Contact Us

ada ayat alquran yg hilang? Ternyata di-Revisi (part 2)

lanjutan dari part 1

langsung ke contoh konkret ya,
daripada bahas teori nanti malah OOT

1. Lafadz Tetap Hukum Dihapus

Contohnya adalah ayat tentang kewajiban shalat malam buat umat Islam QS. Al-Muzzammil: 1-3
ayat tersebut dihapus oleh ayat QS. Al-Muzzammil: 20

Contoh lainnya, QS. Al-Baqarah: 284 dihapus oleh QS. Al-Baqarah: 286
Ada ayat Quran yang menyebutkan bahwa ada yang tersirat di hati meski tidak dipraktekkan,
termasuk juga yang akan dihisab oleh Allah.
Bayangkan, betapa beratnya ketentuan itu.
Jadi kalau ada orang sekedar ingin melakukan maksiat, meski belum melakukannya, sudah dihitung dosa.
Tetapi sekarang tidak lagi, kita hanya mendapat balasan atas apa yg kita lakukan

2. Lafadznya Dihapus Tapi Hukumnya Tetap

Dalam syariah Islam, laki-laki atau wanita yang telah menikah tapi melakukan zina, hukumannya adalah hukum rajam. Tapi di Al-Quran, ayat tentang rajam ini tidak kita dapatkan. Yang ada hanya hukum cambuk sebanyak 100 kali.

[align=center]Wanita dan laki-laki yang berzina maka jilidlah masing-masing mereka 100 kali.(QS. An-Nuur: 2)[/align]

Ternyata kita tahu dari Sayyidina Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu bahwa dahulu ternyata pernah turun ayat khusus yang isinya perintah untuk merajam pezina. Bunyi ayatnya sebagaimana beliau riwayatkan adalah:

[align=center]Laki yang sudah menikah dan perempuan yang sudah menikah apabila mereka masing-masing berzina, maka rajamlah sampai mati.[/align]

3. Lafadz dan Hukumnya Dihapus

Contohnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah r.a. dia berkata:

[align=center]Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, "Dahulu pernah diturunkan ketentuan yang mengharuskan minimal sepuluh hisapan susu sehingga ia (ibu susuan)menjadi mahram (anak susuan), kemudian dihapus dengan hanya lima hisapan saja yang diketahui(ma’lum).[/align]

Banyak lagi ayat yang diubah dalam penyusunan Al-Qur'an,
tetapi tidak akan kita bahas semua disini, karena nantinya malah semakin rumit.
Yuk, kita diskusikan dulu yang sedikit ini,
TS harap, dari sedikit contoh diatas, banyak yang tertarik membahas ini lebih lanjut :top:

Itu belum termasuk penyusunan ayat Al-qur'an dan penerjemahan
yang ternyata nabi Muhammad SAW tidak pernah menentukan satu ayat harus ditempatkan di mana dan di surat apa,
melainkan itu sepenuhnya adalah atas inisiatif dari para penyalin Quran, dan banyak terjemahan yang ditambahkan atau dikurangi, contohnya yang biasa kita lihat dengan tanda kurung "(..)".

[size=large][align=center]ternyata tidak hanya al-kitab tetangga,
Al-Qur'an pun telah melalui proses editing dan revisi

:peace:[/align][/size]
«1

Komentar

  • kasihan nih thread....saya bandul yah...:D
    masalahnya ini bahas sesuatu yang gimanaaa gitu yaaa.....hehehe

    sebenarnya bukan di edit/revisi.....tapi begitulah tafsir.
    yang tidak bakal berubah itu adalah esensinya....jadi manusia yang mengkaji kitab suci bukan membaca loh....cari yang pandai baca mah banyak,tapi yang pandai mengkaji?tak semua orang berani.

    nah setiap makhluk punya esensi masing2(sesuai dengan Qadha dan Qadar makhluk).
    mau diakalin(ditambah/dikurangin satu kata) itu ke-tahu-an(tapi yang tahu cuma Allah dan rasul allah tentunya) ....bukan berarti editan atau revisi,tapi yah begitulah...

    hewan bertasbih,tumbuhan bertasbih,jin bertasbih,malaikat bertasbih....tentunya mereka juga membaca kitab Allah,tapi ya begitulah.....

    yah dipindahin.....dah kepalang ditulis(itu pendapat saya).....selanjutnya silahkan bagi rekan2 dah ngelanjutin.

