Contact Us

Bentrok Kayuagung Mencekam! Jejeran Kepala Manusia Diletakkan di Bak Truk

[size=large]Bentrok Kayuagung
Mencekam! Jejeran Kepala Manusia Diletakkan di Bak Truk[/size]

Sabtu, 23 April 2011 00:58 WIB


Bentrokan.jpg
Ilustrasi


[size=medium][align=justify]TRIBUNNEWS.COM, KAYUAGUNG - Suasana Desa Sungai Sodong hingga semalam mencekam, pasca terjadinya bentrokan antara warga dengan perusahaan perkebunan,

PT Sumber Wangi Alam (SWA) yang menewaskan sekaligus 7 orang dari warga 2 orang dan 5 orang karyawan perusahaan, Selasa (22/4/2011).

Korban tewas dari warga Sungai Sodong yakni, Indra Syafei (18) dan Matchan (21) itu, bagian kepala nyaris putus dan dihujani tembakan. Sedangkan dari pihak karyawan perusahaan yang tewas ada 5 orang yakni, Hambali, Sabar, Halis, Abdi serta Agus.

Dua korban terakhir kepalanya dipotong. Dan tragisnya potongan kepalanya tadi dijemur bak truk perusahaan secara berjejer.

Seperti diberitakan sebelumnya bentrokan terjadi antara warga dan pihak perusahaan. Kemarahan warga diduga akibat aksi dari pihak perusahaan yang lebih dulu menghabisi dua orang warga.

Pengamatan Sripo (Grup Tribunnews.com) di lapangan, di Desa Sungai Sodong Kecamatan Mesuji tadi, begitu mencekam.

Memang, warga sempat dihalangi oleh petugas untuk melintas dari jalur darat. Tetapi, warga berdatangan dari jalur sungai. Ketika, Sripo menginjakan kaki di Desa Sungai Sodong itu, disambut oleh warga yang sudah bersiap-siap dengan senjata tajam dan pedang di tangan maupun terselip dipinggang.

Tidak hanya itu, warga juga menyimpan senjata tajam mereka dipinggiran hutan untuk mengantisipasi serangan dari pihak perusahaan yang mengerahkan para preman bayaran.

Di rumah korban Indra Syafei dan Matchan tadi masih dipenuhi parakerabat, karena kedua korban rumahnya berdekatan hanya terpisah oleh jalan setapak. Apalagi kedua korban ini masih bersaudara. Jenazah Indra Syafei dan Matchan sebelum sholat Jumat sudah dimakamkan di pemakaman desa.

Setelah pemakaman warga masih berkumpul disekitar rumah korban. Ketika wartawan datang, mereka menyambutnya dengan baik.

Begitu ditanya mengenai kejadian berdarah itu, orang tua korban Ahmat Tutul menceritakan dengan gamblang. "Kejadiannya berawal anak saya ini hendak membeli sesuatu ke desa tetangga. Belum sempat membeli, motor anak saya dihadang oleh preman perusahaan dan terjadilah perkelahian dan akhirnya anak dan keponakan saya tewas dibunuh," kata Ahmad.

Warga yang mengetahuinya memberi kabar warga lain dan akhirnya warga berkumpul dan membawa kedua korban pulang. "Saya tidak tahu lagi pak selanjutnya," kata Ahmad.

Sementara itu, saat Sripo menuju perusahaan yang berjarak 4 kilometer yang ditempuh dengan jalan merah dan berlumpur. Disana tidak ada seorangpun karyawan yang berada di mess. Saat bentrokan kemarin, mess karyawan ini diobrak-abrik warga. Karyawan yang ada di sana kemudian dibunuh secara sadis. Badan diikat di tiang
listrik dan kepalanya dipotong.

Ada juga yang dibuang diperkebunan dengan kondisi sudah disemblih. Kepala karyawan yang disembelih tadi diletakan diatas bak mobil truk.

Mess yang kosong itu kini dijaga Sat Brimob Polda Sumsel Pimpinan Kepala Detasemen (Kaden) A Kompol M Rendra Salipu SIk.

