Contact Us
News
Follow TELEGRAM Channel ForumBebas.com di alamat T.ME/FORUMBEBAS atau Facebook Fan Page dan Twitter Forumbebas .

Forum Bebas Indonesia

[req] prabu siliwangi

@ mas david ucup

memang ada juga yang bergelar Siliwangi seperti :

Siliwangi I : Raden Samadullah Surawisesa Mundinglayadikusumah Sri Paduka Maharaja Prabu Guru Gantangan Sang Sri Jaya Dewata / Ki Ageng Pamanah Rasa / Sunan Pagulingan / Kebo Kenongo / Rd. Kumetir / Layang Kumetir

Siliwangi II : Raden Salalangu Layakusumah Sri Paduka Maharaja Prabu Guru Dewata Prana Sang Prabu Guru Ratu Dewata

Siliwangi III : Tumenggung Cakrabuana Wangsa Gopa Prana Sang Prabu Walangsungsang Dalem Martasinga Syekh Rachmat Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati I Ki Ageng Pamanahan

Komentar

  • boss semua aku pengen tahu sejarah tentang prabu siliwangi, bahkan klo ada yang tahu di mana letak makamnya.....
    yang ngasih komplit artikelnya gue kasih rep+
    thaks sebelom nya boss
  • Jaman Pajajaran diawali oleh pemerintahan Sri Baduga Maharaja (RatuJayadewata) yang memerintah selama 39 thaun (1482 - 1521). Pada masa inilah Pakuan mencapai puncak perkembangannya.

    Dalam prasasti Batutulis diberitakan bahwa Sri Baduga dinobatkan dua kali, yaitu yang pertama ketika Jayadewata menerima Tahta Galuh dari ayahnya (Prabu Dewa Niskala) yang kemudian bergelar PRABU GURU DEWAPRANATA. Yang kedua ketika ia menerima Tahta Kerajaan Sunda dari mertuanya (Susuktunggal). Dengan peristiwa ini, ia menjadi penguasa Sunda-Galuh dan dinobatkan dengar gelar SRI BADUGA MAHARAJA RATU HAJI di PAKUAN PAJAJARAN SRI SANG RATU DEWATA. Jadi sekali lagi dan untuk terakhir kalinya, setelah "sepi" selama 149 tahun, Jawa Barat kembali menyaksikan iring-iringan rombongan raja yang berpindah tempat dari timur ke barat.

    Di Jawa Barat Sri Baduga ini lebih dikenal dengan nama PRABU SILIWANGI. Nama Siliwangi sudah tercatat dalam kropak 630 sebagai lakon pantun. Naskah itu ditulis tahun 1518 ketika Sri Baduga masih hidup. Lakon Prabu Siliwangi dalam berbagai versinya berintikan kisah tokoh ini menjadi raja di Pakuan. Peristiwa itu dari segi sejarah berarti saat Sri Baduga mempunyai kekuasaan yang sama besarnya dengan Wastu Kancana
    (kakeknya) alias Prabu Wangi (menurut pandangan para pujangga Sunda). Menurut tradisi lama. orang segan atau tidak boleh menyebut gelar raja yang sesungguhnya, maka juru pantun mempopulerkan sebutan Siliwangi. Dengan nama itulah ia dikenal dalam literatur Sunda. Wangsakerta pun mengungkapkan bahwa Siliwangi bukan nama pribadi, ia menulis: "Kawalya ta wwang Sunda lawan ika wwang Carbon mwang sakweh ira wwang Jawa Kulwan anyebuta Prabhu Siliwangi raja Pajajaran. Dadyeka dudu ngaran swaraga nira" (Hanya orang Sunda dan orang Cirebon serta semua orang Jawa Barat yang menyebut Prabu Siliwangi raja Pajajaran. Jadi nama itu bukan nama pribadinya).

    Waktu mudanya Sri Baduga terkenal sebagai kesatria pemberani dan tangkas bahkan satu-satunya yang pernah mengalahkan RATU JAPURA (AMUK MURUGUL) waktu bersaing memperbutkan Subanglarang (istri kedua Prabu Siliwangi yang beragama Islam). Dalam berbagai hal, orang sejamannya teringat kepada kebesaran mendiang buyutnya (Prabu Maharaja Lingga Buana) yang gugur di Bubat yang digelari Prabu Wangi. {Tentang hal ini, Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara II/2 mengungkapkan bahwa orang Sunda menganggap Sri Baduga sebagai pengganti Prabu Wangi, sebagai silih yang telah hilang. Naskahnya berisi sebagai berikut (artinya saja): "Di medan perang Bubat ia banyak membinasakan musuhnya karena Prabu Maharaja sangat menguasai ilmu senjata dan mahir berperang, tidak mau negaranya diperintah dan dijajah orang lain. Ia berani menghadapi pasukan besar Majapahit yang dipimpin oleh sang Patih Mada yang jumlahnya tidak terhitung. Oleh karena itu, ia bersama semua pengiringnya gugur tidak tersisa. Ia senantiasa mengharapkan kemakmuran dan kesejahteraan hidup rakyatnya di seluruh bumi Jawa Barat. Kemashurannya sampai kepada beberapa negara di pulau-pulau Dwipantara atau Nusantara namanya yang lain. Kemashuran Sang Prabu Maharaja membangkitkan (rasa bangga kepada) keluarga, menteri-menteri kerajaan, angkatan perang dan rakyat Jawa Barat. Oleh karena itu nama Prabu Maharaja mewangi. Selanjutnya ia di sebut Prabu Wangi. Dan keturunannya lalu disebut dengan nama Prabu Siliwangi. Demikianlah menurut penuturan orang Sunda"}

    Kesenjangan antara pendapat orang Sunda dengan kenyataan sejarah seperti yang diungkapkan di atas mudah dijajagi. Pangeran Wangsakerta (penanggung jawab penyusunan Sejarah Nusantara) menganggap bahwa tokoh Prabu Wangi adalah Maharaja Linggabuana yang gugur di bubat, sedangkan penggantinya ("silih"nya) bukan Sri Baduga melainkan Wastu Kancana (kakek Sri Baduga, menurut naskah Wastu kancana disebut juga PRABU WANGSISUTAH). Orang Sunda tidak memperhatikan perbedaan ini sehingga menganggap Prabu Siliwangi sebagai putera Wastu Kancana (Prabu Anggalarang). Tetapi dalam Carita Parahiyangan disebutkan bahwa Niskala Wastu Kancana itu adalah "seuweu" Prabu Wangi. Mengapa Dewa Niskala (ayah Sri Baduga) dilewat?. Ini disebabkan Dewa Niskala hanya menjadi penguasan Galuh. Dalam hubungan ini tokoh Sri Baduga memang penerus "langsung" dari Wastu Kancana. Menurut Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara II/4, ayah dan mertua Sri Baduga (Dewa Niskala dan Susuktunggal) hanya bergelar PRABU, sedangkan Jayadewata bergelar MAHARAJA (sama seperti kakeknya Wastu Kancana sebagai penguasa Sunda-Galuh).

    Dengan demikian, seperti diutarakan Amir Sutaarga (1965), Sri Baduga itu dianggap sebagai "silih" (pengganti) Prabu Wangi Wastu Kancana (oleh Pangeran Wangsakerta disebut Prabu Wangisutah). "Silih" dalam pengertian kekuasaan ini oleh para pujangga babad yang kemudian ditanggapi sebagai pergantian generasi langsung dari ayah kepada anak sehingga Prabu Siliwangi dianggap putera Wastu Kancana].

