Contact Us
News
Follow TELEGRAM Channel ForumBebas.com di alamat T.ME/FORUMBEBAS atau Facebook Fan Page dan Twitter Forumbebas .

Forum Bebas Indonesia

Sejarah Asli G 30 S PKI (Pasca Tragedi)

Pasca Tragedi G30S PKI

Setelah tragedi G30S PKI yang dilakukan pada malam 30 september 1965 sampai dini hari 1 oktober 1965, suasana kota Jakarta sangat lenggang tapi mencekam, dengan terlihat banyak tentara  yg berkumpul bikin brigade dibeberapa tempat di Jakarta dalam keadaan siaga.

Sekitar pukul 6 pagi Presiden Soekarno yang semalam menginap di wisma Yaso bersama Dewi Soekarno, sudah bersiap-siap untuk kembali ke Istana Negara, pada hari itu di agendakan akan bertemu dengan Wakil Perdana Menteri II Dr Leimena, Jendral A Yani dan Idham Chalid.

Di dalam mobil, Suparto, sopir pribadi Presiden, memberi tahu informasi yang diperolehnya dari Komandan Detasemen Kawal Pribadi (DKP) Komisaris Polisi Mangil Martowidjojo, yakni bahwa pada pukul 04.00, ada penembakan di rumah Menteri Koordinator Pertahanan dan Keamanan/Kepala Staf Angkatan Bersenjata Jenderal AH Nasution dan rumah Wakil Perdana Menteri II Dr Leimena, yang letaknya bersebelahan.

Presiden Soekarno langsung memerintahkan Suparto untuk memberhentikan mobil yang baru bergerak beberapa meter itu. Ia langsung memanggil Mangil dan meminta penjelasan tentang penembakan di rumah Nasution dan Leimena itu.

Ada kabar bahwa Istana sudah dikepung pasukan tak dikenal, iring-iringan mobil yang membawa Bung Karno berbelok ke Jalan Budi Kemuliaan. Lalu atas usulan ajudan Bung Karno, Kolonel Saelan, Bung Karno diminta ke Grogol, ke rumah istrinya, Harjati.

Pada tanggal 1 Oktober itu, sekitar pukul 6.30 sore, Bung Karno kembali ke rumah Dewi. Ia kelihatan sangat terkejut dan tertekan. Anak buahnya satu demi satu datang. Tak lama kemudian, Bung Karno keluar lagi tanpa menyebut tujuan, Rupanya Bung Karno ke Halim Perdana Kusumah. Saat itu Dewi terus berupaya menghubungi beliau. Akhinya, Bung Karno mengirim memo kepada Dewi Soekarno. Memo dengan kop “Komando Operasi Siaga Komando Strategis” berisi pesan bahwa Bung Karno selamat. Di memo itu juga Bung Karno menjelaskan bahwa terjadi aksi Angkatan Darat untuk menyelamatkan Presiden.

Dewi akhirnya mengetahui Bung Karno berada di Halim. Ia pun pergi ke Halim menemui suaminya. “Dia satu-satunya istri Soekarno yang sempat ke Halim,” kata Aiko. Berdasarkan pengakuan Dewi, sebagaimana dituturkan Aiko, dirinyalah yang membujuk Bung Karno agar tidak pergi ke Madiun, tak lama kemudian, Bung Karno pindah ke Istana Bogor.

KOMUNIKE PKI MELALUI RRI
 
Letkol. Inf. Untung menyiarkan Komunike melalui RRI pada pukul 07.15 Wib, Selain memberi petunjuk pelaku pembunuhan para Jenderal, komunike juga mengemukakan akan adanya peristiwa politik berupa pembentukan Dewan Revolusi pada tingkat Pusat, Provinsi, Kabupaten, Kecamatan dan Desa. Menurut isi komunike, Dewan Revolusi akan melaksanakan “Panca Azimat Revolusi”, ketetapan-ketetapan MPRS dan putusan-putusan DPRGR yang berarti menjadi pemegang kendali baru pemerintahan di Indonesia. Hal menarik lainnya dari komunike adalah tidak disebutkan informasi keterlibatan Presiden dalam rencana pembentukan maupun dalam struktur Dewan Revolusi. Komunike juga menyebutkan jika “Presiden selamat dalam lindungan Gerakan 30 September”

