Contact Us
News
Follow TELEGRAM Channel ForumBebas.com di alamat T.ME/FORUMBEBAS atau Facebook Fan Page dan Twitter Forumbebas .

Forum Bebas Indonesia

kunci bangsa indonesia maju

kunci menjadikan bangsa indonesia maju....

hasil obrolan santai sayah dengan 2 teman sayah beberapa waktu lalu yang merembet pada bagaimana cara memperbaiki bangsa ini.
akhirnya mendapatkan kesimpulan yang cukup mengejutkan, betapa sederhananya memperbaiki dan menjadikan bangsa ini maju.
(penjelasannya sih panjang)
asalkan  "DIPAKSAKAN". yaitu pada

1. polisi, hakim, jaksa dan urusan hukum lainnya. NO MONEY POLICY.
(TIDAK ADA URUSAN DUIT SEDIKITPUN JIKA BERURUSAN DENGAN HUKUM)
kecuali tentu saja sudah merupakan ketetapan hukum tetap dan setor/disita langsung ke negara.
dan termasuk dengan pembuatan UU-nya.
jadi penegak hukum DIPAKSA tidak boleh menerima sedikitpun uang/ model lainnya dari siapapun.
dan pengawasan atas penegak hukum sangat ketat. aliran dana dalam bentuk apapun akan ditelusuri dari awal sampai ujungnya.
penegak hukum ataupun yang berhubungan dengan hukum yang menerima/ memberi uang/model lainya.
akan dihukum sangat berat. walaupun itu sekedar  "uang rokok" (baik pemberi maupun  penerima)

2. anggaran fokus pada pembangunan infrastruktur kerakyatan.
maksudnya adalah pembangunan infrastruktur yang berdampak langsung pada rakyat banyak.
seperti pembangunan pasar non mal, pembangunan kereta api massal (bukan kereta cepat), pembangunan transportasi massal, jalan antar desa, waduk/danau buatan. pembangkit listrik NON BBM/BBG/batubara ....
intinya adalah satu kali pembangunan yang menikmati semua kalangan dan semua lapisan masyarakat dan jangkanya panjang.
membangun jalan tol adalah tidak benar karena yang menikmati hanya yang punya mobil, membangun kereta cepat adalah buruk karena tidak bisa mengangkut banyak orang sekaligus. dsb...

3. penyederhanaan izin, dan memperpendek birokrasi.
pelayanan terpadu satu pintu (PTSP) yang di lakukan berbagai pemda adalah contoh konkritnya.... namun PTSP yang ada memang belum banyak cakupannya. baru urusan2 tertentu saja.
seharusnya PTSP hanya satu saja untuk semua urusan dengan birokrasi negara. (baik pemerintah pusat maupun pemda)
bayangkan jika anda ngurus KTP .... tidak lagi perlu ke rt/rw/lurah/camat/dinas kependudukan.... hanya cukup satu tempat....
dan bisa langsung ngurus passport... sekalian ngurus SIM... dan SIUP usaha anda ditempat yang sama dan hari itu juga.


4. pengajaran dan pendidkan kedisiplinan yang terstruktur.
bukan hanya teoritis buku ajaran, tapi pelaksanaannya dilapangan dengan contoh dan hukuman jika melanggar.
(pokoknya urusan ini bisa meniru langsung dari singapura)
nantinya ada patroli disiplin, yang tidak berdisiplin langsung hukum ditempat, misalnya push up dsb...
mirip model razia polisi militer terhadap anggota TNI.
ntar kebayangnya sama saya, ada angkot ngetem sembarangan, supir langsung disuruh push up, begitu pula calon penumpang yang akan naik angkot ditempat sembarangan langsung disuruh push up dan ditonton rame2.

jika ke empat hal itu bisa DIPAKSAKAN.
indonesia menjadi maju... bukan lagi sekedar angan-angan.

