengan prosa rakyat, seperti legenda, mite, atau ceritera rakyat. Mengapa demikian? Jawabannya sederhana, karena sejarah selalu berdasarkan atas sumber, data, atau dokumen, “no document no history”, tidak ada dokumen berarti tidak ada sejarah.

    Kalau demikian, apakah tidak mungkin terjadi manipulasi atau kebohongan sejarah? Jelas, manipulasi atau kebohongan sejarah sangat memungkinkan untuk terjadi. Dalam kaitan ini, manipulasi atau kebohongan sejarah dapat terjadi apabila sang rekonstruktor sejarah atau sang penulis sejarah memanipulasikan sumber atau data sejarah. Manipulasi sumber atau data sejarah dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Pertama, sumber atau data yang sesungguhnya dipinggirkan dan diganti dengan sumber atau data “baru” yang disesuaikan dengan kebutuhan rekonstruksi. Kedua, sumber atau data diubah sedemikian rupa agar hasil rekonstruksi mendekati bentuk yang diinginkan. Ketiga, sumber atau data “asli” yang digunakan sengaja dibuat tidak lengkap kemudian dicari atau ditambahkan sumber atau data “baru” yang sesuai dengan kebutuhan. Manipulasi sumber atau data sejarah ini terasa akan lebih sempurna tampilan akhirnya manakala sang rekonstruktor juga terikat dengan kepentingan-kepentingan tertentu, seperti kepentingan politik, kepentingan ekonomi, dan kepentingan agama dari sebuah kelompok atau rezim penguasa. Dalam konteks inilah, aksioma sejarah Benedetto Croce bahwa “true history is present history”, atau sejarah yang benar adalah sejarah masa kini atau sejarah yang dibuat penguasa, akan terasa tepat kebenarannya.

    Bila manipulasi sumber atau data sejarah ini dilakukan atas sebuah konstruk sejarah, jelaslah bahwa historiografi perlu ditata ulang. Terlebih manakala konstruk yang didasarkan atas data atau sumber yang telah dimanipulasikan tersebut dianggap atau diakui sebagai karya sejarah. Penataan yang diakibatkan oleh manipulasi sumber sejarah ini jelas tidak sekedar memperbaiki tetapi bisa jadi dengan menggantikan seluruh rekonstruksi sejarah yang telah dihasilkan. Namun demikian, untuk sampai kepada langkah penataan total ini terlebih dulu diperlukan adanya penelitian yang sangat konprehensif, hati-hati, dan cermat. Benarkah telah terjadi manipulasi data atau sumber sejarah? Bila ternyata hasil kajian menunjukkan bahwa manipulasi sumber atau data sejarah benar-benar terjadi, maka rekonstruksi sejarah perlu dilakukan secara menyeluruh sehingga dapat dihasilkan sebuah karya sejarah baru yang objektivitasnya dapat dipertanggungjawabkan. Sebaliknya, bila ternyata manipulasi sumber atau data tidak terjadi maka rekonstruksi sejarah hanya diarahkan pada upaya reinterpretasi sejarah sehingga dapat dihasilkan kisah sejarah yang lebih lengkap dan lebih objektif.

    Dalam konteks inilah betapa perlunya sikap kritis dan cermat dalam menilai setiap hasil rekonstruksi sejarah yang dibuat semasa rezim Orba. Apakah semua peristiwa sejarah yang direkonstruksi rezim Orba penuh dengan kebohongan? Apakah manipulasi sumber sejarah dilakukan oleh rezim Orba? Banyak kemungkinan jawaban yang bisa dikedepankan. Namun demikian, sebuah asumsi bisa kiranya dikedepankan bahwa bisa jadi karya sejarah yang diproduksi pada era Orba sebagian besar didasarkan atas sumber sejarah yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan bisa jadi pula ada sebagian dari rekonstruksi sejarah yang dibuat rezim Orba didasarkan atas data atau sumber yang telah dimanipulasikan. Oleh karenanya, sekali lagi, perlu sikap kritis dan cermat dalam menghadapi semua ini. Selanjutnya, bagi perkembangan historiografi yang berkualitas, yang perlu dikembangkan ke depan adalah mencegah seoptimal mungkin atau menutup serapat mungkin celah-celah yang dapat memungkinkan terjadinya manipulasi atas sumber atau data sejarah. Hal lain yang tidak kalah penting, sang rekonstruktor atau penulis sejarah harus atau wajib berupaya melakukan penjarakan (distansiasi) terhadap peristiwa sejarah yang tengah ditulisnya, khususnya dari pengaruh kepentingan penguasa atau kepentingan yang tengah memegang kekuasaan.

    Di samping itu semua, yang tidak kalah penting untuk digaris bawahi di sini, bahwa karya sejarah (sekali lagi) sebagai hasil rekonstruksi peristiwa sejarah membuka peluang yang seluas-luasnya bagi terjadinya perbedaan pendapat selama perbedaan pendapat tersebut didasarkan atas sumber atau data yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah serta interpretasi yang terminimalkan dari unsur-unsur subjek. Sikap emosional dan membabi buta dalam menyikapi konstruk sejarah yang tampilannya berbeda jelas tidak mendidik bangsa ini untuk bersikap kritis dan dewasa dalam menyikapi adanya perbedaan. Lebih dari itu, apabila keinginan untuk melakukan rekonstruksi sejarah secara menyeluruh hanya dilakukan atas dasar sikap emosional maka besar kemungkinan suatu saat akan terjadi lagi rekonstruksi secara menyeluruh atas rekonstruksi yang telah dilakukan tersebut. Jadilah karya sejarah yang dianggap paling benar tersebut kembali menjadi karya sejarah yang dinilai penuh kebohongan dan manipulasi oleh generasi mendatang. Kalau sudah demikian, apa gunanya rekonstruksi dan reinterpretasi sejarah dilakukan?
  • :top: :top: :top:
    IJO.......IJO.......IJO..........
  • Susah payah para pejuang mengusir penjajah, eh kita malah melupakannya?
    Kalau kalian lagi capek baca buku sejarah, lihat aja video yang berikut ini.
    Dijamin bagus, fantastis en nyaman nontonnya...

    Maaf jika salah tempat ya maklum masi nubi

    Sumber YOUTUBE
Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Halo, Komandan!

Sepertinya anda baru di sini. Ingin ber-interaksi? Klik satu tombol ini!

Kategori