Contact Us

Sejarah G 30 S PKI (Teori Konspirasi)

Sejarah G 30 S PKI (Teori Konspirasi)


[font=Tahoma, sans-serif]Karena Judul nya saja berkaitan sebagai teori konspirasi, jadi mungkin bisa benar dan mungkin juga bisa saja salah dalam membeberkan sejarah ini, tapi jangan kuatir walau belum bisa disebut valid betul, bukan berarti sumber-sumber yang akan penulis paparkan diambil secara sembarangan tanpa diteliti mendalam.[/font][font=Tahoma, sans-serif]

Kalau kita mengkaji peristiwa G 30 S PKI, kita tidak bisa melepas dan tidak memperhatikan beberapa tokoh seperti DN Aidit, Syam , Subandrio, Letkol Untung, Abdoel Latif, Bung Karno, Soeharto, tidak ketinggalan seorang yang bernama Van Der Plas seorang mantan Gubernur Jatim era hindia belanda, yang terkennal dengan "Van Der Plas Connection" atau jaringan intelijen asing yang dikontrol oleh Van der plas.[/font]


[font=Tahoma, sans-serif]Sebelum kita melanjutkan membahas Teori Konspirasi G30S PKI, mari kita menganalisa dgn menguatkan pegangan pedoman dalam menganalisa kita dahulu supaya tidak terjebak asumsi opini yang keliru, biar objektif dalam menilai dan tidak memihak.[/font]

[font=Tahoma, sans-serif]Faktor utama ada nya G30S PKI dari segi pelaku dalam Negeri :[/font]

[font=Tahoma, sans-serif]1.[size=x-small]   [/size][/font][font=Tahoma, sans-serif]Keinginan berkuasa atau jadi penguasa[/font]
[font=Tahoma, sans-serif]2.[size=x-small]   [/size][/font][font=Tahoma, sans-serif]Jabatan tetap aman.[/font]
[font=Tahoma, sans-serif]3.[size=x-small]   [/size][/font][font=Tahoma, sans-serif]Tidak ada gangguan lawan.[/font]

[font=Tahoma, sans-serif]Faktor keterlibatan asing dalam peristiwa tsb tujuan nya adalah :[/font]

[font=Tahoma, sans-serif]1.[size=x-small]   [/size][/font][font=Tahoma, sans-serif]Kekacauan politik Di Indonesia[/font]
[font=Tahoma, sans-serif]2.[size=x-small]   [/size][/font][font=Tahoma, sans-serif]Pelemahan Hankam dan ekonomi[/font]
[font=Tahoma, sans-serif]3.[size=x-small]   [/size][/font][font=Tahoma, sans-serif]Bisa mengendalikan Penguasa.[/font]

[font=Tahoma, sans-serif]Suasana kondisi diwaktu itu tahun 1960 – 1965 ibarat bara dalam sekam sewaktu-waktu bisa meletup, apalagi kalau dituangin minyak dan hembusan angin akan menyala lagi, yang paling senang ada nya kekacauan tentu pihak asing dalam hal ini adalah pihak liberal bukan komunis karena komunis sudah merasa punya kuasa di Indonesia, itulah kenapa saya sering berslogan “Hati-hati dengan Pihak asing dan pengkhianat NKRI” [/font]

[font=Tahoma, sans-serif]Pihak asing untuk menjalankan taktik Pelemahan pertahanan dan keamanan serta kekacauan politik, cukup bikin issue saja tanpa perlu melakukan agresi lagi ke Indonesia, karena kalau melakukan agresi lagi bakal dikutuk dunia karena Indonesia sudah bergabung dengan PBB (UN) dan diakui dunia sebagai Negara merdeka,  kenapa asing perlu melemahkan Indonesia? Sebenar nya kalau bisa, mereka malah berharap menguasai NKRI tidak hanya jadi sekutu nya saja, salah satu hasil dari kerja asing adalah Malaysia merdeka, Singapura merdeka.[/font]

[font=Tahoma, sans-serif]Pada saat itu pihak asing berharap komponen bangsa Indonesia saling bentrok, seperti Presiden, TNI, PKI, PNI dan Partai Islam. [/font]

[font=Tahoma, sans-serif]Adapun issue yang sering terjadi saat itu :[/font]

[font=Tahoma, sans-serif]1. Soekarno sudah tua dan sering sakit-sakitan[/font]
[font=Tahoma, sans-serif]2. Issue Dewan Jendral (Dokumen Gilchrist) dari duta besar Inggris.[/font]
[font=Tahoma, sans-serif]3. Angkatan ke 5 dlm rangka “Ganyang Malaysia” ditentang TNI[/font]
[font=Tahoma, sans-serif] [/font]
[font=Tahoma, sans-serif]Issue tersebut sangat jitu sekali, Presiden jadi kalang kabut, bahkan PKI pun turut kalang kabut, kuatir posisi kekuasaan jadi hilang, karena kekuatiran ini maka perlu ada nya yang dilemahkan agar tidak menganggu kestabilan power politik mereka, dan yang dijadikan sasaran korban  adalah TNI, karena TNI merupakan suatu komponen power yang sangat kuat dan berpengaruh dlm bangsa ini, yang selalu loyal menjaga NKRI.[/font]
[font=Tahoma, sans-serif] [/font]
[font=Tahoma, sans-serif]Mari kita petakan posisi power politik beberapa komponen :[/font]

[font=Tahoma, sans-serif]1. Soekarno sudah tua[/font]
[font=Tahoma, sans-serif]2. Soekarno butuh dukungan TNI dan partai-partai[/font]
[font=Tahoma, sans-serif]3. TNI loyal sama pemerintah sah[/font]
[font=Tahoma, sans-serif]4. PKI belum siap memberontak menganti paham Pancasila dengan paham Komunis.[/font]
[font=Tahoma, sans-serif]5. Kader PKI belum siap jadi Presiden baik memakai cara coup ataupun Pemilu[/font]
[font=Tahoma, sans-serif]6. Asing sudah menyusup ke berbagai komponen termasuk ke PKI.[/font]
[font=Tahoma, sans-serif] [/font]
[font=Tahoma, sans-serif]Banyak informasi sejarah G30S PKI di internet atau dunia maya, cenderung memakai "Teori Konspirasi" bukan memakai metode Ilmiah, seperti perlu nya barang bukti dan saksi yang sudah di cross check secara independen, perlu nya barang bukti Tulisan tangan, rekaman percakapan, photo kedekatan tertuduh, photo  peristiwa dan jika tidak ada harus di cross check saksi secara terpisah.[/font]

[font=Tahoma, sans-serif]Bahkan para penulis tersebut sampai berani nyebutin rahasia dibalik G30S PKI dan dalang nya, padahal semua cenderung memakai "Teori Konspirasi" bukan memakai metode ilmiah, kita digiring untuk mengikuti alur opini si penulis yang tidak bertanggung jawab tsb, seandai nya pun ditulis disaat era itu, itu bukan berarti tulisan tsb memenuhi keabsahan kevalidasian yg akurat, kecuali tulisan dan buku itu memakai metode ilmiah dalam mencari bukti otentik peristiwa yg terjadi.[/font]

[font=Tahoma, sans-serif]Sebagai contoh dalam meneliti kasus terbunuh nya DN Aidit yang konon ditembak dlm perjalanan ke Jakarta, untuk menggali hal ini kita perlu diketahui posisi dimana ditembak?, alasan apa ditembak?, ditembak sebelah mana nya?, siapa pelaku penembak?, mayat nya ada dimana?, yang memerintah menembak siapa?, komandan yg memerintahkan atau bukan? jika komandan yg memerintah saaat itu apakah inisiatif sendiri atau ada komandan yg lebih tinggi memerintahkan, jika ada yg komandan tinggi yg memerintahkan, perlu ditanyakan alasan nya apa? itulah metode ilmiah dalam penelitian.[/font]

[font=Tahoma, sans-serif]Contoh lagi, sekira nya TNI akan melakukan coup sama presiden, dalam hal ini para petinggi TNI, petinggi tsb akan sulit jadi presiden menggantikan Soekarno, karena kekuatan militer asing bisa memberi alasan masuk ke Indonesia dan rakyat bakal bangkit, padahal kalau TNI dalam hal ini petinggi bikin jadi presiden adalah sangat mudah yaitu menyuruh intelijen berkamuflase jadi anggota PKI dan menembak presiden, setelah presiden mati baru menangkapi PKI dgn alasan makar, dan ternyata hal ini tidak dilakukan, bahkan muncul nya inisiatif dibentuk nya Pasukan Pengaman Presiden adalah dari petinggi TNI.[/font]

[font=Tahoma, sans-serif]Mari berpikir cerdas tapi kritis tanpa harus ikut alur beberapa penulis lain, kita gali bersama sejarah ini dengan tetap berwawasan luas bermetode ilmiah, dan jangan lupa poin-poin yang sudah kami sebutkan pada awal artikel, bisa dijadikan acuan utk menfilter sumber informasi sejarah, lalu telitilah dan telitilah dalam melihat sumber sejarah, lain kesempatan akan kami paparkan beberapa sumber sejarah yang bisa kita jadikan kajian, selamat berteori konspirasi …..[/font]


[font=Tahoma, sans-serif] [/font]
[font=Tahoma, sans-serif]SALAM INDONESIA JAYA[/font]

