Contact Us
News
Follow TELEGRAM Channel ForumBebas.com di alamat T.ME/FORUMBEBAS atau Facebook Fan Page dan Twitter Forumbebas .

Forum Bebas Indonesia

Solusi Kemacetan Lalu Lintas Kota Besar

Coba perhatikan gambar ini... (Jakarta).
macet-jakarta.jpg

Dalam thread ini ane mengajak para FBI'er utk menyumbangkan pemikiran-pemikiran yg bisa memberikan solusi terhadap kemacetan pada beberapa Ibukota2 besar di tanah air ini terutama Jakarta.
Dan moga thread ini dikemudian hari berguna bagi para pejabat pelaksana negara yg berkaitan langsung maupun tdk langsung pada bidang Transportasi dan Lalu Lintas.

Disini ane coba membagi beberapa dampak negatif secara umum dari kepadatan kendaraan sebagai faktor utama sumber kemacetan ;
1. Polusi udara yg berasal dari sisa pembakaran mesin kendaraan.
(Polusi ini sangatlah membahayakan bagi kesehatan).
2. Terhambatnya jalur transportasi dimana efisiensi dan efektifitas roda perekonomian sektor riil.
3. Pemborosan perekonomian dalam negeri dgn tingkat impor kendaraan bermotor yg tinggi dan pemborosan dalam pemakaian BBM.
4. Terhambatnya transportasi aksi pelayanan keamanan, pengamanan, kesehatan dan pekerjaan sosial lain seperti (Badan Pemadam Kebakaran).
5. Penyebab tingkat stress yg menurunkan produktifitas kerja.

Sementara dr sy hanya ada beberapa solusi utk masalah kemacetan.
1. Berlakukan retribusi pemakai jalan sesuai dgn jumlah penumpang.
Misalanya ;
- Kendaraan roda 4 (khusus kendaraan pribadi) diberikan retribusi (sejenis stiker). Semakin sedikit jumlah penumpang semakin tinggi nilai retribusinya. Misalnya dikategorikan menjadi 2 jenis jumlah penumpang.
A = Penumpang kurang dr 2 org.
B = Penumpang kurang dr 4 org.
Pemikiran sy terfokus pada penguna kendaraan pribadi yg membuat semakin padatnya jalanan. Bayangkan jika setiap org membawa kendaraan roda 4 utk berangkat kerja setiap hari....
Saya lbh memilih utk memberi kelancaran kepada para mobil angkutan barang (Mobil menyuplai pangan, sandang n papan).
Dengan demikian maka diharapkan jasa angkutan penumpang dapat dikembangkan secara maksimal dr segi kwantitas dan kwalitas sejajar dgn meningkatnya pemakai jasa.
Paling tidak diharapkan setiap perumahan dan daerah yg tidak terpenuhi track jasa angkutan penumpang akan menyediakan jasa angkutan penumpang. Seperti yg sdh disediakan pada beberapa komplek perumahan di Jakarta atau kawasan tertentu.
Jasa transportasi ini bisa di adakan dalam beberapa kategori harga. Saya rasa bagi pekerja yg berpendapatan menenggah tidak keberatan bayar mahal jika faktor kenyamanan dan keamanan baik.

Monggo...

Komentar

  • MuakMan(MM) menulis:
    [size=medium]Sementara dr sy hanya ada beberapa solusi utk masalah kemacetan.
    1. Berlakukan retribusi pemakai jalan sesuai dgn jumlah penumpang.
    Misalanya ;
    - Kendaraan roda 4 (khusus kendaraan pribadi) diberikan retribusi (sejenis stiker). Semakin sedikit jumlah penumpang semakin tinggi nilai retribusinya. Misalnya dikategorikan menjadi 2 jenis jumlah penumpang.
    A = Penumpang kurang dr 2 org.
    B = Penumpang kurang dr 4 org.
    Pemikiran sy terfokus pada penguna kendaraan pribadi yg membuat semakin padatnya jalanan. Bayangkan jika setiap org membawa kendaraan roda 4 utk berangkat kerja setiap hari....
    Saya lbh memilih utk memberi kelancaran kepada para mobil angkutan barang (Mobil menyuplai pangan, sandang n papan).
    Dengan demikian maka diharapkan jasa angkutan penumpang dapat dikembangkan secara maksimal dr segi kwantitas dan kwalitas sejajar dgn meningkatnya pemakai jasa.
    Paling tidak diharapkan setiap perumahan dan daerah yg tidak terpenuhi track jasa angkutan penumpang akan menyediakan jasa angkutan penumpang. Seperti yg sdh disediakan pada beberapa komplek perumahan di Jakarta atau kawasan tertentu.
    Jasa transportasi ini bisa di adakan dalam beberapa kategori harga. Saya rasa bagi pekerja yg berpendapatan menenggah tidak keberatan bayar mahal jika faktor kenyamanan dan keamanan baik.

