Yusril: Hukum Santet Itu Mengada-ada

YUSRIL: HUKUM SANTET ITU MENGADA-ADA

⁠
INILAH.COM, Jakarta – Pakar hukum Yusril Ihza Mahendra menilai usulan dimasukannya pasal hukum santet pada rancangan undang-undang (RUU) KUHP yang tengah dibahas di DPR hanya mengada-ada. Sebab, di Indonesia tidak ada hukum santet, yang ada hanyalah hukum adat.

"KUHP kita itu kan merujuk pada hukum, belanda, adat, Islam, dan konvensi-konven­si yang berlaku, dalam hal ini santet masuk pada kategori hukum adat. Jadi tidak ada itu hukum santet, itu hanya mengada-ada," tegas Yusril saat dihubungi INILAH.COM, di Jakarta, Minggu (17/3/2013).

Dalam RUU KUHP yang diajukan pemerintah, delik santet diatur dalam pasal 296. Dalam pasal ini disebutkan bahwa setiap orang yang menyatakan dirinya mempunyai kekuatan gaib, memberitahukan,­ memberikan harapan, menawarkan, dan memberitahukan bantuan jasa kepada orang lain bahwa karena perbuatannya itu dapat menimbulkan penyakit, kematian, penderitaan mental atai fisik seseorang, maka dapat dipidana paling lama lima tahun atau denda paling banyak Rp 300 juta. Jika ilmu gaib itu dikomersilkan, ancaman pidananya ditambah sepertiga dari lima tahun.

Yusril yang juga pengacara itu menambahkan, dalam hukum pidana ada dua kategori hukum, yaitu pidana materil dan pidana formil. "Delik tersebut adalah delik formil sehingga akibatnya tidak perlu terjadi, atau ada seperti delik materil," katanya.

Yusril menegaskan, RUU KUHP bukan ditujukan untuk masalah santet tetapi lebih kepada persekongkolan jahat untuk mencelakakan orang lain antara tersangka santet dengan pengguna jasa santet tersebut.

"Misalnya si A datang ke si B untuk meminta bantuan terkait pilkada, si A meminta kepada si B dengan kekuatan gaibnya agar mencelakakan lawan si A, terlepas itu berakibat atau tidak, tetapi mereka sudah ada niat dan persekongkolan,­ ini yang perlu dipahami," tandasnya. [yeh]

Comments

Sign In or Register to comment.

Welcome to FORUM!

If you want to take part in the discussions, sign in or apply for membership below!