Semakin Miskin Setelah Haji

SETELAH TANAH HABIS DIJUAL
KOMPAS
Jumat, 15 Februari 2008
Oleh: Ahmad Arif dan Khaerul Anwar

Fathur Rahman (54) bergegas mengejar sepasang turis asing yang tengah menikmati keindahan pantai di kawasan Senggigi, Batu Layar, Lombok Barat. Ia menawarkan untaian cenderamata berbahan ”mutiara”. Namun, gerakan tangan mengusir dari sepasang turis itu membuat Fathur mundur.
"Biasa kalau ditolak turis. Bisa satu minggu tak satu pun laku dijual. Bahkan, pernah sampai satu bulan tak ada yang terjual,” katanya. Ia duduk di pasir melihat laut. Tangannya mencopot peci putih dan menyimpannya hati-hati di dalam tas kecil. Peci yang sudah berumur itu bukan barang sembarangan bagi Fathur. ”Saya beli di Tanah Suci Mekkah,” ujarnya.
Bagi masyarakat Sasak di Lombok, haji merupakan kebanggaan tertinggi. ”Di sini setiap orang yang memiliki cukup uang pasti naik haji,” kata Junaidi (40), Kepala Desa Senggigi.

Fathur memang pernah memiliki uang yang cukup. Pada tahun 1995, seiring gelombang pariwisata di Lombok yang mulai menggeliat, para investor—yang sebagian besar di antaranya warga negara asing—terobsesi untuk memborong tanah di Senggigi. “Kami jual tanah warisan 30 are (satu are setara 100 meter). Waktu itu masih murah, hanya Rp 3 juta per are,” kata Fathur.
Setelah dibagi dengan lima saudaranya yang lain, Fathur memperoleh Rp 20 juta. Tanpa pikir panjang, uang itu digunakan Fathur untuk naik haji bersama istrinya. ”Waktu itu ongkos naik haji masih Rp 7 juta per orang,” kata Fathur.
Sisa uang yang ada ia gunakan untuk memperbaiki rumah dan modal berdagang asongan. Jadilah kini, Haji Fathur Rahman sehari-hari menjadi pengasong di bekas tanahnya sendiri.

Paradoks Wisata

Waktu itu, sebelum tahun 1990-an, sebagian besar Senggigi masih berupa pantai yang dikelilingi semak belukar dan kebun kelapa. Warga tidak pernah mengira tanah mereka yang ditanami pohon kelapa dan ubi adalah mimpi bagi para pelancong dari belahan dunia lain. Ketika para pendatang membawa segepok uang, warga yang bertahun dililit kemiskinan itu dengan rela menjual tanahnya dengan harga murah.

”Warga yang dulunya petani tidak pernah tahu bagaimana menggunakan uang untuk kegiatan yang produktif. Paling banyak digunakan untuk pergi naik haji,” tambah Junaidi.
Selain untuk pergi ke Tanah Suci Mekkah, sebagian warga menggunakan uang itu untuk kawin lagi, seperti dilakukan Haji Maskur (45). Dengan menjual tanahnya seluas 1 hektar, pada tahun 1990-an, Maskur memiliki cukup uang untuk naik haji dan menikah lagi. ”Sekarang tanah sudah habis semua, sudah jadi hotel,” kata Maskur, yang menjadi anggota langlang, satuan pengamanan pantai yang dibentuk oleh desa.

Gajinya Rp 400.000 per bulan habis untuk membiayai delapan anaknya. ”Sekarang kondisi memang jadi lebih susah. Kami bingung, apa yang nanti bisa diwariskan,” tambah Maskur.
Setelah tanah habis dijual, mencari kerja ternyata bukan hal yang mudah. Kualitas sumber daya manusia dan pendidikan yang rendah menjadi alasan pemilik usaha menolak warga setempat. ”Saya sudah tiga tahun ini melamar pekerjaan sebagai satpam di hotel, tapi belum ada satu pun yang mau menerima. Padahal, saat kerusuhan dulu, saya menjadi komandan keamanan warga di sini untuk mengamankan hotel-hotel dan restoran yang dimiliki pendatang itu,” kata Haji Nasir (36), salah satu pengasong di sana.

