Contact Us

Zakat Fitrah Dirupiahkan Jangan

[size=x-large]Zakat Fitrah Dirupiahkan Jangan[/size]
[size=x-small]Zaim Saidi - Direktur Wakala Induk Nusantara [/size]
[size=small]Penyempurna puasa Ramadhan adalah zakat fitrah makanan pokok. Merupiahkan zakat fitrah menghilangkan pengetahuan dasar muamalat. [/size]


insideZakatFitrah.jpg


Dari segi ketaatan dalam membayar zakat fitrah kaum Muslim, sejak zaman dulu hingga kini, agaknya tidak pernah ada masalah. Berbeda halnya dengan zakat mal, yang diwajibkan pada harta uang (dinar dan dirham), hewan peternakan, serta hasil pertanian dan perkebunan tertentu, yang sejak sepeninggal Rasulullah SAW, telah banyak yang membangkang. Boleh dikatakan, bagi umat Islam di Indonesia, membayarkan zakat fitrah bahkan dirasakan sebagai bagian kegembiraan mengakhiri Ramadhan dan menyambut idul fitri.

Sampai beberapa tahun lalu masyarakat muslim di Indonesia membayarkan zakat fitrah dengan beras, karena makanan pokok kita umumnya adalah beras, kecuali di daerah tertentu seperti Madura atau sebagian Indonesia Timur, yang makanan pokoknya jagung atau sagu. Di sana zakat fitrahnya mengikuti makanan pokoknya, jagung atau sagu. Tetapi, entah siapa yang memulai, dan kapan terjadinya, semakin kebelakang, semakin banyak orang membayarkan zakat fitrah tidak dengan makanan, melainkan diganti dengan uang (rupiah).

Saat ini, misalnya, banyak panitia penerima zakat fitrah menyetarakan kewajiban berzakat fitrah dengan uang senilai Rp 20-Rp 25 ribu/kepala. Ini merupakan penyimpangan dari ketentuan fikih. Karena itu, tulisan ini ingin mengingatkan agar umat Islam kembali mentaati ketetapan tentang zakat fitrah: dibayarkan hanya dengan makanan, sesuai dengan yang dikonsumsi masyarakat setempat.

Dari Imam Malik sampai Syekh Al Banjari

Dalam Kitab Al Muwatta, Imam Malik, meriwayatkan:
Yahya meriwayatkan kepadaku dari Malik dari Zaid bin Aslam dari Iyadl bin Abdullah bin Sa'd bin Abu Sarh Al 'Amiri, Bahwasanya ia mendengar Abu Sa'id al Khudri berkata, "Kami mengeluarkan zakat fitrah satu sa' barley [sejenis gandum], atau satu sa' gandum, atau satu sa' kurma, atau satu sa' keju, atau satu sa' kismis. Itu berdasarkan ukuran sa' nabi sallallahu 'alayhi wasallam."

Dari riwayat ini, dan yang menjadi amal umat Islam dari zaman dahulu, jelas bahwa zakat fitrah hanya dikenakan pada makanan, sesuai kondisi setempat. Di Madinah, atau di Hijaz umumnya, barley dan gandum, yang merupakan golongan tepung-tepungan dan biji-bijian, adalah makanan utama; selain itu kurma dan kismis, dua jenis makanan golongan buah-buahan kering; lalu keju, sebagai bentuk pembayar zakat fitrah lain, dari golongan produk susu.

Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, ulama kita di abad 18, artinya hidup 1100 tahun sesudah Imam Malik, dalam kitab fikih Sabil al-Muhtadin, sebuah kitab fikih yang luas dipakai di Nusantara, Thailand, bahkan sampai Kamboja, menyebutkan benda yang dikenai kewajiban zakat fitrah ini dengan istilah qut artinya "makanan yang mengenyangkan", jadi tidak sepenuhnya hanya "makanan pokok", sebagaimana yang kita kenal sekarang. Syekh Al Banjari menyebutkan, "Dan wajib keadaan fitrah itu daripada jenis qut [makanan yang mengenyangkan] yang ghalib [lazim] pada tempat yang difitrahi ia."

