Contact Us

Kebiasaan Masyarakat Cianjur di Sore Hari

Cianjur adalah sebuah kabupaten yang berada di anatar Bandung, Sukabumi, dan Puncak. Banyak sekali keunikan yang tidak dapat kita temukan kecuali di Cianjur. Budaya Sunda yang masih kental dengan ciri khas cengkok saat percakapan dilakukan sudah jarang kita jumpai di daerah lain yang sama-sama menggunakan bahasa Sunda, seperti Bogor contohnya.
Saya berkesempatan untuk mengunjungi dan mengeksplorasi seluruh daerah Cianjur. Mulai dari Cianjur Selatan hingga daerah Cipanas yang merupakan daerah Cianjur dengan nuansa yang unik.
Berikut ini beberapa kebiasaan masyarakat Cianjur yang saya saksikan ketika disana. Saya membandinhkan kebiasaan masyarak Cianjur di daerah desa denga daerah kota yang mempunyai keunikan tersendiri.

1. Ngurek (memancing belut)
Daerah Cianjur kita kenal sebagai salah satu sentra tanaman padi. Salah satu jenis padi yang merupakan ciri khas dari Cianjur adalah beras pandan wangi yang mempunyai tekstur dan aroma padi berkualitas yang sangat khas.
Di hamparan luasnya sawah Cianjur, banyak ditemukan orang-orang yang mencari belut setiap sore hari. Hal ini biasa disebut ngurek dalam bahasa Sunda. Berbekal tali nilon yang sudah dililit dan diberi kail, masyarakat Cianjur biasa berburu belut pada sore setelah ashar hingga menjelang magrib.
Menurut warga sekitar, saat ini belut yang mereka dapatkan jumlahnya berbeda jauh dengan waktu tahun 90-an hingga 2000. Saat itu, warga dapat mendapatkan hingga puluhan belut sehari. Sedangkan saat ini, 5 belut saja sudah susah di dapatkan.
Menurut mereka, alasan utamanya adalah penggunaan pupuk kimia yang membuat berkurangnya jumlah belut. Selain itu, masa panen yang lebih pendek membuat umur belut untuk bertahan di sawah juga berkurang. Karena jika sudah dipanen, biasanya rumah belut akan tercungkil ketika sawah mulai di traktor untuk penanaman padi selanjutnya.

2. Mosong
Mosong adalah aktivitas dengan tujuan yang sama dengan ngurek, yaitu untuk mencari belut. Bedanya, ngurek dilakukan pada sore hari dengan ara memancing belut menggunakan umpan, lalu umpan digerakkan memutar menggunakan nilon supaya terlihat bergerak.
Hal ini akan membuat belut tertarik dan memakan umpan tersebut yang sebenarnya sudah diberi kail. Bedanya dengan ngurek, mosong biasanya dilaksanakan dengan bantuan alat berbentuk jebakan.
Waktu penjebakan biasanya dilakukan pada siang hari ketika belut belum terbangun, jebakan diisi oleh cacing, anak katak, atau ikan kecil. Selanjutnya posong (alat jebakan) ditaruh di dekat lubang belut dan ditutupi oleh jerami (rumput kering) supaya jebakan tidak terlihat oleh target.
Setelah ditaruh pada siang hari, posong biasanya diambil pada waktu pagi (setelah shubuh). Diperlukan ingatan yang tajam untuk mengetahui di mana posisi menaruh jebakan. Luasnya sawah dan kemampuan kuatnya ingatan akan memaksimalkan hasil yang di dapat.
Karena jika yang menyimpan jebakan lupa, maka terkadang banyak jebakan yang tidak ditemukan sehingga justru mengalami kerugian. Akan tetapi, serta orang Cianjur yang melakukan aktifitas mosong ini mempunyai daya ingat yang luar biasa. Pak Ahmad, salah satu masyarakat Cianjur di Kecamatan Cibeber yang saya temui bahkan mengetahui dengan pasti di sawah siapa ia menyimpan jebakan belutnya.
Dalam sebuah sebuah jebakan, terkadang terdapat lebih dari satu belut yang masuk. Bahkan sering kali masyarakat mendapatkan korban tak terduga seperti ular. Oleh karena itu, diperlukan kehati-hatian ketika mengeluarkan hewan yang terjebak. Karena mungkin saja ada ular yang masih hidup terjebak di dalam posong.
Dalam sehari, pak Ahmad mengklaim dapat membawa pulang setengah hingga 1,5 kg belut dengan bermodalkan ratusan posong yang ia bawa.

3. Balapan Motor di Jalan Baru Cianjur
Beda di daerah pedesaannya, beda pula di daerah perkotaannya. Jika di daerah pedesaan tadi saya melihat banyak aktifitas yang sangat kental dengan budaya dan kesederhanaan, di daerah Kota Cianjur yaitu di dekat Terminal Pasir Hayam banyak aktifitas yang kurang lebih sama dengan di kota-kota besar.
Salah satunya adalah perlombaan balapan motor drag. Uniknya, perlombaan disini merupakan sebuah acara resmi yang biasanya diadakan pada setiap akhir pekan dan hari libur. bahkan, meskipun dilakukan di jalan umum, pihak polisi Cianjur sendiri yang menutup jalan sementara untuk dilakukan balapan motor.
Tujuan dari kegiatan tersebut menurut salah satu anggota polisi polres Cianjur adalah untuk meminimalisasi tindakan kriminal. Salah satunya dengan memfasilitasi hobi anak muda yang jika tidak diselenggarakan dan diawasi oleh polisi berpotensi terjadi keributan. Dengan diadakannya balapan motor yang dikawal langsung oleh polisi, maka otomatis peserta dan penonton akan segan jika terjadi keributan.
Alasan tersebut menurut saya unik dan tepat untuk meminimalisasi terjadinya keributan antar geng atau kelompok pemuda. Sehingga dengan diadakannya event semacam itu, maka hobi para bikers juga dapat tersalurkan. Hal ini juga bertujuan meminimalkan acara balapan liar di Cianjur.

Itulah beberapa hal yang saya alami ketika berkunjung ke Cianjur untuk sedikit mengenal kebudayaan dan kebiasaan masyarakat di sana. Sebuah daerah yang menurut saya mempunyai keunikan tersendiri. Pasalnya, ada daerah di selatan Cianjur yang merupakan daerah yang budayanya masih kental dengan teknologi yang terbatas. Sedangkan di daerah kota terdapat masyarakat dengan kebudayaan modern yang masih tertata oleh pemerintahannya.
Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Iklan & Promosi Anda


Order ads here. Click me to get price quotation! Monthly & Unlimited click!

Halo, Komandan!

Sepertinya anda baru di sini. Ingin ber-interaksi? Klik satu tombol ini!

Kategori