Contact Us

Kebudayaan Sunda

Istilah Sunda kemungkinan berasal dari bahasa Sansekerta yakni sund atau suddha yang berarti bersinar, terang, atau putih. Dalam bahasa Jawa kuno (Kawi) dan bahasa Bali dikenal juga istilah Sunda dalam pengertian yang sama yakni bersih, suci, murni, tak bercela/bernoda, air, tumpukan, pangkat, dan waspada.

Menurut R.W. van Bemmelen seperti dikutip Edi S. Ekadjati, istilah Sunda adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menamai dataran bagian barat laut wilayah India Timur, sedangkan dataran bagian tenggara dinamai Sahul. Dataran Sunda dikelilingi oleh sistem Gunung Sunda yang melingkar (Circum-Sunda Mountain System) yang panjangnya sekira 7.000 km. Dataran Sunda itu terdiri atas dua bagian utama, yaitu bagian Utara.yang meliputi Kepulauan Filipina dan pulau-pulau karang sepanjang Lautan Fasifik bagian Barat serta bagian Selatan hingga Lembah Brahmaputra di Assam (India).

Dengan demikian, bagian Selatan dataran Sunda itu dibentuk oleh kawasan mulai Pulau Banda di timur, terus ke arah barat melalui pulau-pulau di kepulauan Sunda Kecil (the lesser Sunda island), Jawa, Sumatra, Kepulauan Andaman, dan Nikobar sampai Arakan Yoma di Birma. Selanjutnya, dataran ini bersambung dengan kawasan Sistem Gunung Himalaya di Barat dan dataran Sahul di Timur.

Dalam buku-buku ilmu bumi dikenal pula istilah Sunda Besar dan Sunda Kecil. Sunda Besar adalah himpunan pulau yang berukuran besar, yaitu Sumatra, Jawa, Madura, dan Kalimantan, sedangkan Sunda Kecil adalah pulau-pulau yang berukuran kecil yang kini termasuk kedalam Provinsi Bali, Nusa Tenggara, dan Timor.

Dalam perkembangannya, istilah Sunda digunakan juga dalam konotasi manusia atau sekelompok manusia, yaitu dengan sebutan urang Sunda (orang Sunda). Di dalam definisi tersebut tercakup kriteria berdasarkan keturunan (hubungan darah) dan berdasarkan sosial budaya sekaligus. Menurut kriteria pertama, seseorang bisa disebut orang Sunda, jika orang tuanya, baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu ataupun keduanya, orang Sunda, di mana pun ia atau mereka berada dan dibesarkan.

Menurut kriteria kedua, orang Sunda adalah orang yang dibesarkan dalam lingkungan sosial budaya Sunda dan dalam hidupnya menghayati serta mempergunakan norma-norma dan nilai-nilai budaya Sunda. Dalam hal ini tempat tinggal, kehidupan sosial budaya dan sikap orangnya yang dianggap penting. Bisa saja seseorang yang orang tuanya atau leluhurnya orang Sunda, menjadi bukan orang Sunda karena ia atau mereka tidak mengenal, menghayati, dan mempergunakan norma-norma dan nilai-nilai sosial budaya Sunda dalam hidupnya.

Dalam konteks ini, istilah Sunda, juga dikaitkan secara erat dengan pengertian kebudayaan. Bahwa ada yang dinamakan Kebudayaan Sunda, yaitu kebudayaan yang hidup, tumbuh, dan berkembang di kalangan orang Sunda yang pada umumnya berdomosili di Tanah Sunda. Dalam tata kehidupan sosial budaya Indonesia digolongkan ke dalam kebudayaan daerah. Di samping memiliki persamaan-persamaan dengan kebudayaan daerah lain di Indonesia, kebudayaan Sunda memiliki ciri-ciri khas tersendiri yang membedakannya dari kebudayaan-kebudayaan lain.

Secara umum, masyarakat Jawa Barat atau Tatar Sunda, sering dikenal dengan masyarakat yang memiliki budaya religius. Kecenderungan ini tampak sebagaimana dalam pameo "silih asih, silih asah, dan silih asuh" (saling mengasihi, saling mempertajam diri, dan saling memelihara dan melindungi). Di samping itu, Sunda juga memiliki sejumlah budaya lain yang khas seperti kesopanan (handap asor), rendah hati terhadap sesama; penghormatan kepada orang tua atau kepada orang yang lebih tua, serta menyayangi orang yang lebih kecil (hormat ka nu luhur, nyaah ka nu leutik); membantu orang lain yang membutuhkan dan yang dalam kesusahan (nulung ka nu butuh nalang ka nu susah), dsb.

Strategi budaya

"Silih asih, silih asah, dan silih asuh" (saling mengasihi, saling mempertajam diri, dan saling memelihara dan melindungi), merupakan pameo budaya yang menunjukkan karakter yang khas dari budaya religius Sunda sebagai konsekuensi dari pandangan hidup keagamaannya.

Saling asih adalah wujud komunikasi dan interaksi religius-sosial yang menekankan sapaan cinta kasih Tuhan dan merespons cinta kasih Tuhan tersebut melalui cinta kasih kepada sesama manusia. Dengan ungkapan lain, saling asih merupakan kualitas interaksi yang memegang teguh nilai-nilai ketuhanan dan nilai-nilai kemanusiaan. Semangat.ketuhanan dan kemanusiaan inilah yang kemudian melahirkan moralitas egaliter (persamaan) dalam masyarakat. Dalam tradisi masyarakat saling asih, manusia saling menghormati, tidak ada manusia yang dipandang superior maupun inperior sebab menentang semangat ketuhanan dan semangat kemanusiaan. Mendudukan manusia pada kedudukan superior atau inperior merupakan praktek dari syirik sosial. Ketika ada manusia yang dianggap superior (tinggi), berarti mendudukkan manusia sejajar dengan Tuhan dan jika mendudukan manusia pada kedudukan yang inperior (rendah), berarti mengangkat dirinya sejajar dengan Tuhan. Dalam masyarakat saling asih manusia
didudukkan secara sejajar (egaliter) satu sama lainnya. Prisip egaliter ini kemudian melahirkan etos musyawarah, ta'awun (kerjasama) dan sikap untuk senantiasa bertindak
adil. Etos dan moralitas inilah yang menjadikan masyarakat teratur, dinamis dan harmonis.

Tradisi (budaya) saling asih sangat berperan dalam menyegarkan kembali manusia dari keterasingan dirinya dalam masyarakat sehingga citra dirinya terangkat dan menemukan ketenangan. Ini merupakan sumber keteraturan, kedinamisan, dan keharmonisan masyarakat sebab manusia yang terasing dari masyarakatnya cenderung mengalami kegelisahan yang sering diikuti dengan kebingungan, penderitaan, dan ketegangan etis serta mendesak manusia untuk melakukan pelanggaran hak dan tanggung jawab sosial.

Selain itu, dalam masyarakat religius kepentingan kolektif maupun pribadi mendapat perhatian serius melalui saling kontrol, tegur sapa dan saling menasihati. Hal ini dikembangkan dalam budaya atau tradisi saling asuh. Budaya saling asuh inilah yang kemudian memperkuat ikatan emosional yang telah dikembangkan dalam tradisi saling asih pada masyarakat religius. Oleh karena itu, dalam masyarakat religius seperti ini jarang terjadi konflik dan kericuhan, tetapi ketika ada kelompok lain yang mencoba mengusik ketenangannya, maka mereka bangkit melawan secara serempak (simultan).

Budaya silih asuh inilah yang merupakan manisfestasi akhlak Tuhan yang maha pembimbing dan maha menjaga, kemudian dilembagakan dalam silih amar makruf nahy munkar.

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa silih asuh merupakan etos pembebasan dalam masyarakat religius dari kebodohan, keterbelakangan, kegelisahan hidup dan segala bentuk kejahatan.

Meski demikian, budaya religius sesungguhnya memberikan peluang dalam penyerapan iptek sebab memiliki sejumlah potensi, etos keterbukaan, penalaran, analisis, dan kritis sebagai upaya perwujudan akhlak Tuhan Yang Maha Berilmu dan Mahakreatif sebagimana dikembangkan dalam budaya atau tradisi saling asah.

Masyarakat saling asah adalah masyarakat yang saling mengembangkan diri untuk memperkaya khazanah pengetahuan dan teknologi. Tradisi saling asah melahirkan etos dan semangat ilmiah dalam masyarakat. Etos dan semangat ilmiah dalam masyarakat religius merupakan upaya untuk menciptakan otonomi dan kedisiplinan sehingga tidak memiliki ketergantungan terhadap yang lain sebab tanpa tradisi iptek dan semangat.ilmiah suatu masyarakat akan mengalami ketergantungan sehingga mudah terekploitasi, tertindas, dan terjajah.

Saling asah adalah semangat interaksi untuk saling mengembangkan diri ke arah penguasaan dan penciptaan iptek sehingga masyarakat memiliki tingkat otonomi dan disiplin yang tinggi.

Dalam masyarakat religius yang saling asah, ilmu pengetahuan, dan teknologi mendapat bimbingan etis sehingga iptek tidak lagi angkuh, tetapi tampak anggun, bahkan memperkuat ketauhidan. Integrasi iptek dan etika ini merupakan terobosan baru dalam kedinamisan iptek dengan membuka dimensi transenden, dimensi harapan, evaluasi kritis, dan tanggung jawab.

Dengan demikian, budaya saling asih, saling asah dan saling asuh tetap akan selalu relevan dalam menghadapi tantangan modernisasi. Melalui strategi budaya saling asih, saling asah saling asuh, manusia modern akan dapat dikembalikan citra dirinya sehingga akan terbatas dari kegelisahan, kebingungan, dan penderitaan serta ketegangan psikologis dan etis.

Komentar

  • Budaya Sunda, Antara Mitos dan Realitas

    Oleh Drs. REIZA D. DIENAPUTRA, M.Hum.

    W.S. Rendra dalam Kongres Kebudayaan IV di Jakarta, 29 Oktober - 3 November 1991, mengemukakan bahwa setidaknya ada tujuh daya hidup yang harus dimiliki oleh sebuah kebudayaan. Pertama, kemampuan bernapas. Kedua, kemampuan mencerna. Ketiga, kemampuan berkoordinasi dan berorganisasi. Keempat, kemampuan beradaptasi. Kelima, kemampuan mobilitas. Keenam, kemampuan tumbuh dan berkembang. Ketujuh, kemampuan regenerasi.

    Kemampuan bernapas dalam kebudayaan dimaknai sebagai kemampuan untuk mengolah hawa menjadi prana, menjaga kebersihan udara, mengharmonikan kegiatan kehidupan dengan irama nafas, serta menghilangkan hal-hal yang menimbulkan ketegangan pada pikiran yang berarti menimbulkan kesesakan pada nafas kehidupan. Kemampuan mencerna dimaknai sebagai kemampuan untuk mencernakan berbagai pengalaman dalam kehidupan. Kemampuan berkoordinasi dan berorganisasi dimaknai sebagai kemampuan berinteraksi secara sosial.

    Kemampuan beradaptasi dimaknai sebagai kemampuan kesadaran untuk secara kreatif mengatasi tantangan keadaan, tantangan zaman, dan tantangan berbagai ragam pergaulan. Kemampuan mobilitas dimaknai sebagai kemampuan untuk dengan kreatif menciptakan mobilitas sosial, politik, dan ekonomi, baik yang bersifat horizontal maupun vertikal.

    Kemampuan tumbuh dan berkembang diartikan sebagai kemampuan kesadaran untuk selalu maju, selalu bertambah luas, dan dalam wawasannya selalu menawarkan paradigma-paradigma yang segar dan baru. Kemampuan regenerasi dimaknai sebagai kemampuan untuk mendorong munculnya generasi baru yang kreatif dan produktif.

    Di samping daya hidup, unsur lain lagi yang juga penting dalam suatu kebudayaan adalah mutu hidup. Mutu hidup bukanlah merupakan kesempurnaan tetapi lebih dimaknai sebagai kewajaran. Adapun kewajaran dalam hidup manusia merupakan harmoni tiga mustika, yakni, tanggung jawab kepada kewajiban, idealisme, dan spontanitas. Tanggung jawab kepada kewajiban dimaknai sebagai sebuah kesadaran untuk selalu melaksanakan kewajiban-kewajiban secara penuh sesuai dengan tanggung jawab sosialnya.

    Idealisme dimaknai sebagai rumusan sikap hidup seseorang di dalam menempuh padang dan hutan belantara kehidupan. Idealisme sekaligus merupakan sumber kepuasan batin seseorang. Spontanitas dimaknai sebagai ungkapan naluri dan intuisi manusia. Tanpa spontanitas akan menyebabkan hidup menjadi kering dan hambar.

    Daya hidup

    Kebudayaan Sunda termasuk salah satu kebudayaan suku bangsa di Indonesia yang berusia tua. Bahkan, dibandingkan dengan kebudayaan Jawa sekalipun, kebudayaan Sunda sebenarnya termasuk kebudayaan yang berusia relatif lebih tua, setidaknya dalam hal pengenalan terhadap budaya tulis. "Kegemilangan" kebudayaan Sunda di masa lalu, khususnya semasa Kerajaan Tarumanegara dan Kerajaan Sunda, dalam perkembangannya kemudian seringkali dijadikan acuan dalam memetakan apa yang dinamakan kebudayaan Sunda.

