Contact Us
News
Follow TELEGRAM Channel ForumBebas.com di alamat T.ME/FORUMBEBAS atau Facebook Fan Page dan Twitter Forumbebas .

Forum Bebas Indonesia

Tanya Jawab Masalah Pertanahan

Izin bikin thread mas kumendan bin momod..

Preambule :
Saya bukan org pintar dan masih perlu banyak belajar dr siapa saja dan mana saja, tapi beranjak dr niat pengen bagi ilmu dan pengalaman, saya jadi pengen bikin thread ini buat teman2 semua..mudah2an bisa bermanfaat dan membantu menyelesaikan permasalahan teman2..

Dasar :
Saya org Pemerintahan, bekerja di Pemerintahan, dan beberapa tahun belakangan ditugaskan megang urusan tanah menanah.., (FYI, saya gak dinas di BPN) :D
dari tahun2 berjalan serta koordinasi dengan beberapa Instansi terkait, serta pengalaman2 kerja dan belajar dari org2 hebat di sekitar saya, saya sedikit banyak punya pengalaman dalam memberikan solusi untuk soal tanah menanah yang jadi polemik kita kita..

Fokus Interest :
Saya membuka kesempatan buat teman2 yang mau nanya, atau bantu cari solusi bagi yg bermasalah dengan tanah menanah.. baik itu bermasalah dengan pemerintah setempat karena tanahnya diambil/diganti rugi/digusur , ataupun ada kesulitan soal pengurusan berkas2 tanah, ataupun lagi ribut ama bininya berebut tanah :D..
saya juga akan berusaha menjawab pertanyaan teman2 dengan bahasa yang mudah dimengerti dan saya sertakan habbit/kebiasaan yang biasa dilakukan para birokrat serta tips2 untuk menyelesaikannya..

Kendala :
karena ilmu saya terbatas, saya akan berusaha jawab semampu saya, jika saya belum bisa jawab, saya akan secepatnya tanya ama org yg lebih ngerti dan punya pengalaman puluhan tahun yang ada di sekitar saya.. dan jika ada jawaban saya yang salah, saya juga mohon koreksinya dari teman2..

Penutup :
Udah gitu aja.. sambil nunggu lapak laku.. ngupi2 dulu yah..
«1

Komentar

  • penglaris.........


    bisa nanya soal pbb ga?
    atau ngecek pbb ane..
  • pertanyaan kedua dari saya Uda :blah:

    1. Bagaimana status tanah yang surat 2xnya telah hilang, ( karena orang tua meninggal dunia tanpa memberitahukan dimana surat 2xnya disimpan ) sementara ahli warisnya ada beberapa orang

    2. Bagaimana kasus tanah sengketa ( contoh : sengketa tanah milik cicit pangeran Diponegoro dengan salah satu perusahaan di Jakarta )

    3. Bagaimana status tanah setelah terkena gempa dan tsunami, yang sudah bergeser dan hancur berantakan di wilayahnya tsb

    -sekian terima kasih- :yes::thanks:

    :wait:
  • silahkan ndan elang biru untuk menjawab persoalan/pertanyaan dari member fbi tesebut diatas...?????
  • RizalF menulis:
    silahkan ndan elang biru untuk menjawab persoalan/pertanyaan dari member fbi tesebut diatas...?????
    [size=small]sorry dorry dimorry mod..
    baru ol lagih..
    [/size]


    dijawab atu-atu yah..
    z-moxs menulis:
    penglaris.........


    bisa nanya soal pbb ga?
    atau ngecek pbb ane..

    [size=small]
    kalo online, disini mbah ..
    http://njop.pajak.go.id/
    tapi itu tdk langsung menunjuk tanah mbah dan berapa Pajak si mbah yg harus dibayar, atau udah berapa lama belum bayar pajak..


    kalau mau lebih akurat, setiap tahunnya, setiap tanah yang terdata di Kantor Pajak Pratama Daerah setempat, menerima SPPT (Surat Pemberitahuan Pajak Tehutang) PBB, yang dibagikan oleh Pihak Kelurahan / Kecamatan ke masing2 tanah dan rumah yang berpenghuni, kecuali "kuburan", meskipun kuburan juga berpenghuni :blah:.
    Kalau si mbah belum menerima SPPT PBB , coba minta ke Pihak Kelurahan, biasanya mereka dengan senang hati akan memberikan SPPT itu, karena rata2 mereka juga rada males nganter ke masing2 rumah..
    kalau di Kelurahan gak ada, kemungkinan tanah atau bangunan si mbah belum terdata, maka segera urus ke Kantor Pelayanan Pajak Pratama Daerah setempat.
    PBB ini gunanya banyak lho mbah.. terutama kalo si mbah mau jual beli tanah..
    jangan sampe gak ada..

    di beberapa Kota/Kabupaten, Urusan PBB ini sudah diambil alih oleh Pemerintah Daerah setempat sesuai dengan aura Otonomi Daerah (katanya) :p
    nah kalo Informasi yang si mbah dapat dari pihak kelurahan/kecamatan, PBB ini udah diambil alih oleh Pemda setempat, berarti si mbah ngurusnya ke DPKA (Dinas Pengelola Keuangan dan Asset) atau DPKD (DInas Pengelola Keuangan Daerah) setempat.. dulu namanya Dispenda (DInas Pendapatan Daerah) tp sesuai UU baru.. udah diganti mbah..

    segitu dulu mbah, maap2 kalo ada yg kurang, yg mau nambahin, monggo...
    [/size]

  • 5551272 menulis:
    pertanyaan kedua dari saya Uda :blah:

    1. Bagaimana status tanah yang surat 2xnya telah hilang, ( karena orang tua meninggal dunia tanpa memberitahukan dimana surat 2xnya disimpan ) sementara ahli warisnya ada beberapa orang

    [size=small]harus lebih spesifik mbak.., yang hilang surat2 apa dulu..??
    kalau tanah itu udah bersertifikat dan yang hilang itu sertifikatnya solusi pertamanya adalah membuat dulu sertfikat penggantinya..
    caranya.. mm gini mbak.. sebenarnya jawaban secara resmi ttg proses sertifikat pengganti ini tertuang dalam PP no. 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran tanah.. tapi krn aku dah janji mau jawab dgn bahasa yang mudah dimengerti dan gak ribet sebagaimana kita memahami undang-undang, jadi simpelnya caranya adalah :

    pertama, lapor Pak Polisi Dulu, pembuatan sertifikat tanah yang hilang bisa dilakukan, apabila kita mengetahui nama pemegang hak, nomor hak yaitu nomor sertifikat dan letak objek atau lokasi tanah, lebih mudah urusannya kalo kita tahu itu semua, jadi sangat disarankan kalau kita punya sertifikat, jangan lupa simpan copy-annya..

