Contact Us
MERDEKA
DIRGAHAYU Republik INDONESIA - Ayo Kita Tingkatkan Persatuan & Kesatuan Bangsa. Erat Dalam Keragaman Bhinneka Tunggal Ika. Maju Bersama & Tingkatkan Etos Kerja Yang Baik Untuk Indonesia Modern Yang Tetap Berbudaya. MERDEKA!!!

Forum Bebas Indonesia

Fungsi Penghormatan Leluhur Bagi Orang Jawa

Bidang Sosial
Sistem pemerintahan Jawa Kuno adalah kerajaan yang menyebabkan munculnya sistem kasta. Oleh karena itu, orang selalu mengaitkan dirinya dengan leluhurnya, apalagi leluhurnya termasuk golongan bangsawan. Status leluhur, terutama berdasarkan alur dara, sangat penting bagi keturunannya. Misalnya, dalam pergantian kedudukan, penentuan luas tanah lungguh ataupun penyematan kata sandang untuk nama. Kata sandang untuk kerabat raja adalah pu dan dyah, seperti dyah Lokapala, pu Kumbhayoni. tlas mankanoparata sang prabhu jatiningrat rajya karatwan = asilih tananan inangso dyah lokapala ranujamata lokapala (Prasasti Siwagraha) tatkala raka walaing pu kumbhayoni puyut sang ratu i halu pakwiannira i jangluran …… (Prasasti Wukiran) Sedangkan kata sandang untuk rakyat jelata adalah si atau kadang-kadang sang: …// anung winaih kris tunggal soang sipa, ndawa si jamwi, si gorotong, si klonteng, si muni, si kawula, si bahu, si monek …… (Prasasti Haliwangbang) Begitu pula dengan prasasti-prasasti lain, seperti Prasasti Timabanan Wungkal, Prasasti Taji Gunung, Prasasti Mantyasih ataupun Prasasti Pucangan, yang selain bertujuan politis juga untuk mengeaskan status berdasarkan alur darah.

Bidang Politik
Penyebutan leluhur digunakan untuk memperkuat adanya alur darah di dalam silsilah. Beberapa prasasti membuktikannya. Prasasti Kutai, misalnya, menyebutkan bahwa Aswawarman anak dari Mulawarman dan cucu dari Kudungga. Begitu pula dengan Prasasti Kalkuta, Prasasti Siwagraha, Prasasti Mulamalurung dan Prasasti Mantyasih. Jadi, penyebutan leluhur tesebut dimaksudkan untuk memperkuat kdudukan dan kekuasaan.

Bidang Hukum
Peranan leluhur sangat penting dalam bidang hukum, teruta dalam perkara kewarganegaraan. Dalam Prasasti Wurukidul diceritakan bahwa sang Dhanadi (penduduk desa Wurukidul) dikira anak kilalan (orang asing) dari daerah Manghuri oleh Pamgat Manghuri, pu Wakayana. Sang Dhanadi tidak merasa sebagai anak kilalan. Oleh karena itu, ia mengadu kepada Tuhan i Padang di Pakaranan setelah sebelumnya menghadap Pamgat i Padang. Kemudian, dipanggillah keluarga Dhanadi untuk diperiksa dan dicarikan juga saksi untuk memperkuat pengakuan Dhanadi. Dalam persidangan semua saksi yang berasal dari desa Grih, Kahuripan dan Paninglaran tanpa ragu berani disumpah bahwa leluhur Dhanadi di masa lampau adalah penduduk asli, bukan anak kilalan: … sambandha sang dhanadi inujaran samget manghuri mangaran wukajana si nangguh wka kilalan I manghuri, kunangan pabyawaharadatang ta ya i sang tuhan i padang ing pakaranan makabehan tlas rumuhun ri sang pamget. kinonakan swawarga sang dhanadi kabeh petan siginsigin yan hana lawa lawaan wka kilalan ri manghuri …… …… tinanan ya de sang pamget mwang sang tu han. tan meweh sahurnya ka baih wnanga manarima kasopana. an tan hana la walyowamatra an tan wka kilalan I manghuri sang dhanadi kakinya kwinya puyutnya nguni ring asitkala ……

Bidang Budaya
Selama periode Jawa Timur, hubungan antara bangunan dengan roh leluhur (tokoh, raja) sudah jelas. Contohnya, hubungan suatu bangunan dengan roh seorang raja dapat dikemukakan sebagai berikut: panjenenganira cri ranggawuni ratu tahun … moktanira 1194, dhinarma sira ring jajagu. sira mahisa capaka mokta dhinarma ring kumeper, pamalesatinira ring wudikuncir (Pararaton IV) bhra matahun mokta dhinarma ring tigawangi, dharmmabhiseka ring kusumapura (Pararaton IX) … akweh sira wwang mahawisesa pjah, karuhun an samngkana diwasa cri maharaja dewata pjah lumah ri sang hyang dharma parhyangan i wwatan …… mwang an kapadasthaning pitu maharaja haji dewata sang lumah ring isanabrajra …… (Prasasti Kalkuta) irikanang kala cri maharaja dyah waba anak kryan landheyan sang luma ring alas …… (Prasasti Wulakan) Bila data sitiran dari sumber di atas dikumpulkan, maka akan didapat tiga istilah: mokta, lumah dan dhinarma. Mokta berarti meninggal, lumah dapat diartikan sebagai tempat pemakaman sementara (saat pembakaran tulang) dan dhinarma berhubungan dengan upacara craddha. Jadi, ada kemungkinan di tempat lumah ada bangunan yang digunakan sebagai pemakaman sementara, sedangkan di tempat dharmma, meskipun ada bangunannya tidak perlu ada jasad si mati sebab dharmma lebih condong pada pemujaan atau penghormatan terhadap roh leluhur. Yang dimaksud di sini adalah penghormatan terhadap leluhur, pemujaan terhadap dewa mengakibatkan munculnya bermacam bangunan atau benda budaya. Oleh karenanya, akan muncul pula kreasi-kreasi dari para seniman.

MOHON MAAF, TRITNYA BERANTAKAN
SELENGKAPNYA BACA DI SINI

Komentar

Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Iklan & Promosi Anda


Order ads here. Click me to get price quotation! Monthly & Unlimited click!

Halo, Komandan!

Sepertinya anda baru di sini. Ingin ber-interaksi? Klik satu tombol ini!

Kategori