    Monggo...[/size]

    Apa akan efisien ya bang ? rasanya ngga deh.. jumlah penumpang tidak akan bisa dikontrol dengan stiker - gampang dibuat palsuan sesuai kebutuhan gitu lho.. :rolleyes:

    Urusan kemacetan di Jakarta emang udah speechless .. deadlock..

    Kalau saya, daripada fokus menambah jalan layang, membuat sarana transportasi umum yang nyaman, membuat peraturan baru ( yang ujung-ujungnya diakalin supaya bisa tetep lolos ) , mendingan merevolusi sistem kerja kantoran yang 9 to 5.

    Maksimalkan virtual office, orang tidak perlu hadir dikantor dan pulang kantor pada jam yang sama. Yang penting target pekerjaan tercapai.

    Saat ini di Jakarta, orang berlomba-lomba membuat gedung kantor pencakar langit, meeting juga sengaja diadakan di hotel atau cafe di mall, belum lagi jaraknya yang tidak sama bagi setiap individu yg terlibat dalam kegiatan tersebut.

    Ditambah lagi kegiatan yang non bekerja, seperti sekolah, dll

    Mobilitas yang super tinggi, plus waktu tempuh perjalanan yang menjadi relatif lebih lama dari waktu yang sesungguhnya harus ditempuh tentu memakan dana yang tidak sedikit, plus memakan waktu kita sendiri yg hanya dijatah 24 jam sehari.

    Mendingan dana itu dialokasikan untuk hal yang lebih efisien, dengan virtual office, mobilitas orang di jam sibuk akan jauh menurun drastis. Tingkat stress individu juga relatif berkurang, waktu berharga dengan keluarga bisa bertambah...

    Saya rasa, usulan saya ini pasti akan ditentang habis habisan sama para pemilik property gedung kantor pencakar langit yang sudah investasi gila gilaan kali yah... :blah:

  • sebenernya yang mungkin efektif adalah pemberdayaan angkutan massal yang menarik para pemakai jalan, namun sayangnya pemerintah cuma menang di konsep yang wah!! .....tapi implementasinya :bad:....
    pertama kali muncul transjakarta, saya fikir lumayanlah untuk mengurangi kemacetan, di tambah suasana pertama kali transjakarta sya rasakan masih nyaman.....namun sekali lagi, pemerintah tidak peka terhadap pengelolaannya.....akhirnya, transjakarta sekarang ga lebih seperti bus bus biasa....

    banyak faktor kenapa orang malas dengan angkutan umum antara lain rasa aman dan nyaman, jika ini bisa terealisir, saya yakin ongkos mungkin harga kesekian.....
    dan mungkin langkah untuk mengefektifkan bis adalah :
    - Sistem setoran dengan nominal tertentu pada angkutan umum di hilangkan, ini salah satu faktor utama kenapa bis bis kita terlalu sering bikin kemacetan dengan dalih mengejar setoran
    - rekrutmen terhadap supir supir dengan standard kualitas yang tinggi, tidak seperti sekarang,,,,seorang supir tanpa SIM masih bisa bebas menjalankan bis sehingga tidak jarang penumpang mengeluh dengan sikap para supir bis yang ugal ugalan
    - pengetatan terhadap unsur non penumpang, seperti pengamen, penjaja jajanan dan para pemeras atau penjahat ......


    dan mungkin satu lagi,,,mumpung lagi keren kerennya nih kata ...."moratorium"......berani ga yah pemerintah mengambil kebijakan "moratorium" terhadap penjualan mobil mobil baru....pasti susah banget, karena banyak hajat hidup orang banyak yang di gantungkan di sana :grin:
  • ^
    ^
    ^

    Di Jepang, khususnya Tokyo , dimana lahan sangat sempit dengan konsentrasi penduduk yang sangat tinggi, mereka mengfokuskan warga negaranya untuk menggunakan sarana transportasi umum, akan tetapi ini juga membuat masalah baru, yaitu konsentrasi massa pejalan kaki di jalan raya.