    Sebaliknya, apabila kita gak tahu, maka pembuatan sertifikat ulang Tak Bisa Dilaksanakan.. kesian..kesian...kesian.. :(.

    Proses pembuatan sertifikat ulang terseut, setelah kita membuat surat keterangan hilang dari Kepolisian, selanjutnya, kita datang ke Badan Pertanahan Nasional dengan membawa persyaratan yang harus dilengkapi. Antara lain, identitas pemegang hak (KTP) yang sudah dilegalisir dan KTP penerima kuasa yang sudah dilegalisir, jika pengurusannya dikuasakan kepada orang lain..

    lalu Surat keterangan lurah setempat yang menerangkan bahwa memang benar ada tanah yang tertera dalam copy sertifikat tanah tersebut dan berlokasi di kelurahan itu.lalu BPN akan cek, apakah betul subjek (pemilik tanah) dan objeknya (letak tanah).

    Syarat lainnya juga adalah bukti pembayaran PBBB Tahun Terakhir, nah nyambung ama pertanyaan "mbah Semok" :blah: , makanya PBB itu penting..

    Bentuk pemprosesannya, pembuatan gambar, pengukuran, pernyataan (sumpah) oleh Kita dan pengumuman melalui media cetak. Setelah pengumuman, dan tak ada sanggahan dari pihak-pihak lain, proses dinyatakan selesai.

    Penyelesaian pembuatan sertifikat ulang selama bulan, dengan rincian sebulan proses administrasi dan sebulan proses pengumuman. Namun, apabila KIta gak aktif dalam kehadiran saat proses pengajuan permohonan, lama penyelesaian tak dapat ditentukan.

    Masalah berikutnya muncul..
    pertama.. Si Pemegang Hak (Ortu) nya udah meninggal dan ahli warisnya banyak..
    otomatis kuasa tidak bisa diberikan karena yang mau ngasi Kuasa udah duluan meninggal..
    maka pengurusan dilanjutkan oleh ahli warisnya.. secara globalnya Ahli Waris semuanya berhak atas tanah tersebut, nanti akan dikuatkan oleh Surat Keterangan Ahli Waris oleh Pemerintah Kelurahan dan Kecamatan setempat.

    Namun nantinya Sertifikat pengganti yang akan terbit, akan kembali atas nama si Ortunya, karena hak keperdataannya belum pindah..
    lalu untuk memindahkannya nama pemegang haknya menjadi nama anak2nya, harus dilakukan proses turun waris di BPN, disini biaya yang dikeluarkan selain biaya kepengurusan yang paling gede itu biasanya disebut org dengan Pajak Turun Waris.. semakin luas tanahnya, semakin besar pajaknya.. dan hampir di seluruh Indonesia, rata2 Pemda setempat telah mengambil alih Pajak Turun Waris ini menjadi salah satu pemasukan daerah.

    Masalah Kedua.. bagaimana kalo tanahnya belum bersertifikat..??
    sebenarnya kalo menurut aku ini mah lebih gampang..
    kita gak perlu repot2 ngurus proses sertifikat hilang.. ataupun ngurus Turun Waris..
    tapi cukup mendaftarkan hak atas tanah tersebut..

    coba di cek dulu.. yg hilang itu apa..??
    kalo surat menyurat bukti jaman dahulu kala kalo tanah itu milik keluarga mereka..
    maka bukti itu bisa dibuat lagi pada saat ini..
    ini disebut juga istilahnya Pendaftaran Hak Lama..
    Pendaftaran hak lama dibuktikan dengan alat- alat bukti berupa bukti tertulis, keterangan saksi dan/atau keterangan dari orang yang bersangkutan, yang kadar kebenarannya ditentukan oleh instansi yang berwenang, dalam hal ini Pemerintah setempat. (Kelurahan dan Kecamatan).
    Di beberapa daerah bukti itu juga didukung oleh keterangan Pemerintah Adat setempat, seperti di Sumatera Barat, bukti itu disahkan oleh Kerapatan Adat Nagari nya.
    [/size]
  • [size=small]oke mbak..pertanyaan kedua ya... ambil nafas dulu... sssshhhhh....
    oke go..
    [/size]

    5551272 menulis:
    2. Bagaimana kasus tanah sengketa ( contoh : sengketa tanah milik cicit pangeran Diponegoro dengan salah satu perusahaan di Jakarta )

    [size=small]sekali lagi kurang spesifik mbah.. sengeketa tanah itu banyak macam dan gaya nya...
    terus terang aku gak tau kasus Pangeran Diponegoro itu bagaimana asal muasal dan sebagainya.. kurang baca berita mbak.. hobby nya nonton pilem Korea doang.. :blah:

    tapai kalau dijelaskan disini gimana kasus sengketanya itu.. aku bakal coba jawab..
    tapi sebagai informasi.. kalo sengeketa itu udah masuk ranah hukum, apalagi udah sampai ke MA dan sudah diputuskan..maka siapapun dari pihak yang bersengketa harus melaksanakan keputusan MA tersebut.. kalo harus dieksekusi ya eksekusi.. begitu kira2..

    yang ketigaaaaaaaaaaa...... chu3meUn6uuddhhh eeeaaahh.. :applause:
    [/size]

    5551272 menulis:
    3. Bagaimana status tanah setelah terkena gempa dan tsunami, yang sudah bergeser dan hancur berantakan di wilayahnya tsb

    [size=small]nah ini agak susah jawabnya.. yang jelas hak keperdataan seseorang itu gak hilang..
    yang jd masalah kalo tanah saling timpa menimpa.. tanah si A nimpa tanah si B.. bumi dah hancur2an..
    aku gak tau jawabannya mbak.. karena kalo itu udah terjadi, biasanya tanah tersebut juga gak bakal ditinggali lagi.. :blah:

    namun demikian, aku kasi satu ilustrasi..
    Pemerintah Kota ku pernah membeli tanah di satu tempat.. namun karena terjadi erosi.. tanah yang dibeli itu lama kelamaan terkikis dan habis serta nyatu ama sungai yang persis terletak disampung tanah tersebut..
    lalu mau diapain.. otomatis yang namanya DAS (Daerah Aliran Sungai) tidak bisa diganggu gugat..
    jalan keluarnya adalah Pemerintah merelakan tanah tersebut dan pembangunan dipindahkan ke tanah lain..

    demikian mbak.. mohon maaf kalo ada yang kurang2..

