Contact Us
News
Follow TELEGRAM Channel ForumBebas.com di alamat T.ME/FORUMBEBAS atau Facebook Fan Page dan Twitter Forumbebas .

Forum Bebas Indonesia

Hati Seorang Ibu Sekuat Baja, Penuh Kasih Sayang Tak Terhingga

Cerita ini berjalan disalah satu daerah Kabupaten di Jawa Tengah. Sebut saja Ibu Fulanah, ibu dari 2 orang anak, seorang istri yang soleha dan perempuan yang sangat baik hati. Sedangkan suaminya merupakan sibuk berbisnis bubuk matcha dan senang sekali main perempuan.

Tapi si Ibu ini tetap setia dan terima pasangan hidupnya layaknya itu|apa adanya} bersama lapang dada. Di kesehariannya beliau tidak pernah mengeluh tentang sempitnya kehidupan yang dia jalani. Di tiap jum’at malam si Ibu ini selalu menyempatkan diri untuk membaca surat yasin.

Terakhir saya berjumpa si Ibu di akhir th. 2009 di acara walimahan keponakan saya di daerah Jawa Tengah. Di saat itu istri saya lagi mengandung anak kedua saat si Ibu lagi bantu sohibul hajat, yang merupakan masih {tersedia hubungan soudara|keponakannya}. Pada {saat itu|Tiba-tiba saja} istri saya mengobrol kepada si Ibu yang pada saaat itu lagi membuat pia-pia atau bakwan jagung:

“Ini namanya apa ya Bude”.

Dengan suara yang lembut si Ibu menjawab;

“Kalau di daerah sini biasanya disebut pia-pia”.

Lalu istri saya berbicara kepada saya:

“Ayah, pia-pia itu makanan apa sih?”.

Saya pun menjawab:

“Pia-pia ialah sebutan lain dari bakwan jagung”

Istri saya pun menjawab:”

“Oh gitu ya”.

Selepas dari acara itu selesai saya dan istri pun bergegas pergi untuk silaturahim ke mbah putri dari istri saya. Di perjalanan dari daerah sepupu saya kebetulan bersama bersama si Ibu sekeluarga yang mau pulang ke kediammannya juga.

Dan jarak pada kediaman si Ibu dan mbah putri juga tidak begitu jauh. Namun dikarenakan rumah Mbah putri {tidak sangat jauh|lebih dekat} dibanding bersama kediaman beliau, saya dan istri pun turun lebih dahulu. Dan sekalian berpamitan pulang dengan si Ibu.

Namun kira-kira Ramdahan th. 2012 si Ibu tiba-tiba sakit keras dan kudu dirawat ke rumah sakit terdekat. Dan ditunggu oleh suaminya saja. Di suatu sementara dokter meminta agar si Ibu untuk minum obat. Ketepatan pada saat itu merupakan bulan Ramadhan. Akan tetapi karena si Ibu lagi puasa maka si Ibu menolaknya dan berkata:

“ Saya ini lagi berpuasa menjadi saya tidak bisa minum obatnya sekarang”.

Lalu dokter pun pertolongan dari} suaminya supaya si Ibu ini sudi meminum obatnya dan berkata:

“Pak, saya minta tolong supaya papa dapat membujuk istri papa untuk meminum obatnya, Saya Khawatir apabila si Ibu enggan meminum obatnya sekarang maka hanya akan memperparah kondisinya”.

“Baik Dok”. Jawab Suami beliau.

Suaminya pun langsung membujuk si Ibu untuk meminum obatnya. Namun lagi-lagi si Ibu menolak {permintaan suaminya}. Dan berkata:

“ Saya ini lagi puasa jadi saya tidak bisa minum obatnya sekarang, Sesungguhnya keharusan untuk seorang istri dalam menaati segala yang diperintahkan suaminya dalam yang disyari’atkan Allah SWT, akan tetapi harus menolaknya apabila suami memerintahkan kemaksiatan dan yang dilarang oleh Tuhan Semesta Alam”.

Selepas itu suaminya pun hanya dapat berdiam diri saja. Tidak lama setelah peristiwa itu beliau pun kritis tak sadarkan diri sampai berhari-hari lamanya. Dan keluarga si Ibu tadi mengambil keputusan untuk membawanya pulang untuk dirawat di rumah saja.

Setibanya dirumah kondisi si Ibu masih saja tak sadarkan diri sampai tetangga-tetangga beliau banyak yang datang membesuk. Dan beberapa tetangganyapun ada yang berinisiatif untuk mengajikan surah Yasin secara berjamaah.

Dimulai bersama pembacaan Surah Al-fatihah yang dibaca bersama khusyu. Namun kejanggalan berjalan pada saat jamaah-jamaah akan memulai untuk membaca surah Yassin. Subhanallah, Allah yang memilki segala khendak dan atas izin dan rahmatnya, si Ibu pun tiba-tiba bangun dari komanya layaknya orang yang nampak sakit tidak kurang sedikit apapun. Dan jamaah-jamaah pun terkaget-kaget dan sangat terkejut dengan {kejadian ini|melihatnya} apalagi si Ibu Cuma bilang kepada orang-orang yang berada dirumahnya:

“Mari sini saya bantu baca yasinannya”.

Bagaikan terhipnotis dengan tabiat si Ibu tadi, tanpa banyak basa-basi lagi orang-orang pun langsung mengambilkan mukena beliau untuk dikenakannya untuk membaca Surah Yasin.

