Contact Us

kebohongan sejarah GAJAH MADA

Maaf saya bikin judul yang agak bombastis agar bikin penasaran :blah:

Pemikiran ini sebenarnya sudah lama, sewaktu rasa keingintahuan terhadap segala hal masih begitu bergairah dalam otak saya. Saya hanya ingin berbagi dan berdiskusi tanpa maksud-maksud tertentu, mencoba berandai-andai bagaimana seharusnya sejarah kita.

Awal keingintahuan saya adalah apakah benar wajah Gajah Mada yang terpampang di buku sekolahan dan pada uang kerja kita itu adalah Gajah Mada?

ini tulisan saya beberapa minggu yang lalu untuk mengomentari sebuah topik :
solobug menulis:
Saya pikir berita ini tidak benar, coba gali lagi beberapa sumber sejarah. Memang Bung Karno yang pertama kali menggagas pancasila cuman memang ketika M. Yamin mengklaim pancasila, Bung Karno waktu itu tidak bereaksi.

M. Yamin itu menurut saya kurang kredibel karena beberapa tindakan dia yang sangat gegabah, seperti misalnya ketika dia mengklaim telah menemukan patung wajah gajahmada (seperti yang dikenal sekarang ini) disebuah candi. Darimana dia bisa tahu bahwa itu adalah wajah gajah mada? Bagaimana dasar ilmiahnya? dulu majalah tempo pernah mengangkat masalah ini (edisi sekitar tahun 82-84 saya sudah lupa pastinya)

Saya waktu taun 86 kebetulan nemu majalah tersebut langsung saya bawa ke sekolah (waktu itu kelas 1 SMP) dan menanyakan keabsahan patung tersebut kepada pak guru tapi hasilnya tidak memuaskan, mungkin karena kondisi negara kita waktu itu yang tidak memungkinkan untuk berpikir bebas.

Sekarang waktunya untuk mengetahui sejarah yang sebenarnya, karena pemenang lama sudah tumbang dan mudah-mudahan pemenang baru bisa lebih bijak menulis sejarah negeri ini :good:

mungkin kang apabisa/gunfbi yang lebih tau masalah ini

Tanggal 12 Februari 2008 saya mengomentari sebuah topik tentang gajah mada juga di forum ini :
solobug menulis:
salah satu kontroversi lain adalah tentang wajah dari gajahmada sendiri, saya pernah baca di majalah tempo tahun 80an yang banyak menggugat tentang kesahihan wajah tersebut.
Tapi masalah tersebut tidak berlanjut


Tadi iseng nyari-nyari di mbah google ternyata ada juga yang mempertanyakan wajah gajah mada :
Gajahmada, nama tersebut mungkin sudah tidak asing ditelinga kita. Beliau sempat menjabat Mahapatih di Kerajaan Majapahit (1334), jabatan tersebut bukan sembarangan jabatan sebab jabatan tersebut merupakan salah satu jabatan tertinggi di Kerajaan Majapahit. Bahkan setelah itu beliau sempat menjabat dijabatan yang lebih tinggi lagi, yaitu Amangkubhumi (Perdana Mentri) yang menghantarkan Majapahit kepuncak kejayaannya. Beliau juga pernah menjabat (awal kariernya) menjadi komandan Pasukan Khusus Bhayangkara dan berhasil meredam pemberontakan Ra Kuti dan menyelamatkan Prabu Jayanegara (putra dari Raden Wijaya).

Itu mungkin adalah sepintas perjalanan karier Gajahmada dikerajaan Majapahit. Sampai saat ini masih belum jelas kapan beliau lahir, sebab dari sumber yang ada pada saat ini hanya baru mengungkapkan karier beliau. Karier Gajahmada terus meningkat dikarenakan beliau hampir selalu meredam atau menumpas disetiap peristiwa yang membahayakan Majapahit. Itulah sebabnya sosok beliau selalu digambarkan sebagai sosok yang tegas, kokoh, cerdas dan sebagainya.
Mohammad Yamin
Tetapi gambar atau patung yang selama ini kita lihat dan saksikan masih disangsikan kebenarannya. Patung atau arca yang pertama kali dikenalkan oleh Muhammad Yamin adalah sebuah rekaan M. Yamin saja, sebab bagi M. Yamin dari beberapa dokumen jaman dahulu menyebutkan bahwa Gajah Mada adalah sosok yang tangguh, perkasa, kekar dan berotot. Asal usul arca tersebut sebenarnya ditemukan di situs Trowulan dan merupakan celengan yang biasa dipakai oleh masyarakat Majapahit untuk menyimpan uang mereka. Hal ini juga diperkuat pleh Dwi Hartanto SS, Seorang pamong budaya dikecamatan pring apus dan kecamatan bergas, Lulusan Fakultas Sejarah UNDIP ini membenarkan bahwa sosok wajah yang dinyatakan Gajah Mada selama ini adalah metrupakan gambar dari Patung Celengan Yang ditemukan di trowulan.[1] Jadi selama ini wajah atau arca yang kita kenal adalah hanya rekaan dari Muhammad Yamin saja.
sumber