    Salam Chibby...
    :D
    [/size]
  • Thread ini saya bookmark...
    Kapan ada pertanyaan tinggal mampir ke sini :top:
  • Ketua menulis:
    Thread ini saya bookmark...
    Kapan ada pertanyaan tinggal mampir ke sini :top:

    [size=small]wokehh Pak Ketum.. dengan senang hati siap menunggu..:good:[/size]
  • waah... thank you udaaaaa.... :D
    :applause:

    ma'af ya ngerepotin dengan pertanyaan yang jawabannya puanjaang... :grin:

    mbak beneran ngga ngerti soalnya urusan pertanahan, biasa ....males ribet dan males nge file :rolleyes:

    pbb tiap tahun bayar, tapi bukti pembayarannya cuma disimpen di kompie karena selalu bayar via internet banking..

    Soal tanah waris memang sensitif ya... kalau si orang tua juga ngga punya file yang rapi serta ngga terbuka dengan para anak anaknya, bisa ribet dibelakang..

    tapi ngga enak juga ya kalau pas masih sehat segar bugar, si anak udah nanya nanya soal tanah warisan.. kesannya gimana gitu..

    btw,.... :) :thanks: :top:
  • :stress:

    emang ane dah jenggotan........
  • mo nanya bole ya..... :blah:

    apa sebenarnya konsolidasi tanah itu? dan kapan itu bisa terjadi?
  • 5551272 menulis:
    waah... thank you udaaaaa.... :D
    :applause:

    ma'af ya ngerepotin dengan pertanyaan yang jawabannya puanjaang... :grin:

    mbak beneran ngga ngerti soalnya urusan pertanahan, biasa ....males ribet dan males nge file :rolleyes:

    pbb tiap tahun bayar, tapi bukti pembayarannya cuma disimpen di kompie karena selalu bayar via internet banking..

    Soal tanah waris memang sensitif ya... kalau si orang tua juga ngga punya file yang rapi serta ngga terbuka dengan para anak anaknya, bisa ribet dibelakang..

    tapi ngga enak juga ya kalau pas masih sehat segar bugar, si anak udah nanya nanya soal tanah warisan.. kesannya gimana gitu..

    btw,.... :) :thanks: :top:

    [size=small]kalo aku malah lebih setuju ortu dah bagi warisan sebelum dia meninggal mbak.. itu kudu.. harus.. wajib.. musti...
    harus didudukkan semeja dgn anak2nya..
    karena gak sedikit kulihat keluarga, sodara kandung putus hubungan darah gara2 rebutan warisan..
    :(
    [/size]

    z-moxs menulis:
    :stress:

    emang ane dah jenggotan........

    [size=small]gak tau mbah.. coba cek lagi di kamar mandi... [/size]
  • overflow menulis:
    mo nanya bole ya..... :blah:

    apa sebenarnya konsolidasi tanah itu? dan kapan itu bisa terjadi?

    [size=small]
    sorry.. kelewat tadi ndan..

    pertanyaan bagus nih..
    kebetulan saya lagi hangat2nya ngurus ginian skrg..

    oke..
    secara umum Konsolidasi adalah Penataan kembali..
    yang ditata itu tanahnya.. baik kepemilikan dan penguasaannya ataupun penggunaannya..

    sekarang sebelum saya kasi ilustrasi kejadian dan permasalahan lapangan..'
    kiranya ndan berkenan baca sedikit penjelasan ini dulu..
    saya ambil dari blog :
    [/size]

    http://eleveners.wordpress.com/2010/01/20/dir-konsolidasi-tanah-kt/
    Pengertian Konsolidasi Tanah

    Konsolidasi Tanah adalah kebijaksanaan pertanahan mengenai penataan kembali penguasaan dan penggunaan tanah serta usaha pengadaan tanah untuk kepentingan pembangunan, untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan pemeliharaan sumber daya alam dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat (Peraturan KaBPN No. 4 tahun 1991 pasal 1 ayat 1).

    Tujuan dan Sasaran Konsolidasi Tanah

    Kegiatan konsolidasi tanah memiliki tujuan untuk mencapai pemanfaatan tanah secara optimal melalui peningkatkan efisiensi dan produktifitas penggunaan tanah. Sedangkan sasaran yang ingin dicapai adalah terwujudnya suatu tatanan penguasaan dan penggunaan tanah yang tertib dan teratur dan dilengkapi dengan prasarana-sarana lingkungan.

    Manfaat Konsolidasi Tanah

    Untuk kawasan perumahan dan permukiman, konsolidasi tanah dapat member manfaat berupa :

    1. Kesempatan kepada pemilik tanah untuk menikmati secara langsung keuntungan dari konsolidasi tanah, baik kenaikan harga tanah maupun kenikmatan lainnya karena terciptanya lingkungan yang teratur;

    2. Terhindar dari ekses-ekses yang sering timbul dalam penyediaan tanah secara konvensional;

    3. Adanya percepatan laju pembangunan wilayah permukiman;

    4. Tertib administrasi pertanahan serta menghemat pengeluaran dana Pemerintah untuk biaya pembangunan prasarana, fasilitas umum, ganti rugi dan operasional.


    Prinsip-Prinsip Dasar Konsolidasi Tanah

    Membangun tanpa menggusur;
    Kegiatan pembangunan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat;
    Dilaksanakan berdasarkan kesepakatan bersama (musyawarah);
    Penyediaan tanah melalui STUP (Sumbangan Tanah Untuk Pembangunan) ;
    Pembangunan dibiayai melalui TPBP (Tanah Pengganti Biaya Pelaksanaan);
    Transparansi;
    Keadilan;
    Kepastian hak atas tanah dengan lingkungan yang tertata.