    sekalian silaturahim :D
  • yg nge-Post mang pernah meng-kaji dimana aja?...
  • @brainwashed
    dalam proses pembukuan di masa Ali,
    tidak sedikit kata-kata yang di"hilangkan"
    apakah itu tidak termasuk "revisi"?

    belum lagi tanda baca dan huruf yang berbeda dalam cetakan Indonesia dan Madinah,
    sehingga jika mencocokkan dengan kode enkripsi Al-Quran yang asli
    menjadi banyak kesalahan, walaupun tidak merubah esensi...

    ya ane sih jujur aja, memang ini apa adanya,
    Al-Quran ternyata sedikit mengalami pergeseran dari aslinya (rasulullah SAW)

    @bimasoft
    mengaji ya dimana saja, tentu bukan tempat yang dilarang (kamar mandi misalnya)
    dalam bahasa Indonesia, huruf KTSP melebur ketika bertemu imbuhan me-
    kecuali huruf setelah KTSP adalah huruf konsonan
    misalnya kikis menjadi mengikis, kira menjadi mengira,
    jadi bukan meng-kaji, tapi mengaji... :top:

    @momod
    lho kok pindah diskusinya
    ga asik nih.... :(
  • @ mastermime,

    Ma'af ya saya pindah ke NI,
    karena pembahasan ini harus dibahas berdasarkan kajian ilmu yang serius - ini Al Qur'an lho yang kamu bahas, ...
    Kalau teman teman diluar islam ikut rembug soal ini, saya khawatirkan ujung ujungnya akan menjadi fitnah,
    apa itu yang kamu harapkan ?
  • ..dasar2 kajian dan buktinya dulu mungkin yg harus diperjelaas oleh TS sampai TS bisa menganggap ayat2 di atas berubah.....
  • Wah harus dengan ilmunya yang mumpuni ini......kalo sekedar omong doang. Medingan gak usah di bahas. buang buang energi dan waktu dan tidak menambah pengetahuan. Apalagi kalo cuma katanya.......yah yah yah. Monggo silahkan yang merasa berilmu. Saya menyimak saja. Ok.

    TS nya sudah menguasai ilmu apa saja ya kira kira yang berhubungan dengan Al quran?
  • ngikut dulu keman arus berjalan , monggo disundul
  • 5551272 menulis:
    @ mastermime,

    Ma'af ya saya pindah ke NI,
    karena pembahasan ini harus dibahas berdasarkan kajian ilmu yang serius - ini Al Qur'an lho yang kamu bahas, ...
    Kalau teman teman diluar islam ikut rembug soal ini, saya khawatirkan ujung ujungnya akan menjadi fitnah,
    apa itu yang kamu harapkan ?
    yang ingin mime tunjukkan ya kebenaran,
    jangan sampai kita terus-terusan menghina agama lain
    sehingga lupa mempelajari sejarah agama sendiri :top:

    jika kita berani mendebat kekurangan dan kesalahan agama orang lain?
    kenapa kita tidak berani mendiskusikan kebenaran agama sendiri?

    ya bukan masalah sih mau room mana,
    moderator pasti lebih paham soal ini,
    yang penting berguna bagi orang lain :)
    a_w menulis:
    Wah harus dengan ilmunya yang mumpuni ini......kalo sekedar omong doang. Medingan gak usah di bahas. buang buang energi dan waktu dan tidak menambah pengetahuan. Apalagi kalo cuma katanya.......yah yah yah. Monggo silahkan yang merasa berilmu. Saya menyimak saja. Ok.

    TS nya sudah menguasai ilmu apa saja ya kira kira yang berhubungan dengan Al quran?

    ana masih nubie soal ini,
    banyak yang lebih paham soal Al-Quran dibanding ana
    tapi, apakah harus lulusan ahli nuklir untuk mengajarkan atom dan reaksinya?
    bisa-bisa guru SMP SMA sekarang dipecat semua, karena tidak ada yang ahli :think:

    Masalah nasakh dan mansukh adalah masalah ilmu ushul fiqih.
    Maka kalau antum pengen tahu lebih lanjut, pelajarilah ilmu ushul fiqih.
    Ada bnyk buku yang bicara tentang ilmu ini,
    tp sayangnya agak jarang penerbit buku Islam yang menerjemahkan ini :(

    kalau banyak yang tertarik,
    mari kita diskusikan dan pelajari bersama
    insya Allah tidak ada ruginya mempelajari nasakh dan mansukh

    tetapi, sekiranya dianggap berbeda
    ana menerima keputusan bersama :)
  • mastermime menulis:
    lanjutan dari part 1

    langsung ke contoh konkret ya,
    daripada bahas teori nanti malah OOT

    1. Lafadz Tetap Hukum Dihapus

    Contohnya adalah ayat tentang kewajiban shalat malam buat umat Islam QS. Al-Muzzammil: 1-3
    ayat tersebut dihapus oleh ayat QS. Al-Muzzammil: 20

    Contoh lainnya, QS. Al-Baqarah: 284 dihapus oleh QS. Al-Baqarah: 286
    Ada ayat Quran yang menyebutkan bahwa ada yang tersirat di hati meski tidak dipraktekkan,
    termasuk juga yang akan dihisab oleh Allah.
    Bayangkan, betapa beratnya ketentuan itu.
    Jadi kalau ada orang sekedar ingin melakukan maksiat, meski belum melakukannya, sudah dihitung dosa.
    Tetapi sekarang tidak lagi, kita hanya mendapat balasan atas apa yg kita lakukan

    Sori saya potong2 Post biar enak bahasnya.
    Utk QS Al-Muzzammil: 1- 4 (bukan 1-3 spt yang mime sebutkan) hukumnya dihapus oleh ayat QS Al-Muzzammil: 20.
    Ini Asbabun Nuzulnya

    'Aisyah meriwayatkan bahwa saat turun QS, Al-Muzzammil: 1-4, kaum muslim melaksanakannya dengan tekun, sehingga kejadiannya berlangsung selama satu tahun. Kaki merekapun menjadi bengkak-bengkak. Untuk memperingati mereka bangun malam dan mempersingkat bacaan mereka Allah menurunkan QS Al-Muzzammil:20 (HR.Hakim)


    Jadi tdk ada yang merubah ayat Al Quran

    utk QS Al-Baqarah: 284 hukumnya dihapus oleh QS Al-Baqarah: 285 (bukan QS Al-Baqarah: 286 spt mime sebutkan)
    ini Asbabun Nuzulnya

    Menurut Abu Hurairah pada saat turun QS Al-Baqarah: 284 para sahabat mersa sedih. Mereka mendatangi Rasulullah, berlutut, lalu berkata 'Wahai Rasulullah, kami tdk sanggub melaksankan ayat ini (QS Al-Baqarah: 284). Rasulullah bersabda, ' Apakah kalian ingin mengatakan spt yang dikatakan Ahli Kitab sebelum kalian, 'Kami mendengar dan kami mengingkari? 'Namun katakanlah 'Kamimendengar dan taat, ampunilah kami ya Tuhan Kami. Dan kepada-Mu lah tempat kembali. Setelah sahabat terbiasa dengan bacaan tadi,lalu turunlah QS Al-Baqarah: 285. (HR. Ahmad, Muslim dan lainya)


    Jadi tdk ada ayat Al Quran yang dirubah oleh manusia
    mastermime menulis:
    2. Lafadznya Dihapus Tapi Hukumnya Tetap

    Dalam syariah Islam, laki-laki atau wanita yang telah menikah tapi melakukan zina, hukumannya adalah hukum rajam. Tapi di Al-Quran, ayat tentang rajam ini tidak kita dapatkan. Yang ada hanya hukum cambuk sebanyak 100 kali.

    [align=center]Wanita dan laki-laki yang berzina maka jilidlah masing-masing mereka 100 kali.(QS. An-Nuur: 2)[/align]

    Ternyata kita tahu dari Sayyidina Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu bahwa dahulu ternyata pernah turun ayat khusus yang isinya perintah untuk merajam pezina. Bunyi ayatnya sebagaimana beliau riwayatkan adalah:

    [align=center]Laki yang sudah menikah dan perempuan yang sudah menikah apabila mereka masing-masing berzina, maka rajamlah sampai mati.[/align]


    Ada jawabannya di part 1 post No 17

    mastermime menulis:
    3. Lafadz dan Hukumnya Dihapus
    Contohnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah r.a. dia berkata:

    [align=center]Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, "Dahulu pernah diturunkan ketentuan yang mengharuskan minimal sepuluh hisapan susu sehingga ia (ibu susuan)menjadi mahram (anak susuan), kemudian dihapus dengan hanya lima hisapan saja yang diketahui(ma’lum).[/align]