Ketika SMA rasa keingintahuan tentang Gajah Mada semakin menggunung, saat saya baca sejarah dunia :
1. Gajah Mada bersumpah (sumpah palapa) bahwa dia bersumpah akan mempersatukan nusantara dibawah Majapahit sebagai pemimpinnya. Hal yang sama juga yang saya baca dari sejarah jepang pada perang dunia II yaitu semboyan HAKKO ICHIU, yaitu keinginan mempersatukan dunia dengan jepang sebagai pemimpinnya.
2. George Washington melobi negara-negara di amerika utara untuk bergabung dalam negara yang bernama united state of america

Intisari dari No 1. Semua daerah yang ingin "dipersatukan" diperoleh dengan jalan perang dan pemaksaan, Semua daerah yang telah "dipersatukan" harus menyetor upeti ke negara induk tanpa berpikir tentang "pembangunan".
Intisari no 2. Semua negera di amerika utara disatukan dengan sukarela untuk membentuk negara baru dengan semangat persamaan hak dan kewajiban.

Dari kesimpulan diatas timbul pertanyaan :
1. Benarkah wajah itu adalah wajah Gajah Mada?
Kalo benar dari mana dasar dan datanya?
Kalo salah kenapa sampai sekarang masih dipakai? bukankah itu hanya menjadi pembodohan belaka?
2. Apakah Gajah Mada itu seorang PEMERSATU atau hanyalah seorang PENJAJAH
Kenapa Gajah Mada disebut pemersatu sedang jepang disebut penjajah sedangkan mereka menggunakan cara yang hampir sama? Kenapa disini ada standar ganda?
3. Sampai dimana batas perbedaan antara PEMERSATU dan PENJAJAH?
Silahkan ditambahkan atau dikoreksi :)

Komentar

  • Saya hanya akan mengomentari point no. 3 saja

    Yang perlu di perhatikan antara penjajah dan pemersatu adalah lihat waktu kejadiannya
    Gajah Mada Beliau sempat menjabat Mahapatih di Kerajaan Majapahit (1334)
    dan Era Penjajahan Terlama di Indonesia adalah oleh Belanda 350 Tahun Kurang lebih Tahun 1595
    ada selisih waktu 261 tahun antara jaman gajah mada dan jaman masuknya penjajah ke Indonesia
    nah pada saat itu (tahun 1334) apakah mereka sudah paham mengerti istilah Penjajahan
    kalau melihat dari pembahasan membayar upeti bukankah itu sama saja dengan kita membayar pajak kepada pemerintah :)

    silahkan dilanjut, maaf kalau ada salah²
  • untuk berbicara netralnya mungkin bisa di bilang Gajah Mada sepabagi patih sebuah kerajaan yang menjajah beberapa wilayah untuk di jadikan satu kewilayahan majapahit.....mungkin


    mempersatukan....artinya menurut saya adalah beberapa bagian dari satu kesatuan yang tercerai berai dan di coba untuk di gabungkan kembali....sedangkan jika berbeda pemahaman dalam berwilayah kekuasaan lalu di jadikan satu wilayah dengan wilayah lain bukannya sebuah aneksasi?
  • Bukannya sudah jelas Rule nya?

    Pemersatu, tidak mengurangi/merugikan/merampas hak rakyat manapun.
    Penjajah, ya kebalikannya...:d
  • PEMERSATU atau PENJAJAH kan tergantung yg melihat?
    dipandang dari sudut berbeda.. apsti dapat pandangan yg berbeda..

    apakah Syamsul Arifin (Gubsu non aktif) adalah Koruptor??
    rakyat jelata, orang-orang sekitarnya, anak buahnya bilang: TIDAK !!
    beliau adalah SINTERKLAS.. SIRAJA SAWER !! kenapa begitu??
    hampir setiap hari beliau membagikan duit untuk orang miskin sekitarnya..
    tidak pandang bulu, suku apa agama apa.. semua yg miskin dapat saweran..

    apakah Ustadz Ba'asyir Teroris??
    Negara bilang ya! apakah muridnya dan kita juga bilang begitu?

    Soeharto busuk? korup? bukan negarawan?
    nyatanya banyak yg rindu kepemimpinannya yg aman damai..

  • gw ngga langsung menanggapi opini TS, tapi satu hal penting adalah sejarah kita harus ditulis ulang setidaknya dikaji ulang dengan lebih ilmiah. Karena terasa tokoh-tokoh yang muncul sebagai pahlawan kurang jelas kontribusinya kepada bangsa dan negara ini. Seperti:
    1. Diponegoro, yang melawan Belanda karena hak-haknya dikucilkan oleh keluarga kesultanan. DAn puncaknya adalah ketika tanahnya diambil secara paksa untuk pembangunan rel kereta api oleh Belanda. Apakah motivasinya memberontak itu masuk kategori pahlawan ?? sebaliknya apabila tanahnya tidak diambil, akankah Diponegoro melawan Belanda??
    2. RA KArtini, saat ini dinobatkan sebagai tokoh wanita utama. Tapi apakah magnitude kegiatannya cukup luas dan dirasakan oleh banyak wanita Indonesia ?? kalau tidak salah kegiatan keputriannya sangat kecil skalanya, cuma dikeresidenan Jepara tempat dia tinggal sebagai istri kedua Bupati Jepara. kenapa tidak tokoh wanita lain?? seperti Dewi Sartika, Rohana Kudus, Martha Kristina Tiahahu, Malahayati atau Cut Nyak Dhien ?? Lagi pula aktivitas dan pemikiran KArtini yang kita ketahui saat ini adalah kesimpulan dari teman korespondennya orang Belanda Abendonen (yang katanya sahabat Snouck H)

    Masih banyak yang lainnya.