    Peraturan Pelaksana Konsolidasi Tanah


    1. Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 4 Tahun 1991 tentang Konsolidasi Tanah;

    2. Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional RI No. 3 Tahun 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pertanahan Nasional;

    3. Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional RI No. 4 Tahun 2006 tentang Tata Kerja Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional dan Kantor Pertanahan;

    4. Surat Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 3 Tahun 2003 tentang Pelimpahan Kewenangan Pemberian Keputusan Penegasan Tanah sebagai Obyek Konsolidasi Tanah;

    5. Surat Kepala Badan Pertanahan Nasional No.410-4245 tentang Petunjuk Pelaksanaan Konsolidasi Tanah;

    6. Surat Edaran Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 410-1078 tentang Petunjuk Teknis Konsolidasi Tanah;

    7. Surat Edaran Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 410-1637 tentang Pengelolaan Tanah Pengganti Biaya Pelaksanaan (TPBP) Konsolidasi Tanah;

    8. Surat Edaran Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 410-55 tentang Organisasi Peserta Konsolidasi Tanah;

    9. Surat Edaran Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 462-3872 tentang Penetapan Lokasi Konsolidasi Tanah;

    10. Surat Edaran Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 410-2084 tentang Peningkatan Pelayanan Konsolidasi Tanah;

    11. Surat Edaran Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 410-1047 tentang Penggunaan Dana Kompensasi TPBP;

    12. Surat Edaran Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 410-1150 tentang Penyempurnaan Surat Edaran Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 410-2084 tentang Peningkatan Pelayanan Konsolidasi Tanah;

    13. Surat Edaran Deputi Bidang Pengaturan Penguasaan dan Penatagunaan Tanah No. 410-1919.DII tentang Petunjuk Laporan monitoring Tindak Lanjut dan Kemajuan Pekerjaan Konsolidasi Tanah;

    14. Surat Edaran Deputi Bidang Pengaturan Penguasaan dan Penatagunaan Tanah No. 225.2/DII/VII/99 tentang Izin Perubahan Penggunaan dan Izin Lokasi dalam Penyelenggaraan Konsolidasi Tanah;

    15. Surat Edaran Deputi Bidang Pengaturan Penguasaan dan Penatagunaan Tanah No. 22/D.III/2004 tentang Tindak-lanjut Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 3 tahun 2003.


    Wilayah Yang Berpotensi Untuk Konsolidasi Tanah

    Wilayah yang direncanakan menjadi kota/permukiman baru;
    Wilayah yang sudah mulai tumbuh;
    Wilayah permukiman yang tumbuh pesat (daerah pinggiran kota dan sepanjang jalan-jalan kota besar);
    Wilayah bagian pinggir kota yang telah ada atau direncanakan jalan penghubung;
    Wilayah yang relatif kosong;
    Wilayah yang belum teratur/kumuh (permukiman padat);
    Wilayah yang perlu renovasi/rekonstruksi;
    Wilayah pengembangan industri;
    Wilayah lain yang bercirikan perkotaan;
    Di daerah-daerah yang berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) direncanakan untuk pengembangan permukiman baru dan juga perkampungan/permukiman yang akan dilalui oleh jalan tol atau jalan arteri antar propinsi/kabupaten;
    Permukiman di pinggiran kota yang penduduknya jarang dan memiliki akses ke jalan utama serta diperkirakan akan berkembang menjadi wilayah permukiman baru.

  • [size=small]lanjutan penjelasan[/size]
    Tahapan Konsolidasi Tanah

    Pemilihan Lokasi

    Hal-hal yang harus diperhatikan dlm pemilihan lokasi:

    Sesuai dengan RTRW
    Minat Awal Masyarakat
    Dukungan dari Stakeholder
    Tingkat kemudahan Pencapaian lokasi (aksesibilitas)
    Jumlah peserta, jumlah bidang tanah dan luas yang akan ditata
    Status Tanah

    g.Keadaan topografis

    Bimbingan Masyarakat

    bertujuan untuk mendorong masyarakat berperan aktif dalam organisasi/asosiasi yang akan dibentuk dalam pelaksanaan Konsolidasi Tanah, mendorong terbentuknya organisasi peserta berikut tugas, fungsi, hak dan kewajiban serta tanggung jawab dengan susunan pengurus. Selain itu melakukan pendampingan terhadap para peserta Konsolidasi Tanah.

    Penjajakan kesepakatan,

    Bertujuan agar lokasi terpilih yang akan ditata telah disepakati para peserta Konsolidasi Tanah, lokasi terpilih sesuai RTRW, diperoleh gambaran lokasi secara umum dan Rencana Pembangunan Daerah pada lokasi terpilih, calon peserta Konsolidasi Tanah menyatakan bersedia memberikan Sumbangan Tanah Untuk Pembangunan (STUP).

    Penetapan Lokasi
    Pengorganisasian
    Identifikasi subyek dan obyek

    Perkotaan (Luas </= 10 Ha ditetapkan oleh Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota
    Pedesaan (Luas </= 200 Ha ditetapkan oleh Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota
    Luas diatas 10 ha (perkotaan) dan diatas 200 Ha (pertanian) ditetapkan oleh Bupati/Walikota

    merupakan kegiatan pengumpulan data yuridis yang dilakukan oleh Satuan Tugas Pelaksanaan Konsolidasi (nama, pekerjaan, kewarganegaraan, alamat, dan informasi lain).

    Pengukuran Dan Pemetaan Keliling

    Pengukuran dan pemetaan keliling dilaksanakan oleh Satgas teknis/petugas yang ditunjuk. Kegiatannya meliputi: Pemasangan tugu-tugu poligon, pengukuran keliling, pemetaan hasil pengukuran keliling, menghitung luas area lokasi.

    Pengukuran dan pemetaan rincikan, meliputi:
    Menetapkan batas bidang tanah
    Melaksanakan pengukuran batas bidang tanah dan bangunan yang ada
    Membuat gambar ukur
    Membuat peta bidang tanah
    Membuat daftar tanah
    Membuat peta pendaftaran
    Mencocokan luas tanah hasil perhitungan dengan luas tanah yang tercantum dalam leter C/Girik/Pipil atau bukti hak atas tanah lainnya.
    Pengukuran dan Pemetaan Topografi serta Pemetaan Penggunaan Tanah

    bertujuan untuk mengetahui ketinggian dan sudut kemiringan lereng lokasi Konsolidasi Tanah serta mengetahui jenis penggunaan tanah saat ini pada lokasi Konsolidasi Tanah.

    Penyusunan Rencana Blok/Pradesain Konsolidasi Tanah dan Perhitungan Luas Rencana Peruntukkan Tanah

    Hasil akhir dari rencana blok adalah gambaran tata letak dari struktur jaringan jalan, kavling, fasilitas umum, fasilitas sosial dan TPBP yang dituangkan dalam Peta skala 1:1.000 atau skala tertentu.

    11. Penyusunan Desain Konsolidasi Tanah dan Perhitungan Luas

    untuk menyusun perencanaan letak, bentuk dan luas kavling-kavling baru pada lokasi Konsolidasi Tanah setelah dikurangi STUP.

    12. Musyawarah Rencana Penetapan Kavling Baru

    bertujuan untuk menyakinkan kepada para peserta Konsolidasi Tanah bahwa telah diadakan penetapan kavling baru dan dikurangi untuk STUP.