    Banyak lagi ayat yang diubah dalam penyusunan Al-Qur'an,
    tetapi tidak akan kita bahas semua disini, karena nantinya malah semakin rumit.
    Yuk, kita diskusikan dulu yang sedikit ini,
    TS harap, dari sedikit contoh diatas, banyak yang tertarik membahas ini lebih lanjut :top:

    Itu belum termasuk penyusunan ayat Al-qur'an dan penerjemahan
    yang ternyata nabi Muhammad SAW tidak pernah menentukan satu ayat harus ditempatkan di mana dan di surat apa,
    melainkan itu sepenuhnya adalah atas inisiatif dari para penyalin Quran, dan banyak terjemahan yang ditambahkan atau dikurangi, contohnya yang biasa kita lihat dengan tanda kurung "(..)".

    [size=large][align=center]ternyata tidak hanya al-kitab tetangga,
    Al-Qur'an pun telah melalui proses editing dan revisi

    :peace:[/align][/size]

    Utk yang ini saya bingung Ayat yang mana sptnya sama dengan No 2 kasusnya

    [size=large][align=center]Terbukti Al-Qur'an dijaga kesuciannya oleh Allah SWT
    [/align][/size]



    Ini hanya menurut saya yang bodoh kalau salah karena kebodohan saya saja kalau benar semata-mata krn Allah SWT

  • dikit nimbrung poin ke tiga masalah hadist kok dikaitkan dengan perubahan isi al quran
  • akhirnya mulai diskusi,
    mohon maaf jika ada kesalahan,
    mungkin karena kesalahan mime mengetik
    dan keterbatasan mime sebagai manusia
    ane lanjut ya ndan contohnya...

    [align=center]Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya, sebagai suatu kewajiban. (QS 4:24)[/align]

    Berdasarkan mushaf Ubai bin Ka’b yang dibaca Abu Khuraib dan bacaan lisan Ibnu Abbas, kalimat ayatnya seharusnya berbunyi:

    [align=center]Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati di antara mereka sampai pada batas waktu yang ditentukan, berikanlah kepada mereka maharnya, sebagai suatu kewajiban. QS 4:24[/align]

    lalu, sapa yang telah mengubahnya? :think:
    kalifah Umar tampaknya sebagai orang yang patut dicurigai sebagai oknum yang menghapus kata-kata tersebut, karena dia tidak menyetujui nikah mut’ah, yang kemudian dilanjutkan oleh kalifah Usman dengan membakari mushaf-mushaf untuk menghilangkan jejak. Inilah kelicikan Islam. Namun kita beruntung karena ternyata masih ada beberapa mushaf yang lolos dari pembakaran, yaitu mushaf milik Ubai bin Ka'b.

    Dihapusnya kata-kata “sampai pada batas waktu yang ditentukan” dari dalam kalimat ketiga ayat 24 itu menyebabkan makna kalimat tersebut menjadi kabur dan membingungkan.

    Kesimpulan kita terhadap ayat tersebut adalah:
    Kalimat ketiga dalam ayat surat An-Nisa (QS 4): 24 itu ternyata adalah tentang nikah mut’ah, yaitu kawin kontrak, di mana laki-laki dan perempuan terikat dalam hubungan suami-istri hanya sampai pada batas waktu tertentu yang telah disepakati bersama dalam akad. Setelah lewat waktu tersebut, keduanya menjadi bebas dan bukan suami-istri lagi.

    Kalau sekarang kaum sunni mengatakan nikah Mut’ah sudah dibatalkan, maka logikanya, bagaimanakah ayat Alquran bisa dibatalkan oleh hadist?

    mari kita diskusikan dengan kepala dingin
    sesungguhnya Allah tidak pernah tidur...

    :think:
  • @Mime
    1. Gmn dengan cotoh yang kamu berikan pertama di tangapi dulu ? :blah: jangan pindah-pindah ah

    2. Utk contoh QS 4:24 tolong ayatnya yang lengkap di kutip jangan dipenggal-penggal
  • Ciek menulis:
    @Mime
    1. Gmn dengan cotoh yang kamu berikan pertama di tangapi dulu ? :blah: jangan pindah-pindah ah

    2. Utk contoh QS 4:24 tolong ayatnya yang lengkap di kutip jangan dipenggal-penggal

    1. sedikit tanggapan ana, untuk contoh 1, ana tidak bilang ada yang diubah OLEH manusia :)

    2.