    Adalah suatu keanehan juga karena kita setiap tahun ada pemilihan Pahlawan Idol, apa iya kegiatan ini perlu diadakan secara periodik ?? KArena sepertinya ada pemaksaan untuk pemerataan gelar pahlawan untuk setiap daerah..

    kembali ke topik...mengenai Gajah MAda berikut wajahnya memang perlu dikaji dan diteliti ulang. Disamping itu, Gajah Mada dalam mencapai ambisinya menyatukan nusantara tidak segan-segan melakukan tindakan yang brutal dan bengis (apa beda dengan penjaha ??)

    Atau bro punya opini lain ??
  • Sejarah seharusnya netral, tetapi kenyataannya terjadi berbagai versi. Bahkan untuk menganalisa kita perlu rujukan, tetapi rujukan itupun sebenarnya versi tertentu. Seperti jaman Pak Harto diterbitkan buku Sejarah Nasional versi pemerintah yang banyak dikritik. Apalagi kita mau menganalisa jaman Majapahit, referensinya apa? Kitab, prasasti, babad dsb? Itupun sebenarnya versi tertentu yang kebenarannya belum tentu 100%. Jadi yang penting sekarang apakah ada manfaatnya kita mempermasalahkan hal tsb. Satu kelompok menganggap gambar Gajah Mada versi Muh Yamin adalah palsu dengan segenap argumennya. Sementara kelompok yang lain juga mempunyai argumen. Memang sulit mencari kebenaran hakiki. Yang penting kita tidak usah memaksakan kebenaran versi kita kepada orang lain yang punya versinya sendiri tentang Gajah Mada ini. Belum sejarah yang lain, seperti Pangeran Diponegoro sebenarnya tidak "memberontak" hanya karena masalah tanahnya yang dipakai jalan kereta. Jauh sebelum itu beliau memang sudah berprinsip Belanda adalah penjajah, juga masalah internal politik keraton, serta pemahaman Heru Cakra Sang Ratu Adil menjadi latar belakang. Masalahnya kompleks. Salam.
  • satu2nya bukti otentik yang menerangkan asal-usul Gadjah mada adalah dari lembaran lontar "Babad Gajah Maddha" di perpustakaan Lontar Fakultas Sastra Univ Udayana. Lontar itupun berupa salinan, versi aslinya belum diketemukan. Namun isi dari lontar tersebut menurut ane hanya berupa mitos tentang asal usul sang Mahapatih. mengingat di jaman dulu keterikatan dewa-dewa dalam kehidupan manusia sangat dekat. (dalam lontar Gajah mada disebutkan keturunan dari Dewa Brahma yang "memperkosa" Patni Nariratih--ibu sang patih).

    versi lain menghubungkan Gajah Mada dengan Desa Modo di Lamongan, tempat yang disinyalir sebagai tanah kelahiran sang mahapatih. Beliau dikatakan sebagai keturunan Jawa-Arab dari nasab Syekh Subakhir (Muhammad al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abu Thalib). Beliau ditemukan oleh Patih Ronggo Lawe (patih Mojopahit sebelum Gadjah Mada) saat masih berusia belasan dan masih bernama Trimo (nama asli Gajah Mada), kemudian dibawa ke Mojopahit, dan di masukkan kedalam akademi militer dengan pangkat Bekel/tamtama. Sewaktu pemberontakan Ra Kuti dan Ra Tanca di era Raja Jayanegara, Bekel GajahMada dan lima belas orang bhayangkara yang menyelamatkan raja Jayanagara ke Bedander. Dari kejaran telik sandi Ra Kuti yang disebar di seluruh prajurit Majapahit dan meminta nasehat ke kakeknya yaitu Mbah Wonokerto. Kakek atau Buyut Gajah Mada di desa Bedander ini yaitu mbah Wonokerto pernah meramalkan bahwa kejadian ini akan membawa Trimo/ Gajah Mada akan menjadi orang besar di Majapahit, waktu itu Gajah Mada menjadi ketua pasukan Bhayangkara (lebih tinggi daripada tamtama)

    tapi sekali lagi belum ada keberadaan bukti yang benar2 otentik tentang semua ini.
  • ANVHIL menulis:
    Saya hanya akan mengomentari point no. 3 saja