Dari puluhan pintu rumah karyawan perusahaan tadi, semuanya dirusakdan dihancur. Hanya saja satu bangunan yang masih kokoh dan tidak dirusak oleh warga yakni, bangunan masjid. Kalau bangunan lainnyadipecah dan dirusak termasuk kendaraan yang ada di lokasi perusahaanyang ada dibakar hingga tinggalkan puing-puing saja.

"Semua rumah dan kendaraan yang ada disini dirusak warga. Dan ada yang lebih menyedihkan lagi, ada anak yang berusia 2 tahun menangis melihat orang tuanya sudah simbah darah darah didepan teras rumah dari pukul 14.00 hingga pukul 09.00 pagi," kata salah seorang polisi yang minta namanya tidak disebutkan.

Ahirnya lima jenazah berhasil dievakuasi petugas dan dibawa ke RSUD Kayuagung untuk diotopsi.[/align][/size]
«1

Komentar

  • [size=large]Masih Mencekam, Gubernur Sumsel Urung Datang ke TKP[/size]
    Sabtu, 23 April 2011 01:09 WIB


    Alex-Noordin.jpg
    Gubernur Sumsel, H Alex Noerdin


    [size=medium][align=justify]TRIBUNNEWS.COM, KAYUAGUNG - Gubernur Sumsel H Alex Noerdin dan pejabat terkait dari Forum Komunikasi Pemerintah Daerah (FKPD) batal berkunjung lokasi bentrok di OKI, tepatnya di Desa Sungai Sodong, Kecamatan Mesuji
    (OKI).

    Pembatalan itu terpaksa diambil lantaran ingin menenangkan situasi dan ketegangan warga. "Saya pesankan kepada pejabat di OKI agar jangan dahulu mengambil tindakan di situasi yang sedang panas saat ini. Jangan mengambil keputusan disaat perut sedang lapar," kata Alex kepada wartawan, Jumat (22/4/2011) malam.

    Menurutnya, saat ini Bupati OKI dibackup instansi terkait sedang berusaha mendinginkan situasi dan menenangkan emosi warga karena masalah persoalan lahan yang sudah lama dan tidak dituntaskan.

    Jadi, diharapkan jangan cepat mengambil kesimpulan tentang siapa yang bersalah atau siapa benar. Terpenting saat ini mendinginkan situasi agar lebih kondusif.

    "Pemerintah sudah mengambil langkah-langkah yang harus dilakukan. Namun untuk saat ini, tensi kedua pihak kita turunkan. Orang lagi panas diajak berunding, sangat tidak efektif. Jadi kita pantau, bukan kita biarkan," kata Alex Noerdin, seraya menambahkan, kepada keluarga yang kehilangan anggota keluarganya atau ada yang cidera, Pemprov Sumsel akan membantu sepenuhnya dan diberikan dana santunan.

    Menyikapi masih ada kasus sengketa pertanahan antara warga dengan perusahaan perkebunan di Sumsel agar bentrok tidak terjadi lagi di Sumsel, Alex mengatakan, sengketa pertanahan di Sumsel sudah tidak banyak lagi karena memang sudah ada yang diselesaikan. Dan yang tersisa, pemerintah daerah harus cepat menyelesaikan masalah pertanahan sehingga tidak menimbulkan konflik.

    "Itu semua bisa diselesaikan, asal tidak ada provokator. Memang ada perusahaan yang keliru, tapi perlu kita luruskan. Saya prihatin dengan
    kejadian dan jangan sampai terulang lagi," kata Alex Noerdin.

    Seperti diberitakan sebelumnya, terjadi bentrokan berdarah antara warga Desa Sungai Sodong Mesuji dan pihak karyawan PT Sumber Wangi Alam (SWA) yang menewaskan sekaligus 7 orang dari warga 2 orang dan 5 orang karyawan perusahaan, Selasa (22/4/2011).[/align][/size]
  • Jadi, diharapkan jangan cepat mengambil kesimpulan tentang siapa yang bersalah atau siapa benar. Terpenting saat ini mendinginkan situasi agar lebih kondusif.