    4.24. dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu ni'mati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu . Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

    sudah lengkap tuh,
    malah semakin nambah pertanyaannya kalau lengkap,
    apakah dengan hanya alasan "banyak harta" bisa langsung mengawini orang?
    nantinya pertanyaan ini akan bersambung ke ayat lain, yang tentunya melengkapi ayat ini
    jika begitu, pembahasan akan semakin luas dan kabur dari fokus ane soal nikah mut'ah

    maaf jika memotong,
    bagaimana selanjutnya?
  • and you menulis:
    dikit nimbrung poin ke tiga masalah hadist kok dikaitkan dengan perubahan isi al quran

    karena saat pengumpulan hafalan Al-Quran, prosesnya mirip seperti ini
    para sahabat saling kroscek akan catatan dan hafalan mereka,
    sehingga harus jelas sanadnya....

    maaf jika salah memberikan contoh :)
  • mastermime menulis:
    1. sedikit tanggapan ana, untuk contoh 1, ana tidak bilang ada yang diubah OLEH manusia :)

    2.

    4.24. dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu ni'mati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu . Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

    sudah lengkap tuh,
    malah semakin nambah pertanyaannya kalau lengkap,
    apakah dengan hanya alasan "banyak harta" bisa langsung mengawini orang?
    nantinya pertanyaan ini akan bersambung ke ayat lain, yang tentunya melengkapi ayat ini
    jika begitu, pembahasan akan semakin luas dan kabur dari fokus ane soal nikah mut'ah

    maaf jika memotong,
    bagaimana selanjutnya?
    Utk yang nomor dua itu urusan tafsir dan ttg hukum penikahan.
    coba lihat ayat tersebut di tafsirnya dan Asbabun Nuzulnya, hanya itu yang bisa saya jawab. Soalnya ilmu saya masih cetek.
  • Ciek menulis:
    Utk yang nomor dua itu urusan tafsir dan ttg hukum penikahan.
    coba lihat ayat tersebut di tafsirnya dan Asbabun Nuzulnya, hanya itu yang bisa saya jawab. Soalnya ilmu saya masih cetek.

    capeee' deh.... :(
  • mastermime menulis:
    capeee' deh.... :(
    ;) ;)
    Ini masalah Tafsir bukan masalah keotentikan Al Qur'an jadi silahkan dan monggo yang mau bahas :BlaH:
  • Ciek menulis:
    ;) ;)
    Ini masalah Tafsir bukan masalah keotentikan Al Qur'an jadi silahkan dan monggo yang mau bahas :BlaH:

    bukan tafsirnya aja yang dibahas,
    tapi perubahan ayat tersebut,
    kan mime udah tulis 2 versi ayat, ada bedanya tuh... :(
  • mastermime menulis:
    bukan tafsirnya aja yang dibahas,
    tapi perubahan ayat tersebut,
    kan mime udah tulis 2 versi ayat, ada bedanya tuh... :(
    Coba tampilkan tulisan Arabnya apakah ada perubahan huurufnya bukan hannya terjemahannya saja
  • Ciek menulis:
    Coba tampilkan tulisan Arabnya apakah ada perubahan huurufnya bukan hannya terjemahannya saja

    kan sumbernya udah ane tulis tuh....
    hayooo, untung bukan di GFT :peace:
  • mastermime menulis:
    kan sumbernya udah ane tulis tuh....
    hayooo, untung bukan di GFT :peace:
    Silahkan baca ttg pengumpulan Al Qur'an dari sumber yang benar, yang mengerti Nahu Shorofnya.
    lalu memang knp kalau ini GFT ??????
  • Ciek menulis:
    Silahkan baca ttg pengumpulan Al Qur'an dari sumber yang benar, yang mengerti Nahu Shorofnya.
    lalu memang knp kalau ini GFT ??????

    emm, ya sudah ane baca ndiri deh.... :(

    klo di GFT banyak OOTnya pasti :ngakak:
  • mastermime menulis:
    emm, ya sudah ane baca ndiri deh.... :(

    klo di GFT banyak OOTnya pasti :ngakak:

    :Blah: :ngakak:
    begitulah di GFT apalagi ada tetangga yang iseng
  • Menarik sekali....:think:
    Untuk wacana saja...