Komentar

  • gini ndan.. bukan bersikap skeptis ya, cuman mpret agak pesimis ngeliat indonesia sekarang.
    semua balik ke karakter setiap manusia indonesia sendiri sih, masalahnya orang indonesia sukaannya mementingkan diri sendiri dalam bentuk apapun, tanpa mau menghiraukan kepentingan orang lain. Sekalipun udah melanggar hak orang lain, "kalo gue mau gini, lo mau apa? ". Ini yang sangat sering terjadi.


    kalo untuk no money policy, kayaknya gak bisa dengan mudah diberantas ndan. saat ini, setiap tindakan di indonesia butuh pelicin. mulai dari lalu lintas, imigrasi, pelabuhan, beli karcis, bahkan swasta juga setali tiga uang. kayaknya pelicin itu jadi hal yang lumrah, bahkan wajib kalo urusannya mau kelar tepat waktu.. :grin: karakter mau gampangnya dan mau untung sendiri jadi masalah disini.. :)

    anggaran difokuskan pada infrastruktur kerakyatan, apakah bisa menjamin 100% yang dianggarkan sampai pada yang membutuhkan? sekali lagi ini indonesia, bung! anggaran disunat, sunatannya lebih besar dari yang masuk ke proyek, itu udah biasa.. solusinya, balik lagi ke masalah karakter para pejabat disini..

    penyederhanaan izin, pemotongan birokrasi, kayaknya Mpret rasa lebih sulit lagi.. disini mah menganut sistem kalo bisa dipersulit kenapa harus dipermudah.. bener gak.. semoga saya salah.. :grin: contoh simpelnya aja deh, kita mau bayar pajak kendaraan, sekalipun udah ada samsat online yang di mall, tetap aja syaratnya gak gampang-gampang banget loh. apalagi kalo bayar pajak 5 tahunan.. bisa seharian gak kerja ngurusnya, belum lagi masalah bahan baku plat nomor gak ada.. koq bisa? ini bukan cabang franchise picisan yang bisa aja bilang, "maaf pak/bu bahan belum datang dari pusat" loh.. ini negara pak, bu.. Oalah...:stress:  
    belum lagi kalo setor SPT.. ruwetnya ngalahin sinetron cinta fitri yang entah ada berapa season itu.. :no:

    Kalo menurut Mpret sih selama karakter orang indonesia yang mau menang sendiri tidak diberantas, ya kayaknya agak sulit ya.. CMIIW.. :blah:





    udah ah, lama-lama Mpret waras juga.. balik RSJ aah.. yok.. :blah:
  • PretPung menulis:
    gini ndan.. bukan bersikap skeptis ya, cuman mpret agak pesimis ngeliat indonesia sekarang.
    semua balik ke karakter setiap manusia indonesia sendiri sih, masalahnya orang indonesia sukaannya mementingkan diri sendiri dalam bentuk apapun, tanpa mau menghiraukan kepentingan orang lain. Sekalipun udah melanggar hak orang lain, "kalo gue mau gini, lo mau apa? ". Ini yang sangat sering terjadi.


    kalo untuk no money policy, kayaknya gak bisa dengan mudah diberantas ndan. saat ini, setiap tindakan di indonesia butuh pelicin. mulai dari lalu lintas, imigrasi, pelabuhan, beli karcis, bahkan swasta juga setali tiga uang. kayaknya pelicin itu jadi hal yang lumrah, bahkan wajib kalo urusannya mau kelar tepat waktu.. :grin: karakter mau gampangnya dan mau untung sendiri jadi masalah disini.. :)

    anggaran difokuskan pada infrastruktur kerakyatan, apakah bisa menjamin 100% yang dianggarkan sampai pada yang membutuhkan? sekali lagi ini indonesia, bung! anggaran disunat, sunatannya lebih besar dari yang masuk ke proyek, itu udah biasa.. solusinya, balik lagi ke masalah karakter para pejabat disini..

