Cerita Hubungan Dewasa Terlarang Dengan Atasan

Cerita Sex, Cerita Seks Dewasa, Cerita Sex Terbaru, Cerita Hubungan Dewasa Terlarang Dengan Atasan

Cerita Dewasa Dengan Atasan - Mbak Lia lebih kurang baru 2 minggu bekerja jadi atasanku jadi Accounting Manager. Jadi atasan baru, ia seringkali menyebutku ke ruangan kerjanya untuk menerangkan overbudget yang berlangsung pada bln. terlebih dulu, atau untuk menerangkan laporan mingguan yang kubuat. Aku sendiri telah termasuk juga staf senior. Tapi mungkin saja karna latar belakang pendidikanku kurang mensupport, management mengambil keputusan merekrutnya. Ia datang dari satu perusahaan konsultan keuangan.

p5pck7a81mg6.jpg

Cerita Dewasa - Usianya kutaksir sekitaran 25 sampai 30 th.. Jadi atasan, terlebih dulu kupanggil “Bu”, walaupun usiaku sendiri 10 th. di atasnya. Tapi atas permintaanya sendiri, satu minggu waktu lalu, ia menyebutkan lebih sukai apabila di panggil “Mbak”. Mulai sejak waktu itu mulai terbina situasi serta jalinan kerja yang hangat, tidaklah terlalu resmi. Terlebih karna sikapnya yang ramah. Ia seringkali segera mengatakan namaku, kadang-kadang apabila tengah dengan rekanan kerja yang lain, ia mengatakan “Pak”.

Serta tanpa ada kusadari juga, diam-diam aku terasa kerasan serta nyaman apabila melihat berwajah yang cantik serta lembut menarik. Ia memanglah menarik karna sepasang bola matanya setiap saat bisa bernar-binar, atau memandang dengan tajam. Tapi dibalik itu semuanya, nyatanya ia sukai mendikte. Mungkin saja karna sudah menempati jabatan yang cukup tinggi dalam umur yang relatif muda, keyakinan dianya juga cukup tinggi untuk menyuruh seorang melakukan apa yang dikehendakinya.

Mbak Lia senantiasa kenakan pakaian resmi. Ia senantiasa kenakan blus serta rok hitam yang agak menggantung sedikit diatas lutut. Apabila tengah ada di ruangan kerjanya, diam-diam aku juga seringkali melihat lekukan pinggulnya saat ia bangkit ambil file dari rack folder di belakangnya. Walaupun sisi bawah roknya lebar, namun aku bisa lihat pinggul yang samar-samar tercetak dari baliknya. Begitu menarik, tidak besar namun terang memiliki bentuk membongkah, memaksa mata lelaki menerawang untuk mereka-reka keindahannya. sakong-klik-qq-728. gif

Didalam ruangan kerjanya yang besar, persis di samping meja kerjanya, ada seperangkat sofa yang seringkali dipergunakannya terima tamu-tamu perusahaan. Jadi Accounting Manager, pasti senantiasa ada beberapa perbincangan ‘privacy’ yang tambah nyaman dikerjakan di ruangan kerjanya dari pada di ruangan rapat.

Aku terasa mujur apabila di panggil Mbak Lia untuk mengulas kontan flow keuangan di kursi sofa itu. Aku senantiasa duduk persis di depannya. Apabila kami ikut serta dalam perbincangan yang cukup serius, ia tidak mengerti roknya yang agak terungkap. Di situlah keberuntunganku. Aku bisa melirik beberapa kulit paha yang berwarna gading. Terkadang lututnya agak sedikit terbuka hingga aku berupaya untuk mengintip ujung pahanya. Tapi mataku senantiasa terbentur dalam kegelapan. Misal saja roknya terungkap lebih tinggi serta ke-2 lututnya lebih terbuka, pasti akan kupastikan apakah bulu-bulu halus yang tumbuh di lengannya juga tumbuh di selama paha sampai ke pangkalnya. Apabila ke-2 lututnya rapat kembali, lirikanku beralih ke betisnya. Betis yang indah serta bersih. Tertangani. Saat aku terlena memandang kakinya, mendadak aku dikagetkan oleh pertanyaan Mbak Lia..

“Jhony, aku terasa kalau kau seringkali melirik ke arah betisku. Apakah sangkaanku salah? ” Aku terdiam sesaat sembari tersenyum untuk sembunyikan jantungku yang mendadak berdebar.

“Jhony, apakah salah sangkaanku? ”

“Hmm.., ya, benar Mbak, ” jawabku mengakui, jujur. Mbak Lia tersenyum sembari memandang mataku.

“Mengapa? ”

Aku membisu. Merasa begitu berat menjawab pertanyaan simpel itu. Tapi saat menengadah memandang berwajah, kulihat bola matanya berbinar-binar menanti jawabanku.

