Waspadalah! Pendidikan Tinggi Seseorang Tidak Menjamin Kebal Hoax

Ditengah hebohnya penyebaran hoax, dan mulai d ringkusnya para penyebar, beberapa tulisan menarik perhatianku. Khususnya tulisan salah satu temanku, yg menyoroti perbandingan antara berita pendukung salah satu kelompok politik, yg rata2 berpendidikan rendah, dan member jaringan korban maupun pembuat hoax, yg cenderung berpendidikan tinggi. Pertanyaan yg muncul adalah, mengapa org berpendidikan academic tinggi bisa terkena hoax? Kemungkinan besar krn kemampuan academic yg tinggi, tdk serta merta dapat d terjemahkan menjadi kemampuan emosional yg tinggi. Hal ini pada dasarnya d sebabkan oleh cara otak kita bekerja.

#Emotional Intelligence
Kita semua sudah paham, apa yg d maksud dgn kemampuan akademic, tapi mungkin asing dengan istilah kemampuan emosional. Mereka yg berkutat dalam bidang Human Resource Training, tentunya sudah familiar dgn istilah Emotional Intelligence yg d buat oleh 2 org researcher, Peter Salovey dan John D. Mayer ini. Emotional Intelligence adalah kemampuan untuk mengendalikan emosi pribadi, maupun mempengaruhi emosi org lain. Secara garis besar, biasanya d bagi menjadi 3 kemampuan khusus:
1. Kesadaran emosi
2. Kemampuan memanfaatkan emosi
3. Kemampuan mengontrol emosi
Dalam banyak case study mengenai Emotional Intelligence, dua kutub bertentangan yg paling sering muncul adalah Martin Luther King dan Adolf Hitler, mewakili sudut terang dan gelap dari kecerdasan emosi yg tinggi. Martin Luther King dalam pidatonya yg iconic "I Have a Dream", mampu membawa pendengar untuk bertindak dalam mewujudkan kesetaraan ras antar kulit hitam dan kulit putih d US. Sedangkan Adolf Hitler, yg jg d akui dunia sebagai salah satu pembawa pidato paling piawai d dunia, mampu membuat pendengar melupakan akal sehat dan logikanya.

#The Dark Side Of Emotional Intelligence
Memang, kecerdasan emosional secara keseluruhan adalah pedang bermata dua. Dapat d gunakan untuk memotivasi org lain berbuat kebaikan, namun dapat jg d gunakan untuk memperalat emosi org lain sehingga melakukan apa yg d inginkan pembicara. Dalam sebuah pidato yg sukses, org lebih mampu mengingat emosi yg d timbulkan pembicara, daripada isi pidatonya sendiri. Ironisnya, pendengar akan merasa yakin mengetahui lebih banyak dari apa yg sebenarnya pendengar ketahui. Hal ini menyababkan kemampuan untuk berpikir kritis menjadi tumpul terhadap pidato yg d dengarkan. Mengapa emosi yg d timbulkan dapat menumpulkan kemampuan berpikir akademis?

#Emotion Before Logic
Berdasarkan research dari para neuroscientist, informasi lebih dahulu masuk k amygdala, bagian otak yg memberi nilai significancy pada informasi dan memberi bobot pada emosi yg kita rasakan. Masalahnya, hippocampus, bagian otak yg berperan besar dalam kemampuan cognitive kita, bergantung pada emosi yg d hasilkan amygdala. Hippocampus menekankan kita pada tindakan yg harus d ambil berdasarkan kondisi mood dan emosi kita saat itu. Sedangkan frontal cingulate cortex, bagian depan dari otak besar yg memproses pikiran cognitive kita, yg d gunakan manusia untuk belajar, bersosialisasi, fokus memperhatikan, dan motivasi, d pengaruhi oleh hippocampus. Yg pada ujungnya d pengaruhi oleh amygdala.

#Primordial Brain
Dalam teori evolusi, mahluk hidup tdk bisa mengganti organ dengan yg lebih update begitu saja. Tdk seperti update OS pada handphone anda. Organ yg lebih baru dan superior dalam memenuhi kebutuhan hidup d tambahkan pada organ lama yg menjadi dasarnya. Dan dalam kehidupan mahluk prasejarah, emosi dan mood sangat mempengaruhi kemampuan mahluk hidup untuk survive. Rasa takut, marah, senang, sedih, menjadi dasar dalam pengambilan keputusan. Apakah gerakan d semak2 itu adalah monster yg akan membunuh kita, atau sirloin steak buatan Gordon Ramsey yg lezat untuk memenuhi perut kita? Setelah itu barulah bagian modern otak yg mempengaruhi kemampuan cognitive bekerja, untuk mewujudkan keputusan yg d ambil. Harus lari, atau menyerbu.Pada manusia modern, setelah otak menentukan pilihan berdasarkan emosi, barulah pikiran logic terdorong untuk bekerja membentuk logika terhadap keputusan yg d ambil, dan mencari cara untuk merealisasikan keputusan.

#We Are TheMaster Of Our Mind
Yg perlu d pahami adalah, logika dan cara berpikir akademis tidak wajib mengikuti saran hippocampus. Yg d berikan hippocampus hanyalah impulse, hasrat, dorongan naluriah untuk membuat keputusan. Pada akhirnya, anda sendirilah yg menentukan apakah hrs mengambil keputusan berdasarkan emosi dan mood anda, yg mungkin hanya berlaku sesaat dan mungkin akan anda sesali belakangan. Atau langsung mengolah informasi yg anda dapatkan secara logis dan kritis, agar dapat mengambil keputusan yg menguntungkan bagi diri anda.

#Conclusion
Kecerdasan akademis dan kecerdasan emosional adalah 2 hal yg berbeda. Untuk dapat membedakan antara hoax dan fakta, anda hrs dapat berpikir kritis, jernih. Dan untuk dapat berpikir jernih, pertama2 anda hrs pastikan bahwa anda mempergunakan kemampuan berpikir logis yg tdk d pengaruhi oleh emosi anda. Bila anda berpikir mengikuti emosi anda, kmungkinan besar anda akan kehilangan kemampuan membedakan hoax dan fakta. Krn se absurd apapun hoax yg anda terima, bila emosi yg sejalan, akan terbentuk logika yg terasa valid bagi anda.
Sign In or Register to comment.

Welcome to FORUM!

If you want to take part in the discussions, sign in or apply for membership below!