    penyederhanaan izin, pemotongan birokrasi, kayaknya Mpret rasa lebih sulit lagi.. disini mah menganut sistem kalo bisa dipersulit kenapa harus dipermudah.. bener gak.. semoga saya salah.. :grin: contoh simpelnya aja deh, kita mau bayar pajak kendaraan, sekalipun udah ada samsat online yang di mall, tetap aja syaratnya gak gampang-gampang banget loh. apalagi kalo bayar pajak 5 tahunan.. bisa seharian gak kerja ngurusnya, belum lagi masalah bahan baku plat nomor gak ada.. koq bisa? ini bukan cabang franchise picisan yang bisa aja bilang, "maaf pak/bu bahan belum datang dari pusat" loh.. ini negara pak, bu.. Oalah...:stress:  
    belum lagi kalo setor SPT.. ruwetnya ngalahin sinetron cinta fitri yang entah ada berapa season itu.. :no:

    Kalo menurut Mpret sih selama karakter orang indonesia yang mau menang sendiri tidak diberantas, ya kayaknya agak sulit ya.. CMIIW.. :blah:





    udah ah, lama-lama Mpret waras juga.. balik RSJ aah.. yok.. :blah:

    semua ada jalan,,,,, pesimis boleh, tapi tetep harus ada sedikit optimis, di mulai dari terkecil, diri sendiri....misal, jangan suka minta palakan ke orang laen gitu.....
  • oifals menulis:

    semua ada jalan,,,,, pesimis boleh, tapi tetep harus ada sedikit optimis, di mulai dari terkecil, diri sendiri....misal, jangan suka minta palakan ke orang laen gitu.....


    napa dia malah bahas palakan Mpret yak?

    Mpret kan cuman cari makan? :confused:

    Sepesimis-pesimisnya Mpret, Mpret membiasakan diri untuk hidup disiplin, membentuk karakter Mpret, istri dan putri Mpret dengan baik. ;)
    Meskipun Mpret bukan yang terbaik, masih banyak banget salah dan dosa, tapi Mpret berusaha semoga Mpret bisa nularin yang baik ke keluarga Mpret di FBI ini.. semoga.. :top:
  • PretPung menulis:
    gini ndan.. bukan bersikap skeptis ya, cuman mpret agak pesimis ngeliat indonesia sekarang.
    semua balik ke karakter setiap manusia indonesia sendiri sih, masalahnya orang indonesia sukaannya mementingkan diri sendiri dalam bentuk apapun, tanpa mau menghiraukan kepentingan orang lain. Sekalipun udah melanggar hak orang lain, "kalo gue mau gini, lo mau apa? ". Ini yang sangat sering terjadi.


    kalo untuk no money policy, kayaknya gak bisa dengan mudah diberantas ndan. saat ini, setiap tindakan di indonesia butuh pelicin. mulai dari lalu lintas, imigrasi, pelabuhan, beli karcis, bahkan swasta juga setali tiga uang. kayaknya pelicin itu jadi hal yang lumrah, bahkan wajib kalo urusannya mau kelar tepat waktu.. :grin: karakter mau gampangnya dan mau untung sendiri jadi masalah disini.. :)

    anggaran difokuskan pada infrastruktur kerakyatan, apakah bisa menjamin 100% yang dianggarkan sampai pada yang membutuhkan? sekali lagi ini indonesia, bung! anggaran disunat, sunatannya lebih besar dari yang masuk ke proyek, itu udah biasa.. solusinya, balik lagi ke masalah karakter para pejabat disini..

    penyederhanaan izin, pemotongan birokrasi, kayaknya Mpret rasa lebih sulit lagi.. disini mah menganut sistem kalo bisa dipersulit kenapa harus dipermudah.. bener gak.. semoga saya salah.. :grin: contoh simpelnya aja deh, kita mau bayar pajak kendaraan, sekalipun udah ada samsat online yang di mall, tetap aja syaratnya gak gampang-gampang banget loh. apalagi kalo bayar pajak 5 tahunan.. bisa seharian gak kerja ngurusnya, belum lagi masalah bahan baku plat nomor gak ada.. koq bisa? ini bukan cabang franchise picisan yang bisa aja bilang, "maaf pak/bu bahan belum datang dari pusat" loh.. ini negara pak, bu.. Oalah...:stress:  
    belum lagi kalo setor SPT.. ruwetnya ngalahin sinetron cinta fitri yang entah ada berapa season itu.. :no:

