Contact Us
News
Follow TELEGRAM Channel ForumBebas.com di alamat T.ME/FORUMBEBAS atau Facebook Fan Page dan Twitter Forumbebas .

Forum Bebas Indonesia

Meneladani Toleransi Sang Nabi

Peringatan kelahiran seorang tokoh besar semestinya bukan sekadar kangen-kangenan melainkan juga momentum untuk semakin dalam mengenal sang tokoh besar. Dari situ kita bisa meneladaninya. Begitulah, peringatan Maulid Nabi Muhammad hari ini semestinya menjadi momentum mengenalnya lebih dalam. Dari situ, kita sebagai bangsa bisa meneladani Sang Nabi.Muhammad hadir membawa tiga misi. Ketiga misi itu mencerahkan, menyempurnakan perilaku, serta membawa rahmat bagi sekujur alam. Nabi hadir di tengah suku-suku di Tanah Arab yang gemar bertikai. Penyebab pertikaian antara lain perasaan superior setiap suku. Setiap suku merasa orang dari suku mereka yang paling pantas memimpin.

Superioritas itu tak hanya dalam bentuk perasaan, tetapi juga perbuatan. Pengarahan massa, pertikaian fisik bahkan perang antarsuku acap terjadi supaya orang dari suku mereka yang berkuasa.Ketika itu perbedaan bukannya menghadirkan rahmat melainkan petaka. Belakangan Nabi mengajarkan perbedaan itu dan keberagaman itu rahmat bahkan hukum alam, sunnatullah.Nabi hadir untuk mencerahkan dengan mengajarkan bahwa semua manusia setara adanya. Setara artinya semua orang, tak penting suku atau agamanya, punya hak yang sama, termasuk hak menjadi pemimpin. Tak cuma mengajarkan, Nabi juga memberi teladan dengan perilakunya yang toleran terhadap sesama, tanpa memandang suku, agama, dan asal-usul.

Puncak keteladanan dalam hal toleransi diperlihatkan Sang Nabi ketika ia membangun Negara Madinah. Di Negara Madinah, umat dari berbagai agama hidup rukun dan damai. Negara Madinah ialah rahmat.Orang belakangan merujuk masyarakat Madinah zaman itu sebagai masyarakat ideal. Dari situ lahir istilah masyarakat madani yang kadang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai civil society.Konsep masyarakat madani atau civil society ini menunjukkan ajaran Muhammad bersifat universal. Itu artinya, siapa pun, tak peduli agama, suku, atau bangsa mereka, bisa meneladani ajaran Muhammad, sebagaimana siapa pun bisa mengambil hikmah dari tokoh besar lain seperti Yesus atau Buddha.

Ajaran toleransi Sang Nabi perlu kita kemukakan kembali mengingat intoleransi cenderung menguat dan mengancam kebinekaan bangsa ini. Celakanya intoleransi itu dipraktikkan untuk kekuasaan politik dengan mengatasnamakan agama.Lebih celaka lagi, mereka berencana berkumpul merayakan intoleransi itu dengan gegap gempita. Ini tentu bisa membuat korban intoleransi semakin terluka.Ketika pihak yang terluka disuruh move on supaya lukanya lekas pulih, pihak sebelah justru menari di atas luka itu dengan merayakan kemenangan mereka secara gegap gempita.Alih-alih pulih, luka itu semakin parah. Akhirul kalam, semoga kita sebagai bangsa masih punya kelapangan hati dan pikiran untuk meneladani Sang Nabi. Selamat memperingati Maulid Nabi. Selamat mengambil hikmah dari ajaran toleransi Sang Nabi.

Sumber: http://www.mediaindonesia.com/editorial/read/1231/meneladani-toleransi-sang-nabi/2017-12-01
Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Halo, Komandan!

Sepertinya anda baru di sini. Ingin ber-interaksi? Klik satu tombol ini!

Kategori