Contact Us

Tokoh Indonesia yang “Diabadikan” di Belanda

[size=x-large]4 Tokoh Indonesia yang Namanya di Abadikan Sebagai Nama Jalan di Belanda[/size]

[size=medium]Tak hanya di Indonesia sosok seorang pejuang akan melekat dan mendapat penghargaan di negeri orang, perjuangan yang membuat sesorang menjadi dikenang, sebaagai contohnya sangat banyak nama tokoh pejuang indonesia yang namanya diabadikan menjadi nama jalan, gedung, jembatan, bandara dsb. beberapa di antaranya bahkan dikenal sebagai sosok pejuang bagi bangsa lain, contohnya di belanda, kini telah terdaftar 4 tokoh pejuang indonesia yang namanya dijadikan nama jalan di belanda seperti 4 daftar kita berikut ini.[/size]

[size=large]Munir, Pejuang hak asasi manusia[/size]

1.jpg
2.jpg

[size=large]Sutan Syahrir, Pejuang Kemerdekaan dan Perdana Menteri Indonesia Pertama[/size]

7.jpg
8.gif

[size=large]R.A. Kartini, Pejuang persamaan hak dan emansipasi wanita[/size]

3.jpg
4.jpg

[size=large]Mohammad Hatta, Pejuang Kemerdekaan dan Wakil Presiden Pertama Indonesia[/size]

5.jpg
6.jpg

[size=medium]Jangan tanya admin mengapa pemerintah Belanda malah memberikan kehormatan dengan memberikan nama jalan di Kerajaan mereka yang notabennya mereka adalah para pemberontak saat pemerintahaan "Dutch East Indies", bukan tidak tau, tapi saya lebih baik diam dari pada banyak bicara masalah ini. yang penting kita bisa merasa bangga oleh mereka.[/size]

Sumber

Komentar

  • Kasihan si Munir.
    Di tinggikan di negeri orang, diinjek-injek di negeri sendiri :(
  • Salut kepada Belanda yang dengan segala kerendahan hati mau menghormati dan mengabadikan musuh-musuhnya. Menyedihkan buat bangsa ini yang tidak bisa menghargai para pahlawannya, terutama bagi para pahlawan yang kurang "sreg" dengan pemerintah.

    Munir mungkin harus puluhan tahun lagi untuk menjadi "pahlawan" meskipun beliau tetap pahlawan sejati tanpa harus diberi embel-embel "pahlawan". Sutan Sjahrir adalah salah satu orang paling berjasa dalam proses kemerdekaan, tapi peran beliau terlalu dikecilkan oleh orde baru yang lebih menonjolkan bahwa "pahlawan itu harus memegang senjata". Padahal pertempuran kita tidak akan pernah memenangi peperangan kalo tidak diiringi dengan diplomasi. Dan anehnya "orde reformasi" juga belum banyak merevisi sejarahnya.

    Dengarkanlah omongan orang vietnam utara kepada amerika "Anda bisa saja memenangi setiap pertempuran tapi anda tidak bisa memenangi peperangan ini". Perang itu bukan hanya mengacungkan senjata.
  • munir belum pantas disebut pahlawan,,,,kontribusinya terhadap negara ini belum ada kok,,,,,
  • chemong menulis:
    munir belum pantas disebut pahlawan,,,,kontribusinya terhadap negara ini belum ada kok,,,,,

    bagaimana membuat kontribusi yang besar sedang dia dibunuh duluan? :blah:
    Dan kontribusi yang bagaimana supaya pantas dipanggil pahlawan?

    Betul dia belum bisa berbuat banyak karena diusianya yang muda hidupnya sudah diambil paksa oleh tirani. Munir bagi saya adalah setitik cahaya diujung lorong kegelapan, dialah salah satu orang yang berani berkata tidak ketika kita dilanda ketakutan.

    Ada yang masih ingat dengan Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie? Usia mereka baru 20an, apa yang mereka sudah perbuat untuk negeri ini? Merekalah yang membuat kita duduk santai di belakang meja sambil mengkritik habis kebijakan pemerintah tanpa takut besok akan "diambil" aparat
  • chemong menulis:
    munir belum pantas disebut pahlawan,,,,kontribusinya terhadap negara ini belum ada kok,,,,,

    Yg ngatain pahlawan siapa? :d
  • aneh!!