    [4:140] Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Qur'an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam,

    [15:9] Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya793

    793: Ayat ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al Qur'an selama-lamanya.


    tapi sebelum melangkah lebih jauh untuk mengingatkan...

    [2:105] Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar.

    [2:106] Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?

    [2:107] Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong.


    Orang Kafir dari Ahli Kitab dan Kaum Musyrik karena kebencian dan kedengkian mereka tidak menginginkan suatu kebaikan dalam ajaran Nabi Muhammad saw (2:105) lalu menyebarkan faham nasikh-mansukh pada ayat Al-Qur-an yang menyebarkan pendapat bahwa pada ayat-ayat kitab suci ini ada yang dapat digantikan oleh ayat lainnya.(2:106).

    Kalau Allah menghendakinya, maka pergantian ayat-ayat ini memang diperlukan untuk mengadakan suatu perbaikan (ishlah), dan ini mudah saja dilakukan-Nya karena Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu (2:106), jangankan untuk mengganti satu ayat saja, bahkan untuk menggantikan kerajaan langit dan bumi saja Dia Maha Kuasa melakukannya (2:107).

    *****

    Menurut sejarah,....

    Kebutuhan pembelajaran al-Qur’an maka setiap ahlu amshar membaca al-Qur’an dengan mengikuti Sahabat yang paling terkenal diantara mereka. Warga Syam mengikuti bacaannya Ubay bin Ka’ab ra, warga Kufah mengikuti bacaannya Abdullah bin Mas’ud ra, dan selain mereka mengikuti bacaannya Abu Musa al Asy’ari ra. Dan diantara mereka terjadi perbedaan cara baca, dengan perbedaan dialek tika bacaan. Lalu muncullah rasa panatik terhadap bacaan masing-masing, yang berakibat terjadinya perselisihan, bahkan saling mengkafirkan.

    Adalah Hudzaifah bin al-Yamani yang melihat perselisihan ini lalu melapor kepada Utsman seraya berkata : “Wahai khalifah, ‘Ambillah tindakan untuk umat ini sebelum berselisih tentang kitab mereka seperti orang Kristen dan Yahudi”.

    Utsman kemudian meminta pendapat para sahabat yang ada ketika itu, yang kemudian disepakati untuk merekap ulang al-Qur’an menjadi beberapa mushaf yang kemudian akan disebarkan ke kota-kota besar untuk dijadikan rujukan, dan menyuruh umat Islam untuk membakar semua mushaf yang ada.

    Nah....adanya perbedaan terjemahan (kata mime nih...) bisa saja terjadi sebab mushaf yang dipegang Ubay bin Ka'ab (kalo memang masih ada) berbeda qira'at-nya atau tanda baca-nya dengan yang sekarang (Al Qur'an yang dipegang mime).

    Sebagai contoh :

    [size=large]{إن جاءكم فاسق بنبإ فتبينوا[/size]} dengan tidak adanya titik dan harakat ayat tersebut bisa dibaca [size=large]{فتثبتوا} [/size]yang juga qira’ah mutawatirah dari Rasulullah.

    [size=large] {وانظر إلى العظام كيف ننشرها}[/size] bisa dibaca dengan[size=large] {ننشزها}[/size].

    Adapun perbedaan bacaan dengan penambahan huruf, maka ditulis pada satu mushaf dengan satu bacaan dan dimushaf yang lain dengan bacaan yang lain.

    Contoh :

    [size=large]{ووصى بها إبراهيم بنيه ويعقوب}[/size] ditulis pada mushaf yang lain dengan [size=large]{أوصى} [/size].

    juga [size=large]{لهم جنات تجري من تحتها الأنهار}[/size] ditulis pada mushaf yang lain [size=large]{لهم جنات تجري تحتها الأنهار}[/size] dengan membuang kata[size=large] (من)[/size] dimana keduanya adalah qira’ah mutawatirah.

    Jadi kalo ilmu bahasa Arab-nya setengah-tengah akan terjadi perbedaan terjemahan atau memang ada yang sengaja ingin membelokkan isi.

    :)
  • terjadinya pembakaran mushaf-mushaf Qur'an terjadi disaat rasul sudah tiada
    bagaimana menjelaskannya? apa hanya dengan janji ghaib cukup meyakinkan?
    atau ada bukti otentik lain, bahwa Al-Qur'an tidak terkontaminasi pikiran manusia?
  • Betul pembakaran setelah Rasululloh saw tiada, harus diingat yang pertama kali mengumpulkan Al Qur'an dalam bentuk mushaf adalah Abu Bakr, setelah Abu Bakr ra meninggal, mushaf dipegang oleh Umar ra, Umar ra wafat dipegang oleh Hafshah.