    Yang perlu di perhatikan antara penjajah dan pemersatu adalah lihat waktu kejadiannya
    Gajah Mada Beliau sempat menjabat Mahapatih di Kerajaan Majapahit (1334)
    dan Era Penjajahan Terlama di Indonesia adalah oleh Belanda 350 Tahun Kurang lebih Tahun 1595
    ada selisih waktu 261 tahun antara jaman gajah mada dan jaman masuknya penjajah ke Indonesia
    nah pada saat itu (tahun 1334) apakah mereka sudah paham mengerti istilah Penjajahan
    kalau melihat dari pembahasan membayar upeti bukankah itu sama saja dengan kita membayar pajak kepada pemerintah :)

    silahkan dilanjut, maaf kalau ada salah²

    Upeti dan pajak mungkin mempunyai arti yang sama cuma yang berbeda adalah kembalinya, upeti disetor tidak untuk kembali sedang pajak disetor akan kembali dalam sarana dan prasara beserta regulasinya. :)
    oifals menulis:
    untuk berbicara netralnya mungkin bisa di bilang Gajah Mada sepabagi patih sebuah kerajaan yang menjajah beberapa wilayah untuk di jadikan satu kewilayahan majapahit.....mungkin


    mempersatukan....artinya menurut saya adalah beberapa bagian dari satu kesatuan yang tercerai berai dan di coba untuk di gabungkan kembali....sedangkan jika berbeda pemahaman dalam berwilayah kekuasaan lalu di jadikan satu wilayah dengan wilayah lain bukannya sebuah aneksasi?
    Mungkin bedanya pejajahan dengan aneksasi adalah kalo aneksasi mencaplok wilayah tapi dengan menerapkan hukum yang sama dengan negara induknya dan menjadi bagian dari negara induk, kalo penjajahan biasanya hukumnya berbeda antara negara induk sama negara jajahan termasuk hak-hak sipilnya :)
    Bo_JeSS menulis:
    Bukannya sudah jelas Rule nya?

    Pemersatu, tidak mengurangi/merugikan/merampas hak rakyat manapun.
    Penjajah, ya kebalikannya...:d
    Betul sekali :good:
    THE ROCK menulis:
    PEMERSATU atau PENJAJAH kan tergantung yg melihat?
    dipandang dari sudut berbeda.. apsti dapat pandangan yg berbeda..

    apakah Syamsul Arifin (Gubsu non aktif) adalah Koruptor??
    rakyat jelata, orang-orang sekitarnya, anak buahnya bilang: TIDAK !!
    beliau adalah SINTERKLAS.. SIRAJA SAWER !! kenapa begitu??
    hampir setiap hari beliau membagikan duit untuk orang miskin sekitarnya..
    tidak pandang bulu, suku apa agama apa.. semua yg miskin dapat saweran..

    apakah Ustadz Ba'asyir Teroris??
    Negara bilang ya! apakah muridnya dan kita juga bilang begitu?

    Soeharto busuk? korup? bukan negarawan?
    nyatanya banyak yg rindu kepemimpinannya yg aman damai..

    Bagaimana kalo dilihat dari sudut netral atau keilmuan? :)
  • free man menulis:
    gw ngga langsung menanggapi opini TS, tapi satu hal penting adalah sejarah kita harus ditulis ulang setidaknya dikaji ulang dengan lebih ilmiah. Karena terasa tokoh-tokoh yang muncul sebagai pahlawan kurang jelas kontribusinya kepada bangsa dan negara ini. Seperti:
    1. Diponegoro, yang melawan Belanda karena hak-haknya dikucilkan oleh keluarga kesultanan. DAn puncaknya adalah ketika tanahnya diambil secara paksa untuk pembangunan rel kereta api oleh Belanda. Apakah motivasinya memberontak itu masuk kategori pahlawan ?? sebaliknya apabila tanahnya tidak diambil, akankah Diponegoro melawan Belanda??
    2. RA KArtini, saat ini dinobatkan sebagai tokoh wanita utama. Tapi apakah magnitude kegiatannya cukup luas dan dirasakan oleh banyak wanita Indonesia ?? kalau tidak salah kegiatan keputriannya sangat kecil skalanya, cuma dikeresidenan Jepara tempat dia tinggal sebagai istri kedua Bupati Jepara. kenapa tidak tokoh wanita lain?? seperti Dewi Sartika, Rohana Kudus, Martha Kristina Tiahahu, Malahayati atau Cut Nyak Dhien ?? Lagi pula aktivitas dan pemikiran KArtini yang kita ketahui saat ini adalah kesimpulan dari teman korespondennya orang Belanda Abendonen (yang katanya sahabat Snouck H)

    Masih banyak yang lainnya.

    Adalah suatu keanehan juga karena kita setiap tahun ada pemilihan Pahlawan Idol, apa iya kegiatan ini perlu diadakan secara periodik ?? KArena sepertinya ada pemaksaan untuk pemerataan gelar pahlawan untuk setiap daerah..

    kembali ke topik...mengenai Gajah MAda berikut wajahnya memang perlu dikaji dan diteliti ulang. Disamping itu, Gajah Mada dalam mencapai ambisinya menyatukan nusantara tidak segan-segan melakukan tindakan yang brutal dan bengis (apa beda dengan penjaha ??)

    Atau ndan punya opini lain ??