Faktanya Presiden Soekarno sedang berada di rumah Nyonya Haryati (Grogol-Slipi) sedang melakukan analisis situasi bersama pembantu-pembantu terdekatnya, Ketidakakuratan fakta (tidak dalam lindungan G 30 S) dan kejanggalan komunike (masa depannya dalam Dewan Revolusi) sudah barang tentu menjadi pencermatan Presiden, Namun suasana kebatinan Presiden pada hari itu lebih didominasi kepanikan para pengawalnya seputar hendak kemana dirinya akan dibawa.

Letkol. Inf. Untung juga menyatakan sejumlah Jenderal telah ditangkap, namun Mayjen Soeharto memperoleh informasi dari salah satu ajudan Jendral A Yani  yang menyatakan bahwa tiga orang Jenderal pimpinan TNI AD telah dibunuh, bahkan ditembak mati di kediamannya, Makna “Presiden selamat dalam lindungan G 30 S” juga memunculkan multi intepretasi yang salah satunya dapat berarti “Presiden berada dalam sandera komplotan G 30 S/PKI”. Tidak diijinkannya Umar Wirahadikusumah oleh Mayjen Soeharto untuk memenuhi panggilan Presiden menghadap di Halim, dilakukan atas kalkulasi dan intepretasi diatas. Presiden sedang disandera oleh komplotan penculik di kawasan Halim dan keputusannya belum tentu mencerminkan independensinya. Bisa jadi panggilan itu merupakan perangkap komplotan G 30 S/PKI untuk membunuh lebih banyak Jenderal lagi.

Penyebarluasan Komunike 30 September
 
Pukul 7.15 tanggal 1 Oktober 1965, RRI menyiarkan komunike 30 September yang pada intinya mengemukakan hal-hal berikut:
  1. G 30 S dikepalai Letkol. Inf. Untung (Komandan Batalyon Cakrabirawa) telah melakukan penangkapan para Jenderal TNI AD —yang tergabung dalam Dewan Jenderal— yang disinyalir hendak melakukan coup pemerintahan Presiden Soekarno.
  2. Dewan Jenderal merupakan gerakan subversif disponsori CIA dan mengharapkan Presiden meninggal dalam waktu cepat. Setelah harapan tersebut tidak terkabul, Dewan Jenderal merencanakan coup pada tanggal 5 Oktober 1965 dengan memanfaatkan momentum peringatan hari Angkatan Bersenjata.
  3. Selain penangkapan para Jenderal TNI AD, obyek-obyek vital telah dikuasai dan Presiden selamat dalam lindungan G 30 S.
  4. Sebagai follow up, akan dibentuk Dewan Revolusi pada tingkat Pusat, Provinsi, Kabupaten, Kecamatan dan Desa. Dewan Revolusi yang dibentuk G 30 S merupakan pelaksana “Panca Azimat Revolusi”, ketetapan-ketetapan MPRS dan putusan-putusan DPA.
  5. Menghimbau semua pihak untuk mendukung G 30 S.
Sekilas Tentang Isue Dewan Jendral
 
Jendral Nasution dan Jendral A Yani, Keduanya, baik Nasution dan Yani sama-sama anti-komunis, tapi sikap mereka terhadap Soekarno berbeda. Nasution mengkritik Soekarno yang dianggap mendukung PKI, sementara Yani, seorang loyalis Soekarno, mengambil sikap yang lebih lembut. Nasution mengkritik sikap lembut Yani dan hubungan antara keduanya memburuk. Untuk membuat keadaan menjadi lebih buruk, Yani mulai menggantikan komandan daerah yang dekat dengan Nasution dengan mereka yang dekat dengan dirinya.