    Nah...pada mushaf Abu Bakr, hingga Hafshah ra :

    - Al-Qur’an telah ditulis sempurna diatas lembaran-lembaran tetapi tidak sama ukurannya sehingga, tidak tersusun secara rapih.

    - Ditulis dengan tertib ayat pada setiap surah. Dengan surah yang tidak urut. Ada sebagian riwayat yang mengatakan diurutkan sesuai waktu turunnya.

    - Tidak menyertakan ayat-ayat yang telah dinaskh bacaannya.

    - Tujuan penulisannya adalah; untuk mengumpulkan tulisan-tulisan, yang dicatat pada zaman Rasulullah, dalam sebuah lembaran-lembaran sederhana.

    Lalu Ustman berdasarkan mushaf Abu Bakr menyusun ulang Al Qur'an, mereka tidak menulisnya kecuali dibacakan dulu depan para sahabat dan mereka mengakuinya, baru disusun dan ditulis ulang.

    Menurut sejarah...

    Setelah selesai penulisan ulang, mushaf Abu Bakr dikembalikan kepada Hafsah. Dan Utsman ra mengirimkan copyan al-Qur’an ini ke berbagai kota dengan mengirim orang yang akan mengajarkannya ; Zaid bin Thabit di Madinah, ‘Abdullah bin as-Sa’ib ke Makkah, al Mughirah bin Shihab ke Suriah, ‘Amir bin ‘Abd Qais ke Basra dan Abu ‘Abdur-Rahman as-Sulami ke Kufah.

    Kemudian Utsman menyuruh umat Islam untuk membakar semua mushaf fardi, untuk menghilangkan sumber perpecahan dari akarnya, dan membawa umat Islam berkiblat kepada al-Qur’an yang telah dikumpulkan melalui seleksi yang super ketat dan mendapatkan pengakuan dari seluruh sahabat dan kibarutta’biin ketika itu.

    ‘Ali bin Abi Thalib berkata : “Wahai sekalian manusia ! Bertaqwalah kepada Allah swt, dan tinggalkanlah sikap berlebih-lebihan terhadap Utsman, dengan mengatakan : PemBakr mushaf. Demi Allah tidaklah Ustman memBakrnya kecuali atas persetujuan kita (para sahabat)”.

    Dan ‘Ali juga berkata : ” Kalau saya menjadi pemimpin pada waktu Utsman, saya akan berbuat terhadap masahif, seperti yang dilakukan Utsman"


    Yang harus diingat...

    - Al-Qur’an yang ditulis ulang, adalah yang benar-benar mutawatir, tidak mansukh tilawah, dan yang dibaca ulang nabi Muhammad saw dengan Malaikat Jibril terakhir kali (tahun dimana beliau wafat).

    - Ditulis dengan susunan surah dan ayat seperti yang kita kenal sekarang.

    - Ditulis dengan mencakukp aspek perbedaan bacaan, yang sama-sama mutawatir bersumber dari Rasulullah.

    - Tidak mencantumkan sesuatu yang bukan al-Qur’an, seperti penafsiran, atau keterangan naskh mansukh.


    Kalau mau bukti otentik Al Qur'an tidak terkontaminasi pikiran manusia, coba cek apakah Mushaf Abu Bakr masih tersimpan rapi, tinggal dicocokan isinya (surah dan ayatnya), atau mau gampangnya coba saja buat satu ayat yang sama persis dengan ayat Al Qur'an, kalau bisa berarti ada kemungkinan terkontaminasi pikiran manusia.

    Hampir lupa...Ustman ra tidak mengganti atau menambah hanya membuat penulisan Al Qur'an menggunakan dialektika Quraisy.

    :)

  • lalu, apakah bahasa yang sekarang digunakan adalah bahasa ketika Al-Qur'an diturunkan?
    dan, apakah dibenarkan jika sekarang ada perbedaan huruf diantara Al-Qur'an yang disebar? walaupun tidak mengubah artinya....?
  • lalu, apakah bahasa yang sekarang digunakan adalah bahasa ketika Al-Qur'an diturunkan?

