Contact Us
MERDEKA
DIRGAHAYU Republik INDONESIA - Ayo Kita Tingkatkan Persatuan & Kesatuan Bangsa. Erat Dalam Keragaman Bhinneka Tunggal Ika. Maju Bersama & Tingkatkan Etos Kerja Yang Baik Untuk Indonesia Modern Yang Tetap Berbudaya. MERDEKA!!!

Forum Bebas Indonesia

Ancaman terhadap Pelaku Penghinaan ditinjau dari KUHP , UU ITE dan Alquran

Penghinaan termasuk ke dalam penyerangan terhadap kehormatan/marwah seorang manusia. Cukup sulit untuk mendapatkan batasan atau definisi dari penghinaan yang bisa diterima secara luas baik oleh masyarakat maupun kalangan akademisi apalagi praktisi hukum. Karena pada dasarnya penghinaan adalah tindakan seseorang (subyek hukum) terhadap orang lain (subyek hukum) lainnya dengan cara yang subyektif dan bersifat subjektif pula. Artinya dengan sebuah tindakan yang sama bisa saja seseorang tersinggung sedangkan seorang yang lain bersikap biasa-biasa saja.

Pada dasarnya tindak penghinaan adalah sebuah tindakan atau sikap yang sengaja melanggar nama baik atau menyerang kehormatan seseorang (beleiding is op te vatten als:het opzettelijk aanranden van iemands eer of geode naam. J.M. v. Bemmelen-W.F.C. v. Hattum, 1954, hal 488; D.Simon-W.P.J.Pompe.II,1941,hal.55).

Dalam ranah hukum Anglo Saxon, penghinaan dikenal dalam istilah defamation. Dalam Black Law Dictionary disebutkan bahwa defamation adalah:
1.The act of harming the reputation of another by making a false atatement to a third person. If the alleged defamation involves a matter of public concern the plaintiff is constitutionally required to prove both the statements falsity an the defendant fault.
2.A false written or oral statement thet damages anothers reputation.

Sebagaimana halnya ketentuan dalam Pasal 310 KUHP, defamation dapat dilakukan secara tertulis maupun lisan. Juga dirumuskan jika penghinaan berkenaan dengan kepentingan umum (public concern) maka Penggugat harus membuktikan baik ketidakbenaran pernyataan tersebut maupun kesalahan tergugat.

Dalam tradisi Common Law System penghinaan dapat dikonstruksikan baik dalam aspek pidana maupun perdata atau perbuatan melawan hukum (tort) yang kalau di Indonesia sebagaimana diatur dalam Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPer/BW) dan Pasal 1372 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPer/BW) .
Tetapi kecenderungan mengarahkan penghinaan pada peradilan pidana agak memudar, yang lebih disukai masyarakat dalam tradisi anglo saxon adalah gugatan perdata/perbuatan melawan hukum (tort).

Adalah sangat penting untuk mendapatkan batasan yang meskipun tidak sepenuhnya bisa diterima oleh semua kalangan tetapi setidaknya bisa dijadikan sebagai patokan atau rujukan dalam beracara di Pengadilan. Salah satu pendapat yang patut dicermati adalah bahwa suatu kehormatan manusia diserang atau dihina dalam aspek sopan santun atau kesusilaan (Zedelijke waarde).

Dalam hal ini menurut penulis aspek sopan santun atau kesusilaan sangat tergantung pada budaya atau kebiasaan dalam masyarakat serta tingkat kedekatan personal antar pihak yang terkait. Jadi unsur budaya lokal serta kearifan lokal cukup menentukan untuk bisa menyatakan suatu perbuatan termasuk penyerangan terhadap kehormatan manusia atau tidak.

