Contact Us

BI Tetap Menjaga Stabilitas Nilai Tukar Rupiah

Saat ini melemahnya nilai tukar mata uang rupiah menjadi bahasan yang selalu diperdebatkan oleh setiap elemen di Negara Indonesia. Baik media cetak maupun online hingga media sosial turut memperbincangkan topik tentang melemahnya nilai tukar rupiah Indonesia. Kestabilan dari nilai mata uang, baik itu dalam inflasi maupun nila tukar menjadi faktor yang cukup penting yang mendukung pembangunan ekonomi di Indonesia serta meningkatkan kesejahteraan bagi rakyat. Nilai mata uang yang stabil bisa menumbuhkan kepercayaan pada masyarakat serta dunia bisnis. Hal ini lah yang kemudian membuat perekonomian Indonesia menjadi semakin bergairah.Dan tak hanya itu saja, inflasi yang dapat terkontrol dan rendah bisa mendukung daya beli masyarakat tetap terjaga, khususnya bagi masyarakat dengan pendapatan yang tetap. Namun jika kondisi inflasi menjadi tidak stabil tentunya akan mempersulit bagi dunia bisnis dalam merencanakan kegiatan-kegiatan ekonomi, baik itu dalam kegiatan produksi hingga investasi. Pengalaman ini pernah dialami Indonesia pada krisis nilai tukar yang terjadi pada tahun 1997-1998 menunjukkan betapa pentingnya agar negara dapat menjaga agar nilai tukar rupiah tetap stabil.
Untuk bisa mencapai tujuan tersebut agar kestabilan mata uang tetap dapat terjaga, negara memberikan kewenangan bagi bank Sentral dalam menjalankan tugasnya tersebut. Di Indonesia, fungsi bank sentral dijalankan oleh Bank Indonesia. Nilai tukar rupiah terhadap Dollar sangat bergantung dari kemauan serta kemampuan yang dimiliki Bank Indonesia. Peran utama dari Bank Indonesia sendiri adalah merumuskan serta melaksanakan segala kebijakan moneter agar dapat mengendalikan jumlah uang rupiah yang beredar di Indonesia atau suku bunga di dalam perekonomian sehingga dapat mendukung agar mencapai kestabilan nilai mata uang. Hal ini pula yang kemudian mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.Kemudian bank Indonesia pun berperan dalam mengatur dan mengelola uang sebagai sebuah alat pembayaran. Dimana hal ini mencakup sekumpulan kesepakatan standar, prosedur, dan aturan yang digunakan untuk mengatur peredaran uang ketika melakukan kegiatan keuangan dan ekonomi yang menggunakan pembayaran yang sah. Agar dapat mencapai tujuan serta memelihara kestabilan dari nilai Rupiah, Bank Indonesia telah diberikan kewenangan yang tertuliskan dalam UU no.23 tahun 1999 yang terbagi dalam 3 tugas yaitu menetapkan serta melaksanakan kebijakan moneter, mengatur serta menjaga agar sistem pembayaran tetap berjalan lancar, dan mengatur serta mengawasi bank-bank yang ada di Indonesia. Pelaksanaan dari ketiga tugas tersebut memiliki keterkaitan satu sama lainnya dan harus dilakukan dengan cara saling mendukung agar tercapainya tujuan-tujuan yang dimiliki Bank Indonesia.
Jika dilihat dari prinsip, terdapat beberapa strategi yang digunakan dalam mencapai tujuan-tujuan kebijakan moneter. Masing-masing dari strategi tersebut memiliki karakteristik yang sesuia dengan indikator-indikator tertentu yang dijadikan sebagai jangkar nominal atau nominal anchor. Beberapa strategi mengenai kebijakan moneter antara lain adalah penargetan nilai tukar uang (exchange rate targeting) , penargetan besaran moneter (monetary targeting), penargetan inflasi (inflation targeting), dan Implicit but not explicit anchor.
Dengan adanya Undang-Undang no.33 pada tahun 2004 ini, dijelaskan jika sasaran inflasi ditetapkan oleh Bank Indonesai sendiri yang kemudian saat ini diubah menjadi ketetapan pemerintah setelah melakukan koordinasi dengan Bank Indonesia. Dalam mencapai tujuan dari laju inflasi tersebut, Bank Indonesia akan memantau perkembangan dari berbagai variabel ekonomi dan meyakinkan jika segala kebijakan yang dilakukan akan mencapai sasaran inflasi yang sudah ditetapkan. Pemantauan pada variabel ekonomi ini dilakukan melalui analisa serta proyeksi perkembangan pada ekonomi makro. Pemantauan tersebut akan dilakukan baik dari sisi penawaran yaitu seluruh sektor ekonomi maupun dari sisi permintaan seperti ekspor impor, konsumsi, investasi yang dilakukan pemerintah ataupun swasta.
Sehingga meskipun Bank Indonesia memiliki kemampuan dalam memproduksi dan mengedarkan uang, bukan berarti bank Indonesia akan seenaknya dalam memproduksi uang. Hal ini yang akan mempengaruhi laju inflasi keuangan Negara.Meskipun banyak sekali kenaikan-kenaikan harga barang di dalam negeri, tidak menunjukkan jika Bank Indonesia tidak mampu menjaga Rupiah. Misalnya walaupun kini banyak kenaikan seperti Bahan Bakar Minyak (BBM), namun bank Indonesia masih mampu untuk terus menjaga nilai dari tukar rupiah pada Dollar tidak meningkat tajam mengingat jumlah cadangan devisa yang dimiliki Indonesia cukup tinggi melebihi standar Internasional. Neraca pembayaran surplus menjadi faktor domestik yang dapat menahan melemahnya nilai Rupiah. Menurut Data BI yang dilansir di Maret 2018 menunjukkan jika variable ekonomi nasional masih dapat dikatakan stabil mulai dari PDB (Product Domestic Bruto), inflasi, serta desifit. Selain itu tingkat kepercayaan dunia internasional pada investasi di Indonesia juga semakin meningkat. Tak hanya Bank Indonesia, peran masyarakat juga cukup penting dalam menjaga kestabilan mata uang. Dan sebagai masyarakat pentingnya untuk bisa menghadapi dilema naik turunnya nilai mata uang rupiah ini dengan kepala dingin, jangan hanya menyalahkan kepemerintahan saja. Sebagai masyarakat penting untuk menjaga kestabilan mata uang rupiah dengan mengurangi impor, mendorong banyaknya usaha serta kegiatan ekonomi yang berorientasi kepada ekspor, dan lainnya.

Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Halo, Komandan!

Sepertinya anda baru di sini. Ingin ber-interaksi? Klik satu tombol ini!

Kategori