Contact Us

Ini dia! 3 Kunci Menjauhkan Dampak Negatif Teorisme Pada Anak

664xauto-mesut-ozil-dan-senyum-anak-anak-suriah-160520w.jpg

"Family of IS-inspired suicide bombers attack Indonesian churches, at least 13 dead" atau berarti "Keluarga yang terinspirasi ISIS melakukan serangan bom bunuh diri di gereja Indonesia, 13 orang menjadi korban" terpampang di berita Internasional Reuters.

Sungguh memalukan memang mengingat beberapa hari ini tanah air yang terkenal dengan masyarakat baik dan ramah dihebohkan serangan bom bunuh diri di Surabaya. Ledakan tak terduga yang dilakukan teroris yang konon bermotif balas dendam memang membuat resah tidak hanya pemerintah, organisasi, namun juga masyarakat sekitar. Bayangkan saja, organisasi yang mengangungkan terorisme atas nama agama masih berkeliaran di luar sana, tidak menutup kemungkinan akan berhenti begitu saja.

Orang dewasa bisa saja mempertahankan diri sendiri dengan cara masing-masing. Hanya saja, ada sebagian golongan masyarakat yang belum bisa apa-apa dan tak mampu ditinggal mandiri. Golongan yang dimaksud adalah bayi, balita, dan anak yang bahkan belum menginjak usia matang. Sungguh disayangkan bila generasi penerus masa depan harus rusak akibat orang dewasa di sekelilingnya tidak menjaga dengan baik.

Tahukah kamu, semua aspek dalam kehidupan anak sangatlah penting hingga nanti cukup umur. Tentu saja, terorisme bukan bagian terbaik dari masa pertumbuhan. Tidak harus orang tua anak tersebut, orang dewasa di sekitar tidak ada salahnya turut membantu jaga pertumbuhan emosional dan fisik anak dalam kondisi optimal. Apa saja caranya?

1.Jauhkan anak dari gadget

Tidak bisa dipungkiri, banyak sekali anak belum cukup umur yang sudah mulai menjelajahi dunia maya. Terlebih dengan kebiasaan orang tua modern yang gemar memainkan tablet, computer, atau mungkin handphone dan pola piker bahwa anak yang ahli teknologi akan selamat di dunia kerja kelak. Sebetulnya masih ada perdebatan antara layak atau tidak seorang anak terekspos teknologi di usia dini. Jika teknologi memang di optimalkan untuk media pembelajaran anak mungkin tidak apa.

Masalah akan muncul di masa terorisme seperti ini. Beredarnya berita terorisme lengkap dengan gambar atau bahkan video menunjukkan korban tercabut nyawanya bisa saja dikonsumsi oleh si kecil. Inilah kenapa menerapkan cara mengurangi pengaruh gadget pada anak seperti screen time sangat baik dilakukan.

Pada usia muda, anak bisa jadi kurang memahami pengertian teror, dan apa dampaknya dalam hidup. Tapi, kemampuan empati anak sangatlah kuat, sehingga melihat gambar dan video kurang menyenangkan hanya akan merusak perkembangan otaknya. Belum lagi jika orang dewasa kurang mampu menjelaskan dan hanya mengacuhkan pertanyaan anak, sangat mungkin si kecil malah dapat pemahaman yang salah.

2.Orang dewasa terdekat harus tenang
Kamu yang membaca artikel ini bisa jadi hidup berdekatan dengan lokasi teror. Rasa terganggu, cemas, dan ketakutan bisa menghantui diri terlebih dengan penegak keamanan yang masih belum bisa memberikan lampu hijau secara pasti. Tidak ada yang salah dengan rasa takut atau khawatir serangan lain akan tiba terlebih jika kamu rutin mengunjungi tempat ibadah, termasuk masjid. Meski yang kena serang gereja, tidak terlepas kemungkinan tempat ibadah lain aman tentram bukan?

Apabila orang tua, om tante, atau sekedar tetangga yang dikagumi seorang anak kecil, maka ketenangan harus ditunjukkan. Anak kecil sangat percaya dengan orang yang dianggapnya paling hebat, dan biasanya terdekat. Entah apa yang kamu rasakan di dalam, cobalah untuk tetap menunjukkan wajah tenang dan terlihat berani. Meski hanya pura-pura tidak ada masalah sekalipun, yang penting anak merasa lebih tentram melihat orang yang dipercayainya tidak goyah.

Anak mungkin tidak memahami banyak hal, tapi bukan berarti anak tuli. Hati-hati dengan topik perbincangan yang dipilih. Bentuk tindakan berani juga termasuk menjauhkan segala sesuatu yang negatif dari pendengaran dan pengetahuan si kecil. Sekali lagi, tetap bersikap normal seolah tidak apapun.

3.Perhatikan kondisi emosi anak terutama bayi
Balita mungkin bisa menyampaikan kalau dirinya merasa takut, sayang bayi tidak demikian. Anak di usia sebulan atau 3 bulan cenderung tidak bisa menyampaikan apa yang mereka rasakan. Namun, hal tersebut tidak menutup dampak negatif akibat terorisme pada anak. Padahal, jika kondisi emosional bayi goyah dan tidak tertangani dengan baik akan berdampak sangat buruk pada pertumbuhannya kelak.

Manusia pada dasarnya mampu merasakan apa yang orang lain rasakan. Terlebih pada usia bayi, kemampuan merasakan bahaya sangatlah kuat meskipun tidak dapat diungkapkan. Memperhatikan dengan seksama tanda anak merasa tertekan bisa menjadi langkah yang baik. Misalkan saja bayi mendadak sering demam, menangis, atau terkena kolik pada si kecil merupakan ciri bayi dan balita mengalami stress berat akibat kondisi teror.

Intinya, tidak ada yang tahu apakah Indonesia berhasil diamankan atau tidak. Namun, tindakan saling tuding akibat panik tidak akan memperbaiki situasi. Usahakan untuk tidak memperkeruh suasana, terutama yang berkaitan dengan SARA (Seks, Agama, Ras, Antargolongan). Hal ini dikarenakan masa kecil seorang anak sebaiknya tidak diganggu aura negatif yang hanya membuat kekerasan tak berujung.
Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Halo, Komandan!

Sepertinya anda baru di sini. Ingin ber-interaksi? Klik satu tombol ini!

Kategori