Di saat itulah telah beredar suatu isue ada nya dokumen di Jakarta. Dijuluki Dokumen Gilchrist, dokumen itu adalah surat yang mengaku datang dari Duta Besar Britania Raya Andrew Gilchrist, dan menyebutkan "teman-teman tentara lokal kami". Kecurigaan pun langsung dilemparkan pada tentara yang ingin memulai kudeta. Meskipun Jendral A Yani dengan cepat menyangkal tuduhan itu, PKI mulai menjalankan kampanye kotor, mengklaim bahwa Dewan Jenderal yang berencana menggulingkan presiden, adalah perwira paling senior di Angkatan Darat, dituduh jika Nasution dan Yani terlibat untuk menjadi bagian dari Dewan jendral ini.

Sebelum membahas lebih lanjut mari kita mencermati Jendral AH Nasution, karena beliaulah tokoh sentral utama yang memberikan inpsirasi dan saran sama Mayjen Soeharto yang merupakan tokoh sentral kedua pada saat tahun 1965 - 1966

Percobaan Penculikan AH Nasution (Suasana 1 Okt 1965)
 
Pada pagi hari 1 Oktober 1965, pasukan yang menyebut diri mereka Gerakan 30 September (G30S) mencoba untuk menculik tujuh perwira Angkatan Darat anti-komunis termasuk Nasution, Letnan Arief yang memimpin pasukan untuk menangkap Nasution, dan timnya yang terdiri dari empat truk dan dua mobil militer berjalan menyusuri Jalan Teuku Umar yang sepi pada pukul 4:00 pagi.

Rumah Nasution di No 40, rumah sederhana dengan satu lantai. Penjaga rumah di pos jaga di luar rumah melihat kendaraan yang datang, tapi setelah melihat orang-orang itu tentara dia tidak curiga dan tidak menelepon atasannya, Sersan Iskaq, yang bertanggung jawab menjaga rumah saat itu.

Sersan itu berada di ruang jaga di ruang depan bersama dengan setengah lusin tentara, beberapa di antaranya sedang tidur, Seorang penjaga sedang tidur di taman depan dan satu lagi sedang bertugas di bagian belakang rumah. Dalam sebuah pondok yang terpisah, dua ajudan Nasution sedang tidur, seorang letnan muda bernama Pierre Tendean, dan ajun komisaris polisi Hamdan Mansjur.

Sebelum alarm menyala, pasukan Letnan Arief telah melompat pagar dan menguasai para penjaga yang mengantuk di pos jaga dan ruang jaga, Lainnya masuk dari seluruh sisi rumah dan menutupinya dari belakang. Sekitar lima belas tentara masuk ke rumah, Nasution dan istrinya terganggu oleh nyamuk dan terjaga, Mereka tidak mendengar para penjaga yang telah dikuasai tapi Nyonya Nasution mendengar pintu dibuka paksa. Dia bangkit dari tempat tidur untuk memeriksa dan membuka pintu kamar tidur, ia melihat tentara Cakrabirawa (pengawal presiden) dengan senjata siap menembak.

Dia menutup pintu dan berteriak memberitahu suaminya, Nasution ingin melihatnya dan ketika dia membuka pintu, tentara menembak ke arahnya. Dia melemparkan dirinya ke lantai dan istrinya membanting dan mengunci pintu. Orang-orang di sisi lain mulai menghancurkan pintu bawah dan melepaskan tembakan-tembakan ke kamar tidur, Nyonya Nasution mendorong suaminya keluar melalui pintu lain dan menyusuri koridor ke pintu samping rumah. Nasution berlari ke halaman rumahnya menuju dinding yang memisahkan halamannya dengan Kedutaan Besar Irak. Dia ditemukan oleh tentara yang kemudian menembaknya tapi meleset. Memanjat dinding, Nasution mengalami patah pergelangan kaki saat ia jatuh ke halaman Kedutaan Irak untuk bersembunyi. Dia tidak dikejar.