Komentar

  • [size=medium][font=Arial, sans-serif]Mari kita lanjut pembahasan dengan kajian tetap secara koridor metode ilmiah … [/font][/size]
    [size=medium][font=Arial, sans-serif]Pelaku G30S PKI adalah PKI, itu sangat jelas, baik memakai metode Ilmiah maupun konspirasi, bukti nya apa kalau itu gerakan PKI? karena Pelaku nya G30S adalah dari kader PKI, dibantu orang-orang PKI dan didukung oleh PKI, dan salah satu bukti otentik ada dibawah ini, bukti yang tidak bisa dipungkiri karena telah disaksikan oleh banyak orang :[/font][/size]
    [size=medium][font=Arial, sans-serif] [/font][/size]
    [size=medium][font=Arial, sans-serif]1. KOMUNIKE Letkol Untung soal gerakan 30 september, 1 Okt 1965 jam 7.14 di RRI[/font][/size]
    [size=medium][font=Arial, sans-serif]2. Dekrit Revolusi oleh DN Aidit, 1 Okt 1965, Jam 14.00 di RRI[/font][/size]
    [size=medium][font=Arial, sans-serif]3. Pidato Presiden, didepan MPRS 10 Januari 1967, G30S terjadi karena “Keblingernya Pimpinan PKI”[/font][/size]
    [size=medium][font=Arial, sans-serif] [/font][/size]
    [size=medium][font=Arial, sans-serif]Tapi untuk mengapa dan bagaimana sampai terjadi G30S PKI itu yang masih misteri, nah di kesempatan ini kita akan bersama2 menggali sejarah dengan teori konspirasi, karena kalau memakai metode ilmiah akan butuh banyak dana, banyak waktu, banyak narasumber yang harus dikunjungi, dan akan kesulitan lagi jika saksi kunci nya sudah pada meninggal, dengan memakai teori konspirasi akan lebih efisien, walau begitu kita jangan sampai meninggalkan metode ilmiah, karena agar dapat ketelitian dan keakuratan.[/font][/size]
    [size=medium][font=Arial, sans-serif] [/font][/size]
    [size=medium][font=Arial, sans-serif]Mari Kita kaji beberapa profil dari alur cerita ini, seperti DN Aidit, Syam Kamaruszaman, Subandrio, Letkol Untung, Bung Karno, Soeharto, tapi kayak nya akan lebih menarik jika meniliti kajian ini dimulai dengan orang yang bernama “Van der Plas” dulu, karena akan membuka wacana yang lebih luas, dan akan tahu jika PKI sang ahli menyusup ternyata bisa di obok-obok juga sama intelijen.[/font][/size]
    [size=medium][font=Arial, sans-serif] [/font][/size]


    [size=medium][font=Arial, sans-serif]van_der_plas_4b.jpg[/font][/size]

    [size=medium][font=Arial, sans-serif] [/font][/size]
    [size=medium][font=Arial, sans-serif]Van Der Plas[/font][/size]
    [size=medium][font=Arial, sans-serif] [/font][/size]
    [size=medium][font=Arial, sans-serif]Van De Plas adalah seorang warga negara belanda, nama lengkap nya Charles Olke van der Plas (1891-1977), adalah seorang pegawai sipil di Hindia Belanda, pernah bertugas sebagai Gubernur Jawa Timur (18 Mei 1936 sampai dengan 30 Juni 1941) sampai saat Jepang mengalahkan Belanda tahun 1942. Setelah itu ia menjadi ketua Komisi Hindia Belanda untuk Australia dan Selandia Baru yang memperjuangkan pengusiran Jepang dari Hindia Belanda, pernah menjabat sebagai konsul Belanda untuk Jeddah di Arab Saudi 1921 - 1926[/font][/size]
    [size=medium][font=Arial, sans-serif] [/font][/size]
    [size=medium][font=Arial, sans-serif]Pada akhir Perang Pasifik, van der Plas mendarat kembali ke Jawa dari pengasingan di Australia bulan Oktober 1945 sebagai Chief Civil Affairs Officer mendampingi tentara Sekutu. Van der Plas bertindak sebagai tangan kanan Dr. Hubertus Johannes van Mook, yang saat itu diangkat menjadi Letnan Gubernur-Jenderal Hindia Belanda. Ia bertugas dalam beberapa kegiatan lain sampai pengakuan kedaulatan bulan Desember 1949.[/font][/size]

    [size=medium][font=Arial, sans-serif]Kepiwaian menguasai berbagai bahasa seperti belanda, inggris, arab, Indonesia, menjadikan dia mempunyai kelebihan tersendiri dan membantu nya dalam mencermati budaya masing2 negara dan memahami tentang Islam lebih baik, memahami karakter orang Islam, apalagi sempat belajar di Saudi, kelebihan ini sangat membantu nya sebagai seorang agen rahasia atau intelijen.[/font][/size]

    [size=medium][font=Arial, sans-serif]Kinerja Van Der Plas dipengaruhi oleh sarjana Belanda Christiaan Snouck Hurgronje yang ahli dalam memahami masyarakat Indonesia, politik, Islam dan Arab. Seorang belanda yang berhasil memecah belah perjuangan di aceh dari dalam dengan menyamar menjadi seorang ulama, dengan fatwa nya “Agama dan kehidupan dunia tidak ada keterkaitan” maksud nya bela bangsa dan negara (Nasionalis) bukanlah anjuran agama dan tidak dapat pahala. Inilah cara keji penjajah demi keinginan nya bisa berhasil berbagai cara apapun akan dilakukan.[/font][/size]

    [size=medium][font=Arial, sans-serif]“Hati-hatilah dengan pihak asing”[/font][/size]


    [size=medium][font=Arial, sans-serif]Van Der Plas melakukan koneksi keberbagai pihak, seperti pejabat, politikus, aktivis, tentara, rakyat jelata, bahkan kelompok rohaniawan dan agamis pun di prospek dengan baik agar bisa dimanfaatkan suatu saat nanti, “ingat! Dimanfaatkan bukan dijadikan teman” tentu nya dengan sangat rahasia seperti kayak bersilahturahmi biasa, khusus untuk yang militer dan politikus memakai biro khusus, arti nya tidak didatangi dia sendiri secara langsung, tp memakai agen penyusup, tujuan akhir dari penyusupan intelijen asing adalah agar instansi kacau, partai kacau, ormas kacau, organisasi agama kacau sehingga bisa dikendalikan, jika komponen penopang negara kacau, maka Negara secara keseluruhan pun bakal kacau.[/font][/size]
    [size=medium][font=Arial, sans-serif] [/font][/size]
    [size=medium][font=Arial, sans-serif]Sasaran intelijen asing adalah orang gila harta, gila kekuasaan, gila jabatan, para pendendam, suka bersenang-senang, suka kemewahan. Cara memprospek bagaimana? Apakah langsung dikasih duit dan dikasih janji-janji? Tentulah cara nya tidaklah demikian, sebagai contoh memprospek politikus komunis “Dengar aja si komunis bicara soal sosialis dengan menggebu2, si agen cukup bilang : sangat setuju dan mendukung anda, saya yakin jika partai komunis dipimpin saudara maka partai komunis bakal maju dan rakyat bakal makmur sejahtera” [/font][/size]
    [size=medium][font=Arial, sans-serif] [/font][/size]
    [size=medium][font=Arial, sans-serif]Doktrin Agen rahasia, semua boleh dilakukan asal jangan sampai dia ketahui sebagai agen, jika sampai diketahui maka misi nya gagal, berbeda dengan slogan pasukan penyerbu musuh, pasukan perang akan disebut gagal jika tidak berhasil mengalahkan dan menaklukkan musuh nya. Sebenar nya doktrin inilah menjadikan kelemahan bagi Negara yang menjadikan dia sebagai agen rahasia, karena agen rahasia tidak boleh mengakui sebagai agen rahasia dari suatu Negara yang member perintah pada nya dan Negara tsb juga biasanya tidak mengakui kalau dia sebagai agen rahasia mereka, karena kemungkinan hal tersebut, dia akan dijadikan agen rahasia Negara lain karena suatu kebutuhan, jadi hampir semua agen rahasia biasanya merupakan agen rahasia ganda juga. [/font][/size]
    [size=medium][font=Arial, sans-serif] [/font][/size]
    [size=medium][font=Arial, sans-serif]Van Der Plas adalah warga negara Belanda, belanda menganut system negara kerajaan yang menjunjung nilai loyalitas berbentuk kesatuan, tapi model strategi dari Van Der Plas cenderung bergaya inggris dengan intelijen MI 6, itu dilihat dari kebijaksanaan belanda saat perjanjian dengan Indonesia dan bukti tertentu seperti :[/font][/size]
    [size=medium][font=Arial, sans-serif] [/font][/size]
    [size=medium][font=Arial, sans-serif]1.   Pelemahan kekuasaan (Model Belanda tebang habis)[/font][/size]
    [size=medium][font=Arial, sans-serif]2.   Pembagian wilayah (Seperti Irlandia utara)[/font][/size]
    [size=medium][font=Arial, sans-serif]3.   Dokumen dewan Jendral dari kedutaan Inggris[/font][/size]
    [size=medium][font=Arial, sans-serif] [/font][/size]
    [size=medium][font=Arial, sans-serif]Inggris lebih berkepentingan karena berdekatan dengan negara boneka mereka yakni Australia, Singapura dan Malaysia, walau tidak menutup kemungkinan CIA ikut bermain dalam permainan Van Der Plas karena ketakutan ada nya partai komunis di Indonesia, walau bisa  saja tokoh2 komunis di Indonesia sebenar nya masih dalam kendali Van Der Plas, bukan dibawah kendali Sovyet ataupun RRC karena permintaan konfrontasi ke Sovyet selalu ditolak bahkan dimarahi.[/font][/size]
    [size=medium][font=Arial, sans-serif] [/font][/size]
    [size=medium][font=Arial, sans-serif]Penyusupan Pada Ormas Agama[/font][/size]
    [size=medium][font=Arial, sans-serif] [/font][/size]
    [size=medium][font=Arial, sans-serif]Banyak yang disusupi oleh intelijen asing ini termasuk beberapa tokoh agama seperti Syaikh Ahmad Surkati, beliau adalah pendiri Al Irsyad. Van der plas berkunjung alasannya mau belajar agama Islam, tentunya karena alasan tsb akan diterima dgn tangan terbuka, waktu berkunjung semakin rutin dalam pengkajian suatu fiqh, bagi van der plas membaca dan berbicara bahasa arab sangatlah fasih karena sudah pernah lama di Saudi, dan akhir nya menceritakan soal Snouck Hurgronje ahli strategi yg menyamar sebagai ulama saat perang aceh, dia adalah teman lama Syaikh Ahmad Surkati saat belum berangkat ke aceh.[/font][/size]
    [size=medium][font=Arial, sans-serif] [/font][/size]
    [size=medium][font=Arial, sans-serif]Syaikh Ahmad Surkati akhirnya dijadikan guru agama van der plas dan dewan fatwa saat itu, kalau sekarang kayak MUI, beliau satu guru dengan KH Ahmad Dahlan saat belajar dengan Muhammad Abduh di mesir. Pendiri al irsyad ini menjabat menjabat sebagai Ajun Advisor di sebuah kantor pemerintah kolonial Belanda.[/font][/size]
    [size=medium][font=Arial, sans-serif] [/font][/size]
    [size=medium][font=Arial, sans-serif]Kenapa pihak asing perlu mendekati para ulama? karena ulamalah pemberi motivasi penyemangat pada rakyat untuk berjuang berjihad melawan kedzaliman, maka nya perlu dibikin lemah baik dgn cara halus ataupun cara kasar. Hal ini di alami sama KH Hasyim Asy’ari yang mecetuskan resolusi JIHAD melawan penjajah pada 22 Oktober 1945, sehingga mengobarkan semangat 10 Nopember 1945 di surabaya melawan sekutu. [/font][/size]
    [size=medium][font=Arial, sans-serif] [/font][/size]
    [size=medium][font=Arial, sans-serif]Pelemah ulama juga dilakukan terhadap KH Ahmad Dahlan, selaku pendiri ormas Muhammadiyah yang waktu itu berkembang menjadi perkumpulan Islam yg besar dan semakin tertarik ke pusat pusaran politik seperti halnya Syarikat Islam/SI, cukup membuat khawatir gubernemen di Batavia, Posisi gubernemen sendiri cukup terjepit saat itu, yang menghadapi gelombang pergerakan politik etis serta tuntutan balas budi kepada kaum pribumi dari kaum demokrat liberal di dalam negeri Belanda.[/font][/size]
    [size=medium][font=Arial, sans-serif] [/font][/size]
    [size=medium][font=Arial, sans-serif]Pemerintah kolonial di Batavia tentunya tidak pengin punya 2 lawan yg besar sekaligus. Berkali kali mereka mencoba untuk melancarkan pembunuhan terhadap KH. Ahmad dahlan, namun selalu gagal karena sang kiyai selalu dijaga ketat dan dikelilingi oleh jemaahnya. Oleh karena itu maka Van der plas seorang orientalis dan disinyalir juga sebagai agen MI-6 yg bekerja untuk gubernemen Hindia Belanda segera merancang sebuah plot untuk "menjinakkan" Muhammadiyah dari dalam.