Menurut Junaidi, dari 6.000 warga desanya, 40 persen di antaranya sudah naik haji. ”Kebanyakan mereka haji dengan menjual tanah,” katanya.
Akan tetapi, kini, dari sekitar 2.400 haji itu, 30 persen tergolong kelas menengah ke bawah. ”Bahkan, banyak yang kemudian kami masukkan sebagai warga miskin yang berhak mendapat raskin atau bantuan lainnya. Tapi, agar dapat bantuan, gelar ’H’-nya kami taruh di belakang nama mereka. Karena susah meyakinkan orang lain jika ada embel-embel ’H’, lha, haji kok miskin. Padahal, itulah kenyataannya,” kata Junaidi.
”Beasiswa anak saya juga ditolak karena ada gelar ’H’ di depan nama saya. Mereka mengira kalau sudah haji, ya, berarti orang mampu. Padahal, saya benar-benar membutuhkan beasiswa itu untuk anak kami sekarang,” kata Haji Maskur.

Haji Maskur dan haji-haji lain di Senggigi tak pernah menyesali telah mengeluarkan uang untuk pergi ke Tanah Suci. ”Itu perintah agama. Kebanggaan jika kami bisa memenuhinya. Yang kami sesali, kami bodoh karena menjual tanah-tanah warisan sehingga sekarang kami tak punya apa-apa lagi,” kata Fathur Rahman.

Comments

  • tidak ada yang menjamin seseorang tidak akan jatuh miskin setelah mengeluarkan hartanya di jalan agama :think:

  • Menunaikan ibadah Haji maupun mengeluarkan zakat dan sedekah karena Allah atau karena ingin kaya ?? :confused:

    Mime, jangan pernah berfikir seperti pedagang dalam menjalankan agama.. karena tujuan manusia beribadah itu bukan untuk jadi kaya secara materi, tapi Insya Allah untuk kedamaian hati..
  • 5551272 wrote:
    Menunaikan ibadah Haji maupun mengeluarkan zakat dan sedekah karena Allah atau karena ingin kaya ?? :confused:

    Mime, jangan pernah berfikir seperti pedagang dalam menjalankan agama.. karena tujuan manusia beribadah itu bukan untuk jadi kaya secara materi, tapi Insya Allah untuk kedamaian hati..

    lalu bagaimana dengan kisah-kisah Ali bin Abi Thalib yang berdagang dengan Allah?

    dan Allah berfirman:
    وَمَن يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللهِ يَجِدْ فِي اْلأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً وَمَن يَخْرُجْ مِن بَيْتِهِ مُهَاجِرًا
    إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللهِ وَكَانَ اللهُ غُفُورَا رَّحِيمًا {100}
    Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya disisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 4:100)

    :confused:
  • rezqi kan tidak selalu harus bersifat materi :)
  • 5551272 wrote:
    rezqi kan tidak selalu harus bersifat materi :)

    setuju sekali,
  • 5551272 wrote:
    rezqi kan tidak selalu harus bersifat materi :)

    oh jadi maksudnya tidak ada jaminan
    menjadi berkecukupan secara materi
    setelah bersedekah, berdagang dengan Allah,
    atau bahkan mengeluarkan banyak uang untuk agama? :think:

    Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).
    Al An'am(6):160

    Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.
    Al Baqarah(2):261
  • Mime,
    Sepotong cerita dari internet tidak dapat menjadi gambaran utuh dari patahnya firman Allah SWT :)
    Ada banyak faktor Allah menahan rezeqi yg bersifat materi kepada manusia, dan cerita diatas tidak memberikan gambaran lengkap riwayat yg mengiringi jatidiri manusia itu sendiri..