Misalnya kalau Penulis bisa memberikan contoh bahwa Kalau Orang2 Amerika dan Eropa ketika berjemur dipantai dengan menggunakan bikini maka itu hal yang biasa bagi mereka dan itu sopan kalau kita di Indonesia berpakaian seperti itu tidak sopan, begitu juga dengan pakaian wanita orang India yang menampakkan pusarnya adalah sopan bagi mereka tetapi bagi kita kita itu juga tidak sopan begitu juga sama halnya dengan penyerangan terhadap kehormatan manusia atau tidak;

Didalam hukum positif Indonesia, Kejahatan penghinaan oleh Adami Chazawi membedakannya menjadi: penghinaan umum (diatur dalam bab XVI buku II KUHP), dan penghinaan khusus (tersebar diluar bab XVI buku II KUHP). Objek penghinaan umum adalah berupa rasa harga diri atau martabat mengenai kehormatan dan mengenai nama baik orang pribadi (bersifat pribadi). Sebaliknya penghinaan khusus, objek penghinaan adalah rasa/perasaan harga diri atau martabat mengenai kehormatan dan nama baik yang bersifat komunal atau kelompok. Ada tujuh macam Penghinaan yang masuk didalam kelompok Penghinaan Umum, Namun disini Penulis hanya membahas mengenai Penghinaan Umum yang dikualifisir dalam Pasal 310 ayat 1 KUHP, Pasal 310 ayat 2 (KUHP) serta Pasal 311 KUHP tentang Fitnah dikarenakan artikel ini juga dikaitkan dengan kasus mahasiswa UGM yang berinisial “F” yang sedang marak diperbincangkan di media cetak maupun elektronik serta media sosial;

A. Pasal 310 ayat (1) KUHP menyatakan:
“Barangsiapa sengaja menyerang kehormatan atau nama baik seseorang dengan menuduhkan sesuatu perbuatan, yang maksudnya terang supaya hal itu diketahui umum, diancam karena pencemaran dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak Rp 4.500,-”.
Berdasarkan rumusan Pasal 310 ayat (1) KUHP, maka unsur-unsurnya adalah sebagai berikut:
a. Dengan sengaja
b. Menyerang kehormatan atau nama baik orang lain
c. Menuduh melakukan suatu perbuatan tertentu, dan
d. Dengan maksud yang nyata supaya diketahui oleh umum.
Adapun menurut Adami Chazawi, mengenai penjelasan unsur-unsur Pasal 310 KUHP adalah sebagai berikut:
a) Unsur Subjektif: Sengaja dan Maksud
Kejahatan pencemaran terdapat dua unsur kesalahan, yakni sengaja (opzettelijk) dan maksud atau tujuan. Walaupun dalam doktrin, maksud itu adalah juga kesengajaan (dalam arti sempit), yang disebut dengan kesengajaan sebagai maksud. Tetapi, fungsi unsur sengaja dan unsur maksud dalam pencemaran berbeda. Sikap batin “sengaja” ditujukan pada perbuatan menyerang kehormatan atau nama ba ik orang (perbuatan dan objek perbuatan). Sementara sikap batin “maksud” ditujukan pada unsur “diketahui oleh umum” mengenai perbuatan apa yang dituduhkan pada orang itu.
b) Menyerang kehormatan atau nama baik orang lain
Perbuatan menyerang (aanranden), tidaklah bersifat fisik, karena terhadap apa yang diserang (objeknya) memang bukan fisik tapi perasaan mengenai kehormatan dan perasaan mengenai nama baik orang. Objek yang diserang adalah rasa/perasaan harga diri mengenai kehormatan (eer), dan rasa/perasaan harga diri mengenai nama baik (goedennaam) orang. Rasa harga diri adalah intinya objek dari setiap penghinaan, yang menurut Wirjono Projodikoro adalah menjadikan ukuran dari penghinaan. Rasa harga diri dalam penghinaan adalah rasa harga diri dibidang kehormatan, dan rasa harga diri di bidang nama baik.
c) Dengan menuduhkan perbuatan tertentu.
Di atas telah diterangkan bahwa perbuatan menyerang ditujukan pada rasa harga diri atau martabat (mengenai kehormatan dan nama baik) orang, dengan menggunakan kata/kalimat melalui ucapan, caranya dengan menuduhkan suatu perbuatan tertentu. Jadi yang dituduhkan si pembuat haruslah merupakan perbuatan tertentu, dan bukan hal lain misalnya menyebut seseorang dengan kata-kata yang tidak sopan, seperti bodoh, malas, anjing kurapan dan lain sebagainya.
d) Dengan maksud yang nyata supaya diketahui oleh umum.
Supaya diketahui oleh umum artinya ada orang yang mengetahui perbuatan tersebut dilakukan misalnya si A menghina si B didepan si C atau si D

