MERDEKA
DIRGAHAYU Republik INDONESIA - Ayo Kita Tingkatkan Persatuan & Kesatuan Bangsa. Erat Dalam Keragaman Bhinneka Tunggal Ika. Maju Bersama & Tingkatkan Etos Kerja Yang Baik Untuk Indonesia Modern Yang Tetap Berbudaya. MERDEKA!!!

Forum Bebas Indonesia
Contact Us

Fitnah Tempo vs Banser Lahir Akibat Kekejaman PKI

[size=x-small][font=helvetica, arial, sans-serif][size=x-large]Kelahiran BANSER Akibat Kekejaman PKI[/size][/font][/size]

[font=helvetica, arial, sans-serif]Perlawanan GP Ansor
 
Aksi-aksi massa sepihak yang dilakukan oleh PKI mau tidak mau pada akhirnya menimbulkan keresahan di kalangan warga masyarakat yang bukan PKI. Dikatakan meresahkan, karena pada umumnya yang menjadi korban dari aksi-aksi massa sepihak tersebut adalah anggota PNI, PSI, ex-Masyumi, NU, dan bahkan organisasi Muhammadiyah. Ironisnya, aksi-aksi massa sepihak yang dilakukan oleh PKI itu belum pernah mendapat perlawanan dari anggota partai dan organisasi bersangkutan kecuali dari GP Ansor, yang mulai menunjukkan perlawanan memasuki tahun 1964—dalam hal ini KH M Yusuf Hasyim dari Pesantren Tebuireng Jombang tampil sebagai pendiri Barisan Serbaguna Ansor (Banser).[/font]


[font=helvetica, arial, sans-serif]5427b118eb3ce31e5fe4441703b13654.jpg
 
Perlawanan anggota GP Ansor sendiri tidak selalu dilatari oleh persoalan yang dihadapi warga Nahdliyyin berkenaan dengan aksi-aksi massa sepihak PKI, melainkan dilatari pula oleh permintaan perlindungan dari warga PNI, ex-Masyumi maupun Muhammadiyah. Di antara perlawanan yang pernah dilakukan oleh GP Ansor terhadap aksi-aksi massa sepihak PKI adalah peristiwa Nongkorejo, Kencong, Kediri di mana pihak PKI didukung oleh oknum aparat seperti Jaini (Juru Penerang) dan Peltu Gatot, wakil komandan Koramil setempat. Dalam kasus itu, PKI telah mengkapling dan menanami lahan milik Haji Samur. Haji Samur kemudian minta bantuan GP Ansor. Terjadi bentrok fisik antara Sukemi (PKI) dengan Nuriman (Ansor). Sukemi lari dengan tubuh berlumur darah.
 
Pecah pula peristiwa Kerep, Grogol, Kediri. Ceritanya, tanah milik Haji Amir warga Muhammadiyah oleh PKI dan Barisan Tani Indonesia (BTI) diklaim sebagai tanah klobot, padahal itu tanah hak milik. Setelah klaim itu, PKI dan BTI menanam kacang dan ketela di antara tanaman jagung di lahan Haji Amir.
 
Karena merasa tidak berdaya, maka Haji Amir meminta bantuan kepada Gus Maksum di pesantren Lirboyo. Puluhan Ansor dari Lirboyo bersenjata clurit dan parang, menghalau PKI dan BTI dari lahan Haji Amir.
 
Tawuran massal Ansor dengan Pemuda Rakyat pecah pula di Malang. Ceritanya, Karim DP (Sekjen PWI) datang ke kota Malang dan dalam pidatonya mengecam kaum beragama sebagai borjuis-feodal yang harus diganyang. Mendengar pidato Karim DP itu, para pemuda Ansor langsung naik ke podium dan langsung menyerang Karim. Para anggota Pemuda Rakyat membela. Terjadi bentrok fisik. Pemuda Rakyat banyak yang luka.
 
 
Kelahiran Banser
 
Aksi massa sepihak yang dilakukan oleh PKI pada kenyataannya sangat meresahkan masyarakat terutama umat Islam. Sebab dalam aksi-aksi itu, PKI melancarkan slogan-slogan pengganyangan terhadap apa yang mereka sebut tujuh setan desa. Tujuh setan desa dimaksud adalah tuan tanah, lintah darat, tengkulak, tukang ijon, kapitalis birokrat, bandit desa, dan pengirim zakat (LSIK, 1988:72). Dengan masuknya “pengirim zakat” ke dalam kategori tujuh setan desa, jelas umat Islam merasa sangat terancam. Aksi massa sepihak yang dilakukan PKI rupanya makin meningkat jangkauannya. Artinya, PKI tidak saja mengkapling tanah-tanah milik negara dan milik tuan tanah melainkan merampas pula tanah bengkok, tanah milik desa, malah yang meresahkan, sekolah-sekolah negeri pun akhirnya diklaim sebagai sekolah milik PKI.
 
Hal ini terutama terjadi di Blitar. Dengan aksi itu, baik perangkat desa maupun guru-guru yang ingin terus bekerja harus menjadi anggota PKI.
Atas dasar aksi sepihak PKI itulah kemudian pengurus Ansor kabupaten Blitar membentuk sebuah barisan khusus yang bertugas menghadapi aksi sepihak PKI. Melalui sebuah rapat yang dihadiri oleh pengurus GP Ansor seperti Kayubi, Fadhil, Pangat, Romdhon, Danuri, Chudori, Ali Muksin, H. Badjuri, Atim, Abdurrohim Sidik, diputuskanlah nama Barisan Ansor Serbaguna disingkat Banser. Pencetus nama Banser adalah Fadhil, yang diterima aklamasi.
 
“Karena Banser adalah suatu kekuatan paramiliter serba guna yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan di masa genting maupun aman, maka lambang yang disepakati dewasa itu berkaitan dengan keberadaan Banser,” tutur Agus Sunyonto, penulis masalah gerakan Islam, dalam tulisan “Mengenang Partisipasi Politik Banser pada 1965: Lahir dalam Tekanan PKI”.
 
Lambang awal Banser mencakup tiga gambar yakni cangkul, senapan dan buku. Menurut Romdhon, tiga gambar itu memiliki makna bahwa seorang anggota Banser siap melakukan pekerjaan membantu masyarakat yang membutuhkan (simbol cangkul), siap pula membela agama, bangsa dan negara (senapan) dan siap pula belajar (buku).
 
Dalam tempo singkat, setelah Banser Blitar terbentuk, secara berantai dibentuklah Banser di berbagai daerah. Dan pada 24 April 1964, Banser dinyatakan sebagai program Ansor secara nasional. Mula-mula, Banser dilatih oleh anggota Brimob. Kemudian dilatih pula oleh RPKAD, Raiders dan batalyon-batalyon yang terdekat. Selain dibina oleh pihak militer, Banser secara khusus dibina oleh para kiai dan ulama tarekat dengan berbagai ilmu kesaktian dan kedigdayaan. Di antara kiai yang terkenal sebagai pembina spiritual Banser dewasa itu adalah Kiai Abdul Djalil Mustaqim (Tulungagung), KH Badrus Sholeh (Purwoasri, Kediri), KH Machrus Ali dan KH Syafii Marzuki (Lirboyo, kediri), KH Mas Muhadjir (Sidosermo, Surabaya), KH Djawahiri (Kencong, Kediri), KH Shodiq (Pagu, Kediri), KH Abdullah Siddiq (Jember).
 
Hasil kongkret dari pembentukan Banser, perlawanan terhadap aksi sepihak PKI makin meningkat. Kordinasi-kordinasi yang dilakukan anggota Banser untuk memobilisasi kekuatan berlangsung sangat cepat dan rapi. Dalam keadaan seperti itu, mulai sering terjadi bentrokan-bentrokan fisik antara Banser dengan PKI. Bahkan pada gilirannya, terjadi serangan-serangan yang dilakukan anggota Banser terhadap aksi-aksi massa maupun anggota PKI. Demikianlah, pecah berbagai bentrokan fisik antara Banser dengan PKI di berbagai tempat seperti: Peristiwa Kanigoro.
Pada 13 Januari 1965 tepat pukul 04.30 WIB, sekitar 10.000 orang Pemuda Rakyat (PR) dan BTI melakukan penyerbuan terhadap pondok pesantren Kanigoro, Kras, Kediri. Alasan mereka melakukan penyerbuan, karena di pesantren itu sedang diselenggarakan Mental Training Pemuda Pelajar Indonesia (PII). Pimpinan penyerbu itu adalah Suryadi dan Harmono. Massa PR dan BTI itu menyerbu dengan bersenjatakan golok, pedang, kelewang, arit, dan pentungan sambil berteriak histeris: – “Ganyang santri…!”, “Ganyang Serban…!”, “Ganyang Kapitalis..!”, “Ganyang Masyumi..!”.
 
Para anggota PR dan BTI yang sudah beringas itu kemudian mengumpulkan kitab-kitab pelajaran agama dan Al-Qur’an. Kemudian semua dimasukkan ke dalam karung dan diinjak-injak sambil memaki-maki. Pimpinan pondok, Haji Said Koenan, dan pengasuh pesantren KH Djauhari, ditangkap dan dianiaya. Para pengurus PII digiring dalam arak-arakan menuju Polsek setempat. Para anggota PR dan BTI menyatakan, bahwa PII adalah anak organisasi Masyumi yang sudah dilarang. Jadi PII, menurut PKI, berusaha melakukan tindak makar dengan mengadakan training-training politik.
 
Peristiwa penyerangan PR dan BTI terhadap pesantren Kanigoro, dalam tempo singkat menyulut kemarahan Banser Kediri. Gus Maksum “putera KH Djauhari” segera melakukan konsolidasi. Siang itu, 13 Januari 1965, delapan truk berisi Banser dari Kediri datang ke Kanigoro. Markas dan rumah-rumah anggota PKI digrebek. Suryadi dan Harmono, pimpinan PR dan BTI, ditangkap dan diserahkan ke Polsek.
 
 
Banser versus Lekra
 
PKI telah menciptakan suasana sedemikian tegang, sehingga sampai pada situasi to kill or to be killed (membunuh atau dibunuh) dalam sebuah perang saudara. Bentrok Banser dengan PKI pecah di Prambon. Awal dari bentrok itu dimulai ketika Ludruk Lekra mementaskan lakon yang menyakiti hati umat Islam yakni: “Gusti Allah dadi manten” (Allah menjadi pengantin).
 
Pada saat ludruk sedang ramai, tiba-tiba Banser melakukan serangan mendadak. Ludruk dibubarkan. Para pemain dihajar. Bahkan salah seorang pemain yang memerankan raja, saking ketakutan bersembunyi di kebun dengan pakaian raja.
 
Bulan Juli 1965, terjadi insiden di Dampit kabupaten Malang. Ceritanya, di rumah seorang PKI diadakan perhelatan dengan menanggap ludruk Lekra dengan lakon “Malaikat Kawin”. Banser datang dari berbagai desa sekitar, Pada saat ludruk dipentaskan para anggota Banser yang menonton di bawah panggung segera melompat ke atas panggung. Kemudian dengan pisau terhunus, satu demi satu para pemain itu dicengkeram tubuhnya.[/font]


[font=helvetica, arial, sans-serif]Sumber[/font]
never feel bother....