    hati hati dengan kekritisan kamu dan menggunakan 'kacamata kuda' dalam menilai firman Allah, karena hanya akan menjatuhkan kamu kedalam kemunkaran :)
  • 5551272 wrote:
    Mime,
    Sepotong cerita dari internet tidak dapat menjadi gambaran utuh dari patahnya firman Allah SWT :)
    Ada banyak faktor Allah menahan rezeqi yg bersifat materi kepada manusia, dan cerita diatas tidak memberikan gambaran lengkap riwayat yg mengiringi jatidiri manusia itu sendiri..

    hati hati dengan kekritisan kamu dan menggunakan 'kacamata kuda' dalam menilai firman Allah, karena hanya akan menjatuhkan kamu kedalam kemunkaran :)

    kalau mime cerita dengan pengalaman pribadi,
    selalu dibantah dengan ketidak percayaan,
    "tidak ada ceitanya orang pulang haji jadi miskin"
    tapi itulah kenyataannya :)

    masalah hati, sesungguhnya Allah Maha pembolak-balik hati :)
  • Itulah kenyataannya? :)

    Mime, kalau cerita diatas menjadi tolak ukur kamu, maka nyaris semua orang yg pulang dari haji adalah orang miskin dong.. :)

    kenyataannya bagaimana ? :)

  • 5551272 wrote:
    Itulah kenyataannya? :)

    Mime, kalau cerita diatas menjadi tolak ukur kamu, maka nyaris semua orang yg pulang dari haji adalah orang miskin dong.. :)

    kenyataannya bagaimana ? :)


    kenyataannya masyarakat hanya mengekspos sebagian :)

    kebenaran memang kesepakatan mayoritas,
    tetapi bukan berarti menghilangkan kenyataan :think:
  • Ibadah Haji memang diwajibkan bagi setiap muslim JIKA dia mampu. dan sebagaimana normalnya setiap agam diturunkan bukan untukkepentingan Tuhan, namun untuk kepentingan manusia. Nah... disini nih yang menarik menurut ane.. Ibadah haji diwajibkan bagi setiap muslim JIKA dia mampu. mampu tentu secara fisik, kesehatan, dan biaya. terkait thread diatas, ane rasa lebih bukan kepada dia MAMPU atau kagak, namun upaya mencapai status sosial aja, meskipun harus jual tanah dan habis harta benda. ini berlaku bagi haji-nya orang miskin

    lain cerita klo yang ber-haji orang kaya. ada yg tiap tahun menunaikan ibadah haji ini. pulang dari behaji, ya tetap aja kaya... apalagi klo bukan pencapaian status sosial... Toh kagak sedikit dari mereka yang bergelar Haji ternyata kelakuannya kagak ada perubahan, yg bejat tetep aja bejat, yg korup juga tetap korup.

    ada kata JIKA dlam pelaksanaan ibadah haji, yaitu JIKA mampu. dalam hal ini Islam sudah seperti membatasi strata ekonomi pemeluknya.. :blah:
  • mastermime wrote:
    kenyataannya masyarakat hanya mengekspos sebagian :)

    kebenaran memang kesepakatan mayoritas,
    tetapi bukan berarti menghilangkan kenyataan :think:

    aksan99 wrote:
    Ibadah Haji memang diwajibkan bagi setiap muslim JIKA dia mampu. dan sebagaimana normalnya setiap agam diturunkan bukan untukkepentingan Tuhan, namun untuk kepentingan manusia. Nah... disini nih yang menarik menurut ane.. Ibadah haji diwajibkan bagi setiap muslim JIKA dia mampu. mampu tentu secara fisik, kesehatan, dan biaya. terkait thread diatas, ane rasa lebih bukan kepada dia MAMPU atau kagak, namun upaya mencapai status sosial aja, meskipun harus jual tanah dan habis harta benda. ini berlaku bagi haji-nya orang miskin

    lain cerita klo yang ber-haji orang kaya. ada yg tiap tahun menunaikan ibadah haji ini. pulang dari behaji, ya tetap aja kaya... apalagi klo bukan pencapaian status sosial... Toh kagak sedikit dari mereka yang bergelar Haji ternyata kelakuannya kagak ada perubahan, yg bejat tetep aja bejat, yg korup juga tetap korup.