Seluruh penghuni rumah terbangun dan ketakutan oleh penembakan itu. Ibu dan adik Nasution, Mardiah, juga tinggal di rumah dan berlari ke kamar tidur Nasution, Mardiah membawa putri Nasution yang berusia lima tahun, Irma, dari tempat tidurnya, memeluk erat anak itu dalam pelukannya, dan mencoba lari ke tempat aman, Saat ia berlari, seorang kopral dari penjaga istana melepaskan tembakan ke arahnya melalui pintu. Irma tertembak dan menerima tiga peluru di punggungnya, Dia meninggal lima hari kemudian di rumah sakit, Putri sulung Nasution, Janti yang berusia 13 tahun, dan perawatnya Alfiah sudah lari ke rumah pondok ajudan Nasution dan bersembunyi di bawah tempat tidur.

Tendean mengambil senjatanya dan lari dari rumah, tapi ia tertangkap dalam beberapa langkah. Dalam kegelapan, ia membuat kesalahan dan sudah berada di bawah todongan senjata, Setelah mendorong suaminya keluar rumah, Nyonya Nasution lari ke dalam dan membawa putrinya yang terluka. Saat ia menelepon dokter, pasukan Cakrabirawa menuntutnya agar memberitahu mereka dimana keberadaan suaminya. Kabarnya dia melakukan percakapan singkat sambil marah-marah dengan Arief dan mengatakan kepadanya bahwa Nasution sedang keluar kota selama beberapa hari ini.

Pasukan itu pun pergi dari rumah Nasution dan membawa Tendean pergi dengan mereka. Nyonya Nasution membawa putrinya yang terluka ke rumah sakit pusat angkatan darat, Komandan garnisun Jakarta, Mayor Jenderal Umar Wirahadikusumah, bergegas ke rumah Nasution.

Karel Satsuit Tubun, seorang penjaga di rumah Wakil Perdana Menteri Indonesia, Johannes Leimena yang juga merupakan tetangga Nasution, mendengar keributan dan berjalan ke rumah Nasution. Dalam kebingungan penjaga itu ditembak dan dibunuh. Pembunuhan penjaga itu tidak direncanakan.

Nasution terus bersembunyi di halaman tetangganya sampai pukul 06:00 ketika ia kembali ke rumahnya dalam keadaan patah pergelangan kaki, Nasution kemudian meminta ajudan untuk membawanya ke Departemen Pertahanan dan Keamanan karena dia pikir itu akan lebih aman di sana. Nasution kemudian mengirim pesan kepada Soeharto di markas Kostrad, mengatakan kepadanya bahwa ia masih hidup dan aman.

Setelah mengetahui bahwa Soeharto mengambil alih komando tentara, Nasution kemudian memerintahkan dia untuk mengambil langkah-langkah seperti mencari tahu keberadaan presiden, menghubungi panglima angkatan laut R.E. Martadinata, komandan korps marinir R. Hartono serta kepala kepolisian Soetjipto Joedodihardjo, dan mengamankan Jakarta dengan menutup semua jalan yang mengarah ke sana, Angkatan udara tidak termasuk karena Panglima Omar Dhani dicurigai sebagai simpatisan G30S. Soeharto segera mengintegrasikan perintah tersebut ke dalam rencananya untuk mengamankan kota.