    Kalo menurut Mpret sih selama karakter orang indonesia yang mau menang sendiri tidak diberantas, ya kayaknya agak sulit ya.. CMIIW.. :blah:





    udah ah, lama-lama Mpret waras juga.. balik RSJ aah.. yok.. :blah:
    hmmm... setuju sekali.... bahwa kuncinya adalah perbaikan karakter....

    tapi jika melihat ke negara2 lain yang telah maju ataupun cerita masa lalu tentang negara2/kerajaan2 terdahulu yang maju..... memperbaiki karakter harus dengan aksi, bukan dengan teori atau pendidikan berbasis buku di sekolah.

    jadi penekanan sayah bukan pada ke empat poin itu.... tapi pada DIPAKSAKAN nya....
    keempat poin diatas tidak akan pernah bisa berjalan di indonesia.... kecuali DIPAKSAKAN...
    negara berhak MEMAKSA.... karena itu untuk kepentingan negara dan bangsa.

    sama seperti pret... yang sering gagal dalam memalak.... karena pret tidak maksa....
  • sutisna menulis:
    hmmm... setuju sekali.... bahwa kuncinya adalah perbaikan karakter....

    tapi jika melihat ke negara2 lain yang telah maju ataupun cerita masa lalu tentang negara2/kerajaan2 terdahulu yang maju..... memperbaiki karakter harus dengan aksi, bukan dengan teori atau pendidikan berbasis buku di sekolah.

    jadi penekanan sayah bukan pada ke empat poin itu.... tapi pada DIPAKSAKAN nya....
    keempat poin diatas tidak akan pernah bisa berjalan di indonesia.... kecuali DIPAKSAKAN...
    negara berhak MEMAKSA.... karena itu untuk kepentingan negara dan bangsa.

    sama seperti pret... yang sering gagal dalam memalak.... karena pret tidak maksa....


    Sebenernya ada cara yang lebih "lunak" ndan..
    yaitu dengan penyuluhan kepada orangtua2 agar mendidik anaknya dengan ajaran yang benar, sehingga karakter mereka terbentuk baik. Diharapkan generasi berikutnya mulai bisa berubah dari dalam diri masing - masing karena emang karakternya baik.
    Tapi kalo pake cara ini, harus nunggu generasi berikutnya.. itupun kalo didikannya dijalankan dengan bener.. coba liat deh,berapa banyak orang tua yang lebih rela bener-bener ngejagain anaknya ketimbang asik dengan gadgetnya?
    yang ada malah anaknya dikasi gadget sendiri biar diem, gak banyak tingkah gitu.. :stress:


    Hmm.. jadi gak pernah gak gagal malak karena Mpret tidak maksa yak? Mpret kan tukang palak, bukannya tukang paksa ndan?
    Lagian Mpret ini tukang palak baik hati lho, masa baik hati terus maksa? apa kata dunia? :think:
  • sutisna menulis:
    kunci menjadikan bangsa indonesia maju....

    hasil obrolan santai sayah dengan 2 teman sayah beberapa waktu lalu yang merembet pada bagaimana cara memperbaiki bangsa ini.
    akhirnya mendapatkan kesimpulan yang cukup mengejutkan, betapa sederhananya memperbaiki dan menjadikan bangsa ini maju.
    (penjelasannya sih panjang)
    asalkan  "DIPAKSAKAN". yaitu pada

    1. polisi, hakim, jaksa dan urusan hukum lainnya. NO MONEY POLICY.

    2. anggaran fokus pada pembangunan infrastruktur kerakyatan.

    3. penyederhanaan izin, dan memperpendek birokrasi.

    4. pengajaran dan pendidkan kedisiplinan yang terstruktur.

    jika ke empat hal itu bisa DIPAKSAKAN.
    indonesia menjadi maju... bukan lagi sekedar angan-angan.
    Nice trit ndan, saya suka!

