Contact Us

Sepotong Cerita

Alkisah, ada sepasang anak muda yang telah berkomitmen dengan agamanya. Setelah menjalani proses ta'aruf mereka telah mersakan siap untuk menuju jenjang yang lebih terhormat. yaitu Lamaran (khitbah).

Sang lelaki harus menghadapi lelaki lain, yakni yah dari wanita tersebut. Hal inilah yang mejadi tantangan yang sesungguhnya bagi lelaki terseut. Akan tetapi, walaupun smwa itu lebih berat dari pada aktivitas2 yang pernah ia jalani selama menjadi aktivis dakwah di kampusnya dulu. Ia tetap maju karena semua ini menyangkut masa depannya.

sang perempuan pun siap membantu untuk memuluskan langkah mereka untuk mengenapkan agam mereka.

Maka, pada suatu pagi di ruang tamu suatu rumah . Ada seorang anak muda dan seorang lelaki setengah baya yang sedang berdiskusi tentang suatu perkara.
berikut cuplikannya :

"Oh, jadi engkau yang akan melamar itu?" tanya sang lelaki setengah baya.
"Iya, Pak," jawab sang muda.

"Apakah engkau telah mengenal anak ku dalam2 ?" tanya si bapak..

"Ia pak, sangat mengnalnya." jawab sang anak muda,
"kalau begitu lamaran mu kutolak !!!!
Berarti engkau telah memacarinya sebelumnya kan? Tidak bisa Aku mengijinkan pernikahan yang diawali dengan model seperti itu!" balas sang setengah baya.

Si pemuda tergagap, "Enggak kok pak, sebenarnya saya hanya kenal sekedarnya saja, ketemu saja baru sebulan lalu."
"Lamaranmu kutolak. Itu seperti membeli kucing dalam karung kan? aku takmau. karena kau akan gampang menceraikan anakku karena kau tak mengenalnya. Jangan-jangan kau nggak tahu aku ini siapa?" balas sang setengah baya dengan lebih keras.


Ini situasi yang amat sulit bagi sang pemuda. Sang perempuan pun mencoba membantu sang lelaki muda.

Bisiknya, "Ayah, dia dulu aktivis lho."

"Kamu dulu aktivis ya?" tanya sang setengah baya.

"Ya Pak, saya dulu sering memimpin aksi demonstrasi di Kampus,bahkan digedung dewan pak" jawab sang muda dengan percaya diri.
"Lamaranmu kutolak. Nanti kalau kamu lagi kecewa dan marah sama istrimu, kamu bakal mengerahkan rombongan teman-temanmu untuk mendemo rumahku ini kan?"

"Anu Pak, nggak kok. Wong dulu demonya juga cuman kecil-kecilan. Banyak yang nggak datang kalau saya suruh berangkat, susah sekali lho pak"
"Lamaranmu kutolak. Lha wong kamu ngatur temanmu saja nggak bisa, kok mau ngatur isterimu, keluargamu, piye tho?"

Bisikan itu datang lagi, "Ayah dia sudah bekerja lho."

"Jadi kamu sudah bekerja?" tanya sang lelaki setengah baya

"Iya Pak. Saya bekerja sebagai tenaga marketing. Keliling Indonesia, bahkan luar negeri untuk jualan produk saya Pak."
"Lamaranmu kutolak! Kalau kamu keliling dan jalan-jalan begitu, kamu nggak bakal sempat memperhatikan keluargamu nanti"

"Mmmmhh....anu kok Pak. Kelilingnya jarang-jarang. Wong produknya saja nggak terlalu laku."
"Lamaranmu tetap kutolak. Lha kamu mau kasih makan apa keluargamu, kalau kerja saja nggak becus begitu?"

sang anak pun terus brusaha mebmbantu, "Ayah, yang penting kan ia bisa membayar maharnya."

"Rencananya maharmu apa?" tanya sang ayah

"Seperangkat alat shalat Pak."
"Lamaranmu kutolak. Kami sudah punya banyak. Maaf sekali!"

"Tapi saya siapkan juga emas satu kilogram dan uang limapuluh juta Pak." balas sang pemuda
"Lamaranmu kutolak. Kau pikir aku itu matre, dan menukar anakku dengan uang dan emas begitu? Maaf anak muda, itu bukan caraku."

Bisikan, dari sang perempuan, "Dia jago IT lho Pak"

"Kamu bisa apa itu, internet?" tanya sang ayah
"Oh iya Pak. Saya rutin pakai internet, hampir setiap hari lho Pak saya nge-net biar gak mati gaya"
"Lamaranmu kutolak. Nanti kamu cuma nge-net thok tiap hari didunia maya. Menghabiskan anggaran tuk internet dan nggak ngurus anak istrimu di dunia nyata."

"Tapi saya ngenet cuma ngecek imel saja kok Pak." tandas sang pemuda
"Lamaranmu kutolak. Jadi kamu nggak ngerti Friendster, Facebook, Blog, Twitter, Youtube? Aku nggak mau punya mantu gaptek gitu ahh"

sang bapak pun terus membombardir sang peemuda dengan pertannyan2..

"Kamu merasa ganteng ya?"
"Nggak Pak. Biasa saja kok"
"Lamaranmu kutolak. Mbok kamu ngaca dulu sebelum melamar anakku yang cantik ini."

"Tapi pak, di kampung, sebenarnya banyak pula yang naksir sy lho Pak."
"Lamaranmu kutolak. Kamu berpotensi playboy. Nanti kamu bakal selingkuh!"

Sang perempuan kini berkaca-kaca, "Ayahhh, tak bisakah engkau tanyakan soal agamanya, selain tentang harta dan fisiknya?"

Sang setengah baya menatap wajah sang anak, lalu menatap sang muda yang sudah menyerah pasrah.

"Nak, apa adakah yang engkau hapal dari Al Qur'an dan Hadits?"

Si pemuda telah putus asa, tak lagi merasa punya sesuatu yang berharga.
Soal ini pun ia menyerah agak putus asa, jawabnya, "Pak, dari tiga puluh juz saya cuma hapal juz ke tiga puluh, itupun yang pendek-pendek saja. Hadits-pun cuma dari Arba'in yang terpendek pula."

Sang setengah baya tersenyum
"Lamaranmu kuterima anak muda. Itu cukup. Kau lebih hebat dariku. Agar kau tahu saja, membacanya saja pun, aku masih tertatih." komentar sang setengah baya

Maka mata sang lelaki muda pun ikut berkaca-kaca rasa bahagia..........
Perjalanan kehidupan pun berlanjut...
hehehehe
(kalau calon mertuanya ustadz habislah pemuda itu.... ^_^)

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah,niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (An-Nahl QS 16:18)

semga kita mengambil sedikit manfaat dari sepotong cerita ini...

Komentar

Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Iklan & Promosi Anda


Order ads here. Click me to get price quotation! Monthly & Unlimited click!

Halo, Komandan!

Sepertinya anda baru di sini. Ingin ber-interaksi? Klik satu tombol ini!

Kategori