B. Pasal 310 ayat (2) KUHP menyatakan:
“Jika hal itu dilakukan dengan tulisan atau gambar yang disiarkan, dipertunjukkan atau ditempel secara terbuka, diancam karena pencemaran tertulis dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah”
Rumusan Pasal 310 ayat (2) ini disebut juga penghinaan/penistaan secara tertulis, jika dirinci terdapat unsur-unsur berikut:
1. Semua unsur (objektif dan subjektif) dalam ayat (1)
2. Menuduh melakukan perbuatan dengan cara/melalui : (a) tulisan atau (b) gambar.
a) Yang disiarkan
b) Yang dipertunjukkan dan atau
c) Yang ditempelkan
Unsur-unsur di atas itulah yang secara kumulatif mengandung sifat yang memberatkan pidana si pembuat. Sifat pencemaran melalui benda ttulisan dinilai oleh pembentuk undang-undang sebagai faktor memperberat. Karena dari benda tulisan, isi perbuatan yang dituduhkan yang sifatnya mencemarkan, dapat meluas sedemikian rupa dan dalam jangka waktu yang lama (selama tulisan itu ada dan tidak dimusnahkan). Sifat yang demikian amat berbeda dengan sifat pencemaran secara lisan. Oleh sebab itu wajar saja pencemaran dengan tulisan ini dipidana yang lebih berat dari pada pencemaran lisan.
Pencemaran dilakukan dengan menggunakan “tulisan dan gambar”. Tulisan adalah hasil dari pekerjaan menulis baik dengan tangan maupun alat apapun yang wujudnya berupa rangkaian kata-kata/kalimat dalam bahasa apapun yang isinya mengandung arti tertentu (in casu menyerang kehormatan dan nama baik orang), diatas sebuah kertas atau benda lainnya yang sifatnya dapat ditulisi (misalnya: kertas, papan, kain dll).
Sedangkan gambar atau gambaran atau lukisan adalah tiruan dari benda yang dibuat dengan coretan tangan melalui alat tulisan: pensil, kuas dan, dengan alat apapun di atas kertas atau benda lainnya yang sifatnya dapat digambari/ditulisi. Gambar ini harus mengandung suatu makna yang sifatnya mencemarkan nama baik atau kehormatan orang tertentu (yang dituju).
Adapun dengan cara yang dilakukan yakni disiarkan, dipertunjukkan, atau ditempelkan secara terbuka. Disiarkan (verspreiden), maksudnya ialah bahwa tulisan atau gambar tersebut dibuat dalam jumlah yang cukup banyak, dapat dicetak atau di photo copy, yang kemudian disebarkan dengan cara apapun. Misalnya diperjualbelikan, dikirim ke berbagai pihak, atau dibagi-bagikan kepada siapapun (umum). Oleh sebab itu verspreiden dapat pula diterjemahkan dengan kata menyebarkan. Dalam cara menyebarkan sekian banyak tulisan atau gambar kepada khalayak ramai, telah nampak maksud si penyebar agar isi tulisan atau makna dalam gambar yang disiarkan, yang sifatnya penghinaan diketahui umum.
Dipertunjukkan (ten toon gesteld) adalah memperlihatkan tulisan atau gambar yang isi atau maknanya menghina tadi kepda umum, sehingga orang banyak mengetahuinya. Menunjukkan bisa terjadi secara langsung. Pada saat menunjukkan pada umum ketika itu banyak orang, tetapi bisa juga secara tidak langsung. Misalnya memasang spanduk yang isinya bersifat menghina di atas sebuah jalan raya, dilakukan pada saat malam hari yang ketika itu tidak ada seorangpun yang melihatnya.
Sedangkan ditempelkan (aanslaan), maksudnya ialah tulisan atau gambar tersebut ditempelkan pada benda lain yang sifatnya dapat ditempeli, misalnya papan, dinding gedung, pohon dan sebagainya.