    Sebagai salah satu warga negara yang prihatin akan kondisi bangsa ini, saya mau ikutan urun rembug saja
    bukan sebagai praktisi hanya sebagai analis saja, siapa tahu hasil analisa saya bisa menjadi bahan pertimbangan
    dalam pemecahan masalah bangsa ini.

    kebetulan skripsi saya dulu juga merangkum ini semua menjadi sebuah pokok bahasan tertentu.

    sesuai uraian diatas maka akan saya coba menyimpulkan bahwa masalah belum berhasilnya Indonesia menjadi negara maju karena
    1. Uang dan kekuasaan sebagai penggerak pelayanan publik, bukan SOP.
    2. Anggaran yang tidak tepat sasaran.
    3. Sistem birokrasi yang berbelit-belit sekaligus rumit.
    4. Sistem pendidikan yang kurang tepat.

    adapun solusinya dalah pengendalian sosial yang bersifat represif dan koersif (dipaksakan) dengan tujuan
    1. Pelayanan publik tanpa uang, sesuai SOP.
    2. Anggaran yang tepat sasaran dan dengan azas kerakyatan.
    3. Sistam birokrasi yang sederhana namun aman.
    4. Sistem pendidikan yang terstruktur dan bermoral tinggi.

    Sementara saya kasih bocoran kelemahannya ya, pengendalian sosial yang bersifat represif dan koersif itu membutuhkan keterlibatan banyak orang, semakin banyak orang maka biaya akan semakin banyak, semakin banyak biaya untuk sektor baru akan menyebabkan inflasi hal ini disebabkan karena tidak dimungkinkannya pengalihan biaya dari sektor eksisting ke sektor baru, karena akan menyebabkan disorientasi praktis di sektor eksisting yang akan memicu masalah baru, dalam kondisi ini masalah baru tidak bisa ditolerir karena akan menyebabkan gangguan yang secara langsung atau tidak langsung akan berefek negatif pada hasil yang akan dicapai sesuai sesuai dengan tujuan awal revolusi tersebut.

    adapun kelebihannya, pengendalian sosial yang bersifat represif dan koersif itu prosesnya dari perencanaan sampai ke hasil relatif singkat, hasilnya tahan lama dan membekas sehingga perawatan berkala untuk hal tersebut bisa dilakukan dalam jangka waktu yang agak panjang.

    Secara garis besar apa yang menjadi pemikiran sampeyan ini brilian, hasilnya pasti dan bisa dicapai dalam waktu singkat, sayangnya biaya yang dibutuhkan cukup banyak dan rawan gagal, adapun cara alternatif supaya pemikiran agan bisa direalisasikan tanpa biaya yang besar, yaitu dengan mencetuskan program pencarian sukarelawan untuk hal ini yang bener-bener sukarela, payless!

    Note : saya siap jadi relawan.

    Mudah-mudahan membantu.
  • polisi, hakim, jaksa dan urusan hukum lainnya. NO MONEY POLICY.
    (TIDAK ADA URUSAN DUIT SEDIKITPUN JIKA BERURUSAN DENGAN HUKUM)
    kecuali tentu saja sudah merupakan ketetapan hukum tetap dan setor/disita langsung ke negara.
    dan termasuk dengan pembuatan UU-nya.
    jadi penegak hukum DIPAKSA tidak boleh menerima sedikitpun uang/ model lainnya dari siapapun.
    dan pengawasan atas penegak hukum sangat ketat. aliran dana dalam bentuk apapun akan ditelusuri dari awal sampai ujungnya.
    penegak hukum ataupun yang berhubungan dengan hukum yang menerima/ memberi uang/model lainya.
    akan dihukum sangat berat. walaupun itu sekedar  "uang rokok" (baik pemberi maupun  penerima)

    Setuju gan,  hanya saja diperlukan usaha yang luar biasa untuk merubah mental " ada uang urusan lancar" dan tentunya komitmen yang kuat dari pemerintah juga sangat diperlukan.
  • DarmoGandhul menulis:
    Nice trit ndan, saya suka!