    Sukarno kenapa tidak ada? :think:
  • Permisi ndan.. Mohon maaf sebelumnya. Ini hanya opini saya saja

    Sosok Kartini sebagai ikon pejuang wanita Indonesia dinilai ”berbau” campur tangan kolonialis. Tujuannya adalah membentuk imej, bahwa perempuan berpemikiran Baratlah yang cocok dijadikan panutan. Apalagi, alam pemikiran Kartini pun banyak dipengaruhi oleh Theosofi, sebuah perkumpulan kebatinan Yahudi yang pada masa lalu sangat kuat pengaruhnya di Nusantara.

    Perlu diketahui, bahwa gagasan-gagasan Kartini ternyata sangat dipengaruhi oleh orang-orang sosialis-feminis, seperti Estella Zeehandelaar.

    Saat itu, Belanda mempunyai kepentingan untuk merekrut dan mendidik anak-anak priyai Jawa. Banyak dari anak-anak pribumi yang dididik dan diberi beasiswa untuk studi ke negeri Belanda pada masa itu. Diantara lembaga beasiswa yang aktif menjaring anak-anak pribumi untuk disekolah ke negeri Belanda adalah ”Dienaren van Indie”, sebuah lembaga beasiswa (studie fonds) yang didirikan oleh kelompok Vrijmetselaarij (Freemason) di Hindia Belanda. Dienaren van Indie sendiri artinya adalah Abdi Hindia, sehingga diharapkan mereka yang memperoleh beasiswa dan dididik dengan pendidikan ala Barat, bisa menjadi abdi kolonial atau setidaknya partner setia kolonialis.
  • Malakia menulis:
    Permisi ndan.. Mohon maaf sebelumnya. Ini hanya opini saya saja

    Sosok Kartini sebagai ikon pejuang wanita Indonesia dinilai ”berbau” campur tangan kolonialis. Tujuannya adalah membentuk imej, bahwa perempuan berpemikiran Baratlah yang cocok dijadikan panutan. Apalagi, alam pemikiran Kartini pun banyak dipengaruhi oleh Theosofi, sebuah perkumpulan kebatinan Yahudi yang pada masa lalu sangat kuat pengaruhnya di Nusantara.

    Perlu diketahui, bahwa gagasan-gagasan Kartini ternyata sangat dipengaruhi oleh orang-orang sosialis-feminis, seperti Estella Zeehandelaar.

    Saat itu, Belanda mempunyai kepentingan untuk merekrut dan mendidik anak-anak priyai Jawa. Banyak dari anak-anak pribumi yang dididik dan diberi beasiswa untuk studi ke negeri Belanda pada masa itu. Diantara lembaga beasiswa yang aktif menjaring anak-anak pribumi untuk disekolah ke negeri Belanda adalah ”Dienaren van Indie”, sebuah lembaga beasiswa (studie fonds) yang didirikan oleh kelompok Vrijmetselaarij (Freemason) di Hindia Belanda. Dienaren van Indie sendiri artinya adalah Abdi Hindia, sehingga diharapkan mereka yang memperoleh beasiswa dan dididik dengan pendidikan ala Barat, bisa menjadi abdi kolonial atau setidaknya partner setia kolonialis.

    Memang banyak juga yang mempertanyakan tentang "perjuangan" RA. Kartini, karena "perjuangan" beliau masih berbentuk wacana belum pada "tindakan" karena masih pada taraf surat menyurat. Kata pejuang emansipasi sendiri menurut saya merupakan sebuah ironi berhubung beliau menjadi istri ke empat dari bupati rembang.

    Nama beliau mulai harum setelah meninggal dan di blow up oleh J.H. Abendanon yang merupakan menteri kebudayaan Hindia Belanda, Sekolah Wanita yang didirikan oleh yayasan kartini pun merupakan buah hasil dari Conrad Theodore van Deventer.

    Berbeda dengan Dewi Sartika yang sudah mendirikan sekolah (sakola istri) diusia remaja (18 tahun) dibelakang rumah ibunya.

    Koreksi juga kalo saya salah :)
  • solobug menulis:

    Memang banyak juga yang mempertanyakan tentang "perjuangan" RA. Kartini, karena "perjuangan" beliau masih berbentuk wacana belum pada "tindakan" karena masih pada taraf surat menyurat. Kata pejuang emansipasi sendiri menurut saya merupakan sebuah ironi berhubung beliau menjadi istri ke empat dari bupati rembang.