C. Pasal 311 KUHP yang menyatakan sebagai berikut:
“Barangsiapa melakukan kejahatan menista atau menista dengan tulisan, dalam hal ia diizinkan untuk membuktikan tuduhannya itu, jika ia tiada dapat membuktikan dan jika tuduhan itu dilakukannya sedang diketahuinya tidak benar, dihukum karena salah mefitnah dengan hukuman penjara selama-lamanya empat tahun”.
Pasal 311 KUHP ini disebut juga Fitnah, Maka dapat dilihat unsur-unsur pencemaran atau pencemaran tertulis ada didalamnya:
Semua unsur (objektif dan subjektif) adalah sebagai berikut :
1. Pencemaran (pasal 310 Ayat (1) KUHP)
2. Pencemaran tertulis (pasal 310 ayat (2) KUHP)
3. Si pembuat dibolehkan untuk membuktikan apa yang dituduhkannnya itu benar
4. Tetapi si pembuat tidak dapat membuktikan kebenaran tuduhannya
5. Apa yang menjadi isi tuduhannya adalah bertentangan dengan yang diketahuinya.
Unsur nomor 2, 3 dan 4 berupa unsur kumulatif yang berupa tambahan agar pencemaran atau pencemaran tertulis dapat menjadi fitnah. Dengan melihat unsur nomor 2 dan 3 nampaknya bahwa dakwaan fitnah baru boleh dilakukan, dalam hal apabila dalam perbuatan terdakwa terdapat pencemaran atau pencemaran tertulis.

Didalam Kasus mahasiswa bernisial “F” juga dijerat dengan Pasal 27 ayat 3 dan Pasal 28 ayat 2 UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE);
Pasal 27 ayat 3 UU ITE menyatakan sebagai berikut:
Setiap Orang dengan sengaja, dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau
membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan
penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.

Pasal 28 ayat 2 UU ITE menyatakan sebagai berikut:
Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan
rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA).

Pasal 45 ayat 1, ayat 2 UU ITE menyatakan sebagai berikut:
1. Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1), ayat (2), ayat (3), atau ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyakRp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
2. Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal, 28 ayat (1) atau ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

Pasal 27 ayat 3 UU ITE ini juga termuat unsur “yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik” sebagaimana yang termuat juga didalam Pasal 310 ayat 1 dan 2 KUHP hanya saja yang berbeda adalah cara mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang berarti kaitannya dengan elektronik;

Penghinaan menurut Islam;
Menurut bahasa سخر berarti“ mengejek, mencemoohkan, menghina”. Pengertian dalam Islam tentang penghinaan itu memiliki pengertian yang berbeda-beda. Untuk itu kita harus mengidentifikasikan dahulu kata penghinaan dengan lafadz arabnya, sedangkan hal-hal yang tercakup dalam arti penghinaan itu lafadnya berbeda beda. Penghinaan itu berasal dari kata “hina” yang artinya:
a. Merendahkan, memandang rendah atau hina dan tidak penting terhadap orang lain.
b. Menjelekkan/memburukan nama baik orang lain, menyinggung perasaannya dengan cara memaki-maki atau menistakan seperti dalam tulisan surat kabar yang dipandang mengandung unsur menghina terhadap orang lain

Menurut Al Ghozali bahwa penghinaan adalah :
“Menghina orang lain dihadapan manusia dengan menghinakan dirinya di hadapan Allah Swt. pada Malaikat dan Nabi-nabinya. Jadi intinya penghinaan adalah merendahkan dan meremehkan harga diri serta kehormatan orang lain di hadapan orang banyak”.
Yang dimaksudkan dengan penghinaan ialah memandang rendah atau menjatuhkan martabat seseorang, ataupun mendedahkan keaiban dan kekurangan seseorang dengan tujuan menjadikannya bahan ketawa. Ini boleh berlaku dengan menceritakan perihal orang lain dengan tutur kata, perbuatan, isyarat ataupun dengan cara lain yang boleh membawa maksud dan tujuan yang sama. Tujuannya ialah untuk merendahkan diri orang lain, menjadikannya bahan ketawa, menghina dan memperkecilkan kedudukannya dimata orang ramai dan hukumnya adalah haram.

