Contact Us

Anak Muda Pasca Masa Kemerdekaan Telah Alami Kemunduran Didikan S

2qnt9wl.jpg

Hal ini banyak sekali menyangkut perilaku ke-bergaulan antar manusia dengan segala bentuknya. Ada yang mempunyai pendidikan tuntas di dalam hal ini dan ada bahkan yang sebaliknya. Banyak asal usul kelakuan
manusia didapatkan dari "transmisi genetis" sebagai dasar mutlak. Tapi banyak tergantung dari 'waktu' yang bisa diluangkan untuk melaksanakan 'tambahan' pendidikan seperti itu.

Seperti adanya hal-hal yang berbau negatif bila tak dilaksanakan perbaikan kearah yang positif, maka dasar itu akan menetap di dalam perkembanganya. Untuk merubah hal itu akan sangat sulit bila kita tidak memperhatikan 'filosofi' bagaimana sang manusia itu berkembang dengan menetap serta dikatakan "mantap".

Filosofi itu, pada hakekatnya sudah diatur di dalam perkembangan secara tuntas yang sumbernya berada pada perkembangan "Jagad Raya" atau "Univers" itu sendiri. Tapi tanpa diatur kembali oleh "Keinginan Bebas" atau "Free Will" dari manusia itu sendiri, maka sifatnya akan tercampur dengan hal-hal yang menentang ketentuan-ketentuan yang seharusnya dapat dilestarikan pada nuansa yang lebih banyak 'positif'-nya daripada yang 'negatif'.

Manusia mengikuti suatu 'masa pengembangan' di dalam bilangan "Oktaf", suatu ketentuan di dalam bidang musik yang terdiri dari 7 'not' utama. Kita tak dapat keluar dari ketentuan ini sungguhpun ingin melaksanakanya. Vibrasi seperti itu sudah termasuk 'Ciptaan Baku' dari Yang Maha Kuasa. Kematangan primer terjadi di dalam tiga tahap dari tujuh tahun tersebut.

Pengasahanya yang didapatkan dari 'lingkungan' akan mermberikan lagi dua tahapan dimana manusia bisa dikatakan <Matang> dengan tuntas yang masih bisa di-'kategori-kan di dalam yang 'Positif' atau yang 'Negatif' (biasanya diukur melalui persentase). Disinilah akan dapat diketahui benar yang menyangkut 'masa pendidkan', karena pada patokan umur 'tigapuluh delapan tahun', seharusnya sosok manusia yang matang itu dapat di-'andal'-kan mengenai produktifitas serta sifat ke-sopan-santun-anya.

Bila diadakan suatu 'pemaksaan' atau penyimpangan dari suatu ketentuan (formula) 'Baku', maka sudah pasti akan terjadi 'masalah' yang akan sulit diperbaiki lagi. Mengapakah demikian? Untuk ini kita harus mempunyai kemampuan untuk melaksanakan suatu 'pengaruh' yang bukan melalui cara Verbal.

Performa verbal dikenal sebagai mengeluarkan bentuk gelombang emosi melalui penggunaan susunan kata-kata yang diucapakan dan merupakan pengertian akan suatu kalimat dengan harapan dapat diterima serta ditanggapi serta dimengerti oleh sesama kita.

Padahal kenyataanya adalah, bahwa semua bentuk cetusan pikiran 'sebelum' diucapkan mempunyai gelombang penimbulan yang sederhana dan akan mudah dimengerti serta ditangkap bila yang menerimanya mempunyai kemampuan dari penerimaan getaran subyektif–nya (penerimaan 'inti' yang merupakan 'vibrasi'). Bentuk seperti ini kini dapat dipelajari dan di-'induksi'-kan pada neuron-neuron "Pusat Pikir' (Brain).

Jadi, kembali pada pembentukan sifat 'sopan-santun' tersebut, kita dapat mengandalkan pendidikan itu kini melalui suatu cara pendidikan yang kini sedang 'marak' dengan sebutan <Pendidikan dengan sistim Subyektif>. Apakah maksudnya? Suatu pendidikan 'subyektif' menggunakan pengembangan dari potensi penggunaan <Otak Bagian Kanan> yang bermukim pada bilangan "sub-sadar", jadi pada 'bawah sadar' yang juga disebut "Nirsadar".

Hanya dengan demikianlah, maka kita dapat memupuk sifat 'sopan-santun' yang sudah pasti mempunyai "Mutu" tinggi. Bahwa banyak diantara kita kurang memahami hal ini, sangat tergantung dari suatu kondisi "Pikiran
terbuka" atau 'open mind' yang bebas dari ketentuan-ketentuan doktrin serta 'dogma'. Hilangkanlah cara seperti itu dan kita akan lebih bebas menggunakan "Free Will" yang dasarnya akan jauh lebih 'Positif' daripada kebalikanya!

Penulis harapkan bahwa apa yang dikemukakan ini dapat difahami dengan seksama oleh mereka yang termasuk orang tua 'muda' untuk ikut serta di dalam pembentukan generasi penerus dengan "Mutu Istimewa", yaitu mempunyai sifat sopan-santun tuntas, kepekaan intuitif yang selalu 'positif' dan mampu mepengaruhkan sifat-sifat itu pada suatu
lingkungan dimana pun mereka berada.

Bila seluruh umat manusia dapat mempunyai sopan-santun seperti yang diungkapkan dan dapat ditimbulkan melalui perhatian serta kewaspadaan tuntas, maka penulis melihat bahwa bentuk dunia akan mempunyai kebebasan dari 'kekerasan', kebrutalan' dan saling curiga-mencurigai yang dapat dihadirkan untuk selamanya, 'alias' "lepas pengawasan atau kontrol".

Marilah kita mengarahkan diri pada hal sopan-santun tersebut dengan mewaspadainya pada setiap peristiwa yang dapat timbul serta ditangkap, lalu diubah menjadi sesuatu yang memberikan dampak 'luhur' serta melestarikan sifat tersebut untuk selanjut- dan selamanya.

H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.
Lecturer dan Director/Coordinator, Indonesian Territory
Silva International Incorporation of The Silva Ultramind Esp System


http://www.indosiar.com/kolom/87884/anak-muda-pasca-masa-kemerdekaan-telah-alami-kemunduran-didikan-sopan-santun

Komentar

Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Iklan & Promosi Anda


Order ads here. Click me to get price quotation! Monthly & Unlimited click!

Halo, Komandan!

Sepertinya anda baru di sini. Ingin ber-interaksi? Klik satu tombol ini!

Kategori