    Nama beliau mulai harum setelah meninggal dan di blow up oleh J.H. Abendanon yang merupakan menteri kebudayaan Hindia Belanda, Sekolah Wanita yang didirikan oleh yayasan kartini pun merupakan buah hasil dari Conrad Theodore van Deventer.

    Berbeda dengan Dewi Sartika yang sudah mendirikan sekolah (sakola istri) diusia remaja (18 tahun) dibelakang rumah ibunya.

    [size=x-large]Koreksi juga kalo saya salah :)[/size]

    Gak ada yg salah ndan.. Completely :agreed: nDan :top:

  • menarik pembicaraan diatas... :think:

    anyway, semua yang dijadikan nama jalan ada erat hubungannya dengan belanda sendiri...

    jadi saya pikir, nothing spesial...

    lain hal kalau nama douwes dekker (saya lupa penulisan namanya), atau mungkin bung karno yang dijadikan nama jalan, itu baru saya salut...

    perhatikan semua sejarah mereka dan negara belanda, maka saya yakin anda dapat mengambil kesimpulan kenapa belanda menghargai mereka (bukan kenapa mereka menghargai pahlawan Indonesia)....
    :)





    :cool:
  • thopomore menulis:
    menarik pembicaraan diatas... :think:

    anyway, semua yang dijadikan nama jalan ada erat hubungannya dengan belanda sendiri...

    jadi saya pikir, nothing spesial...

    lain hal kalau nama douwes dekker (saya lupa penulisan namanya), atau mungkin bung karno yang dijadikan nama jalan, itu baru saya salut...

    perhatikan semua sejarah mereka dan negara belanda, maka saya yakin anda dapat mengambil kesimpulan kenapa belanda menghargai mereka (bukan kenapa mereka menghargai pahlawan Indonesia)....
    :)




    :cool:

    Betul, semua memang berhubungan dengan belanda. Yang jelas ada dua kelompok :

    Kelompok 1 : Tidak dalam konteks permusuhan, yang satu menulis surat untuk curhat dan yang satu lagi baru mau menuntut ilmu dan kebetulan tewas disana.
    Kelompok 2 : "Anak-anak durhaka" yang menimba ilmu di negeri mereka tapi ilmunya dipergunakan untuk melawan mereka.

    Kekaguman saya adalah kerendahan hati mereka untuk mengabadikan "orang luar" bahkan terhadap "para anak-anak durhaka" sekalipun. :)


  • solobug menulis:

    Betul, semua memang berhubungan dengan belanda. Yang jelas ada dua kelompok :

    Kelompok 1 : Tidak dalam konteks permusuhan, yang satu menulis surat untuk curhat dan yang satu lagi baru mau menuntut ilmu dan kebetulan tewas disana.
    Kelompok 2 : "Anak-anak durhaka" yang menimba ilmu di negeri mereka tapi ilmunya dipergunakan untuk melawan mereka.

    Kekaguman saya adalah kerendahan hati mereka untuk mengabadikan "orang luar" bahkan terhadap "para anak-anak durhaka" sekalipun. :)



    sepertinya pengelompokan anda masih salah om... :D

    kalau diingat2 lagi, bahwasanya "anak2 durhaka" ini sebenarnya masih "dibawah ketek" belanda pada masanya...

    itu makanya saya memberi contoh Bung karno dan Douwess Dekker sebagai perbandingannya....
    :D


    :Cool:
  • Pada dasarnya Londo mau cuci tangan & supaya tidak di obok-2 oleh kita- kita, dan supaya ada kesan menghormati, tapi padahal Londo juga yang mnghancurkan para Pahlawan kita, kecuali Munir.

    Kalau mau mnghormati ya minta maaf atas kelalaiannya terhadap Bangsa Indonesia selama 3,5 Abad.
  • thopomore menulis:

    sepertinya pengelompokan anda masih salah om... :D

    kalau diingat2 lagi, bahwasanya "anak2 durhaka" ini sebenarnya masih "dibawah ketek" belanda pada masanya...

    itu makanya saya memberi contoh Bung karno dan Douwess Dekker sebagai perbandingannya....
    :D


    :Cool:

    Betul, bung Hatta bahkan tinggal disana sampai 11 tahun. tapi kalo melihat tindakan disanapun beliau tetaplah seorang nasionalis.