    Tersebutlah seorang pemuda asal Aceh bernama Muhammad Basya dahlan, seorang yg dibina langsung oleh Van der plass untuk menyusup ke dalam tubuh Muhammadiyah. Muhammad basya dahlan lalu dikirim oleh Van der plas ke Saudi arabia, pusat gerakan Wahabi yg pemerintahannya disokong penuh oleh pemerintah Inggris dan gerakan Zionis-Freemasonry dunia.

    Disana dia mempelajari gerakan dan faham wahabi langsung dari para masyaikh masyaikhnya di Najd dan kembali ke Indonesia untuk meniti karier keorganisasian di perkumpulan Muhammadiyah. Van der plas dengan sokongan penuh gubernemen menggelontorkan uang jutaan gulden untuk mengantarkan Muhammad basya ke posisi penting di dalam strata kepengurusan Muhammadiyah.

    Setelah berhasil mulailah dia melancarkan aksinya menebar racun faham wahabi di tubuh perkumpulan tersebut dan mencetak kader kader muda Muhammadiyah yg berfaham wahabi. Dan ketika posisi Muhammad basya dahlan ini semakin kuat di dalam perkumpulan atas dukungan kader kader muda, maka KH. Ahmad dahlan sampai terpaksa harus menyingkir ke pelosok lereng gunung merapi untuk menghindari kejaran dan bentrokan dengan Muhammad basya dahlan serta pengikutnya yg berfahaman keras wahabi. Kelompok kecil KH. Ahmad dahlan yg menyingkir inilah yg kemudian disebut sebagai "Muhammadiyah dalam".

    Dengan demikian berhasil lah Van der plas dengan gilang gemilang memecah dan mengendalikan serta merubah haluan Muhammadiyah dari dalam, seperti halnya juga Syarikat Islam yg berhasil dipecah belahnya menjadi Syarikat Islam merah dan Syarikat Islam putih.

    [/font][/size]
    [size=medium][font=Arial, sans-serif] [/font][/size]
    [size=medium][font=Arial, sans-serif]to be continue ... [/font][/size]
    [size=medium][font=Arial, sans-serif]akan dilanjut lagi lain waktu[/font][/size]
  • Akang e....
    Kok gak dilanjut sih....
    Ane jadi penasaran juga....
    Apa ada indikasi keterlibatan pihak asing atau kagak.
    Terimakasih
  • Sabar yaa mas ......... lagi ngurus kerjaan hehe 

    :good:
  • [size=small][font=Tahoma, sans-serif] G 30 S PKI tragedi yang menyedihkan ... [/font][/size]
  • dimengertiaja menulis:
    [size=small][font=Tahoma, sans-serif] G 30 S PKI tragedi yang menyedihkan ... [/font][/size]
    Begitulah ......
  • Mamba menulis:
    Sabar yaa mas ......... lagi ngurus kerjaan hehe 

    :good:

    Ditunggu versi unknown nya :)
    never feel bother....
  • Ditunggu lanjutannya :top:
    never feel bother....
  • Konspirasi lagi dah....
    Negeri konspirasi
    :D
    Terimakasih
  • [size=medium]D.N. AIDIT
    [/size]

    [size=medium]Dipa Nusantara Aidit[/size][size=medium] yang lebih dikenal dengan D.N. Aidit ( lahir di Tanjung Pandan, Belitung, 30 Juli 1923 – meninggal di Boyolali, Jawa tengah , 22 November 65  pada umur 42 tahun) adalah seorang pemimpin senior Partai Komunis Indonesia (PKI). Lahir dengan nama Ahmad Aidit di Belitung , ia akrab dipanggil "Amat" oleh orang-orang yang akrab dengannya. Aidit mendapat pendidikan dalam sistem kolonial Belanda.

    Ayahnya, Abdullah Aidit, ikut serta memimpin gerakan pemuda di Belitung dalam melawan kekuasaan kolonial Belanda, dan setelah merdeka sempat menjadi anggota DPR (Sementara) mewakili rakyat Belitung. Abdullah Aidit juga pernah mendirikan sebuah perkumpulan keagamaan, "Nurul Islam", yang berorientasi kepada Muhammadiyah, Keluarga Aidit berasal-usul dari Maninjau, Agam, Sumatra Barat
    [/size]
    [size=medium]Abdullah Aidit, adalah mantri kehutanan, jabatan yang cukup terpandang di Belitung ketika itu. Ibunya, Mailan, lahir dari keluarga ningrat. Ayah Mailan seorang tuan tanah. Orang-orang Belitung menyebut luas tanah keluarga ini dengan ujung jari: sejauh jari menunjuk itulah tanah mereka. Adapun Abdullah Aidit adalah anak Haji Ismail, pengusaha ikan yang cukup berhasil.[/size]
    [size=medium]
    Dari Belitung, Aidit berangkat ke Jakarta, dan pada 1940 , ia mendirikan perpustakaan "Antara" di daerah Tanah Tinggi, Senen, Jakarta Pusat. Kemudian ia masuk ke Sekolah Dagang ("Handelsschool"). Ia belajar teori politik Marxis melalui Perhimpunan Demokratik Sosial Hindia Belanda (yang belakangan berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia ).
    [/size]
    [size=medium]
    Dalam aktivitas politiknya itu pula ia mulai berkenalan dengan orang-orang yang kelak memainkan peranan penting dalam politik Indonesia, seperti Bung Karno, Bung Hatta, Adam Malik, Chaerul Saleh dan M Yamin.
    [/size]
    [size=medium]Menurut sejumlah temannya, Hatta mulanya menaruh banyak harapan dan kepercayaan kepadanya, dan Achmad menjadi anak didik kesayangan Hatta. Namun belakangan mereka berseberangan jalan dari segi ideologi politiknya.
    [/size]
    [size=medium]Di balik karier politiknya yang mulai menjulang, Aidit seperti mencoba mengibaskan bayang-bayang keluarga dan masa lalunya di Belitung. Ketika Murad berkali-kali meminta bantuan finansial, misalnya, Aidit selalu menolak. Suatu kali Aidit bahkan berujar bahwa persamaan di antara mereka hanyalah faktor kebetulan, karena dilahirkan dari ibu dan bapak yang sama. "Selebihnya, tak ada hubungan apa pun di antara kita," katanya.
    [/size]
    [size=medium]Sekitar masa-masa itulah Achmad Aidit memutuskan berganti nama. Dia memilih nama Dipa Nusantara biasa disingkat D.N. Menurut adik-adiknya, pergantian nama itu lebih dipicu perhitungan politik Aidit. "Dia mulai membaca risiko," kata Murad.

    Sejak namanya berubah itu memang tak banyak orang yang tahu asal-usul Aidit. Dia sering disebut-sebut berdarah Minangkabau, dan D.N. di depan namanya adalah singkatan "Djafar Nawawi." Proses perubahan nama itu juga tak mudah.
    [/size]
    [size=medium]Abdullah, ayah Aidit, tak bisa dengan segera menerima gagasan anaknya. Di depan anak-anaknya, Abdullah mengaku tidak bisa menerima rencana pergantian nama itu karena nama Achmad Aidit sudah kadung tercetak di slip gajinya sebagai putra sulung keluarga itu. Akan muncul banyak persoalan jika nama itu mendadak lenyap dari daftar keluarga. [/size]
    [size=medium] [/size]
    [size=medium]Abdullah dan Aidit bersurat-suratan beberapa kali, akhirnya Abdullah menyerah. Ayah dan anak itu sepakat, nama D.N. Aidit baru akan dipakai jika sudah ada pengesahan dari notaris dan kantor Burgelijske Stand atau catatan sipil. [/size]
    [size=medium]
    Meskipun ia seorang Marxis dan anggota Komunis Internasional (Komintern), Aidit menunjukkan dukungan terhadap paham Marhaenis Soekarnois dan membiarkan partainya berkembang tanpa menunjukkan keinginan untuk merebut kekuasaan.
    [/size]
    [size=medium]Sebagai balasan atas dukungannya terhadap Sukarno, ia berhasil menjadi Sekjen PKI, dan belakangan Ketua. Di bawah kepemimpinannya, PKI menjadi partai komunis ketiga terbesar di dunia, setelah Uni Sovyet dan RRC, Ia mengembangkan sejumlah program untuk berbagai kelompok masyarakat, seperti Pemuda Rakyat, Gerwani, Barisan Tani Indonesia (BTI), lekra dan lain-lain.