    13. Pelepasan Hak Atas Tanah

    dimaksudkan untuk memenuhi syarat legalitas agar menjadikan status tanah sebagai tanah yang langsung dikuasai oleh Negara yang diwujudkan dalam bentuk Surat Pernyataan. Setelah pelepasan hak, tanah tersebut ditegaskan sebagai tanah obyek Konsolidasi Tanah.

    14. SK Penegasan Tanah Obyek Konsolidasi Tanah

    Penerbitan SK Penegasan Tanah Obyek Konsolidasi Tanah didasarkan atas usulan Penegasan Tanah Obyek Konsolidasi Tanah dari Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota.

    15. Relokasi/Pemindahan Desain Konsolidasi Tanah Ke Lapang, meliputi:

    Pengukuran dan penempatan patok batas fasilitas umum, fasilitas sosial dan TPBP;
    Penentuan batas badan jalan dan saluran air;
    Checking lapangan masing-masing peserta Konsolidasi Tanah untuk penempatan kavling baru.

    16. Konstruksi

    merupakan pekerjaan fisik seperti pembangunan fisik bangunan/pembersihan badan jalan, penggali parit, pengerasan jalan, pembangunan fasilitas sosial dan fasilitas umum lainnya.

    17. Penerbitan Surat Keputusan Hak Atas Tanah

    peserta Konsolidasi Tanah yang tanahnya sudah dilekati suatu hak atas tanah, maka dalam perolehan hak atas tanah tersebut setelah konsolidasi tanah, dibebaskan dari kewajiban membayar uang pemasukan kepada Negara.

    18. Penerbitan Sertipikat Tanah.
  • [size=small]lanjutan dikiiiitttt... lagi...[/size]
    STUP dan TPBP

    STUP adalah sumbangan tanah dari para peserta yang akan dipergunakan untuk pembangunan/penyediaan prasarana jalan dan fasilitas umum lainnya dan pembiayaan pelaksanaan konsolidasi tanah. Besarnya STUP ditetapkan berdasarkan kesepakatan bersama peserta konsolidasi tanah. Peserta yang persil tanahnya terlalu kecil sehingga tidak mungkin menyerahkan sebagian tanahnya sebagai STUP dapat mengganti sumbangan tersebut dengan uang atau bentuk lainnya yang disetujui bersama oleh para peserta konsolidasi tanah.

    Adapun TPBP adalah bagian dari Sumbangan Tanah Untuk Pembangunan yang tidak digunakan untuk prasarana jalan dan fasilitas umum lainnya. TPBP diserahkan penggunaannya kepada peserta Konsolidasi Tanah yang memiliki kapling kecil atau kepada pihak lainnya dengan pembayaran kompensasi berupa uang dengan jumlah yang ditetapkan berdasarkan musyawarah para peserta Konsolidasi Tanah.

    Pembiayaan Konsolidasi Tanah

    Pada azasnya biaya kegiatan konsolidasi tanah ditanggung oleh peserta Konsolidasi Tanah (dalam bentuk uang maupun TPBP);
    Sumbangan berupa tanah dilepaskan Hak Atas Tanah/garapannya kepada Negara dihadapan Kepala Kantor Pertanahan setempat;
    Uang kompensasi diterima dan dikelola oleh Bendaharawan Khusus Kantor Pertanahan;
    Pertanggungjawaban atas pengelolaan disampaikan oleh Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota kepada Kepala Badan Pertanahan Nasional.

    Jenis Konsolidasi Tanah

    Konsolidasi tanah dapat dilaksanakan dengan dua cara,yaitu:

    Konsolidasi Tanah Horizontal
    Konsolidasi Tanah Vertikal

    KESIMPULAN

    Direktorat Konsolidasi Tanah adalah suatu direktorat yang berada di bawah Deputi III yang mempunyai tugas menyiapkan perumusan kebijakan teknis dan melaksanakan konsolidasi tanah.
    Kegiatan Utama Direktorat Konsolidasi Tanah adalah merumuskan kebijakan teknis mengenai kegiatan konsolidasi tanah; promosi dan sosialisasi konsolidasi tanah; evaluasi pelaksanaan konsolidasi tanah; pengelolaan basis data dan informasi konsolidasi tanah.
    Produk Direktorat Konsolidasi Tanah adalah kebijakan teknis mengenai konsolidasi tanah.

    SARAN

    Pemberian pemahaman dan pengetahuan yang mendalam mengenai konsolidasi tanah terhadap masyarakat sehingga tingkat partisipasi masyarakat dapat ditingkatkan.
    Dibutuhkan kerjasama dengan pihak swasta sehingga pendanaan untuk kegiatan Konsolidasi Tanah tidak terbatas dari anggaran pemerintah saja.
    Perlu perhitungan yang holistik pada perencanaan konsolidasi tanah sehingga nilai/produktivitas tanah hasil konsolidasi memiliki ukuran yang jelas.
    Peningkatan partisipasi masyarakat dalam proses penyusunan rencana sehingga rencana tata ruang lebih menampung aspirasi masyarakat.
    Pembenahan aturan mengenai konsolidasi tanah agar tidak terjadi tumpang tindih dengan sektor lainnya.
    Penyuluhan masyarakat merupakan awal kegiatan yang menentukan bahwa konsolidasi tanah bisa terlaksana atau tidak. Maka pada kegiatan tersebut perlu digambarkan hasil dari konsolidasi tersebut berupa gambaran visual tata ruang dan keuntungan yang diperoleh masyarakat.

  • [size=small]nah dari penjelasan di atas, beberapa point penting adalah :
    1. konsolidasi itu tujuannya untuk pengembangan pembangunan
    2. tanah masyarakat di daerah yang akan dibangun itu ditata kembali oleh pihak berwenang, dalam hal ini tentu saja BPN berkoordinasi dengan Pemda setempat.
    3. Konsolidasi itu azaz utamanya adalah kesepakatan semua pihak.
    4. Masyarakat yang tanahnya dikonsolidasi tersebut harus rela menyerahkan sebahagian tanahnya kepada Pemerintah untuk kepentingan pembangunan.

    skrg ilustrasinya.
    di Kota saya, semenjak Tahun 2001 direncanakan pembangunan Jalan By Pass di tengah rimba raya tanah milik masyarakat di pinggir Kota.. yang rencananya dulu adalah untuk pengembangan Kota (sekarang malah sudah jadi Pusat Kota).