Akhirnya si Ibu bareng para Jamaah membaca surah yasin bersama sampai selesai pembacaan surah yasin. Akan tetapi si Ibu tiba-tiba saja langsung tidur lagi ditempat dan langsung mangkat saat itu juga. Orang-orang yang berada disana pun menjadi takjub dan beberapa diantaranya lebih-lebih samapai menagis haru.

Lalu beliau pun dimakamkan di komplek pemakaman umum di desanya. Bahkan saat suaminya meninggal pun berpesan untuk dimakamkan dsisamping istrinya tercinta.

Komentar


  • Disebuah bukit yang jauh dari desa, disekitar Kalimantan hiduplah seseorang janda miskin dan seorang orang gadisnya.

    seorang gadis janda itu sangat cantik jelita. akantetapi sayang, ia membawa tabiat yang sangat buruk. Gadis ia sangat malas, tak pernah mendukung ibunya melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah. Kerjanya cuma bersolek tiap-tiap hari. Niat mandi besar

    Selain pemalas, seorang gadis itu ia sikapnya manja sekali. Segala permintaannya harus dituruti. Setiap kali ia berharap sesuatu kepada ibunya harus dikabulkan, tanpa memperdulikan suasana ibunya yang miskin, tiap-tiap hari harus membanting tulang melacak sesuap nasi.

    Pada suatu hari seorang gadis itu diajak ibunya turun ke desa untuk berbelanja. Letak pasar desa itu sangat jauh, agar mereka harus berjalan kaki yang memadai melelahkan. seorang gadis itu berjalan melenggang dengan kenakan pakaian yang baik dan bersolek agar seseorang dijalan yang terlihat nanti akan mengagumi kecantikannya. Sementara ibunya berjalan dibelakang sambil membawa keranjang dengan pakaian sangat dekil. namun dia hidup dibagian terpencil, tak orang sadar bahwa kedua perempuan yang berjalan itu adalah ibu dan anak.

    Ketika dia merasa memasuki desa, orang-orang desa melihat mereka. Mereka begitu kagum memandang kecantikan seorang gadis itu, lebih-lebih para pemuda desa yang tak puas-puasnya memandang wajah gadis itu. apabila dikala memandang seseorang yang berjalan dibelakang seorang gadis itu, sungguh kontras keadaannya. Hal ini memicu orang bertanya-tanya.

    Di antara orang yang melihatnya itu, seorang pemuda mencapai dan menanyakan kepada gadis itu, “Hai, seorang gadis cantik. jika yang berjalan dibelakang itu ibumu?”
    Namun, apa jawaban anak gadis itu ?
    “Bukan,” katanya dengan angkuh. “Ia adalah pembantuku !”
    Kedua ibu dan seorang itu lantas meneruskan perjalanan. Tak seberapa jauh, mendekati kembali seorang pemuda dan menanyakan kepada anak gadis itu.
    “Hai, manis. namun yang berjalan dibelakangmu itu ibumu?”
    “Bukan, bukan,” jawab gadis itu dengan mendongakkan kepalanya. ” Ia adalah budakk!”
    Begitulah tiap-tiap gadis itu bersua dengan seseorang disepanjang jalur yang menanyakan mengenai ibunya, selalu jawabannya itu. Ibunya diperlakukan sebagai pembantu atau budaknya.

    Pada awalnya mendengar jawaban putrinya yang durhaka jikalau ditanya orang, si ibu masih dapat menghindar diri. Namun sesudah berulang kali didengarnya jawabannya mirip dan yang sangat menyakitkan hati, akhirnya si ibu yang malang itu tak dapat menghindar diri. Si ibu berdoa.

    “Ya Tuhan, hamba tak kuat menghindar hinaan ini. Anak kandung hamba begitu teganya memperlakukan diri hamba sedemikian rupa. Ya, tuhan hukumlah anak durhaka ini ! Hukumlah dia….”
    Atas kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, perlahan-lahan tubuh gadis durhaka itu beralih menjadi batu. Perubahan itu diawali dari kaki. Ketika perubahan itu telah meraih 1/2 badan, anak gadis itu menangis memohon ampun kepada ibunya.

    ” Oh, Ibu..ibu..ampunilah saya, ampunilah kedurhakaan anakmu sepanjang ini. Ibu…Ibu…ampunilah anakmu..” Anak gadis itu konsisten meratap dan menangis memohon kepada ibunya. Akan tetapi, seluruhnya telah terlambat. Seluruh tubuh gadis itu akhirnya beralih menjadi batu. Sekalipun menjadi batu, tetapi orang dapat memandang bahwa kedua matanya masih menitikkan air mata, seperti sedang menangis. Oleh gara-gara itu, batu yang berasal dari gadis yang mendapat kutukan ibunya itu disebut ” Batu Menangis “.

    Demikianlah cerita bersifat legenda ini, yang oleh masyarakat setempat dipercaya bahwa kisah itu sangat pernah terjadi. Barang siapa yang mendurhakai ibu kandung yang telah melahirkan dan membesarkannya, pasti tingkah laku laknatnya itu akan mendapat hukuman dari Tuhan Yang Maha Kuasa.
Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Halo, Komandan!

Sepertinya anda baru di sini. Ingin ber-interaksi? Klik satu tombol ini!

Kategori