    Indonesia banget..
    kenapa gak berani dan gak boleh ngambil kesimpulan?
    karena (kemungkinan) yg salah ya para pemimpin, para penegak hukum setempat..
    itu sebabnya Pak Gubernur bilang gitu.. dia yg takut disalahkan..
  • smoga bisa diselesaikan dengan cepat ...................
  • Hari gini masih jd preman.. :stress:
  • kurang cepat tanggap Polisi, atau aparat intel desa mestinya mencegah.
    sayang yah, babinsa, koramil dsb gak diberdayakan.
  • miskol menulis:
    [size=large]Bentrok Kayuagung
    Mencekam! Jejeran Kepala Manusia Diletakkan di Bak Truk[/size]

    Sabtu, 23 April 2011 00:58 WIB


    [size=medium][align=justify]TRIBUNNEWS.COM, KAYUAGUNG - Suasana Desa Sungai Sodong hingga semalam mencekam, pasca terjadinya bentrokan antara warga dengan perusahaan perkebunan,

    PT Sumber Wangi Alam (SWA) yang menewaskan sekaligus 7 orang dari warga 2 orang dan 5 orang karyawan perusahaan, Selasa (22/4/2011).

    Korban tewas dari warga Sungai Sodong yakni, [size=large]Indra Syafei (18) dan Matchan (21) itu, bagian kepala nyaris putus dan dihujani tembakan[/size]. Sedangkan dari pihak karyawan perusahaan yang tewas ada 5 orang yakni, Hambali, Sabar, Halis, Abdi serta Agus.

    [/align][/size]

    Wah...., tidak ada habisnya masalah preman, tidak di Jakarta (citibank) di daerahpun premanpun digunakan. Ada apa sebenarnya dengan Indonesia ? apakah aparat kepolisian sudah tidak berguna lagi di negeri ini ? apa instansi kepolisian hanya hiasan saja di negeri ini ? apa kepolisian tidak lebih berguna dari preman dalam hal PAM ? herannya setelah kejadian polisi yang disalahkan dan dibilang lalai (makan nangka kagak, kena getah iya). Kalau begitu mari kita deklarasikan saja INDONESIA ADALAH NEGARANYA PARA PREMAN. dari berita diatas yang bikin heran mengapa preman tersebut bisa memiliki senpi ya ? apa itu kebijakan dari perusahaan perkebunan tersebut ? atau para preman itu juga merangkap sebagai aparat negara ?

    @Sanyo, sepertinya susah bro, personal & perlengkapan babinsa/koramil di sebuah daerah terbatas, jadi lebih bijak kalau tanggungjawab mereka sampai batas menenangkan/negosiasi demi keselamatan mereka juga, dan mungkin kejadiannya begitu cepat sehingga tidak sempat BKO pasukan.

    :peace:
  • semoga permasalahan ini bisa cepat terselesaikan
  • miskol menulis:
    [size=large]Masih Mencekam, Gubernur Sumsel Urung Datang ke TKP[/size]
    Sabtu, 23 April 2011 01:09 WIB
    Menyikapi masih ada kasus sengketa pertanahan antara warga dengan perusahaan perkebunan di Sumsel agar bentrok tidak terjadi lagi di Sumsel, Alex mengatakan, sengketa pertanahan di Sumsel sudah tidak banyak lagi karena memang sudah ada yang diselesaikan. Dan yang tersisa, pemerintah daerah harus cepat menyelesaikan masalah pertanahan sehingga tidak menimbulkan konflik.

    lagi lagi alasan Klasik ..... SENGKETA TANAH ..... sama dengan kejadian 2 di daerah lain ...bentrok dengan TNI ... sama aja .... :nono:
  • bentrok/selisih pendapat itu biasa dan manusiawi. tapi kalo sampai membunuh apalagi sampe mencincang/memenggal kepala manusia lain itu sangat tidak manusiawi. hewan paling buas saja hanya membunuh untuk makan tidak untuk kepuasan. apa si pembunuh tidak merasakan tekanan moral setelah membunuh/berbuat sadis terhadap sesama? apa nurani kemanusiaan mereka sudah hilang?
  • masalah tanah....... orang2x rela mati demi tanah nya.............. saya pikir seharusnya perusahaan harus lebih ramah dengan orang lokal, bukannya memakai jasa preman untuk intimidasi :nono:
  • semoga berita ini cepat hilang,.,karna ga mungkin terselesaikan karna inilah Indonesia
  • Ulama juga harus turut serta mendamaikan..bukan turut terpanding emosi..
  • sepertinya sekarang ini begitu mudahnya orang menghilangkan nyawa sesama...bener2 kembali seperti jaman jahiliyah :(
  • Masalah tanah lagi, kayak nya uu
    agraria kita perlu dibenahi, supaya
    tidak pada masalah kayak begini....
  • miskol menulis:

    "Semua rumah dan kendaraan yang ada disini dirusak warga. Dan ada yang lebih menyedihkan lagi, ada anak yang berusia 2 tahun menangis melihat orang tuanya sudah simbah darah darah didepan teras rumah dari pukul 14.00 hingga pukul 09.00 pagi," kata salah seorang polisi yang minta namanya tidak disebutkan.

    Apa sudah tidak ada lagi perkemanusiaan di antara mereka ??? apa ini yang ingin mereka ajarkan kepada generasi penerus bangsa ??

  • [size=large]Desa Sodong OKI Masih Mencekam[/size]
    23 April 2011 17:18 WIB

    [size=medium][align=justify]KAYU AGUNG--MICOM: Situasi tiga hari pascabentrokan antara warga dan pihak PT Sumber Wangi Alam (PT SWA), kondisi Desa Sungai Sodong, Kecamata Mesuji, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatra Selatan (Sumsel), masih mencekam.

    Berdasarkan pantauan di lapangan, Sabtu (23/4), terlihat bangkai kendaraan operasional perusahaan satu mobil jeep Hilene, enam mobil tangki, dua dump truck rusak serta satu motor yang hangus dibakar massa. Tampak pula sejumlah perumahan karyawan dan kantor PT SWA rusak. Pintu rumah, kaca jendela dan isi ruangan berantakan.

    Satu kompi personel Brimob Polda Sumsel, Polres OKI, dan petugas Polsek Mesuji masih berjaga-jaga dengan senjata lengkap.
    "Sepertiga dari kekuatan Polres OKI didukung satu pleton Brimob dibantu anggota TNI masih ditempatkan dilokasi penyerangan untuk melakukan pengamanan sampai sistuasi kondusif," ujar Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sumsel Irjen Hasyim Irianto, Sabtu (23/4).

    Kapolda menambahkan, saat ini kondisi tempat kejadian perkara (TKP) sudah steril.

    Sedangkan, Kepala Kesbanglinmas OKI Sopian Ahmad meminta semua pihak tidak terpengaruh dengan aksi pihak yang tidak bertanggung jawab.

    "Apabila ada permasalahan dapat diselesaikan secara musyawarah dan mufakat," paparnya.

    Menurut Sopian, kejadian itu akibat kurangnya koordinasi antara perusahaan dan masyarakat sehingga terjadinya kesalah pahaman.

    Sementara itu, tujuh korban bentrokan sudah devakuasi ke Rumah Sakit (RS) Kayu Agung. Lima korban tewas merupakan karyawan PT SWA yakni Asisten Mandor PT SWA, Hambali,43, warga Sungai Sodong, Asiste Kebun, Ardi,46, warga Menang Raya Pedamaran, Haris Fadillah,23, warga Desa Mulya Guna Kecamatan Teluk Gelam, Satpam PT SWA, Akbar, serta satu korban belum diketahui identitasnya.

    Korban lainnya warga Sungai Sodong yakni Syafei, 18, dan Matcan bin Sulaiman, 21, telah dikebumikan keluarganya, Jumat (22/4).

    Seperti telah diberitakan, kejadian itu dipicu adanya 40 orang bayaran/preman yang disewa perusahaan untuk menduduki dan memanen lahan perkebunan sawit yang masih disengketakan antara PT SWA dan warga (status quo), Kamis (21/4).

    Sejumlah warga sempat mengingatkan orang-orang yang menjaga lahan itu, namun terjadi perselisihan dan terjadi tindak kekerasan hingga tewasnya dua warga.

    Warga lainnya kemudian mendatangi lokasi dan membawa mayat yang dilaporkan menjadi korban tindak kekerasan petugas perusahaan. Akhirnya puluhan warga mendatangi kantor perusahaan yang hanya berjarak beberapa kilometer dari perkampungan itu.
    Akibatnya, kantor perusahaan yang dijaga oleh beberapa satpam perusahaan dirusak dan amuk warga tersebut sulit dibendung sehingga korban tewas bertambah lima orang dari pihak perusahaan.