    Betul sekali, banyak juga pertanyaan tentang "kepahlawanan" pahlawan kita :top:
    Asli Jogja menulis:
    Sejarah seharusnya netral, tetapi kenyataannya terjadi berbagai versi. Bahkan untuk menganalisa kita perlu rujukan, tetapi rujukan itupun sebenarnya versi tertentu. Seperti jaman Pak Harto diterbitkan buku Sejarah Nasional versi pemerintah yang banyak dikritik. Apalagi kita mau menganalisa jaman Majapahit, referensinya apa? Kitab, prasasti, babad dsb? Itupun sebenarnya versi tertentu yang kebenarannya belum tentu 100%. Jadi yang penting sekarang apakah ada manfaatnya kita mempermasalahkan hal tsb (1). Satu kelompok menganggap gambar Gajah Mada versi Muh Yamin adalah palsu dengan segenap argumennya. Sementara kelompok yang lain juga mempunyai argumen (2). Memang sulit mencari kebenaran hakiki. Yang penting kita tidak usah memaksakan kebenaran versi kita kepada orang lain yang punya versinya sendiri tentang Gajah Mada ini. Belum sejarah yang lain, seperti Pangeran Diponegoro sebenarnya tidak "memberontak" hanya karena masalah tanahnya yang dipakai jalan kereta. Jauh sebelum itu beliau memang sudah berprinsip Belanda adalah penjajah, juga masalah internal politik keraton, serta pemahaman Heru Cakra Sang Ratu Adil menjadi latar belakang. Masalahnya kompleks. Salam.

    (1)
    ada lirik yang sangat dalam dari lagunya Johnny Alexander (pada gak kenal ya? saya aja dengar waktu kecil aja :blah: ) :
    "sejarah adalah cermin untuk kita berbenah diri"
    Bagaimana kita berbenah kalo cerminnya hanya menampilkan wajah kita yang ganteng padahal wajah kita dipenuhi jerawat, dan untuk apa juga menulis sejarah kalo hanya untuk kesia-siaan? :)

    (2)
    Justru itu saya menanyakan argumen dan dasar dari penunjukan wajah tersebut dan selama ini tidak ada, kalo memang ada tentu dengan serta merta saya akan menerimanya. Tidak ada maksud pemaksaan kehendak, ini hanya ajang diskusi dan saya juga sudah memohon koreksi kalo memang salah seperti tertera di atas. :)

    nambah ilmu bolehkan? :peace:
    aksan99 menulis:
    satu2nya bukti otentik yang menerangkan asal-usul Gadjah mada adalah dari lembaran lontar "Babad Gajah Maddha" di perpustakaan Lontar Fakultas Sastra Univ Udayana. Lontar itupun berupa salinan, versi aslinya belum diketemukan. Namun isi dari lontar tersebut menurut ane hanya berupa mitos tentang asal usul sang Mahapatih. mengingat di jaman dulu keterikatan dewa-dewa dalam kehidupan manusia sangat dekat. (dalam lontar Gajah mada disebutkan keturunan dari Dewa Brahma yang "memperkosa" Patni Nariratih--ibu sang patih).

    versi lain menghubungkan Gajah Mada dengan Desa Modo di Lamongan, tempat yang disinyalir sebagai tanah kelahiran sang mahapatih. Beliau dikatakan sebagai keturunan Jawa-Arab dari nasab Syekh Subakhir (Muhammad al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abu Thalib). Beliau ditemukan oleh Patih Ronggo Lawe (patih Mojopahit sebelum Gadjah Mada) saat masih berusia belasan dan masih bernama Trimo (nama asli Gajah Mada), kemudian dibawa ke Mojopahit, dan di masukkan kedalam akademi militer dengan pangkat Bekel/tamtama. Sewaktu pemberontakan Ra Kuti dan Ra Tanca di era Raja Jayanegara, Bekel GajahMada dan lima belas orang bhayangkara yang menyelamatkan raja Jayanagara ke Bedander. Dari kejaran telik sandi Ra Kuti yang disebar di seluruh prajurit Majapahit dan meminta nasehat ke kakeknya yaitu Mbah Wonokerto. Kakek atau Buyut Gajah Mada di desa Bedander ini yaitu mbah Wonokerto pernah meramalkan bahwa kejadian ini akan membawa Trimo/ Gajah Mada akan menjadi orang besar di Majapahit, waktu itu Gajah Mada menjadi ketua pasukan Bhayangkara (lebih tinggi daripada tamtama)

    tapi sekali lagi belum ada keberadaan bukti yang benar2 otentik tentang semua ini.

    jangan sampai ranah sastra (fiksi) masuk ke ranah sejarah :blah:
  • Fakultas Sastra Univ Udayana memiliki jurusan Sejarah dan Jurusan Arkeologi Bang... :) di beberapa kampus memang jurusan Sejarah dimasukkan ke Fakultas Sastra. begitu juga di almamater ane dulu :)