    ada kata JIKA dlam pelaksanaan ibadah haji, yaitu JIKA mampu. dalam hal ini Islam sudah seperti membatasi strata ekonomi pemeluknya.. :blah:

    [size=medium]Andai dengan pergi berhaji, semua orang yg melaksanakannya itu menjadi kaya raya dan dimudahkan segala kebutuhan duniawinya oleh Allah tanpa kecuali, maka ibadah haji akan menjadi ritual berhala yang luar biasa dahsyat karena menghilangkan faktor keikhlasan Lilaahi Ta'ala dong :) .. manusia akan menghalalkan segala cara untuk bisa sampai kesana, demi janji Allah untuk kehidupan ekonomi yg lebih baik.. ini ngga berbeda dengan penyelewengan makna ibadah haji pada jaman jahiliyah kan.. ;)

    Sementara itu, tujuan manusia diwajibkan untuk melaksanakan ibadah haji itu apa sih ? :wait:
    Kenapa Allah memerintahkan umat muslim untuk melaksanakan ibadah haji minimal satu kali dalam hidupnya ?

    Dan kenapa ada pengecualian bagi yang tidak mampu ? apakah karena Allah dengan sengaja menggolongkan manusia berdasarkan strata sosialnya ? :)

    Andai tidak ada pengecualian bagi yg tidak mampu, maka bagi umat muslim tidak mampu melaksanakan ibadah haji akan jatuh dosa bagi dirinya.. bener ngga ? dan apakah ini yg namanya adil ? :)

    Kembali ke permasalahan ayat yang digugat Mime :
    Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya disisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 4:100)

    Link Tasfsir DEPAG

    Mime, ayat yang kamu gugat itu ternyata tidak berhubungan dengan ibadah haji lho.. :)
    Jadi sepertinya thread kamu ini gugatan terhadap ibadah haji harus jadi kaya adalah salah kaprah :)

    [/size]


  • ada yang berubah dengan mastermime..... :confused:
  • 5551272 wrote:
    Kembali ke permasalahan ayat yang digugat Mime :
    Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya disisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 4:100)

    Link Tasfsir DEPAG

    Mime, ayat yang kamu gugat itu ternyata tidak berhubungan dengan ibadah haji lho.. :)
    Jadi sepertinya thread kamu ini gugatan terhadap ibadah haji harus jadi kaya adalah salah kaprah :)

    [/size]



    oh kirain ayat itu maknanya luas, karena hijrah kan bukan hanya pindah rumah :think:

    lalu ini bagaimana?
    Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.
    Al Baqarah(2):261

  • mastermime wrote:
    oh kirain ayat itu maknanya luas, karena hijrah kan bukan hanya pindah rumah :think:

    lalu ini bagaimana?
    Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.
    Al Baqarah(2):261

    hmm.. mencla mencle ni anak.. :D
    bunda tadi kalau ngga salah sempat baca kalau kamu posting soal Ali bin Abi Thalib dan dikaitkan dengan ayat An-Nisa :100 :think:

    Coba kita urut satu persatu dulu ya :

    1. Kamu bilang kenapa koq pergi haji malah makin miskin.
    Kemudian dikaitkan dengan surah An Nisa ayat 100.. yg jelas ngga nyambung blas..

    lalu bunda udah jawab soal tsb bahwasanya jika naik haji identik dengan janji kelimpahan rezeqi yg pasti dari Allah tanpa kecuali, maka akan menghilangkan unsur keikhlasan beribadah dan akan membuat ibadah haji menjadi berhala baru utk meningkatkan kekayaan kan ?