    Proses kepindahan isteri Ratu Pakuan (Sri Baduga) ke Pakuan terekam oleh pujangga bernama
    KAI RAGA di Gunung Srimanganti (Sikuray). Naskahnya ditulis dalam gaya pantun dan dinamai
    CARITA RATU PAKUAN (diperkirakan ditulis pada akhir abad ke-17 atau awal abad ke-18).
    Naskah itu dapat ditemukan pada Kropak 410 . Isinya adalah sebagai berikut (hanya
    terjemahannya saja):

    Tersebutlah Ngabetkasih
    bersama madu-madunya
    bergerak payung lebesaran melintas tugu
    yang seia dan sekata
    hendak pulang ke Pakuan
    kembali dari keraton di timur
    halaman cahaya putih induk permata
    cahaya datar namanya
    keraton berseri emas permata
    rumah berukir lukisan alun
    di Sanghiyang Pandan-larang
    keraton penenang hidup.

    Bergerak barisan depan disusul yang kemudian
    teduh dalam ikatan dijunjung
    bakul kue dengan tutup yang diukir
    kotak jati bersudut bulatan emas
    tempat sirih nampan perak
    bertiang gading ukiran telapak gajah
    hendak dibawa ke Pakuan

    Bergerak tandu kencana
    beratap cemara gading
    bertiang emas
    bernama lingkaran langit
    berpuncak permata indah
    ditatahkan pada watang yang bercungap

    Singa-singaan di sebelah kiri-kanan
    payung hijau bertiang gading
    berpuncak getas yang bertiang
    berpuncak emas
    dan payung saberilen
    berumbai potongan benang
    tapok terongnya emas berlekuk
    berayun panjang langkahnya
    terkedip sambil menoleh
    ibarat semut, rukun dengan saudaranya
    tingkahnya seperti semut beralih
    Bergerak seperti pematang cahaya melayang-layang
    berlenggang di awang-awang
    pembawa gendi di belakang
    pembawa kandaga di depan
    dan ayam-ayaman emas kiri-kanan
    kidang-kidangan emas di tengah
    siapa diusun di singa barong

    Bergerak yang di depan, menyusul yang kemudian
    barisan yang lain lagi

    [yang dikisahkan dalam pantun itu adalah Ngabetkasih (Ambetkasih), isteri Sri BAduga yang pertama (puteri Ki Gedng Sindang Kasih, putera Wastu Kancana ketiga dari Mayangsari). Ia pindah dari keraton timur (Galuh) ke Pakuan bersama isteri-isteri Sri Baduga yang lain]

    Tindakan pertama yang diambil oleh Sri Baduga setelah resmi dinobatkan jadi raja adalah menunaikan amanat dari kakeknya (Wastu Kancana) yang disampaikan melalui ayahnya (Ningrat
    Kancana) ketika ia masih menjadi mangkubumi di Kawali. Isi pesan ini bisa ditemukan pada salah satu prasasti peniggalan Sri Baduga di Kebantenan. Isinya sebagai berikut (artinya saja):

    Semoga selamat. Ini tanda peringatan bagi Rahyang Niskala Wastu Kancana. Turun kepada Rahyang Ningrat Kancana, maka selanjutnya kepada Susuhunan sekarang di Pakuan Pajajaran. Harus menitipkan ibukota di Jayagiri dan ibukota di Sunda Sembawa.

    Semoga ada yang mengurusnya. Jangan memberatkannya dengan "dasa", "calagra", "kapas timbang", dan "pare dongdang".

    Maka diperintahkan kepada para petugas muara agar jangan memungut bea. Karena merekalah yang selalu berbakti dan membaktikan diri kepada ajaran-ajaran. Merekalah yang tegus mengamalkan peraturan dewa.

    Dengan tegas di sini disebut "dayeuhan" (ibukota) di Jayagiri dan Sunda Sembawa. Penduduk kedua dayeuh ini dibebaskan dari 4 macam pajak, yaitu "dasa" (pajak tenaga perorangan), "calagra" (pajak tenaga kolektif), "kapas timbang" (kapas 10 pikul) dan "pare dondang" (padi 1 gotongan). Dalam kropak 630, urutan pajak tersebut adalah dasa, calagra, "upeti", "panggeureus reuma". [Dalam kropak 406 disebutkan bahwa dari daerah Kandang Wesi (sekarang Bungbulang, Garut) harus membawa "kapas sapuluh carangka" (10 carangka= 10 pikul = 1 timbang atau menurut Coolsma, 1 caeng timbang) sebagai upeti ke Pakuan tiap tahun. Kapas termasuk upeti. Jadi tidak dikenakan kepada rakyat secara perorangan, melainkan kepada penguasa setempat.

    "Pare dondang" disebut "panggeres reuma". Panggeres adalah hasil lebih atau hasil cuma-cuma tanpa usaha. Reuma adalah bekas ladang. Jadi, padi yang tumbuh terlambat (turiang) di bekas ladang setelah dipanen dan ke- mudian ditinggalkan karena petani membuka ladang baru, menjadi hak raja atau penguasa setempat (tohaan). Dongdang adalah alat pikul seperti "tempat tidur" persegi empat yang diberi tali atau tangkai berlubang untuk memasukan pikulan. Dondang harus selalu di gotong. Karena bertali atau bertangkai, waktu digotong selalu berayun sehingga disebut "dondang" (berayun). Dondang pun khusus dipaka untuk membawa barang antaran pada selamatan atau arak-arakan. Oleh karena itu, "pare dongdang" atau "penggeres reuma" ini lebih bersifat barang antaran.

    Pajak yang benar-benar hanyalah pajak tenaga dalam bentuk "dasa" dan "calagra" (Di Majapahit disebut "walaghara = pasukan kerja bakti). Tugas-tugas yang harus dilaksanakan untuk kepentingan raja diantaranya: menangkap ikan, berburu, memelihara saluran air (ngikis), bekerja di ladang atau di "serang ageung" (ladang kerajaan yang hasil padinya di peruntukkan bagi upacara resmi)]

    [Dalam kropak 630 disebutkan "wwang tani bakti di wado" (petani tunduk kepada wado). Wado atau wadwa ialah prajurit kerajaan yang memimpin calagara. Sistem dasa dan calagara ini terus berlanjut setelah jaman kerajaan. Belanda yang di negaranya tidak mengenal sistem semacam ini memanfaatkanna untuk "rodi". Bentuk dasa diubah menjadi "Heerendiensten" (bekerja di tanah milik penguasa atau pembesar). Calagara diubah menjadi "Algemeenediensten" (dinas umum) atau "Campongdiesnten" (dinas Kampung) yang menyangkut kepentingan umum, seperti pemeliharaan saluran air, jalan, rumah jada dan keamanan. Jenis pertama dilakukan tanpa imbalan apa-apa, sedangkan jenis kedua dilakuan dengan imbalan dan makan. "Preangerstelsel" dan "Cultuurstelsel" yang keduanya berupa sistem tanam paksa memangfaatkan trasisi pajak tenaga ini.