    Kebudayaan Sunda yang ideal pun kemudian sering dikaitkan sebagai kebudayaan raja-raja Sunda atau tokoh yang diidentikkan dengan raja Sunda. Dalam kaitan ini, jadilah sosok Prabu Siliwangi dijadikan sebagai tokoh panutan dan kebanggaan urang Sunda karena dimitoskan sebagai raja Sunda yang berhasil, sekaligus mampu memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya.

    Dalam perkembangannya yang paling kontemporer, kebudayaan Sunda kini banyak mendapat gugatan kembali. Pertanyaan seputar eksistensi kebudayaan Sunda pun sering kali mencuat ke permukaan. Apakah kebudayaan Sunda masih ada? Kalau masih ada, siapakah pemiliknya? Pertanyaan seputar eksistensi kebudayaan Sunda yang tampaknya provokatif tersebut, bila dikaji dengan tenang sebenarnya merupakan pertanyaan yang wajar-wajar saja. Mengapa demikian? Jawabannya sederhana, karena kebudayaan Sunda dalam kenyataannya saat ini memang seperti kehilangan ruhnya atau setidaknya tidak jelas arah dan tujuannya. Mau dibawa ke mana kebudayaan Sunda tersebut?

    Kalaulah kemudian tujuh daya hidup kreasi Rendra digunakan untuk mengelaborasi kebudayaan Sunda kontemporer, setidaknya ada empat daya hidup yang perlu dicermati dalam kebudayaan Sunda, yaitu, kemampuan beradaptasi, kemampuan mobilitas, kemampuan tumbuh dan berkembang, serta kemampuan regenerasi. Kemampuan beradaptasi kebudayaan Sunda, terutama dalam merespons berbagai tantangan yang muncul, baik dari dalam maupun dari luar, dapat dikatakan memperlihatkan tampilan yang kurang begitu menggembirakan. Bahkan, kebudayaan Sunda seperti tidak memiliki daya hidup manakala berhadapan dengan tantangan dari luar.

    Akibatnya, tidaklah mengherankan bila semakin lama semakin banyak unsur kebudayaan Sunda yang tergilas oleh kebudayaan asing. Sebagai contoh paling jelas, bahasa Sunda yang merupakan bahasa komunitas urang Sunda tampak secara eksplisit semakin jarang digunakan oleh pemiliknya sendiri, khususnya para generasi muda Sunda. Lebih memprihatinkan lagi, menggunakan bahasa Sunda dalam komunikasi sehari-hari terkadang diidentikkan dengan "keterbelakangan", untuk tidak mengatakan primitif. Akibatnya, timbul rasa gengsi pada urang Sunda untuk menggunakan bahasa Sunda dalam pergaulannya sehari-hari. Bahkan, rasa "gengsi" ini terkadang ditemukan pula pada mereka yang sebenarnya merupakan pakar di bidang bahasa Sunda, termasuk untuk sekadar mengakui bahwa dirinya adalah pakar atau berlatar belakang keahlian di bidang bahasa Sunda.

    Apabila kemampuan beradaptasi kebudayaan Sunda memperlihatkan tampilan yang kurang begitu menggembirakan, hal itu sejalan pula dengan kemampuan mobilitasnya. Kemampuan kebudayaan Sunda untuk melakukan mobilitas, baik vertikal maupun horizontal, dapat dikatakan sangat lemah. Oleh karenanya, jangankan di luar komunitas Sunda, di dalam komunitas Sunda sendiri, kebudayaan Sunda seringkali menjadi asing. Meskipun ada unsur kebudayaan Sunda yang memperlihatkan kemampuan untuk bermobilitas, baik secara horizontal maupun vertikal, secara umum kemampuan kebudayaan Sunda untuk bermobilitas dapat dikatakan masih rendah sehingga kebudayaan Sunda tidak saja tampak jalan di tempat tetapi juga berjalan mundur.

    Berkaitan erat dengan dua kemampuan terdahulu, kemampuan tumbuh dan berkembang kebudayaan Sunda juga dapat dikatakan memperlihatkan tampilan yang tidak kalah memprihatinkan. Jangankan berbicara paradigma-paradigma baru, iktikad untuk melestarikan apa yang telah dimiliki saja dapat dikatakan sangat lemah. Dalam hal folklor misalnya, menjadi sebuah pertanyaan besar, komunitas Sunda yang sebenarnya kaya dengan folklor, seberapa jauh telah berupaya untuk tetap melestarikan folklor tersebut agar tetap "membumi" dengan masyarakat Sunda.

    Kalaulah upaya untuk "membumikan" harta pusaka saja tidak ada bisa dipastikan paradigma baru untuk membuat folklor tersebut agar sanggup berkompetisi dengan kebudayaan luar pun bisa jadi hampir tidak ada atau bahkan mungkin, belum pernah terpikirkan sama sekali. Biarlah folklor tersebut menjadi kenangan masa lalu urang Sunda dan biarkanlah folklor tersebut ikut terkubur selamanya bersama para pendukungnya, begitulah barangkali ucap urang Sunda yang tidak berdaya dalam merawat dan memberdayakan warisan leluhurnya.

    Berkenaan dengan kemampuan regenerasi, kebudayaan Sunda pun tampaknya kurang membuka ruang bagi terjadinya proses tersebut, untuk tidak mengatakan anti regenerasi. Budaya "kumaha akang", "teu langkung akang", "mangga tipayun", yang demikian kental melingkupi kehidupan sehari-hari urang Sunda dapat dikatakan menjadi salah satu penyebab rentannya budaya Sunda dalam proses regenerasi. Akibatnya, jadilah budaya Sunda gagap dengan regenerasi.

    Generasi-generasi baru urang Sunda seperti tidak diberi ruang terbuka untuk berkompetisi dengan sehat, hanya karena kentalnya senioritas serta "terlalu majunya" pemikiran para generasi baru, yang seringkali bertentangan dengan pakem-pakem yang dimiliki generasi sebelumnya. Akibatnya, tidaklah mengherankan bila proses alih generasi dalam berbagai bidang pun berjalan dengan tersendat-sendat.

    Bila pengamatan terhadap daya hidup kebudayaan Sunda melahirkan temuan-temuan yang cukup memprihatinkan, hal yang sama juga terjadi manakala tiga mustika mutu hidup kreasi Rendra digunakan untuk menjelajahi Kebudayaan Sunda, baik itu mustika tanggung jawab terhadap kewajiban, mustika idealisme maupun mustika spontanitas. Lemahnya tanggung jawab terhadap kewajiban tidak saja diakibatkan oleh minimnya ruang-ruang serta kebebasan untuk melaksanakan kewaijiban secara total dan bertanggung jawab tetapi juga oleh lemahnya kapasitas dalam melaksanakan suatu kewajiban.

    Hedonisme yang kini melanda Kebudayaan Sunda telah mampu menggeser parameter dalam melaksanakan suatu kewajiban. Untuk melaksanakan suatu kewajiban tidak lagi didasarkan atas tanggung jawab yang dimilikinya, tetapi lebih didasarkan atas seberapa besar materi yang akan diperolehnya apabila suatu kewajiban dilaksanakan. Bila ukuran kewajiban saja sudah bergeser pada hal-hal yang bersifat materi, janganlah berharap bahwa di dalamnya masih ada apa yang disebut mustika idealisme. Para hedonis dengan kekuatan materi yang dimilikinya, sengaja atau tidak sengaja, semakin memupuskan idealisme dalam kebudayaan Sunda. Akibatnya, jadilah betapa sulitnya komunitas Sunda menemukan sosok-sosok yang bekerja dengan penuh idealisme dalam memajukan kebudayaan Sunda.

    Daya mati

    Berpijak pada kondisi lemahnya daya hidup dan mutu hidup kebudayaan Sunda, timbul pertanyaan besar, apa yang salah dengan kebudayaan Sunda? Untuk menjawab ini banyak argumen bisa dikedepankan. Tapi dua di antaranya yang tampaknya bisa diangkat ke permukaan sebagai faktor berpengaruh paling besar adalah karena ketidakjelasan strategi dalam mengembangkan kebudayaan Sunda serta lemahnya tradisi, baca, tulis , dan lisan (baca, berbeda pendapat) di kalangan komunitas Sunda.

    Ketidakjelasan strategi kebudayaan yang benar dan tahan uji dalam mengembangkan kebudayaan Sunda tampak dari tidak adanya "pegangan bersama" yang lahir dari suatu proses yang mengedepankan prinsip-prinsip keadilan tentang upaya melestarikan dan mengembangkan secara lebih berkualitas kebudayaan Sunda. Kebudayaan Sunda tampaknya dibiarkan berkembang secara liar, tanpa ada upaya sungguh-sungguh untuk memandunya agar selalu berada di "jalan yang lurus", khususnya manakala harus berhadapan dengan kebudayaan-kebudayaan asing yang galibnya terorganisasi dengan rapi serta memiliki kemasan menarik. Berbagai unsur kebudayaan Sunda yang sebenarnya sangat potensial untuk dikembangkan, bahkan untuk dijadikan model kebudayaan nasional dan kebudayaan dunia tampak tidak mendapat sentuhan yang memadai. Ambillah contoh, berbagai makanan tradisional yang dimiliki urang Sunda, mulai dari bajigur, bandrek, surabi, colenak, wajit, borondong, kolontong, ranginang, opak, hingga ubi cilembu, apakah ada strategi besar dari pemerintah untuk mengemasnya dengan lebih bertanggung jawab agar bisa diterima komunitas yang lebih luas. Kalau Kolonel Sanders mampu mengemas ayam menjadi demikian mendunia, mengapa urang Sunda tidak mampu melahirkan Mang Ujang, Kang Duyeh, ataupun Bi Eha dengan kemasan-kemasan makanan tradisional Sunda yang juga mendunia?

    Lemahnya budaya baca, tulis, dan lisan ditengarai juga menjadi penyebab lemahnya daya hidup dan mutu hidup kebudayaan Sunda. Lemahnya budaya baca telah menyebabkan lemahnya budaya tulis. Lemahnya budaya tulis pada komunitas Sunda secara tidak langsung merupakan representasi pula dari lemahnya budaya tulis dari bangsa Indonesia. Fakta paling menonjol dari semua ini adalah minimnya karya-karya tulis tentang kebudayaan Sunda ataupun karya tulis yang ditulis oleh urang Sunda. Dalam kaitan ini, upaya Yayasan Rancage untuk memberikan penghargaan dalam tradisi tulis perlu mendapat dukungan dari berbagai elemen urang Sunda. Sayangnya, hingga saat ini pertumbuhan tradisi tulis pada urang Sunda masih tetap terbilang rendah.

    Menurut A. Chaedar Alwasilah (2003), setidaknya ada sebelas ayat sesat yang telah menyebabkan lemahnya budaya tulis. Pertama, anggapan bahwa literasi adalah kemampuan membaca. Kedua, anggapan bahwa mahasiswa tidak perlu diajari cara menulis. Ketiga, anggapan bahwa penguasaan teori menulis akan membuat siswa mampu menulis. Keempat, anggapan bahwa tidak mungkin mengajarkan menulis pada kelas-kelas besar. Kelima, anggapan bahwa menulis dapat diajarkan manakala siswa telah menguasai tata bahasa. Keenam, anggapan bahwa karangan yang sulit dipahami memperlihatkan kehebatan penulisnya. Ketujuh, anggapan bahwa menulis hanya dapat diajarkan manakala siswa sudah dewasa. Kedelapan, anggapan bahwa menulis karangan naratif dan ekspositoris harus lebih dahulu diajarkan daripada genre-genre lainnya. Kesembilan, anggapan bahwa pengajaran bahasa adalah tanggung jawab guru bahasa. Kesepuluh, anggapan bahwa menulis mesti diajarkan lewat perkuliahan bahasa. Kesebelas, anggapan bahwa bacaan atau pengajaran sastra hanya relevan bagi (maha) siswa fakultas sastra.

    Budaya lisan dalam kebudayaan Sunda sebenarnya merupakan budaya yang telah lama akrab dengan komunitas Sunda, bahkan usianya jauh lebih tua dibandingkan dengan budaya baca dan tulisan. Namun, budaya lisan dalam pengertian kapasitas untuk mengemukakan pendapat serta berjiwa besar dalam menghadapi pendapat yang berbeda masih merupakan barang yang masih amat sangat langka dalam Kebudayaan Sunda. Tradisi lisan Sunda tampaknya baru mampu menghargai komunikasi model monolog dan bukannya dialog. Akibatnya, kemampuan untuk menyampaikan pendapat dan menerima pendapat yang berbeda dalam Kebudayaan Sunda merupakan barang yang teramat mewah. Padahal, kapasitas untuk mengemukakan pendapat dan menerima pendapat yang berbeda ini menjadi salah satu dasar bagi munculnya daya hidup dan mutu hidup kebudayaan yang berkualitas. Kapasitas mengemukakan pendapat pada dasarnya merupakan representasi dari kemampuan bernafas dan mencerna, sementara kapasitas menerima dengan jiwa besar pendapat yang berbeda lebih merupakan representasi dari kemampuan berkoordinasi dan berorganisasi, kemampuan beradaptasi, kemampuan mobilitas, kemampuan tumbuh dan berkembang, serta kemampuan regenerasi.***

    Penulis Lektor Kepala pada Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran serta Sekretaris Jenderal Pusat Kajian Lintas Budaya Bandung.
  • Membangun Efistem Budaya Sunda

    Kebudayaan, dalam berbagai bentuknya, merupakan kristalisasi dari cara berpikir suaru masyarakat. Dan, cara berpikir sutau masyarakrat merupakan akumulasi dari noktah-noktah pengalaman sejarah yang dilaluinya, yang terus menerus mengalami perubahan dan sarat dengan proses evaluasi. Setiap proses sejarah kebudayaan senantiasa menyisakan debu-debu anomali disamping produk unggulan yang menjadi ciri dari suatu pase kebudayaan tertentu yang nantinya menjadi identitas dari suatu pase peradaban tertentu. Dalam konteks itulah, setiap masyarakat bangsa dengan kebudayaannya akan senantiasa berhadapan dengan problematikanya masing-masing.