    Masyarakat yang ada di wilayah By Pass tersebut, tanahnya dikonsolidasi.. yakni dengan cara sebagai berikut kira2 :
    si A yang tanahnya terkena dalam rencana jalan dipindahkan tanahnya ke Tanah si B, si B ke tanah si C, begitu seterusnya, dengan catatan, masing2 tanah mereka telah dikurangi luasnya sehingga kalau dijumlah tercukupi luas seluas rencana jalan untuk kepentingan pembangunan jalan tersebut.

    Si a yang awalnya tanahnya 1.000 m2, skrg jadi 7.000 m2, dan dipindahin ke belakang ke tanah si B, tanah si B juga dikurangi, si C juga.. lalu semuanya ditata baik2, dan rapi2.. dan terbitlah semua sertifikat baru atas nama masing2 pemegang hak yang sudah dipindahkan tersebut..
    sampe sini oke ya ndan..
    kayaknya konsolidasi udah berhasil banget..

    lalu masalah timbul..
    yaitu :
    1. Masyarakat di areal konsolidasi, hampir tidak pernah menyepakati adanya konsolidasi ini.. kesepakatan yang ada malah sepihak, yakni dari pemerintah saja, dengan menerbitkan peraturan daerah, bahwa semua tanah yang belum bersertifikat dan akan disertfikitakan, harus menyumbangkan 30% dari luas tanahnya kepada Pemerintah untuk kepentingan pembangunan.
    padahal "Kesepakatan" adalah azaz utama konsolidasi tersebut.
    itu juga menjawab pertanyaan ndan, kapan konsolidasi itu terjadi.. ketika pembangunan itu memang sangat dibutuhkan..
    bukan hanya oleh Pemerintah, tapi juga oleh masyarakat.

    jika masyarakat akhirnya manut aja karena gak mau melanggar aturan, masalah kedua muncul :
    2. Si B yang dipindahkan ke tanah si C, karena tanah asalnya udah dikasi ke si A oleh krn konsolidasi tadi, tidak mau menempati tanah si C, karena tanah asalnya yg udah diambil si A itu bagus.. berstrruktur tanah gurun.. datar.. dan ketika dibangun jalan, otomatis tanahnya udah di pinggir jalan, dan harganya pasti naik.
    lalu si A yang udah mengantongi sertifkat tanah asal si B, hanya bisa memiliki secara dejure saja, secara de facto alias fakta lapangan, si B tetap berkuasa dan tinggal di tanah tersebut, dan begitu merunut seterusnya pada penataan tanah2 yang lain yg ujungnya kacau balaulah konsolidasi tersebut, bukannya tertata malah terserak berak :D

    3. Masalah ketiga juga terjadi..
    pembangunan jalan yang direncanakan 2 jalur, ternyata tahap pertama hanya dibangun satu jalur, dan jalur 2 nya entah kapan akan dibangun..
    karena tak kunjung juga dibangun, akhirnya si A,si B, si C ataupun si Z, berlomba2 menempati tanah yang udah kosong untuk persiapan pembangunan jalur 2 tersebut..
    buat apa?? buat dagang.. maka bermunculanlah warung2 non permanen, liar dan lagi2 berserak berak sepanjang pinggir jalan Jalur 1 tersebut..
    Pemerintah setempat, mau melarang.. tapi ketika ditertibkan, yang jalan Jalur 2 ini juga tak kunjung dibangun oleh Pemerintah Pusat, hingga 11 tahun lamanya..
    apa boleh buat, drpd capek tenaga, dan habis biaya, sementara dibiarkan saja dulu.
    Tahun 2012 ini ternyata jalur 2 itu dibangun.. nah, ndan bisa bayangkan gmn repotnya menertibkan warung dan bangunan liar yang ribuan banyaknya..
    lagi2 terserak berak lah semuanya...

    maka Saya pribadi berani menyimpulkan, Konsolidasi bukanlah solusi yang baik untuk pembangunan..
    dan setahu saya, sampai dengan saat ini, belum ada satupun Kota/Kabupaten yang bisa menjalankan konsolidasi ini dengan sukses tanpa ada masalah..
    lihat saja Jogja contohnya.. tambah pusing kepala Pemerintah disana.. :D

    maka buat saya, tetap ganti rugi atau pengadaan tanah adalah solusi yg paling tepat utk mendapatkan tanah masyarakat guna kepentingan pembangunan..

    sekian kiranya, ndan.. :)
    [/size]
  • maap nih... baru bisa liat sekarang... baru bisa OL lagi masalahnya :blah:

    makacih atas jawabannya... walo panjang tapi amat membantu dalam menambah pengetahuan... :top:

    jadi pada prinsipnya konsolidasi ada hubungannya dengan rencana tata ruang dan master plan tata kota kedepan.. bukankah begitu?

    kalau begitu salah satu kerugian dari konsolidasi bisa jadi ada kaitannya dengan harga / nilai tanah yang berhubungan dengan lokasi/posisi tanah tersebut terhadap jalan... benarkah begitu?
    denger denger nih... setelah konsolidasi katanya ada kapling tanah yang pemiliknya bukan dari orang orang yang terkena konsolidasi...benarkah itu?

  • overflow menulis:
    maap nih... baru bisa liat sekarang... baru bisa OL lagi masalahnya :blah:

    makacih atas jawabannya... walo panjang tapi amat membantu dalam menambah pengetahuan... :top:

    jadi pada prinsipnya konsolidasi ada hubungannya dengan rencana tata ruang dan master plan tata kota kedepan.. bukankah begitu?

    kalau begitu salah satu kerugian dari konsolidasi bisa jadi ada kaitannya dengan harga / nilai tanah yang berhubungan dengan lokasi/posisi tanah tersebut terhadap jalan... benarkah begitu?
    denger denger nih... setelah konsolidasi katanya ada kapling tanah yang pemiliknya bukan dari orang orang yang terkena konsolidasi...benarkah itu?


    [size=small]
    yap ndan.. konsolidasi itu RTRW Kota ke depan..
    tapi RTRW itupun bisa dilaksanakan tanpa konsolidasi sebenarnya.. diganti dgn cara paling aman.. pembebasan tanah alias diganti rugi..
    tapi pemerintah khan selalu beralasan "kurang anggaran" :blah:

    soal kerugian,
    sebenarnya itu malah salah satu keuntungan konsolidasi ndan..
    ketika tanah itu dulunya hutan rimba, dan di konsolidasi serta dibangun jalan disana.. otomatis harga tanahnya jadi naik..
    tapi yg paling beruntung, org yang tanahnya terkonsolidasi di pinggir jalan..