    Dalam akhir abad ke-19 bentuknya berubah menjadi "lakongawe" dan berlaku untuk tingkat desa. Karena bersifat pajak, ada sangsi untuk mereka yang melalaikannya. Dari sinilah orang Sunda mempunyai peribahasa "puraga tamba kadengda" (bekerja sekedar untuk menghindari hukuman atau dendaan). Bentuk dasa pada dasarnya tetap berlangsung. Di desa ada kewajiban "gebagan" yaitu bekerja di sawah bengkok dan ti tingkat kabupaten bekerja untuk menggarap tanah para pembesar setempat. Jadi "gotong royong tradisional berupa bekerja untuk kepentingan umum atas perintah kepala desa", menurut sejarahnya bukanlah gotong royong. Memang tradisional, tetapi ide dasarnya adalah pajak dalam bentuk tenaga. Dalam Pustaka Jawadwipa disebut KARYABHAKTI dan sudah dikenal pada masa Tarumanagara dalam abad ke-5.

    Piagam-piagam Sri Baduga lainnya berupa "piteket" karena langsung merupakan perintahnya. Isinya tidak hanya pembebasan pajak tetapi juga penetapan batas-batas "kabuyutan" di Sunda Sembawa dan Gunung Samaya yang dinyatakan sebagai "lurah kwikuan" yang disebut juga DESA PERDIKAN (desa bebas pajak).

    Untuk mengetahui lebih lanjut kejadian di masa pemerintahan Sri Baduga, marilah kita telusuri sumber sejarah sebagai berikut:

    a. Carita Parahiyangan

    Dalam sumber sejarah ini, pemerintahan Sri Baduga dilukiskan demikian: "Purbatisi purbajati, mana mo kadatangan ku musuh ganal musuh alit. Suka kreta tang lor kidul kulon wetan kena kreta rasa. Tan kreta ja lakibi dina urang reya, ja loba di sanghiyang siksa" (Ajaran dari leluhur dijunjung tinggi sehingga tidak akan kedatangan musuh, baik berupa laskar maupun penyakit batin. Senang sejahtera di utara, barat dan timur. Yang tidak merasa sejahtera hanyalah rumah tangga orang banyak yang serakah akan ajaran agama)

    Dari Naskah ini dapat diketahui, bahwa pada saat itu telah banyak Rakyat Pajajaran yang beralih agama (Islam) dengan meninggalkan agama lama. Mereka disebut "loba" (serakah) karena merasa tidak puas dengan agama yang ada, lalu mencari yang baru.

    b. Pustaka Nagara Kretabhumi parwa I serga 2

    Naskah ini menceritakan, bahwa pada tanggal 12 bagian terang bulan Caitra tahun 1404 Saka, Syarif Hidayat menghentikan pengiriman upeti yang seharusnya di bawa setiap tahun ke Pakuan Pajajaran. [Syarif Hidayat masih cucu Sri Baduga dari Lara Santang. Ia dijadikan raja oleh uanya (Pangeran Cakrabuana) dan menjadi raja merdeka di Pajajaran di Bumi Sunda (Jawa Barat)]

    Ketika itu Sri Baduga baru saja menempati istana Sang Bhima (sebelumnya di Surawisesa). Kemudian diberitakan, bahwa pasukan Angkatan Laut Demak yang kuat berada di Pelabuhan Cirebon untuk menjada kemungkinan datangnya serangan Pajajaran.

    Tumenggung Jagabaya beserta 60 anggota pasukannya yang dikirimkan dari Pakuan ke Cirebon, tidak mengetahui kehadiran pasukan Demak di sana. Jagabaya tak berdaya menghadapi pasukan gabungan Cirebon-Demak yang jumlahnya sangat besar. Akhirnya Jagabaya menghamba dan masuk Islam.

    Peristiwa itu membangkitkan kemarahan Sri Baduga. Pasukan besar segera disiapkan untuk menyerang Cirebon. Akan tetapi pengiriman pasukan itu dapat dicegah oleh PUROHITA (pendeta tertinggi) keraton KI PURWA GALIH. [Cirebon adalah daerah warisan Cakrabuana (Walangsungsang) dari mertuanya (Ki Danusela) dan daerah sekitarnya diwarisi dari kakeknya Ki Gedeng Tapa (Ayah Subanglarang). Cakrabuana sendiri dinobatkan oleh Sri Baduga (sebelum menjadi Susuhunan) sebagai penguasa Cirebon dengan gelar Sri Mangana. Karena Syarif Hidayat dinobatkan oleh Cakrabuana dan juga masih cucu Sri Baduga, maka alasan pembatalan penyerangan itu bisa diterima oleh penguasa Pajajaran]

    Demikianlah situasi yang dihadapi Sri Baduga pada awal masa pemerintahannya. Dapat dimaklumi kenapa ia mencurahkan perhatian kepada pembinaan agama, pembuatan parit pertahanan, memperkuat angkatan perang, membuat jalan dan menyusun PAGELARAN (formasi tempur). [Pajajaran adalah negara yang kuat di darat, tetapi lemah di laut.

    Menurut sumber Portugis, di seluruh kerajaan, Pajajaran memiliki kira-kira 100.000 prajurit. Raja sendiri memiliki pasukan gajah sebanyak 40 ekor. Di laut, Pajajaran hanya memiliki 6 buah JUNG (adakah yang tahu artinya?) dari 150 ton dan beberala LANKARAS (?) untuk kepentingan perdagangan antar-pulaunya (saat itu perdagangan kuda jenis Pariaman mencapai 4000 ekor/tahun)]

    Keadaan makin tegang ketika hubungan Demak-Cirebon makin dikukuhkan dengan perkawinan putera-puteri dari kedua belah pihak. Ada 4 pasangan yang dijodohkan, yaitu
    1. Pangeran Hasanudin dengan Ratu Ayu Kirana (Purnamasidi)
    2. Ratu Ayu dengan Pangeran Sabrang Lor
    3. Pangeran Jayakelana dengan Ratu Pembayun
    4. Pangeran Bratakelana dengan Ratu Ayu Wulan (Ratu Nyawa)

    [Perkawinan Sabrang Lor (YUNUS ABDUL KADIR) dengan Ratu Ayu terjadi 1511. Sebagai SENAPATI SARJAWALA (Panglima angkatan laut) Kerajaan Demak, ia untuk sementara berada di Cirebon]

    Persekutuan Cirebon-Demak inilah yang sangat mencemaskan Sri Baduga di Pakuan. Tahun 1512, ia mengutus putera mahkota Surawisesa menghubungi Panglima Portugis ALFONSO d'ALBUQUERQUE di Malaka (ketika itu baru saja merebut Pelabuhan Pasai). Sebaliknya upaya Pajajaran ini telah pula meresahkan pihak Demak.

    Pangeran Cakrabuana dan Susuhunan Jati (Syarif Hidayat) tetap menghormati Sri Baduga karena masing-masing sebagai ayah dan kakek. Oleh karena itu permusuhan antara Pajajaran dengan Cirebon tidak berkembang ke arah ketegangan yang melumpuhkan SEKTOR-SEKTOR PEMERINTAHAN. Sri Baduga hanya tidak senang hubungan Cirebon-Demak yang terlalu akrab, bukan terhadap Kerajaan Cirebon. Terhadap Islam, ia sendiri tidak membencinya karena salah seorang permaisurinya (Subanglarang) adalah muslimah dan ketiga anaknya (Walangsungsang alias Cakrabuana, Lara Santang dan Raja Sangara) diizinkan sejak kecil mengikuti agama ibunya (Islam).