    Problematika budaya dalam masyarakat Sunda, seperti halnya masyarakat Indonesia pada umumnya, adalah adanya indikasi proses pengasingan atau peminggiran (marginalisasi) kebudayaan dan tradisi lokal oleh masyarakat etniknya sendiri. Hal ini lebih terasa terjadi di perkotaan, dan secara perlahan namun pasti hal yang sama terjadi di pelosok dan pedesaan.

    Proses marginaliasi bahkan hilang dan matinya sebuah kebudayaan memang merupakan hal yang lumrah terjadi, akan tetapi bila kita melihat percepatan proses yang terjadi di Indonesia, khususnya yang dialami kebudayaan Sunda, terjadi dalam waktu yang relatif cepat dan terjadi secara bersamaan dalam berbagai seginya. Akhirnya, kini tradisi dan kebudayaan tradisional Sunda hanya tinggal sebagai tontonan dan “kalangenan”, serta sebagai bukti historis masa lalu etnik Sunda. Dalam dimensi ekonomis, tradisi dan kebudayaan tradisonal kini hanya sebagai asset wisata.

    Entitas kebudayaan, dengan segala aspeknya, sebagai indikasi dari keberadaan suatu bangsa (etnis) tidak bisa begitu saja dinafikan dan dianggap sepele. Karena, kebudayaan dan tradisi merupakan soko-guru dan sumber referensial bagi kepribadian masyarakat bangsa atau etnik tersebut. Etnik Sunda, sebagaimana etnik dan bangsa lainnya di dunia, mengalami sejarah pertumbuhan dan perkembangan. Salah satu unsur dari entitas kebudayaan adalah sistem pengetahuan, yang secara langsung membentuk cara pandang masyarakat tersebut terhadap diri, dan dunianya. Cara pandang ini sekaligus menjadi suatu sistem keyakinan tentang “kebenaran sejati”. Suatu paradigma yang menentukan cara berpikir, bertindak dan berkreasi.

    Sistem pengetahuan dan keyakinan, sebagai suatu sistem paradigma, selalu mengalami perubahan secara bertahap dan bersifat sinergis. Perubahan yang selalu sarat dengan proses evaluasi sesuai dengan tuntutan perkembangan dan tantangannya. Persoalannya adalah bagaimana prosesi perubahan itu terjadi? Dan bagaimana peran sistem pengetahuan awal (budaya dan tradisi lokal) berperan dalam prosesi perubahan itu; Dan bagaimana posisi budaya baru dalam prosesi perubahan itu.

    Bila kita menggunakan teorema C.A. van Peursen tentang pase-pase perkembangan budaya yang mempetakan perubahan kebudayaan suatu bangsa, ia membagi pase perkembangan budaya itu dalam tiga babak (hingga budaya modern tentunya). Yaitu, pase mitis, ontologis dan fungsional. Van Peursen mempetakan perkembangan budaya tersebut berdasar pada pola relasi manusia (S, Subjek) dengan dirinya dan dengan lingkungannya (O, Objek). Pola relasi terbuka, tertutup dan partisipatif.

    Seperti halnya masyarakat bangsa lainnya di muka bumi, masyarakat etnik Sunda pun mengalami perubahan dengan tahapan yang kurang lebih sama. Kebudayaan Sunda, bila melihat catatan sejaran kebudayaan yang kita miliki dan terima, dibangun di atas paradigma mitis yang cukup kaya dan juga sangat mengakar. Hal ini, seperti dijelaskan van Peursen, ditandai oleh tidak adanya garis pemisah yang jelas dan tegas antara manusia dan dunia, antara subjek dan objek. Masyarakat Sunda, sebagai individu, masih merupakan sebuah lingkaran yang terbuka, belum memiliki “eksistensi” yang bulat. Masyarakat Sunda masih diresapi oleh kekuatan lingkungan sosial dan alam raya.

    Terdapat persoalan mendasar berkenaan dengan term “eksistensi manusia” yang digunakan dalam teorema van Peursen ini. Karena, disadari atau tidak van Peursen pun pada akhirnya termakan oleh asumsi modern tentang apa yang dimaksud dengan “individu yang bulat”, eksistensi. Yaitu individu “dewasa” yang telah memiliki kesadaran penuh untuk mandiri dan terlepas dari kungkungan dan tekanan sosial dan alam raya dalam menentukan identitas dirinya. Sementara dalam tata pikir “tradisional” pada umunya, yang disebut sebagai individu yang bulat adalah justru ketika ia berada dalam relasi yang lengkap dengan masyarakat, alam raya, kekuatan-kekuatan supra natural dan atau Tuhan. Hal ini bisa kita lihat dalam prinsip, “papat kalima pancer”. Manusia yang telah samapai pada tingkat kesempurnaan dalah manusia yang telah membangun relasi antara dirinya, alam raya serta kekuatan-kekuatan supra natural dan atau Tuhan. Hal ini dapat kita lihat dalam mitos-mitos tentang perjalanan prosesi perjalanan hidup manusia dalam mencapai kesempurnaan hidup. Hal ini dapat dilihat dalam mitos Lutung Kasarung, mitos Mundinglaya Di Kusumah, mitos Sangkuriang dan lain sebagainya.

    Prinsip ini didasarkan pada asumsi tentang mikro dan makro kosmos. Pengembaraan dalam makro-kosmos tak jarang disikapi sebagai pengembaraan dalam diri (mikro-kosmos), penguasaan alam (makro kosmos) senantiasa diawali dengan penguasaan diri (mikro-kosmos). Diri (mikro-kosmos) selalu menjadi awal perjalanan dan sekaligus akhir perjalanan, itulah yang disebut dengan menemukan diri sendiri. Begitu juga, perjalanan dalam diri, selalu dimanipestasikan dalam bentuk perjalanan di alam raya (makro-kosmos).

    Ketika budaya Sunda berinteraksi dengan kebudayaan dan sistem keyakinan (agama) lain dari luar: Hindu, Budha, dan Islam; budaya Sunda mengambil peran dinamis dalam proses pertemuan sistem nilai itu. Secara khusus dalam proses pertemuannya dengan Hindu dan Budha. Akan tetapi ketika terjadi pertemuan dengan sistem nilai Islam dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama (dibandingkan dengan prosesi pertemuan dengan sistem nilai Hindu dan Budha), karena tiba-tiba harus pula berhadapan dengan tekanan dari penaklukan Mataram dan kolonialisme Barat, tata pikir pikir modern dan gerakan pemurnian Islam, prosesi budaya itu mengalami kemacetan. Hambatan yang dialami dalam interaksi budaya Sunda-Islam sangat terasa ketika terjadi gerakan pemurnian Islam yang dicikan oleh kecenderungan proteksi yang radikal terhadap adanya internalisasi budaya lokal terhadap pemikiran (tafsir) keagamaan. Kecenderungan tekstual dari pemurnian Islam seolah-olah menutup seluruh kesempatan bagi terjadinya dialog pemikiran Islam dan sistem nilai lokal (budaya Sunda). Persoalan-persoalan tersebut hampir menghabiskan seluruh konsentrasi masyarakat Sunda terhadap proyek-proyek budaya, sehingga mengalami kemacetan yang cukup berarti.

    Secara kultural, dalam proses awal pertemuan sistem nilai budaya Sunda dan sistem nilai Islam yang dilakukan oleh para penyebar Islam awal (para Wali), relatif berhasil. Hal ini dikarenakan para wali memberikan apresiasi positif terhadap keberadaan budaya lokal sunda, bahkan dijadikan modal dasar bagi prosesi pertemuan kultural tersebut, baik dalam aspek sistem nilai keyakinan maupun aspek budayanya.

    Dalam analisa teorema strategi kebudayaan van Perseun, dapat dilihat bahwa proses peralihan dari relasi budaya mitik ke realasi ontologis yang dipelopori oleh para penyebar Islam awal yang dinakhodai oleh Sunan Gunung Jati. Sistematika efistem filsafat (Islam) dalam genre metafisika-sufistik, secara sistemtik telah mampu menjembatani pertemuan sistem pengetahuan dan efistem Sunda dengan sistem pengetahuan dan efistem Islam, walau pun belum bisa dikatakan telah selesai. Pase awal ini baru berhasil membangun dasar-dasar efistem yang mempertemukan kedua sistem pengetahuan tersebut: sistem pengetahuan Sunda-Islam. Suatu sistem pengetahuan yang apabila dilihat dalam tatapikir keagamaan secara radikal, dilihat sebagai suatu sistem pengetahuan sinkretis yang berbau “bid’ah”.

    Ketika masyarakat Sunda sedang serius menggarap mega proyek filosofis yang harus disebut belum selesai ini, tiba-tiba masyarakat Sunda harus banting setir menghadapi tekanan hegemoni budaya Mataram di Tatar Sunda yang dicirikan oleh upaya peralihan pusat budaya ke timur, Mataram. Mereka “dipaksa” untuk menggunakan tatapi pikir mitis dan ontologis ala Mataram (Jawa)-Islam yang dibangun oleh delapan wali penyebar Islam lainnya. Paradigma yang “mengikis habis” fondasi efistem budaya Sunda termasuk fondasi efistem budaya Sunda-Islam yang dibangun oleh penyebar Islam di tatar Sunda, khususnya di wilayah Priangan. Bagaimana tidak disebut “dikikis habis” bila bahasa sebagai salah satu ciri paling mendasar dari suatu bangsa (etnik) mengalami goncangan luar biasa. Keberhasilan projek efistem yang dibangun oleh para perintis dan para ulama serta budayawan Sunda dan Sunda-Islam mengalami titik nadir kematiannya.

    Peralihan arah angin ini membuat kebuadayaan Sunda berdiri tertatih-tatih ketika berhadapan dengan perubahan dan tekanan yang demikian keras. Berkenaan dengan hegemoni dan peralihan pusat budaya ini, Mikihiro Moriyama, mencatat “Bukan hanya ranah kesenian, tepi juga administrasi pemetintahan, gaya hidup, dan bahasa yang terkena dampaknya: selama hampir dua ratus tahun kesusastraan Sunda berkembang menurut etika Jawa. Contoh yang paling jernih adalah bentuk sajak yang dalam wilayah penuturan bahasaSunda disebut dangding, yang diadaptasi dari tembang macapat”. Yang terakhir ini, dapat kita temukan dalam kesenian Cianjuran yang kini menjadi bagian integral dari kebudayaan masyarakat Sunda, bukan hanya kebudayaan masyarakat Cianjur. Sulit dipastikan, apakah kelahiran seni tradisi Cianjuran harus disikapi sebagai keberhasilan budayawan Sunda untuk terus eksis dan berkreasi, atau malah sebagai gambaran paling jelas dari hilangnya soko guru kebudayaan Sunda di rumahnya sendiri. Fenomena yang tentunya sangat debatable.

    Pada kondisi ini, budaya Sunda mengalami proses marginalisasi bahkan alienasi oleh bangsa (masyarakat)-nya sendiri, terutama oleh sejumlah bangsawan (priyayi) yang nota bene orang Sunda. Suatu kondisi seperti yang digambarkan dalam legenda Dalem Boncel, yaitu anak yang melupakan dan tidak mengakui keberadaan ibunya (asal-usul primordialnya, sistem nilai dan budaya Sunda ).
    Kebudayaan adalah bayang-bayang tubuh bagi seorang manusia, yang selalu mengikutinya kemana pun tubuh itu pergi, tidak pernah terpisahkan. Kini orang Sunda dengan kebudayaannya duduk berhadapan sebagai sosok yang tidak saling mengenal, seperti seorang yang baru pertama kalinya bercermin, ia merasa asing dengan gambaran wajah dan tubuh yang terpampang di kaca cermin, di depannya.

    Apa yang terjadi dengan kebudayaan Sunda dengan orang Sundanya, adalah sebuat tragedi kultural sekaligus sebagai tragedi kemanusiaan akut. Tragedi kebudayaan yang disebabkan oleh tidak tuntasnya prosesi peralihan pase budaya yang semestinya dilewati, dari satu pase ke pase selanjutnya (kamalangkem). Dalam kasus budaya Sunda, pase budaya yang tidak dilewati secara mulus adalah pasa pase ontologis. Pase yang memungkinkan lahirnya tradisi filosofis, yang secara efistemologis menjadi fondasi bagi terjadinya dialog atau partisipasi logos (tradisi rasional-filosofis) dengan mitos.
    Pada abad ke-19, pernah ada seorang tokoh yang kembali berusaha untuk mengulang pase ontologis yang dilakukan oleh para pendahulunya. Ia seoarang Kyai, budayawan dan sekaligus priyayi, yaitu Penghulu K.H. Hasan Mustapa, yang melanjutkan sejumlah upaya yang dilakukan oleh pendahulunya, yaitu budayawan dan Penghulu K.H. Mochammad Musa. Dengan modal pengetahuan budaya yang dikenal baik oleh masyarakat Sunda, serta pengetahuan ilmu-ilmu keislaman yang ia dapatkan selama di tanah suci Mekah, Hasan Mustapa merumuskan suatu sistem filosofi dan efistem yang memungkinkan dijadikan landasan filosofis bagi kebudayaan Sunda. Suatu kerja raksasa yang tidak bisa dianggap ringan, apalagi dilakuakn sendirian. Sangat disayangkan bahwa karya filsafat itu hanya tersimpan sebagai khazanah mistik.