    Ada perbedaan antara karakter bung Karno dan Bung Hatta. Bung Karno Lebih terbuka dan berani, dan jalan yang beliau tempuh adalah jalan konfrontatif. Bung Hatta sangat pemalu dan cenderung berada dibelakang layar. Bung Karno itu seorang supir dengan segala orasi dan visi-visinya, sedang bung Hatta adalah mekanik (administratur) yang bersama "supir" mengantarkan mobil Indonesia ke garis finish kemerdekaan. Tidak semua orang harus mengambil peran yang sama dalam perjalanan kemerdekaan kita.

    Masih salah lagi gak? :blah:




    sebentar saya pinjam kaca mata dulu
    .
    .
    .
    .
    .
    :cool:


  • [size=large][size=x-large]5 Tokoh Indonesia yang “Diabadikan” di Belanda[/size]

    Nun jauh dei Barat sana, sederet nama tokoh, pahlawan dan pejuang tanah air Indonesia, turut pula diabadikan namanya oleh bekas negeri penjajah, Belanda. Kesemua tokoh tersebut, dipandang pemerintah Belanda, memiliki andil yang besar dalam perjuangan Indonesia dan berkontribusi besar pula terhadap negeri Belanda. Tak heran, pengaruh tokoh Indonesia di bawah ini, diapresiasi dan dihargai dengan menjadikan nama tokoh ini menjadi nama-nama jalan di Belanda.

    1. Mohammad Hattastraat
    Dr.(H.C.) Drs. H. Mohammad Hatta adalah pejuang, negarawan, dan juga Wakil Presiden Indonesia yang pertama. Ia mundur dari jabatan wakil presiden pada tahun 1956, karena berselisih dengan Presiden Soekarno.
    Untitled-1116.jpg
    Mohammad Hattastraat

    Selain di kenang di Indonesia, nama Mohammad Hatta juga turut diabadikan menjadi nama sebuah ruas jalan di kawasan Haarlem (Mohammed Hattastraat), Belanda. Nama Mohammed Hattastraat terpampang di papan nama jalan di kawasan perumahan Zuiderpolder yang dibangun pada tahun 1987. Pemberian nama ini ditetapkan oleh pejabat Walikota R.H Claudius dengan alasan bahwa Hatta merupakan tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia yang pernah menimba ilmu di Belanda serta merupakan aktivis Indonesia.

    2. R.A Kartinistraat
    Raden Adjeng Kartini atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Karenanya Raden Ajeng Kartini dikenal sebagai pejuang hak perempuan baik di Indonesia maupun di negeri Belanda. Masyarakat di Belanda umumnya mengenal Kartini sebagai wanita pejuang hak perempuan yang berasal dari Jawa. Tak heran jika nama R.A Kartinistraat dapat ditemukan di kota Utrech yang terletak dikawasan hunian yang ditinggali oleh kalangan menengah. Selain di kota Utrech, nama Kartini juga terdapat dibeberapa kota lainnya seperti; di kota Venlo, Amsterdam dan Haarlem.

    Untitled-1117.jpg
    R.A Kartinistraat

    3. Sjahrirstraat
    Sutan Syahrir adalah seorang politikus dan perdana menteri pertama Indonesia. Ia menjabat sebagai Perdana Menteri Indonesia dari 14 November 1945 hingga 20 Juni 1947. Syahrir mendirikan Partai Sosialis Indonesia pada tahun 1948. Ia meninggal dalam pengasingan sebagai tawanan politik dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.
    Sebelum menjadi Perdana Menteri Indonesia, dulu ia pernah menimba ilmu di Fakultas Hukum Universitas Amsterdam dan kemudian pindah kuliah ke Leiden School Of Indology. Pergaulan Sjahrir saat itu sangat luas terutama di kalangan cendikiawan dan aktivis politik Leiden. Hal ini, mencuatkan nama Syahrir hingga namanya ikut diabadikan sebagai nama jalan di Kota Leiden (Sjahrirstraat), tempat dimana dirinya menimba ilmu di Belanda.