    Karena permusuhan tidak berlanjut ke arah pertumpahan darah, maka masing-masing pihak dapat mengembangkan keadaan dalam negerinya. Demikianlah pemerintahan Sri Baduga dilukiskan sebagai jaman kesejahteraan (Carita Parahiyangan). Tome Pires ikut mencatat kemajuan jaman Sri Baduga dengan komentar "The Kingdom of Sunda is justly governed; they are true men" (Kerajaan Sunda diperintah dengan adil; mereka adalah orang-orang jujur). Juga diberitakan kegiatan perdagangan Sunda dengan Malaka sampai ke kepulauan Maladewa (Maladiven). Jumlah merica bisa mencapai 1000 bahar (1 bahar = 3 pikul) setahun, bahkan hasil tammarin (asem) dikatakannya cukup untuk mengisi muatan 1000 kapal.

    Naskah KITAB WARUGA JAGAT dari Sumedang dan PANCAKAKI MASALAH KARUHUN KABEH dari Ciamis yang ditulis dalam abad ke-18 dalam bahasa Jawa dan huruf Arab-pegon masih menyebut masa pemerintahan Sri Baduga ini dengan masa GEMUH PAKUAN (kemakmuran Pakuan) sehingga tak mengherankan bila hanya Sri Baduga yang kemudian diabadikan kebesarannya oleh raja penggantinya dalam jaman Pajajaran.

    Sri Baduga Maharaja alias Prabu Siliwangi yang dalam Prasasti Tembaga Kebantenan disebut SUSUHUNAN di PAKUAN PAJAJARAN, memerintah selama 39 tahun (1482 - 1521). Ia disebut SECARA ANUMERTA SANG LUMAHING (SANG MOKTENG) RANCAMAYA karena ia dipusarakan di Rancamaya (di sinilah nilai khusus Rancamaya). [Rancamaya terletak kira-kira 7 Km di sebelah tenggara Kota Bogor. Rancamaya memiliki mata air yang sangat jernih. Tahun 1960-an di hulu Cirancamaya ini ada sebuah situs makam kuno dengan pelataran berjari-jari 7.5 m tertutup hamparan rumput halus dan dikelilingi rumpun bambu setengah lingkaran. Dekat makam itu terdapat Pohon Hampelas Badak setinggi kira-kira 25 m dan sebuah pohon beringin.

    Dewasa ini seluruh situs sudah "dihancurkan" orang. Pelatarannya ditanami ubi kayu, pohon-pohonannya ditebang dan makam kuno itu diberi saung. Di dalamnya sudah bertambah sebuah kuburan baru, lalu makam kunonya diganti dengan bata pelesteran, ditambah bak kecil untuk peziarah dengan dinding yang dihiasi huruf Arab. Makam yang dikenal sebagai makam Embah Punjung ini mungkin sudah dipopulerkan orang sebagai MAKAM WALI. Kejadian ini sama seperti kuburan Embah Jepra pendiri Kampung Paledang yang terdapat di Kebun Raya yang "dijual" orang sebagai "makam Raja Galuh".

    Telaga yang ada di Rancamaya, menurut Pantun Bogor, asalnya bernama Rena Wijaya dan kemudian berubah menjadi Rancamaya. Akan tetapi, menurut naskah kuno, penamaannya malah dibalik, setelah menjadi telaga kemudian dinamai Rena Maha Wijaya (terungkap pada prasasti). "Talaga" (Sangsakerta "tadaga") mengandung arti kolam. Orang Sunda biasanya menyebut telaga untuk kolam bening di pegunungan atau tempat yang sunyi. Kata lain yang sepadan adalah situ (Sangsakerta, setu) yang berarti bendungan.

    Bila diteliti keadaan sawah di Rancamaya, dapat diperkirakan bahwa dulu telaga itu membentang dari hulu Cirancamaya sampai ke kaki bukit Badigul di sebelah utara jalan lama yang mengitarinya dan berseberangan dengan Kampung Bojong. Pada sisi utara lapang bola Rancamaya yang sekarang, tepi telaga itu bersambung dengan kaki bukit.

    Bukit Badigul memperoleh namanya dari penduduk karena penampakannya yang unik. Bukit itu hampir "gersang" dengan bentuk parabola sempurna dan tampak seperti "katel" (wajan) terbalik. Bukit-bukit disekitarnya tampak subur. Badigul hanya ditumbuhi jenis rumput tertentu. Mudah diduga bukit ini dulu "dikerok" sampai mencapai bentuk parabola. Akibat pengerokan itu tanah suburnya habis.

    Bagidul kemungkinan waktu itu dijadikan "bukit punden" (bukit pemujaan) yaitu bukit tempat berziarah (bahasa Sunda, nyekar atau ngembang=tabur bunga). Kemungkinan yang dimaksud dalam "rajah Waruga Pakuan" dengan Sanghiyang Padungkulan itu adalah Bukit Badigul ini.

    Kedekatan telaga dengan bukit punden bukanlah tradisi baru. Pada masa Purnawarman, raja beserta para pembesar Tarumanagara selalu melakukan upacara mandi suci di Gangganadi (Setu Gangga) yang terletak dalam istana Kerajaan Indraprahasta (di Cirebon Girang). Setelah bermandi- mandi suci, raja melakukan ziarah ke punden-punden yang terletak dekat sungai.

    sumber : Sumber: Saleh Danasasmita. 1983. Sejarah Bogor (Bagian I). PEMDA DT II Bogor
    link : di sini

    ___________________________________________________

    saya tidak tahu apakah forum ini sejarah perjuangan bangsa melawan penjajahan atau memang sejarah Indonesia secara keseluruhan, mungkin pak Komandan bisa menjelaskannya :top: :top:
  • Sementara disini dulu tidak apa2, disana belum ada moderator nya
    Biar bisa update dulu, nanti jika maksimal data sejarah baru di pindah
    Gimana kalau Nusantara moderator nya kita :grin:
    Jadi bisa mudah ngatur arsip :grin:
  • krisna02 menulis:
    Sementara disini dulu tidak apa2, disana belum ada moderator nya
    Gimana kalau Nusantara moderator nya kita :grin:
    Jadi bisa mudah ngatur arsip :grin:
    Mas Krisna kayaknya pas di sana :grin: :grin: :top:
  • Pak Krisna memang pas jadi vice president di FBI...

    :top:
  • Dimensi sejarah bermakna luas adalah kegiatan dari masa lalu yang mempunyai dampak atau tidak terhadap masa sekarang/depan.
    Jenisnya macam2:
    1. Mempunyai arti Permulaan
    2. Mempunyai arti sosial kemasyarakatan atau peradaban
    3. Mempunyai arti Perjuangan/peperangan
    4. Mempunyai arti Pembangunan

    Rangngkuman Catatan Kang Yoseph Iskandar : Sejarah Sunda (130 - 1579 M)

    • Purwacarita
    Pengertian sejarah secara tradisi adalah beberapa kisah dongeng, legenda, babad, tambo dll. Sesungguhnya hal itu berada dibawah disiplin ilmu sastra, sedangkan sejarah, pembuktiannya harus berdasarkan disiplin ilmu : filologi (ilmu yang mempelajari naskah kuna), epigrafi (ilmu yang mempelajari aksara prasasti), arkeologi (ilmu yang mempelajari artefak-artefak peninggalan sejarah), dan geografi (ilmu yang mempelajari permukaan bumi).