    Sebagai salah satu warga negara yang prihatin akan kondisi bangsa ini, saya mau ikutan urun rembug saja
    bukan sebagai praktisi hanya sebagai analis saja, siapa tahu hasil analisa saya bisa menjadi bahan pertimbangan
    dalam pemecahan masalah bangsa ini.

    kebetulan skripsi saya dulu juga merangkum ini semua menjadi sebuah pokok bahasan tertentu.

    sesuai uraian diatas maka akan saya coba menyimpulkan bahwa masalah belum berhasilnya Indonesia menjadi negara maju karena
    1. Uang dan kekuasaan sebagai penggerak pelayanan publik, bukan SOP.
    2. Anggaran yang tidak tepat sasaran.
    3. Sistem birokrasi yang berbelit-belit sekaligus rumit.
    4. Sistem pendidikan yang kurang tepat.

    adapun solusinya dalah pengendalian sosial yang bersifat represif dan koersif (dipaksakan) dengan tujuan
    1. Pelayanan publik tanpa uang, sesuai SOP.
    2. Anggaran yang tepat sasaran dan dengan azas kerakyatan.
    3. Sistam birokrasi yang sederhana namun aman.
    4. Sistem pendidikan yang terstruktur dan bermoral tinggi.

    Sementara saya kasih bocoran kelemahannya ya, pengendalian sosial yang bersifat represif dan koersif itu membutuhkan keterlibatan banyak orang, semakin banyak orang maka biaya akan semakin banyak, semakin banyak biaya untuk sektor baru akan menyebabkan inflasi hal ini disebabkan karena tidak dimungkinkannya pengalihan biaya dari sektor eksisting ke sektor baru, karena akan menyebabkan disorientasi praktis di sektor eksisting yang akan memicu masalah baru, dalam kondisi ini masalah baru tidak bisa ditolerir karena akan menyebabkan gangguan yang secara langsung atau tidak langsung akan berefek negatif pada hasil yang akan dicapai sesuai sesuai dengan tujuan awal revolusi tersebut.

    adapun kelebihannya, pengendalian sosial yang bersifat represif dan koersif itu prosesnya dari perencanaan sampai ke hasil relatif singkat, hasilnya tahan lama dan membekas sehingga perawatan berkala untuk hal tersebut bisa dilakukan dalam jangka waktu yang agak panjang.

    Secara garis besar apa yang menjadi pemikiran sampeyan ini brilian, hasilnya pasti dan bisa dicapai dalam waktu singkat, sayangnya biaya yang dibutuhkan cukup banyak dan rawan gagal, adapun cara alternatif supaya pemikiran ndan bisa direalisasikan tanpa biaya yang besar, yaitu dengan mencetuskan program pencarian sukarelawan untuk hal ini yang bener-bener sukarela, payless!

    Note : saya siap jadi relawan.

    Mudah-mudahan membantu.
    sayah sangat setuju dengan hal ini, apalagi mbah mau jadi sukarelawannya.

    namun kenapa sayah mencontohkan sangat jelas pada penegak hukum, dan belum masuk dulu pada pelayanan publik yang umumnya.
    karena dengan seiringnya membaiknya kinerja dan berkurangnya "perilaku korupsi" di penegak hukum. akan membuat penegak hukum menjalankan tugasnya sebaik2nya, dan secara otomatis ketika hukum dan keadilan ditegakan dengan kebenaran, pelayanan publik lain akan "terpaksa" juga non money policy.
    kisahnya adalah kita mau menyapu ruangan yang kotor... tapi yang ada adalah sapu kotor... bahkan yang lebih kotor dari ruangan itu sendiri...
    apa yang terjadi... ruangan bukannya tambah bersih... malah tambah kotor.
    jika sapu dibersihkan terlebih dahulu dan dijaga agar tetap bersih... akan mudah untuk membersihkan ruangan yang kotor....
    dan membersihkan sapu terlebih dahulu lebih mudah bagi kita... daripada kita capek2 membersihkan dengan sapu kotor...
    dan siapa yang ngak tahu kotornya polisi, jaksa dan hakim di indonesia....?  anda boleh survey di seluruh indonesia... yang pernah berurusan dengan polisi dan pengadilan.... pasti pernah merasakan sedikitnya 'terpaksa' memberi uang .....

    cara membersihkan penegak hukum bagaimana caranya.... yang paling mudah dengan no money policy itu....