Komentar

  • Sementara dari BLOG lain bisa saya kutip sbb:

    [size=small][size=small]1 .Menumpas Makar PKI 1 Oktober 1965 
    Aksi sepihak yang dilakukan PKI berpuncak pada pembunuhan atas Pelda Sudjono di Bandar Betsy. Dengan menggunakan cangkul, linggis, pentungan, dan kapak sekitar 200 orang BTI membantai perwira itu. Pembantaian terhadap anggota militer itu mendapat reaksi keras dari Letjen A Yani. Tokoh-tokoh PKI yang mendalangi kemudian diproses secara hukum. Namun hal itu makin menambah keberanian PKI dalam melakukan aksi sepihak. [/size]
    [/size]

    [align=justify][size=small][size=small]    Keberanian PKI dalam melakukan aksi sepihak, ditunjukkan dalam aksi   yang lebih berani yakni menduduki kantor kecamatan Kepung, Kediri. Camat Samadikun dan Mantri Polisi Musin, melarikan diri dan meminta perlindungan Ketua Ansor Kepung yaitu Abdul Wahid. Untuk sementara, kantor kecamatan dipindah ke rumah Abdul Wahid. Dan sehari kemudian, sekitar 1000 orang Banser melakukan serangan ke kantor kecamatan untuk merebutnya dari kekuasaan PKI. Hanya dengan bantuan Gerwani, ratusan PKI yang menguasai kantor itu bisa lolos dari sergapan Banser. PKI juga telah mulai berani membunuh tokoh PNI. Ceritanya, di desa Senowo, Kenocng, Kediri, tokoh PNI bernama Paisun diculik PKI desa Botorejo dan Biro. Keluarganya lapor kepada Ansor. Waktu dicari, mayat Paisun ditemukan di WC dengan dubur ditusuk bambu tembus ke dada. Banser dibantu warga PNI menyerang para penculik. Tokoh-tokoh PKI dari Botorejo dan Biro dibantai. Malah dalang PKI bernama Djamadi, dibantai sekalian karena menjadi penunjuk jalan PKI. Juni 1965, Naim seorang pendekar PKI desa Pagedangan, Turen, malang menantang Banser sambil membanting Al-Qur'an. Naim dibunuh Samad. Mayatnya dibenamkan di sungai. 

    Tanggal 1 Oktober 1965 mulai pukul 03.30 sampai 05.00, gerakan makar PKI yang dipimpin oleh Letkol Untung menculik para Jenderal AD yang difitnah sebagai anggota Dewan Jenderal. Letjen Ahmad Yani, Brigjen DI Panjaitan, Mayjen Soetoyo, Mayjen Soeprapto, Brigjen S. Parman, dan Mayjen Haryono MT mereka culik dan bunuh (Puspen AD, 1965: 9-10). Sekalipun aksi itu terjadi 1 Oktober 1965, PKI menamakan aksinya itu dengan nama "Gerakan 30 September". Tanggal 1 Oktober itu juga, Letkol Untung menyatakan bahwa kekuasaan berada di tangan Dewan Revolusi. Untung juga menyatakan kabinet demisioner. Pangkat para jenderal diturunkan sampai setingkat letnan kolonel, dan prajurit yang mendukung Dewan Revolusi dinaikkan pangkat satu sampai dua tingkat. Aksi sepihak Letkol Untung yang menculik para jenderal dan membentuk Dewan Revolusi serta mendemisioner kabinet, jelas merupakan upaya kudeta. Sebab dalam Dewan Revolusi itu tidak terdapat nama Presiden Soekarno. Kabinet yang didemisioner pun adalah kabinet Soekarno. Dan jenderal-jenderal yang diculik pun adalah jenderal-jenderal yang setia pada Soekarno. Bahkan Jenderal A.H. Nasution, adalah jenderal yang pernah ditugasi Soekarno untuk menumpas PKI dalam pemberontakan di Madiun 1948. Menghadapi aksi sepihak Letkol Untung, tanggal 1 Oktober 1965 itu juga PBNU mengeluarkan pernyataan sikap untuk mengutuk gerakan tersebut. Pada 2 Oktober1965, pimpjna muda NU, Subchan Z.E., membentuk Komando Aksi Pengganyangan Kontra Revolusi Gerakan 30 September disingkat KAP GESTAPU yang mengutuk dan mengganyang aksi kudeta 1 oktober 1965 itu. Tanggal 2 Oktober itu pula Mayjen Sutjipto, Ketua Gabungan V KOTI, mengundang wakil-wakil ormas dan orpol yang setia pada Pancasila ke Mabes KOTI di Jl Merdeka Barat. Rapat kemudian memutuskan untuk secara bulat berdiri di belakang Jenderal Soeharto dan Angkatan Darat (O.G. Roeder, 1987: 48-49). Sementara di Kediri, tanggal 2 Oktober 1965 sudah tersebar pamflet-pamflet yang menyatakan bahwa dalang di balik peristiwa 1 Oktober 1965 adalah PKI. 

    2. BENTROK BANSER VS PKI [/size]
    [size=small]10 -27 Oktober 1965[/size]
    [/size]
    [/align]
    [align=justify][size=small][size=small] 10 Oktober 1965, sekalipun PKI menyatakan bahwa peristiwa 1 Oktober yang dinamai 'Gerakan 30 September' itu adalah persoalan intern AD dan PKI tidak tahu-menahu, anggota Banser di kabupaten Malang mulai menurunkan papan nama PKI beserta ormas-ormasnya. Hari itu juga, okoh-tokoh PKI di daerah Turen mulai diserang Banser dan dibunuh. Di antara tokoh PKI yang terbunuh saat itu adalah Suwoto, Bowo, dan Kasiadi. Palis, kawan akrab Bowo, karena takut dibunuh Banser malah bunuh diri di kuburan desa Pagedangan. 11 Oktober 1965, Banser beserta santri dari berbagai pesantren di Tulungagung menyerang PKI di kawasan Pabrik Gula Mojopanggung. Sekitar 3 ribu orang PKI yang sudah bersiaga dengan senjata panah, kelewang, 
    tombak, pedang, clurit, air keras, dan lubang-lubang di dalam rumah, berhasil dilumpuhkan. Tanpa melakukan perlawanan berarti, pasukan PKI itu ditangkapi Banser dan disembelih. Para anggota Banser dan santri yang usianya sekitar 13 - 16 tahun itu, berhasil melumpuhkan para jagoan PKI. 
    Pada 12 Oktober 1965, sekitar 3 ribu orang anggota Banser mengadakan apel di alun-alun Kediri. Setelah apel usai, mereka bergerak menurunkan papan nama PKI beserta ormas-ormasnya di sepanjang jalan yang mereka lewati. Di markas PKI di desa Burengan, telah siaga sekitar 5 ribu orang PKI dengan bermacam- macam senjata. Iring-iringan Banser yang dipimpin Bintoro, Ubaid dan Nur Rohim itu kemudian dihadang oleh PKI. Terjadi bentrokan berdarah dalam bentuk tawuran 
    massal. Sekitar 100 orang PKI di sekitar markas itu tewas. Sementara, di pihak Banser tidak satupun jatuh korban. Dalam peristiwa itu, Banser mendapat pujian dari Letkol Soemarsono, komandan Brigif 6 Kediri karena kemenangan mutlak Banser dalam tawuran massal itu. Pada 13 Oktober 1965, sekitar 10 ribu orang PKI di kecamatan Kepung, Kediri, melakukan unjuk kekuatan dalam upacara pemakaman mayat Sikat tokoh PKI setempat yang tewas dalam peristiwa di Burengan. Mereka menyatakan akan membalas kematian para pimpinan mereka. Dan sore hari, dua orang santri dari pondok Kencong yang pulang ke desanya di Dermo, Plosoklaten, dicegat di tengah jalan. Seorang dibunuh. Tubuh dicincang. Seorang dikubur hidup-hidup. Kematian dua orang santri yang masih remaja itu, membuat Banser marah. Tapi mereka belum berani menyerbu ke desa Dermo, karena kedudukan PKI di situ sangat kuat. Akhirnya, Banser setempat meminta bantuan Banser 
    dari pondok Tebuireng, Jombang. Dengan kekuatan lima truk, Banser 
    Tebuireng masuk ke desa Dermo. Truk mereka diberi tulisan BTI singkatan dari Banser Tebu Ireng. Rupanya, PKI menduga bahwa BTI itu adalah Barisan Tani Indonesia yang merupakan ormas mereka. Walhasil, bagaikan siasat "kuda Troya", pertahanan PKI di desa Dermo dihancurkan dari dalam. Pertarungan antara Banser dengan PKI yang berakibat fatal bagi Banser adalah di Banyuwangi. Ceritanya, Banser dari Muncar yang umumnya dari suku Madura dikenal amat bersemangat mengganyang PKI. Itu sebabnya, pada 17 Oktober 1965, di bawah pimpinan Mursyid, dengan kekuatan tiga truk mereka menyerang kubu PKI di Karangasem. Di Karangasem, terjadi 
    bentrok berdarah setelah Banser tertipu dengan makana beracun. Dalam bentrokan itu 93 orang Banser gugur. Sisanya melarikan diri ke arah Jajag dan ke arah Cluring. Ternyata, Banser yang lari ke Cluring dihadang PKI di desa itu. Sekitar 62 orang Banser dibantai dan dimakamkan di tiga lubang dekat kuburan desa. Pada 27 Oktober 1965, pemerintah mengeluarkan seruan agar masing-masing ormas tidak saling membunuh dan melakukan aksi kekerasan. Siapa saja yang melakukan penyerangan sepihak, akan diadili sebagai penjahat. Seruan itu dimanfaatkan oleh PKI. Mereka melaporkan anggota Banser yang telah membunuh keluarga mereka. Dan jadilah hari-hari sesudah 27 Oktober itu penangkapan dan pemburuan aparat keamanan terhadap Banser. 

    3. PENUMPASAN PKI DI JAWA TIMUR
    Dalam bulan November-Desember, setelah sejumlah pimpinan PKI seperti Brigjen Supardjo, Letkol Untung, Nyono, Nyoto, dan Aidit diberitakan tertangkap, makin terkuaklah bahwa perancang kudeta 1 Oktober 1965 adalah PKI. Saat-saat itulah pihak ABRI khususnya AD mulai melakukan 
    pembersihan dan penumpasan terhadap PKI beserta ormas-ormasnya. Dan tangan kanan yang digunakan oleh pihak militer itu adalah "anak didik" mereka sendiri dalam hal ini adalah Banser yang memiliki jumlah anggota puluhan ribu orang. Dalam suatu aksi penangkapan dan penumpasan PKI di Kediri, misalnya, pihak AD hanya menurunkan 21 personil. Sedang Banser yang dilibatkan 
    mencapai jumlah 20 ribu orang lebih. Dengan jumlah yang besar itu, diadakan operasi yang disebut "Pagar Betis" yakni wilayah kecamatan Kepung dikepung oleh Banser dalam jarak satu meter tiap orang. Dengan cara pagar betis itulah, PKI tidak dapat lolos. Sekitar 6000 orang PKI 
    tertangkap (kisah lengkap terdapat dalam buku saya berjudul "Banser Berjihad Menumpas PKI" 1996). Penangkapan besar-besaran juga terjadi di Banyuwangi, Blitar, Malang, Tulungagung, Lumajang dan kesemuanya melibatkan Banser. Mengenai keterlibatan Banser dalam menumpas PKI, itu Komandan Kodim Kediri Mayor Chambali (alm) menyatakan bahwa hal itu merupakan strategi ABRI yang ampuh. Sebab di tubuh Banser tidak tersusupi unsur PKI. Sementara 
    jika dalam penumpasan itu hanya ABRI yang dilibatkan, maka pihak ABRI sendiri belum bisa menentukan siapa lawan dan siapa kawan karena banyaknya anggota ABRI yang dibina PKI. [/size]
    [/size]
    [/align]
    [align=justify][size=small][size=small]
    4. OPERASI TRISULA DI BLITAR SELATAN
    Tahun 1968, ketika PKI sudah dibubarkan dan pengikutnya ditumpas, terjadi aksi-aksi kerusuhan di Blitar Selatan. Aksi- aksi kerusuhan yang berupa perampokan, penganiayaan, penculikan, dan pembunuhan itu selalu mengambil korban warga NU dan PNI. Sejumlah korban yang terbunuh, misalnya, Kiai Maksum dari Plosorejo, Kademangan. Sesudah itu Imam Masjid Dawuhan. Tokoh PNI yang terbunuh adalah Manun dari desa Dawuhan, kemudian Susanto Kepala Sekolah Panggungasri, dan Sastro Kepala Jawatan Penerangan Binangun. Puncaknya, 2 orang anggota Banser yang sedang jaga keamanan di gardu di bunuh. Para pimpinan Ansor Blitar melaporkan kecurigaan mereka kepada Komandan Kodim akan bangkitnya kembali kekuatan PKI di Blitar. Namun laporan itu tak digubris. Akhirnya, mereka menghubungi seorang aktivis Ansor yang menjadi Danrem Madiun yakni Kolonel Kholil Thohir. Oleh Kholil Thohir disiapkan 3 batalyon yaitu 521, 511, dan 527 untuk operasi yang diberi nama sandi "Operasi Blitar Selatan" . Namun 
    operasi berkekuatan 3 batalyon itu tidak mampu mengatasi gerakan gerilya PKI. Operasi kemudian diambil-alih oleh Kodam VIII/ Brawijaya yang menurunkan 5 batalyon yaitu 521, 511, 527, 513, dan 531 dengan Perintah Operasi No.01/2/1968. Namun operasi dari Kodam inipun kurang efektif. Akhirnya, setelah dievaluasi diadakan operasi besar-besaran dengan melibatkan semua unsur yakni kelima batalyon ditambah unsur-unsur lain termasuk 10 ribu orang hansip dan warga masyarakat 
    Blitar Selatan. Surat perintah operasi itu bernomor 02/5/1968. Dan penting dicatat bahwa 10 ribu orang Hansip itu adalah anggota Banser yang diberi pakaian Hansip. Dalam operasi terpadu yang diberi nama sandi "Operasi Trisula" itu, sejumlah tokoh PKI berhasil ditewaskan. Di antara mereka itu adalah Ir Surachman dan Oloan Hutapea. Sedang mereka yang tertangkap di antaranya adalah Ruslan Wijayasastra, Tjugito, Rewang, Kapten Kasmidjan, Kapten Sutjiptohadi, Mayor Pratomo, dan beratus-ratus anggota PKI yang lain. Dan salah satu strategi operasi yang paling fektif dalam Operasi Trisula itu adalah "Pagar Betis" yang melibatkan 10.000 orang Banser ditambah warga masyarakat yang kebanyakan juga anggota Banser yang tidak kebagian seragam. Satu ironi mungkin terjadi dalam Operasi Trisula itu, yakni selama operasi itu berlangsung telah ditangkap sejumlah 182 orang anggota Kodam VIII/Brawijaya di antaranya berpangkat perwira yang ikut dalam operasi tersebut (Pusjarah ABRI, 1995, IV-B:101-108). Berdasar uraian singkat ini, dapat disimpulkan bahwa kelahiran Banser tidak terlepas dari peranan ABRI terutama AD dan Brimob yang ikut membidaninya. Itu sebabnya, keberadaan Banser sebagai paramiliter yang digunakan untuk membantu proses penumpasan PKI oleh ABRI memiliki nilai historis yang kuat, di mana semangat antikomunisme yang terkristalisasi dalam doktrin Banser itu dapat dimanfaatkan sewaktu-waktu oleh pihak ABRI jika negara dalam keadaan terancam (habis) [/size]