    Karya sastra bisa diuji dan dikaji oleh disiplin ilmu sejarah sejauh karya sastra yang bernilai sejarah itu dapat menunjang temuan sejarah itu sendiri. Sebaliknya hasil penelitian sejarah dapat disusun menjadi karya sastra yang sering kita sebut roman sejarah. Naskah Pangeran Wangsakerta, menurut Edi S. Ekadjati dan menurut Ayat Rohaedi, adalah naskah sejarah. Sistematika dan pengungkapannya sudah dalam bentuk sejarah, menggunakan referensi atau sumber-sumber tertulis lainnya.

    • Purwayuga
    Sejarah Sunda dimulai dari masa Purwayuga (jaman purba) atau dari masa Nirleka (silam), yang terbagi atas :
    o Prathama Purwayuga (jaman purba pertama), dengan kehidupan manusia hewan Satwapurusa, antara 1 jt s.d. 600 rb th silam
    o Dwitiya Purwayuga (jaman purba kedua), dengan kehidupan manusia yaksa, antara 500 rb sampai 300 rb tahun silam
    o Tritiya Purwayuga (jaman purba ketiga), dengan kehidupan manusia kerdil (wamana purusa), antara 50 rb sampai 25 rb tahu silam.

    • Dukuh Pulasari Pandeglang
    o menurut naskah Pangeran Wangsakerta, kehidupan masyarakat Sunda pertama di pesisir barat ujung pulau Jawa, yaitu pesisir Pandeglang. Dipimpin oleh seorang kepala suku (panghulu) Aki Tirem Sang Aki Luhur Mulya. Sistem religi mereka adalah Pitarapuja, yaitu pemuja roh leluhur, dengan bukti sejumlah menhir seperti Sanghiyang Dengdek, Sanghiyang Heuleut, Batu Goong, Batu Cihanjuran, Batu Lingga Banjar, Batu Parigi, dll. Refleksi dukuh Pulasari dapat kita lihat di kehidupan masyarakat Sunda Kanekes (Baduy).

    • Salakanagara
    o Putri Aki Tirem yaitu Pohaci Larasati, menikah dengan seorang duta niaga dari Palawa (India Selatan) bernama Dewawarman. Ketika Aki Tirem wafat, Dewawarman menggantikannya sebagai penghulu dukuh Pulasari.
    o Dewawarman mengembangkan Dukuh Pulasari hingga menjadi kerajaan corak Hindu pertama di Nusantara, yang kemudian diberi nama Salakanagara. Salaka berarti Perak dan Nagara berarti negara atau negeri. Oleh ahli dari Yunani, Claudius Ptolomeus, Salakanagara dicatat sebagai Argyre. Dalam berita China dinasti Han, tercatat pula bahwa raja Yehtiao bernama Tiao-Pien mengirimkan duta keChina tahun 132 M. menurut Ayat Rohaedi, Tiao berarti Dewa, dan Pien berarti Warman.
    o Salakanagara didirikan tahun 130 M, dengan raja pertamanya Dewawarman I dengan gelar Prabu Darmalokapala Dewawarman Haji Rakja Gpura Sagara. memerintah hingga tahun 168 M. Wilayahnya meliputi propinsi banten sekarang ditambah Agrabintapura (Gunung Padang Cianjur) dan Apuynusa (Krakatau).
    o Raja Terakhir (ke-8) Dewawarman VIII bergelar Prabu Darmawirya Dewawarman (348-363 M).

    • Tarumanagara
    o Didirikan oleh Jayasingawarman pada 358 M dengan nobat Jayasingawarman Gurudarmapurusa.
    o Penerusnya adalah Purnawarman yang memindahkan pusat pemerintahan dari Jayasingapura (mungkin Jasinga) ke tepi kali Gomati (bekasi) yang diberi nama Sundapura (kota Sunda), bergelar Harimau Tarumanagara (Wyagraha ning tarumanagara), dan disebut pula Sang Purandara Saktipurusa (manusia sakti penghancur benteng) dan juga Panji Segala Raja. Sedangkan nama nobatnya adalah Sri Maharaja Purnawarman Sang Iswara Digwijaya Bhimaparakrama Suryamahapurusa Jagatpati.
    o Raja terakhir Sang Linggawarman sebagai raja ke-12

    • Kerajaan Sunda
    o Tarumanagara dirubah namanya menjadi Kerajaan Sunda oleh Tarusbawa, penerus Linggawarman. Akibatnya belahan timur Tarumanagara dengan batas sungai Citarum memerdekakan diri menjadi Kerajaan Galuh
    Kerajaan Sunda berlangsung hingga tahun 1482 M, dengan 34 raja.
    o Prabu Maharaja Linggabuana dinobatkan menjadi raja di kerajaan Sunda pada 22 februari 1350 M. Ia gugur bersama putrinya, Citraresmi, dalam tragedi Palagan Bubat akibat ulah Mahapatih Gajahmada. Peristiwa itu terjadi pada 4 September 1357 M.
    o Mahaprabu Niskala Wastu Kancana menggantikan posisi Linggabuana pada usia 9 tahun. Dia membuat Prasasti Kawali di Sanghiyang Linggahiyang atau Astana Gede Kawali. Dia juga yang membuat filsafat hidup :" Tanjeur na Juritan, Jaya di Buana" (unggul dalam perang, lama hidup di dunia).
    o Wastukancana memerintah selama 103 tahun 6 bulan dan 15 hari dalam keadaan damai.
    o Sri Baduga Maharaja adalah putra Prabu Dewa Niskala, cucu dari Prabu Wastukancana. Ia adalah pemersatu kerajaan Sunda, ketika Galuh kembali terpisah. Kerajaan ini lebih dikenal dengan sebutan Pajajaran. Dialah raja pertama yang mengadakan perjanjian dengan bangsa Eropa, yaitu Portugis. Ia berkuasa dari tahun 1482 s.d. 1521M.

    • Kerajaan Galuh
    o Pendirinya adalah Prabu Wretikandayun pada 612 M.
    o Prabu Sanjaya Harisdarma. Ia disebut Taraju Jawadwipa, dan sempat menjadi Maharaja di tiga kerajaan : Kalingga - Galuh - Sunda.
    o Sang Manarah yang dalam dongeng disebut Ciung Wanara. Ia putera Prabu Premana Dikusumah dari Naganingrum.

    • Kerajaan Pajajaran
    o Pajajaran adalah sebutan pengganti atas bersatunya kerajaan Galuh dengan kerajaan Sunda, yang dipegang oleh satu penguasa : Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran atau Sri Sang Ratu Dewata.
    o Penggantinya adalah Prabu Sanghyang Surawisesa, yang berkuasa di belahan barat Jawa barat, karena di sebelah timur sudah berdiri kerajaan Islam Pakungwati Cirebon, yang didirikan oleh Pangeran Cakrabuana atau Haji Abdullah Iman. Dia adalah putra sulung Sri Baduga Maharaja dari Subanglarang yang beragama Islam. Subanglarang adalah murid Syekh Quro Hasanudin Pura Dalem Karawang.
    o Tahta kerajaan Pajajaran berlangsung turun-temurun : Ratu Dewata; Ratu Sakti, Prabu Nilakendra dan yang terakhir Prabu Ragamulya Suryakancana.
    o Di pihak Cirebon sendiri, putera Susuhunan Jati Cirebon, yaitu Pangeran Sabakingkin, telah berhasil mendirikan kerajaan bercorak Islam Surasowan Wahanten (Banten) dan melakukan beberapa kali penyerbuan ke Pajajaran.
    o Pakuan Pajajaran direbut dan dimusnahkan oleh Maulana Yusuf, putra Maulana Hasanudin.
    o Pajajaran sirna ing bhumi, atau Pajajaran lenyap dari muka bumi pada tanggal 11 bagian terang bulan wasaka tahun 1511 Saka atau 11 Rabi'ul Awal 978 hijriah atau tanggal 8 mei 1579 M.
    o Sebagai tunas-tunas Pajajaran, muncullah 3 kerajaan Islam di tatar Sunda :
     Kerajaan Islam Pakungwati Cirebon;
     Kerajaan Islam Surasowan Banten; dan
     Kerajaan Islam Sumedanglarang.
  • @ mas apabisa