Jadi, zakat fitrah tidak ada urusannya sama sekali dengan harta uang, baik itu dinar emas, dirham perak, ataupun uang kertas, yang lazim kita kenal sekarang. Baik di zaman Imam Malik maupun zaman Syekh Al Banjari. Maka, sangat jelas bahwa membayarkan zakat fitrah dengan uang kertas, merupakan sebuah absurditas, karena kita melaksanakan sesuatu yang tidak ada relevansinya sama sekali dengan yang ditetapkan. Ini merupakan penyimpangan yang sangat fatal.

Sementara pihak memberikan alasan yang tampaknya dibuat-buat untuk membenarkan pembayaran zakat fitrah dengan uang, semisal kepraktisan, apalagi membawa-bawa kepentingan si mustahik, semisal "biar ada keleluasaan dalam menggunakannya, karena kebutuhannya kan tidak selalu berupa beras." Tetapi, persoalan kita adalah, dalam urusan ibadah semacam ini, apa yang hendak kita lakukan: mentaati perintah Allah SWT dan Rasul-nya SAW, dengan menjalankan perintah dan contoh amal yang telah ada, ataukah mengikuti kemauan dari nafs kita sendiri, dengan alasan apa pun?


<bersambung>

Komentar

  • Hilangnya Pengetahuan dan Amal Muamalat

    Tanpa kita sadari, sikap menggampangkan sebuah ketetapan syariat seperti halnya dalam soal zakat fitrah ini, membuat kita semakin jauh meninggalkan Islam sebagaimana diajarkan oleh Rasul SAW. Praktek menguangkan zakat fitrah ini membawa implikasi luas, bukan sekadar penyimpangan hukum saja, tetapi dalam kehidupan sosial politik umat Islam secara mendasar. Mulailah dari yang sederhana. Ketika zakat fitrah dirupiahkan umat Islam kehilangan satu pengetahuan mendasar dalam muamalat yakni soal takaran (dan timbangan). Berapa banyak di antara Muslim saat ini yang mengetahui makna 1 sa' itu?

    Satu sa', yang oleh Nabi SAW, disebut sebagai 'takaran Madinah', adalah 4 mudd. Satu mudd adalah setangkup dua tangan orang dewasa. Di Nusantara dulu 1 sa' disebut sebagai 1 gantang. Kalau disetarakan dengan takaran modern, yakni liter, 1 sa' setara sekitar 2.035 liter. Ada juga yang menyetarakan sampai sekitar 2.5 liter.

    Hilangnya pengetahuan tentang takaran, dan sudah pasti diikuti dengan hilangnya pengetahuan tentang timbangan, yang oleh Rasul SAW disebutkan sebaga 'timbangan Mekah', memberikan implikasi lanjutan yang sangat serius. Umat Islam kehilangan pengetahuan mendasar tentang 'nilai' dan cara mengevaluasi atau mengukur nilai, yang hanya diajarkan melalui dua cara tadi, yaitu�: 'ditakar dengan takaran Madinah' atau 'ditimbang dengan timbangan Mekah.'

    Berapa banyak Muslim yang masih mengerti makna mengukur nilai dengan 'takaran Madinah dan timbangan Mekah' ini? Dan bahwa, dari ketentuan ini, kita akan sampai pada pengetahuan bahwa nilai, bila dipertukarkan kita sebut sebagai harga, haruslah diukur hanya dengan (dinar) emas dan (dirham) perak, yakni unit yang dimaksud dengan 'timbangan Mekah'?

    Dari pengetahuan dasar ini masyarakat akan sampai pada pengetahuan bahwa uang, sebagai alat tukar, haruslah memiliki nilai intrinsik, agar keadilan pertukaran (perdagangan) dapat dicapai. Dan dari sini umat Islam akan tahu bahwa nilai nominal (pada uang kertas) adalah fantasi, yang jadi alat mengelabui, semata Dan, lebih jauh lagi, dengan pengetahuan ini semua umat Islam akan kembali mengerti yang dimaksud dengan riba secara benar.