    Ia terlibat pemberontakan PKI di Madiun, 1948, Usianya baru 25 tahun. Saat itu
    [/size][size=medium]Aidit menjabat koordinator seksi perburuhan partai, [/size][size=medium]Setelah pemberontakan PKI Madiun itu, [/size][size=medium]Pasca pemberontakan yang gagal itu, ia sempat dijebloskan ke penjara Wirogunan, Yogya.

    Ketika terjadi agresi Belanda, ia kabur dari penjara,
    [/size][size=medium]ia raib tak tentu rimba. Sebagian orang mengatakan ia kabur ke Vietnam Utara, sedangkan yang lain mengatakan ia bolak-balik Jakarta-Medan, kabar yang lain pergi ke Beijing, bahkan ada yang bilang dia bersembunyi di Jakarta, Dua tahun kemudian, dia "muncul" kembali.
    [/size]
    [size=medium]Ini fase penting sekaligus genting bagi karier politik Aidit. Aksi massa revolusioner di lapangan berujung getir. Mayoritas pimpinan partai tertangkap, lalu dihukum tembak. Menurut Suripno, seorang pentolan partai yang berakhir di ujung bedil, gerakan gagal karena sepi dukungan rakyat. Layu dalam dua pekan.
    [/size]
    [size=medium]Pengalaman itu terasa semakin pahit bagi Aidit. Mentor yang digugu, Muso, tewas ditembak tentara. Sempat tertangkap di Yogyakarta, Aidit cukup beruntung lepas karena tak dikenali. Belakangan, setelah jadi Ketua Comite Central PKI, Aidit menyebut peristiwa itu sekedar "permainan anak-anak" (kinderspel). Ia menuduh Mohammad Hatta, perdana menteri saat itu, sebagai pihak yang memprovokasi. Amerika Serikat dicurigai di belakang pemerintah untuk melawan "bahaya merah."
    [/size]
    [size=medium]Dari Yogyakarta, Aidit "hijrah" ke Jakarta, dan dikabarkan kabur ke Beijing, Cina. Namun, menurut buku karangan Murad Aidit, sang abang bersembunyi di daerah pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Ia memakai nama samaran Ganda.
    [/size]
    [size=medium]Bergerak dalam senyap, bersama beberapa yang tersisa, Aidit mencoba membangun kembali partai yang terserak. Aidit masih setia pada ide Muso. Lewat penerbitan Bintang Merah, ia menyebarkan lagi paham revolusioner dan anti-imperialis. Ia kerap mencantumkan nama "Alamputra" di bawah tulisannya. [/size]
    [size=medium] [/size]
    [size=medium]Pada pertengahan 1950, Aidit, yang saat itu berusia 27 tahun "muncul" lagi. Bersama M.H. Lukman, 30 tahun, Sudisman, 30 tahun, dan Njoto, 23 tahun, ia memindahkan kantor PKI dari Yogyakarta ke Jakarta. Bisa dibilang, dalam kurun waktu inilah karier politik Aidit sesungguhnya dimulai.
    [/size]
    [size=medium]Momentum konsolidasi partai terjadi ketika meletus kerusuhan petani di Tanjung Morawa, Sumatera Utara, 6 Juni 1953. Kerusuhan yang digerakkan kader PKI itu menjatuhkan kabinet Wilopo. Kesuksesan ini memompa semangat baru ke tubuh partai tersebut. Bersama "kelompok muda" partai, Aidit menyingkirkan tokoh-tokoh lama partai. Pada Kongres PKI 1954, pengurus PKI beralih ke generasi muda.

    Tokoh partai semacam Tan Ling Djie dan Alimin disingkirkan. Pada kongres itu, Aidit dikukuhkan menjadi Sekretaris Jenderal PKI. Aidit lantas meluncurkan dokumen perjuangan partai berjudul "Jalan Baru Yang Harus Ditempuh Untuk Memenangkan Revolusi."
    [/size]
    [size=medium]
    Aidit juga membangun aliansi kekuatan dengan Partai Nasional Indonesia (PNI) untuk memperkuat PKI. PNI dipilih karena, selain sama-sama anti-Barat, juga ada figur Soekarno yang bisa dipakai mengatasi tekanan lawan-lawan politik mereka. Puncak kerjasama terjadi pada masa Sidik Djojosukarto memimpin PNI. Saat itu disepakati bahwa PNI tidak akan mengganggu PKI dalam rangka membangun partai.
    [/size]
    [size=medium]
    Menurut Ganis Harsono, seorang diplomat senior Indonesia dalam otobiografinya, Cakrawala Politik Era Soekarno, strategi ini berhasil "menyandera" Bung Karno. Ada kesan bahwa Bung Karno berdiri di depan PKI, sekaligus memberi citra PKI pendukung revolusi Bung Karno dan Pancasila.
    [/size]
    [size=medium]
    Kerja keras Aidit membuahkan hasil. Pada Pemilu 1955, PKI masuk "empat besar" setelah PNI, Masyumi, dan Nahdlatul Ulama. Di masa ini PKI menjadi partai komunis terbesar di negara non-komunis dan partai komunis terbesar ketiga di dunia setelah Rusia dan Cina.
    [/size]
    [size=medium]PKI terus maju. Pada tahun itu juga partai ini menerbitkan dokumen perjuangan "Metode Kombinasi Tiga Bentuk Perjuangan." Bentuk pertama, perjuangan gerilya di desa-desa oleh kaum buruh dan petani. Kedua, perjuangan revolusioner oleh kaum buruh di kota-kota, terutama kaum buruh di bidang transportasi. Ketiga, pembinaan intensif di kalangan kekuatan bersenjata, yakni TNI.
    [/size]
    [size=medium]Pada 1964, PKI membentuk Biro Khusus yang langsung dibawahi Aidit sebagai Ketua Committee Central PKI. Tugas biro ini mematangkan situasi untuk merebut kekuasaan dan infiltrasi ke tubuh TNI. Biro Chusus Central (demikian namanya) dipimpin Sjam Kamaruzzaman. Tak sampai setahun, Biro Chusus berhasil menyelusup ke dalam TNI, khususnya Angkatan Darat. [/size]
    [size=medium]
    Pada Juli 1965, seiring dengan merebaknya kabar kesehatan Bung Karno memburuk, suhu politik Tanah Air makin panas pula. Sebuah berita dari dokter RRC yang merawat Presiden datang: Bung Karno akan lumpuh atau meninggal dunia. Di Jakarta bertiup rumor menyengat, muncul Dewan Jenderal yang hendak menggulingkan Bung Karno.
    [/size]
    [size=medium]Sjam mengaku dipanggil Aidit pada 12 Agustus 1965. Dalam pertemuan itu, ia diberi tahu bahwa Presiden sakit dan adanya kemungkinan Dewan Jenderal mengambil tindakan bila Bung Karno mangkat. Menurut Sjam, Aidit memerintahkan dia meninjau "kekuatan kita." Sejak 6 September 1965, Sjam lantas menggelar rapat-rapat di rumahnya dan di rumah Kolonel A. Latief (Komandan Brigade Infanteri I Kodam Jaya). Di rapat ini hadir Letnan Kolonel Untung (Komandan Batalyon I Kawal Kehormatan Resimen Cakrabirawa) dan Mayor Udara Sudjono (Komandan Pasukan Pengawal Pangkalan Halim Perdanakusumah). Rapat terakhir, 29 September 1965, menyepakati gerakan dimulai 30 September 1965 dengan Untung sebagai pemimpinnya.

    [/size]
    [size=medium] [/size]
    Berlanjut ...........
  • [size=medium][size=medium]AH Nasution
    [/size]

    Wakil Panglima TKR. Meskipun hanya berpangkat Kolonel penunjukan ini membuat Nasution menjadi orang paling kuat kedua di TKR, setelah Jenderal Soedirman.

    Nasution dilahirkan di Desa Hutapungkut, Kotanopan, Mandailing Natal, Sumatera Utara, dari keluarga Batak muslim, Ia adalah anak kedua dan juga merupakan putra tertua dalam keluarganya. Ayahnya adalah seorang pedagang yang menjual tekstil, karet dan kopi, dan merupakan anggota dari organisasi Sarekat Islam. Ayahnya, yang sangat religius, ingin anaknya untuk belajar di sekolah agama, sementara ibunya ingin dia belajar kedokteran di Batavia. Namun, setelah lulus dari sekolah pada tahun 1932, Nasution menerima beasiswa untuk belajar mengajar di Bukit Tinggi.

    Pada tahun 1935 Nasution pindah ke bandung utuk melanjutkan studi, di sana ia tinggal selama tiga tahun. Keinginannya untuk menjadi guru secara bertahap memudar saat minatnya dalam politik tumbuh. Dia diam-diam membeli buku yang ditulis oleh Soekarno dan membacanya dengan teman-temannya. Setelah lulus pada tahun 1937, Nasution kembali ke Sumatera dan mengajar di Bengkulu ia tinggal di dekat rumah pengasingan Soekarno. Dia kadang-kadang berbicara dengan Soekarno, dan mendengarnya berpidato. Setahun kemudian Nasution pindah ke tanjung raja, dekat Palembang,  di mana ia melanjutkan mengajar, namun ia menjadi lebih dan lebih tertarik pada politik dan militer.

    Pada tahun 1940, Jerman mengalahkan belanda dan pemerintah belanda membentuk korps perwira cadangan yang menerima orang Indonesia. Nasution kemudian bergabung, karena ini adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan pelatihan militer. Seiring dengan beberapa orang Indonesia lainnya, ia dikirim ke Akademi Militer Bandung untuk pelatihan. Pada bulan September 1940 ia dipromosikan menjadi kopral, tiga bulan kemudian menjadi sersan. Dia kemudian menjadi seorang perwira di Koninklijk Nederlands Indische Leger(KNIL)

    Pada tahun 1942 Jepang menyerbu Indonesia. Pada saat itu, Nasution di surabaya ditempatkan di sana untuk mempertahankan pelabuhan. Nasution kemudian menemukan jalan kembali ke Bandung dan bersembunyi, karena ia takut ditangkap oleh Jepang Namun, ia kemudian membantu milisi PETA  yang dibentuk oleh penjajah Jepang dengan membawa pesan, tetapi tidak benar-benar menjadi anggota.