    Yang jadi pertanyaan dari saya adalah apakah Salakanagara itu memang ada atau hanya mitos karena minimnya bukti sejarah yang ada

    thanks :top: :top:
  • to bro solo, klo film yang dulu di bnr ga klo Prabu Siliwangi itu, punya nama lain yaitu Manahrasa???
  • solobug menulis:
    @ mas apabisa

    Yang jadi pertanyaan dari saya adalah apakah Salakanagara itu memang ada atau hanya mitos karena minimnya bukti sejarah yang ada

    thanks :top: :top:
    saya jawab sebagai berikut :

    bukti-bukti mengenai kerajaan salakanegara berasal dari Naskah Wangsakerta, permulaannya pada tahun 1977, Kepala Museum Sri Baduga, Bandung, membeli naskah melalui informan dan perantara yang bernama Moh. Asikin, seorang penduduk kota cirebon. Menurut keterangan perantara tersebut, naskah-naskah yang ditawarkannya berasal dari beberapa daerah di Indonesia, seperti Cirebon, Banten, Jawa Timur, sumatera Selatan, Jambi, Sumatera Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur dan Bali, bahkan katanya dari Malaysia. Menurut informan ini pula, naskah-naskah itu dibawa ke luar cirebon karena takut jatuh ke tangan pemerintah kolonial (Ekadjati, 2002).

    pada awal tahun 1980-an muncul karangan bersambung mengenai naskah-naskah tersebut yang kemudian dinamai "Naskah Pangeran Wangsakerta". Uraian tentang naskah ini ditulis oleh seorang sastrawan sunda, Yoseph iskandar yang menilai penuh keyakinan bahwa naskah ini sebagai karya sejarah yang bernilai tinggi, bahkan kemudian dibuat cerita-cerita dalam majalah tersebut dengan mengambil bahan dari naskah (Ekadjati, 1988:1-2).

    Naskah ini kemudian dikerjakan secara filologis oleh Atja dan seorang filolog lulusan Univ. Indonesia. Penggarapan Naskah dilakukan pula oleh Saleh Danasasmita, Ayatrohaedi, arkeolog dari UI dan ESE. Hasil kajian kemudian diterbitkan terbatas dalam bentuk pengantar, ringkasan isi, suntingan teks, alih aksara )dari aksara Jawa ke Latin), dan terjemahan teks dari bahasa Jawa ke Bhs. Indonesia (Ekadjati, 2002)..

    Asal Mula.

    Naskah Wangsakerta ini ditulis oleh tim di bawah pimpinan Pangeran Wangsakerta. Penulisan dilakukan selama 21 Tahun dari tahun 1677 hingga 1698, sesuai dengan keterangan yang dituliskan dalam teks naskah. Naskah ini ditulis di atas kertas Daluang dengan tinta hitam. Menurut Penelitian Arsip Nasional RI, yg menguji bahan yg dipergunakan naskah, umur bahan diduga sekitar 100 tahun. Jadi, naskah yg ada di Museum Sri Baduga dapat dianggap sebagai naskah salinan yg ditulis sekitar akhir abad 19. aksara dan bhs. Jawa yg dipergunakan tergolong aksara dan bahasa Jawa pesisiran yg di dalamnya banyak mengandung kosakata bhs Jawa Kuno (Ekadjati, 2002).

    Isi naskah mendeskripsikan sejarah Kepulauan Nusantara, Pulau Jawa, dan Tatar Sunda sejak awal abad Masehi hingga abad 17, bahkan ada pula cerita masa prasejarah. Uraian tentang kerajaan2 yg pernah ada di Nusantara dilengkapi dengan daftar raja-raja yg memerintah secara rinci dengan angka tahun pemerintahannya.

    Isi teks terdiri atas 5 seri karangan yg masing-masing berjudul :
    1. Carita Parahyangan;
    2. Nagarakretabhumi;
    3. Pustaka Dwipantara-parwa;
    4. Pustaka Pararatwan;
    5. I Bhumi Jawadwipa dan I Bhumi Nusantara.

    tiap karangan terdiri dari satu sampai beberapa parwa dan tiap parwa terdiri atas beberapa sargah, tiap sargah berwujud satu naskah. Karangan dalam naskah ini berbentuk prosa dan merefleksikan alam pikiran yg bersifat rasional. Naskah juga dilengkapi dengan 1500 daftar pustaka...


    bersambung.... break dulu capek euy.... :D
  • 2gether menulis:
    to bro solo, klo film yang dulu di bnr ga klo Prabu Siliwangi itu, punya nama lain yaitu Manahrasa???
    kalo gak salah Raden Manahrasa itu nama beliau sebelum jadi raja :top: :top:
  • apabisa menulis:
    bersambung.... break dulu capek euy.... :D
    ya..saya tunggu sambungannya bro :grin: :grin: :thanks: :top: :top:
  • Sangat sulit untuk melacak kisah prabu siliwangi, naskah-naskah kacerobonan dan padjadjaran hanya menceritakan kisah keagungan dan kebesaran prabu siliwangi lewat pantun maupun siloka.
    Siliwangi sendiri mengandung arti saling (silih) wangi/harum (wangi) jadi menurut stereotipe orang sunda bahwa saling mengharumkan merupakan esensi dari cerita prabu siliwangi itu sendiri.

    Kisah prabu siliwangi sendiri sampai sekarang memang masih jadi perdebatan, dulu jaman penjajahan belanda orang-orang besar (pakauman/abdi dalem) sangat senang disebut keturunan prabu siliwangi karena kebesaran namanya dan untuk melanggengkan kekuasaan.

    Saya pernah membaca artikel di salah satu surat kabar, menurut Dr. Nina Lubis ahli sejarah dari Universitas Padjadjaran Bandung cerita prabu siliwangi, merupakan gelaran nama yang mencerminkan keagungan dan kepahlawanan. Jadi bukan nama seorang raja? walahualam bisawab.

    Jadi sampai sekarang kisah prabu siliwangi masih dalam perdebatan, saya sendiri sampai sekarang masih penasaran dengan kisah prabu siliwangi.
    Di seluruh jawa barat petilasannya sangat banyak mulai dari cirebon, kuningan, bogor sampai luar jawa barat sendiri namun yang terkenal adalah hutan larangan sancang garut. Di lingkungan cerita masyarakat jawa barat bahwa prabu siliwangi sekarang telah menjelma menjadi seekor harimau (ngahyang) yang senantiasa menjaga tanah sunda.