    Secara fitrah pengetahuan datang, bertahan, dan diwariskan melalui amal. Karena itu, ketika amalnya dihentikan, pengetahuan itu pun ikut hilang. Karena itu, sekali lagi, dalam hal zakat fitrah, marilah kita kembalikan amalnya seperti semula, agar pengetahun yang telah hilang ini kembali. Meskipun, atau justru karena itulah, ada pihak-pihak tertentu yang menghendaki hilangnya amal dan pengetahuan ini.
  • kalo di kebiasaan sekarang umumnya orang membayar zakat fitrah dengan uang yg setara dengan harga 2.5kg beras yg layak konsusmsi, kemudian oleh amil zakat masjid uang tersebut baru ditukarkan dengan beras
  • vladivostox menulis:
    kalo di kebiasaan sekarang umumnya orang membayar zakat fitrah dengan uang yg setara dengan harga 2.5kg beras yg layak konsusmsi, kemudian oleh amil zakat masjid uang tersebut baru ditukarkan dengan beras

    [align=justify]beraskan harganya bervariasi, kmaren pas bayar zakat pihak amil mengatakan sesuai dengan harga beras yang dikonsumsi sehari - hari.....!!! :think: :think:

    Ane malah kurang pengetahuan mengenai zakat Fitrah...?!!

    Skalian mo tanya...!!
    Bolehkan kita membayar zakat fitrah diatas kewajiban...!!!? misalnya beras 2,5 kg...!!! klo mo 2,51 kg boleh g'..?!! :think:


    Dari share dari TS TSB diatas...!! ;)
    ane G' kebayang klo nantinya semua pada nyumbang beras... :think: contoh di Jakarta, penduduknya banyak sekali.... Takutnya malah kaga' muat Mesjidnya klo pada ngasih beras...!!! :think:

    Kira - kira gimana...?!! :think:
    [/align]
  • boleh donk blanks... lebih banyak justru lebih baik... sisahnya kan bisa jadi sedekah :D

    klo ane pake duit... soalnya ane ragu mau bayar zakat atau tidak
    maklum ane anak kuliahan dan jauh dari ortu.. biasanya sih dibayarkan ortu disana
    jadinya ane bayar pake duit saja... :Wait:
    dosa gak yah :(
  • [size=large]Inti dari Zakat Fitrah adalah untuk di salurkan kepada Fakir Miskin, maksudnya yang namanya Fakir Miskin pasti jarang makan makanan pokok sehari hari yg kita makan, nah untuk membuktikan bahwa kita peduli kepada Fakir Miskin, maka diwajibkan kita membayar Zakat Fitrah.

    Dan ada maksud tertentu untuk ini, minimal dalam satu tahun para Fakir Miskin ikut menikmati apa yang dinikmati oleh orang yang mampu,
    Makanya idealnya di sesuaikan apa yg kita makan tiap hari sangat pas.
    Jadi kalu di bilang beras itu karena sebagian besar penduduk kita makan nasi/ beras.

    Kalau kita zakat dengan uang misalnya dan oleh amil zakat di belikan kebutuhan untuk kebutuhan beras misalnya, mungkin sah sah saja, kalau yang diserrahkan uangnya, mesti tanya ahlinya..

    Jujur selama ini saya selalu bayar pakai uang untuk zakatnya.
    [/size]

  • bLankz menulis:
    vladivostox menulis:
    kalo di kebiasaan sekarang umumnya orang membayar zakat fitrah dengan uang yg setara dengan harga 2.5kg beras yg layak konsusmsi, kemudian oleh amil zakat masjid uang tersebut baru ditukarkan dengan beras

    [align=justify]beraskan harganya bervariasi, kmaren pas bayar zakat pihak amil mengatakan sesuai dengan harga beras yang dikonsumsi sehari - hari.....!!! :think: :think:

    Ane malah kurang pengetahuan mengenai zakat Fitrah...?!!