    95887-004-97B3F58E.jpg

    Di Jakarta, hal ini bisa kita temui juga, dan sudah bukan rahasia umum bahwa para pejalan kaki tidak peduli dengan rambu lalu lintas.. :blah: mau merah, mau ijo, kalau agak sepi ya nyelonong aja... kalaupun rame, maksa tetep jalan.. yakin ngga bakal disrempet karena pengemudi kendaraan pasti males urusan ama polisi :blah:

    Nah, jika kendaraan pribadi jumlahnya dikurangi, dan kendaraan umum diperbanyak, maka yang terjadi adalah kemacetan lalu lintas yang disebabkan oleh terminal bayangan dan pejalan kaki yang sembarangan menyebrang..

    Jadi, udah mana pajak kendaraan dan konsumsi bbm menurun, tetep aja macet.... :rolleyes:
  • menurut saya ada dua solusi.

    pertama untuk kemacetan seperti ini :
    macet-jakarta.jpg

    Kemacetan seperti ini berarti pertumbuhan panjang dan ruas jalan tidak seimbang dengan pertumbuhan jumlah kendaraan. Solusinya adalah menambah ruas jalan baru baik ke atas maupun ke bahwa, kalo ke samping kayaknya gak bisa karena gak mungkin merubuhkan gedung pencakar langit. Kalo kebawah biasanya harganya sangat mahal. Salah satu solusi yang paling tepat yaitu bikin jalan bertingkat (jalan layang). Selama ini sudah ada jalan yang satu tingkat, maka tambah satu lagi dan kalo memungkinkan satu deckernya untuk MRT. Triple decker adalah solusi yang paling tepat untuk ini.

    Biayanya jelas mahal, tapi adakah solusi lain ketika pertumbuhan kendaraan semakin menggila seperti sekarang ini?



    Kedua, kemacetan di daerah tujuan (distrik bisnis atau hiburan) seperti ini :
    95887-004-97B3F58E.jpg
    Solusinya seperti yang pas menurusnya saya ya seperti di tokyo tersebut, terapkan aturan parkir yang sangat mahal, bikin MRT yang memadai. Penambahan ruas jalan pada daerah seperti ini menjadi tidak berarti karena semua orang menuju dan keluar dari satu arah saja. Kalo masalah kemacetan manusia saya pikir tidak akan menimbulkan deadlock.

    Sebenarnya dulu jaman pak Ali Sadikin, pembagian distrik ini sudah bagus seperti jakarta pusat itu buat pusat bisnis dan hiburan, jakarta selatan itu buat paru-paru jakarta dst. dan itu memudahkan penataan, sayang sekarang sudah terlalu amburadul.
  • 5551272 menulis:
    ^
    ^
    ^

    Di Jepang, khususnya Tokyo , dimana lahan sangat sempit dengan konsentrasi penduduk yang sangat tinggi, mereka mengfokuskan warga negaranya untuk menggunakan sarana transportasi umum, akan tetapi ini juga membuat masalah baru, yaitu konsentrasi massa pejalan kaki di jalan raya.

    95887-004-97B3F58E.jpg

    Di Jakarta, hal ini bisa kita temui juga, dan sudah bukan rahasia umum bahwa para pejalan kaki tidak peduli dengan rambu lalu lintas.. :blah: mau merah, mau ijo, kalau agak sepi ya nyelonong aja... kalaupun rame, maksa tetep jalan.. yakin ngga bakal disrempet karena pengemudi kendaraan pasti males urusan ama polisi :blah:

    Nah, jika kendaraan pribadi jumlahnya dikurangi, dan kendaraan umum diperbanyak, maka yang terjadi adalah kemacetan lalu lintas yang disebabkan oleh terminal bayangan dan pejalan kaki yang sembarangan menyebrang..

    Jadi, udah mana pajak kendaraan dan konsumsi bbm menurun, tetep aja macet.... :rolleyes:

    ini memang dilema,,,tapi saya setuju jika mengenai pembagian fungsi Tata Ruang wilayah seperti ndan solobug ini...
    solobug menulis:

    Sebenarnya dulu jaman pak Ali Sadikin, pembagian distrik ini sudah bagus seperti jakarta pusat itu buat pusat bisnis dan hiburan, jakarta selatan itu buat paru-paru jakarta dst. dan itu memudahkan penataan, sayang sekarang sudah terlalu amburadul.

    pembagian fungsi lahan Tata Ruang sejak jaman lama memang sudah di tetapkan, yang mana daerah bisnis, perumahan, lahan hijau dan lain lainnya,,,,,sayangnya kepentingan sudah lebih di dahulukan dari pada keperluan ini....yah jadinya Tata Ruang jakarta sudah kebablasan :D ,,,dan macet adalah salah satu dampak dari ketidaksinkronan antara peraturan dengan pelaksanaan....:(
    tinggal menunggu keberanian dari Pemerintah untuk kembali kepada fungsi Tata Ruang.