    Untitled-1118.jpg
    Sjahrirstraat

    4. Irawan Soejonostraat
    Irawan Soejono adalah seorang mahasiswa Indonesia yang diakui oleh Belanda sebagai pahlawan negara tersebut karena perjuangannya melawan Jerman Nazi di bawah Hitler. Untuk mengenang jasa-jasanya, namanya diabadikan sebagai nama salah satu ruas jalan di kota Amsterdam (Irawan Soejonostraat).
    Pada masa Perang Dunia II, Irwan Soejono adalah anggota Perhimpunan Indonesia di Belanda. Ayahnya adalah Adipati Ario Soejono, orang Indonesia pertama yang menjabat sebagai menteri dalam Kabinet Belanda. Irawan Soejono gugur ditembak sebagai pejuang perlawanan bawah tanah Belanda melawan Jerman. Di kalangan pejuang-pejuang perlawanan Belanda Irawan dikenal dengan nama Henk van de Bevrijding. Ia ditugasi menangani alat-alat percetakan bawah tanah dan radio untuk menangkap siaran-siaran Sekutu. Selain itu, ia juga menjadi anggota kelompok bersenjata perjuangan perlawanan Indonesia.

    8ba9ljw0.jpg
    Irawan Soejonostraat

    Irawan Soejono gugur di Leiden pada bulan Januari 1945. Saat itu ia sedang mengangkut sebuah mesin stensil yang digunakan untuk penerbitan perlawanan di bawah tanah. Hal ini diketahui oleh pihak tentara Jerman yang kemudian berusaha menangkapnya. Irawan berusaha meloloskan diri, namun ia ditembak hingga tewas. Setelah gugurnya Irawan Soejono, kelompok bersenjata di bawah tanah Indonesia ini diberi nama Grup Irawan Soejono.

    5. Munirstraat
    Nama lengkapnya Munir Said Thalib. Namun banyak orang mengenalnya dengan nama Munir. Dia adalah pria keturunan Arab yang juga seorang aktivis HAM Indonesia. Jabatan terakhirnya adalah Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsial.
    Saat menjabat Dewan Kontras namanya melambung sebagai seorang pejuang bagi orang-orang hilang yang diculik pada masa itu. Ketika itu dia membela para aktivis yang menjadi korban penculikan Tim Mawar dari Kopassus. Setelah Soeharto jatuh, penculikan itu menjadi alasan pencopotan Danjen Kopassus Prabowo Subianto dan diadilinya para anggota tim Mawar.

    Untitled-1119.jpg
    Munirstraat

    Munir diketahui meninggal di dalam pesawat sewaktu beliau melakukan perjalanan dari Indonesia menuju Belanda. Dokter Belanda menemukan racun arsenik dalam tubuh pria yang gencar membongkar kasus penculikan aktivis 1997-1998 itu. Jenazah Munir dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Kota Batu, Malang. Tak lama lagi, nama Pejuang Hak Azasi Manusia ini rencananya akan diabadikan menjadi nama salah satu jalan oleh pemerintah Belanda atas kiprahnya memperjuangkan HAM di Indonesia. Munirstraat akan berada di kota Den Haag, Belanda.(*sumber*)[/size]
  • yang terakhir ini nih,,,,apa gak malu yah Pemerintah Indonesia?....sementara Negara lain menghormatinya, sementara kita untuk mencari siapa pembunuhnya saja masih ogah :D
  • [align=center]Diskusinya menarik sekali, tetapi setidkanya kita bangga bahwa ada negara orang di eropa sono yang maish mau menghormati perjuangan musuhnya, beda dengan Negeri Sendiri yang masih berkutat dengan kekuasaan melulu. Kapan memikirkan pahlawan tempo dulu?
    "NGENE KOK INDONESIA KON MAJU "[/align]
    [align=center]:nono:[/align]
  • viotatsuya menulis:
    [align=center]Diskusinya menarik sekali, tetapi setidkanya kita bangga bahwa ada negara orang di eropa sono yang maish mau menghormati perjuangan musuhnya, beda dengan Negeri Sendiri yang masih berkutat dengan kekuasaan melulu. Kapan memikirkan pahlawan tempo dulu?
    "NGENE KOK INDONESIA KON MAJU "[/align]
    [align=center]:nono:[/align]

    tapi apapun itu kita harus punya rasa bangga dan memiliki bangsa ini, dengan itu semua harapan akan tetap ada :)
Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Iklan & Promosi Anda


Order ads here. Click me to get price quotation! Monthly & Unlimited click!

Halo, Komandan!

Sepertinya anda baru di sini. Ingin ber-interaksi? Klik satu tombol ini!

Kategori