Contact Us

Kartini-Kartini Masa Kini; Antara Impitan Ekonomi dan Kemajuan Zaman

Ada Yang Jadi Sopir, Jual Jamu, Tukang Cuci, sampai Tambal Ban
Dulu, perempuan hanya mengurus rumah tangga. Kerjanya cuma di dalam rumah. Namun, sekarang, justru banyak perempuan menjadi kepala rumah tangga. Mereka membanting tulang bagi suami dan anak-anak.
clixbanner1.gif

DENGAN senyum mengembang, Rafiani ramah menyapa wartawan Pontianak Post (Grup Jawa Pos) di rumahnya di Gang Cimahi Jalan Penjara. Perempuan berusia 50 tahun itu tidak bisa menyembunyikan kelelahan setelah seharian bekerja.

Matanya sendu, pertanda mengantuk. Sesekali, dia menguap. Maklum, seharian, dia menjadi "ratu" jalanan sebagai sopir angkutan kota (angkot).

Dia mengatakan telah menekuni profesi yang lebih akrab dengan dunia laki-laki itu selama 20 tahun. Profesi tersebut terpaksa dilakoni karena desakan ekonomi, terlebih setelah suaminya meninggal pada 2001. Sementara itu, dia harus menghidupi enam anaknya.

Saat itu, semua anaknya masih berusia sekolah. Ada yang kuliah, SMA, SMP, bahkan SD. "Untung, suami saya mengajarkan mengoperasikan opelet sejak 1986. Suami saya pernah berpesan bahwa hal tersebut merupakan langkah antisipasi. Jika umurnya tidak panjang, siapa yang akan menghidupi enam anaknya," kenang Rafiani.

Dia menuturkan, awalnya, dirinya sangat canggung dengan pekerjaan sebagai sopir itu. Maklum, semua teman satu profesinya adalah lelaki. Bahkan, pekerjaan tersebut menuntut Rafiani sering berdesakandenganpenumpang." Sebenarnya, tidak menyenangkan. Tetapi, demi membiayai hidup dan sekolah anak-anak, saya harus lakukan," ungkapnya.

Namun, kesibukan sebagai sopir angkot itu tidak lantas membuat dia melupakan tugas sebagai seorang ibu. Sebelum bekerja, Rafiani selalu menyiapkan sarapan pagi bagi anak-anaknya dan pulang pada siang hari untuk makan siang. Lalu, dia kembali bekerja sampai sore hari.

Sungguh sebuah rutinitas yang amat menguras tenaga. Awalnya, terasa berat, bahkan terlalu berat. Namun, rasa tanggung jawab untuk membiayai enam anak tersebut tanpa suami membuat dia merasa ringan.

Berkat kegigiha itu, saat ini Rafiani berhasil menyekolahkan anak-anaknya. Di antara enam anaknya, lima orang sudah sarjana dan bekerja. Sedangkan seorang masih menyelesaikan kuliah.

Rafiani ternyata tidak sendiri. Masih ada Kartini-Kartini lain yang menjadi tulang punggung keluarga masingmasing. Salah satunya adalah Misnawati. Dia harus menggantikan tugas suaminya.

Wanita berusia 29 tahun itu bekerja sebagai tukang cuci dan pembuang sampah. Hal tersebut dia lakukan demi membiayai kedua anaknya yang masih berumur 1 tahun dan 4 tahun. Maklum, Iriansyah, 26, suami Misnawati, menderita katarak. Sehingga, penglihatannya tidak jelas.

Bahkan, untuk bekerja maupun berjalan, dia harus dituntun oleh sang istri. Sebagai tukang cuci dan pemungut sampah, penghasilan per bulan Misnawati hanya Rp 100.000. Sebanyak Rp 30.000 dipakai untuk bayar sewa tempat mereka tinggal. Sedangkan Rp 70.000 digunakan untuk uang belanja sebulan.

"Begitulah hidup saya dan keluarga. Saya harus memberikan nafkah untuk suami dan keluarga. Namun, semua itu tetap saya jalani dengan penuh syukur kepada Allah," tuturnya.

Dia mengatakan harus bangun pukul 3.00 WIB untuk membuang sampah setiap hari. Setelah salat subuh, dia baru mencuci pakaian di rumah warga. Wanita yang bertempat tinggal di Batara IV Kota Baru tersebut mengaku pasrah dengan kondisi yang sedang dijalani itu.

Sementara itu, Kartini muda berikut juga berjuang untuk tidak menjadi beban kedua orang tuanya. Karena itu, dia rela menekuni profesi sebagai tukang tambal ban. Dia adalah Riri Agustina. Pelajar berusia 16 tahun tersebut tidak malu dengan yang dijalaninya sekarang.

"Saya asyik menekuni pekerjaan itu walaupun cuma tukang tambal ban. Hasilnya bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari maupun uang jajan," papar siswi SMK Bina Utama tersebut.

Komentar

Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Iklan & Promosi Anda


Order ads here. Click me to get price quotation! Monthly & Unlimited click!

Halo, Komandan!

Sepertinya anda baru di sini. Ingin ber-interaksi? Klik satu tombol ini!

Kategori