Contact Us

Cerita Dewasa Janda Muda Membutuhkan Nafkah Batin

h2oyxz9xml3l.jpg

Janda Muda Membutuhkan Nafkah Batin. Aku bekerja di sebuah perusahaan cukup terkenal di Surabaya kota yg ramai, dan saya tinggal (kost) di daerah perkampungan yg dekat dengan kantor cewek-cewek yg sering lewat di depan kost. Di sebelah kostku ada sebuah warung kecil tapi lengkap, lengkap dalam artian untuk kebutuhan sehari-hari, dari mulai sabun, sandal, gula, lombok, roti, permen, dan sebagainya itu ada semua.

Aku sudah berlangganan dengan warung sebelah. Aku bila tdk membawa uang atau saat belanja uangnya kurang aku sudah tdk sungkan-sungkan untuk hutang.

Warung itu milik Ibu Lis (tapi aku memanggilnya Tante Lis), seorang janda cerai beranak satu yg tahun ini baru masuk TK nol kecil. Warung Tante Lis buka pagi-pagi sekitar jam lima, terus tutupnya juga sekitar jam 9 malam. Warung itu ditungguin oleh Tante Lis sendiri dan keponakannya yg SMA, Bima namanya.

Seperti biasanya, sepulang kantor aku mandi, pakai sarung terus sudah stand by di depan TV, sambil ngobrol bersama teman-teman kost. Aku bawa segelas kopi hangat, plus singkong goreng, tapi rasanya ada yg kurang.., aku lihat jam dinding sudah menunjukkan jam 9 kurang 10 menit (malam), Aku keluar Rumah menuju warung Tante Lis ,aku jadi ragu, apa warung Tante Lis masih buka yah.., aku ingin membeli rokok. Oh, ternyata warung Tante Lis belum tutup, tapi kok sepi.., “Mana yg jualan”, batinku.

“Tante.., Tante.., Dik Bima.., Dik Bima”, lho kok kosong, warung ditinggal sepi seperti ini,
Ah kucoba panggil sekali lagi,
“Permisi.., Tante Lis?”.
“Oh ya.., tungguu”, Ada suara dari dalam. Wah jadi deh beli rokok akhirnya.
Yg keluar ternyata Tante Lis, Tubuhnya hanya menggunakan handuk yg dililitkan di dada, jalan tergesa-gesa sambil mengucek-ngucek rambutnya yg kelihatannya baru selesai mandi juga habis keramas.
“Oh.., maaf Tante, Saya mau mengganggu nich.., Saya mo beli rokok gudang garam inter, lho Dik Bima mana?
“O.., Bima sedang dibawa ama kakeknya.., katanya kangen ama cucu.., maaf ya Mas Dani Tante pake’ pakaian kayak gini.. baru habis mandi sich”.
“Tdk apa-apa kok Tante, sekilas mataku melihat bagian tubuh yg lain Tante Lis yg tdk terbungkus handuk.., kulitnya putih mulus, seperti masih gadis-gadis, baru kali ini aku lihat sebagian besar tubuh Tante Lis, soalnya biasanya Tante Lis selalu pakai baju kebaya. Dan lagi dengan hanya handuk yg dililitkan di atas dadanya berarti Tante Lis tdk memakai BH. Pikiran kotorku mulai kumat.

“Malam gini kok belum tutup Warungnya Tante..?”
“Iya Mas Dani, sekarang ini mau saya tutup, tapi permisi dulu ya, saya mau ganti’ pakaian dulu?
“Oh biar Saya bantu ya Tante, sementara Tante berpakaian”, kataku. Masuklah aku ke dalam warung, lalu menutup warung dengan rangkaian papan-papan.
“Wah ngerepoti Mas Dani “ kata Tante Lis.., “sini biar Tante ikut bantu juga”. Warung sudah tertutup, Dan aku pulang lewat pintu.belakang warung
“Trimakasih lho Mas Dani..?”.
“Sama-sama..”kataku.
“Tante saya lewat belakang saja”.
Saat aku dan Tante Lis berpapasan di antara rak-rak dagangan, badanku menubruk tante, tanpa diduga handuk penutup di dadanya terlepas, dan Tante Lis terlihat hanya mengenakan celana dalam merah muda saja. Tante Lis menjerit sambil secara reflek memelukku.
“Mas Dani.., tolong ambil handuk yg jatuh terus lilitkan di badan Tante”, kata tante dengan muka merah padam.

Aku jongkok mengambil handuk tante yg jatuh, saat tanganku mengambil handuk, di depanku persis ada pemandangan yg sangat indah, celana dalam merah muda, dengan background hitam rambut-rambut halus di sekitar memeknya yg tercium harum. Kemudian aku cepat-cepat berdiri sambil membalut tubuh tante dengan handuk yg jatuh tadi. Tapi ketika aku mau melilitkan handuk tanpa kusadari burungku yg sudah bangun sejak tadi menyentuh tante.

“Mas Dani.., burungnya bangun ya..?”.
“Iya Tante.., ah jadi malu Saya.., habis Saya lihat Tante seperti ini bau parfumnya harum lagi, jadi nafsu dan terangsang Tante..”.
“Ah tdk apa-apa kok Mas Dani itu wajar.,berarti mas Dani laki-laki normal.”.
“Eh ngomong-ngomong Mas Dani kapan mo nikah..?”.
“Ah belum terpikir Tante..”.
“Yah.., kalau mo’ nikah harus siap lahir batin lho.., jangan kaya’ mantan suami Tante.., tdk bertanggung jawab kepada keluarga.., nah akibatnya sekarang Tante harus bersetatus janda. Begini tdk enaknya jadi janda, malu.., tapi ada yg lebih menyiksa Mas Dani.. kebutuhan batin..”.
“Oh ya Tante.., terus gimana caranya Tante memenuhi kebutuhan itu..”, tanyaku usil.
“Yah.., Tante tahan-tahan saja..”.

Kasihan.., batinku.., andaikan.., andaikan.., aku diijinkan olehnya ,biar memenuhi kebutuhan batin Tante Lis.., ough.., pikiranku tambah usil.
Waktu itu bentuk sarungku sudah berubah, agak kembung, rupanya tante juga memperhatikan.

“Mas Dani burungnya masih bangun ya..?”.
Aku cuma megangguk saja, di luar dugaanku, tiba-tiba tangan Tante Lis meraba burungku.
“Wow besar juga burungmu, Mas Dani.., burungnya sudah pernah ketemu sarangnya belom..?”.

KLIK DISINI SELENGKAPNYA ;)
Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Iklan & Promosi Anda


Order ads here. Click me to get price quotation! Monthly & Unlimited click!

Halo, Komandan!

Sepertinya anda baru di sini. Ingin ber-interaksi? Klik satu tombol ini!

Kategori