    [/size]
    [size=medium][size=medium] [/size][/size]
    [size=medium][size=medium]Divisi Siliwangi[/size][/size]
    [size=medium]Setelah Sukarno memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Nasution bergabung dengan militer Indonesia yang kemudian dikenal sebagai Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Pada bulan Mei 1946, ia diangkat Panglima Regional Divisi Siliwangi yang memelihara keamanan Jawa Barat. Dalam posisi ini, Nasution mengembangkan teori perang teritorial yang akan menjadi doktrin pertahanan Tentara Nasional Indonesia pada masa depan.
    [/size]
    [size=medium]Pada bulan Januari 1948, Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Belanda menandatangani Perjanjian Renville membagi Jawa antara daerah yang dikuasai Belanda dan Indonesia. Karena wilayah yang diduduki oleh Belanda termasuk Jawa barat Nasution dipaksa untuk memimpin Divisi Siliwangi menyeberang ke Jwa Tengah.[/size]
    [size=medium][size=medium] [/size][/size]
    [size=medium][size=medium]Wakil Panglima[/size][/size]
    [size=medium]Pada 1948 Nasution naik ke posisi Wakil Panglima TKR. Meskipun hanya berpangkat Kolonel, penunjukan ini membuat Nasution menjadi orang paling kuat kedua di TKR, setelah Jenderal Soedirman , Nasution segera pergi untuk bekerja dalam peran barunya. Pada bulan April, ia membantu Soedirman mereorganisasi struktur pasukan. Pada bulan Juni, pada sebuah pertemuan, saran Nasution bahwa TKR harus melakukan perang gerilya melawan Belanda disetujui.
    [/size]
    [size=medium]Pada bulan September 1948 saat Pemderontakan PKI Madiun di yang dilakukan oleh mantan Perdana menteri Amir Syarifudin dan Musso dari PKI. Setelah ada kabar sampai ke Markas TKR di Jogyakarta, segera diadakan pertemuan antara perwira militer senior. Soedirman sangat ingin menghindari kekerasan dan ingin negosiasi dilakukan.
    [/size]
    [size=medium]Soedirman kemudian menugaskan Letkol Soeharto untuk menegosiasikan kesepakatan dengan komunis, Setelah melakukan perjalanannya, Soeharto kembali ke Nasution dan Soedirman untuk melaporkan bahwa segala sesuatu tampak damai. Nasution tidak percaya laporan ini sementara Soedirman sedang sakit. Nasution sebagai Wakil Panglima kemudian memutuskan tindakan keras, mengirim pasukan untuk mengakhiri pemberontakan komunis di sana.[/size]
    [size=medium]Pada 30 September, Madiun diambil alih oleh pasukan republik dari Divisi Siliwangi, Ribuan anggota partai komunis tewas dan 36.000 lainnya dipenjara. Di antara yang terbunuh adalah Musso pada 31 Oktober, terbunuh ketika mencoba melarikan diri. DN Aidit sempat ditahan di Jogya tapi akhir nya Lepas saat penyerbuan tentara belanda di Jogya.
    [/size]
    [size=medium]Pada 19 Desember 1948, Belanda melancarkan serangan di Yogyakarta dan kemudian mendudukinya. Nasution, bersama-sama dengan TKR dan para komandan lainnya, mundur ke pedesaan untuk melawan dengan taktik perang gerilya. Presiden Soekarno dan Wakil Presiden M Hatta ditawan Belanda, Akhir nya dibentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) didirikan di Sumatera.
    [/size]
    [size=medium]Dalam pemerintahan sementara ini, Nasution diberikan posisi Komandan Angkatan Darat dan Teritorial Jawa. Setelah pengakuan Belanda atas kemerdekaan Indonesia, PDRI mngembalikan kekuasaan kepada Soekarno dan Hatta, dan Nasution kembali ke posisinya sebagai Wakil Panglima Soedirman.[/size]
    [size=medium] [/size]
    [size=medium]Periode pertama sebagai KSAD[/size]
    [size=medium]Pada tahun 1950, Nasution mengambil posisinya sebagai Kepala Staf Angkatan Darat, dengan T.B. Simatupang, menggantikan Soedirman yang telah meninggal dunia sebagai Kepala Staf Angkatan Perang.
    [/size]
    [size=medium]Pada tahun 1952, Nasution dan Simatupang memutuskan untuk mengadopsi kebijakan restrukturisasi dan reorganisasi untuk ABRI, Dalam pengaturan ini, Nasution dan Simatupang berharap untuk menciptakan tentara yang lebih kecil tetapi yang lebih modern dan professional. Nasution dan Simatupang, yang keduanya telah dilatih oleh pemerintah kolonial Belanda ingin melepaskan para prajurit yang dilatih oleh Jepang dan mengintegrasikan lebih banyak tentara yang dilatih oleh Belanda. Pasukan yang dilatih oleh Jepang, yang dipimpin oleh Bambang Supeno, menentang kebijakan ini.
    [/size]
    [size=medium]Dalam mengadopsi kebijakan mereka, Nasution (KSAD) dan TB Simatupang (Kepala Staf Angkatan Perang) mendapat dukungan dari Perdana Menteri Wilopo dan Menteri Pertahanan Hamengku Buwono IX, Namun Supeno berhasil menemukan dukungan dari kalangan partai oposisi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Para anggota DPR kemudian mulai membuat perbedaan pendapat mereka tentang restrukturisasi ABRI. Nasution dan Simatupang tidak senang melihat apa yang mereka anggap sebagai campur tangan urusan militer oleh warga sipil.

    [/size]
    [size=medium]Peristiwa 17 Oktober 1952[/size]
    [size=medium]Pada 17 Oktober 1952, AH Nasution (KSAD) dan TB Simatupang (Kepala Staf Angkatan Perang) [size=medium]memobilisasi pasukan[/size] mereka dalam unjuk kekuatan. Memprotes campur tangan sipil dalam urusan militer, pasukan Nasution dan Simatupang mengelilingi Istana Presiden dan mengarahkan moncong meriam ke Istana. Permintaan mereka ke Soekarno adalah mengajukan tuntutan pembubaran DPR Untuk alasan ini, Nasution dan Simatupang juga memobilisasi demonstran sipil. Soekarno keluar dari Istana Kepresidenan dan meyakinkan baik tentara dan warga sipil untuk pulang. Nasution dan Simatupang telah dikalahkan.
    [/size]
    [size=medium]Nasution dan Simatupang kemudian diperiksa oleh Jaksa Agung Suprapto, Pada bulan Desember 1952, mereka berdua kehilangan posisi mereka di ABRI dan diberhentikan dari ikatan dinas.
    [/size]
    [size=medium]Periode kedua sebagai KSAD[/size]
    [size=medium]Pada 27 Oktober 1955, setelah tiga tahun pengasingan, Nasution diangkat kembali ke posisi lamanya sebagai Kepala Staf Angkatan Darat, Dia segera mulai bekerja pada angkatan darat dan strukturnya dengan mengadopsi pendekatan tiga kali lipat,
    [/size]
    [size=medium]Pendekatan pertama adalah untuk merumuskan sistem tur tugas, sehingga perwira bisa ditempatkan di seluruh negeri dan mendapatkan pengalaman. Pendekatan ini juga akan menghasilkan perwira militer yang lebih profesional, bukannya merasa ikatan pribadi dan loyalitas ke provinsi dan daerah dari mana mereka berasal.
    [/size]
    [size=medium]Pendekatan kedua Nasution adalah untuk memusatkan pelatihan militer. Semua metode pelatihan pasukan sekarang akan seragam, bukan komandan daerah yang menyiapkan metode pelatihan pasukan mereka sendiri.
    [/size]
    [size=medium]Pendekatan ketiga dan yang paling penting adalah untuk meningkatkan pengaruh militer dan kekuatan sehingga mampu mengurus dirinya sendiri, bukan mengandalkan keputusan sipil. Nasution tidak memiliki masalah menerapkan dua pendekatan pertama, tetapi ia harus menunggu untuk menerapkan pendekatan ketiga.[/size]
    [size=medium] [/size]
    [size=medium]Selama perjuangan kemerdekaan, Soekarno selalu menganggap Irian Barat juga termasuk sebagai Indonesia. Ketika Belanda akhirnya mengakui kemerdekaan Indonesia, Irian Barat terus menjadi koloni Belanda. Soekarno tidak menyerah dan terus mendorong Irian Barat harus dimasukkan sebagai bagian dari Indonesia melalui PBB dan melalui Konferensi Asia–Afrika, di mana negara-negara yang hadir berjanji untuk mendukung klaim Indonesia. Belanda tetap terus bersikeras. Pada tahun 1960, Soekarno sudah kehabisan kesabaran. Pada bulan Juli, ia bertemu dengan penasihat utamanya, termasuk Nasution, dan disepakati bahwa Indonesia akan mengejar kebijakan konfrontasi melawan Belanda pada masalah Irian Barat.
    [/size]
    [size=medium]Sebagai bagian dari persiapan untuk operasi ini, Nasution mempercayakan pada Soeharto, yang telah menyelesaikan kursus Seskoad pada bulan November 1960. Soeharto, sekarang seorang brigadir jenderal, ditugaskan oleh Nasution untuk membuat unit kekuatan strategis yang akan siaga, siap ketika dipanggil untuk melakukan tindakan setiap saat. Soeharto ditempatkan bertugas di gugus tugas ini dan pada bulan Maret 1961, Cadangan Umum Angkatan Darat (Caduad) dibentuk, dengan Soeharto diangkat sebagai panglimanya. Caduad pada tahun 1963 berubah nama menjadi Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad).[/size]
    [size=medium] [/size]
    [size=medium]Rivalitas dengan PKI[/size]
    [size=medium]Nasution mewaspadai pengaruh PKI atas Soekarno dan pada gilirannya, Soekarno menyadari bahwa Nasution tidak senang tentang pengaruh PKI dan mengambil langkah untuk melemahkan kekuasaannya. Pada bulan Juli 1962, Soekarno mereorganisasi struktur ABRI. Status kepala cabang Angkatan Bersenjata sekarang akan ditingkatkan dari kepala staf menjadi panglima. Sebagai panglima, kepala cabang angkatan bersenjata akan memiliki kekuatan lebih dan hanya akan menjawab untuk Soekarno sebagai Panglima Tertinggi ABRI. Yang membantu Soekarno sebagai Panglima Tertinggi ABRI adalah kepala staf ABRI.
    [/size]
    [size=medium]Soekarno menunjuk Nasution untuk posisi kepala staf ABRI dan menunjuk Yani sebagai panglima angkatan darat. Dengan melakukan ini, Soekarno menurunkan kekuatan Nasution, sebagai kepala staf ABRI, ia hanya bertanggung jawab untuk hal-hal administratif saja dan tanpa pasukan.
    [/size]
    [size=medium]Sekarang dalam posisi tak berdaya, Nasution mulai memikirkan cara lain untuk menghentikan momentum PKI. Saat yang tepat datang pada Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) pada Mei 1963. Nasution dan Partai Nasional Indonesia (PNI) serta anggota TNI yang hadir mengajukan mosi bahwa Soekarno ditunjuk sebagai presiden seumur hidup, Alasan di balik ini adalah bahwa dengan ditunjuknya Soekarno sebagai presiden seumur hidup, maka tidak akan ada pemilu, dan tanpa pemilu, PKI tidak akan bisa berkuasa. tidak peduli berapa banyak partai tumbuh. Akhirnya, Soekarno menjadi presiden seumur hidup.[/size]
    [size=medium] [/size]
    [size=medium] [/size]