    Kerugian Konsolidasi terbesar adalah tidak selesai2nya masalah perebutan siapa menempati tanah siapa.. meski faktanya tanahnya sudah tertata rapi dan sertifikatnya sudah terbit..

    jawaban pertanyaan spoiler :
    saya belum pernah ketemu dan dengar yg kayak gituan ndan..
    yg udah diatur bagus2nya masih banyak yg nuntut.apalagi yg di "main2" in..
    tapi, apakah bisa terjadi spt itu..??
    saya jawab.. BISA..
    kalo aparatnya punya mental kayak Gayus.. , ketika ada salah satu bagian tanah yang tidak jelas pemiliknya, dia bisa mengkonsolidasikan ke tanah org lain, dan diakuinya sbg tanah si A (yg ternyata sodaranya), walhasil tanah org lain itu udah jd milik Si A ..
    gak ngajarin lho, ndan..
    buat jaga2 aja.. :D
    [/size]
  • makasih oom atas jawabannya .. buat sementara itu dulu... :top: dah
  • Sebelumnya saya mohon maaf atas keterbatasan saya soal masalah ini, entah tepat saya tanyakan disini atau tidak.. mohon maklum ndan..
    Langsung aja ya ndan...

    Saya itu heran banget sama tetangga depan rumah saya gan.. jd gini nih.. tanah rumah saya itu kan kebetulan jalan masuk menuju rumah itu tidak dibangun pas depan rumah, jd posisi jln masuknya ada disamping. dan setelah itu tetangga depan rumah saya itu tanpa permisi memasang tiang jemuran pakaian di depan rumah saya, posisi pemasangan tiangnya itu terletak di depan rumah saya..
    yg jadi pertanyaan buat saya adalah :

    1. Apakah selokan di depan rumah saya jg masih dlm hak tanah saya?! tolong kalau memang saya masih ada hak ataupun tidak ada hak (alias masuk menjadi tanah milik umum, tolong dijelasin pasal-pasalnya ya gan..?!)

    2. Apakah saya berhak mencabut tiang jemuran tsb?! karena yg jd soal, tiap keluarga saya ikut menjemur pakaian di jemuran tsb selalu jd masalah buat tetangga depan rumah saya itu,padahal keluarga saya dulunya jg ikut iuran buat beli kawat untuk njemurin pakaian. bahkan udah kepikiran mau ane selesain pake cara preman aja nih sebel soale ndan.. rencananya mo langsung ane cabutin aja ntuh tiang jemuran.. kalo gak gitu selokan itu mo ane bangunin jalan masuk kerumah aja. biar tiang jemuran itu bisa hilang dari depan rumah saya. tp ahirnya ada sedikit bisikan hati untuk mencoba bertanya-tanya dulu disini agar bs mendapatken pencerahan. dan tidak bertindak bodoh..

    Saya rasa itu dulu ndan, kalau ada pertanyaan lain akan saya tanyaken lagi..
    please ndan, saya mah orang desa.. kasih pencerahan ndan.. :(
  • Permisi, saya juga numpang nanya donk...

    Begini, kalau kita mau nyari sebuah berkas arsip apakah tentang sebuah akta jual beli, sebuah sertifikat tanah, ataupun yang lainnya... Tapi sang notaris yang tertera di surat sudah meninggal, kemanakah kita mencari informasi arsip tersebut? Terima kasih sebelumnya...
  • Pertama, kita harus tahu dulu tanggal dan nomor serta nama notaris yang membuat akta tersebut. Setelah mengetahui tanggal dan nomor akta pendirian dimaksud, langkah berikutnya adalah mengetahui siapa notaris pemegang protokol, yang mengambil alih semua arsip dari notaris yang sudah pensiun tersebut. Untuk mengetahui siapa pemegang protokol dari notaris yang sudah pensiun tersebut, bisa ditanyakan kepada Majelis Pengawas Daerah (MPD) Notaris sesuai dengan wilayah kerja notaris yang bersangkutan. Misalnya, notaris yang sudah pensiun tersebut wilayah kerjanya di Jakarta Selatan, maka yang dicari adalah alamat MPD notaris Jakarta Selatan.

    Atau jika sulit mencari tahu alamat MPD setempat, bisa menghubungi sekeretariat Ikatan Notaris Indonesia di alamat berikut:

    Kompleks Roxy Mas Blok E-1/32

    Jl. KH. Hasyim Ashari

    Jakarta Pusat (10150)

    Tlp. (021) 6386 1919, 6385 1329, 630 1322

    Fax. (021) 6386 12 33

    Setelah tahu nama notaris pemegang protokolnya dari notaris pembuat akta Anda, maka bisa mengajukan permohonan secara tertulis kepada notaris yang bersangkutan untuk menerbitkan salinan kedua atas akta tersebut.

    semoga membantu ndan
  • Permisi..numpang nanya yah.. :D
    saya lg ada masalah nih, tgl 22 Juni 2013 kmarin rumah saya kebakaran, suratnya masih girik, dan itu jg kebakar..
    di surat girik itu atas nama bapak saya yg udah ampir setaun gak pulang2 krumah n gak ada yg tau dia tinggal dimana..
    nah saya mau urus surat2 itu gmn ya? apa harus dibangun dulu br bisa urus surat2nya?
    saya nanya sm rt katanya ikut program nasional aja.. biayanya 4,5jt, apa benar program itu biayanya sgitu besar? lalu saya tanya sama org kelurahan yg jg tetangga saya, katanya kalau urus sendiri dikelurahan biayanya sampai 15jt.. saya jd ragu.. bingung juga mau bertanya sm siapa.. saya coba browsing ktemu thread ini, mudah2an bisa menjawab pertanyaan saya ditengah keraguan ini.. trima kasih ya..
  • permisi,ini sy mau nanya,tentang lahan saya,didalam hgu perusahaan"A",trus lahan tersebut dibebaskan(ganti rugi)oleh koperasi setempat,untuk pembuatan plasma pada perusahaan "B",yang saya tanyakan apa kebijakan koperasi tersebut,melanggar hukum.catatan=perusahaan"A"selama ini kurang serius tentang pembebasan lahan kami.trims,
  • salam kenal Gan... :)
    ini saya mau tanya,, ada tnah dan bangunan couple skitar L20m P15m luas ksluruhan dikuasakan memlui notarais pd thun 1988 kpda kluarga sya, tpi yg bngunan yg sbelah dijarah atau dikandang (di pagar seng) sm ttngga sbelah dngan mngandalkan preman dan anaknya yg tentara pd saat kluarga saya tidak ad drumah, PBB slma ini klrga sya yg bayar n msih atas nma si pemberi kuasa smpai skrg. dulu pertinggal yg di beri si pemberi kuasa hanya surat kuasa asli mllui ntaris,foto copy pendaftaran ke agraria(bukan sertifikat) dan asal sejarah tanah tsb.
    Yg mau sy tanya bisa ga kluarga saya mmbuat surat sertifikat rmh tsb n harga mngrusnya kena brapaan (krna yg punya tanah tidak tau rimbanya smpi skrng) krna kluarga saya ingin mmprthankan haknya NB:si penerima kuasa msih hidup. dan bisa ga kami mngmbil tindakan hukum atas pagar seng yg dbuat si tetangga itu. atau kami harus bgmana?? Trims banyak[/align].. please
  • bees menulis:
    salam kenal ndan... :)
    ini saya mau tanya,, ada tnah dan bangunan couple skitar L20m P15m luas ksluruhan dikuasakan memlui notarais pd thun 1988 kpda kluarga sya, tpi yg bngunan yg sbelah dijarah atau dikandang (di pagar seng) sm ttngga sbelah dngan mngandalkan preman dan anaknya yg tentara pd saat kluarga saya tidak ad drumah, PBB slma ini klrga sya yg bayar n msih atas nma si pemberi kuasa smpai skrg. dulu pertinggal yg di beri si pemberi kuasa hanya surat kuasa asli mllui ntaris,foto copy pendaftaran ke agraria(bukan sertifikat) dan asal sejarah tanah tsb.
    Yg mau sy tanya bisa ga kluarga saya mmbuat surat sertifikat rmh tsb n harga mngrusnya kena brapaan (krna yg punya tanah tidak tau rimbanya smpi skrng) krna kluarga saya ingin mmprthankan haknya NB:si penerima kuasa msih hidup. dan bisa ga kami mngmbil tindakan hukum atas pagar seng yg dbuat si tetangga itu. atau kami harus bgmana?? Trims banyak[/align].. please