    Hasan Mustapa, dalam naskah Sasaka Di Kaislaman, merumuskan kerangka efistem Sunda dengan menggambarkan relasi individu manusia sebagai suatu sosok yang senantiasa melakukan dialog Subjek-Objek, baik dengan dirinya sendiri, dengan lingkungan sosial dan alam serta dengan segenap sistem nilai yang hadir dalam masyarakatnya, dalam usahanya untuk mencapai kualitas individu yang sempurna, Insan Kamil; yaitu sosok individu yang : “sampurna taya kakurang, lantaran ngala sorangan ku pitulung Ahadiyat, jatnika ku sangsarana”. Kesadaran ini dicapai ketika seluruh penginderaan, pikiran, perasaan, dan rasa menyatu dalam “rasa sajati ning rasa”, yaitu ketika “rasa” manusia bersatu dengan rasa Tuhan. Dalam istilah Hasan Mustapa kondisi demikian muncul dari kedekatan aing dengan Tuhan dalam relasi partisipatif, ngadu rasa pada rasa.
  • :top: :top: :top: :top: :top:
  • Seni Sunda ”Buhun” Kian Ditinggal

    (dari pikiran-rakyat.com)

    Berbagai jenis kesenian tradisional asli Sunda khususnya seni Sunda buhun nyaris punah akibat banyak ditinggalkan masyarakatnya sendiri. Sebagai seni yang menjadi kekayaan budaya lokal, seni Sunda buhun terus kehilangan penerusnya akibat para pelaku seninya kurang mendapat tempat dan dihargai publik, serta terdesak seni pop modern yang dianggap lebih menarik.

    Guru Besar Bahasa dan Sastra Universitas Pendidikan Indonesia, Prof. Dr. Yus Rusyana mengatakan, kondisi tradisional Sunda buhun saat ini secara berangsur mulai menghilang. “Dewasa ini generasi muda lebih menyenangi seni yang datangnya dari luar dibandingkan kesenian asli milik bangsa sendiri,” ujarnya, dalam acara Rembuk Tokoh Sunda, Menggali Akar Budaya Sunda Buhun, Senin (14/3) di Aula Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, Jalan R.E. Martadinata 209 Bandung.

    Acara itu dihadiri sejumlah tokoh seni dan budayawan Sunda, seperti Prof. Saini KM, Prof. Dr. Karna Yudibrata, Dra. Hj. Popong Otje Djunjunan, Nano S., Euis Suhaenah M. Hum, dan Pengurus PB Pusat Pasundan Daum.

    Kang Yus –demikian Yus Rusyana akrab disapa– menegaskan bahwa saat ini seni budaya Sunda terus mengalami pergeseran. Bahkan seni Sunda buhun yang merupakan seni leluhur sudah sulit ditemui. Padahal, seni budaya Sunda buhun dikenal sangat kaya nilai. Mulai dari hubungan antara manusia dengan Tuhannya, manusia dengan mausia lain, hingga hubungan manusia dengan alamnya.

    Untuk itu, Yus sangat mendukung berbagai upaya pelestarian seni budaya Sunda. “Jika tidak diantisipasi dengan langkah-langkah pelestarian, kekayaan tradisi tersebut akan tinggal menjadi sejarah,” ujarnya.

    Sementara Dra. Hj. Popong Otje Djundjunan mengatakan, untuk membangkitkan gairah para pelaku seni budaya Sunda buhun perlu diberikan semacam rangsangan. “Selama ini penghargaan terhadap pelaku seni sangat jarang, padahal para seniman tidak meminta imbalan berupa materi terhadap upayanya melestarikan seni turun temurun. Mereka hanya ingin ada semacam pengakuan dari pemerintah,” ujarnya.

    Seni budaya Sunda buhun semakin ditinggalkan masyarakat karena dinilai monoton sehingga tidak memiliki daya jual yang menarik. Kondisi itu diperparah oleh tidak adanya dukungan publik dan modal dari pemerintah sehingga jarang bisa ditampilkan lagi di tengah masyarakat.

    Untuk melestarikan seni budaya sunda buhun yang terus menghilang, Ny. Popong mengusulkan agar diselenggarakan kegiatan semacam ekshibisi atau tontonan secara resmi. Seni yang digelar tidak hanya berupa seni ibing (gerak–red.) tetapi juga seni tabeuh (pukul), maupun seni sora (suara).

    Selain itu untuk menentukan bahwa seni tersebut merupakan seni Sunda buhun perlu ditetapkan kriteria. “Untuk menentukannya saat ini sangat sulit karena seni Sunda sudah banyak mengadopsi seni dari luar,” ujarnya.

    Hal senada dikatakan seniman, budayawan dan guru seni di STSI Bandung, Nano S.. Ia mengatakan, seniman Sunda buhun dewasa ini sangat tidak dihargai lagi, tidak saja oleh masyarakatnya sendiri tetapi juga oleh pemerintah. “Kalau memang masih mendapat tempat, bila sedang pentas pasti akan ditonton. Pemerintah daerah pun sering menganggap para seniman itu menjadi beban,” ujarnya.

    Dikatakan Nano, dalam beberapa tahun kebelakang seni budaya Sunda buhun dapat dipastikan akan menjadi barang kuno bila tidak segera dilestarikan dan dikembangkan kembali. “Untuk itu kiranya dalam memahami seni budaya Sunda buhun tidak dikaitkan dengan akidah atau agama yang selama ini sering menjadi pagar antara boleh dan tidak,” ujar Nano.
  • Seni Sunda Pascapemisahan Banten

    Oleh IYUS RUSLIANA

    SEMENJAK wilayah Banten pada tahun 2000 diresmikan menjadi Provinsi Banten, maka secara geografis yang termasuk Provinsi Jawa Barat berkurang, termasuk jumlah wilayah administrasi pemerintahan kota dan kabupaten. Dengan adanya perubahan ini, terbukti dalam waktu yang singkat bermunculan atlas atau peta wilayah Jawa Barat yang baru dalam bermacam kemasan. Oleh karena itu, berbagai lapisan masyarakat yang memerlukan tidaklah sulit untuk mencari dan membelinya, baik tersedia di toko-toko buku maupun yang dijajakan di pinggir-pinggir jalan di seluruh kota dan kabupaten di wilayah Provinsi Jawa Barat.

    Akan tetapi, setelah Banten menjadi provinsi, apakah kekayaan dan keanekaragaman kesenian Sunda di Jawa Barat hingga kini menjadi berkurang? Kiranya sulit dipastikan berkurang atau bertambah. Permasalahan ini diangkat karena hingga kini tidak sedikit dari individu dan kelompok masyarakat yang memerlukan informasi tentang kekayaan dan keanekaragaman kesenian Sunda di Jawa Barat, ternyata sulit mencarinya, baik tertulis dalam bentuk pendataan maupun pemetaan.

    Mengenai istilah Sunda untuk menyebut kebudayaan dan kesenian khas Jawa Barat, ternyata masih ada yang mengartikannya agak sempit. Alasannya, karena sebutan atau istilah Sunda digunakan untuk nama bahasa yang menjadi khas masyarakat di wilayah Priangan. Oleh karena itu, daerah-daerah tertentu di Jawa Barat yang tradisinya tidak menggunakan bahasa Sunda, ada yang cenderung menyangkal atau tidak mau mengakui jika keseniannya disebut sebagai kesenian Sunda, tetapi ingin sebutannya menggunakan nama bahasa yang mentradisi di daerah itu. Menurut Edi S. Ekajati, bahwa sebutan "Sunda" identik dengan Jawa Barat, tetapi sebutan "Jawa Barat" digunakan untuk menyebut wilayah administrasi pemerintahan provinsi dan istilah "Sunda" digunakan dalam pengertian kebudayaan (1995: 12-14).

    Dalam lingkup kebudayaan Sunda terdapat subkultur Cirebon, subkultur Banten, dan subkultur Priangan. Berarti, kebudayaan Sunda yang ada di Jawa Barat sekarang ini terdiri dari subkebudayaan Cirebon dan subkebudayaan Priangan. Maka, untuk menengahi permasalahan ini boleh saja dikatakan, bahwa di dalam kekayaan dan keanekaragaman kesenian Sunda di Jawa Barat terdapat kekayaannya yang khas Cirebon dan khas Priangan. Adapun pengertian kesenian Sunda di sini, adalah untuk menunjuk pada produk-produk seni Sunda yang lazim disajikan dalam bentuk pertunjukan atau bukan dalam bentuk pameran dan lain-lain.

    Menelusuri keberadaan kekayaan kesenian Sunda sebelum Banten menjadi provinsi, antara lain bisa ditinjau berdasarkan fungsi atau kegunaan dalam tatanan kehidupan budaya tradisi masyarakatnya. Pertama, ada sejumlah kesenian sebagai sarana upacara adat dalan fenomena lingkaran alamiah, dan dalan fenomena lingkaran kehidupan manusia. Kedua, ada sejumlah kekayaan kesenian sebagai sarana hiburan dan pergaulan atau kalangenan. Ketiga, ada sejumlah kekayaan kesenian yang keberadaannya berperan khusus sebagai sarana komunikasi seni atau sering disebut sebagai seni pertunjukan. Kemudian dari setiap kekayaan kesenian ini memiliki potensinya yang cukup variatif jika ditinjau berdasarkan keanekaragamannya, antara lain di dalam menggunakan tempat penyajian kesenian tersebut. Pertama, ada yang disajikan secara menetap di suatu tempat yang khas. Umpamanya kesenian sebagai sarana upacara adat, ada yang mentradisi disajikan di dalam rumah, di halaman rumah, di tempat menumbuk padi atau saung lisung, di tempat penyimpanan pada atau leuit, dan juga ada yang disajikan di ladang seperti halnya upacara adat menanam padi bagi masyarakat agraris ngahuma yang disebut ngaseuk.

    Kedua, adalah kesenian sebagai sarana hiburan atau pergaulan yang disajikan di ruang-ruang tertutup, pendopo, di lapangan terbuka, dan disajikan di panggung balandongan seperti halnya hiburan rakyat yang disebut bajidoran. Ketiga, kesenian sebagai seni pertunjukan, pada umumnya bisa disajikan di arena terbuka dan tertutup, pendopo, panggung balandongan, serta panggung berbentuk proscenium terbuka dan tertutup seperti halnya pertunjukan longser, wayang golek, gending karasmen, dan sendratari.

    Keempat, ada juga tradisi tempat penyajian kesenian Sunda yang unik, yakni disajikan dengan tidak menetap di suatu tempat, melainkan disajikan menyusuri sepanjang jalan seperti arak-arakan atau pawai. Kesenian Sunda seperti ini biasa disebut sebagai seni helaran, antara lain: ada yang berangkatnya dari suatu tempat dan kemudian berkeliling menyusuri jalan dan kembali ke tempat semula, seperti halnya sisingaan yang digunakan sebagai sarana upacara adat khitanan; dan ada juga yang berangkatnya dari sawah atau ladang dan kemudian menyusuri jalan menuju ke tempat penyimpanan padi, seperti kesenian rengkong sebagai sarana upacara adat ngakut pare atau mengangkut padi.

    Sarana upacara

    Keanekaragaman kesenian Sunda sebagai sarana upacara adat bisa juga ditinjau berdasarkan peristiwanya. Pertama dalam fenomena ritus budaya agraris atau pertanian seperti tarawangsa, dan pastoral, atau penggembala dan peternakan seperti pesta dadung. Kedua, dalam fenomena lingkaran kehidupan manusia antara lain: keanekaragaman kesenian yang berkaitan dengan peristiwa khitanan seperti kuda renggong, berkaitan dengan peristiwa perkawinan seperti parebut seeng, dan berkaitan dengan peristiwa mengusir wabah penyakit seperti berokan.

    Selain itu, ada keanekaragaman kesenian sebagai sarana hiburan atau kalangenan bisa ditinjau berdasarkan derajat sosial pelakunya, antara lain: tradisi hiburan di masa lalu bagi kalangan menak atau bangsawan dan keluarga keraton yang disebut tayuban, dan bagi kalangan rakyat biasa yang disebut ketuk tilu. Sedangkan keanekaragaman kesenian Sunda sebagai seni pertunjukan dapat ditinjau berdasarkan bentuk penyajiannya:

    Pertama, kesenian yang disebut drama atau teater, terdiri dari teater boneka atau pelakunya berwujud boneka seperti halnya wayang golek, wayang cepak, dan wayang kulit, serta teater manusia atau para pelakunya manusia seperti longser, sandiwara, ubrug, dan banyet.

    Kedua ialah keanekaragaman kesenian yang disebut karawitan, terdiri dari karawitan sekar atau nyanyian seperti beluk dan cigawiran, karawitan gendingan atau instrumentalia seperti kendang penca, degung, dan gembyung, serta karawitan sekar gending seperti tembang, kiliningan, dan terbangan. Adapun yang ketiga ialah keanekaragaman kesenian yang disebut tari, terdiri dari pertunjukan dramatari seperti wayang topeng atau wayang wong Cirebon, wayang wong Priangan, dan beberapa macam sendratari seperti sendratari Lutung Kasarung dan sendratari Ramayana. Selain itu ada keanekaragamannya dari pertunjukan tari-tarian seperti dari tarian topeng Cirebon, tarian rakyat, tarian pencak silat, tarian keurseus, tarian wayang, serta tari-tarian karya R. Tjetje Somantri dan tarian Jaipongan karya Gugum Gumbira.