    [size=medium]Soeharto ...........
    [/size]
  • lanjutannya lagi, si Sjam dan Aidit akhirnya gimana?
    Lalu si Kolonel Untung yg apes? dimanfaatin Aidit?
    never feel bother....
  • Adimin Baik menulis:
    lanjutannya lagi, si Sjam dan Aidit akhirnya gimana?
    Lalu si Kolonel Untung yg apes? dimanfaatin Aidit?


    Kelanjutan Si Sjam dan Aidit sebenar nya tidak menarik krn sudah pada tahu ...
    Yang menarik itu ada Soebandrio yg dibelakang nya ada Van der plas, intelijen ceko dan inggris sehingga PKI kalang kabut, sampai seorang Sjam yg cuma sipil penghubung ke militer dijadikan anilis komando perang, tentu aja jadi kacau ...

    Mereka pikir hanya cukup tentara banyak, senjata banyak bakal menang, tidak dipikir utk logistik makanan, logistik dana, logistik amunisi, senjata berat sehingga mereka jadi kacau dan menyerah.

    Pergerakan Letkol untung yg keliru, ketika mau berangkat ada pertanyaan : "Gimana kalau mereka tidak mau diajak serta dan melawan?" saat itu dijawab sjam "Hidup atau mati" kenapa sampai bilang begitu krn mereka ketakutan bakal ditangkap "dewan jendral" saat 5 Oktober 1965
  • [size=medium][size=medium]Dalang-Dalang G30S PKI[/size]
    [/size]
    [size=medium][size=medium] [/size][/size]
    [size=medium][size=medium]Faktor – Faktor Penyebab Tragedi G30S

    [/size]
    [/size]
    [size=medium][size=medium]Faktor Malaysia[/size][/size]
    [size=medium]Negara Federasi Malaysia yang baru terbentuk pada tanggal 16 September 1963 adalah salah satu faktor penting penyebab ada nya insiden G30S PKI ini. Konfrontasi Indonesia-Malaysia merupakan salah satu penyebab kedekatan Presiden Soekarno dengan PKI, menjelaskan motivasi para tentara yang menggabungkan diri dalam gerakan G30S/Gestok (Gerakan Satu Oktober), dan juga pada akhirnya menyebabkan PKI melakukan penculikan petinggi Angkatan Darat.
    [/size]
    [size=medium]Soekarno yang murka karena hal itu mengutuk tindakan Tunku yang menginjak-injak lambang negara Indonesia dan ingin melakukan balas dendam dengan melancarkan gerakan yang terkenal dengan sebutan "Ganyang Malaysia" kepada negara Federasi Malaysia yang telah sangat menghina Indonesia dan presiden Indonesia.
    [/size]
    [size=medium]Perintah Soekarno kepada Angkatan Darat untuk meng"ganyang Malaysia" ditanggapi dengan dingin oleh para jenderal pada saat itu. Di satu pihak Letjen Ahmad Yani tidak ingin melawan Malaysia yang dibantu oleh Inggris dengan anggapan bahwa tentara Indonesia pada saat itu tidak memadai untuk peperangan dengan skala tersebut, sedangkan di pihak lain Kepala Staf TNI Angkatan Darat A.H. Nasution setuju dengan usulan Soekarno karena ia mengkhawatirkan isu Malaysia ini akan ditunggangi oleh PKI untuk memperkuat posisinya di percaturan politik di Indonesia.
    [/size]
    [size=medium]Di pihak PKI, mereka menjadi pendukung terbesar gerakan "ganyang Malaysia" yang mereka anggap sebagai antek Inggris, antek nekolim. PKI juga memanfaatkan kesempatan itu untuk keuntungan mereka sendiri, jadi motif PKI untuk mendukung kebijakan Soekarno tidak sepenuhnya idealis, Pada saat PKI memperoleh angin segar.
    [/size]
    [size=medium]Justru para penentangnyalah yang menghadapi keadaan yang buruk; mereka melihat posisi PKI yang semakin menguat sebagai suatu ancaman, ditambah hubungan internasional PKI dengan Partai Komunis sedunia, khususnya dengan adanya poros Jakarta-Beijing-Moskow-Pyongyang-Phnom Penh, Soekarno juga mengetahui hal ini, namun ia memutuskan untuk mendiamkannya karena ia masih ingin meminjam kekuatan PKI untuk konfrontasi yang sedang berlangsung, karena posisi Indonesia yang melemah di lingkungan internasional sejak keluarnya Indonesia dari PBB (20 Januari 1965).
    [/size]
    [size=medium][size=medium] [/size][/size]
    [size=medium][size=medium]Faktor Amerika Serikat[/size][/size]
    [size=medium]Amerika Serikat pada waktu itu sedang terlibat dalam perang Vietnam dan berusaha sekuat tenaga agar Indonesia tidak jatuh ke tangan komunisme. Peranan badan intelejen Amerika Serikat (CIA) pada peristiwa ini sebatas memberikan 50 juta rupiah (uang saat itu) kepada Adam Malik dan walkie-talkie serta obat-obatan kepada tentara Indonesia. Politisi Amerika pada bulan-bulan yang menentukan ini dihadapkan pada masalah yang membingungkan karena mereka merasa ditarik oleh Sukarno ke dalam konfrontasi Indonesia-Malaysia ini.
    [/size]
    [size=medium]Salah satu pandangan mengatakan bahwa peranan Amerika Serikat dalam hal ini tidak besar, hal ini dapat dilihat dari telegram Duta Besar Green ke Washington pada tanggal 8 Agusts 1965 yang mengeluhkan bahwa usahanya untuk melawan propaganda anti-Amerika di Indonesia tidak memberikan hasil bahkan tidak berguna sama sekali. Dalam telegram kepada Presiden Johnson tanggal 6 Oktober, agen CIA menyatakan ketidakpercayaan kepada tindakan PKI yang dirasa tidak masuk akal karena situasi politis Indonesia yang sangat menguntungkan mereka, dan hingga akhir Oktober masih terjadi kebingungan atas pembantaian di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali dilakukan oleh PKI
    [/size]
    [size=medium]Pandangan lain, terutama dari kalangan korban dari insiden ini, menyebutkan bahwa Amerika menjadi aktor di balik layar dan setelah dekrit Supersemar Amerika memberikan daftar nama-nama anggota PKI kepada militer untuk dibunuh. Namun hingga saat ini kedua pandangan tersebut tidak memiliki banyak bukti-bukti fisik.
    [/size]
    [size=medium] [/size]
    [size=medium][size=medium]Faktor ekonomi[/size][/size]
    [size=medium]Ekonomi masyarakat Indonesia pada waktu itu yang sangat rendah mengakibatkan dukungan rakyat kepada Soekarno (dan PKI) meluntur. Mereka tidak sepenuhnya menyetujui kebijakan "ganyang Malaysia" yang dianggap akan semakin memperparah keadaan Indonesia.
    [/size]
    [size=medium]Inflasi yang mencapai 650% membuat harga makanan melambung tinggi, rakyat kelaparan dan terpaksa harus antri beras, minyak, gula, dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Beberapa faktor yang berperan kenaikan harga ini adalah keputusan Suharto-Nasution untuk menaikkan gaji para tentara 500% dan penganiayaan terhadap kaum pedagang Tionghoa yang menyebabkan mereka kabur. Sebagai akibat dari inflasi tersebut, banyak rakyat Indonesia yang sehari-hari hanya makan bonggol pisang, umbi-umbian, gaplek, serta bahan makanan yang tidak layak dikonsumsi lainnya; pun mereka menggunakan kain dari karung sebagai pakaian mereka.
    [/size]
    [size=medium]Faktor ekonomi ini menjadi salah satu sebab kemarahan rakyat atas pembunuhan keenam jenderal tersebut, yang berakibat adanya backlash terhadap PKI dan pembantaian orang-orang yang dituduh anggota PKI di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali serta tempat-tempat lainnya.[/size]
    [size=medium] 
    [/size]
    [size=medium][size=medium]Perseteruan TNI VS PKI[/size][/size]
    [size=medium]Pada tahun 1963 saat Operasi Trikora di Irian Barat selesai, Aidit menuding Angkatan Darat memboroskan anggaran dan menyebabkan negara bangkrut, Saat itu kondisi perekonomian Indonesia memang morat-marit.

    Yani marah, dia membalas serangan Aidit. "Biar ada 10 Aidit pun tak akan bisa memperbaiki ekonomi kita," kata Yani seperti ditulis dalam buku Sejarah TNI Jilid III terbitan Pusjarah.

    Keduanya pun kembali terlibat seteru saat Aidit mengusulkan pembentukan angkatan kelima dimana buruh dan tani dipersenjatai. Aidit beralasan buruh dan tani akan dikerahkan untuk Dwikora menghadapi Malaysia dan serangan Nekolim. Yani menolaknya, tentu saja Angkatan Darat tak mau PKI punya kekuatan bersenjata yang sewaktu-waktu bisa digerakkan.