“Saya sukai kaki Mbak. Sukai betis Mbak. Indah. Serta.., ” sesudah menarik nafas panjang, kukatakan argumen sesungguhnya.

“Saya juga seringkali menduga-duga, apakah kaki Mbak juga ditumbuhi bulu-bulu. ”

“Persis seperti yang kuduga, kau tentu berkata jujur, apa yang ada, ” kata Mbak Tia sembari sedikit mendorong kursi rodanya.

“Agar kau tidak penasaran menduga-duga, bagaimana bila kuberi peluang memeriksanya sendiri? ”

“Sebuah kehormatan besar untukku, ” jawabku sembari membungkukan kepala, berniat sedikit bercanda untuk mencairkan perbincangan yang kaku itu.

“Kompensasinya apa? ”

“Sebagai rasa hormat serta sinyal terima kasih, juga akan kuberikan satu ciuman. ”

“Bagus, aku sukai. Sisi mana yang juga akan kau cium? ”

“Betis yang indah itu! ”

“Hanya satu ciuman? ”

“Seribu kali juga aku bersedia. ”

Mbak Tia tersenyum manis dikulum. Ia berupaya manahan tawanya.

“Dan aku yang memastikan dibagian mana saja yang perlu kau cium, OK? ”

“Deal, my lady! ”

“I like it! ” kata Mbak Lia sembari bangkit dari sofa.

Ia mengambil langkah ke mejanya lantas menarik kursinya sampai ke luar dari kolong mejanya yang besar. Sesudah menghempaskan pinggulnya diatas kursi kursi kerjanya yang besar serta empuk itu, Mbak Lia tersenyum. Matanya berbinar-binar seakan menaburkan sejuta pesona birahi. Pesona yang memerlukan sanjungan serta idola.



Baca Juga : Cerita Dewasa Berselingkuh Dengan Wanita Hijab

“Periksalah, Jhony. Berlutut di depanku! ” Aku membisu. Terpana mendengar perintahnya.

“Kau tidak mau memeriksanya, Jhony? ” bertanya Mbak Lia sembari sedikit merenggangkan ke-2 lututnya.

Sesaat, aku berupaya meredakan debar-debar jantungku. Aku belum juga sempat diperintah sesuai sama itu. Terlebih diperintah untuk berlutut oleh seseorang wanita. Bibir Mbak Lia tetap masih tersenyum saat ia lebih merenggangkan ke-2 lututnya.

“Jhony, kau tahu warna apa yang tersembunyi di pangkal pahaku? ” Aku menggeleng lemah, seakan ada kemampuan yang mendadak merampas sendi-sendi di sekujur badanku.

Tatapanku terpaku kedalam keremangan diantara celah lutut Mbak Lia yang meregang. Pada akhirnya aku bangkit menghampirinya, serta berlutut di depannya. Samping lututku menyentuh karpet. Wajahku menengadah. Mbak Tia masih tetap tersenyum. Telapak tangannya menyeka pipiku sekian kali, lantas beralih ke rambutku, serta sedikit menghimpit kepalaku supaya menunduk ke arah kakinya.

“Ingin tahu warnanya? ” Aku mengangguk tidak berdaya.

“Kunci dahulu pintu itu, ” tuturnya sembari menunjuk pintu ruangan kerjanya. Serta dengan taat aku melakukan perintahnya, lalu berlutut kembali di depannya.

Mbak Lia menopangkan kaki kanannya diatas kaki kirinya. Pergerakannya lambat seperti bermalas-malasan. Ketika tersebut aku memperoleh peluang melihat sampai ke pangkal pahanya. Serta kesempatan ini tatapanku terbentur pada secarik kain tidak tebal berwarna putih. Tentu ia menggunakan G-String, kataku dalam hati. Sebelumnya paha kanannya betul-betul tertopang diatas paha kirinya, aku masih tetap pernah lihat bulu-bulu ikal yang menyembul dari bebrapa bagian celana dalamnya. Segitiga tidak tebal yang cuma selebar kurang lebih dua jari itu sangat kecil untuk sembunyikan semuanya bulu yang mengelilingi pangkal pahanya. Bahkan juga pernah kulirik bayangan lipatan bibir dibalik segitiga tidak tebal itu.

“Suka? ” Aku mengangguk sembari mengangkat kaki kiri Mbak Lia ke atas lututku.

Cerita selengkapnya KLIK disini =>> https://javindonesian.blogspot.com/2018/05/cerita-hubungan-dewasa-terlarang-dengan.html
Sign In or Register to comment.

Welcome to FORUM!

If you want to take part in the discussions, sign in or apply for membership below!