    [size=small]5. PERAN GUS MAKSUM DAN LIRBOYO DALAM MENUMPAS PKI[/size]
    [/size]
    [/align]

    [align=justify][size=small][size=small]Setelah lepas dari kolonialisme Belanda, perjalanan sejarah Indonesia masih menghadapi banyak masalah di berbagai bidang, kususnya bidang ekonomi,social,politik dan keamanan. Berbagai masalah datang silih berganti, dan yang paling tragis serta tercatat dengan tinta merah adalah peristiwa G-30/S PKI (GESTAPU) Yang merupakan usaha PKI untuk merebut kekuasaan Negara.[/size][/size][/align]


    [align=justify][size=small][size=small] 66d27b83c0e9f3fdddb6e998da55cf8c.jpg[/size]
    [/size]
    [/align]
    [align=justify][size=small][size=small]Peran Sentral Lirboyo Dalam Penumpasan PKI[/size]
    [size=small]Saat meletus peristiwa G-30S/PKI Lirboyo adalah kiblat perjuangan masyarakat di eks-Karisedenan Kediri.Peran sentral itu tidak lepas dari sejarah perjalanan panjang Lirboyo dalam memimpin masyarakat sejak zaman kolonialisme Belanda dan Jepang.[/size]
    [/size]
    • [size=small]Pasukan PETA misalnya, dibentuk di Lirboyo dan berawal dari inisiatif Kiai Ibrahim (Banjar melati, ipar Kiai Abdul Karim), sedangkan Laskar Hizbullah-Sabilillah di Kediri di sponsori oleh Kiai Mahrus Aly, yang belakang hari menjadi embrio terbentuknya Kodam V Brawijaya.[/size]

    [size=small]Peran sentral itu tidak hanya berhenti disitu,Dimasa pembrontakan PKI aksi sepihak yang dilancarkan diberbagai daerah menggugah kesadaran para pengasuh Lirboyo untuk bertindak.[/size]
    • [size=small]Saat peristiwa Madiun Kiai Mahrus Aly bersama para santrinya berangkat ke Madiun untuk menumpas pembrontakan PKI disana. Kiai Mahrus Aly bergabung dengan Brigade S.Soerahmad dan berhasil menumpas pembrontakan disana.Gus Maksum sebagai orang dekat Kiai Mahrus Aly didapuk menjadi komandan tempur lapangan setiap aksi penumpasan.[/size]
    [/align]
    [align=justify][size=small]
    [size=small]Menjadi Komandan Penumpasan PKI[/size]
    [size=small]Sabotase aksi sepihak dan aksi teror yang dilakukan PKI hampir merambah keseluruh wilayah Nusantara. Kediri daerah yang menjadi tempat tinggal Gus Maksum juga tak luput dari aksi-aksi itu. Penculikan, penyerobotan tanah, pembunuhan dan tindakan brutal lainnya hampir menghiasi kehidupan kabupaten Kediri.[/size]
    [size=small]Melihat aksi sewenang-wenang itu, Gus Maksum mempunyai keyakinan bahwa PKI yang selama ini sebagai partai politik resmi yang diakui pemerintah telah berbuat makar dan ingin merebut kekuasaan sekaligus mengubah ideology Pancasila menjadi komunis.[/size]
    [/size]
    • [size=small]Sebagai orang muslim Gus Maksum sangat tidak rela jika Negara ini berubah menjadi Negara komunis.[/size]
    [/align]
    [align=justify][size=small]
    [size=small]Dengan bekal kemampuan yang dimilikinya, Gus Maksum sebagai seorang yang sangat muda waktu itu (umur 18 Tahun ) telah diberi amanat menjadi Komandan Pemberantasan PKI, beliau orang yang berani terang-terangan menyatakan “Ganyang PKI” di Kediri.Dan telah membuktikannya dengan tindakannya.[/size]
    [/size]
    [/align]
    [align=justify][size=small]
    [size=small]Peristiwa Watu Ompak[/size]
    [size=small]Strategi PKI untuk melakukan kudeta diantaranya selalu membuat keresahan dan provokasi, salah satu provokasi PKI adalah menantang GP ANSOR untuk melakukan pertandingan silat secara regular sebulan sekali, karena kebetulan dipihak PKI banyak yang merasa jago silat.[/size]
    [/size]
    [/align]
    [align=justify][size=small]
    Tantangan itu ditunjukan kepada tiga pesantren dikecamatan Prambon,Nganjuk yakni Pesantren Selo Agung, Bandung dan Kedungsari. Awalnya Ansor menganggap ajakan itu adalah salah satu bentuk mempererat persahabatan. Namun setiap pertandingan diadakan, ejekan,agitasi, provokasi dan teror terus menerus dilontarkan pihak PKI.

    Puncaknya pertandingan yang dilaksanakan di desa Watu Ompak, Prambon suasana begitu panas.pesilat dari pihak PKI tampak percaya diri, maklum pada waktu itu daerah prambon PKI sangat dominan.mereka terus memprovokasi Ansor “Aku kemari jalan-jalan ke neraka” dan kata-kata yang seenak mereka.

    Namun pendekar dari pihak Ansor tidak langsung bertindak mereka menunggu kedatangan Gus Maksum dari Kediri. Gus Maksum datang dan langsung naik kearena pertandingan dengan meneriakan takbir “Allohu Akbar”. Pada waktu itu orang-orang melihat rambut Gus Maksum berdiri dan mengeluarkan api, melihat itu pemuda Ansor bangkit keberanianya dan langsung menyerang pihak PKI yang kala itu mulai ketakutan spontan pihak PKI banyak yang lari tunggang langgang.
    [/size]
    [/align]
    [align=justify][size=small]

    Teror Kanigoro

    Pesantren Kanigoro asuhan Kiai Jauhari sering dijadikan tempat mental training (TC) oleh PII (pelajar Islam Indonesia) seluruh Jatim.Saat TC baru berlangsung beberapa hari,tepat subuh 13 Januari 1965 sekitar pukul 04.30, sedang diadakan acara istighosah,saat acara sedang berlangsung dengan khidmat,tiba-tiba gerombolan PR (Pemuda Rakyat ), BTI (Barisan Tani Indonesia) dan underbow-underbow PKI yang lainnya masuk menyerbu dan merusak jalannya acara. Gerombolan yang jumlahnya lebih kurang seribu orang dipimpin oleh ketua pengurus Cabang PR yang bernama Soerjadi,PKI berani melakukan tindakan seperti itu karena mereka mayoritas disana sedangkan umat islam hanya sekitar 10% Dari total jumlah penduduk Kanigoro.

    Dengan bersenjatakan kelewang, parang,palu, bahkan pistol mereka menggerebek masjid, merusak, memukul dan menyerang para peserta TC, Kiai, Ulama dan siapa saja yang disitu. Mereka memporakporandakan apa saja yang didalamnya, termasuk menginjak–injak Al-Qur’an dan memperlakukan wanita diluar batas kesusilaan. Dengan diiringi yel-yel seperti “ganyang santri”, ganyang sorban” dan lain-lain, mereka menyandera para peserta TC para Kiai dan Ulama termasuk kiai Jauhari, dan mereka diserahkan ke kantor polisi Kras.
    [/size]
    [/align]

    [align=justify][size=small][size=small]Mendengar itu, sekitar pukul 08.00 pagi, Gus Maksum yang saat itu ada di Lirboyo langsung meluncur ke kantor Polisi Kras. Namun sesampainya disana para sandera sudah dibebaskan, Gus Maksumpun menuju ke Kanigoro dan mendapatkan mereka dalam keadaan selamat, walaupun masih tampak ketakutan dan trauma pada peristiwa yang baru saja mereka alami, ketika mereka hendak pulang kerumah masing-masing mereka banyak yang masih trauma dan ketakutan kaum wanita banyak yang menangis karena khawatir dihadang PKI ditengah jalan. Maklum rute dari kanigoro menuju jalan raya ( jalan raya tulung agung-kediri) memang agak jauh dan kanan kirinya masih sepi dan tidak ada pemukiman penduduk, ahirnya Gus Maksum mengawal mereka sendirian dan terus menjaga mereka hingga mendapat kendaraan.[/size]

    [size=small]Teror Kanigoro mendapat reaksi sangat keras dari umat Islam,kususnya daerah Kediri, dan terror-teror terus saja berlanjut, Tidak lama atas kejadian itu, BANSER GP Ansor dibawah komando Gus Maksum menerjunkan 8 truk personilnya menggempur PKI di Kanigoro.[/size]
    [/size]
    [/align]
    [size=small] [/size]
    [size=small]PENUTUP[/size]

    [size=small]MENGENANG KYAI-KYAI NU YANG GUGUR OLEH PKI[/size]
    [size=small][size=small]Tak dapat dipungkiri, musuh utama PKI adalah umat Islam, terutama para kyainya. Kyai dianggap sebagai musuh karena memiliki ribuan pengikut (jamaah) yang setia. [/size][/size]
    [size=small]
    Salah satu unsur umat Islam yang juga paling dibenci PKI adalah Masyumi. Hal ini diungkapkan oleh KH Roqib, salah seorang korban kebiadaban PKI Madiun 1948 yang masih hidup. Kini KH Roqib adalah imam besar Masjid Jami’ Baitussalam Magetan.[/size]