    "Kalau Nekolim menyerang, semua rakyat Indonesia akan dipersenjatai. Bukan hanya buruh dan tani," balas Yani.
    [/size]
    [size=medium]Tahun 1965 panas membara oleh gesekan politik Angkatan Darat dan Partai Komunis Indonesia. Sejumlah langkah politik PKI ditentang Angkatan Darat. Salah satu yang krusial adalah soal angkatan kelima, dimana PKI meminta buruh dan petani dipersenjatai untuk menghadapi konfrontasi dengan Malaysia.

    Selain itu PKI juga menginginkan ada komisariat politik dalam militer, seperti dalam negara-negara komunis. Panglima Angkatan Darat Letjen Ahmad Yani yang paling keras menentang usulan-usulan PKI ini.

    Yani makin marah saat terjadi peristiwa Bandar Betsy di Simalungun, Sumatera Utara. Ribuan petani menyerobot tanah milik Perusahaan Perkebunan Negara (PPN). Seorang anggota TNI, Pelda Soedjono tewas dicangkul. Di peringatan HUT Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) tanggal 15 Juli 1965 di Jakarta, Yani menumpahkan kemarahannya pada PKI.

    "RPKAD harus tetap memelihara kesiapsiagaan yang merupakan ciri khasnya dalam keadaan apapun, terutama dalam keadaan gawat ini. Asah pisau komandomu, bersihkan senjatamu," kata Yani.

    Yani berjanji akan menuntut para pelaku pengeroyokan Pelda Soedjono serta menolak usulan-usulan PKI soal Nasakom ala PKI.
    [/size]
    [size=medium]Dalam dunia politik periode 1965, Ketua Central Comite Partai Komunis Indonesia (CC PKI) Dipa Nusantara Aidit punya musuh abadi. Panglima Angkatan Darat Letjen Ahmad Yani menjadi musuh bebuyutan yang selalu menjegal langkah politik PKI. Sebaliknya, PKI pun selalu menyerang Angkatan Darat
    [/size]
    [size=medium] [/size]
    [size=medium][size=medium]Perseteruan D.N Aidit VS Soekarno[/size][/size]
    [size=medium]Kemungkinan D.N Aidit sudah mengetahui sebuah dokumen rahasia badan intelejen Amerika Serikat (CIA) yang baru dibuka yang bertanggalkan 13 Januari 1965 menyebutkan sebuah percakapan santai Soekarno dengan para pemimpin sayap kanan, bahwa ia masih membutuhkan dukungan PKI untuk menghadapi Malaysia dan oleh karena itu ia tidak bisa menindak tegas mereka. Namun ia juga menegaskan bahwa suatu waktu "giliran PKI akan tiba." Soekarno berkata, "Kamu bisa menjadi teman atau musuh saya, Itu terserah kamu.... Untukku, Malaysia itu musuh nomor satu. Suatu saat saya akan membereskan PKI, tetapi tidak sekarang."
    [/size]
    [size=medium]D.N Aidit Adalah orang yang menganut monogami atau satu istri, sehingga melihat sepak terjang Soekarno yang beristri banyak terasa muak, walau perasaan tersebut selalu disimpan akhir nya emosi dikeluarkan saat pidato di Istora Senayan didepan ribuan anggota Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI)
    [/size]
    [size=medium]Teriakan bubarkan Himpunan Mahasiswa Islam atau HMI bergemuruh di Istora Senayan Ribuan anggota Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) serempak berteriak semangat.

    "Bubarkan HMI! HMI antek nekolim!"

    Malam itu, 28 September 1965, CGMI menggelar Kongres II. Seperti diketahui, CGMI adalah organisasi kemahasiswaan underbouw PKI. Sebelum Kongres, hampir setiap hari CGMI berdemo meminta pemerintah membubarkan HMI karena perbedaan pandangan politik.

    Wakil Perdana Menteri II Johannes Leimena dan Presiden Soekarno yang berpidato malam itu dengan tegas menolak permintaan CGMI. Pemerintah tak akan membubarkan HMI.

    Giliran Ketua Central Comite Partai Komunis Indonesia (CC PKI) Dipa Nusantara Aidit naik ke mimbar. Pidato Aidit menggebrak diiringi teriakan dukungan massa.

    "Kalau CGMI tak bisa membubarkan HMI lebih baik kalian memakai kain seperti perempuan!" kata Aidit disambut gemuruh teriakan anggota CGMI. "Bubarkan HMI, Bubarkan HMI."

    Aidit tak selesai sampai situ. "Indonesia belum mencapai kemajuan dan kemakmuran. Negara ini memang tidak akan bisa maju kalau diurus oleh pemimpin yang mempunyai empat atau malahan lima orang istri!" teriak Aidit.

    Sejumlah hadirin terkesiap. Wakil Komandan Tjakrabirawa Kolonel Maulwi Saelan menggeleng-gelengkan kepala mendengar pidato Aidit, "Kasar sekali, pernyataan Aidit itu kasar sekali," kata Saelan.
    [/size]
    [size=medium]
    Semua tahu pada siapa sindiran Aidit itu dialamatkan kalau bukan Presiden Soekarno yang memiliki lima istri. Fatmawati, Hartini, Ratna Dewi, Haryati dan Yurike.

    Tak ada yang berani melihat wajah Soekarno, Tapi Soekarno dengan tenang meninggalkan acara tersebut tanpa berkata apapun, Padahal baru beberapa hari sebelumnya Soekarno menganugerahkan penghargaan prestisius Bintang Mahaputera pada Aidit. Soekarno pun hadir pada peringatan HUT PKI ke-45, 23 Mei 1965 di Istora Senayan. Dalam acara itu Soekarno dan Aidit berangkulan mesra.

    Saat itu PKI memang menjadi pendukung utama kebijakan Soekarno. Bagi Soekarno, PKI menjadi penyeimbang bagi kekuatan politik Angkatan Darat yang dominan. Soekarno selalu berusaha menjaga keseimbangan antara Angkatan Darat dan PKI.

    Bukan kali pertama Aidit melancarkan serangan pada Soekarno. Aidit pernah menyatakan kalau rakyat Indonesia sudah bersatu dan sosialisme sudah terwujud, maka Pancasila tak dibutuhkan lagi.
    [/size]
    [size=medium] 
    [/size]
    [size=medium][size=medium]Isue Dewan Jendral[/size][/size]
    [size=medium]Dewan Jenderal adalah sebuah nama yang ditujukan untuk beberapa Jenderal yang diduga akan melakukan kudeta terhadap Presiden Soekarno pada Hari ABRI, 5 Oktober 1965 Menurut Menteri / Panglima Angkatan Darat Ahmad Yani tidak ada nama nya Dewan Jendral yang ada bernama Dewan Kepangkatan dan Jabatan Tinggi (Wanjakti) dan hanya berfungsi sebagai penasihat bagian kenaikan pangkat dan jabatan dalam Angkatan Darat.

    Situasi semakin memanas ketika berkembang isu bahwa Dewan Jenderal merencanakan pameran kekuatan (machts-vertoon) pada hari Angkatan Bersenjata 5 Oktober 1965 dengan mendatangkan pasukan-pasukan dariJawa Timur, Jawa Tengah, danJawa Barat. Sesudah terkonsentrasinya kekuatan militer yang besar ini di Jakarta, Dewan Jenderal bahkan telah merencanakan melakukan coup kontra- Revolusioner.
    [/size]
    [size=medium]Isu menyebut susunan Kabinet Dewan Jenderal, terdiri dari:[/size]
    • [size=medium]Perdana Menteri: Jendral AH Nasution[/size]
    • [size=medium]Wakil Perdana Menteri/Menteri Pertahanan: Letjen A Yani[/size]
    • [size=medium]Menteri Dalam Negeri: Hadisubeno[/size]
    • [size=medium]Menteri Luar Negeri: Roeslan Abdul Ghani[/size]
    • [size=medium]Menteri hubungan Perdagangan: Brigjen Ahmad Sukendro[/size]
    • [size=medium]Menteri/Jaksa Agung: Mayjen S Parman[/size]
    • [size=medium]Menteri Agama: K.H. Rusli[/size]
    • [size=medium]Menteri/ Panglima Angkatan Darat: Mayjen Ibrahim Ajie[/size]
    • [size=medium]Menteri/ Panglima Angkatan Laut: Tidak Diketahui [/size]
    • [size=medium]Menteri/ Panglima Angkatan Udara: Marsekal Madya Rusmin Nurjadin [/size]
    • [size=medium]Menteri/ Panglima Angkatan Kepolisian: Mayjen Pol Yasin [/size]
    [size=medium]
    Sebagai tandingan, PKI membentuk gerakan yang dinamai Dewan Revolusi Indonesia,  Untuk menghindari resiko kegagalan, tokoh-tokoh PKI tidak memegang pimpinan. Sebaliknya, perwira ABRI yang memegang pimpinan, bertindak sebagai Ketua Dewan Revolusi, yaitu Letkol Untung. Dengan demikian kalau Dewan Revolusi mengalami kegagalan, PKI tidak akan dilibatkan. Selanjutnya ditegaskan bahwa kegiatan Dewan Revolusi adalah intern Angkatan Darat.
    [/size]
    [size=medium] 
    [/size]
    [size=medium][size=medium]Dokumen Gilchrist[/size][/size]
    [size=medium]Dokumen Gilchrist (bahasa Inggris:Gilchrist document) adalah sebuah dokumen yang dahulu banyak dikutip surat khabar pada era tahun 1965 yang sering digunakan untuk mendukung argumen untuk keterlibatan blok Barat dalam penggulingan Soekarno di Indonesia. Namun dokumen tersebut kemungkinan besar palsu atau sebenarnya tidak ada. Dokumen ini konon sebenarnya berasal dari sebuah telegram dari Duta Besar Inggris di Jakarta yang bernama Andrew Gilchrist yang ditujukan kepada Kantor Kementerian Luar Negeri Inggris. telegram ini mengacu pada rencana gabungan intervensi militer AS-Inggris di Indonesia.

