Film Dokumenter, Sebuah Sistem Propaganda yang Unik


Dua minggu terakhir menjelang pemilu, publik khususnya generasi muda ramai membicarakan film dokumenter karya Watchdoc berjudul Sexy Killer yang menuai banyak kontroversi di mata orang Indonesia. Film berdurasi 1 jam 29 menit tersebut mampu menghipnotis 17 juta khalayak untuk ikut meresapi kondisi masyarakat kelas bawah yang hidup berdampingan dengan daerah pertambangan yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Hal tersebut tidak lepas dari kemampuan para sineas dalam mengemas sebuah film dalam bentuk dokumentasi sehingga dapat memunculkan berbagai reaksi masyarakat yang menonton film tersebut. 

Misbach Yusa, sorang pendiri sinematek Indonesia pernah mengatakan bahwa dokumenter adalah suatu dokumentasi yang diolah secara kreatif dan bertujuan untuk mempersuasi penontonnya. Sehingga film dokumenter erat kaitannya dengan film-film yang bernuansa propaganda (Fachruddin, 2012).

Film memiliki nilai lebih dalam menyampaikan pesan dan makna karena mampu memberikan pengalaman serta perasaan penonton untuk mengikuti alur cerita secara mendalam. Salah satu ciri khas dari film dokumenter adalah memiliki durasi panjang tanpa menyesuaikan batasan slot waktu untuk ditayangkan pada stasiun televisi. 

Selain itu, penggunaan berbagai tipe pengambilan kamera untuk menghasilkan sudut pandang realitas peristiwa yang bersifat spontan dan menyebabkan interpretasi kreatif karena angle kamera mengikuti setiap gerakan objek apa adanya (Pratista, 2008).

Sexy Killer adalah salah satu contoh film dokumenter yang termasuk dalam jenis dokumenter investigasi. Ciri khas yang ditonjolkan dalam jenis dokumenter ini adalah pengungkapan peristiwa yang biasanya belum atau tidak terungkap dengan jelas. 

Melalui aspek visual, peristiwa tersebut diangkat untuk mengetahui latar belakang secara mendalam dan mengungkapkan beberapa fakta yang secara garis besar tidak pernah diketahui publik.

Selain dokumenter investigasi, secara umum film dokumenter terbagi dalam beberapa jenis, di antaranya adalah : dokumenter laporan perjalanan yang fokus dalam melaporkan perjalanan seseorang atau sekelompok dari hal yang paling penting hingga hal kecil. 

Dokumenter potret atau biografi yang lebih berkaitan dengan sosok seorang yang memiliki pengaruh atau memberikan perubahan sehingga perlu didokumentasikan. Dokumenter nostalgia yang banyak mengisahkan kilas balik peristiwa atau napak tilas dari kejadian-kejadian dari seseorang atau satu kelompok (Fachruddin, 2012).

Sebenarnya masih banyak jenis film dokumenter lain sebut saja dokumenter rekonstruksi, dokumenter eksperimen, dokumenter ilmu pengetahuan yang dibagi menjadi film dokumenter sains dan film instruksional. 

Namun, jenis-jenis film dokumenter yang sudah disebutkan sebelumnya merupakan tema populer yang sering diangkat oleh sineas dokumentasi dalam eksekusinya.

Di Amerika, salah satu contoh stasiun televisi yang menyajikan kumpulan film dokumenter berkualitas adalah HBO dengan programnya bernama HBO Documentary. Dengan ratusan film dokumenter terkenal yang diproduksi selama bertahun-tahun, HBO tetap diklaim oleh masyarakat sekitar sebagai raja film dokumenter. 

Baca Juga : Daftar Laptop HP Terbaru dan Termurah

Salah satu produksi filmnya yang terkenal adalah Mommy Dead and Dearest (2017) yang awal tahun 2019 ini telah diangkat menjadi serial televisi Hulu, The Act karena latar belakang cerita yang tragis antara ibu dan anak. Mommy Dead and Dearest mengisahkan tentang kehidupan seorang anak, Gipsy Rose Blanchard yang dipaksa tumbuh di lingkungan rumah sakit, perawatan medis yang ketat hingga memakai kursi roda sejak kecil padahal realita yang terjadi adalah ia tidak mengidap penyakit apapun.

Hal ini dilatarbelakangi oleh ibunya, Dee Dee yang terdiagnosa Munchausen Syndrome by Proxy yaitu jenis penyakit mental yang mengakibatkan orang tua memanipulasi kesehatan anaknya untuk diakui secara sosial.

Contoh kedua film baik Sexy Killer dan Mommy Dead and Dearest dapat disimpulkan bahwa film dokumenter dibuat untuk menyampaikan fenomena sosial yang terjadi di lingkungan masyarakat, baik Indonesia maupun dunia. Fenomena sosial yang terjadi tidak lepas dengan konflik sosial di dalamnya, di mana hal tersebut akan berimbas pada munculnya beragam kritik sosial setelah menonton film dokumenter. Kritik sosial biasanya akan muncul karena ada potensi konflik yang ditimbulkan merugikan pihak lain dan disebabkan oleh pihak lain pula.

Sebagai contoh, film dokumenter produksi HBO yang baru liris 3 dan 4 Maret 2019 berjudul Leaving Neverland. Film ini mengisahkan tentang dua orang pria yang sejak kecil tinggal bersama penyanyi pop legenda dunia atau "King of Pop", Michael Jackson di area rumah pribadinya yaitu Neverland. Dipaparkan oleh kedua pria tersebut bahwa telah terjadi pelecehan seksual selama bertahun-tahun dan disimpan secara pribadi karena akan berdampak terhadap reputasi Michael Jackson. 

Sebuah kritik sosial muncul karena kedua pria ini mengaku kepada publik setelah kurang lebih 5 tahun kematian The King of Pop yang pada akhirnya berdampak kepada spekulasi baru masyarakat terhadap gambaran sosok Michael Jackson menuju ke arah negatif. 

Tentu saja hal ini dibantah oleh pihak internal yaitu keluarga dari pihak Michael Jackson dan para penggemarnya yang mempertanyakan mengapa hal ini baru terungkap setelah bertahun-tahun semenjak kematian Michael Jackson.

Baca Juga : Daftar Laptop Acer Terbaru dan Termurah

Di masa mendatang, film dokumenter akan tetap eksis sebagai sarana media komunikasi massa yang bisa dibilang unik dan menarik. Meskipun hadir dengan sifat propaganda tetapi pada akhirnya mampu menjembatani masyarakat untuk selalu berpikir kritis terhadap fenomena-fenomena sosial. Harapannya, publik yang menonton dapat memberikan perubahan ke arah yang lebih positif dan membangun.

Sign In or Register to comment.