Dekrit Revolusi

Sekitar pukul 14:00, Muncullah Pengumuman ada nya Dekrit Revolusi
Dekrit Dewan Revolusi pada intinya mengemukakan hal-hal berikut:
  1. Pembentukan Dewan Revolusi sebagai sumber dari segala sumber kekuasaan di Indonesia yang dipimpin oleh Presidium Dewan. Presidium Dewan Revolusi terdiri dari Letkol Untung sebagai (Ketua), sedangkan wakil ketuanya terdiri dari Brigjen Supardjo (AD), Letkol Udara Heru (AURI), Kolonel Laut Sunardi (AL) dan Ajun Kombes Anwas (Polri).
  2. Menyatakan jatuhnya segenap kekuasaan negara kepada Dewan Revolusi dan Kabinet Dwikora berada dalam status demisioner.
  3. Pembentukan Dewan Revolusi Provinsi (paling banyak 25 personil), Dewan Revolusi Kabupaten (paling banyak 15 personil), Dewan Revolusi Kecamatan (paling banyak 10 orang), Dewan Revolusi Desa (paling banyak 7 orang). Bobot pernyataan pada poin ketiga berfungsi sebagai instruksi kepada pengurus PKI/BC daerah untuk melaksanakan pembentukan Dewan Revolusi.
Menyikapi ada nya Dekrit Revolusi , Jendral Nasution mengirim perintah lain untuk Soeharto, Martadinata dan Joedodihardjo. Nasution mengatakan bahwa ia yakin Soekarno telah diculik dan dibawa ke markas G30S di Halim, Karena itu ia memerintahkan ABRI untuk membebaskan presiden, memulihkan keamanan Jakarta, dan yang paling penting, menunjuk Soeharto sebagai kepala operasi.

Namun pesan datang dari Soekarno di Halim. Soekarno telah memutuskan untuk menunjuk Mayjen Pranoto Reksosamodra untuk mengisi posisi Panglima Angkatan Darat, Soeharto meminta Nasution untuk datang ke Markas Kostrad.

Penyelamatan Presiden dan Penyerangan Ke Halim

Nasution tiba di markas Kostrad sekitar pukul 6 sore, Soeharto mulai mengerahkan pasukan Sarwo Edhie Wibowo untuk mengamankan Jakarta dari Gerakan 30 September. Di sana, Nasution akhirnya menerima pertolongan pertama untuk pergelangan kakinya yang patah. Setelah Jakarta aman, Martadinata datang ke markas Kostrad dengan salinan Keputusan Presiden yang menunjuk Pranoto. Setelah melihat keputusan tersebut, Soeharto mengundang Martadinata dan Nasution ke ruangan untuk membahas situasi.

Nasution meminta Martadinata bagaimana caranya presiden datang untuk menunjuk Pranoto, Martadinata menjawab bahwa pada sore hari ia, Joedodihardjo, dan Dhani telah menghadiri pertemuan dengan Soekarno di Halim untuk memutuskan siapa yang harus menjadi Panglima Angkatan Darat setelah Jendral A Yani tewas.

Pertemuan telah memutuskan bahwa Pranoto harus menjadi Panglima Angkatan Darat. Nasution mengatakan bahwa penunjukan Soekarno tidak dapat diterima karena penunjukan datang ketika Soeharto telah memulai operasi, Nasution dan Soeharto kemudian mengundang Pranoto dan meyakinkannya untuk menunda menerima pengangkatannya sebagai Panglima Angkatan Darat sampai setelah Soeharto selesai menumpas percobaan kudeta.

Jendral AH Nasution memerintah Mayjen Soeharto untuk mengkontak Kolonel Bambang Wijanarko yang merupakan ajudan Presiden agar mengajak presiden Soekarno keluar dari Halim, di sinyalir bahwa Halim adalah markas dari G30S PKI pembunuh dan penculik para jendral, demi aman nya Presiden agar segera pergi dari Halim, agar dalam perlindungannya membawa Presiden menuju Bogor sebelum tengah malam.

Omar Dhani dan Supardjo mendesak Presiden agar meninggalkan Halim menggunakan pesawat menuju Yogyakarta atau Madiun, Sedangkan J.E Leimena, Brigjen Sabur dan Bambang Widjanarko meyakinkan serta mengupayakan Presiden agar bersedia meninggalkan Halim menuju Bogor dengan menggunakan perjalanan darat, Pada saat krusial tersebut, Nyonya Dewi yang telah datang ke Halim atas permintaan Presiden Soekarno, ikut turut mendesak Presiden agar memenuhi saran Mayjen Soeharto menuju Bogor. Pukul 23.30 Wib, Presiden akhirnya berangkat menuju Bogor dengan meninggalkan Omar Dhani di Halim.