Didalam Alquran juga diterangkan dalam Surat Al Hujurat ayat 11 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim. (Q.S. Al-Hujurat: 11).

a. Menurut Buya Hamka dalam tafsir al-Azhar Juz XXVI Jakarta: PT. Pustaka Panji Mas, 1982
Ayat ini pun akan jadi peringatan dan nasehat sopan-santun dalam pergaulan hidup kepada kaum yang beriman. Itu pula sebabnya maka dipangkal ayat orang-orang yang beriman juga yang berseru: “Janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain”. Mengolok-olokkan, mengejek, menghina merendahkan dan seumpamanya. Janganlah semuanya itu terjadi dalam kalangan orang yang beriman.
.
Boleh jadi mereka yang diolok-olok itu lebih baik dari mereka yang mengolok-olokan. Inilah peringantan yang halus dan tepat sekali dari Tuhan. Mengolok-olok, mengejek dan menghina tidaklah layak dilakukan kalau orang merasa dirinya orang yang beriman. Sebab orang yang beriman akan selalu memiliki kekurangan yang ada pada dirinya. Maka dia akan tahu kekurangan yang ada pada dirinya itu. Hanya orang yang tidak beriman jualah yang lebih banyak melihat kekurangan orang lain dan tidak ingat akan kekurangan orang lain dan tidak ingat akan kekurangan yang ada pada dirinya sendiri.

b. Menurut Ahmad Mustafa Al-Maraghi dalam Tafsir Al-Maraghi Jilid XXVI. Semarang: CV. Toha Putra, 1989.:
Janganlah beberapa orang dari orang-orang mukmin mengolok-olok orang-orang mukmin lain. Sesudah itu Allah menyebutkan alasan, kenapa hal itu tak boleh dilakukan. Karena kadang-kadang orang yang diolok-olok itu lebih baik disisi Allah dari pada orang-orang yang mengolok-oloknya.
Barang kali orang-orang yang berambut kusut penuh debu tidak punya apa-apa dan tidak dipedulikan, sekiranya ia bersumpah dengan menyebut nama Allah Ta’ala, maka allah mengabulkannya.Maka seyogyanyalah agar tidak seorang pun yang berani mengolok-olok orang lain yang ia pandang hina karena keadaannya yang compang-camping atau karena ia cacat pada tubuhnya atau karena ia tidak lancar bicara. Karena, barang kali ia lebih ikhlas nuraninya dan lebih bersih hatinya daripada orang yang sifatnya tidak seperti itu. Karena dengan demikian berarti ia menganiaya dirinya sendiri dengan menghina orang lain yang dihormati Allah Ta’ala.

c. Menurut Teungku M. Hasbi As Shiddiqy dalam Tafsir Al-Qur’anul Ma’id jilid V:
Janganlah suatu golongan menghina segolongan yang lain, baik dengan membeberkan keaiban golongan-golongan itu dengan cara mengejek atau dengan cara menghina, baik dengan perkataan ataupun dengan isyarat atau dengan mentertawakan orang yang dihina itu bila timbul sesuatu kesalahan.

Karena boleh jadi orang yang dihinakan itu lebih baik di sisi Allah dari pada orang yang menghinanya. Jangan pula segolongan wanita menghina dan mengejek golongan wanita yang lain, karena kerap kali golongan yang dihina itu lebih baik disisi Allah.

Janganlah kamu saling mencela, baik dengan perkataanng telah memel, baikpun isyarat atau dengan mencibir. Allah memberi peringatan bahwa mencela orang yang lain sama dengan mencela diri sendiri. Hal ini mengingat bahwa sekalian mukmin itu dipandang satu tubuh, yang apabila sakit salah satu anggotanya, maka seluruh tubuhnya merasa sakit pula.
Janganlah sebagian kamu memanggil sebagian yng lain dengan gelaran-gelaran buruk, umpamanya; “Hai munafik! Hai Fasik! Atau dia mengatakan kepada orang-orang yang telah memeluk Islam: Hai Yahudi, Hai Nasrani”.

Seburuk-buruk sebutan yang dipakai untuk memanggil seseorang yang sudah beriman, ialah dengan memanggilnya nama fasik. Semua ulama berpendapat haram kita memanggil seseorang yang dengan gelar yang tidak disenangi, baik dengan menyebut suatu sifat yang tidak disenangi, baik sifatnya sendiri atau sifat orang tuanya, ataupun sifat keluarganya.