    Paparan mengenai kekayaan dan keanekaragaman kesenian Sunda yang dikemukakan di atas, hanyalah sekadar contohnya saja. Berdasarkan buku tentang Laporan Data Jenis dan Organisasi Kesenian Provinsi Jawa Barat Tahun 1981-1982 yang diterbitkan oleh Projek Pengembangan Kesenian Sunda, Kanwil. Dep. Dikbud. Provinsi Jawa Barat, bahwa kekayaan dan keanekaragaman kesenian Sunda tertulis sebanyak 107 jenis kesenian (1982: i). Oleh karena itu, bisa saja kekayaan dan keanekaragaman kesenian Sunda khas Cirebon dan khas Priangan di masa kini, terjadi penyusutan atau bertambah banyak. Bahkan, tidak menutup kemungkinan ada kesenian di habitatnya sudah punah, tetapi di luar habitatnya atau di daerah lain malah tumbuh dalam kondisi yang baik.

    Dengan demikian, amat penting dan ditunggu dengan segera adanya pihak-pihak yang kompeten untuk menerbitkan hasil pendataan dan sekaligus pemetaan daerah habitatnya atau yang menjadi penyangga kesenian Sunda. Sehingga akan memudahkan dalam membantu siapa saja yang berkepentingan untuk melakukan studi, penelitian, kunjungan wisata, dan lain-lain. (Penulis, staf pengajar STSI Bandung)***
  • good... :top:

    kebudayaan sunda sudah hampir punah.... :cry:
  • weleh-weleh... banyak banget tulisannya, cape bacanya euy...!!
    btw, kiriman artikel yang bagus........... nuhun kang..!
  • Kang nuhun pisan, seuer mangpaatna kanggo abdi :top: :top: :top:
  • kang...dulu pak Ayip Rosidi pernah bilang bahwa pengguna bahasa sunda semakin mengecil, kira-kira efek apa dan cara penanggulangannya ?

    Sebab kalo kita mengaharapkan para inohong mereka kebanyakan tidak berusaha mengakar ke asal budaya mereka, kadang saya iri lihat inohong daerah lain yang sangat memperhatikan budaya asalnya dan berusaha tetap menjaga silaturahmi meskipun sama-sama di tanah rantau
  • top dah :top:
    IJO.......IJO.......IJO..........
  • Paham Kekuasaan Sunda

    Oleh JAKOB SUMARDJO

    KEKUASAAN kurang lebih berarti kemampuan, kesanggupan, kekuatan, kewenangan untuk menentukan. Kekuasaan meliputi wilayah keluarga, kampung, negara, lembaga. Dalam pengertian kebudayaan, wilayah-wilayah kekuasaan tadi menampakkan pola-pola yang sama. Pengaturan kekuasaan dalam keluarga, dalam kampung, dalam kerajaan sama. Itulah pola kekuasaan yang menampakkan dirinya dalam berbagai hasil budaya Sunda. Namun, kebudayaan sebagai cara hidup kelompok itu berubah terus. Apa yang akan diuraikan di sini berdasarkan artefak-artefak budaya yang sudah ada, jadi agak kesejarahan, dalam arti “telah terjadi”.

    Sumber dari pemahaman ini berasal dari cerita pantun, perkampungan Sunda, kampung adat, dan silat Sunda. Paham ini tersembunyi di balik yang tampak (tangible), sehingga memerlukan pemecahan simbol-simbolnya. Masyarakat Sunda sendiri dengan tidak disadari berlaku berdasarkan paham Sundanya, sehingga kurang berjarak untuk melihat realitas dirinya. Salah seorang mahasiswa pascasarjana di Bandung yang berasal dari Jawa Timur, pada suatu hari menyatakan pada saya, bahwa dia senang tinggal di Bandung karena orangnya ramah, baik, lembut hati. Masyarakat Sunda itu berkarakter halus, bukan kasar. Kalau harus “kasar”, tetap “halus”. Tidak keras tapi lembut. Tidak agresif tapi “diam”.

    Pada dasarnya, sikap hidupnya agak ganda dalam arti positif, yakni paradoksal. Menyatu-memisah, menerima-mempertahankan, asli-berubah, mandiri-tergantung, pemilik-pemakai, tiga tapi satu dan satu tapi tiga. Genealogi dari sikap ini adalah budaya purbanya yang huma atau ladang. Hidup berladang itu menetap-pindah, produktif-konsumtif, bebas-tergantung, terbuka tertutup. Paham kekuasaannya juga berkarakter demikian itu.

    Simbol kekuasaan Sunda dengan jelas sekali tergambar pada cerita pantun. Pangeran Pajajaran, misalnya Mundinglaya Dikusumah, ke mana pun pergi selalu diiringi oleh pengawal setianya, Gelap Nyawang dan Kidang Pananjung. Dalam pengembaraan Pangeran Pajajaran, dia digambarkan “diam dan pasif” tetapi sangat dihormati dan dipatuhi keputusannya. Dalam hal ini Mundinglaya lebih banyak diam, sedangkan yang aktif Gelap Nyawang sebagai pemikir dan pengatur strategi perjalanan (eksekutif) dan Kidang Pananjung sebagai penyelesai persoalan. Namanya juga Kidang Pananjung yang selalu ada paling depan.

    Inilah tritangtu Sunda. Pangeran Pajajaran yang memiliki kekuasaan, namun tidak aktif menjalankan kekuasaannya. Ia menyerahkannya kepada Gelap Nyawang untuk bekerja dan Kidang Pananjung yang bertanggung jawab terhadap keselamatan, keamanan, dan kesatuan ketiganya. Ini berbeda dengan cerita wayang Jawa. Arjuna punya tiga pengiring seperti Mundinglaya, namun segala sesuatu dipecahkan sendiri oleh Arjuna. Ketiga pengiringnya hanya bertugas menguatkan dan menghibur majikannya. Arjuna adalah pemilik, pelaksana, dan penjaga dirinya sendiri.

    Pola pengaturan kekuasaan semacam itu ternyata juga ada pada pantun Sunda sendiri. Pantun Sunda dimulai dengan tugas raja Pajajaran kepada putranya agar mengembara menemukan sebuah negara. Di negara yang ditemukannya itu ia menetap dan berkuasa dengan cara mengawini putri setempat. Karena kecantikan putri tersebut, banyak raja di sekitarnya yang juga ingin memilikinya. Terjadi perang antara raja-raja perebut putri dengan abang putri tersebut (yang biasanya dipakai sebagai judul lakon pantun). Para raja dapat dibunuh oleh abang putri yang menjadi istri Pangeran Pajajaran. Atas permintaan putri, para raja dihidupkan kembali dan bersumpah mengabdi kepada Pangeran Pajajaran.

    Tampak bahwa pemegang mandat kekuasaan, Pangeran Pajajaran, justru diam namun berwibawa. Sedang yang aktif menyelesaikan persoalan negara adalah abang putri atau penguasa setempat. Dan bekas-bekas musuh pangeran akhirnya menjadi pelindung dan penjaga kekuasaan pangeran. Kekuasaan Sunda yang sejati itu adanya di Pakuan Pajajaran. Rajanya tidak beranjak dari kratonnya. Yang bergerak ke luar keraton justru putra-putranya (memperluas wilayah kekuasaan). Dan pada gilirannya, para Pangeran Pajajaran itu juga bersikap seperti ayahanda mereka di Pakuan. Pangeran-pangeran itu pasif di pusat negaranya yang baru. Yang aktif menjalankan kekuasaan justru raja setempat yang sudah menjadi keluarga Pajajaran. Sedangkan para pelindung (para anggota kerajaan) adalah raja-raja asing yang non-Sunda.

    Dengan demikian, kekuasaan itu dimiliki-tidak dimiliki karena yang memiliki kekuasaan tidak menjalankan kekuasaan, sedang yang menjalankan kekuasaan tidak memiliki kekuasaan yang dijalankannya. Pihak kekuasaan ketiga adalah mereka yang bertugas menjaga kesatuan dan keamanan serta perlindungan pemilik dan pelaksana kekuasaan.

    Kekuasaan, dalam paham ini, masuk kategori “perempuan” bukan “lelaki”. Perempuan itu yang memiliki, sedangkan lelaki yang menjalankan kepemilikan itu. Perempuan itu adanya di dalam rumah, bukan di luar rumah. Yang bergerak aktif di luar rumah itu lelaki. Kekuasaan sejati, yakni pemilik kekuasaan atau mandat kekuasaan surga adalah Raja Pajajaran dan putra-putranya yang tersebar di seluruh Jawa Barat. Sedang yang menjalankan kekuasaan bukan Raja Pajajaran atau putra-putranya di daerah, tetapi penguasa setempat atas nama Pajajaran. Sedangkan para pelindung kekuasaan boleh orang di luar pemilik dan pelaku kekuasaan.

    Pola tripartit demikian itu rupanya bersumber pada pola pemerintahan kampung-kampung Sunda. Kampung telah ada terlebih dahulu dari pada lembaga negara yang bernama kerajaan. Dalam kampung-kampung Sunda tua, seperti di Kanekes-Baduy atau di Ciptagelar-Sukabumi selatan, kekuasaan kampung terbagi menjadi pemilik kekuasaan (kampung adat yang paling tua), pelaksana kekuasaan, dan penjaga kekuasaan kampung.

    Kampung pemilik adat biasaya ada di bagian “dalam” dekat bukit dan hutan kampung, kampung pelaksana kekuasaan ada di tengah, dan kampung penjaga kekuasaan ada di luar. Dalam kampung adat Kanekes, masing-masing lembaga kekuasaan itu dipegang oleh Cikeusik (dalam, tua, adat), kemudian Cikertawana (eksekutif), dan Cibeo (pelindung batas).

    Dalam kampung adat yang lebih modern, yakni di Ciptagelar, tripartit itu tetap dijalankan dalam bentuk kampung buhun (pemilik dan penjaga adat buhun Sunda), kampung nagara (pemerintahan modern nasional), dan kampung sarak (kampung yang mengurus kepentingan Islam). Dalam pola pikir ini, adat Sunda diletakkan sebagai pihak “dalam”, “pemilik sejati”, dan Islam berada di “luar” yakni batas wilayah kampung. Pemerintahan nasional ada di tengah.

    Ternyata pola tripartit yang sama masih berlaku di banyak perkampungan Sunda di Jawa Barat seperti terjadi di Ciptagelar. Kampung Sunda di Darmaraja dekat Situraja, misalnya, membagi kesatuan tiga kampung dalam Kampung Cipaku yang mengurus kabuyutan kampung (Raja Haji Putih), Kampung Paku Alam mengurus pemerintahan nasional-modern (lurah), dan Kampung Karang Pakuan yang letaknya dekat jalan raya Darmaraja, merupakan kampung Islam di mana masjid kampung berada.

    Di sinilah sikap terbuka-tertutup, tetap-berubah, menjalankan mekanismenya. Ketegangan budaya sering terjadi antara peran adat dan peran Islam. Sementara satu pihak menekankan adat buhun Sunda sebagai pemilik kekuasaan, di pihak lain Islam sebagai pemilik kekuasaan. Peran pelaku kekuasaan tetap lembaga pemerintahan nasional yang disetujui keduanya. Bagi mereka yang menjunjung tinggi kesundaan bersikap bahwa pemilik adalah Sunda (buhun, adat), sedang bagi yang menjunjung tinggi Islam bersikap “Islam itulah Sunda”, gerakan revivalisme Sunda, saya kira, berdasarkan pikiran siapa yang seharusnya dinilai sebagai “dalam” dan siapa yang dinilai sebagai “luar”. Seperti kita baca dalam kasus pantun Sunda, kategori “luar” itu mengandung arti “asing” juga.

    Pola tripartit kekuasaan Sunda ini, dalam perjalanan sejarahnya menunjukkan sikap “tetap” sekaligus “berubah”. Hal ini tampak dari penyebutan ketiga lembaga kekuasaan tersebut. Pada awalnya adalah pemilik kekuasaan, pelaksana kekuasaan, dan penjaga kekuasaan. Lalu di masa kerajaan menjadi sebutan resi, ratu, rama. Resi adalah pemilik kekuasaan yang tak bergerak, ratu adalah pelaksana yang bergerak aktif, dan rama yang merupakan rakyat (kepala kampung) yang menjaga ketertiban kampung masing-masing. Pada zaman perkembangan Islam rupanya menjadi pesantren (dalam), menak (bupati-bupati di Priangan), dan rakyat Sunda di kampung-kampung.

    Terjemahannya dalam masyarakat modern Sunda, rupanya pola tripartit ini masih berlaku, yakni sebagai pemilik kekuasaan adalah rakyat Sunda (demokrasi), pelaksana kekuasaan gubernur-bupati, dan penjaga kekuasaan adalah panglima wilayah. Kategorinya; dalam, tengah, luar. Dalam dan tengah adalah Sunda, sedangkan pihak luar boleh asing (mirip para ponggawa dalam carita pantun).