Dengan pasukan Sarwo Edhie, Jakarta dengan cepat berhasil diamankan. Soeharto kemudian mengalihkan perhatiannya ke Halim dan mulai membuat persiapan untuk menyerang pangkalan udara. Untuk membantunya, Nasution memerintahkan angkatan laut dan polisi untuk membantu Soeharto dalam menumpas Gerakan 30 September. Untuk angkatan udara, Nasution mengeluarkan perintah mengatakan bahwa mereka tidak akan dihukum atas pembangkangan jika mereka menolak untuk mematuhi perintah Dhani. Pada pukul 06:00 tanggal 2 Oktober, Halim berhasil diambil alih dan Gerakan 30 September secara resmi dikalahkan.

Peran AH Nasution

Meskipun Soeharto telah menjadi tokoh kunci pada 1 Oktober, banyak perwira Angkatan Darat lainnya masih berpaling ke Nasution untuk kepemimpinan dan mengharapkannya untuk mengambil kontrol yang lebih menentukan situasi. Namun, Nasution tampak ragu-ragu dan perlahan tapi pasti dukungan mulai menjauh darinya. Mungkin alasan ini adalah karena ia masih berduka atas putrinya, Ade Irma, yang meninggal pada tanggal 6 Oktober.

Dalam beberapa minggu pertama setelah G30S, Nasution-lah yang terus-menerus melobi Soekarno untuk menunjuk Soeharto sebagai Panglima Angkatan Darat. Soekarno, yang setelah 1 Oktober tetap menginginkan Pranoto sebagai pimpinan angkatan darat, awalnya menjadikan Soeharto sebagai Panglima Kopkamtib, tetapi dengan lobi terus-menerus yang dilakukan Nasution, Soekarno akhirnya dibujuk dan pada tanggal 14 Oktober 1965, ditunjuklah Soeharto sebagai Panglima Angkatan Darat.

Sebuah peluang emas datang ke Nasution pada bulan Desember 1965 ketika ada pembicaraan tentang penunjukkan dirinya sebagai wakil presiden untuk membantu Soekarno dalam masa ketidakpastian, Nasution tidak memanfaatkan ini dan memilih untuk tidak melakukan apa-apa. Soeharto mengambil inisiatif pada awal 1966 dengan mengeluarkan pernyataan yang mengatakan bahwa tidak ada kebutuhan untuk mengisi kursi wakil presiden yang kosong.

Pada 24 Februari 1966, Nasution tidak lagi menjabat sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan dalam perombakan kabinet. Posisi Kepala Staf ABRI juga dihapuskan, Pada tahap ini, harapan bahwa Nasution akan melakukan sesuatu sekarang telah hilang para perwira militer dan gerakan mahasiswa berada di belakang Soeharto. Namun demikian, ia terus menjadi tokoh yang dihormati, banyak perwira militer megunjunginya di hari-hari menjelang penandatanganan Supersemar, dokumen penyerahan kewenangan dari Soekarno ke Soeharto. Bahkan, ketika Soeharto hendak pergi Markas Kostrad untuk menunggu pengiriman Supersemar, dia menelepon Nasution dan meminta restunya. Istri Nasution memberi restu atas nama Nasution, yang tidak hadir.

Indera politik Nasution tampaknya telah kembali setelah Soeharto menerima Supersemar. Itu mungkin karena dia yang pertama kali menyadari bahwa Supersemar tidak hanya memberikan kekuasaan darurat kepada Soeharto tetapi juga memberinya kontrol eksekutif. Pada 12 Maret 1966, setelah Soeharto melarang keberadaan PKI, Nasution menyarankan kepada Soeharto bahwa ia membentuk kabinet darurat, Soeharto masih hati-hati tentang apa yang dia bisa atau tidak bisa lakukan dengan kekuatan barunya, karena pembentukan kabinet adalah tanggung jawab presiden.