    2. Kemudian kamu mengaitkan dengan surah Al Baqarah :261
    Ini ayat kan mengenai keutamaan bersedekah dan infak, memberikan sebagian rezqi yg kita miliki untuk orang lain.. bukan mengeluarkan dana untuk ongkos naik haji..

    LINK TAFSIR

    Kamu ini sebenarnya mau diskusi, atau hanya sengaja mencari ta'wil 2x yg menyudutkan ayat Allah sih ? :confused: hati-hati dengan cara berpikir mime.. :)

    Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat 183 , itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mu- tasyaabihaat 184 . Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. ( Ali Imran:7)

    183 Ayat yang muhkamaat ialah ayat-ayat yang terang dan tegas maksudnya, dapat dipahami dengan mudah.

    184 Termasuk dalam pengertian ayat-ayat mutasyaabihaat: ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali sesudah diselidiki secara mendalam; atau ayat-ayat yang pengertiannya hanya Allah yang mengetahui seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan yang ghaib-ghaib misalnya ayat-ayat yang mengenai hari kiamat, surga, neraka dan lain-lain.
  • 5551272 wrote:
    2. Kemudian kamu mengaitkan dengan surah Al Baqarah :261
    Ini ayat kan mengenai keutamaan bersedekah dan infak, memberikan sebagian rezqi yg kita miliki untuk orang lain.. bukan mengeluarkan dana untuk ongkos naik haji..

    oh maksud menafkahkan rezeki di jalan Allah itu sedekah dan infak,
    berarti tidak termasuk menyumbangkan harta untuk perang agama,
    dan juga tidak termasuk mengeluarkan harta demi urusan agama lainnya?

  • mastermime wrote:
    oh maksud menafkahkan rezeki di jalan Allah itu sedekah dan infak,
    berarti tidak termasuk menyumbangkan harta untuk perang agama,
    dan juga tidak termasuk mengeluarkan harta demi urusan agama lainnya?

    koq jadi melebar ke perang agama sih ? :confused:

    saya balik nanya deh sama kamu, jika kalimat "dan juga tidak termasuk mengeluarkan harta demi urusan agama lainnya" itu maksudnya adl untuk ongkos naik haji, dan jika naik haji itu dijamin akan menjadi kaya raya - itu namanya apa mime ?
  • makasi bunda,
    intinya tidak ada jaminan
    sepulang haji orang tidak jatuh miskin kan?
    hanya itu pertanyaannya :)

    dan ayat-ayat diatas adalah jawaban ustad saya
    beliau mengatakan tidak ada ceritanya orang yang menggunakan harta dijalan Allah jadi miskin
    kenyataannya tidak demikian :think:

    bahkan dulu mime juga di doktrin,
    bahwa tidak ada orang kaya karena judi dan menipu
    kenyataannya bandar judi kaya karena judi,
    dan banyak penipu hidupnya lebih dari berkecukupan,
    ya termasuk para koruptor :D
  • mastermime wrote:
    makasi bunda,
    intinya tidak ada jaminan
    sepulang haji orang tidak jatuh miskin kan?
    hanya itu pertanyaannya :)

    dan ayat-ayat diatas adalah jawaban ustad saya
    beliau mengatakan tidak ada ceritanya orang yang menggunakan harta dijalan Allah jadi miskin
    kenyataannya tidak demikian :think:

    bahkan dulu mime juga di doktrin,
    bahwa tidak ada orang kaya karena judi dan menipu
    kenyataannya bandar judi kaya karena judi,
    dan banyak penipu hidupnya lebih dari berkecukupan,
    ya termasuk para koruptor :D

    [size=small]Ya benar, tidak ada jaminan bahwa sepulang haji orang tidak jatuh miskin
    Akan tetapi sebaiknya hal tsb tidak perlu dijadikan tolak ukur untuk tidak mengusahakan untuk melakukan ibadah yg diminta oleh Allah SWT utk dilakukan setidaknya sekali dalam seumur hidup.