    [size=small]
    Sebagai salah seorang kyai yang juga tokoh Masyumi, Roqib pun menjadi sasaran yang harus dilenyapkan. Dia diculik PKI sekitar pukul 03.00 dini hari pada tanggal 18 September 1948, tak lama setelah PKI merebut kota Madiun. Sebanyak 12 orang anggota PKI berpakaian hitam dengan ikat kepala merah menciduk Roqib di rumah kediamannya di kampung Kauman, Magetan. Dini hari itu juga dia dibawa ke Desa Waringin Agung dan disekap di sebuah rumah warga.[/size]

    [size=small]
    Di sebuah dusun bernama Dadapan yang termasuk dalam wilayah Desa Bangsri Roqib diseret oleh beberapa orang ke sebuah lubang di tengah ladang. Ketika akan disembelih di depan lubang, tiba-tiba Rokib mengingat pelajaran pencak silat yang diperolehnya. Seketika itu dia menghentakkan kakinya dan meloncat lari ke kebun singkong.[/size]

    [size=small]
    Begitu lolos, Rokib bersembunyi diantara rerimbunan semak belukar hingga siang hari. Naas, siang itu pula dia ditemukan kembali oleh anggota PKI yang mengejarnya. Rokib pun tertangkap dan diikat lagi, lalu disiksa sepanjang jalan dari Desa Bangsri hingga pabrik gula Gorang-gareng.
    Di pabrik gula Gorang-gareng, Rokib disekap dalam sebuah loji (rumah-rumah besar untuk asrama karyawan). Di dalam loji terdapat banyak kamar dengan berbagai ukuran.[/size]

    [size=small]
    “Ketika saya datang ke loji itu, kamar-kamarnya sudah penuh dengan tawanan. Satu kamar ukuran 3 x 4 meter diisi kurang lebih 40-45 orang. Bersama 17 orang lainnya, saya dimasukkan ke dalam salah satu kamar yang terdapat di ujung loji,” tutur Rokib.[/size]

    [size=small]
    PKI kemudian menembaki loji tempat Rokib dan tawanan lainnya disekap lebih dari satu jam lamanya. Tubuh-tubuh yang terkena peluru langsung terkapar di lantai bersimbah darah. PKI tidak mempedulikan teriakan histeris para korban yang terkena peluru. Mereka terus saja melakukan tembakan. Diantara belasan orang yang ada di dalam loji, hanya Rokib dan Salis, serta seorang tentara bernama Kafrawi, yang selamat.
    Menurut guru ngaji ini, setiap habis menembak, pistol yang digunakan PKI itu tidak bisa menembak lagi, tapi harus dikokang dulu. “Saya bisa selamat dari tembakan karena memperhitungkan jeda waktu antara tiap tembakan sambil bersembunyi di bawah jendela. Kalau tanpa pertolongan Allah, tidak mungkin saya selamat,” kata Rokib getir.[/size]

    [size=small]
    Beberapa saat kemudian tentara Siliwangi datang menjebol pintu loji dengan linggis. Suasana sudah mulai sepi karena PKI telah melarikan diri, takut akan kedatangan pasukan Siliwangi. “Ruangan tempat saya disekap itu benar-benar banjir darah. Ketika roboh dijebol dan jatuh ke lantai, pintu itu mengapung di atas genangan darah. Padahal, ketebalannya sekitar 4 cm. Darah yang membanjiri ruangan mencapai mata kaki,” tutur Rokib.
    Selain KH Roqib, terdapat beberapa ulama dan pimpinan pesantren di sekitar Magetan dan Madiun yang jadi korban kebiadaban PKI. Diantaranya adalah KH Soelaiman Zuhdi Affandi (Pimpinan Pesantren Ath-Thohirin, Mojopurno), KH Imam Mursjid (Pimpinan Pesantren Sabilil Muttaqin, Takeran), KH Imam Shofwan (Pimpinan Pesantren Thoriqussu’ada, Rejosari Madiun), serta beberapa kyai lainnya.[/size]

    [size=small]
    Pesantren Ath-Thohirin yang diasuh oleh KH Soelaiman Zuhdi Affandi terletak di Desa Selopuro, Magetan. Pesantren yang mengajarkan ilmu thariqat ini sejak zaman penjahan Belanda maupun Jepang, telah menjadi pusat gerakan perlawanan. Di pesantren inilah para generasi muda disiapkan dan dilatih perang oleh Soelaiman. Soelaiman gugur menjadi korban keganasan PKI pada pemberontakan tahun 1948, mayatnya ditemukan di sumur tua Desa Soco.
    Menurut R Bustomi Jauhari, cucu KH Soelaiman Zuhdi Affandi yang kini menjadi pimpinan Pesantren Ath-Thohirin, KH Soelaiman tertangkap pada waktu itu karena santrinya sendiri yang menjadi mata-mata PKI.. Kemana pun sang kiai pergi, PKI pasti tahu. “Keluarga besar kami sangat berduka atas kematian kakek. Dari seluruh keluarga kami ada sebelas orang yang dibunuh PKI. Dan kebanyakan mereka adalah kiai,” ujar Bustomi.
    Penangkapan KH Soelaiman Affandi terjadi dua hari setelah PKI mengkudeta pemerintahan yang sah, tepatnya pada tanggal 20 September 1948. Ketika itu Soelaiman sedang bertandang ke Desa Kebonagung kemudian diculik.[/size]

    [size=small]
    Setelah ditahan di penjara Magetan selama empat hari, KH Soelaiman beserta tawanan lainnnya, diangkut dengan gerbong kereta lori ke loji Pabrik Gula Rejosari di Gorang-gareng. Dari Gorang-gareng, para tawanan ini kembali diangkut dengan lori menuju Desa Soco dan dihabisi di sana.
    Salah seorang menantu KH Soelaiman Affandi bernama Surono yang juga dibawa lori ke Desa Soco termasuk orang yang mengetahui bagaimana kejamnya PKI dalam menyiksa dan membunuh Kiai Soelaiman di sumur tua desa Soco.[/size]

    [size=small]
    Menurut Surono, sebagaimana dituturkan Bustomi, PKI berulang kali menembak Kiai Soelaiman, namun tidak mempan. Begitu pula ketika dibacok pedang, Kiai Soelaiman hanya diam saja, lecet pun tidak. Setelah putus asa, algojo PKI akhirnya membawa Soelaiman ke bibir sumur lalu menendang punggungnya dari belakang. Tubuh Soelaiman yang tinggi besar itu terjerembab di atas lubang sumur yang tidak seberapa lebar.
    Anggota PKI kemudian memasukkan tubuh Kyai Soelaiman secara paksa ke dalam sumur. Begitu menimpa dasar sumur, Kiai Soelaiman berteriak lantang menyebut asma Allah, “laa ilaaha illallah, kafir laknatullah,” secara berulang-ulang dengan nada keras. “Teriakan itu membuat PKI kian kalap dan melempari Soelaiman dengan batu,” tutur Surono.[/size]

    [size=small]
    Surono yang akan dibunuh namun ditunda terus karena dianggap paling muda, akhirnya tercecer di barisan belakang. Setelah kelelahan mengeksekusi puluhan orang dalam sumur tua itu, algojo PKI menyerahkan Surono kepada salah seorang anggota PKI yang lain.
    Tak dinyana, ternyata anggota PKI yang akan membunuh Surono itu adalah temannya semasa sekolah dulu. Oleh temannya, Surono dibawa ke tempat gelap lalu dilepaskan. Setelah bebas, Surono kembali ke Mojopurno dan melaporkan kejadian yang dia alami kepada keluarga besar KH Soelaiman Affandi.[/size]

    [size=small]
    Salah satu ulama yang juga pimpinan pesantren yang menjadi musuh utama PKI pada waktu itu adalah KH Imam Mursjid, pimpinan Pesantren Sabilil Muttaqin (PSM) Takeran, Magetan. Sebagai pesantren yang berwibawa di kawasan Magetan, tak heran jika PKI, segera mengincar dan menculik pimpinannya bersamaan dengan dideklarasikannya Republik Soviet Indonesia di Madiun.
    Selain sebagai pimpinan pesantren, KH Imam Mursjid juga dikenal sebagai imam Thariqah Syatariyah. Selain itu PSM juga menggembleng para santri dengan latihan kanuragan dan spiritual.[/size]

    [size=small]
    Pada 18 September 1948, tepatnya seusai shalat Jumat, KH Imam Mursjid didatangi tokoh-tokoh PKI. Salah seorang tokoh PKI itu bernama Suhud yang mengajak Kiai Mursjid keluar dari mushola kecil di sisi rumah seorang warga pesantren bernama Kamil. Imam Mursjid akan diajak bermusyawarah mengenai Republik Soviet Indonesia. Kepergian KH Imam Mursjid bersama orang-orang PKI itu tentu saja merisaukan warga pesantren. Menurut mereka, Kiai Imam Mursjid tidak akan menurut begitu saja diajak berunding oleh PKI.[/size]

    [size=small]
    Di depan pendapa pesantren, KH Imam Mursjid dinaikkan ke atas mobil. Mobil itu pun melaju meninggalkan PSM diiringi kecemasan para santri dan warga pesantren yang lain. Kepergian KH Mursjid yang begitu mudah itu bukannya tanpa alasan. PSM telah dikepung oleh ratusan tentara PKI. Bisa jadi Kiai Mursjid tidak mau mengorbankan santrinya dan warga pesantren sehingga memilih mau ‘berunding’ dengan PKI.[/size]

    [size=small]
    Ternyata, kepergian Kiai Mursjid itu adalah untuk selama-lamanya, ia tidak pernah kembali lagi ke pesantrennya. Begitu terjadi pembongkaran lubang-lubang pembantaian PKI di sumur Desa Soco maupun di beberapa tempat lainnya, mayat Kiai Mursjid tidak ditemukan.
    Dari daftar korban yang dibuat PKI sendiri pun, nama Kiai Mursjid tidak tercantum sebagai korban yang telah dibunuh. Tak heran, jika santri dan warga PSM masih percaya bahwa KH Imam Mursjid masih hidup hingga saat ini, namun entah berada dimana.[/size]

    [size=small]
    Ulama atau pimpinan pesantren yang menjadi korban keganasan PKI di Madiun adalah KH Imam Shofwan, pimpinan Pondok Pesantren Thoriqussu’ada, Desa Selopuro, Kecamatan Kebonsari. Salah seorang putra KH Imam Shofwan bernama KH Muthi’ Shofwan yang kini mengasuh Pesantren Thoriqussu’ada mengungkapkan, ayahnya ditangkap PKI bersama dengan dua orang kakaknya, yakni KH Zubeir dan KH Bawani.[/size]

    [size=small]
    Penangkapan itu terjadi sehari setelah kepulangan Muthi’ Shofwan dari rumah kosnya di Madiun. Sebagai murid salah satu SMP di Madiun, Muthi’ tiap minggu pulang ke Selopuro, biasanya tiap hari Kamis malam Jumat. “Ketika tiba di rumah pada waktu itu, ayah saya (KH Imam Shofwan) beserta dua kakak saya telah ditangkap oleh PKI. Ibu saya bilang bahwa ayahmu pergi dibawa orang naik dokar,” tutur KH Muthi’ mengingat kejadian itu.
    Beberapa hari kemudian dia mendengar berita bahwa ayah dan dua kakaknya itu ditahan di desa Cigrok (sekarang Kenongo Mulyo). “Mas Zubeir dan rombongannya sekitar delapanbelas orang, pada malam Jumat itu, telah dibunuh oleh PKI dan dimasukkan ke dalam sebuah sumur. Karena Mas Zubeir agak sulit dibunuh, maka PKI dengan paksa menceburkannya ke dalam sumur dan menimbunnya dengan batu,” ujar Muthi’.[/size]

    [size=small]
    Pada malam yang sama, ayahnya dan Kiai Bawani serta beberapa tawanan lainnya dibawa ke Takeran. Esoknya, para tawanan ini dipindah lagi ke Pabrik Gula Gorang-gareng lalu dibawa kembali ke Desa Cigrok. Di sebuah sumur tua yang tidak terpakai lagi, KH Imam Shofwan yang saudara kandung KH Soelaiman Affandi itu (pengasuh pesantren Ath-Thohirin, Mojopurno, Magetan) dan Kiai Bawani dibunuh dan dimasukkan ke dalamnya.[/size]