Nasution mendorong Soeharto, berjanji untuk memberikan dukungan penuh tetapi Soeharto tidak menanggapi dan percakapan berakhir tiba-tiba.
Meskipun bantuan dari Nasution memberinya kesempatan naik ke kekuasaan, Soeharto melihat Nasution sebagai saingan dan segera mulai bekerja untuk menyingkirkannya dari kekuasaan. Pada tahun 1969, Nasution dilarang berbicara di Seskoad dan Akademi Militer, Pada tahun 1971, Nasution tiba-tiba diberhentikan dari dinas militer, ketika berusia 53, dua tahun lebih cepat dari usia pensiun yakni 55 tahun. Nasution akhirnya pada tahun 1972 digantikan oleh Idham Chalid sebagai Ketua MPRS.

Sekedar Rangkuman Sejarah agar mudah ditelaah, lain kesempatan akan menulis lebih terinci lagi, terutama di bagian posisi masing2 tokoh dalam bertindak, berpikir dan menganalisa, semoga bermanfaat dan bisa untuk pembanding cerita yang lain.

Sumber :
1. Wiki
2. Tokoh Indonesia
3. Keluarga Pahlawan
4. Sejarawan
5. Para orang tua

Komentar

  • Dibikin simple sejarah antara tahun 1965 - 1970, dilain kesempatan kami akan menulis lebih detil per peristiwa nya seperti kejadian Pak Karno saat itu, Pak Harto, AH Nasution, keluar nya supersemar yg alot sampai dibikin 2 kali sebelum pengesahan ke publik


    Semoga bisa jadi pembanding dan acuan sejarah serta bermanfaat
    Jayalah Bangsa, negara, rakyat ku Indonesia
  • terimkasih infonya bermanfaat 

     <marquee class="html-marquee" direction="left" behavior="scroll" scrollamount="3"><img src="http://goo.gl/sC0zPZ">; WEB RESMI TARUHAN ONLINE</marquee>
  • [size=x-small]Kumpulan Foto Bokep - Foto Sexy Neng geulis Bahenol Sange lihat aja gan pantatnya pasti ngaceng ihatnya apa lagi kalo lihat dia ngocok memek wah bisa crot di celana wkwkwkwk.[/size]
    [size=x-small]p-10.jpg[size=x-small]Foto pejuh muncrat ke wajah Neng geulis[/size][/size]
    [size=x-small]p-9.jpg[size=x-small]Foto Ngentot paling Hore[/size][/size]
    [size=x-small]p-8.jpg[size=x-small]Foto tusukan ternikmat Neng geulis[/size][/size]
    [size=x-small]p-7.jpg[size=x-small]Foto Ngentot nungging Neng geulis[/size][/size]
    [size=x-small]p-6.jpg[size=x-small]Foto Palkon di sepong Neng geulis[/size][/size]
    [size=x-small]p-5.jpg[size=x-small]Foto Kontol panjang lagi di kocok sama Neng geulis[/size][/size]
    [size=x-small]p-4.jpg[size=x-small]Foto memek Neng geulis lagi di isep[/size][/size]
    [size=x-small]p-3.jpg[size=x-small]Foto nakal Neng geulis[/size][/size]
    [size=x-small]p-2.jpg[size=x-small]Foto Hot Neng geulis[/size][/size]
    [size=x-small]p-1.jpg[size=x-small]Foto pantat kenceng Neng geulis[/size][/size]
    [size=x-small]p-0.jpg[size=x-small]Foto Bahenol Neng geulis[/size][/size]
    [size=x-small]Klik Juga :[/size]
    [size=x-small]Foto Blonde Idaman Brondong[/size]
    [size=x-small]Foto Gadis ABG Bibir Sexy Lagi Horny[/size]
    [size=x-small]Foto Janda Liar Bikin Maman Tak Kuasa[/size]
    [size=x-small]Foto Tante Susan Pengen Bercinta[/size]
    [size=x-small] [/size]
  • [size=small]Di artikel ini, saya tidak menulis berupa asumsi ataupun teori konspirasi karena utk menulis memakai teori asumsi atau teori konspirasi akan tidak valid dan rancu bahkan bisa berakibat fitnah seperti yang sering ditulis oleh beberapa penulis dengan memakai metode asumsi.[/size]

