Contact Us

Penjaga Merapi

[align=center][size=large]Kisah Penjaga Merapi[/size][/align]

[align=center]1242597620X310.jpg[/align]

Para petugas Pengamatan Gunung Merapi di saat bahaya erupsi ibaratnya seperti kapten sebuah kapal yang sedang tenggelam. Meski tahu tak ada yang bisa dicegah, para petugas itu pantang turun hingga detik terakhir. Bahkan, mereka tidak turun gunung sama sekali.

Ancaman awan panas bersuhu 600 derajat celsius dengan kecepatan sekitar 200 kilometer (km) per jam yang sewaktu-waktu bisa menerjang ke arah mereka seolah tak dihiraukan. Tentu, jika itu terjadi, dipastikan akan sangat sedikit waktu untuk mengelak.

”Kalau dibilang takut sih, ya jelas takut. Tapi, kalau saya takut, bagaimana tugas memantau ini? Bekal saya cuma doa dan pasrah,” ujar Triyono (44), salah satu petugas di pos Pengamatan Gunung Merapi (PGM) Kaliurang, Sleman, DI Yogyakarta, Senin (1/11/2010).

Bapak tiga anak ini telah bertugas selama 20 tahun di pos yang hanya berjarak sekitar 7 km dari puncak Merapi itu. Sebagai gambaran, instansi berwenang menetapkan radius bahaya primer Merapi minimal 10 km dari puncak.

Tanggal 26 Oktober lalu, kondisi pos PGM Kaliurang sangat mencekam, seperti daerah sekitar Merapi lainnya. Suasana gelap menjelang malam itu dikejutkan dengan beberapa kali gemuruh dan letusan keras dari puncak yang diikuti gelombang awan panas yang bergulung-gulung ke arah selatan, tak jauh dari tempat Triyono bertugas.

Triyono tetap tenang dan menjalankan tugasnya mengengkol sirene zaman Belanda selama 2 jam untuk memperingatkan warga. Triyono juga tetap melaporkan pengamatan visualnya kepada kantor pusat selama proses erupsi berlangsung.

Setelah erupsi berjalan sekitar 3 jam, barulah ia dan ketiga rekannya turun menyelamatkan diri. Itu pun setelah mendapat instruksi dari kantor Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta sebagai atasan mereka. ”Kami menyingkir hanya satu jam, setelah itu naik lagi untuk kembali bertugas,” kata Triyono.

Kecemasan keluarga atas nasibnya sudah tidak perlu ditanyakan lagi. Pasalnya, sejak berstatus Siaga pada 21 Oktober lalu, petugas PGM yang biasa berjaga bergiliran diharuskan berdinas penuh, tinggal di pos.

Tugas penting untuk memberikan informasi kepada masyarakat inilah yang dianggap Yulianto—satu dari tujuh petugas pengamatan di Pos Babadan, Magelang, Jawa Tengah—sebagai amanah yang harus dijalankannya sebagai petugas pos pengamatan.

Pos Pengamatan Babadan berjarak 3 km dari perkampungan terdekat di Desa Krinjing, Kabupaten Magelang, dan ”tetangga” terdekat pos hanyalah lahan pertanian warga dan semak-semak.

Namun, Yulianto mengaku tidak kesepian. Dia juga tidak pernah mengeluh atau membandingkan antara besaran gaji dan risiko pekerjaannya yang cukup berbahaya jika terkena awan panas Gunung Merapi.

Saat Merapi ”tenang”, bukan berarti pekerjaan meringan. Petugas PGM harus selalu menajamkan mata mengamati Merapi, baik dari dalam pos dengan teropong maupun dari atas menara. Meleng sedikit, apalagi tertidur saat jaga, bisa berakibat fatal.

[size=medium]Zaman Belanda[/size]

Petugas PGM mengemban tugas sebagai garda terdepan pengamatan visual Merapi, salah satu dari dua metode pemantauan aktivitas Merapi yang dilakukan BPPTK. Metode lainnya adalah pengamatan instrumental dengan peralatan canggih.

Pengamatan langsung Gunung Merapi merupakan metode paling sederhana dan telah digunakan sejak awal pemantauan gunung berapi teraktif di dunia itu pada masa kolonial Belanda abad ke-19.

Kala itu, karena belum adanya peralatan monitoring canggih menjadikan petugas PGM sebagai satu-satunya andalan untuk mendapatkan informasi mendetail seputar aktivitas Merapi. Telinga, mata, dan penciuman para petugas PGM menjadi alat utama untuk mendeteksi berbagai gejala Merapi, khususnya yang mengarah pada bahaya erupsi.

Selain PGM Kaliurang, Badan Geologi juga mendirikan empat pos lain mengelilingi Merapi, yakni di Jrakah, Ngepos, dan Babadan di wilayah Magelang serta Selo di Boyolali.

Setiap pos dijaga dua petugas, kecuali pos Babadan yang beranggotakan tiga orang. Saat krisis seperti sekarang, petugas ditambah 1-2 orang dari pos pengamatan gunung berapi lain. Jarak setiap pos dengan puncak Merapi bervariasi, dari yang terdekat 4,5 km (Babadan) dan terjauh 12 km (Ngepos).

Selain para petugas PGM, pemantauan aktivitas Merapi juga dilakukan warga biasa yang tergabung dalam komunitas radio yang tersebar di lereng-lereng Merapi. Salah satunya adalah komunitas Balerante yang bermarkas di Dusun Gondang, Kelurahan Balerante, Klaten. Anggota komunitas Balerante yang lebih dari 1.000 orang terdiri dari warga, relawan, aparat keamanan, hingga wartawan. Setiap hari, selama Merapi aktif, mereka terus mengabarkan situasi Merapi dari markasnya di Balerante, yang jaraknya hanya 4 km.

Ribuan orang, termasuk Keraton Yogyakarta, diam-diam mendengarkan live streaming di situs www.merapi.combine.or.id. Manager Bidang Media dan Pengetahuan Yayasan Combine Resource Yossy Suparyo mengatakan, mereka menyediakan server untuk menyatukan radio komunitas lereng Merapi. Inisiatif para relawan yang tergabung dalam jalinan informasi (jalin) Merapi membuat jangkauan radio komunitas Balerante yang berdasar aturan hanya 2,5 km menjadi tak terbatas.

Saking banyaknya orang yang mengakses live streaming posko Balerante 149.07, kapasitas server jalin merapi harus ditambah.

[size=large]sumber[/size]

Komentar

Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Iklan & Promosi Anda


Order ads here. Click me to get price quotation! Monthly & Unlimited click!

Halo, Komandan!

Sepertinya anda baru di sini. Ingin ber-interaksi? Klik satu tombol ini!

Kategori