    [size=small]
    Rupanya, ketika dimasukkan ke dalam sumur, KH Imam Shofwan dan Kiai Bawani masih hidup. KH Imam Shofwan bahkan sempat mengumandangkan adzan yang diikuti oleh puteranya. Melihat korbannya masih belum mati di dalam sumur, algojo-algojo PKI tidak peduli. Mereka melempari korban dengan batu lantas menimbunnya dengan jerami dan tanah.[/size]

    [size=small]
    Pada tahun 1963 jenazah para korban kebiadaban PKI yang terkubur di sumur tua Desa Cigrok digali, lalu dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan, Magetan. Jadi sejak tahun 1948 hingga 1963, jenazah para korban PKI masih tertimbun dalam sumur itu.[/size]

    [size=small]
    Menghabisi ulama dan umat Islam memang keinginan kuat PKI, karena ulama dianggap sebagai penghalang berkembangnya ideologi mereka. Komunis sangat anti pada Islam, oleh karena itu jangan dibiarkan bangkit lagi.[/size]


    http://nerashuke.blogspot.com/2014/12/5-fakta-ketangguhan-banser-dan-santri.html
    never feel bother....
  • [size=large](Tanggapan Atas Buku Putih, “Benturan NU-PKI 1948-1965”)[/size]


    [size=large][size=large]“Pengertian rekonsilasi yang benar adalah mengharuskan adanya pemeriksaan tuntas oleh pihak pengadilan, kalau bukti-bukti yang jelas masih dapat dicari. Di sinilah letak keadilan yang harus ditegakkan di Bumi Nusantara. Belum tentu orang-orang yang dituduh komunis bersalah sehingga akhirnya dihukum mati”[/size][/size]
    [size=large][size=large](Gus Dur, 14 Mei 2000, Secangkir Kopi, TVRI)[/size][/size]

    [size=large][size=large]“Membunuh PKI rasanya seperti membunuh tikus, kami tumbuk dengan alu (tongkat besi) yang biasa kami pakai menumbuk kopi. Dengan tiga kali tumbukan di kepala biasanya mereka sudah mati”[/size][/size]
    [size=large][size=large](Pelaku pembantaian di Mojokerto, 2013)[/size][/size]

    [size=large][size=large]“Kalau [kepastian jumlah] korban  belum dihitung. [Hanya saja,]… satu persatu korban yang telah mati diiris daun telinganya untuk dihitung. Dari menghitung daun telinga tersebut para algojo tahu berapa orang yang telah dieksekusi, kemudian dilaporkan ke tentara”[/size][/size]
    [size=large][size=large](Saksi pembantaian di Ponorogo, 2012)[/size][/size]

    Buku Benturan NU-PKI (selanjutnya disebut dengan Buku Putih) yang baru diterbitkan oleh PBNU sebagai jawaban resmi atau sikap PBNU untuk membantah laporan Majalah Tempo edisi Oktober 2012 tentang keterlibatan TNI dan NU atas tragedi berdarah 1965 mendapat tanggapan yang berbeda dari berbagai kalangan. Di satu sisi, Buku Putih dipuji-puji dan ditunggu-tunggu kehadirannya oleh beberapa kader NU sebagai pembelaan yang dianggap perlu untuk ditulis oleh NU atas keterlibatannya dalam tragedi berdarah 1965, yang tak mudah dihapuskan dari memori sejarah bangsa Indonesia. Di sisi lain, buku ini juga menuai banyak kritik khususnya dari kalangan muda NU dan para aktivis pejuang HAM.

    Sangat beralasan kenapa Buku Putih menuai badai kritik dari kalangan muda NU.

    Pertama, adanya perbedaan perspektif dalam melihat bentuk pembelaan. Bagaimana seharusnya membela muru’ah NU atas keterlibatannya dalam tragedi berdarah 1965. Kedua, buku ini sejak kemunculannya memposisikan dirinya sebagai reaksi atas Majalah TEMPO edisi Pengakuan Algojo 1965 dan buku-buku sejarah lainnya yang dianggap sebagai mewakili cara pandang Barat yang keliru dan mengganggu. Dalam Mukadimah Buku Putih, secara terang pembaca akan segera menangkap intensi seluruh buku tersebut. Pada paragraf kedua dalam Mukadimah dikatakan: “Penulisan buku sejarah NU khususnya benturan NU dengan PKI selama dasawarsa 1948 hingga 1965 itu penting. Apalagi secara periodik banyak kelompok yang melakukan pembelaan terhadap PKI dan menyalahkan NU dan TNI. Sebagaimana dilancarkan oleh Majalah Tempo edisi Oktober 2012 yang mewakili pandangan Barat pada umumnya, baik Amnesty Internasional maupun Mahkamah Internasional” (hlm. v). Sebagai sebuah reaksi, buku ini terkesan tergesa-gesa dengan banyaknya typo di sana-sini. Dan sebagaimana pada umumnya setiap ketergesa-gesaan, buku ini menjadi tidak matang dalam pengandaian persolan-persoalan yang dipaparkan dan bagaimana sejarah dikonsepsikan.

    Ketiga, yang tak kalah pentingnya, Buku Putih juga mengandaikan dirinya sebagai obor yang akan menerangi kegelapan sejarah dan keremangan pandangan kalangan muda NU yang dianggap sebagai kelompok yang kurang mampu membaca sejarah, atau belum akil baligh (unmundigkeit) dalam melihat sejarah secara lurus sehingga perlu dituntun ke arah yang benar: “…[T]entu generasi muda tidak bisa menyangkal pernyataan itu, termasuk di kalangan muda NU, karena tidak tahu mana informasi yang sebenarnya. Karena itulah bertubi-tubi keluar informasi, bahkan kemudian belakangan tidak hanya menyudutkan TNI dan pemerintah orde baru, tetapi sudah mulai menyudutkan NU, Ansor, terutama Banser. Bahkan, kalangan muda NU banyak yang terpengaruh oleh propaganda PKI dan simpatisannya tersebut hingga ikut menyalahkan para kiai dan ulama, sebagai pihak yang harus bertanggung jawab dan harus minta maaf pada PKI. Hal itu karena tidak jelasnya peristiwa tersebut bagi mereka yang masih muda.” Demikian bunyi paragraf ketiga dalam pendahuluan buku tersebut.

    Mungkin ujaran-ujaran tersebut di muka diniatkan sebagai bentuk kasih sayang dan perhatian kepada kalangan muda NU yang dianggap berpotensi menyimpang dan terombang-ambing oleh segala rupa bayangan dan fatamorgana kehidupan hingga mengaburkan diferensiasi antara yang haq dan bathil, dan menawan kalangan muda NU dalam gurun tandus kesesatan. Maka perhatian itu patut dan layak untuk disyukuri. Namun sayangnya, dalam gestur berpikir semacam itu sesungguhnya ia tengah berupaya memblokade pembacaan-pembacaan lain atas sejarah 1965 diluar versi Buku Putih dan menganggapnya sebagai keliru.

    Jadi, oleh Buku Putih, generasi muda NU dianggap rentan terkena angin dan goyah pandangannya untuk membela muru’ah NU.  Alih-alih hendak membela rumahnya, NU, generasi muda NU yang tak dapat bimbingan sejarah versi NU akan berpotensi besar menyimpang dan mengganggu. Ini mengingatkan kita pada buku P4 Orde Baru yang menjadi tafsir resmi atas Pancasila. P4 sebagai ilmu dan amalnya telah membajak Pancasila dan tepat di atas tafsir resmi itulah Orde Baru selama 32 tahun membungkam seluruh narasi tentang demokrasi.

    Lebih lanjut dikatakan bahwa Buku Putih ini disiapkan bagi yang mengkritik posisi NU pada masa1965, khususnya setelah 3 Oktober 1965, di mana TNI bersama dengan milisi melakukan politik pembumi hangusan terhadap orang-orang yang dianggap sebagai PKI.

    Kempat,  klaim-klaim otentisitas dan objektivitasnya dalam menilai sejarah. Bahwa kajiannya paling presisi sebagaimana yang terjadi, sehingga “perlu ditulis kembali buku yang memberikan informasi yang sesungguhnya…Dengan demikian mudah dibaca dan dipahami terutama oleh generasi muda NU agar mengetahui duduk perkara atau peristiwa 1965 yang sebenarnya…”  (penebalan kata oleh penulis). (hlm. 3)

    Apakah yang dimaksud dengan dengan sesungguhnya, dan sebenarnya dalam kutipan di atas? Kita bisa membaca dua kata tersebut sebagai klaim atas otentisitas. Buku Putih diklaim sebagai otentik sementara lainnya keliru. Ia haqq sementara lainnya bathil. Ia sah sementara yang lainnya tidak.

    Klaim otentisitas ini diakibatkan oleh cara berpikir yang menarik garis batas yang tegas antara minna (kami yang benar, Soeharto dan tentara) dan minhum (mereka yang salah, PKI beserta eksponennya di desa-desa) tanpa mencermati keganjilan-keganjilan peristiwa di seputar G30S mengakibatkan ketidakjernihan melihat persoalan. Satu persoalan yang oleh sejarawan pada umumnya belum tuntas bahkan masih misteri, yaitu siapa aktor utama di belakang G30S, oleh penulis buku putih justru diandaikan telah selesai. Bahkan malah lebih banyak membangun argumen bahwa pembantaian itu sudah absah dengan sendirinya hanya berdasar pada silogisme:

    “Setiap bughat (makar) harus ditindak”

    “PKI melakukan bughat”

    “Maka PKI harus ditindak” (hlm. 6)

    Sungguhkah PKI melakukan bughat? Apakah telah cukup bukti bahwa G30S didalangi oleh PKI? Kalaupun PKI melakukan bughat, apakah kemudian pembantaian itu dengan sendirinya menjadi absah? Pertanyaan-pertanyaan sederhana inilah yang diabaikan oleh Buku Putih.

    Ini menandakan, bagi Buku Putih, seolah-olah melihat sejarah khususnya sejarah G30S telah terang dengan sendirinya, dengan satu kedipan mata, tanpa perlu mengumpulkan serpihan-serpihan informasi dan fakta-fakta di balik kabut peristiwa tersebut dari banyak sumber dan versi. Bahkan, upaya pengungkapan alternatif-alternatif dalang di balik Gerakan 30 September oleh sejarawan sekelas Onghokham mungkin dianggap sama misteriusnya dengan kasus pembunuhan Presiden John F. Kennedy, mengingat minimnya bukti-bukti sejarah terkait G30S tersebut; karena saksi-saksi kunci yang merupakan pelaku utama menyangkut G30S telah dibunuh Angkatan Darat tidak lama setelah peristiwa terjadi. Sedemikian misteriusnya G30S, sehingga “sampai dua ratus tahun pun tidak akan terpecahkan”, tambah Ong. (lihat Budiawan, Menyingkap Misteri, Membangun Empati: G30S sebagai Dalih Pembantaian Massal 1965-66, http://www.sejarahsosial.org/?p=92, diakses pada tanggal 5 Februari 2013).  Sementara, sejarawan semacam Merle Ricklefs menulis bahwa “ruwetnya panggung politik pada 1965 dan banyaknya bukti-bukti yang mencurigakan” menyebabkan penyimpulan tegas mengenai G30S hampir tidak mungkin. Sejarawan lainnya yang sama-sama dari Australia, Robert Cribb dan Colin Brown, berpendapat bahwa “alur kejadian yang tepat” itu diselubungi “ketidakpastian” (John Rossa, Dalih Pembunuhan Massal, Jakarta: ISSI & Hasta Mitra, 2008, hlm. 8).

    Dengan kata lain, Buku Putih beroperasi di atas rel dan trayek yang sama dengan kecenderungan fundamentalisme agama atau ideologi tertentu yang tak memberi kemungkinan-kemungkinan lain selain hanya satu kemungkinan: pembacaanku yang paling benar! Di luar pembacaanku keliru, dhallun mudlillun/sesat menyesatkan! Apalagi kaum muda NU, kelompok yang diandaikan sebagai awam, tuna pengetahuan sejarah.