    Memang rujukan resmi dan paling untuk Sejarah Gajah Mada belum ada selain lontar kuno dan beberapa prasasti peninggalan Majapahit. Bahkan Patung wajah yang selama ini kita anggap patung sang mahapatih pun belum ada bukti otentik yang menyatakan bahwa itu patung diri beliau. untuk bukti lain saya belum ada :(
  • Benar Bro sejarah untuk bercermin diri saya setuju. Kita ambil yang baik buang yang buruk menjadi pelajaran bagi kita untuk melangkah ke depan. Tetapi maksud saya untuk konteks Apakah ada manfaatnya memastikan wajah Gajah Mada berdasarkan studi, peneltian, dan berbagai cara ilmiah (bahkan ada yang meyakininya lewat cara2 supranatural yang tidak masuk akal). Menurut pendapat saya manfaat inipun relatif bagi tiap orang karena sifatnya kualitatif dan subyektif. Maksud saya bagi si A bisa sangat bermanfaat, bagi si B bisa jadi biasa saja, bahkan bagi si C bisa tidak bermanfaat. Memang kadang akal kita menolak pendapat seseorang yang bagi kita tidak rasional (tanpa argumen ilmiah) tetapi bagi sebagian orang kadang2 yang tidak rasional diyakini sebagai kebenaran. Banyak contoh di sekeliling kita orang2 meyakini sesuatu sampai tidak rasional lagi. Karena memang keyakinan tidak bisa dipaksakan. Jadi kembali ke diri kita masing2. Salam :)
  • seperti halnya para pahlawan dan pendiri negara Amerika,
    mereka adalah pemersatu bangsa Amerika,
    dan penjajah benua Amerika.... :D
  • aksan99 menulis:
    Fakultas Sastra Univ Udayana memiliki jurusan Sejarah dan Jurusan Arkeologi Bang... :) di beberapa kampus memang jurusan Sejarah dimasukkan ke Fakultas Sastra. begitu juga di almamater ane dulu :)

    Memang rujukan resmi dan paling untuk Sejarah Gajah Mada belum ada selain lontar kuno dan beberapa prasasti peninggalan Majapahit. Bahkan Patung wajah yang selama ini kita anggap patung sang mahapatih pun belum ada bukti otentik yang menyatakan bahwa itu patung diri beliau. untuk bukti lain saya belum ada :(

    Maaf saya yang salah :blah:
    Maksud saya jangan sampai naskah fiktif menjadi dijadikan fakta sejarah.

    Ternyata ada sejarawan lagi di FBI selain kang Gun FBI :applause:
    mudah-mudahan gak pelit ilmu kalo nanti saya yang banyak bertanya :top::top:

    Asli Jogja menulis:
    Benar ndan sejarah untuk bercermin diri saya setuju. Kita ambil yang baik buang yang buruk menjadi pelajaran bagi kita untuk melangkah ke depan. Tetapi maksud saya untuk konteks Apakah ada manfaatnya memastikan wajah Gajah Mada berdasarkan studi, peneltian, dan berbagai cara ilmiah (bahkan ada yang meyakininya lewat cara2 supranatural yang tidak masuk akal). Menurut pendapat saya manfaat inipun relatif bagi tiap orang karena sifatnya kualitatif dan subyektif. Maksud saya bagi si A bisa sangat bermanfaat, bagi si B bisa jadi biasa saja, bahkan bagi si C bisa tidak bermanfaat. Memang kadang akal kita menolak pendapat seseorang yang bagi kita tidak rasional (tanpa argumen ilmiah) tetapi bagi sebagian orang kadang2 yang tidak rasional diyakini sebagai kebenaran. Banyak contoh di sekeliling kita orang2 meyakini sesuatu sampai tidak rasional lagi. Karena memang keyakinan tidak bisa dipaksakan. Jadi kembali ke diri kita masing2. Salam :)

    Saya pikir sangat perlu demi keotentikan sejarah, kecuali kalo memang hanya sebuah karya sastra fiktif yang tidak perlu keakuratan dan hanya mengandalkan interpretasi penulisnya. Dan agak kurang pantas menurut saya kalo kita mengagungkan kebanggaan semu, kebanggan yang ternyata hanya fatamorgana.

    Saya dulu bertanya kepada kang Gun tentang kesahihan naskah wangsakerta yang bercerita tentang kerajaan salakanagara (kerajaan sebelum taruma nagara) dan meskipun Claudius Ptolomeus pernah menulisnya sebagai argyre tapi bukti-buktinya lemah, ini jawaban kang Gun FBI
    Terlepas dari perdebatan yg ada secara akademis, masalah asal-usul yang tidak jelas ini menurunkan tingkat kredibilitas naskah tersebut. Lagi pula naskah ini belum tuntas diteliti secara filologis. jadi kesimpulannya bahwa Naskah Wangsakerta tidak dapat dipergunakan sebagai sumber sejarah. meskipun demikian, naskah ini sah sebagai obyek kajian filologis.
    