    So kisah prabu siliwangi sendiri masih merupakan misteri? :top: :top: :top:
  • solobug menulis:
    2gether menulis:
    to bro solo, klo film yang dulu di bnr ga klo Prabu Siliwangi itu, punya nama lain yaitu Manahrasa???
    kalo gak salah Raden Manahrasa itu nama beliau sebelum jadi raja :top: :top:
    Kerajaan Pajajaran
    Sri Baduga Maharaja Prabu Guru Dewapranata/Prabu Siliwangi/Ratu Jayadewata/Raden Pamanah Rasa/Raden Sunu (1475/1482 - 1521 M)

    - Putra Dewa Niskala, saudaranya seibu adalah Ningratwangi, sedangkan saudara lainnya seayah adalah Banyak Cakra/Catra atau Kamandaka, Banyak Ngampar, Ratu Ayu Kirana dan Kusumalaya. Kamandaka inilah yang terkenal dalam legenda Lutung Kasarung. Dia menjadi penguasa daerah Pasir Luhur di daerah Banyumas sekarang, setelah menikah dengan Ciptasari/Purbasari, putri raja Pasir Luhur.

    - Memerintah dari Pakuan Pajajaran. Kerajaan Sunda-Galuh yang namanya menjadi Pajajaran mencapai puncak kekuasaannya sekali lagi dibawah pemerintahan Prabu Siliwangi. Meskipun kemudian Cirebon dibawah pemerintahan Sunan Gunung Jati, melepaskan diri dari kekuasaan Sunda-Galuh.

    - Pertama kali dinobatkan sebagai raja Galuh, dengan gelar Prabu Guru Dewapranata

    - Dinobatkan kedua kalinya sebagai raja Sunda-Galuh, dengan gelar Sri Baduga Maharaja Ratu (H)Aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata mengambil gelar buyutnya Sri Baduga Maharaja Lingga Bumi untuk mengenang keberanian buyutnya tersebut yang gugur dalam peristiwa Palagan Bubat

    - Nama Siliwangi diberikan karena dia dianggap menjadi penganti (silih) Maharaja Prabu Niskala Wastu Kancana yang juga bergelar Prabu Wangi.

    - Sewaktu lahir diberi nama Pamanah Rasa oleh kakeknya Prabu Niskala Watu Kancana dan Jayadewata oleh ayahnya, Dewa Niskala. Pemberian nama oleh orang tua dan kakeknya merupakan suatu adat yang umum di Jawa Barat pada masa itu. Seperti juga nama Anggalarang dan Wangisuta yang keduanya merupakan nama dari Niskala Watu Kancana. Atau Rakeyan Santang dan Walangsungsang yang keduanya merupakan nama dari orang yang sama yaitu Pangeran Cakrabuana, pendiri Kerajaan Cirebon.

    - Menikah dengan Ambetkasih/Ngabetkasih sepupunya sendiri, yang merupakan putri dari Ki Gedeng Sindangkasih, putra ketiga Wastu Kancana dari Mayangsari, yang menjadi raja muda di Surantaka (Sekitar Majalengka sekarang). Dengan pernikahan ini dia ditunjuk menjadi pengganti Ki Gedeng Sindangkasih sebagai raja muda Surantaka. Dari Ambetkasih dia tidak mendapat keturunan.

    - Istri keduanya adalah Subanglarang/Subangkrajang putri Ki Gedeng Tapa/Ki Gedeng Jumajan Jati yang didapatkannya melalui sayembara setelah mengalahkan Amuk Murugul. Ki Gedeng Tapa sendiri adalah putra Ki Ageng Kasmaya, sehingga Subanglarang masih terhitung sepupunya. Dengan pernikahan ini dia juga ditunjuk menjadi raja muda Singapura, pengganti Ki Gedeng Tapa.

    - Subanglarang, seperti juga ayahnya adalah seorang muslim. Dia menjadi murid dari Syekh Hasanudin, seorang penganut muslim Hanafi yang berasal dari Campa yang ikut dalam rombongan Laksamana Cheng Ho, seorang panglima perang dari Cina yang beragama muslim. Syekh Hasanudin adalah pendiri pesantren Quro di Pura, Karawang yang didirikan pada tahun 1416 dalam masa pemerintahan Wastu Kancana.

    - Istri ketiganya adalah Kentring Manik Mayang Sunda, adik dari Amuk Murugul. Kentring Manik Mayang Sunda, dinikahkan kepadanya untuk menyatukan kembali kekuasaan Sunda-Galuh yang sempat terpecah menjadi dua. Keturunan Kentring Manik Mayang Sunda dan Prabu Siliwangi inilah yang dianggap paling sah menduduki tahta Pajajaran.

    - Istri lainnya yaitu Nyai Aciputih putri Ki Dampu Awang, seorang panglima perang dari Cina yang menjadi nakhoda kapal Laksamana Cheng Ho.

    - Untuk memperkuat pertahanan Keraton Pajajaran, Prabu Siliwangi membangun parit sepanjang tiga kilometer di tebing sungai Cisadane dan tanah bekas galiannya dijadikan benteng. Parit dan benteng ini terbukti berkali-kali berhasil menghindarkan Keraton Pajajaran dari serbuan musuh.

    - Menjadikan Banten dan Sunda Kelapa sebagai pelabuhan utama Pajajaran dan membangun jalan darat dari Sunda Kelapa ke Pakuan. Pelabuhan lainnya yaitu Pontang, Cigede, Tamgara (Tangerang), dan Cimanuk, satu-satunya pelabuhan Pajajaran di sebelah timur dan sekaligus perbatasan antara Pajajaran dan Cirebon.

    - Selain itu juga dibangun jalan dan Sakakala Gunungan di Rancamaya, tempat perabuan raja-raja Pajajaran. Dan hutan sekitarnya dijadikan hutan larangan. Kemudian membangun juga Telaga Rena Mahawijaya sebagai sumber air yang digunakan untuk upacara keagamaan di Pakuan.
  • hehehe....kayaknya ada yang mau liputan nech.... :rolleyes:
    atau mau ngajar sejarah.... :D
  • trms kang. :thanks:

    Namun bagi saya sejarah prabu siliwangi merupakan belukar yang masih misteri.

    Dikisahkan Dari karya Dr. H. Dadan Wildan M.Hum ada bagian sangat menarik, Carita Purwaka Caruban Nagari-CPCN karya Pangeran Arya Cerbon 1720. Diangkat dari terjemahannya karya Pangeran Sulendraningrat (1972), dan Drs. Atja (1986).

    Prabu Siliwangi adalah seorang raja besar dari Pakuan Pajajaran. Putra dari Prabu Anggalarang dari dinasti Galuh yang berkuasa di Surawisesa atau Kraton Galuh. Pada masa mudanya dikenal dengan nama Raden Pamanah Rasa. Diasuh oleh Ki Gedeng Sindangkasih, seorang juru pelabuhan Muara Jati.

    Istri pertama adalah Nyi Ambetkasih, putri dari Ki Gedengkasih. Istri kedua, Nyai Subang Larang putri dari Ki Gedeng Tapa. Ketiga, Aciputih Putri dari Ki Dampu Awang.

    Selain itu, silsilah Prabu Siliwangi disebutkan sebagai ke turunan ke-12 dari Maharaja Adimulia. Selanjutnya bila diurut dari bawah ke atas, Prabu Siliwangi (12) adalah putra dari (11) Prabu Anggalarang, (10) Prabu Mundingkati (9) Prabu Banyakwangi (8) Banyaklarang (7) Prabu Susuk tunggal (6) Prabu Wastukencana (5) Prabu Linggawesi (4) Prabu Linggahiyang (3) Sri Ratu Purbasari (2) Prabu Ciungwanara (1) Maharaja Adimulia Yang nota bene merupakan cikal bakal kerajaan sunda.