    Meski demikian, buku ini semoga masih memberikan pendidikan politik kepada kita bagaimana polemik yang santun dan dingin masih dimungkinkan di negeri ini. Sebagaimana pesan dalam Al-Qur’an surat An-Nahl: 125, agar kita berpolemik dengan baik.

    Membayangkan G30S

    Apa yang ada dalam benak Anda ketika ditanya mengenai G30S? Jawaban mainstream yang telah ditanam lama ke dasar kesadaran rakyat Indonesia oleh rezim Orde Baru adalah: PKI melakukan percobaan kudeta dengan membunuh Dewan Jenderal. Karena waktu itu negara dalam situasi darurat, PKI ateis yang membahayakan agama dan negara karena itu harus ditumpas hingga ke akar-akarnya.

    Jawaban semacam itulah yang menjadi basis argumentasi Buku Putih. Secara berulang-ulang diungkapkan bahwa PKI layak untuk ditumpas hingga ke akar-akarnya. Karena PKI ateis dan melakukan kudeta. Dengan terang dikatakan “Apa yang dilakukan NU dan mengapa bersikap tegas pada PKI, bukan karena dendam tetapi semata li-hirasatid–din (demi menjaga agama) dan menyelamatkan negara, yang diperjuangkan, dibentuk, dan dijaga oleh para pejuang termasuk para ulama.” (hlm. xi) Lebih lanjut, “Semangat jihad melawan musuh negara, musuh rakyat dan musuh agama itu pulalah yang dikeluarkan oleh NU pada 3 Oktober 1965 untuk membubarkan PKI beserta seluruh perangkat organisasinya yang hendak mengubah ideologi dan haluan negara. Seruan NU tersebut ditanggapi oleh semua pihak sehingga dalam waktu singkat musuh agama dan musuh negara tersebut bisa disingkirkan.(hlm. xiv)

    Dengan melihat itu semua sejak semula pembaca akan sulit untuk mengatakan kalau pembantaian 65 bukan sebagai politik balas dendam. Lebih-lebih kalau dilihat bagaimana sejarah ditampilkan secara kronologis oleh Buku Putih. Seolah-olah G30S terkait secara langsung dengan peristiwa 1926 dan 1948. Bahkan dalam “Kronologi Pemberontakan PKI” dalam Buku Putih yang bergambar celurit, tahun 2000 dimasukkan sebagai bagian dari “Kronologi Pemberontakan PKI”, di mana pada tahun 2000 dianggap “PKI menuduh NU dan TNI sebagai penjagal dan menuntut meminta maaf”

    Apa yang sesungguhnya terjadi?

    Buku Putih tak memberi opsi lain dalam mewacanakan G30S selain yang pro PKI atau yang menolak PKI. Dengan ini penelitian sejarah yang masih bisa diupayakan secara jujur menjadi sia-sia dan tak mungkin sama sekali. Siapapun yang tak setuju dengan penahanan, pembantaian massal atau hanya sekedar bersimpati terhadap korban kekerasan 1965 serta merta akan dianggap sebagai simpatisan PKI yang ateis, tak punya Tuhan, amoral, dan membahayakan negara.

    Dikotomi ini menjadi berbahaya karena posisi di luar dikotomi pro PKI dan kontra PKI tidak diperkenankan. Sebagaimana posisi Pipit Rochiat yang tak membela aksi-aksi PKI sebelum 1965, juga tidak membenarkan penahanan tanpa peradilan, pembantaian massal yang diarahkan pada PKI pasca G30S. Dengan itu tak heran, kalau ada seorang Jenderal di depan umum tanpa canggung mengatakan: “Sudah kita bantai dulu kalau mereka mau macam-macam lagi. Selebihnya urusan nanti, urusan belakangan.”

    Sungguhkah PKI Ateis?

    7dd4068dcda86bf997cfa7d1a8be919a.jpg

    youth-armed-to-the-teeth-ready-to-kill-communists-at-mount-merapi-area-november-1965sumber: http://indocropcircles.files.wordpress.com/2013/09/youth-armed-to-the-teeth-ready-to-kill-communists-at-mount-merapi-area-november-1965.jpg

    Mengenai ateisme PKI, dalam Buku Putih diungkapkan, “Dalam kenyataannya PKI tidak hanya ateis (tidak bertuhan) tetapi telah berkembang menjadi anti teis (anti tuhan). Prinsip itu dijadikan dasar oleh PKI untuk menyerang agama. (hlm. xv)

    Membuktikan bahwa PKI dengan serta merta ateis akan menggiring perdebatan masuk pada perdebatan filosofis mengenai parameter ateis dan bukan ateis. Tulisan ini tidak akan masuk terlebih dahulu pada perdebatan filosofis tersebut sejauh belum dibutuhkan.

    Ada pertanyaan-pertanyaan yang perlu diajukan pada penulis Buku Putih sehingga mengasosiasikan PKI dengan ateisme. Apa itu Marxisme? Apa itu ateisme? (Buku Putih hanya menyinggung Marxisme dan ateisme sedikit sekali). Apakah ateisme inheren di dalam Marxisme? Apakah keduanya saling mengandaikan? Apakah PKI secara kelembagaan mempersyaratkan tiap anggotanya menjadi ateis dalam pengertian vulgar? Pertanyaan-pertanyaan ini mesti dijawab terlebih dahulu sebelum mengaitkan PKI dengan ateisme.

    Dalam Orang-orang Kiri di Persimpangan Kiri Jalan, Soe Hok Gie mencatat bahwa sikap radikal pada 1926 tidaklah memiliki warna ideologis yang terang sebagaimana selama ini orang membayangkan Marxisme-Leninisme. Pada masa itu tidak sedikit ditemukan seorang tokoh dengan tiga keanggotaan organisasi revolusioner sekaligus. Orang semacam Haji Misbach, selain aktivis Sarekat Islam, ikut dalam Indische Partij, ia sekaligus juga anggota PKI. Alimin dan Musso dkk, bisa dimasukkan dalam golongan ini. Di kalangan kaum komunis, dijumpai bermacam-macam tipe manusia yang secara ideologis sama sekali tidak Marxis-Leninis. Maka tak heran pada masa itu bisa dijumpai orang semacam Mas Marco Kartodikromo yang merupakan seorang mistikus Kejawen yang bertapa di Gunung Lawu, serta haji kaya semacam Haji Busro di Semarang, haji revolusioner dari Solo semacam Haji Misbach, atau orang yang suka amuk-amukan semacam Muso yang juga ikut gerakan mistik afdeling B Sarekat Islam, bisa sekaligus menjadi seorang komunis. (Soe Hok Gie, Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan, Jakarta, hlm. 6)

    Di Sumatera Barat kita mengenal Datuk Batuah dan Hasan Raid, seorang muslim komunis, atau Tan Malaka, seorang revolusioner dan orang pertama yang memakai nama Indonesia tahun 1924 sebagai judul bukunya, Naar de Republiek Indonesia, yang di depan sidang komintren secara lantang mengatakan kalau di hadapan Tuhan ia Muslim.

    Yang perlu diketahui adalah bahwa resepsi atas pemikiran Marx ditafsir secara beragam dan tidak pernah persis sama. Gerakan Sarekat Islam merah atau Sarekat Rakyat menggabungkan pemikiran Marxisme dan Islam, di mana pemikiran yang diambil adalah sentimen-sentimen “anti-nya” dan bukan inti ajarannya. Artinya, baik anti-kapitalisme dan anti-negara kolonial sesuai dengan anti-kafir dalam Islam (Onghokham, Sukarno, Orang Kiri, revolusi & G30S 1965, Depok: Komunitas Bambu, 2009, hlm. 109). Bahkan, banyak yang menjadi anggota PKI bukan karena motif  ideologis, melainkan karena mereka menganggap PKI sebagai partai yang berani terang-terangan melawan Belanda dan Jepang. Dengan minim pengetahuan teoretik Marxisme-Leninisme (Onghokham, op.cit., hlm. 28), membuat kajian-kajian komprehensif atas nosi dan fundamen pemikiran Marx yang rumit bukanlah hal yang utama selain karena hanya ada kesesuaian nilai-nilai perjuangan antara Islam dan Marxisme.

    Pendeknya, mengatakan PKI=ateis dan ateis=PKI sangat berisiko terjatuh dalam simpifikasi yang fatal. Lebih-lebih dengan melihat sejarah resepsi pemikiran Marx di Indonesia yang lebih direkatkan oleh kondisi sebagai jajahan ketimbang oleh pemikiran Marx itu sendiri.

    Bagaimana dengan hujatan-hujatan atas agama yang dilakukan PKI? Kita bisa berspekulasi bahwa hujatan tersebut belum tentu memang dilatari oleh filsafat materialisme Marx, tapi lebih sebagai ungkapan kekecewaan atas kondisi sosial yang timpang, distribusi kekayaan yang tak berkeadilan, dan lain-lain. Siapa di antara kita yang berani menggaransi dan memastikan bahwa para penghujat itu sungguh-sungguh anti-Tuhan sebagaimana dituduhkan? Bahkan penulis Buku Putih pun kalau jujur tak akan berani menggaransi. Apalagi hampir mayoritas pengikut PKI adalah kelompok petani miskin di pedesaan. Sedikit ditemukan kelas priyayi-santri atau kelas priyayi-feodal semacam pamong pada zaman itu yang menjadi anggota PKI.

    Berdiri di Atas Prasangka

    tahlilannupkisumber: http://serbaserbigusdur.files.wordpress.com/2013/12/tahlilannupki.jpg

    Sangat disayangkan sikap yang diambil oleh penulis Buku Putih, yang menolak sumber-sumber yang dianggap bias dan mewakili pandangan Barat tanpa memberikan argumentasi yang rigorous dengan mengangkat grundprobleme yang dianggap sebagai bias dan tidak benar atas  buku-buku sejarah yang ditolaknya.

    “Untuk penulisan ini kami terpaksa membaca berbagai macam buku Belanda tentang pemberontakan PKI mulai tahun 1926, 1945, 1948, hingga 1965, yang sudah lama dibaca orang. Seperti buku Madiun 1948: PKI Bergerak, dan buku The Dark Side of Paradise, karya Geoffrey Robinson, tentang pembantaian PKI Bali, buku Victor M Fic, Anatomy of Jakarta Coup October 1965, yang membahas Kudeta 1 Oktober 1965. Tentu saja juga buku Ben Anderson dan Ruth T McVey, A Preliminary Analysis of the October 1 Coup in Indonesia, dan segudang  buku yang terlanjur dianggap babon tentang PKI lainnya. Tetapi setelah semuanya rampung dibaca terpaksa harus segera ditutup kembali, lantas dibungkus rapidan dimasukkan kotak, karena semuanya tidak berguna untuk kebutuhan ini…” (cetak tebal oleh penulis). (hlm. 4)

    Dari paragraf di muka kita tahu kejujuran sikap penulis Buku Putih yang telah merasa cukup diri untuk tidak memakai sumber-sumber lainnya, minimal sebagai pertimbangan atau acuan kritik yang akan diajukan. Kata-kata “terpaksa” dan “semuanya tidak berguna” memberi gambaran bagaimana semangat buku ini ditulis.

    Lalu kemudian, apa yang bisa dibaca dari semua pengakuan itu?

    Aroma prasangka begitu pekat dalam buku putih ini sejak awal hingga akhir. Begitu pula dengan sikap yang diambil oleh PBNU dan Ansor pada masa itu. Selain meniscayakan pembantaian, solusi-solusi lain seperti tidak dimungkinkan sama sekali. Sikap tasamuh, tawasuth, tawazun dan ta’addul yang menjadi pegangan NU tak tampak sama sekali, bahkan pembantaian itu sendiri bisa jadi merupakan tafsir atas keadilan itu sendiri.

    Sesudah terbitnya “Resolusi Mengutuk Gestapu” yang terbit pada 5 Oktober 1965, pendirian “Kesatuan Aksi Pengganyangan Gestapu (KAP Gestapu) pada 4 Oktober 1965 yang diketuai Subchan ZE (Ketua IV PBNU_ dan Harry Tjan Silalahi dari Partai Katolik, pembelaan agama dan negara menjadi berjalan efektif. “KAP Gestapu ini segera melakukan serangan pada berbagai aset PKI, termasuk membakar gedung CC PKI di jalan Kramat Raya dan aset PKI lainnya” (hlm. 139).