    Jadi pada dasarnya setiap sumber sejarah harus diuji terlebih dahulu secara kritis sebelum dipergunakan. Sumber primer sekalipun harus di uji kredibilitasnya. Naskah Wangsakerta yg tergolong sumber sekunder banyak mengandung kelemahan sehingga tidak dapat dipergunakan sebagai sumber sejarah.
    

    saya hanya ingin mencintai negeri ini dengan apa adanya, terlepas dari baik buruknya masa lalu kita :)

    terima kasih telah berbagi :top:
  • Gajah Mada merupakan tokoh sejarah yg teramat bodoh.
    Terbukti dengan adanya perang di pesanggrahan Bubat atau biasa dikenal dg Perang bubat,
    semua itu terjadi karena otak kerdil sang maha patih.
  • solobug menulis:

    Bagaimana kalo dilihat dari sudut netral atau keilmuan? :)

    sebagai manusia biasa, walaupun ilmuwan..
    sedikit banyak, pasti ada keberfihakan.. entah berfihak pada rakyat tertindas..
    atau malah berfihak pada penguasa dan golongan tertentu..

    ibaratnya kita nonton sepak bola..
    meskipun kita tidak ngefans sama kesebelasan yg sedang bertanding..
    bila kita tertarik dan terus menonton, kita pasti akan memihak kesalah satu kesebelasan..
    gak pernah ada orang nonton bola yg gak peduli siapa yg menang.. dia netral aja..
    atau tetap saja berteriak goal.. ketika gawang mana saja kemasukan bola..
  • THE ROCK menulis:
    ibaratnya kita nonton sepak bola..
    meskipun kita tidak ngefans sama kesebelasan yg sedang bertanding..
    bila kita tertarik dan terus menonton, kita pasti akan memihak kesalah satu kesebelasan..
    gak pernah ada orang nonton bola yg gak peduli siapa yg menang.. dia netral aja..
    atau tetap saja berteriak goal.. ketika gawang mana saja kemasukan bola..

    ah masa? ane dan teman-teman nonton street basketball selalu senang dan bersorak-sorak tuh ketika jaring mana saja kemasukan bola... :D
  • eniqma menulis:
    seperti halnya para pahlawan dan pendiri negara Amerika,
    mereka adalah pemersatu bangsa Amerika,
    dan penjajah benua Amerika.... :D

    Bener juga yah? :blah:
    Perlu dikoreksi juga tulisan saya diatas :grin:
    Tapi pada dasarnya hukum mereka sama untuk semua (de jure) meskipun pada faktanya taun 60an aja mereka masih melakukan praktek diskriminasi (tapi kalo sekarang faktanya presiden mereka dari minoritas)
    Niat mereka dulu ingin membuat orang indian lebih beradab (meskipun dengan cara biadab :blah: ) dan menurut saya apa haknya orang kulit putih menilai kebudayaan orang lain.

    Koyjunior menulis:
    Gajah Mada merupakan tokoh sejarah yg teramat bodoh.
    Terbukti dengan adanya perang di pesanggrahan Bubat atau biasa dikenal dg Perang bubat,
    semua itu terjadi karena otak kerdil sang maha patih.

    Terus terang saya masih bingung tentang kejadian perang bubat, apakah benar Gajah Mada melakukan itu karena tidak adanya sumber sejarah yang kredibel. Ada memang naskah Kidung Sunda dari bali tapi hanya dianggap sebagai karya sastra bukan sebagai sumber sejarah.

    Sayapun pernah ngepost pupuh yang bercerita tentang perang bubat, tapi hanya menceritakan kesedihan para istri bangsawan sunda dan tidak diketahui dibuat tahun berapa. ini pupuhnya :
    Enggalna Ratnayu Putri,
    sasambat ka Maha Katong,
    Ratu Sunda nu geus pupus,
    nu geus mulih ka jati,
    Duh Kangjeng Rama antosan,
    abdi pun Galuh rek bela.
    
    Rek Sumujud lahir batin,
    netepan unggal papakon,
    tuhu ka kersa Yang Agung,
    geus kitu enggal Nyi Putri,
    tuluy ngalugas kerisna,
    dibebener kana dada.
    
    Gejos Putri newek diri,
    pucuk keris nanceb jero,
    geus niir kana jajantung,
    golepak Ratnayu Putri,
    pupus sapada harita,
    geus mulih ka kalanggenan.
    
    Para istri nu ningali,
    petana Nyi putri Anom,
    rea nu pating rumpuyuk,
    bawaning paur hawatir,
    tingjarerit tingkoceak,
    ngalempreh kabarajaan.
    
    Nu kiat ngan Prameswari,
    netepan kana papakon,
    kandel iman tuhu pengkuh,
    istuning geus gilig galih,
    leungit nyaah kadunyaan,
    panteng paniatan
    

    Kelemahan budaya kita dulu adalah lebih mengutamakan budaya lisan daripada budaya tulisan, seperti ndan Aksan bilang bahwa dulu budaya tulisan hanya ada di istana dan kaum bangsawan saja. Akhirnya kita susah menemukan validitas sejarah kita :) .
    THE ROCK menulis:

    sebagai manusia biasa, walaupun ilmuwan..
    sedikit banyak, pasti ada keberfihakan.. entah berfihak pada rakyat tertindas..
    atau malah berfihak pada penguasa dan golongan tertentu..

    ibaratnya kita nonton sepak bola..
    meskipun kita tidak ngefans sama kesebelasan yg sedang bertanding..
    bila kita tertarik dan terus menonton, kita pasti akan memihak kesalah satu kesebelasan..
    gak pernah ada orang nonton bola yg gak peduli siapa yg menang.. dia netral aja..
    atau tetap saja berteriak goal.. ketika gawang mana saja kemasukan bola..

    kalo untuk urusan bola mungkin memang faktor subyetifitas akan berbicara, atau naskah sejarah yang multi tafsir kemungkinan subyektifitasnya akan ada meskipun tetap pada koridor keilmuan (lihat quote Gun FBI)

    Tapi kalo untuk urusan wajah Gajah Mada saya pikir kemungkinan subyetifitasnya sangat kecil karena sudah jelas :)
  • Dunia emank panggung sandiwara.......
    Hal yg palng baik adalah menjaga diri sendir dan selalu menanamkan perdamaian kepada siapa pun.
    Karena manusia sama semua di ciptakan Tuhan dari rahim seorang ibu.... tidak ada satu pun manusia
    yang di lahrikan oleh hewan atau pun pohon.