    coba jelasin lebih simple lagii..????dimulai darimana ndan/keluarga ndan menguasai tanah tersebut....??ditunggu
  • permisi masbro...
    sangatlah kasian buat warga negara yg merasa tertindas tentang perebutan hak atas tanah, terutama pelaku utamanya aparatur negara..
    ane mau coba dikit pembicaraan niy.. kali aja bisa dibantu..
    ane ada urusan mengenai lahan yang sebagian besarnya dikuasai aparatur negara, mereka mengklaim lahan tersebut berdasarkan Sertifikat Hak Guna Pakai no.xxx th.xxx sehingga pada saat di cek di bpn lucunya ada dua surat dengan lahan yang sama, satu surat masih atas nama warga asli dan satu surat sudah atas nama aparatur negara, sudah cek dan konfirmasi ternyata pada saat pembuatan surat untuk apartur negara tersebut dipaksa dibawah todongan senjata... sayangnya oknum bpn tersebut ga berani mengungkap nya.. mati urusannya..
    pembuatan surat oleh oknum bpn tersebut ga punya alas hak, sedangkan ahli waris pemilik belum pernah menyewakan atau bahkan memperjual-belikan lahan tersebut..
    inti permasalahannya si aparatur negara ga akan hengkang begitu saja dari lahan yang diakui dan dikuasai..
    jujur, kalo ane punya senapan satu biji aja berani deh nantang terbuka sama aparatur negara...
    contoh kasus ada kemiripan dengan lahan sumardjo kelapa gading...
    kalau memang masbro yang katanya awam tapi bisa bantu, coba reply disini dan by email ke bamefajaya@gmail.com
    ditunggu segera masbro...
    tx
  • Maaf mau tanya. kedua orang tua saya sudah meninggal, surat tanah di cari di mana-mana nggak ada baik yang asli maupun photo copynya. cara buat surat tanah yang baru bagaimana. orang yang menjualnya masih ada/hidup. apakah bisa buat surat jual beli lagi atau bagaimana,kalo nggak salah membelinya waktu tahun 1979 nan. mohon jawabanya
  • masbob menulis:
    permisi masbro...
    sangatlah kasian buat warga negara yg merasa tertindas tentang perebutan hak atas tanah, terutama pelaku utamanya aparatur negara..
    ane mau coba dikit pembicaraan niy.. kali aja bisa dibantu..
    ane ada urusan mengenai lahan yang sebagian besarnya dikuasai aparatur negara, mereka mengklaim lahan tersebut berdasarkan Sertifikat Hak Guna Pakai no.xxx th.xxx sehingga pada saat di cek di bpn lucunya ada dua surat dengan lahan yang sama, satu surat masih atas nama warga asli dan satu surat sudah atas nama aparatur negara, sudah cek dan konfirmasi ternyata pada saat pembuatan surat untuk apartur negara tersebut dipaksa dibawah todongan senjata... sayangnya oknum bpn tersebut ga berani mengungkap nya.. mati urusannya..
    pembuatan surat oleh oknum bpn tersebut ga punya alas hak, sedangkan ahli waris pemilik belum pernah menyewakan atau bahkan memperjual-belikan lahan tersebut..
    inti permasalahannya si aparatur negara ga akan hengkang begitu saja dari lahan yang diakui dan dikuasai..
    jujur, kalo ane punya senapan satu biji aja berani deh nantang terbuka sama aparatur negara...
    contoh kasus ada kemiripan dengan lahan sumardjo kelapa gading...
    kalau memang masbro yang katanya awam tapi bisa bantu, coba reply disini dan by email ke bamefajaya@gmail.com
    ditunggu segera masbro...
    tx
    coba dicek dulu siapa duluan yang membuat/mendaftarkan tanahnya ke BPN, apakah warga atau aparat tsb???
  • Sandico79 menulis:
    Maaf mau tanya. kedua orang tua saya sudah meninggal, surat tanah di cari di mana-mana nggak ada baik yang asli maupun photo copynya. cara buat surat tanah yang baru bagaimana. orang yang menjualnya masih ada/hidup. apakah bisa buat surat jual beli lagi atau bagaimana,kalo nggak salah membelinya waktu tahun 1979 nan. mohon jawabanya

    surat tanah yang"hilang" tersebut berbentuk Sertifikat Hak Milik yang dikeluarkan oleh PPAT/Notaris atau BPN atau Surat Keterangan yang dibuat oleh Kepala Desa atau Camat???kalau dibuat dihadapan pejabat yang berwenang seperti BPN, PPAT/Notaris pasti ada arsipnya dikantor tersebut, kalau di Kepala Desa pasti ada dalam buku Girik atau Letter C...coba dicek dulu
Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Halo, Komandan!

Sepertinya anda baru di sini. Ingin ber-interaksi? Klik satu tombol ini!

Kategori