    Selanjutnya, untuk mengefektifkan kerja-kerja luhur membela agama dan negara dan menjalankan politik pembumihangusan PKI hingga ke akar-akarnya, Subchan ZE dan Harry Tjan Silalahi membuat organ baru yang bernama Front Pancasila yang tujuannya adalah:

    “Pertama, untuk mempertahankan Pancasila sebagai ideologi negara; Kedua, menuntut dibubarkannya PKI dengan segala neven organisasinya, yang berafiliasi dan mendukungnya; Ketiga, menuntut dilarangnya ajaran Marxisme-Leninisme di bumi Indonesia; Keempat, membersihkan orang PKI dari pemerintahan, angkatan bersenjata, dan badan usaha; Kelima, menggalang seluruh kekuatan bangsa Indonesia dalam waktu singkat (sehingga) Front Pancasila ini sudah berdiri dan bergerak di berbagai daerah terutama yang ada PCNU-nya” (hlm. 140).

    Bagaimana dengan cerita-cerita korban di pinggiran?

    Meskipun segera dibungkam seiring naiknya Orde Baru, anehnya, semakin dibungkam dan disembunyikan, aroma amis darah dari para korban tragedi 65 makin menusuk penciuman dan menggedor-gedor rasa kemanusiaan. Sekarang setelah lebih dari 10 tahun Orde Baru tumbang secara perlahan semua orang mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi pada tahun 65 adalah pembantaian. Ya persis seperti itulah yang terjadi.

    Pada masa Orde Baru pertanyaan tentang pembantaian 1965 itu tidak pernah boleh untuk diajukan, dipertanyakan, diketahui oleh generasi sesudahnya. Pengetahuan yang mereka miliki mengenai pembantaian 1965 praktis hanya dididapatkan melalui potongan-potongan sejarah berlumuran darah yang lamat-lamat didengar melalui cerita-cerita di desa-desa yang kadang-kadang dibumbui dengan cerita-cerita mistis. Penangkapan dan pembantaian besar-besaran pada orang-orang yang dianggap sebagai simpatisan PKI ditempatkan dalam diskursus kebudayaan sebagai rumor yang dilebih-lebihkan. Kalaupun memang terjadi, pembantaian terhadap orang-orang yang diduga komunis yang terjadi secara tersestruktur dan terencana oleh tentara (RPKAD) dan milisi dianggap lumrah karena itu kesalahan PKI sendiri yang berulah.

    Mengapa cerita-cerita tentang kepala yang dipisahkan dari tubuhnya, perempuan yang sebelum dibunuh diperkosa, tak boleh diketahui? Entah apa alasan persisnya kenapa peristiwa itu tak boleh lagi dibicarakan, dibongkar kembali. Ibu penulis pernah bertutur, “aku wae ra oleh takon perkoro iku. Opo maneh awakmu?” (aku saja tak boleh tanya perkara itu apalagi kamu?), ketika ibu bertanya kepada almarhum kakek yang tahu persis bagaimana pergolakan berdarah itu terjadi di tingkat akar rumput.

    Jawaban umum yang selalu disampaikan adalah tak perlu lagi menggali kembali tulang belulang yang telah terpendam. Masa lalu biarlah menjadi masa lalu, kita sebagai bangsa mesti menatap masa depan, bukan malah kembali menengok ke belakang untuk satu hal yang tak perlu.

    Kenapa ada sepenggal sejarah yang mesti disimpan rapat dari pengetahuan, hingga memposisikan generasi sesudahnya semacam paria yang tak boleh satu kalimat pun mendengarkan kebenaran? Apa karena begitu mengerikannya kejadian itu sehingga untuk mengingatnya kembali akan merontokkan rasa kemanusiaan para pendengarnya?

    Frasa “tak perlu” memberi gambaran bahwa pembantaian 1965 memang bagi pelakunya sungguh tak layak untuk dibicarakan, diingat-ingat, ataupun diketahui karena bagi pelaku sendiri mengingat pembantaian tersebut merupakan derita yang tak tepermanai.

    Ini bisa dibuktikan dari hasil investigasi terhadap para pelaku di tingkat akar rumput yang pernah penulis dan tim lakukan — jauh sebelum terbitnya TEMPO edisi Pengakuan Algojo 1965 dan Buku Putih NU– banyak dari pelaku menyesali apa yang pernah dilakukan di masa mudanya, mereka dirundung derita karena dihantui tanda tanya. Apa yang sesungguhnya terjadi pada masa itu? Kenapa harus ada yang dibunuh dan dicap sebagai musuh negara?

    Kami (tim) kebanyakan terdiri dari para santri yang memiliki cerita-cerita masa kecil yang sama tentang horor pembantaian PKI di desa-desa masing-masing bersepakat untuk menggali lebih lanjut apa yang sesungguhnya terjadi khususnya kondisi di tingkat akar rumput.

    Bisa dipastikan hampir semua orang di desa-desa di Jawa Timur dan Jawa Tengah mempunyai cerita-cerita bagaimana pembantaian PKI dan simpatisannya dilakukan. Khususnya desa-desa yang berada di tepian kali dan pinggiran hutan yang seringkali dijadikan sebagai tempat eksekusi.

    Kami menginvestigasi dan mengumpulkan data dengan mewawancara para pelaku pembantaian yang masih hidup. Pada umumnya para pelaku enggan untuk bersuara karena merasa itu sebagai aib yang tak layak untuk diceritakan. Mereka selama ini selalu dihantui dengan rasa bersalah yang teramat mencekam. Kilatan-kilatan wajah, jeritan dan rintihan korban pada detik-detik menjelang ajal seringkali datang melalui mimpi.

    Beberapa Kisah dari Pinggiran

    bunuh pkisumber: https://muhammadyasinarief.files.wordpress.com/2011/07/klv001060504.jpg
    a92999881c8008a0310164aee92b9a27.jpg

    Ini cerita dari seorang pelaku yang kami wawancarai di daerah Mojokerto. Sebutlah Tuan A. Ketika tragedi 65 pecah beliau masih berumur 24 tahun. Sebagai seorang pemuda yang waktu itu aktif dalam GP Ansor, sayap kepemudaan NU, beliau menjadi eksekutor garda depan di wilayahnya. Ketika kami sowani, sebenarnya Tuan A enggan untuk menceritakan keterlibatannya. Meski begitu, ketika kami meyakinkan bahwa ini untuk kebaikan tak hanya umat Islam tapi juga untuk bangsa Indonesia. Kemudian beliau berkenan berbagi cerita.

    Di desa yang dihuni Tuan A ini telah terbelah antara warga yang mendukung PKI dan yang mendukung Partai NU. Di desa tersebut kebetulan lurahnya adalah kader PKI yang punya posisi penting di organisasi SOBSI yang mempunyai peran meloloskan seseorang yang hendak bekerja di pabrik di dekat desa tersebut.

    Bagaimana drama eksekusi itu dilakukan?

    Ratusan korban dikirim oleh tentara di tiap desa atau lokasi yang telah ditentukan dengan truk pengangkut. Sebelumnya telah disiapkan lubang oleh penduduk di sekitar lokasi yang pada umumnya tak pernah mengerti apa yang sesungguhnya terjadi. Mereka hanya mendengar kabar sayup-sayup bahwa PKI melakukan percobaan kudeta dan tengah membuat daftar nama tokoh-tokoh yang akan dibantai. Satu-satunya fakta yang bisa mereka hubung-hubungkan dengan rencana pembantaian para tokoh oleh PKI adalah instruksi lurah untuk membuat galian tempat sampah di depan rumah penduduk. Terdapat kabar burung bahwa galian tempat sampah itu rencananya akan dipakai PKI untuk mengubur tokoh masyarakat, mengubur kiai. Meskipun demikian, tidak ada yang bisa dilakukan oleh para penduduk kecuali pasrah atas instruksi yang diberikan oleh Ansor tingkat ranting desa untuk menggali lubang. Para penggali umumnya  adalah warga kurang terdidik yang hanya terikat secara kultural dan keagamaan dengan NU.

    Ketika truk pengangkut korban itu datang di malam hari, biasanya sekitar jam 22.00 malam ke atas, pengurus Ansor setempat yang berajaga-jaga akan teriak-teriak di desa: “Kiriman datang, kiriman datang, kiriman datang, kiriman datang”, untuk memanggil para jagal agar bersiap-siap dengan pedangnya.

    Pada satu lokasi biasanya korban terdiri antara 10 sampai 20 orang. Mereka berbaris dengan jari jempolnya diborgol, digiring ke lokasi yang berada di tepi kali. Kemudian satu persatu korban disembelih dan dimasukkan ke dalam lubang tersebut. Tiap lubang disiapkan berisi antara 8 sampai 15 orang.

    Suasana desa mencekam, satu sama lain diselimuti  awan gelap ketakutan dan kecurigaan. Orang yang biasanya menggemari ludruk dan wayang tiba-tiba tak berani menonton ludruk dan mengadakan tanggapan wayang karena takut di-PKI-kan. Bahkan beberapa tetangga Tuan A yang sangat menggemari ludruk ketakutan dan datang ke Tuan A tersebut meminta perlindungan. “Aku jangan sampai jadi korban ya? Kamu kan tahu kalau aku sejak kecil ngaji ke masjid bareng denganmu? Aku melihat ludruk, tandak’an hanya sebagai hiburan” tutur Tuan A sambil tertawa mengingat teman-teman masa kecilnya yang ketakutan akan menjadi korban.

    Tuan A tak sendirian dalam melakukan eksekusi. Ia dibantu oleh beberapa orang, biasanya hanya 3 orang, karena memang tak banyak orang yang berani mengambil peran sebagai algojo. Ia sendiri beberapa kali harus meyakinkan dirinya dengan datang ke kiai bahwa apa yang dilakukannya merupakan sungguh-sungguh perintah agama.

    “Saya beberapa kali ragu,” demikian ujarnya lirih, “Kalau dalam cerita Nabi, orang berperang kan berhadap-hadapan di medan pertempuran jadi jelas siapa yang salah dan benar. Seperti perang antara Pangeran Diponegoro melawan Belanda. Nah, kalau ini kan saya tidak tahu mereka memang bersalah atau tidaknya. Tapi berulang kali saya diyakinkan bahwa apa yang saya dan teman-teman lakukan adalah jihad membela agama dan negara.”

    Apakah Anda tahu kalau mereka benar bersalah dari mana? Kami menanyai Tuan A “Ya, tidak tahu. Namanya saja saya tidak tahu. Hanya sesekali bertanya pada petugas. Mereka kiriman dari daerah mana? Saya hanya dapat infomasi dari tentara kalau tidak dimusnahkan mereka akan membakar masjid dan membunuh tokoh-tokoh agama. Dan di masjid-masjid sudah diumumkan agar waspada dan bersiap-siap kalau tenaga kita dibutuhkan untuk membersihkan PKI”

    Penggunaan pedang sebagai alat eksekusi pada akhirnya membikin ngeri para algojo. “Pedang yang bersimbah darah dan cipratan darah saat mengeksekusi juga membikin nyali kami ciut. Apalagi baunya amis,” kata Tuan A sambil mengerutkan keningnya untuk menggambarkan mengerikannya pembantaian yang dilakukan hampir tiap malam tersebut dengan ratusan korban.

    Dengan pertimbangan itu Tuan A dan teman-temannya mencoba cara lain untuk mengeksekusi. Meski tentara sempat menolaknya namun percobaan dimulai dengan memakai alu, semacam tongkat besi yang biasa dipakai untuk menumbuk kopi, dipakailah untuk menumbuk leher dan kepala korban. Secara bergiliran korban diminta jongkok ditepi lobang dengan kepala menunduk ke bawah, kemudian ditumbuk batok kepala dan lehernya. “Membunuh PKI rasanya seperti membunuh tikus, kami tumbuk dengan alu (tongkat besi) yang biasa kami pakai menumbuk kopi. Dengan tiga kali tumbukan di kepala biasanya mereka sudah mati”, demikian ujarnya dengan raut muka santai. Beberapa korban yang mencoba memberontak langsung ditembak oleh tentara yang berjaga-jaga mengamankan eksekusi tersebut.

