Menebar kedamaian,Jauhi Isu Buruk di Medsos


Tahun lalu, Kementerian Informasi dan Informatika (Kemenkominfo) bekerja sama dengan BNPT memblokade aplikasi yang memuat konten terorisme dan radikalisme. Seperti akses web pada aplikasi Telegram yang banyak dimanfaatkan pelaku terorisme dalam rentang 2015 hingga 2017. Terdapat 17 aksi teror di Indonesia dalam rentang waktu itu yang melakukan komunikasi lewat aplikasi Telegram. Perkembangan informasi digital telah menimbulkan pergeseran pola interaksi dan komunikasi masyarakat saat ini. Beragam sumber informasi dapat diakses melalui smartphone dalam genggaman tangan di mana pun kita berada. Kemajuan terhadap peradaban ini juga menyisakan dampak negatif terhadap kohesi sosial masyarakat sebagaimana telah diungkapkan oleh pakar sosial budaya. Namun, sisi lain yang perlu dicermati pula bahwa kecepatan akses informasi bila tidak diimbangi dengan budaya literasi akan menimbulkan kesesatan informasi. Hal itu disebabkan tidak ada lagi batasan informasi yang tegas antara fakta, opini, dan hoaks. Ditambah lagi banyaknya berseliweran ujaran kebencian dalam media sosial tidak hanya menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat awam, bahkan tidak sedikit yang ikut-ikutan memviralkan, menyebar informasi yang tidak jelas kebenarannya. Kelompok radikalisme dan terorisme telah memanfaatkan keterbukaan informasi tersebut untuk menebar paham mereka, merekrut jejaring baru tanpa perlu bertatap muka. Pengguna media sosial yang didominasi kalangan muda merupakan sasaran empuk bagi kelompok radikal dan teroris untuk dijadikan target rekrutmen. Bai'at dilakukan secara online dengan memanfaatkan internet. Bahkan beberapa aksi teror belajar dan terinspirasi melalui tayangan media internet. Kondisi ini menjadi perhatian BNPT. Sebagai bentuk pencegahan dan mempersempit ruang gerak radikalisme dan terorisme, BNPT membentuk kegiatan pelatihan bagi generasi muda untuk melawan hal-hal bersifat radikal di dunia maya. Anak-anak muda yang aktif menyebarkan konten positif mengkreasikan pesan damai dan mengajak masyarakat untuk bersama memerangi radikalisme dan terorisme. Hal yang paling mudah ialah tidak menerima mentah-mentah informasi yang diterima, apalagi turut menyebarkan informasi yang tidak jelas kebenaran dan motif dibalik informasi tersebut. Pesan-pesan positif diharapkan mewarnai dunia maya dan media sosial. Apa yang dilakukan anak-anak muda ini diharapkan mampu diikuti generasi muda lainnya sehingga menggelinding bagai bola salju. Meng-counter propaganda radikalisme terorisme dengan menebar pesan-pesan damai merupakan bagian dari gerak bersama pemerintah dan masyarakat dalam menanggulangi terorisme. Terorisme lahir dari rahim radikalisme. Terorisme hadir melalui aksi-aksi, radikalisme menyusup dalam bentuk ideologi. Radikalismelah yang mendorong orang untuk melakukan berbagai kekerasan yang dikaburkan dengan pemaknaan sempit dari doktrin yang mereka terima. Akibat ulah mereka ini tidak saja dapat menimbulkan luka fisik, tetapi juga merusak kewarasan dan rasa kemanusiaan. Jangankan untuk berbuat baik terhadap sesama justru mereka lebih sibuk menebar kebencian dan menimbulkan kerusakan di mana-mana. Mereka mengorganisasi kelompok dengan kuat, solid, dan eksklusif sehingga sekali terjerumus ke dalam kelompok mereka akan sulit untuk keluar kecuali rela mati. Di samping kekerasan yang kerap menimbulkan korban jiwa, mereka juga terus melakukan propaganda baik melalui media cetak seperti buku maupun aktif menebar di dunia maya dan media sosial yang kerap mengganggu umat manusia. Oleh karena itu, setop terorisme atas dalih agama atau tujuan apa pun itu! Terorisme harus dikubur dalam-dalam sehingga tidak lagi mengganggu kehidupan umat manusia.
Sign In or Register to comment.

Welcome to FORUM!

If you want to take part in the discussions, sign in or apply for membership below!