    Bentrokan diduga buntut dari rebutan lahan kebun kelapa sawit sekitar 1.200 hektare antara warga Desa Sungai Sodong dengan PT SWA.

    Lahan sawit itu diklaim merupakan milik warga, bukan milik perusahaan. Namun pihak perusahaan dengan menugaskan sekelompok orang yang diduga preman suruhan, tetap berusaha memanen sawitnya. [/align][/size]
  • Situasi emosi yang berakibat fatal
    harus ada tindakan cepat
  • miskol menulis:
    [size=large]Desa Sodong OKI Masih Mencekam[/size]
    23 April 2011 17:18 WIB

    [size=medium][align=justify]KAYU AGUNG--MICOM:

    Seperti telah diberitakan, kejadian itu dipicu adanya 40 orang bayaran/preman yang disewa perusahaan untuk menduduki dan memanen lahan perkebunan sawit yang masih disengketakan antara PT SWA dan warga (status quo), Kamis (21/4).

    Sejumlah warga sempat mengingatkan orang-orang yang menjaga lahan itu, namun terjadi perselisihan dan terjadi tindak kekerasan hingga tewasnya dua warga.


    Akibatnya, kantor perusahaan yang dijaga oleh beberapa satpam perusahaan dirusak dan amuk warga tersebut sulit dibendung sehingga korban tewas bertambah lima orang dari pihak perusahaan.

    Bentrokan diduga buntut dari rebutan lahan kebun kelapa sawit sekitar 1.200 hektare antara warga Desa Sungai Sodong dengan PT SWA.

    Lahan sawit itu diklaim merupakan milik warga, bukan milik perusahaan. Namun pihak perusahaan dengan menugaskan sekelompok orang yang diduga preman suruhan, tetap berusaha memanen sawitnya. [/align][/size]

    Sebaiknya bubarkan saja POLRI karena sudah tidak diperlukan lagi (yg diperlukan cukup preman saja) dan rubah negara kita sebagai negara PREMAN bukan lagi negara hukum karena hukum tidak berlaku di Indonesia (hukum hanya untuk pencuri jemuran, kakao, semangka, dll). tidak tanggung2 40 preman didatangkan perusahaan, ujung2nya yang korban masyarakat & karyawan/keluarga karyawan mereka sendiri.

    Sekali lagi, tidak di pusat/Jakarta (debt collector dengan citibanknya) tidak juga di daerah, semua serba main hukum sendiri, yang dipakai hukum rimba siapa kuat dia yang kuasa, siapa lemah silahkan jadi bulan2an. Lalu pemerintah kita kemana ya ? belum lagi mengambangnya masalah debt collector citibank di kepolisian, masihkan polisi tidak mengakui hasil autopsi Dr.Mun'im (yang selama ini jadi rujukan polisi) kalau telah terjadi kekerasan fisik pada irzen octa, jangan sampai hancur deh hukum di negara kita ini.
    REPUBLIKA.CO.ID, JAGAKARSA - Setelah sekitar 2,5 jam, otopsi ulang jenazah Irzen Octa selesai. Dari hasil otopsi ditemukan memar di tubuh akibat kekerasan benda tumpul.

    Dr Mun'in Idries mengatakan, memar ditemukan di sekujur tubuh. Diantaranya di bagian perut, dada dan tangan. "Memar itu masih ada," katanya seusai otopsi di TPU Srengseng Sawah, Jagakarsa Rabu (20/4).

    Dokter Forensik RSCM ini mengatakan, otopsi ini memang ditujukan untuk melihat apakah ada tindak kekerasan atau tidak. Selain otopsi secara keseluruhan, tim forensik juga memeriksa bagian-bagian tertentu. "Tempat yang biasa terjadi tindak kekerasan," katanya.

    Menilai hasil visum dokter lain sebelumnya, Mun'in mengatakan, mungkin memar ini belum ditemukan. Karena otopsi tidak difokuskan untuk mencari adanya tindak penganiyaan.