    Sejak memakai alu (tongkat besi) inilah keberanian membunuh menjadi berlipat-lipat karena tak lagi terkena cipratan darah dan bau amis yang membayangi tiap saat. “Kami merasa lebih tenang. Apalagi ini kan untuk menegakkan kalimat tauhid, membela Islam. Dan prosesnya lebih cepat.”

    Biasanya poses eksekusi ini sampai menjelang subuh dini hari. Lebih dari 2 bulan secara berturut-turut desa tersebut dijadikan tempat eksekusi karena lokasinya yang dekat dengan kali besar. Korbannya dikirim dari penjara kota dan anggota-anggota yang diduga PKI dari kecamatan-kecamatan lain seperti kecamatan Trowulan, Delanggu, Jatirejo, bahkan Jombang dan Gresik. Pelaku berkali-kali mencoba meyakinkan dirinya ketika kami wawancarai. Sesekali suaranya terbata-bata selain karena sudah tua juga seperti menahan beban yang tak tertanggungkan. Ia ragu, gusar, bingung dan sesekali merembes air matanya. Lebih-lebih ketika mengingat pamannya yang menjadi korban karena semata-mata pamannya kerja sebagai buruh dan bergabung dengan SOBSI. Bahkan banyak korban yang hendak dieksekusi membaca bismillah, sholawat dan tahlil. Itulah yang membikin hatinya gundah gulana. Antara percaya dan tidak dengan apa yang diinformasikan bahwa orang yang hendak dibantai adalah orang yang tak punya agama. Namun faktanya sebelum mereka dieksekusi mereka menangis dan tak henti-hentinya berdoa.

    Ketika kami tanya “Apakah sungguh-sungguh bisa dipastikan bahwa berita yang dibawa oleh tentara itu benar kalau PKI hendak membunuhi semua tokoh agama?” Jawabnya: “Kabarnya begitu. Mereka akan membakar masjid dan membunuhi tokoh-tokoh agama. TNI mengatakan begitu”.

    Di tempat lain. Di sebuah wilayah di pinggiran hutan antara Madiun dan Ponorogo, rakyat yang tak mengerti apa-apa diminta untuk menggali lubang yang disiapkan sebagai tempat membuang mayat-mayat korban PKI. Salah satu saksi mata mengatakan, “Kalau [kepastian jumlah] korban belum dihitung. [Hanya saja,]…satu persatu korban yang telah mati diiris daun telinganya untuk dihitung. Dari menghitung daun telinga tersebut para algojo tahu berapa orang yang telah dieksekusi, kemudian dilaporkan ke tentara”.

    Sementara itu, mereka yang menyiapkan tempat dan menggali lubang diperlakukan semacam anjing geladak oleh tentara. Jika tak menuruti perintahnya, maka laras panjang akan dihadapkan ke batok kepala mereka.

    Penutup

    Apa yang kurang tepat dari buku ini? Pertama, sejak awal, sejak kemunculannya hingga cara mengkonsepsikan sejarah, bertolak dari asumsi, dugaan-dugaan, prasangka yang selanjutnya melahirkan ketakutan akan lunturnya kemurian, kesejatian Pancasila. Kedua, memposisikan NU di luar sejarah, seolah-olah NU bukan bagian dari jatuh bangunnya pencarian kebenaran orang-orang di dalamnya, sedemikian hingga kritik apapun juga atas NU adalah sebuah kejahatan. NU sejak semula telah luhur dan selamanya luhur karena tak mungkin bisa salah atau pernah salah. Berpikir semacam ini tak hanya berisiko tapi juga fatal dalam membela NU itu sendiri. Seharusnya, kebesaran NU harus ditempatkan sebagai sejarah yang terus berada dalam dialektika dan tegangan di antara orang-orang yang menghidupinya untuk mencari ridla Allah dalam tiap langkahnya.Dan semuanya mesti insyaf bahwa tak ada langkah yang selalu benar atau selalu salah.

    Ketiga, Buku Putih ingin menunjukkan kalau TNI dan NU paling Pancasilais ketimbang lainnya. Usaha memurnikan Pancasila barangkali mungkin diandaikan sejauh bukan membasuhnya dengan darah dan air mata. NKRI tentu saja harus dibela sampai mati, tetapi tentu tidak melalui pengagungan satu tafsir baku TNI atas NKRI sembari mencurigai tafsir lainnya.

    Niat baiknya untuk menjadi buku saku dan buku pegangan yang memudahkan pembaca justru terpelanting ke dalam penyederhanaan yang fatal. Alih-alih menjadi buku pegangan yang akan dipegang—belum tentu dibaca—Buku Putih terlihat seperti buku panduan-panduan yang kurang mengasumsikan adanya kajian yang mendalam. Jika itu terjadi pada buku “Panduan Memasak” atau “Panduan Menambal Ban” mungkin tak ada persoalan. Tapi untuk sebuah kajian sejarah, sangat mengecewakan, apalagi ditulis dengan nada arogansi yang lebih mirip jargon politik yang ditulis di perempatan-perempatan jalan. Melalui diksinya yang vulgar, buku ini menjadi horor bagi pembacanya. Mempertontonkan kegagahan, dan ke-macho-an yang mengerikan.

    Sebelum disudahi tulisan sederhana ini, mari kita mengingat kembali, sekali lagi dengan jernih, bahwa sejak semula nation Indonesia tidak lahir dari ruang hampa, bukan tiba-tiba turun dari langit.

    Dalam Language, Fantasy, Revolution: Java 1900-1945, Anderson menulis bahwa para pejuang nasionalis Indonesia, gelora mereka dipupuk oleh rasa bahwa mereka menjadi bagian dari gemuruh perubahan dunia di belahan bumi lainnya. Suara sayup-sayup revolusi Bolshevik turut menebalkan tekad dan daya juang mereka memperjuangkan Indonesia (Lebih lanjut lih. Vedi R. Hadiz, Politik, Budaya dan Perubahan Sosial, Ben Anderson dalam Studi Politik Indonesia, Jakarta: Gramedia & Yayasan SPES, 1992, hlm. 75-76). Bangsa ini disumbang oleh banyak darah dan air mata, tak hanya darah dan air mata satu golongan saja, tapi banyak golongan. NU berkontribusi besar dalam mempertahankan masa-masa darurat ketika Indonesia baru diproklamirkan melalui Resolusi Jihad Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari. Tapi menganggap sepi sumbangsih PKI yang merupakan partai tertua di Indonesia dalam pengertian modern, dan yang  sejak semula menjadi kelompok yang gigih melawan penjajah Belanda adalah sebuah kelicikan yang tak terperikan.

    Juga, kalau logika pembersihan, pembabatan, pembumihangusan yang diajarkan Orde Baru ini terus dioperasikan maka tak perlu heran nanti kalau sehabis menumpahkan darah di Aceh mungkin selanjutnya akan dilakukan di Papua, karena rakyat Papua melawan setelah merasa dipecundangi oleh pemerintah yang telah dengan sewenang-wenang menjual kekayaan tanah mereka pada Freeport melalui kontrak karya. Pertanyaannya, apakah suara-suara protes dari Papua akan juga kita sikapi sebagai bughat? Kalau iya, mulai sekarang mari kita siapkan pasukan dan beribu-ribu laskar untuk melakukan misi suci pembumihangusan suara-suara protes di Papua yang mengancam keharmonisan dan keutuhan NKRI.

    Logika yang sama, yaitu pembersihan, pembabatan dan pembumi-hangusan, sebenarnya bisa kita pakai untuk membersihkan Orde Baru di masa awal Reformasi. Kita gantung Soeharto di Tugu Monas, kita bubarkan Golkar, kita buat Front Pembumihangusan Golkar hingga ke akar-akarnya. Para pengikut dan simpatisannya di desa-desa kita buru, kita tangkap dan bunuhi kemudian kita tenggelamkan ke dasar samudra. Karena apa? Suharto dan antek-anteknya telah meng-kup Sukarno melalui apa yang disebut dengan kudeta merangkak. Ia bajak NKRI selama 32 tahun. Ia bajak Pancasila untuk kepentingan politiknya, ia lecehkan rakyat Indonesia, yang tak sesuai dengan kehendak politiknya ia ledakkan kepalanya. Dan semua tahu melecehkan jutaan rakyat Indonesia, mempermainkan nasib rakyat hakikatnya adalah melecehkan Tuhan yang maha agung, Tuhan yang serba melingkupi dan tak ternamai.

    Kenapa tidak dikenakan hukum bughat pada Suharto, seorang despot dan bigot yang telah membanjiri sejarah Indonesia dengan jutaan darah rakyat tak berdosa? Karena kita waras, yaitu manusia yang hidup tak hanya bertumpu di atas kalkukasi akal budi rasional, apalagi sekedar silogisme. Lebih dari itu manusia Indonesia insyaf bahwa “seng salah bakal seleh”, mereka gede pangapurane, besar pengampunannya. Memberi maaf kepada orang yang tak layak diampuni. Oleh Allah mereka disebut sebagai kaum muhsinin, yaitu orang yang mampu memberi pengampunan pada mereka yang tak layak diampuni. Mereka, orang-orang yang menjadi korban kebrutalan Suharto dan Orde Baru merupakan orang-orang yang paling dicintai Allah, “innallaha yuhibb al muhsinin”.

    Shalom…

    Wallahu a’lam bi al shawab

    Esai adalah penyempurnaan dari esai yang di sampaikan dalam diskusi “Peran Angkatan Muda NU” pada 10 Februari 2014 di Kediri.

    Sumber: http://islambergerak.com/2014/11/nu-di-masa-65-bagian-1/
    never feel bother....
  • Pasti dalam setiap diskusi dgn simpatisan komunis akan dimunculkan, "apakah komunis itu atheis?" dan yg kedua adalah sejarah yg ditulis jaman pak Harto penuh rekayasa, akhir nya mentok dah diskusi nya ... hehehe

    Komunis ciri khas nya kayak revolusi di soviet ...
    Kampanye Sosialis, demo, kampanye anti kapitalis bahkan paham apapun tetap dianggap musuh baik paham agama, liberal, nasionalis, penjarahan masal, tanah2 dikuasai baik tanah penduduk atau pemerintah.


    Dalam masa sekarang yg kader komunis, tidaklah banyak, ada yg mendukung adalah pihak asing non simpatisan tulen komunis, tujuan nya agar menekan dan terjadi kisruh di Indonesia, naah nanti akan masuk berbagai paham seperti kapitalis, liberalis, nasionalis, agamis, semua biar masuk jadi satu, biarlah Indonesia tetap kacau minimal bisa bikin lemah tidak bisa menganggu negara asing adi kuasa
  • Setiap esai yg membela PKI dgn G30S nya, umum nya ada kalimat bahwa gerakan tsb "Apakah sdh terbukti dilakukan oleh PKI?" dan kalimat "itu adalah rekayasa Soeharto" kenapa tdk nyebut rekayasa TNI? atau CIA? Padahal setelah kejadian G30S PKI tersebut, aidit dgn gagah berani nya menyatakan tindakan nya adalah tindakan mengamankan Soekarno dan pencegahan makar dari dewan jendral ...

    PKI sekarang cemeng dan pendukung PKI sekarang penakut tidak kayak aidit dgn gagah berani menyatakan tindakan G30S adalah tindakan PKI, malah bikin nuansa kabur dgn melontarkan tidak ada bukti dan fakta nya kalau G30S bukan gerakan PKI.

    Dasar cemeng ....... :applause:
  • Oh gitu yah, yg ngaku PKI sekarang cemeng? Intinya adalah jadi PKI itu memang benar adanya
    never feel bother....
Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Halo, Komandan!

Sepertinya anda baru di sini. Ingin ber-interaksi? Klik satu tombol ini!

Kategori

Penawaran Terbatas

Booking.com
Liburan di ratusan ribu destinasi & puluhan ribu akomodasi di 200+ lebih negara seluruh dunia. Tentu saja dengan harga promo khusus dan terjangkau kantong anda. Silahkan coba cari dan temukan impian liburan atau akomodasi untuk bisnis anda!