    Bahasa,...menurut sejarah, Utsman berkata kepada para lajnah/penyusun/penulis ulang : “Apabila terjadi perselisihan bacaan antara kalian dengan Zaid, maka tulislah dengan dialek quraisy karena al-Qur’an diturunkan dengan lisan mereka”.
    dan, apakah dibenarkan jika sekarang ada perbedaan huruf diantara Al-Qur'an yang disebar? walaupun tidak mengubah artinya....?

    Kalau yang dimaksud huruf alif ditulis dengan huruf ain, jelas tidak dibenarkan.

    tapi kalau tanda baca "harakat" atau tanda berhenti dalam ayat diperbolehkan seperti [size=large]{صلى، قلى، ج} {لا، م}[/size]

    atau pemberian titik untuk membedakan huruf, itu semua termasuk ke dalam alat bantu bacaan, sebab pada awalnya Al Qur'an ditulis tanpa harakat, tanpa titik atau tanda berhenti sehingga satu kalimat dapat dibaca dalam beberapa varian. Coba saja dengarkan tilawah orang Indonesia dengan orang Arab.


    Sebetulnya dalam study ilmu Al Qur'an pembahasan ini butuh waktu yang lama, harus mendalam tidak bisa instan.



    :)
  • saya bookmark dulu deh , in Thread Kelas berat , asisten gue mesti Prof Drs Al ustadz H SALIM BADJRI nih dari Kota Cirebon kalau masalah beginia :D
  • Sebagai tambahan info,

    Menurut sejarah, Al Qur'an yang dibuat di Indonesia dibawah tahun 1970 masih berdasarkan Qiraat Imam Ashim riwayat Hafs. Nama Asli Imam Ashim adalah Abu Bakr bin Najud al Asady, yang mempunyai mata rantai sanad pada Abu Abdurahman bin Hubaib as Sulami. Abu Abdurahman berguru pada Abdullah bin Mas'ud - Usman bin Affan - Ali bin Abi Thalib - Ubay bin Ka'ab - dan Zaid bin Tsabit.

    Bacaan Al Qur'an Indonesia dari perawi Hafs dari awal masuknya Islam hingga sekarang. Nama asli Hafs adalah Abu Amr Hafs bin Sulaiman bin al Mughirah.

    Jadi kalau melihat tulisan tangan/cetakan Al Qur'an buatan Indonesia dibawah tahun 1970 akan menemukan perbedaan dengan Al Qur'an cetakan sekarang atau cetakan dari Arab Saudi. (perbedaannya bukan pada isi, hanya pada qiraat dan tulisan)

    Perbedaan terjadi karena qiraat yang dipakai qiraat Imam Ashim dan tata cara penulisannya tidak menggunakan tulisan (Rasm) Usmani.

    Sebagai contoh : Ditulis "Itsbat ALif" sesudah "Sad" seharusnya membuang "Alif" sesudah "Sad" sebab menurut kaidah Rasm Usmani, jika lafaz Jama' Mudzakar Salim berulang dalam Al Qur'an minimal 2 kali, dan setelah "Alif" tidak ada Tasydid atau Hamzah, maka "Alif" padanya harus dibuang.

    (sumber contoh dari Lektur Agama, Pedoman Umum Penulisan dan Pentashihan Mushaf Al Qur'an dengan Rasm Usmani. Balitbang Agama hal 19)

    Baru pada era tahun 1980-an penulisan/cetakan Al Qur'an sesuai dengan Rasm Usmani yang disponsori oleh Depag, hal ini disebabkan Perguruan Tinggi Ilmu Al Qur'an baru berdiri tahun 1971, itupun pengajarnya didatangkan dari Mesir, setelah masa kontrak orang Mesir habis, pengajaran diteruskan oleh orang Indonesia lulusan Timur Tengah.

    Yang penting diingat, Asal Al Qur'an adalah bacaan (qira'ah) yang diperdengarkan baru tulisan (rasm) mengikuti dan penulisan berdasarkan periwatan (al-rasm tabi‘ li al-riwayah), isnad dan matan teruji kebenarannya. Disini pula membuktikan penghafal Al Qur'an mendapatkan posisi terbaik


    :)
Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Iklan & Promosi Anda


Order ads here. Click me to get price quotation! Monthly & Unlimited click!

Halo, Komandan!

Sepertinya anda baru di sini. Ingin ber-interaksi? Klik satu tombol ini!

Kategori