    Dengan demikian dasar paham kekuasaan Sunda itu lebih maternal dari pada paternal. Lebih mengasuh, rohani, adat, pikiran daripada sekadar memerintah. Sikap ini juga tercermin dalam silat Sunda yang lebih menyimpan kekuatan dari pada menggunakan kekuatan itu. Silat Sunda itu bageakeun baik untuk dirinya maupun “musuhnya”. Diri sendiri selamat dan yang menyerangnya juga selamat. Yang pertama dilakukan adalah gerak menghindar sekaligus disertai gerak menyerang. Bukan untuk mematikan, tetapi untuk membuat lawan tidak berdaya lagi. Inilah sebabnya pawang pembetul tulang banyak terdapat di kampung-kampung Sunda. Jadi, sikap terhadap kekuatan lebih menyimpan, defensif, daripada menggunakannya dan agresif. Ini tidak berarti bahwa para jawara silat Sunda kurang “berani”, justru sudah melampaui keberanian dan hanya menggunakan kekuatan tersebut apabila lawan memang sudah tak mau dibageakeun. Kekuasaan dan kekuatan itu tak boleh digunakan semena-mena, tetapi demi kesejahteraan bersama, baik dalam maupun luar.

    Dalam zaman yang semakin menasional dan mengglobal ini, sikap feminin semacam itu memang dapat mengancam kesundaan. Sikap asli yang purba ini ditantang kearifannya dengan gelombang “kuasa laki-laki” yang agresif. Memang tidak mudah. Namun, pemahaman yang lebih mendalam tentang sikap hidup masyarakat Sunda ini perlu dilakukan, sehingga dapat dikenali “kedalaman sejatinya” yang kokoh namun lentur, tetap namun berubah. Feminin tidak berarti lemah, tetapi halus. Yang halus itu bisa kuat. Suatu kekuatan, kekuasaan, yang kokoh namun halus, arif, tinggi. ***

    Sumber: Pikiran Rakyat, Selasa, 01 Januari 2007.
  • apabisa menulis:
    Simbol kekuasaan Sunda dengan jelas sekali tergambar pada cerita pantun. Pangeran Pajajaran, misalnya Mundinglaya Dikusumah, ke mana pun pergi selalu diiringi oleh pengawal setianya, Gelap Nyawang dan Kidang Pananjung. Dalam pengembaraan Pangeran Pajajaran, dia digambarkan “diam dan pasif” tetapi sangat dihormati dan dipatuhi keputusannya. Dalam hal ini Mundinglaya lebih banyak diam, sedangkan yang aktif Gelap Nyawang sebagai pemikir dan pengatur strategi perjalanan (eksekutif) dan Kidang Pananjung sebagai penyelesai persoalan. Namanya juga Kidang Pananjung yang selalu ada paling depan
    Kang, kumaha caritana Gelap Nyawang, Kidang Pananjung jeung Mundinglaya. Salapan sahun abdi di Bandung, teu acan pernah dengekeun Carita Pantun anu ngacaritakeun Gelap Nyawang jeung babaturannana, sugan teh nami jalan hungkul. Nuhun pisan atuh ari Akang bade caritakeun. :top:
  • Prabu Silihwangi ngagaduhan dua urang garwa nyaéta Nyimas Tejamantri sarta Nyimas Padmawati anu jadi permaisuri. Ti Nyimas Tejamantri, Prabu Silihwangi ngengingkeun saurang putra nyaéta Guru Gantangan. Sedengkeun ti permaisuri Nyimas Padmawati, raja ngenginkeun putra anu diwastaan Mundinglaya. Béda umur antara Guru Gantangan jeung Mundinglaya pohara jauhna. Waktu Guru Gantangan ditunjuk jadi bupati di Kutabarang sarta geus lakirabi, Mundinglaya masih keneh budak leutik.
    
    Alatan henteu miboga anak, Guru Gantangan miara anak kukut anu dibéré ngaran Sunten Jaya. Guru Gantangan ogé hayang ngurus jeung ngagedekeun Mundinglaya minangka anakna. Waktu Guru Gantangan ménta Mundinglaya ti permaisuri Nyimas Padmawati, permaisuri maparin putrana sabab uninga yén Guru Gantangan pohara mikanyaahna ka Mundinglaya.
    
    Mangkat rumaja katangen pisan kategepan Mundinglaya. Katambih ku pasipatanana anu sae budi. Tebih pisan bentenna sareng Suntenjaya anu sipatna awon pisan. Kumargi Nyi Mas Ratna Inten nyaah pisan ka Mundinglaya, Suntenjaya janten sirik pisan ka Munding Laya. Guru Gantangan oge jenten timburu, gaduh sangki anu awon sareng ngaraos disapirakeun ku bojona. Pon kitu Suntenjaya asa kasilihkeun. Nya eta pisan anu ngarobih kanyaahna Guru Gantangan ka Mundinglaya janten kaceuceub anu ahirna Mundinglaya dikerem di pangberokan Kutabarang, ku margi dianggap ngalakukeun lampah nirca, sanaos harita Mundinglaya the masih kacida rumajana.
    
    Di Pajajran, puseur karajaan Sunda, harita teh nuju meujeuhna angkeub, halodo entak-entakan sareng seueur jalmi nu kaserang kasawat. Katambih tumuwuhna pacengkadan di lingkungan kulawarga karaton sabadana Mundinglaya diberok.
    
    Dina hiji waktos Nyi Mas Padmawati ngimpen ningali Layang Salaka Domas nu aya di Jabaning Langit kalayan dijaga ku Guriang Tujuh. Dina impenannana, aya wartos wirehna sing saha anu tiasa ngengingkeun eta layang, baris kenging kahormatan, kabagjaan, katengtreman, karaharjaan sareng kasalametan kanggo nagara miwah rahayatna. Eta impenan dicarioskeun ka Prabu silihwangi. Prabu Silihwangi hemeng galihna henteu percanten bakal aya jalmi anu sanggem angkat ka Jabaning Langit bari nyandak Layang Salaka Domas tina kakawasaan Guriang Tujuh; asa pamohalan pisan.
    
    Antukna Prabu Silihwangi ngayakeun gempungan di pasewakan kangggo nangtoskeun saha anu sanggem ka Jabaning Langit. Pasewakan diluuhan ku rahayat Pajajaran, Nyi Mas Tejamantri, Guru Gantangan sareng putrana, Suntenjaya. Tapi henteu aya saurang oge anu nembongkeun kasayagianana. Ki lengser, ngusulkeun supados Mundinglaya anu aya di pangberokan Kutabarang oge ditaros.
    
    Sanaos usulan ki Lengser henteu disatujuan ku Suntenjaya sareng Guru Gantangan, nu ngariung rempug satuju kana usul ki Lengser. Mundinglaya diusulkeun supados enggal dibebaskeun. Patih Gelap Nyawang sareng Kidang Pananjung nyuhunkeun idin ka Guru Gantangan supados ngaluarkeun Mundinglaya tina pangberokan.
    
    Saparantosna ngalakonan sadaya panalek ti balarea, Mundinglaya kalawan henteu ngawagu langsung bae nampi sagala pancen ti ramana, Prabu Siliwangi. Patih Gelap Nyawang jeung Kidang Pananjung gasik tatahar kanggo miangkeun Mundinglaya ka Jabaning Langit.
    
    Sababaraha dinten Mundinglaya dilatihan perang sareng rupi-rupi elmu gelut sinareng ngagunakeun rupi-rupi pakarang kanggo mayunan sagala hahalang dina lalampahanana. Oge henteu kakantun Mundinglaya diancrubkeun kana Leuwi Sipatahunan supados beresih jiwana.
    
    Dina dinten anu tos ditangtoskeun Mundinglaya angkat, kalawan pangesto ti ibu sareng ramana, diiring ku Gelap Nyawang sareng Kidang Pananjung, oge ti sakumna rahayat Pajajaran.
    
    Kumargi Mundinglaya henteu kantos aangkatan ka luar Pajajaran, anjeunna henteu terang jalan. Sumerah ka nu Maha Kawasa, Mundinglaya angkat ngalangkungan leuweung geledegan kanggo ngajugjug Jabaning Langit. Dina lalampahan ka Jabaning Langit, Mundinglaya ngalangkung ka karajaan bawahan / karajaan alit nyaeta karajaan Muaraberes atanapi nagri Tanjung Barat (nua aya di Pasar Minggu Jaksel kiwari). Di eta nagri, Mundinglaya papendak sareng Dewi Asri. Dewi Asri anu dikenal oge sabage Dewi Kania atanapi Dewi Kinawati teh putrina Mental Buana incuna Munding Kawati. Mundinglaya sareng Dewi Asri kedal pasini jangji bade patepang deui saparantos Mundinglaya rengse mancen tugas ti ingkang rama.
    
    Salajengna Mundinglaya dijajap ku Patih Gelap Nyawang sareng Patih Kidang Pananjung oge teuteup Dewi Asri. Patih Gelap Nyawang jeung Patih Kidang Pananjung gura-giru nyayagikeun parahu kanggo Mundinglaya ngajugjug Atas Angin. Dugi ka Pulo Putri. Patih Kidang Pananjung sareng Patih Gelap Nyawang dipiwarang nungguan Mundinglaya dugi ka rengsena ngemban pancen nyangking Layang Salaka Domas.
    
    Lalakon lalampahan Mundinglaya salajengna sihoreng sanes nyorang jalan ngabulungbung anu caang padang narawangan, malihan jalan anu rembet, rumpil sareng seueur cucuk rungga sareng rangrangna anu ngahalang-halang kana lajuna lalampahan Mundinglaya. Namung sanaos kitu anjeunna henteu unggut kalinduan. Tekadna buleud disarengan ku kasadaran wireh anjeunna baris nyorang sagala hahalang.
    
    Dina lalampahan anjeunna pendak sareng raksesa Jonggrang Kalapitung anu ngahalangan jalanna. Numung eta raksesa tiasa diayonan ku Munding Laya.
    
    Rengse ngayonan Jonggrang Kalapitung, Mundinglaya reureuh heula. Ngumpulkeun deui lelembutanana anu kabengbat ku urusan gelut. Mundinglaya nyangsaya kana tangkal katapang nyawang pilampaheun anu natrat na angen-angenna. Manahna manteng ka Nu Maha Agung sangkan laksana panedana. Sukmana kumalayang ngambah awang-awang.
    
    Kalawan dijajap ku Jonggrang Kalapitung, Mundinglaya naek ka langit kahiji, kadua, katilu, sareng saterasna dipungkas dugi ka langit anu katujuh. Di langit ka tujuh Mundinglaya paamprok sareng Guriang Tujuh anu ngajaga layang salaka domas. Mundinglaya nyarioskeun maksadna wireh anjeunna peryogi layang salaka domas kanggo nagarana anu nuju nyorang katunggaraan, pacengkadan, kasawat sareng hahalodoan. Namung eta layang henteu dipasihkeun ku Guriang Tujuh.
    
    Mundinglaya mesat keris. Namung dumadakan aya gelap ngabaranyay disarengan sora ngajegur matak katorekan. Mundinglaya tipental, ragrag ka langit kagenep ngalempreh teu empes-empes.
    
    Di kahiyangan, para pohaci pating lalengis maridangdam. Utamina pohaci Wirumananggay anu kacida prihatinna ningali Mundinglaya ngalungsar ngababatang. Mundinglaya disangkeh terus disenderkeun dina lahunan, lalaunan embun-embunanana ditiup bari diparancahan.
    
    Saparantos Mundinglaya hirup deui, Nyi Pohaci mamagahan anjeunna supados henteu ngalawan ku cara anu heuras malih kedah ngalawan ku kasabaran, nurutkeun kumaha kahayangna. Mundinglaya naek deui ka langit katujuh. Pendak deui sareng Guriang Tujuh. Guriang Tujuh ngawitan ngaharegaan kana karep Mundinglaya anu gaduh tekad bade ngadamel kasaean. Layang Salaka Domas dipaparin ka Mundinglaya.
    
    Di Kutabarang, Suntenjaya sasat jigrah saangkatna Mundinglaya ka Jabaning Langit. Asa mobok manggih gorowong, aya jalan komo meuntas. Meungpeung Mundinglaya nuju suwung di nagara, Suntenjaya bade maranan Dewi Asri kanggo diolo supados kersaeun dijantenkeun bojona. Sunten Jaya mapeg wadia balad miang ke Muaraberes.
    
    Dina waktos anu harengheng, Mundinglaya dugi ka Pajajaran teras ka Muaraberes. Sunten Jaya kasoran mundur ti Muaraberes. Salajengna Prabu Silihwangi ngangkat Mundinglaya janten raja di Pajajaran kalayan gelar Mundinglaya Dikusumah. Henteu lami ti harita Mundinglaya ngajodo sareng Dewi Asri. Pajajaran janten aman deui sareng subur makmur.
    
    PARA penggemar pertunjukan pantun Sunda tentu tidak akan melupakan hubungan trio antara Pangeran Pajajaran, Gelap Nyawang dan Kidang Pananjung. Nama Gelap Nyawang dan Kidang Pananjung tentu hadir kalau putra Raja Pajajaran sedang mengembara mencari wilayah baru yang akan diperintahnya. Namun setelah pangeran menjadi raja di tempatnya yang baru, peran Gelap Nyawang dan Kidang Pananjung biasanya tak disebutkan lagi.

    Gelap Nyawang dan Kidang pananjung adalah spesialis pengiring sang Pangeran Pajajaran yang tengah mengembara. Dalam wawacan dan babad tentang Pajajaran yang ditulis di Sumedang pada abad 18 dan 19, biasanya Gelap Nyawang dan Kidang Pananjung ditemani seorang pengiring lagi yang terkenal sebagai Purwa Kalih atau Parwa Kali atau Pewakali. Ketiga pengiring serta disebutkan jabatannya masig-masing, yakni Gelap Nyawang sebagai jaksa, Kidang Pananjung sebagai gegedug dan Purwa kalih sebagai patih. Dari jabatan itulah kita baru mengetahui makna dari pengiring-pengiring Pangeran Pajajaran.