    Jakarta dulu terkenal Kota Metropolitan, kini menjelma menjadi Kota Megapolitan....jika tidak ada kemauan yang serius dari pemerintah, niscaya Jakarta akan menjadi Kota mati....
  • Semua saran n pandangan rekan2 FBI'er pantas dipikirkan...

    Mari kita gali lg jauh lbh dalam utk solusi kemacetan ini.
    Sementara yg lbh disetujui adalah ;
    1. Transportasi umum (angkutan penumpang) yg nyaman dan aman.
    Persoalan ada pada pengelolahannya. Mungkin perlu di Swastanisasikan biar ada saingan....
    2. Tata kota dalam bentuk kawasan.
    Ini juga perlu dipertimbangan bagi kota2 yg baru ingin berkembang menjadi kota besar.
    3. Mengurangi kendaraan pribadi.
    Melalui beberapa opsi (sementara opsi belum ada terobosan).

    Ingat juga sama POLUSI yg kita rasakan sekarang pd kota2 besar.

    Utk Ndin 555,
    Semua pasti ada kekurangan dan kelebihannya.
    Kita ambil yg paling ideal dan yg mengenai faktor point Ekonomi n Polusi.

    Terima kasih atas semua saran n pandangan para FBI'er.
    Apa masih ada tambahan lain.....?
  • sebenarnya adalah Benahi transportasi masal, buat transportasi masal yang aman & nyaman, pastinya banyak yang menginginkan, kalo sekarang pemerintah hanya menyelesaikan di ujung saja, malah menimbulkan masalah baru atau memindahkan maslah.....
  • mau coba ikutan nimbrung ah

    apapun di coba pasti susah deh di jakarta
    karena ruas jalan udah ngga sesuai dengan jumlah kendaraan
    ini emang kondisi yg tidak bisa di elakkan lagi karena semua saling terhubung
    contoh :
    negara butuh masukan devisa salah satunya dr impor2x mobil CBU dr luar negeri yg notabene BM ( bea masuk) nya mayan tinggi
    blom lg orang2x OKB yg bergaya pengen punya mobil tanpa mikir sebenarnya nga butuh2x banget
    blom anak2x pejabat liat aja di senayan kl malam minggu tuh mobil berjejer

    sebenarnya kl mau di lakukan seperti di eropa or negara lain
    bagi mobil yg sudah berumur di atas 10 tahun harus di daur ulang <--- ini susah krn harga mobil mahal wakkaka bisa kebeli aja bagus

    yah begitulah realita jakarta kita yg tiap hati macet
  • resiko pertumbuhan yang tidak merata ya seperti ini,
    menurut ane sangat penting tata kelola daerah dan pemerataan pembangunan :top:

  • bingung mau komen apa....abis kayanya semakin lama sudah semakin terbiasa ama kemacetan, malah kalau jalanan sepi merasa aneh sekarang heheee.....sangkanya ada kerusuhan atau apa hahaa......
  • solusi mudah adalah pindahkan ibu kota negara susun ulang aturan baru dan paksa menggunakan fasilitas kendaraan umum, lambat laun kepadatan akan bergeser kepada lalu lintas teratur, atau mudah saja bikin aturan pemakaian kendaraan, misal senen selasa tdak boleh ada mobil dan motor kusus kendaraan umum, terus rabu kamis kusus kendaraan motor dan kendaraan umum tdak boleh ada mobil, jumat sabtu baru mobil dan umum tanpa motor, minggu bebas, lama lama orang akan jenuh jiika diatur demikian dan mereka akan mengutamakan kendaraan umum
  • selamat sore.....apa kabar semuanya,,.....maju terus FBI
  • gw cuma punya motor tua warisan umar bakree,
    jlnya juga di pingirrrrrrrrrrrrrrrr
    jadi ga bisa komennnnnnnn
  • kalau ane gan mandang dari segi kontruksi saja deh....
    Jumlah Jalan yang ada dijakarta dan sekitarnya sangat kurang, harusnya ada pembukaan jalan baru.
    Tetapi yang jadi masalah warga jakarta pada setuju tidak kalau nanti di gusur rumahnya untuk pembuatan jalan baru. Kalau mau adil. seluruh perumahan harus berlokasi di luar jakarta.
    Dan jakarta hanya tempat untuk bekerja.
Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Halo, Komandan!

Sepertinya anda baru di sini. Ingin ber-interaksi? Klik satu tombol ini!

Kategori