    Menurut Mun'in hasil otopsi akan bisa diketahui sekitar 1-2 minggu ke depan. Tim forensik juga mengambil beberapa bagian tubuh untuk dijadikan sampel.

    Sampel ini akan diteliti di laboratorium dan juga dengan proses mikroskopis. "Untuk konfirmasi sesuatu yang tadi belum jelas saat otopsi," katanya.

    'Jasad Irzen Okta Ditemukan Kekerasan di Dada, Perut & Tungkai Tangan'

    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Dokter forensik RSCM Mun'im Idris menegaskan bahwa otopsi ulang untuk mencari ada tidaknya tindak kekerasan. "Jadi misi otopsi ulang ini untuk mencari ada tidaknya tindak kekerasan yang menimbulkan luka pada korban. Itu kita temukan," tegas Mun'im usai melakukan otopsi di Jakarta, Rabu (20/4).

    Ditambahkannya, terkait visum sebelumnya dari dokter lain, mungkin belum menemukan adanya memar ini, dikarenakan itu otopsi standar. "Yang sebelumnya, tidak diarahkan untuk mencari adanya tindak kekerasan atau tidak. Karena jika ingin melihat itu, ada tempat-tempat khusus yang harus dilihat. Seperti telapak kaki atau di bawah kulit harus dikelupas. Itu yang kita lakukan sekarang," tambahnya.

    Dijelaskan Mun'im, ditemukan memar akibat kekerasan tumpul di tubuh jasad. Antara lain di dada, perut dan tungkai, tangan. ''Namun itu tidak menyebabkan kematian. Akan tetapi dapat memicu kematian. Sekali lagi misi otopsi ulang ini untuk mencari adanya tindak kekerasan. Hasil otopsi dapat diketahui setelah satu atau dua minggu," tegasnya.

    Menurut Mun'im, tim forensik juga mengambil sampel dari jasad. Diambil di beberapa bagian. Sampel seperti permukaan kulit dan lainnya. "Ini nantinya akan diperiksa di laboratorium dan ada yang diperiksa secara mikroskopis. Untuk konfirmasi, karena tadi ada yang jelas dan tidak saat otopsi," papar Mun'im.

    Hal diatas adalah bentuk keprihatinan saya pd negeri ini, hukum di negara kita adalah hukum rimba, yang kuat dialah yang benar (kuat dalam pengertian fisik, harta/dana, jabatan/posisi serta koneksi), Semoga bisa dimaklumi.


  • Mentang-mentang punya duit banyak, pake preman untuk menakuti warga, kalau warga sudah bersatu baru habis tuh preman, tapi yang disayangkan sepertinya yg jadi korban adalah karyawan & warga, patut disayangkan kenapa sekarang musyawarah untuk mufakat jarang terdengar lagi, yang ada langsung main hakim sendiri. :(
  • hmm..
    ada apakah dg ibu pertiwi..? :(
  • kapan bisa damai ya indonesiaku tercinta ini..:(
  • Pelajaran bagi perusahaan-2 besar yang tidak bisa merangkul orang daerah, semoga tidak terjadi lagi di daerah lain.
  • itulah kalau semua masalah tidak bisa diselesaikan dengan bicara....
    jangan tanya kenapa rakyat melakukan kekerasan..
    tanya langsung kepada pejabat daerah atau kepada katanya wakil rakyat...
  • susah kalo jasa preman sudah dipake, tambah ribet....
  • [size=large]pada demen banget sih bentrok kek gk ada kerjaan laen aja :bad:[/size]
  • semoga cepat diatasi...........................
  • hmmmmmm , lihat perkembangan lagi ,,,,,,, masih belum ada titittitik terang ,sepertinya pemerintah mau angkat tangan
  • Turut berduka cita

    semoga peristiwa seperti ini tidak trulang lagi

Tinggalkan sebuah Komentar

Komentar yg tidak sesuai judul atau numpang iklan (tersembunyi), akan dihapus atau banned. Gunakan signature untuk menaruh link promosi anda

Iklan & Promosi Anda


Order ads here. Click me to get price quotation! Monthly & Unlimited click!

Halo, Komandan!

Sepertinya anda baru di sini. Ingin ber-interaksi? Klik satu tombol ini!

Kategori