    Dalam masyarakat Jawa juga dikenal tiga pengiring kesatria Pandawa yang terkenal, yakni Semar, Gareng dan Petruk. Kadang dilengkapi dengan Bagong. Namun yang terakhir ini rupanya ditambahkan kemudian. Seperti halnya trio pengiring pangeran Pajajaran dalam pantun Sunda, trio pengiring kesatria Pandawa ini juga hidup dalam beberapa generasi. Semar Gareng - Petruk diceritakan sebagai pengiring setia Arjuna. Kemudian juga pengiring setia anak Arjuna, yakni Abimanyu. Bahkan sampai cucu Arjuna, Parikesit, trio pengiring ini tetap hidup "awet tua" seperti sedia kala. Begitu pula di Sunda, Purwakalih - Gelap Nyawang - Kidang Pananjung terus mengiringi Silihwangi, kakek Sulihwangi, dan anak Silihwangi, yakni Guru Gantangan. Mengapa trio pengiring itu tak pernah mati? Mengapa ketiganya awet tua? Itulah misteri pemikiran nenek moyang kita zaman dahulu kala.

    Marilah kita mulai dengan nama Purwa Kalih yang disebut sebagai patih. Jabatan ini jelas di bawah raja, atau dapat dikatakan mewakili raja. Kalau dalam rombongan pengembangan sang pangeran Pajajaran mengalami sesuatu persoalan, maka Purwa kalih inilah yang mewakili sang pangeran. Dalam cerita Guru Gantungan, misalnya, ketika putri Mayang Karna bertanya kepada Guru Gantangan yang menyamar sebagai dalang topeng, siapakah sebenarnya dirinya, maka yang menjawab Purwa Kalih. Guru Gantangan yang menyamar Raden Gambuh tetap membisu. Jadi, pengiring Purwa Kalih memang benar-benar mewakili sang pangeran Pajajaran. Purwa Kalih adalah segi aktif dari sang pangeran.

    Sedangkan Gelap Nyawang disebut sebagai jaksa. Jabatan ini berarti "yang memutuskan". Dan dalam cerita pantun, tugas Gelap Nyawang adalah pengatur atau pengambil keputusan suatu masalah muncul dalam pengembangan. Gelap Nyawang adalah aspek eksekutif dari rombongan. Gelap Nyawang digambarkan sebagai gemuk-pendek dan memiliki mantra sakti bernama dadali putih. Ini mirip dengan peran Semar yang suka memberikan saran dan nasihat kepada Arjuna yang sedang buntu menghadapi suatu masalah. Gambaran bentuk badan keduanya mirip.

    Tuan, raja, gusti

    KIDANG Pananjung disebut sebagai gegedug. Ini jelas istilah Jawa, yang berarti panglima perang. Dan tugas Kidang Pananjung memang merintis jalan pengembaraan. Ia pelindung rombongan dan pelindas musuh-musuh yang menghadang. Tentunya dia ini ahli silat ulung.

    Dari gambaran pantun di atas tampak makna tersembunyi dari trio Purwa Kalih - Gelap Nyawang - Kidang Pananjung dengan Pangeran Pajajaran. Barangkali masih dapat disamakan dengan pasangan Arjuna dengan Semar - Gareng - Petruk. Gambaran ini menunjukkan adanya pasangan abadi antara Hamba dan Tuan, Kawula dan Gusti, Raja dan Rakyat. Tuan - Raja - Gusti adalah jabatan pemimpin teratas dalam masyarakat. Tubuhnya selalu bagus, wajahnya selalu tampan, begitu digambarkan dalam mitos. Sedangkan Hamba - Kawula - Rakyat digambarkan sebaliknya, yakni tubuhnya penuh cacat, tidak semitris, tidak proporsional, dan selalu di tingkat terbawah masyarakat.

    Pangeran Pajajaran selalu pasif karena dilindungi sepenuhnya oleh trio pengiring (atau dua pengiring) yang selalu menyertainya ke mana pun sang pangeran itu pergi. Inilah pasangan dualistik yang bersifat saling melengkapi meskipun masing-masing pihak amat bertentangan substasnsinya. Pasangan antagonistik ini adalah pasangan ideal kehidupan ini. Itulah etikanya. Majikan tak ada artinya tanpa Hamba. Hamba tak ada artinya tanpa Majikan. Gusti tak ada makna tanpa Kawula. Kawula tak ada makna tanpa Gusti.

    Dalam Cariosan Prabu Silihwangi terdapat simbol yang demikian itu. Ketika itu Prabu Silihwangi masih berusia 9 tahun dan bernama Pamanahrasa. Kakaknya lain ibu, yakni Parbamenak berusia 15 tahun, amat iri kepada adik tirinya ini, karena Pamanahrasa yang akan menggantikan ayah mereka kelak. Setelah Parbamenak menipu Pamanahrasa dalam ujian pandadaran sebagai putra mahkota, maka Pamanahrasa dilumuri getah dan jelaga lalu dijual kepada Nakoda Palembang. Peristiwa ini dapat terjadi karena trio pengiring dan pengaruh sang pangeran sedang tak ada di tempat, karena Prabu Anggalarang di Pajajaran memerintahkan trio pengiring itu mencari obat untuk ibunda Pamanahrasa yang sedang sakit dan hamil.

    Di sini diagambarkan bagaimana tidak berdayanya Pangeran Pajajaran Pamanahrasa kalau tidak didampingi oleh trio pengasuhnya yang tua-tua dan amat berpengalaman itu. Akibatnya Pamanahrasa mengalami musibah dijual sebagai budak belian. Nasib jelek Pamanahrasa yang kelak akan menjadi raja terbesar Pajajaran, Silihwangi, terus menyertainya. Pamanahrasa diambil sebagai pelayan oleh Dewi Ambetkasih di Sindangkasih. Tetapi dengan munculnya Pamanahrasa sebagai pelayan budak hitam itu, ajaib, tanam-tanaman dalam taman sang putri selalu rusak tanpa sebab.

    Sebaliknya terjadi dengan trio Purwa Kalih - Gelap Nyawang - Kidang Pananjung yan terus bersumpah mencari majikan kecilnya itu sampai ditemukan. Mereka mengembara dan tiba di sebuah kampung. Setelah enam bulan berada di kampung tersebut, ajaib, semua tumbuhan yang ditanam para petani kampung tumbuh dengan amat subur.

    Di sini jelas digambarkan makna dwitunggal pasangan tersebut. Pamanahrasa tanpa trio orang-orang tua itu tak berdaya apa-apa. Sedangkan trio orang tua tanpa Pamanahrasa masih tetap berjaya dalam menyuburkan segala tanaman, Pamanahrasa bernilai kematian, Purwa Kalih - Gelap Nyawang - Kidang Pananjung bernilai kehidupan. Itulah sebabnya Pamanahrasa baru terkuak jati dirinya sebagai Pangeran Pajajaran ketika dua pasangan tersebut bertemu kembali di negara Sindangkasih (Telaga?). Dwitunggal menyatu kembali Kosmos terbangun seperti sedia kala.

    Gusti tanpa kawula

    APAKAH artinya Gusti tanpa Kawula? Tidak ada Gusti tanpa Kawula. Tidak ada Raja tanpa Rakyat. Tidak ada pemimpin kalau tidak ada yang di pimpin alias Rakyat. Pamanahrasa (Silihwangi) pun tak berdaya tanpa kehadiran Purwa Kalih - Gelap Nyawang - Kidang Pananjung. Gusti Pamanahrasa yang belia ini malah mendatangkan malapetaka majikannya Dewi Ambetkasih di Sindangkasih. Raja yang menjadi hamba adalah malapetaka. Gusti menjadi Kawula merusak tanaman di taman negara.

    Sebaliknya Kawula tanpa Gusti masih berjaya. Kehadiran trio pengiring pangeran dimana pun membuat segala tanaman menjadi subur. Rakyat masih dapat hiidup tanpa Raja. Kawula tetap hidup tanpa Gusti. Tetapi Gusti tak berdaya tanpa Kawula. Inilah kearifan lama masyarakat Sunda lama, khususnya di daerah Sumedanglarang.

    Mengapa Kawula tetap hidup berjaya tanpa Gusti? Karena Kawula, Hamba, Rakyat itu adalah Dewa yang menyamar. Yang namanya Semar - gareng - Petruk dan Purwa Kalih - Gelap Nyawang - Kidang Pananjung itu "awet tua" tidak mati-mati. Mereka selalu hadir mengiringi para pangeran. Trio pengiring itu adalah keabadian itu sendiri. Setiap ada Pangeran, trio pengiring selalu hadir. Pangerang Mundinglaya, Guru Gantangan, Silihwangi, selalu memanggil para pengirignya sebagai ua. Yang dituakan.

    Asal usul Semar kita ketahui. Tetapi asal usul Purwa Kalih cs belum kita temukan. Purwa Kalih ini secara keliru sering disamakan dengan Lampung Jambul atau Nulawas. Kalau dibetulkan, Purwa Kalih juga disebut Nulawas, yakni Yang Lama, Yang Tua, yang sudah ada sebelum kita. Ia sudah ada sebelum yang namanya negara dan raja itu ada. Semar adalah Sang Hyang Ismaya, kakak dari dewanya para dewa, Batara Guru. Ismaya itu hitam legam, tanda keabadian. Ia lebih tua dari Batara Guru.

    Para Wulucumbu Sunda dan Jawa itu sama-sama digambarkan buruk rupa, cacat; sedangkan majikannya selalu tampan dan lelaki sempurna. Namun yang cacat dan buruk rupa itu berasal dari Dunia Atas. Yang tertinggi menjadi yang terendah di dunia ini. Semar itu kalau bicara kepada majikan dunianya selalu memakai bahasa halus, tetapi kalau berbicara kepada para dewa justru menggunakan bahasa rakyat. Semar itu mengabdi kepada raja dunia, tetapi berani memarahi para dewa. Kalau marah pada para dewa kentutnya tak pernah berhenti.

    Itulah nilai penguasa yang sejatinya. Gusti itu hamba kawulanya. Raja itu hamba rakyat. Dengan metode ini maka terjadilah dwitunggal kesempurnaan. Gusti manunggal dengan kawulanya. Itulah kearifan lama. Seperti Semar Mahadewa yang melayani manusia. Seperti maharaja yang melayani rakyatnya.

    Pemimpin itu tak berdaya tanpa rakyat. Pemimpin yang kuat adalah yang menghamba kepada rakyat. Rakyat tanpa pemimpin tetap hidup, tetapi pemimpin tanpa rakyat tak bermakna. Itulah kearifan tua yang dapat dipetik dari Cariosan Prabu Silihwangi.***
  • Nuhun pisan Kang, :top: :top: :top: :top: :top:
  • Ngarumat Benda Pusaka di Arjasari


    MASYARAKAT Desa Lebakwangi dan Desa Batukarut Kec. Arjasari Kab. Bandung memiliki tradisi khusus setiap bulan Maulud. Peringatan Maulud atau hari lahir Rasullah Muhammad SAW diperingati dengan khas di daerah ini. Masyarakat di dua desa yang disebut seuweu siwi (keturunan) Lebakwangi tumpah ruah di Bumi Alit Kabuyutan, tempat kegiatan ngarumat.

    "Seuweu siwi Lebakwangi yang ada di kota atau daerah lainnya, selalu menyempatkan diri hadir. Mereka pulang dulu di bulan Maulud untuk kegiatan ini," kata Oman Rohman, Pupuhu Sasaka Waruga Pusaka atau pimpinan pengelola Bumi Alit tersebut.

    Berbagai kegiatan digelar dalam rangka peringatan hari lahir Rasulullah SAW di dua desa ini, mulai dari pengajian, pergelaran kesenian Goong Renteng, sampai "ngarumat barang pusaka" (atau membersihkan benda pusaka).

    Kegiatan muludan "ngarumat barang pusaka" ini dilaksanakan di Bumi Alit Situs Kabuyutan yang terletak di Jalan Raya Arjasari Kab. Bandung. Bumi Alit ini merupakan rumah adat Sunda tempat menyimpan benda-benda pusaka.

    Selain senjata, benda pusaka lain yang dibersihkan pada acara ini adalah goong renteng, yang ditabuh bersama gamelan lain. "Hanya saja goong rentang dan gamelan lainnya tidak disimpan di Bumi Alit, tapi disimpan di rumah kuncen Bumi Alit, Pak Endin," kata Kepala Desa Lebakwangi, Ade Tiana.

    Prosesi ritual dimulai dengan ngarumat barang pusaka pada pagi hari, pukul 07.00 WIB. Ada enam pusaka yang dibersihkan, yakni sumbal, gobang, keris, pedang, wangkingan, sekin, dan kujang. Selain enam pusaka yang merupakan senjata khas orang Sunda, gamelan goong renteng pun ikut dibersihkan.

    Yang menarik, yang dinanti-nanti masyarakat Lebakwangi dan Batukarut saat doa maulud dilaksanakan. Masyarakat yang membawa tumpeng pada acara itu, menunggu kalimat "kobulan hasanah" dari ustaz yang membacakan doa. Saat kalimat itu diucapkan, masyarakat mengulangnya sambil mengambil congcot atau ujung lancip tumpeng yang dibawanya. Congcot tumpeng itu disebut cangkaruk mulud, yang diyakini membawa khasiat tersendiri. Konon, cangkaruk mulud itu digunakan masyarakat Lebakwangi dan Batukarut ketika datang hujan dan angin besar yang mungkin mengancam jiwa manusia.