    Memang secara kasat mata dan hitungan diatas kertas hal tsb berkesan spt sia 2x dan pemborosan dana,
    berpotensi membuat orang yg pas pasan nekat melakukan apa saja untuk dapat melaksanakan ibadah tsb

    Tapi pasti ada hikmah yg luar biasa dibalik ibadah yg tidak hanya dilakukan oleh umat muslim sedunia ini, tapi bahkan juga oleh umat manusia sebelum agama islam diwahyukan kpd Rasullullah

    Wallahu'alam

    Lalu soal harta duniawi, para penikmat harta hasil dari usaha yg haram tidak akan pernah merasakan kedamaian dan ketentraman didalam jiwanya, dan kedamaian serta ketenangan bathin itu tidak bisa dibeli dengan apapun selain dengan sikap berserah diri kepada Tuhan semesta alam..

    Janganlah kamu mengukur kesuksesan seseorang diukur dari harta yg mereka miliki, karena harta itu tidak akan pernah bisa menolongnya pada saat dia sudah meninggal.. :)[/size]
  • :think:
    menarik, saking menariknya jadi kebuka semua kunci otak >.< jadi bingung mo ikut diskusi dari mana nih cuman bisa nulis beberapa entry point yg mungkin perlu diperdalam.

    1. Janji Allah yg tertuang dalam ayat2 yg disalin oleh mime (ini persoalan tafsir)
    2. Tingkat pendidikan para "Haji" yg jatuh miskin itu (interpretasi dari point 1)

    monggo dilanjut kalo udah rada enak nih otak aku ikutan lagi :D

  • Qs42:20. Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat


    jadi pergi haji itu untuk keuntungan didunia atau diakhirat. apakah kita yang melihat orang itu setelah pulang haji mampu menilai bhwa jika dia jadi kaya lalu hajinya mabrur ataukan orang yg berhaji ini memiliki nikmat yg kita sendiri tidak tahu tapi kita memandangnya tidak nikmat.

    Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukan mereka kedalam rahmat (surga)Nya; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
  • and you wrote:
    Qs42:20. Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat

    kemana mereka yang berjuang demi Allah sekarang ini?
    tak lagi banyak terdengar, entah dari bidan ekonomi, science, atau yang lain

    apakah benar umat yang seharusnya menjadi rahmat bagi semesta alam,
    harus datang dalam keadaan asing dan pergi dalam keaadan asing?
    terasing di dunia, yang seharusnya ia pimpin?
    atau mau langsung lepas tanggung jawab dengan alasan takdir? :think:

    Allah menjanjikan dunia bagi mereka yang mengejar akhirat,
    dan akan memberikan dunia bagi yang menginginkannya,
    betul begitu kan?
  • wajar jika naik haji trus jadi miskin...karena niatnya cuman untuk sebuah gelar "kebanggaan" so ya yg didapat cuman gelar doang...hihihihihihiihiii
  • amankmoer wrote:
    wajar jika naik haji trus jadi miskin...karena niatnya cuman untuk sebuah gelar "kebanggaan" so ya yg didapat cuman gelar doang...hihihihihihiihiii

    naik haji emangnya nyari wangsit utk jadi kaya..? :confused: buset deh... :no:
  • jadi kesimpulan trit ini,

    tidak ada jaminan dunia bagi mereka yang menggunakan harta
    untuk kepentingan agama dan menunaikan ibadah, haji khususnya

    :D
  • miskin dan mati adalah hal yang didamba2kan mereka kok.....kalo perlu mati pas disana adalah mimpi sebagaian besar calon haji

    dan miskin katanya adalah penghuni mayoritas di syurga


    kaloo saya jadi tuhan mereka pasti bingung tujuh keliling " mau kamu apa tohh ndoo...kok plinplan "
Sign In or Register to comment.

Welcome to FORUM!

If you want to take part in the discussions, sign in or apply for membership below!