    Sudah menjadi tradisi penulisan silsilah, hanya menuliskan urutan nama. Tidak dituturkan peristiwa apa yang dihadapi pada zaman pelaku sejarah yang menyangdang nama-nama tersebut. Kadang-kadang juga disebut makamnya di mana.? :confused: :confused:

    :top: :top: :top:
  • usrizalmedan menulis:
    hehehe....kayaknya ada yang mau liputan nech.... :rolleyes:
    atau mau ngajar sejarah.... :D
    ini namanya saling mengisi lubang, tulang :grin: :grin:

    Kadang kita tahu sebuah sejarah secara umum, tapi tidak tahu detail beberapa bagian dari sejarah tersebut. Makanya saya minta juga sejarah tentang Padangsidimpuan, Sipirok, Panyabungan, atau Natal sama tulang biar bisa berbagi pengetahuan :top: :top:
  • Sambungan dari Naskah Wangsakerta...

    selanjutnya mengenai tulisan yang dipergunakan, menurut keterangan Yien Wartini (peneliti yang ikut dalam proyek kajian filologis naskah ini), bentuk huruf yang dipergunakan dalam naskah ini adalah huruf Jawa Kuno yg kurang bagus walau tidak bisa disebut buruk. Dalam satu jilid, peneliti ini menemukan beberapa huruf yg beda. kertas yg digunakan juga ada dua, kuning dan cokelat (lihat majalah Mangle No. 1265).

    Menurut Buchori arkeolog UI yg ahli dalam tulisan kuno (paleografi), kertas yg dipergunakan untuk naskah ini adalah kertas manila yg dicelup. Lagi pula biasanya naskah sejarah ditulis dengan huruf-huruf yg bagus, sedangkan naskah ini ditulis dengan huruf yang jelek (lihat majalah Mangle No. 1266).

    MC. Ricklefs menjelaskan bahwa ia pernah melihat naskah itu di Museum Sri Baduga dan ia menyatakan bahwa melihat tulisannya yg "kasar", menunjukkan itu naskah baru, bukan naskah abad 17. Dan disimpulkan oleh beberapa ahli naskah ini bukan sumber otentik, artinya tergolong sumber sekunder, yaitu sumber yang ditulis tidak sezaman.

    Kalau dilakukan kolaborasi untuk mencari kepastian tentang nama raja-raja Salakanagara (yaitu kerajaan yang menurut naskah ini terletak di selat sunda, pada abad pertama AMsehi) ataupun raja-raja Tarumanegara, yg dalam naskah begitu rinci dilengkapi dengan angka tahun pemerintahan, sumber lain mana yg bisa dipakai sebagai alat kolaborasi. Hingga sekarang prasasti yg ditemukan jumlahnya sangat terbatas, bahkan mengenai Kerajaan Salakanagara, belum ditemukan.
  • Jadi kesimpulannya memang belum diakui sebagai bagian dari sejarah Indonesia dong bro? :confused: :confused: :confused:
  • solobug menulis:
    Jadi kesimpulannya memang belum diakui sebagai bagian dari sejarah Indonesia dong bro? :confused: :confused: :confused:
    Terlepas dari perdebatan yg ada secara akademis, masalah asal-usul yang tidak jelas ini menurunkan tingkat kredibilitas naskah tersebut. Lagi pula naskah ini belum tuntas diteliti secara filologis. jadi kesimpulannya bahwa Naskah Wangsakerta tidak dapat dipergunakan sebagai sumber sejarah. meskipun demikian, naskah ini sah sebagai obyek kajian filologis.

    Jadi pada dasarnya setiap sumber sejarah harus diuji terlebih dahulu secara kritis sebelum dipergunakan. Sumber primer sekalipun harus di uji kredibilitasnya. Naskah Wangsakerta yg tergolong sumber sekunder banyak mengandung kelemahan sehingga tidak dapat dipergunakan sebagai sumber sejarah.

    apabila nanti ditemukan salinan lain dari naskah ini sehingga dapat direkonstruksi arketipnya, atau bahkan ditemukan naskah aslinya, mungkin saja untuk ditinjau kembali.

    sebenarnya, dalam khazanah penulisan sejarah sunda masih ada naskah-naskah dari abad 16, yg lebih tua dari naskah Wangsakerta yaitu:
    1. Bujangga Manik;
    2. Carita Parahyangan;
    3. Sanghyang Siksakandang Karesian;
    4. Sewaka Darma.

    Naskah-naskah ini tergolong sumber primer dan memberikan informasi yg sangat berharga tentang sejarah Tatar Sunda. mungkin saja masih ada naskah-naskah semacam ini yg mungkin masih tersimpan di kalangan masyarakat.
  • waduh panjang sekali ulasannya ...

    Thank
  • yang sayah tahu.... dulu pernah diceritain orang lain.....

    tentang hubungan prabu siliwangi dan prabu kian santang (sumedang)
    yang sama-sama bisa berubah jadi harimau/macan.....
    tapi prabu kian santang berubah jadi macan kumbang (phantera tigris)

    putrinya ada 7.... salah satunya yang sekarang orang mengenal sebagai ratu laut selatan....

    sayangnya lebih banyak mitos daripada sejarah sebenarnya.......
  • thank's all

    lanjut bro ...............
  • [size=medium]Owwhh ini toh cerita leluhur ane di tatar sunda sono :D[/size]
  • sutisna menulis:
    yang sayah tahu.... dulu pernah diceritain orang lain.....

    tentang hubungan prabu siliwangi dan prabu kian santang (sumedang)
    yang sama-sama bisa berubah jadi harimau/macan.....
    tapi prabu kian santang berubah jadi macan kumbang (phantera tigris)

    putrinya ada 7.... salah satunya yang sekarang orang mengenal sebagai ratu laut selatan....

    sayangnya lebih banyak mitos daripada sejarah sebenarnya.......

    Kang, apa kaitannya dengan "Makam Keramat Godog" di Garut, coba klik dan lihat [size=medium]DISINI[/size]
  • Di kebon raya bogor juga ada makam, katanya makamnya juga....
  • big2besar menulis:
    Di kebon raya bogor juga ada makam, katanya makamnya juga....

    Seperti hanya Myth, ... untuk menguak cerita ini kita panggil MythBusters aja Sis :)
  • Topik ini sudah berumur lebih dari 6 bulan lamanya dan tidak ada aktifitas diskusi, apakah anda yakin untuk mengangkat topik ini lagi?
  • saya tertarik dengan topik tentang Prabu Siliwangi, banyak yang mengatakan Sang Prabu identik dengan Macan Putih. Saya mempunyai lain cerita tentang itu: Saya bertemu dengan Beliau pada tahun 1987. Sang Prabu memakai pakaian dari kulit binatang (seperti selempang) yang dikawal oleh 2 Macan Hitam yang besarnya seperti kuda pacu. taring atas menjorok kebawah agak melengkung keluar +/- 30 cm panjangnya. dan satu Jantan dan satunya lagi Betina. ceritanya panjang (untuk kali ini hanya ringkasannya saja). <<<Tamang>>>
Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Halo, Komandan!

Sepertinya anda baru di sini. Ingin ber-interaksi? Klik satu tombol ini!

Kategori

Penawaran Terbatas

Booking.com
Liburan di ratusan ribu destinasi & puluhan ribu akomodasi di 200+ lebih negara seluruh dunia. Tentu saja dengan harga promo khusus dan terjangkau kantong anda. Silahkan coba cari dan temukan impian liburan atau akomodasi untuk bisnis anda!