    Skalian mo tanya...!!
    Bolehkan kita membayar zakat fitrah diatas kewajiban...!!!? misalnya beras 2,5 kg...!!! klo mo 2,51 kg boleh g'..?!! :think:


    Dari share dari TS TSB diatas...!! ;)
    ane G' kebayang klo nantinya semua pada nyumbang beras... :think: contoh di Jakarta, penduduknya banyak sekali.... Takutnya malah kaga' muat Mesjidnya klo pada ngasih beras...!!! :think:

    Kira - kira gimana...?!! :think:
    [/align]


    para amil biasanya sudah punya gambaran tingkat ekonomi warga sekitar masjid dan juga tau harga pasaran beras terendah-tertinggi, jadi jumlah uang biasanya di tetapkan menurut pertimbangan tersebut.

    contoh di masjid komplek rumah saya uang yg ditetapkan untuk 2.5kg beras adalah 18.000 rupiah, tp di masjid luar komplek ada yg 16.000 lain lagi di komplek yg lebih elit rata-rata 20.000 rupiah untuk 2.5kg beras.

    untuk timbangan zakat memang sebaiknya dilebihkan karena takutnya timbangan rumah/pasar berbeda dengan timbangan amil, toh klo ngasih lebih dihitung infaq/sedekah, daripada kurang bisa2 malah ga sah zakatnya. untuk uang pun begitu walaupun zakatnya 18.000 tp rata-rata orang klo ngasih pake duit 20.000 kembalian ga diambil, buat infaq katanya.
  • dari sekian banyak hadits yang menceritakan mengenai zakat fithrah, semuanya menceritakan mengenai mengeluarkan zakat berupa makanan pokok.

    tergantung dari sang pembayar zakat, kalo makanan pokoknya beras, ya keluarkan beras. kalau gandum, ya keluarkan gandum. kalau jagung atau sagu, ya keluarkan sesuai dengannya.
    kemudian zakat ini diterimakan kepada yang berhak berupa makanan pokok.

    hlah, apa iya ada orang yang makanan pokoknya uang...???!!

    zakat fithrah tidak harus diserahkan ke pengepul (udah kaya pemulung aja ya...:ngakak: ), tetapi bisa kita langsung memberikan kepada yang berhak, syaratnya paling telat sebelum sholat hari raya.
    kalau orang sudah menyatakan sanggup jadi pengepul zakat, ya memang harus menyediakan tempat dan lokasi yang memadai. dan merupakan tanggung jawab dia untuk mengelolanya dengan benar.
    toh, mereka pun berhak menerima bagian zakat karena dari golongan amil zakat.

    ini berbeda dengan zakat maal. kalau ini memang yang dikeluarkan adalah dari harta kita, emas, perak, uang. ya yang dikeluarkan berupa uang.

    sejauh ini, belum pernah melihat dasarnya mengubah zakat fithrah menjadi uang, mungkin ada ndan / ndin yang tahu mohon di share ya.........maklum masih belajar juga nih ....:)
  • wah nambah ilmu ane lg ni... :nicethread:
  • Setuju bayar zakat fitrah pakai beras ..... :)
  • menurut gw jakat fitrah tiu lebih afdhol pake makanan ... tapi bukan berarti uang ga boleh ... toh si mustahiq juga lebih seneng nerima uang ... coba pikir aja gan dengan uang si mustahiq bisa lebih leluasa memilih makanan apa saja yang dia inginkan ... coba pikir lagi klo seandainya jakat fitrah pake beras semua .... sementara si mustahiq ga punya lauk pauk nya ... emang enak ya makan nasi ga pake lauk ???

    misal jakat fitrah dengan uang rp 18.000 ... si mustahiq bisa beli beras + lauk pauknya kan ...

    artinya jangan dibikin susah lah ...

    itu menurut gw sih ... klo salah minta maaf nd tolong benerin ... makasih
  • sunting Agustus 2017
    untuk yang mengelola zakat harus cari yang jual timbangan lantai untuk memastikan timbangan sesuai
  • Jaman saat ini lebih dibutuhkan dalam berbentuk uang ketimbang makanan...

Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Halo, Komandan!

Sepertinya anda baru di sini. Ingin ber-interaksi? Klik satu tombol ini!

Kategori