    Agama boleh beda.... ras boleh beda.... negara boleh beda .... tapi ingat kita tetap sama = [size=large][align=center]MANUSIA[/align][/size]

  • apakah kebohongan sejarah ini dibuat untuk kepentingan tertentu?
    siapa yang mendapat keuntungan dari kebohongan sejarah ini?
    :think:
  • iwan0808 menulis:
    Dunia emank panggung sandiwara.......
    Hal yg palng baik adalah menjaga diri sendir dan selalu menanamkan perdamaian kepada siapa pun.
    Karena manusia sama semua di ciptakan Tuhan dari rahim seorang ibu.... tidak ada satu pun manusia
    yang di lahrikan oleh hewan atau pun pohon.

    Agama boleh beda.... ras boleh beda.... negara boleh beda .... tapi ingat kita tetap sama = [size=large][align=center]MANUSIA[/align][/size]


    bahkan manusia paling "sempurna" pun berperang

    :)
  • membicarakan sejarah tidak akan ada habisnya.....
  • mastermime menulis:
    apakah kebohongan sejarah ini dibuat untuk kepentingan tertentu?
    siapa yang mendapat keuntungan dari kebohongan sejarah ini?
    :think:

    M. Yamin itu dikenal sebagai "maniac persatuan", beliau terobsesi dengan persatuan yang memang masih rapuh ketika Indonesia baru lahir. Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya terhadap jasa-jasa beliau terhadap bangsa ini, tindakan beliau mengklaim wajah Gajah Mada tetaplah salah karena akan mengaburkan nilai sejarah itu sendiri dan secara akademis tidak dapat dipertanggung jawabkan. :)

    tachikoma menulis:
    membicarakan sejarah tidak akan ada habisnya.....

    itulah bukti bahwa kita adalah mahluk yang tidak sempurna, tidak akan pernah menjadi maha tahu.

    Makanya setiap ada bukti baru manusia akan merevisi sejarahnya dan itu akan terus terjadi berulang-ulang :)
  • kenapa huruf 'o' itu 'o' dan kenapa huruf 's' itu 's' :stress:

    monggo silahkan dibahas, boleh secara filosophis, historis, clitoris maupun holobis kuntul baris :)
  • Mari kita bicara secara netral disini, tidak perlu emosional, dan kurangi opini dan jika perlu yang kita sampaikan hanya fakta.

    Pertama, sudah banyak yang menyebut M. Yamin (penulis sumpah palapa dan banyak lagi) disebut sebagai "pencipta mitos", jadi bahwa adanya Sumpah Palapa itu diragukan kebenarannya, lalu wilayah Majapahit pun tak seluas Nusantara, bahwa yang dikatakan upeti kepada Majapahit dari kerajaan2 lain tidak pernah terbukti, yang ada hanyalah ketika Majapahit punya Hajat, Kerajaan2 lain mengirimkan barang2 mewah atau apapun, cuman sebagai hadiah. Menegnai perang bubat, ini ada ulasan dari beberapa para Ahli :
    http://forum.kompas.com/nasional/71924-dusta-sejarah-kisah-ken-arok-perang-bubat-dan-sumpah-palapa.html

    dan terbukti pula beberapa "Mitos" (jika tidak mau disebut dengan kebohongan) M. Yamin, tentang SUmpah Pemuda (yang ternyata tak pernah disumpahkan.., atau pengakuan pencetus Pancasila oleh M. Yamin (sudah dibuktikan oleh beberapa tokoh termasuk Bung Hatta th 70'an)

    Sudah waktunya kita atau para Ahli Sejarah, mencoba menggalio dan meluruskan "SELURUH" sejarah yang pernah ada, banyak kejanggalan2, banyak yang tidak masuk logika, banyak yang terlihat sekali unsur politiknya. CMIIW
  • kalo perlu kejelasan akan suatu hal, harus diteliti terlebih dahulu (penelitian - research), gak bisa langsung opini / debat kusir (sori, hanya itu yang bisa menjawab kegelisahan kita semua). dan harus dilakukan oleh yang berkompeten (ahli sejarah, etc).
  • hmmm panjang juga bahasannya... yaa lumayan nambah sesuatu dari beda sisi...
Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Iklan & Promosi Anda


Order ads here. Click me to get price quotation! Monthly & Unlimited click!

Halo, Komandan!

Sepertinya anda baru di sini. Ingin ber-interaksi? Klik satu tombol ini!

Kategori