    Pertama kali keberadaan dokumen ini diumumkan oleh Soebandrio, Menteri Luar Negeri Indonesia masa itu sewaktu dalam perjalanannya ke Kairo, Mesir, tanggal 5 Juli 1965 setibanya di Kairo, Kedutaan AS berusaha agar mendapatkan foto salinan dokumen tersebut dan Kedutaan AS di Kairo menyimpulkan bahwa dokumen tersebut dinyatakan sebagai palsu, dan "Dokumen Gilchrist" kemudian disebut sebagai sebuah pemalsuan dalam pemerintahan AS. Diskusi internal di administrasi AS yang mengikuti di balik pemalsuan tersebut dan saat itu Soebandrio merangkap jabatan sebagai kepala Biro Pusat Intelijen (BPI), yang membawahkan kesatuan intel di tiga angkatan, kepolisian negara, kejaksaan serta intelijen Hankam.
    [/size]
    [size=medium]Kemudian hari, seorang agen rahasia Ceko yang bernama Vladislav Bittman yang membelot pada tahun 1968 menyatakan bahwa biro agensinya yang melakukan memalsukan dokumen. dan Bittman mengaku ikut bertanggung jawab untuk kampanye terhadap warga negara Amerika Serikat dan distributor film AS di Indonesia yang dekat dengan Soekarno yakni Bill Palmer.
    [/size]
    [size=medium][size=medium]Menurut Subandrio dalam bukunya[/size]
    Hampir bersamaan waktunya dengan isu Dewan Jenderal, muncul Dokumen Gilchrist. Dokumen ini sebenarnya adalah telegram (klasifikasi sangat rahasia) dari Duta Besar Inggris untuk Indonesia di Jakarta Sir Andrew Gilchrist kepada Kementrian Luar Negeri Inggris. Dokumen itu bocor ketika hubungan Indonesia-Inggris sangat tegang akibat konfrontasi Indonesia-Malaysia soal Borneo (sebagian wilayah Kalimantan). Saat itu Malaysia adalah bekas koloni Inggris yang baru merdeka. Inggris membantu Malayia mengirimkan pasukan ke Borneo.

    Saya adalah orang yang pertama kali menerima Dokumen Gilchrist. Saya mendapati dokumen itu sudah tergeletak di meja kerja saya. Dokumen sudah dalam keadaan terbuka, mungkin karena sudah dibuka oleh staf saya. Menurut laporan staf, surat itu dikirim oleh seorang kurir yang mengaku bernama Kahar Muzakar, tanpa identitas lain, tanpa alamat. Namun berdasarkan informasi yang saya terima, surat tersebut mulanya tersimpan di rumah Bill Palmer, seorang Amerika yang tinggal di Jakarta dan menjadi distributor film-film Amerika. Rumah Bill Palmer sering dijadikan bulan-bulanan demonstrasi pemuda dari berbagai golongan. Para pemuda itu menentang peredaran film pornoyang diduga diedarkan dari rumah Palmer.
    [/size]
    [size=medium]Ini yang jadi pertanyaan, kenapa Dokumen Gilchrist bisa muncul tiba-tiba di meja Subandrio, padahal saat itu dia jadi kepala biro intelijen, harus nya dia dan staf intelijen tahu asal muasal dokumen tsb, ini yang aneh, suatu biro intelijen dapat dokumen rahasia yang tidak tahu jelas kebenaran nya malah dijadikan  dasar pengambilan kebijaksanaan, bukti nya info rahasia itu disebarkan di publik dan disebarkan di media saat itu.
    [/size]
    [size=medium]Pengakuan Keterlibatan agen rahasia cekoslavakia Vladislav Bittman dalam pembuatan dokumen itu pada tahun 1968 sangatlah mengejutkan dan yang unik adalah pembelotan dia dari dinas nya, arti nya ada standar ganda atau dia sebenar nya agen ganda dari Uni Sovyet (Blok Timur) dan Blok barat sebelumnya, bisa saja Soebandrio dan Vladislav Bittman termasuk bagian dari Van der Plas Connection yang dulu nya seorang warga negara belanda yang berganti kewarganegaraan jadi warga Australia.
    [/size]
    [size=medium]Setelah membahas sampai disini kita akan memgingat seorang tokoh komunis wanita ceko yang menikah dengan orang Indonesia, Nama nya adalah Carmel Brickman, Warga Negara Inggris penganut komunisme yang tinggal di Cekoslovakia yang saat itu bagian dari Uni Soviet, dan bekerja sebagai sekretaris di lembaga kemahasiswaan pada Universitas Cekoslovakia yang menjadi topeng dinas intelijen Cekoslovakia. Saat dia di Cekoslovakia Carmel Brickman bertemu dan menikah dengan Suswondo Budiardjo, anggota Komite Sentral Partai Komunis Indonesia sehingga sejak saat itulah dia mengganti nama menjadi Carmel Budiardjo.
    [/size]
    [size=medium]Pada tahun 50an para petinggi PKI yang mengasingkan diri karena peristiwa Madiun 1948, pada pulang ke Indonesia, Carmel Budiardjo ikut suaminya dan tinggal di Indonesia dan aktif sebagai anggota PKI. Tahun 1965 ketika PKI berada dalam posisi terkuatnya dan sedang berjalan menuju eksekusi rencana pemberontakan yang dikenal sebagai G30S/PKI, bersama Njoto, ketua Divisi Propaganda dan Agitasi PKI, Carmel Budiardjo adalah penulis naskah pidato Soekarno. Salah satu contoh karya Carmel Budiardjo adalah semua pidato Soekarno terkait perebutan Papua Barat, jadi bisa dibilang Carmel Budiardjo salah satu yang berjasa dalam usaha Indonesia merebut Papua Barat, tapi ironisnya di masa depan dia malah mendiskriditkan Indonesia sebagai penjajah rakyat Papua Barat.

    Pasangan suami-istri Budiardjo sangat terlibat dalam persiapan/prolog G30S/PKI terbukti salah satu korban G30S/PKI yaitu DI Panjaitan pernah menangkap Suswondo Budiardjo saat proses menyelundupkan senjata Chung dari Republik Rakyat China di dalam bahan bangunan untuk pendirian gedung CONEFO (sebagian senjata Chung yang terlanjur masuk adalah senjata yang digunakan pasukan G30S/PKI), sedangkan Carmel Budiardjo adalah pemalsu surat Duta Besar Andrew Gilchrist yang menyebut ada “bagian dari angkatan darat Indonesia” (our local army friend) yang bekerja sama dengan Amerika dan Inggris untuk menjatuhkan Soekarno kelak dikenal sebagai “Dokumen Gilchrist,” yang pertama kali disebar oleh Soebandrio kepada wartawan Al Ahram, Mesir pada tanggal 5 Juli 1965.
    [/size]
    [size=medium]Bukti Carmel Budiardjo pembuat Dokumen Gilchrist sangat mudah yaitu dari sangkalan pihak Inggris yang menyatakan walaupun secara tata bahasa tulisan di Dokumen Gilchrist memang ber-grammar ala Anglo Saxon, tapi mereka bukan pembuatnya. Berdasarkan fakta di atas maka kita menemukan petunjuk tentang siapa pembuat Dokumen Gilchrist:

    [/size]
    1. [size=medium]Dia harus bisa grammar Inggris seperti seorang native speaker dan ahli dalam menulis dokumen diplomatic[/size]
    2. [size=medium][size=medium]Dia harus memiliki hubungan dengan intelijen Cekoslovakia yang tinggal di Indonesia, yang mana tahun 1965 sangat jarang, karena Indonesia lebih dekat ke RRC daripada Uni Soviet.[/size][/size]
    3. [size=medium][size=medium][size=medium]Dia harus komunis yang dekat dengan pusat kekuasaan di Indonesia[/size][/size][/size]
    [size=medium]Pada periode tahun 1964-1965 hanya ada satu orang di Indonesia yang memenuhi semua syarat di atas yaitu Carmel Budiardjo sebab dia adalah Warga Negara Inggris yang tinggal di Indonesia dan sebelumnya bekerja untuk lembaga intelijen Cekoslovakia dan di Indonesia pekerjaannya adalah menulis pidato kenegaraan untuk Soekarno, dan yang lebih penting lagi dia adalah komunis sekaligus istri dari petinggi PKI yang menyelundupkan senjata untuk persiapan pelaksanaan G30S/PKI. Dokumen Gilchrist menyebabkan kelahiran rumor Dewan Jenderal dan keduanya adalah penyebab Soekarno memukul “para jenderal” terlebih dulu, sehingga bisa disimpulkan Carmel Budiardjo adalah salah satu orang yang mendalangi G30S/PKI.

    Ketika ditangkap dan dipenjara Orde Baru, Carmel Budiardjo belum diketahui sebagai dalang G30S/PKI dan oleh karena itu dia dideportasi ke Inggris ketika pemerintah Inggris meminta Indonesia melepaskan Carmel Budiardjo. Sesampainya di Inggris, Carmel mendirikan Tapol UK yang berfungsi sebagai alat propaganda dan agitasi melawan Indonesia dengan isu HAM, demokrasi, “pembantaian 1965″. Ingat, dia adalah tangan kanan Njoto, Ketua Departemen Propaganda dan Agistasi PKI, sehingga melakukan propaganda memang keahlian Carmel Budiardjo.
    [/size]
  • DALANG - DALANG G 30 S PKI

    Pesen tempat dulu ...
    Kenapa saya sebut dalang-dalang tidak satu dalang aja karena penuh syarat kepentingan dari beberapa kelompok termasuk amerika yg mau membantu TNI dgn senjata tapi kedahuluan pergerakan nya sama PKI
  • Kok bener sama di yutub yah, aslinya peran CIA yg juga takut kalo sampe PKI jadi besar di negara super power (waktu itu Indonesia ditakuti dunia)
    never feel bother....
  • Seni Analisa Ilmiah Non Asumsi opini pribadi ...
    Itulah lebih menyegarkan pikiran lhoo ...
    Karena lebih netral dan tepat

    Pesen tempat dolo .........
  • Adimin Baik menulis:
    Kok bener sama di yutub yah, aslinya peran CIA yg juga takut kalo sampe PKI jadi besar di negara super power (waktu itu Indonesia ditakuti dunia)


    Begitulah ........... :blah: 
    Tidak ada negara asing yg gila kekuasaan akan merasa aman jikalau Indonesia Kuat
    Itu hukum Rimba ...........
  • Jadi ingat attachment ini.
    Perlu diwaspadai
    never feel bother....
  • Luar biasa ulasannya teman.
    Salam sukses sajalah
Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Halo, Komandan!

Sepertinya anda baru di sini. Ingin ber-interaksi? Klik satu tombol ini!

Kategori