    bayangkan jika anda ditilang polisi (karena kesalahan apapun).... lalu anda menyelipkan uang ke SIM anda.... lalu sang polisi menolak dengan tegas.... anda malah dimarahi oleh polisi itu.... karena berusaha menyuap petugas.... dan tilangnya tetap dilakukan....
    tilang dilakukan dengan mengurangi poin SIM anda... yang jika poin SIM anda habis.... sim anda dicabut... dan selama 1 tahun tidak bisa punya SIM....  ketahuan  tidak punya SIM tapi nekad pake kendaraan... anda ditangkap dan dipenjara 3 hari... dengan denda minimal 5 juta....

    anda nekad memberi uang... polisinya terima.... ketahuan oleh "satgas anti korupsi penegak hukum"...
    anda dipenjara 3 hari... kena denda 5 juta.... polisinya dipenjara 3 hari.... diturunkan pangkat dan jabatan... (sesuai dengan keputusan pengadilan)

    jangan bilang ini keras.... jepang dan singapura jauh lebih keras dari hukuman diatas....
  • sutisna menulis:
    sayah sangat setuju dengan hal ini, apalagi mbah mau jadi sukarelawannya.

    namun kenapa sayah mencontohkan sangat jelas pada penegak hukum, dan belum masuk dulu pada pelayanan publik yang umumnya.
    karena dengan seiringnya membaiknya kinerja dan berkurangnya "perilaku korupsi" di penegak hukum. akan membuat penegak hukum menjalankan tugasnya sebaik2nya, dan secara otomatis ketika hukum dan keadilan ditegakan dengan kebenaran, pelayanan publik lain akan "terpaksa" juga non money policy.
    kisahnya adalah kita mau menyapu ruangan yang kotor... tapi yang ada adalah sapu kotor... bahkan yang lebih kotor dari ruangan itu sendiri...
    apa yang terjadi... ruangan bukannya tambah bersih... malah tambah kotor.
    jika sapu dibersihkan terlebih dahulu dan dijaga agar tetap bersih... akan mudah untuk membersihkan ruangan yang kotor....
    dan membersihkan sapu terlebih dahulu lebih mudah bagi kita... daripada kita capek2 membersihkan dengan sapu kotor...
    dan siapa yang ngak tahu kotornya polisi, jaksa dan hakim di indonesia....?  anda boleh survey di seluruh indonesia... yang pernah berurusan dengan polisi dan pengadilan.... pasti pernah merasakan sedikitnya 'terpaksa' memberi uang .....

    jangan bilang ini keras.... jepang dan singapura jauh lebih keras dari hukuman diatas....

    untuk membersihkan lantai kita butuh sapu dan pel, untuk membersihkan sapu dan pel kita butuh air dan sabun dan akan berlanjut seperti itu
    maka dari itu mohon dibantu dicetuskan gerakannya, sistemnya dan metode pengimplementasiannya pak, supaya Indonesia maju bisa segera terwujud.
    masalah keras atau tidak, sebaiknya tidak dijadikan poin karena itu hanya akan memecah konsentrasi pak @sutisna, semua benda yang baik di dunia ini
    merasakan kekerasan proses pembentukan, pedang ditempa, berlian diasah, emas ditanur itu sama proses yang keras.

    ayo maju bersama untuk Indonesia Maju!
  • AutoPilot saja kayak 10 tahun SBY kemarin, biarin rakyat urus perutnya sendiri.
    Pemimpin urus negara dan bersifat makro saja..
    Akan maju meski lama,,
    never feel bother....
  • Adimin Baik menulis:
    AutoPilot saja kayak 10 tahun SBY kemarin, biarin rakyat urus perutnya sendiri.
    Pemimpin urus negara dan bersifat makro saja..
    Akan maju meski lama,,
    iki lho sing law or outlaw.. keren juga tapi nanti jadinya kaya ussr, kenapa gak sekalian dicoba buat membangunkan kembali negara boneka min..

    saya pro RIS lho..
Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Halo, Komandan!

Sepertinya anda baru di sini. Ingin ber-interaksi? Klik satu tombol ini!

Kategori