Meskipun penghinaan adalah perbuatan yang tercela, Alquran tidak pernah memuat hukuman bagi pelaku penghinaan atau memberikan wewenang kepada siapa pun untuk melakukan penghakiman. Yang ada adalah seruan untuk meninggalkan orang-orang yang menghina agar penghinaan itu tidak terus berlanjut.
"Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, Maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), Maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu)". (Qs. Al An'am [6]: 68).
Dalam Qs. Annisaa (4): 140 juga menerangkan hal yang sama. Ayat tersebut bisa menjadi pegangan dalam menyikapi orang-orang yang memfitnah dan memutarbalikkan ayat-ayat Alquran.

Jika hinaan dibalas dengan hujatan, lalu apa bedanya antara orang yang dihina dan orang yang menghujat. Reaksi yang berlebihan terhadap penghinaan akan membuat stigma yang lebih buruk terhadap umat Islam. Jika stigma kekerasan itu mencuat, yang bertepuk tangan adalah para provokator yang tidak senang dengan perdamaian.
Tidak sedikit orang yang menginginkan terciptanya permusuhan antara umat beragama. Daripada membalas hujatan dengan kecaman atau bahkan dengan pembunuhan akan lebih baik jika kita mengajak berdialog orang yang melakukan penghinaan. Dalam dialog kita bisa memperkenalkan pribadi Muhammad yang sesungguhnya. Dengan begitu, bukan mustahil orang yang tadinya menghina akan berbalik menjadi sahabat yang setia seperti yang tertera dalam Alquran surat Fushshilat (41): 34.

Kisah Nabi Muhammad SAW pada zaman Abu Bakar;
Nabi Muhammad sebagai sosok yang berkepribadian mulia menginginkan umatnya memiliki akhlak yang mulia pula. Banyak sekali hujatan dan penganiayaan yang beliau terima, tapi Nabi Muhammad mampu mengatasinya tanpa harus kehilangan kemuliaannya.

Salah satunya adalah Di sudut pasar di Kota Madinah ada seorang pengemis buta yang setiap harinya selalu meneriakkan Nabi Muhammad SAW orang gila. Setiap hari ada orang yang menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Suatu hari orang buta tersebut merasakan jika orang yang menyuapinya kali ini bukanlah orang yang biasa menyuapinya. Berkatalah orang buta dan tua itu, "Kau bukanlah orang yang biasanya menyuapiku, ke manakah gerangan orang yang biasa menyuapiku."

Orang yang ada di hadapannya bertanya, "Bagaimana kau tahu aku bukanlah orang yang biasa menyuapimu sedangkan engkau adalah orang yang tidak bisa melihat"?
Orang tua itu pun menerangkan, "Orang yang setiap harinya menyuapiku akan mengunyah makanan itu lebih dahulu sebelum memasukkan ke mulutku karena ia tahu gigiku sudah tidak kuat lagi mengunyah makanan."

Orang yang ada di hadapannya yang ternyata adalah Abu Bakar menahan tangis dan bertanya kembali, "Tahukah engkau siapa yang biasa menyuapimu setiap hari?"
Orang tua dan buta itu pun menggelengkan kepala. Abu Bakar berkata, "Orang yang menyuapimu setiap hari adalah Nabi Muhammad yang biasa engkau caci maki dan sekarang ia telah tiada."

Betapa terkejutnya orang tua itu mengetahui akan hal itu. Ia pun tersungkur menangis dan seketika itu juga mengucapkan kalimat syahadat sebagai sebuah pengakuan atas ke-Esa-an Tuhan dan kemulian Nabi Muhammad.

Semoga Kasus mahasiwa “F” dapat diambil hikmahnya dan Kisah Nabi Muhammad SAW pun patut kita kerjakan apalagi Orang yang beragama Islam
Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Iklan & Promosi Anda


Order ads here. Click me to get price quotation! Monthly & Unlimited click!

Halo, Komandan!

Sepertinya anda baru di sini. Ingin ber-interaksi? Klik satu tombol ini!

Kategori