Contact Us
News
Follow TELEGRAM Channel ForumBebas.com di alamat T.ME/FORUMBEBAS atau Facebook Fan Page dan Twitter Forumbebas .

Forum Bebas Indonesia

WHO Ungkap Ketimpangan Kesehatan, dengan Indonesia sebagai Contoh

Negara berkembang masih kesulitan melakukan pemertaaan kesehatan khususnya di lokasi-lokasi terpencil. WHO mengambil contoh Indonesia, yang masih sulit memberi akses kesehatan yang baik kepada warganya di Papua Barat. Perangkat kesehatan WHO yang disebut HEAT Plus diujicoba di Indonesia, membuat negara tersebut mampu mengembangkan laporan kesehatan nasional pertamanya terkait ketimpangan kesehatan negara, yang akan dipublikasikan pada akhir tahun ini.

Kelahiran dapat menjadi hal yang berbahaya, bahkan jika dilakukan di rumah sakit yang steril. Namun kondisi yang tidak higienis dapat menambah ancaman kematian terhadap ibu dan bayinya, dengan risiko terpapar tetanus.

Tetanus dapat dicegah dengan vaksin yang tidak mahal, namun para wanita yang miskin atau yang tinggal di wilayah terpencil kerap kekurangan akses untuk mendapatkan pelayanan penting seperti imunisasi, sehingga memiliki risiko terserang tetanus yang lebih besar.

Hal tersebut terjadi di Indonesia pada tahun 2012. Program imunisasi telah berhasil memberantas tetanus di tiga dari empat wilayah kepulauan terbesar di Indonesia. Namun rendahnya tingkat vaksinasi di wilayah termiskin Papua Barat, menunjukkan bahwa penyakit ini masih menjadi ancaman di Indonesia.

Setelah dilakukan berbagai usaha oleh pemerintah Indonesia untuk meningkatkan akses terhadap layanan kesehatan di wilayah terpencil, dan untuk meningkatkan tingkat vaksinasi di wilayah-wilayah kurang beruntung, Indonesia mengumumkan tahun lalu bahwa Indonesia sudah bebas tetanus, yang berarti kurang dari satu kasus tetanus terjadi pada bayi yang baru lahir dari seribu kelahiran di setiap wilayah.

“Berhasil memberantas tetanus adalah pencapaian besar bagi Indonesia,” ujar Dr. Jihane Tawilah, perwakilan WHO Indonesia. “Tetanus yang dialami bayi yang baru lahir menunjukkan ketimpangan kesehatan. Hal ini terjadi pada masyarakat miskin dan yang tinggal di wilayah yang tidak teredukasi.”
Indonesia adalah satu dari banyak negara yang berusaha untuk meningkatkan akses layanan kesehatannya bagi masyarakat yang kurang beruntung, sebagai bagian dari komitmen WHO untuk “tidak mengabaikan siapapun,” dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Di antara 17 tujuan lainnya, SDG 3 fokus dalam memastikan kehidupan yang sehat bagi seluruh masyarakat di semua usia, sementara SDG 10 fokus terhadap pengurangan ketimpangan di dalam dan antar negara.

Walaupun banyak negara yang telah membuat kemajuan dalam meningkatkan kesehatan masyarakat mereka secara keseluruhan dalam berbagai bentuk, rata-rata kesehatan nasional tidak dapat menunjukkan semuanya. Sekelompok masyarakat dapat kekurangan layanan kesehatan karena beberapa alasan: jenis kelamin mereka, di mana mereka tinggal, berapa penghasilan mereka, pendidikan mereka, serta alasan sosial dan budaya lainnya.

Namun untuk meningkatkan kesehatan bagi masyarakat yang kurang beruntung, dan untuk meningkatkan akses layanan kesehatan, terdapat data yang dibutuhkan terkait kesehatan seluruh kelompok masyarakat di negara tersebut, termasuk kelompok masyarakat yang kurang beruntung.

“Mengawasi ketimpangan kesehatan sangat penting untuk memastikan bahwa tidak ada yang terabaikan,” ujar Dr. Ahmad Reza Hosseinpoor, yang memimpin pengawasan keadilan kesehatan di WHO. “WHO telah mengembangkan sekumpulan sumber dan alat untuk mendorong praktik dan membangun kapasitas pengawasan ketimpangan kesehatan baik nasional maupun global.”

Salah satu produk utama dalam sekumpulan alat dan sumber ini adalah Alat Penilaian Kesetaraan Kesehatan (HEAT), sebuah alikasi perangkat lunak yang diluncurkan oleh WHO tahun lalu, yang membuat negara-negara dapat menganalisis, mengartikan, dan melaporkan data terkait ketimpangan kesehatan, untuk memperjelas informasi dimana investasi dibutuhkan untuk meningkatkan layanan bagi mereka yang belum mendapatkan layanan kesehatan, dan untuk meningkatkan kualitas kesehatan mereka.

Ketika pertama kali diluncurkan, HEAT dibatasi oleh data dari database Pengawasan Kesetaraan Kesehatan WHO, yang berisi data terkait kesehatan reporduksi, kesehatan ibu, bayi yang baru lahir, dan kesehatan anak dari 102 negara. Edisi baru dari alat ini, yang disebut HEAT Plus, membuat para penggunanya dapat mengunggah data dari sumbernya sendiri, dan membuat alat ini semakin berguna dalam menganalisis dan melaporkan ketimpangan kesehatan di berbagai aspek.

HEAT Plus, yang diuji di Indonesia, membuat suatu negara dapat menganalisis dan mengartikan ketimpangan di berbagai aspek kesehatan lainnya menggunakan banyaknya jumlah data yang dimiliki oleh HEAT Plus.

Hasilnya, Indonesia saat ini mengembangkan laporan nasional pertamanya terkait ketimpangan kesehatan negara, yang akan dipublikasikan pada akhir tahun ini, dan akan memberi masukan yang bernilai kepada para pembuat kebijakan untuk membantu mereka membuat keputusan strategis dalam meningkatkan kualitas kesehatan. Indonesia telah berkomitmen untuk menggabungkan pengawasan ketimpangan kesehatan ke dalam sistem informasi kesehatan nasionalnya.

WHO telah bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan RI untuk memetakan sumber-sumber data negara untuk melakukan pengawasan ketimpangan kesehatan dan untuk mengidentifikasi jarak ketimpangan, menganalisis data, dan melaporkan hasilnya.

Sebagai tambahan bagi HEAT Plus, WHO minggu ini juga meluncurkan dua produk lainnya untuk membantu negara ini menggali lebih dalam terkait ketimpangan kesehatannya, seperti panduan bagi negara-negara yang melakukan pengawasan ketimpangan kesehatan dalam sistem informasi kesehatan mereka, dan kode statistik yang dibutuhkan untuk menganalisis data survei dalam negeri untuk mengungkap dimana ketimpangan tersebut terjadi.

sumber: WHO Ungkap Ketimpangan Kesehatan, dengan Indonesia sebagai Contoh
Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Halo, Komandan!

Sepertinya anda baru di sini. Ingin ber-interaksi? Klik satu tombol ini!

Kategori