    [size=small]Menjadi suatu artikel sejarah yang valid harus mencross check kan semua saksi, tidak boleh memakai satu saksi aja, karena akan berdampak simpang siur suatu sejarah. Mari kita ambil contoh kasus kesaksian perwira saat di Halim, "[/size]

    [size=small][size=small][font=Ubuntu, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif]"Soekarno menyatakan mengambil alih seluruh persoalan. Brigjen Soepardjo menyanggupi akan melaksanakan perintah Soekarno. Itulah sebabnya, Soekarno menepuk-nepuk bahu Soepardjo. Soekarno berkata kepada Soepardjo “Awas kalau tidak bisa menghentikan gerakan, akan saya [/font][/size][size=small][font=Ubuntu, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif]peuncit[/font][/size][size=small][font=Ubuntu, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif]”. Dalam bahasa Sunda, [/font][/size][size=small][font=Ubuntu, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif]peuncit [/font][/size][size=small][font=Ubuntu, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif]berarti ‘potong leher’. Maka, Brigjen Soepardjo kemudian menyarankan kepada rekan-rekannya di Senko 2 agar perintah Presiden Soekarno itu dituruti" Nah hal ini harus di cross checkkan dgn saksi lain.[/font][/size][/size]

    [size=small]Contoh lain lagi :[/size]
    [size=small][size=small]Pengakuannya, Mashuri yang dapat info dari kolonel Latief, tentang adanya pertemuan sebelumnya antara Kolonel Latief dengan Soeharto pada tengah malam di RSPAD. Dalam pertemuan tersebut Latief menuturkan tentang adanya rencana [/size][size=small]kudeta oleh para anggota Dewan Jenderal. Namun Soeharto sebagai Panglima Kostrad tak bereaksi apa-apa. "Kalau Soeharto menyatakan tidak tahu menahu soal peristiwa G30S, itu bohong!" kata Latief dalam pledoinya. Hal ini tidak bisa jadi acuan kalau tidak ada kesaksian lain.[/size][/size]

    [size=small]Silahkan bandingkan yang ini dengan kasus diatas ... [/size]
    [size=small]Wawancara Omar Dhani dengan tim penyusun buku putih TNI AU atau AURI berjudul Menyingkap Kabut Halim 1965, bahwa Omar Dhani sesungguhnya telah menerima informasi dari Letkol Udara Heroe Atmodjo akan ada gerakan menculik Dewan Jenderal dan membawa mereka menemui Soekarno (halaman 225-227). Hal ini juga diperkuat oleh buku pledoi Omar Dhani, berjudul Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran dan Tanganku, halaman 58:[/size]
    [size=small][/size]
    [size=small]“Secara serius dilaporkan bahwa akan ada gerakan di lingkungan Angkatan Darat. Gerakan itu akan menjemput para jenderal Angkatan Darat, termasuk anggota Dewan Jenderal, untuk dihadapkan langsung kepada Bung Karno…Gerakan ini akan dilakukan oleh para perwira muda yang mendapat dukungan dari bawahan serta para pegawai sipil…”[/size]

    [size=small]Informasi ada gerakan G30S/PKI yang diperoleh dari Heru Atmodjo, salah satu anggota gerakan‎ sengaja tidak dilaporkan Omar Dhani kepada Ahmad Yani, selaku panglima angkatan darat dan target G30S/PKI. Hal ini diakui Omar Dhani sendiri: "...oleh karena Heroe unsur pimpinan intel AURI, sebagai Panglima AURI sudah pasti saya harus percaya penuh kepadanya. Info tersebut tidak saya sampaikan kepada angkatan lain sebab ini merupakan urusan internal Angkatan Darat."[/size]

    [size=small](Julius Pour, Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan & Petualang halaman 96).‎[/size]

    [size=small]Maka itulah kita perlu kehati2 an, agar tidak tersesat karena memakai metode asumsi belaka
    [/size]
Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Halo, Komandan!

Sepertinya anda baru di sini. Ingin ber-interaksi? Klik satu tombol ini!

Kategori