    Setelah acara ngarumat berlangsung, diselenggarakan pergelaran goong renteng. Menariknya, goong renteng ini memiliki laras tersendiri, beda dari laras gamelan Sunda pada umumnya. "Itu sudah dari dulunya. Kami juga tidak tahu jenis apa laras gamelan itu," kata Kepala Desa Batukarut, Uu Hidayat.

    Yang jelas, sebelum gamelan itu ditabuh, gamelan itu dicocokkan dulu nadanya dengan dimasuki tanah bagian bawahnya. "Lebih unik lagi, nada yang muncul bermacam-macam, seperti gamelan Sunda, Jawa, dan Bali," kata Lilis, staf Cabang Dinas Pendidikan Kec. Arjasari.
  • Mengenal Suhunan Rumah Adat Sunda

    RUMAH sudah menjadi kebutuhan yang penting bagi manusia. Selain tempat berteduh, rumah pun dijadikan tempat bersosialisasi seluruh anggota keluarga. Selain menjadi bagian terpenting bagi kehidupan, bentuk dan gaya pun sengaja dibuat untuk menambah keindahan. Bahkan dijadikan identitas suatu suku atau komunitas di suatu tempat.

    Indonesia yang terdiri atas berbagai suku, tentunya mempunyai bentuk dan nama rumah adat sendiri. Masing-masing rumah adat mempunyai fungsi dan manfaat yang hampir sama, yaitu sebagai tempat tinggal, namun ada pula yang dijadikan tempat keramat.

    Bahan bangunan yang digunakan untuk membuat rumah adat, baik di Jawa Barat maupun di daerah lainnya, umumnya terdiri atas bahan alami, seperti kayu, bambu, ijuk, daun kepala, sirap, batu maupun tanah. Selain itu, bangunan rumah adat pun biasanya jarang langsung menempel ke tanah (berlantai tanah), kecuali rumah adat di daerah Jawa Tengah, Yogyakarta, maupun Papua. Sedangkan di daerah lainnya di Indonesia, termasuk rumah adat di Jawa Barat, biasanya dibangun berbentuk panggung. Hal ini untuk sirkulasi angin, juga menghindari binatang (binatang buas maupun melata).

    Khusus di tanah Parahyangan, rumah adat biasanya dibangun di atas tanah sekitar 40-60 cm dengan menggunakan batu. Biasanya dilengkapi golodog berupa tangga dan teras depan. Sedangkan bentuk atap atau suhunan sangat bergantung letak geografis di mana rumah itu dibangun.

    Bentuk suhunan rumah Sunda sangat disesuaikan dengan keadaan alam serta kebutuhan masyarakat urang Sunda. Di tanah Parahyangan banyak bentuk gaya rumah, yang umumnya diperlihatkan dari bentuk atapnya (suhunan atau hateup). Ada beberapa susuhunan yang dikenal masyarakat Sunda, seperti suhunan jolopong atau regol, suhunan tago/jogog anjing, suhunan badak heuay, suhunan perahu kumureb/nangkub, suhunan capit gunting, suhunan julang ngapak, suhunan buka palayu, dan buka pongpok.

    Suhunan jolopong (pelana), merupakan bentuk rumah yang atapnya memanjang. Atap rumah jolopong ini biasa juga disebut suhunan panjang, gagajahan, dan regol. Sedangkan atap rumah jogog atau tagog anjing, bentuknya seperti anjing yang sedang duduk. Bagian depan mirip mulut anjing, menjulur menutupi teras rumah (ngiuhan emper imah).

    Atap rumah bentuk badak heuay, biasanya bentuk atapnya mirip bentuk atap rumah tagog anjing, tapi di bagian atas suhunan-nya ada tambahan atau atap belakang dan depan yang menyerupai badak menguap.

    Atap rumah parahu kumureb/nangkub, yakni potongan bentuk atap yang mirip perahu terbalik (lihat gunung tangkubanperahu). Di daerah Tomo, Kab. Sumedang, bentuk rumah seperti ini disebut juga jubleg nangkub. Sedangkan atap rumah bentuk capit gunting, yakni atap rumah yang setiap ujungnya dihiasi kayu mirip gunting yang siap nyapit. Bentuk ini sering juga disebut srigunting. Sementara atap julang ngapak, dilihat dari depan, suhunan kiri kanannya mirip sayap burung yang terentang. Sedangkan julang-suhunanna sebanyak empat penjuru menyambung dari sisi turun ke bawah. Sambungan bagian tengah menggunakan tambahan mirip gunting muka di bagian puncaknya. Julang ngapak bentuknya mirip burung yang sedang terbang.

    Atap rumah bentuk buka palayu, yakni atap rumah yang suhunan-nya mirip suhunan rumah adat Betawi dan di bagian depannya ada teras yang panjang. Sedangkan buka pongpok, bentuknya mirip buka palayu, namun bagian pintunya diubah dan diarahkan langsung ke bagian jalan.

    Sangat jarang

    Namun sayang bentuk dan gaya rumah adat Sunda ini sudah sangat jarang ditemui, khususnya di daerah perkotaan yang sudah ganti dengan nama dan gaya dari Barat. Tentunya hal ini bukan tanpa alasan. Kemajuan zaman dan adanya serangan budaya dari bangsa lain, membuat banyak bentuk rumah orang Sunda lebih bergaya modern.

    Padahal masyarakat Sunda baheula, membuat gaya dan nama suhunan ini bukan sembarang. Selain itu fungsi dan namanya pun mempunyai arti masing-masing. Secara umum, nama suhunan rumah adat orang Sunda ditujukan untuk menghormati alam sakurilingna. Hampir di setiap bangunan rumah adat Sunda sangat jarang ditemukan paku besi maupun alat bangunan modern lainnya. Untuk penguat antartiang digunakan paseuk (dari bambu) atau tali dari ijuk ataupun sabut kelapa. Sedangkan bagian atap sebagai penutup rumah menggunakan ijuk, daun kepala atau duan rumia. Sangat jarang menggunakan genting.

    Beruntung keberadaan kampung adat maupun kampung budaya di Jawa Barat sangat menolong eksistensi bentuk dan gaya suhunan rumah adat Sunda. Bukan hanya nama-nama suhunan rumah yang dipertahankan, tetapi bentuknya pun dipertahankan dan dikembangkan sesuai bentuk aslinya.

    Dalam komunitas masyarakat adat urang Sunda, banyak bangunan yang pemakaiannya umum, seperti gedung, yakni rumah yang besar dan kuat. Biasanya menggunakan bahan bangunan yang ditembok.

    Joglo, yakni sebuah rumah kecil dan sederhana (terbuat dari tembok dan kayu). Bale kambang, yakni rumah-rumahan dangau, dibangun di atas kolam. Poporogok, yakni rumah berbentuk dangau kecil tapi lumayan. Pakuwon, yakni pekarangan rumah milik sendiri. Ranggon, yakni dangau yang sangat tinggi kolongnya dan dibangun di atas pohon yang tinggi. Regol, yakni bangunan yang mempunyai daun pintu lebar dan saung, yakni dangau kecil yang dibangun di tengah sawah atau ladang tanpa menggunakan dinding, fungsinya untuk istirahat petani.

    Babancong, yakni sebuah bangunan kecil di sisi alun-alun (dulu), berbentuk panggung untuk para pejabat. Balandongan, yakni bangunan rumah sementara untuk menerima tamu ketika ada hajatan maupun hiburan. Bale desa, yakni kantor pamong desa. Bale kota, yakni kantor wali kota atau bupati. Bale watangan, yakni gedung pengadilan. Gedong songko, yakni rumah bupati baheula. Kadaton atau keraton, pendopo, yakni teras luas di bagian depan gedung kewedanaan atau balai kota. Kaputren atau kaputran, yakni rumah dan bangunan untuk putri raja. Benteng, yakni bangunan kuat yang dijadikan benteng pertahanan. Jongko, yakni warung untuk berjualan dan lain-lain. Semua jenis bangunan dan nama bangunan tersebut, saat ini sudah tidak digunakan lagi karena tergerus oleh zaman.
  • Mengenal Kampung Sindangbarang

    BEBERAPA abad lampau, lokasi Kampung Sindangbarang berada di sebelah barat Pakuan Padjadjaran. Pasca hancurnya kerajaan tersebut yang digempur Banten, Demak dan Cirebon, rakyat Pakuan Padjadjaran mengungsi ke wilayah Sukabumi Selatan. Setelah dirasa aman, kemudian mereka kembali mengungsi ke kampung halamannya, namun tidak langsung menempati bekas Pakuan Padjadjaran.

    "Mereka lebih memilih mendirikan perkampungan di sekeliling kuta (benteng) Pakuan Padjadjaran. Kampung tersebut di antaranya adalah Lembur Taman dipimpin oleh Ki Murwa Alih, Lembur Kuta Batu dipimpin oleh Ki Susul Tunggak, Lembur Cibeureum dipimpin oleh Ki Ranggah Ganding, dan Lembur Pakancilan dipimpin oleh Ki Mangparang. Kampung-kampung tersebut sampai saat ini masih ada dan terjaga. Nama kokolot di atas bukan nama asli sewaktu jadi pembesar di Pakuan Padjadjaran," ujar Inotji Hayatullah, dari Yayasan Hanjuang Bodas, Bogor, dalam percakapannya dengan "PR" di Kampung BuMenenghadaya Sindangbarang, Desa Pasir Eurih, Kecamatan Taman Sari, Kabupaten Bogor. Nama-nama kampung tersebut, kata Inotji, terekam pula dalam Pantun Bogor.

    Terkait dengan itu, didirikannya KBS merupakan revitalisasi dari Kampung Adat Sindangbarang, yang pada 1699 luluh-lantak dihajar lahar saat Gunung Salak meletus. Dengan didirikannya kembali kampung tersebut di atas lahan seluas 8.600 m2, maka kampung tersebut tidak disebut kampung adat, akan tetapi kampung budaya, yang fungsinya sangat lain dengan kampung adat. Diberi nama kampung budaya, karena di kampung ini kelak akan dijadikan tempat studi kebudayaan Sunda, di samping dijadikan objek wisata baru di Kabupaten Bogor.

    "Total pembangunan 25 rumah adat Sunda termasuk leuit, menghabiskan dana senilai Rp 1,1 miliar. Pembangunan tahap pertama ini baru pembangunan kampung inti, sedangkan kampung luarnya belum dibangun. Jadi masih perlu beberapa tahap lagi untuk merevitalisasi keberadaan kampung adat di Sindangbarang ," ujar pupuhu Kampung Budaya Sindangbarang, A. Mikami Sumawijaya yang akrab dipanggil Mang Maki Sumawijaya dalam percakapannya dengan "PR" di Imah Gede, di kampung tersebut.

    Pembangunan Kampung Budaya Sindangbarangt, kata Mang Maki, tidak lain untuk memperkenalkan kembali apa dan bagaimana budaya Sunda yang tumbuh dan berkembang di Sindangbarang dan sekitarnya. Rancangan bangunan tersebut dibikin oleh budayawan Sunda Anis Djati Sunda, berdasar pada Pantun Bogor. Peran Anis Djati Sunda tidak hanya itu. Ia berperan pula dalam pengajuan dana bantuan ke Pemprov Jabar.


    **

    KAMPUNG Sindangbarang itu sendiri saat ini telah menjadi pusat perhatian para arkeolog, karena di lokasi tersebut saat ini ditemukan tidak kurang 53 situs yang selama ini masih misterius; apakah didirikan sejak zaman Pakuan Padjadjaran ataukah sebelum kerajaan tersebut berdiri.

    "Penemuan situs tersebut kini bertambah 10 situs. Jadi jumlahnya saat ini ada 63 situs yang tengah diteliti oleh Agus Aris Munandar dan kawan-kawan dari Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI)," ujar Mang Maki.

    Dalam hasil penelitian sementara yang dikerjakan selama satu tahun, pakar arkeologi dari FIB UI, Agus Aris Munandar mengatakan, banyak situs yang ditemukan di Kampung Sindangbarang, membuktikan tempat tersebut merupakan pusat dari kegiatan keagamaan masyarakat Sunda pada abad 13-15 Masehi. Situs-situs yang ditemukan antara lain Punden Berundak Rucita, Punden Berundak Pasir Eurih, Batu Patilasam Eyang Surya Kancana, Punden Berundak Batu Kerut, dan situs-situs lainnya.

    "Didirikannya Kampung Budaya Sindangbarang antara lain untuk menjaga situs-situs tersebut agar tidak rusak. Luas Kampung Sindangbarang dan sekitarnya itu sekitar 282 hektare," ujar Agus.

    Dia yakin, jika ditelusuri lebih lanjut pasti akan ditemukan situs-situs lainnya. Karenanya, ke depan di Kampung Budaya Sindangbarang akan pula dibangun museum yang isinya kelak bisa menjelaskan apa dan bagaimana kegiatan masyarakat kampung tersebut di masa lampau, yang erat kaitannya dengan adanya situs-situs tersebut
Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Iklan & Promosi Anda


Order ads here. Click me to get price quotation! Monthly & Unlimited click!

Halo, Komandan!

Sepertinya anda baru di sini. Ingin ber-interaksi? Klik satu tombol ini!

Kategori